• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH

D

i dalam bagian konsideran Perpres No. 54 Tahun 2010 djelaskan bahwa tata pemerntahan yang bak dan bersh (Good Governance and Clean Government) adalah seluruh aspek yang terkat dengan kontrol dan pengawasan terhadap kekuasaan yang dmlk Pemerntah dalam menjalankan fungsnya melalu nsttus formal dan nformal. Untuk melaksanakan prnsp Good

Governanceand Clean Government, Pemerntah harus melaksanakan

prnsp-prnsp akuntabltas dan pengelolaan sumber daya secara efisien, serta mewujudkannya dengan tindakan dan peraturan yang bak dan tdak berphak (ndependen), serta menjamn terjadnya nteraks ekonom dan sosal antara para phak terkat (stakeholders) secara adl, transparan, profesonal, dan akuntabel. Sebagamana pula dgarskan dalam prnsp-prnsp Pengadaan Barang/Jasa pemerintah sebagaimana ditentukan, yakni:

1. Efisien : 2. Efektf ; 3. Transparan ; 4. Terbuka ; 5. Bersang ; 6. Adl/tdak dskrmnatf ; dan 7. Akuntabel.

Penngkatan kualtas pelayanan publk melalu penyelenggaraan pemerntahan yang bak dan bersh, perlu didukung dengan pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan negara yang dibelanjakan melalui

proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerntah, dperlukan upaya untuk mencptakan keterbukaan, transparans, akuntabltas serta prnsp persangan/kompets yang sehat dalam proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerntah yang sumber pendanaannya berasal dar APBN/APBD, sehngga dperoleh barang/jasa yang terjangkau dan berkualtas serta dapat dpertanggung-jawabkan bak dar segi fisik, keuangan, maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas Pemerntah dan pelayanan masyarakat. Untuk mencapa tujuan dmaksud, mutlak dperlukan seperangkat nstrumen untuk djadkan pedoman pengaturan mengena tata cara Pengadaan Barang dan Jasa yang sederhana, jelas dan komprehensf, sesua dengan tata kelola yang bak.

Dengan pengaturan mengena tata cara Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah dharapkan akan dapat menngkatkan klm investasi yang kondusif, efisiensi belanja negara, dan percepatan pelaksanaan APBN/ APBD, d sampng pula untuk menngkatkan keberphakan terhadap ndustr nasonal dan usaha usaha kecl, serta menumbuhkan ndustr kreatf, novas, dan kemandran bangsa dengan mengutamakan penggunaan ndustr strategs dalam neger.

Selanjutnya, ketentuan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah darahkan pula untuk menngkatkan ownership Pemerntah Daerah terhadap proyek/ kegatan yang pelaksanaannya dlakukan melalu skema pembayaan bersama (cofinancing) antara Pemerntah Pusat dan Pemerntah Daerah. Sebagamana dketahu bahwa Pengadaan Barang/Jasa adalah kegatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementeran/ Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Insttus lannya (K/ L/D/I) yang prosesnya dmula dar perencanaan kebutuhan sampa dselesakannya seluruh kegatan untuk memperoleh Barang/Jasa.

Instrumen pengatur mekansme tentang pengadaan barang dan jasa pemerntah, d Indonesa, telah mengalam beberapa kal perubahan. Perubahan dmaksud, bertujuan untuk lebh menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada dalam

nstrumen pengatur sebelumnya. Instrumen pengatur mekansme tentang pengadaan barang dan jasa pemerntah telah mengalam perubahan seperti berikut:

1. Keputusan Presden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerntah

2. Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah

3. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah

4. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah

5. Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah

Secara prosedural, mekansme pengadaan barang dan jasa pemerintah pada saat diberlakukannya Perpres No. 54 Tahun 2010, dmula dar tahapan perencanaan umum pengadaan, persapan pelaksanaan pengadaan sehngga dhaslkan dokumen rencana umum pengadaan dan dokumen pengadaan barang/ jasa. Mekanisme dimaksud, misalnya di dalam Perpres 54 tahun 2010 Bab III, Pasal 8 ayat (1) menyatakan bahwa Pengguna Anggaran (PA) memlk tugas dan kewenangan menetapkan Rencana Umum Pengadaan dan mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan palng kurang d website K/L/D/I, Pasal 11 ayat (1) bahwa PPK menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, serta Pasal 17 ayat (2) bahwa ULP/ Pejabat Pengadaan menyusun rencana pemlhan Penyeda Barang/Jasa dan menetapkan Dokumen Pengadaan. Merujuk dar penjelasan pada bab dan pasal tersebut datas, maka para Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komtmen (PPK), dan Unt Layanan Pengadaan (ULP)/Pejabat Pengadaan d lngkungan Kementeran/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah/Insttus lannya (K/L/D/I), dapat menggunakan Pedoman Umum Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerntah n sebaga acuan d dalam menyusun

rencana pengadaan barang/jasa. Perpres Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerntah, pada prnspnya menentukan mekansmenya mensyaratkan pengumuman RUP setelah adanya persetujuan dar DPR atau DPRD, sesua dengan sumber pendanaan, penyedaan dana pendukung serta pemberhentan pejabat pelaksana pengadaan yang tdak terkat tahun anggaran. Hal n secara jelas dapat dlhat dalam ketentuan Pasal 25 ayat (1) yang menentukan: “ PA pada K/L/ I mengumumkan RUP setelah Rencana Kerja Dan Anggaran dsetuju oleh DPR untuk pengadaan yang bersumber dar APBN. Sedangkan untuk pengadaan yang bersumber dar APBD dumumkan setelah Rencana Keuangan Tahunan Pemerntah Daerah dbahas dan dsetuju bersama oleh Pemerntah Daerah dan DPRD”. Masa berlakunya Perpres No. 54 Tahun 2010, LKPP (Lembaga Kebjakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerntah) pernah mengeluarkan pedoman perencanaan pengadaan barang/jasa pemerntah d lngkungan kementran/lembaga/satuan kerja perangkat daerah/nstus lannya, yang dalam gars besarnya membatas ruang lngkup pedoman umum perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah sebagai berikut :

1. Identifikasi kebutuhan barang/jasa;

2. Penyusunan dan penetapan rencana penganggaran; 3. Penetapan kebjakan umum tentang pemaketan pekerjaan; 4. Penetapan kebijakan umum tentang cara pengadaan, yang

meliputi:

a. Pengadaan dengan cara Swakelola; dan

b. Pengadaan dengan menggunakan Penyeda Barang/Jasa. 5. Penetapan kebjakan umum tentang pengorgansasan

pengadaan;

6. Penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK); 7. Penyusunan jadwal kegiatan pengadaan; 8. Pengumuman Rencana Umum Pengadaan;

Sedangkan untuk Persapan Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa, yang meliputi:

1. Persapan Pelaksanaan Pengadaan Swakelola

a. Pelaksanaan Swakelola oleh K/L/D/I Penanggungjawab Anggaran;

b. Pelaksanaan Swakelola oleh Instans Pemerntah Lan Pelaksana Swakelola;

c. Pelaksanaan Swakelola oleh Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola;

2. Persapan Pelaksanaan Pengadaan Melalu Penyeda Barang/ Jasa

a. Perencanaan pemlhan Penyeda Barang/Jasa; b. Pemlhan sstem Pengadaan Barang/Jasa;

1) Penetapan metode pemlhan Penyeda Barang/ Jasa

2) Penetapan metode penyampaan dokumen penawaran

3) Penetapan metode evaluas penawaran 4) Penetapan jenis kontrak

c. Penetapan metode penilaian kualifikasi Penyedia Barang/Jasa.

d. Penyusunan jadwal pemlhan Penyeda Barang/Jasa e. Penyusunan dokumen Pengadaan Barang/Jasa. f. Penetapan Harga Perkraan Sendr (HPS)

D dalam Peraturan Kepala LKPP sebaga Petunjuk Tekns Perpres No. 12 Tahun 2012 mekansme tersebut mash tetap dimulai dari identifikasi kebutuhan barang dan jasa, dengan mekanisme kerja sebagai berikut :

1. Pengguna Anggaran (PA) menyusun dokumen rencana pengadaan barang/jasa, yang mencakup:

a. Kegatan dan anggaran Pengadaan Barang/Jasa yang akan dbaya oleh K/L/D/I sendr; dan/atau

b. Kegatan dan anggaran Pengadaan Barang/Jasa yang akan dbaya berdasarkan kerjasama antar K/L/D/I

secara pembayaan bersama (co-financing), sepanjang dperlukan.

2. Rencana pengadaan tersebut akan menjad bagan Rencana Kerja Anggaran (RKA) dar K/L/D/I.

3. Kegiatan penyusunan rencana pengadaan meliputi: a. Identifikasi dan analisis kebutuhan;

b. Penyusunan dan penetapan rencana penganggaran; c. Penetapan kebjakan umum; dan

BAB IX