TINDAK PIDANA KORUPSI
A. PENGANTARP
ersoalan kerugan keuangan negara dalam tndak pdana korups serngkal menjad suatu perdebatan dalam persdangan tndak pdana korups. Tdak hanya dalam persdangan tndak pdana korups, bahkan d kalangan akadems sendr tdak terdapat keseragaman pemahaman tentang kerugan keuangan negara. Terutamanya mengena apakah kerugan keuangan negara tersebut perlu dbuktkan secara nyata ataukah cukup dtunjukkan dengan adanya potens kerugan keuangan negara.Persoalan kerugan keuangan negara memang erat katannya dengan pengaturan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Korups. Kerugan keuangan negara dalam tndak pdana korups bahkan telah dsepakat oleh para ahl hukum pdana mutlak harus dbuktkan. Hal n juga dperkuat dengan dkeluarkannya keputusan Mahkamah Konsttus Republk Indonesa No. 003/ PUU-IV/2-2006. Namun demkan persoalan kerugan keuangan negara dalam tndak pdana korups mash saja tetap menjad perdebatan.
Hal tersebut dkarenakan oleh frase kata “dapat” yang terdapat dalam pengaturan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Korups yang mutlak harus dbuktkan oleh jaksa penuntut umum sebaga unsur delk. Kata “dapat” dalam kedua pasal tersebut drasakan kurang memberkan kepastan dan rumusannya menjad sangat luas. Pada mulanya frasa kata “dapat” dletakkan dawal kata “merugkan keuangan negara dan perekonoman
negara” dtujukan untuk member penekanan bahwa tndak pidana korupsi termasuk dalam klasifikasi delik formil yang tdak mensyaratkan pada akbat yang dtmbulkan dan cukup dengan dpenuhnya unsur-unsur perbuatan yang drumuskan. Namun pada kenyataannya kata “dapat” justru menmbulkan permasalahan dkarenakan ketdakpastan yang dtmbulkan dan kemungknan terjad analog meluas yang tdak dperkenankan oleh asas legaltas. Hal-hal nlah yang menyebabkan hngga saat n mash terdapat ketdakseragaman pandangan dalam penegakan hukum pdana yang bermbas pada perlu tdaknya kerugan keuangan negara tu dbuktkan atau cukup dtunjukkan adanya potens kerugan.
B. MAKNA DAN PENGERTIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
Kerugan keuangan negara merupakan salah satu unsur pentng dalam tndak pdana korups. Dalam menentukan adanya kerugan keuangan negara, sangatlah pentng untuk memaham terlebih dahulu definisi dari keuangan negara.
Secara umum keuangan negara dapat dpaham sebaga segala bentuk kekayaan yang dmlk oleh negara yang dpergunakan untuk pengelolaan dan penyelenggaraan negara. Keuangan negara memegang peranan yang pentng bag kemaslahatan negara dan juga rakyat d negara tersebut. Dengan kata lan, keuangan negara adalah roda penggerak kehdupan bernegara.
Pasal 1 angka 1 UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mendefinisikan keuangan negara sebagai semua hak dan kewajban negara yang dapat dnla dengan uang, serta segala sesuatu bak berupa uang maupun berupa barang yang dapat djadkan mlk negara berhubung pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Selanjutnya dalam Pasal 2 UU No. 17 tahun 2003 dsebutkan bahwa keuangan negara sebagamana dmaksud dalam Pasal 1 angka 1 meliputi :
a) Hak negara untuk memungut pajak. Mengeluarkan dan mengedarkan uang dan melakukan pnjaman; b) Kewajban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerntahan negara dan membayar taghan phak ketga; c) Penermaan negara; d) Pengeluaran negara; penermaan daerah; e) Pengeluaran daerah;
f) Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dkelola sendr atau oleh phak lan berupa uang, surat berharga, putang barang serta hak-hak lan yang dkuasa oleh pemerntah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerntahan dan/ atau kepentngan umum.
Pengertan keuangan negara yang drumuskan dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 2 UU No. 17 Tahun 2003 menunjukkan adanya pemahaman yang luas mengena pengertan keuangan negara. Keuangan negara tdak hanya dalam bentuk hak namun juga kewajban, tdak hanya keuangan negara yang tdak dpsahkan tetap juga keuangan negara yang dsahkan dalam bentuk penyertaan modal. Dengan demkan uang negara yang berada d perusahaan-perusahaan mlk negara sekalpun telah dpsahkan dan dmasukkan sebaga bagan dar modal usaha tetap danggap sebaga bagan dar keuangan negara.
Hal senada juga dkemukakan oleh UU Korups yang memasukkan keuangan negara yang dpsahkan dalam bentuk penyertaan modal usaha sebaga bagan pentng dar pengertan keuangan negara, sebagamana tertuang dalam Penjelasan umum UU Korups yang menyebutkan bahwa keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dpsahkan atau tdak dpsahkan termasuk d dalamnya segala bagan kekayaan negara dan segala hak dan kewajban yang timbul karena:
a) Berada dalam penguasaan,pengurusan dan pertanggungjawaban pejabat negara, bak dtngkat pusat maupun daerah;
b) Berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban Badan Usaha Mlk Negara/Badan Usaha Mlk Daerah, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang mneyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal phak ketga berdasarkan perjanjan dengan negara.
Dengan demkan dapat dpaham bahwa pengertan keuangan negara adalah segala kekayaan negara yang tdak hanya berupa uang tetap juga segala bentuk hak dan kewajban negara yang dapat dnla dan dukur dengan nla uang, termasuk ddalamnya adalah keuangan negara yang dhaslkan oleh dar APBN, APBD, BUMN, BUMD dan lan-lan.
Pentngnya makna keuangan negara bag pengelolaan dan penyelenggaraan negara tersebut menyebabkan keuangan negara menjad objek vtal yang sangat strategs. Segala bentuk macam kerugan yang dalam oleh keuangan negara dapat mempengaruh tata kelola kehdupan bernegara, termasuk ketka kerugan keuangan negara tu dtmbulkan oleh adanya perbuatan korups yang dpandang akan memberkan mplkas meluas kepada seluruh aspek bdang kehdupan masyarakat d negara tersebut dan juga negara pada umumnya. Oleh karena tu dalam UU PTPK khususnya dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3, kerugan keuangan negara menjad unsur utama yang harus dpenuh dalam tndak pdana korups. Sayangnya, UU PTPK tdak memberkan perumusan yang jelas dan tegas mengena apa yang dmaksud dengan kerugan keuangan negara. Pasal 32 UU PTPK hanya menyatakan bahwa yang dmaksud dengan kerugan keuangan negara adalah kerugan yang sudah dapat dhtung jumlahnya berdasarkan hasl temuan nstans yang berwenang atau akuntan publk yang dtunjuk. Mengena nstans yang berwenang yang dmaksud pun tdak terdapat kejelasan lebh lanjut dan jka menelusur beberapa perundang-undangan yang berlaku d negara Indonesa maka ada beberapa nstans yang berwenang dalam penyelenggaraan dan
pengelolaan keuangan negara yatu BPK, BPKP dan Inspektorat bak tu dtngkat pusat maupun d daerah.
Dengan demkan, kerugan keuangan negara dalam perspektf UU PTPK dsebabkan karena adanya perbuatan melawan hukum atau tndakan menyalahgunakan wewenang yang dlakukan seseorang berkatan dengan sarana dan prasarana serta jabatannya pada suatu waktu dalam upayanya memperkaya dr sendr, orang ataupun korporas.