• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : KONSEP NEGARA TAN MALAKA

KONSEP NEGARA TAN MALAKA

III.3. ASLIA DAN PAN-ISLAM

Tan Malaka meletakkan nasionalisme sebagai sesuatu yang penting, Tan Malaka mengidealkan Adanya kekuatan revolusioner untuk melakukan perjuangan bersama-sama demi kemerdekaan bangsa, yaitu antara kelompok islam, nasionalis dan komunis. Tan Malaka beranggapan bahwa komunisme tidak akan mampu

79

menjadi kekuatan revolusioner karena belum berakar dikalangan Grass root. Oleh karena itu Komunisme harus mampu merangkul kekuatan islam dan nasionalis. Tan Malaka, meskipun menjabat sebagai wakil komitern (Komunisme Internasional) untuk wilayah asia tenggara, akan tetapi Tan Malaka tidak menafsirkan ajaran-ajaran Marxisme secara dogmatis dan doktriner.80

“ASLIA ialah perkataan buatan kita sendiri sebagai gabungan dari suku kata perkataan ASIA dan AUSTRALIA. Yang digabungkan ialah permulaan kata ASIA dan suku akhirnya AUSTRALIA. Syahdan ASLIA itu meliputi daerah Birma, Thai, Annam, Philipina, Semenanjung Malaya, seterusnya Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sunda kecil dan akhirnya Australia Panas. Bagian Australia yang kita maksudkan itu luasnya kira-kira 1/3 dari keseluruhan wilayah Australia. Adapun Australia putih itu sekarang diduduki oleh bangsa Eropa yang adalah keturunan orang-orang hukuman yang dipindahkan oleh kerajaan Inggris diwaktu lampau. Bangsa Pindahan ini seperti juga di Amerika membinasakan, lebih kurang memusnahkan bangsa Australia Asli dan peperangan lahir dan batin yang tiada henti-hentinya, diseluruh Australia Putih yang luasnya lebih kurang 1/3 pula dari seluruh dataran Australia yang luasnya 3 juta miles persegi itu. Dijaman gelap gulita ( Primitive ), lama sebelum sejarah tertulis dimulai, maka menurut penyelidikan Ilmu Pasti Asia, Indonesia dan Australia memang bersatu. Begitu-lah pula daerahnya bangsa Australia Asli, yang beberapa puluh ribu itu masih mengembara disana-sini, banyak masih mengalir kedalam badan Indonesia kita. Di Australia Panas, bangsa kulit putih tidak dapat tidak bisa hidup berkembang turun-menurun. Tetapi di Australia Sejuk bagian selatan, mereka bisa berkembang turun-menurun, selain itu persamaan antara Indonesia dengan Australia seperti yang sudah disebut diatas, maka ada lagi persamaan penting, persamaan penting ini meliputi pula Birma, Thai, Annam, Semenanjung Malaka, Kalimantan Utara serta akhirnya Philipina. Seluruh ASLIA amat rapat dipengaruhi oleh iklim yang sama ialah panas dan dikendalikan oleh gerakan angin yang tetap teratur tiap-tiap tahun adalah angin moeson yang termahsyur itu, dipengaruhi musim yang berkuasa diseluruh ASLIA yang hawanya terus panas itu., dari tahun-ketahun 80

dan dari abad-keabad, maka bangsa Indonesia sebagai paduan dari beberapa bangsa di ASLIA itu dalam hakekatnya beralat-perkakas, berekonomi, bersosial, berpolitik dan berjiwa ( paham keamanan dan perasaan ) dan berhasrat ataupun berimpian yang tidak berbeda satu sama lainnya. Pendek kata seluruh ASLIA kini dalam segala cara penghidupan berada dalam keadaan yang ber-samaan dan suasana serta keadaan dunia setelah perang dunia II ini membutuhkan pergabungan dan kerjasama”81

Konsep Negara ideal menurut Tan Malaka adalah Komunisme Modern atau aslia yang meliputi Asia dan Australia. Aslia dianggap Tan Malaka memiliki level yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsep Indonesia Asli di Zaman Besi dulu. Jika dalam konsep Minangkabau, peradaban mereka dimulai dari sekitar Gunung Merapi yang kemudian menjadi sumber yang melahirkan seluruh alam Minangkabau maka dalam konsep Aslia Tan Malaka juga memberi heartland-nya. Karakter dan posisi geografis dari Aslia cukup penting untuk kita bahas.

Pusat Aslia, bagi tokoh yang disebut M.Yamin sebagai Bapak Republik Indonesia ini, terletak “segaris dengan sumbu (ekuator), dekat khatulistiwa, yang kira-kira ditentukan oleh garis Bonjol-Malaka”. Masa depan dan eksistensi federasi ini ditentukan oleh titik pusat ini. Karena dalam sejarahnya, siapapun yang bisa menaklukkan titik ini dapat menaklukkan Indonesia secara keseluruhan. Bagi Tan Malaka sendiri titik ini sangat strategis dan diplomatis. Satu alasan yang ingin diajukan Tan Malaka dalam Madilog adalah mereformulasi slogan “Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini dan Sumatera adalah masa depan” menjadi

“Sumatera adalah pelopor (pioneer), Jawa adalah masa kini dan masa depannya Indonesia akan kembali ke Sumatera.”

Tan Malaka hidup dalam komunitas muslim yang taat, ketat dan Puritan, dalam kesadarannya yang paling mendasar, Tan Malaka tidak hanya memahami islam 81

sebagai sesuatu yang beku. Tan Malaka tidak menganggap islam sebagai sekedar Institusi agama, namun Tan Malaka meletakkan islam sebagai ruh hidup dari segala aktifitasnya.oleh karena itu Tan Malaka tidak hanya meletakkan islam ssebagai sesuatu yang sacral dan transenden, tapi menjadikannya sebagai jalan menuju pembebasan atas ketertindasan manusia. 82

Pemahaman Tan Malaka tentang islam tidak terlepas dari dinamika keagamaan di minangkabau, seperti apa yang telah diakuinya :

“..Sumberku belajar islam adalah sumberku yang hidup. sebagaimana telah aku sebutkan sekilas, aku dilahirkan dilingkungan keluarga yang memeluk islam. Pada waktu sejarah islam Indonesia merosot, seorang alim ulama lahir di lingkungan keluarga kami yang sekarang masih dianggap suci, sewaktu itu aku masih anak-anak aku sudah mampu menafsirkan Alquran dan dipercaya sebagai guru bantu. Ibuku sering menceritakan Adam, hawa dan nabi Yusuf. Juga sering diceritakan tentang pemuka-pemuka islam serta yatim piatunya, Muhammad bin Abdullah Saw, entah kenapa air mata membasahi kedua mata saya..”83

Pada tahun 1921 Tan Malaka resmi menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia. Tapi jabatan itu tidak dapat dijalankan secara total dikarenakan akibat aktivitas politiknya maka dia ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial. Dalam pembuangannya tersebut Tan Malaka dapat menghadiri kongres Komintern (komunis internasional) ke-empat, November 1922 di Moskow. Kapasitasnya sebagai wakil dan penasihat dari Indonesia. Di sinilah pertemuannya dengan tokoh-tokoh komunis dunia seperti Vladimir Illich Lenin, Joseph Stalin, dan Leon Trostky serta Hochi Minh pemimpin komunis Vietnam. Beruntung Tan Malaka mendapat kesempatan berpidato selama lima menit, dan kesempatan ini dia pergunakan untuk menyampaikan gagasan revolusioner tentang kerja sama antara komunis dan Islam.

82

Tan Malaka,1951 Islam dalam tinjauan madilog, Jakarta : Wijaya.Hal.5.

83

Semangat dan jiwa sorang muslim tetap disandangnya. Dalam pidatonya tersebut, Tan Malaka mengatakan bahwa komunis tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta warga muslim di dunia, dan Pan-Islamisme juga sedang berjuang melawan imperialisme, perjuangan yang sama dilakukan oleh gerakan komunisme. Oleh karenanya gerakan penyatuan antara gerakan itu harus didukung, dan pidato yang bersemangat itu diakhirinya dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk peserta terutama petinggi-petinggi komunis dari Bolshevik tua sebagai pengambil keputusan.

Pan-Islamisme tentunya sangat beralasan dan kuat. Di samping fakta bahwa kekuatan kaum buruh masih sedikit dan belum memadai untuk terorganisir, karena PKI sebagai organisasi politik belum mengakar kuat di dalam masyarakat, sehingga PKI masih lemah untuk memonopoli dan berjuang sendiri melawan kekuasaan kolonial yang kuat dan totaliter waktu itu. Indonesia termasuk negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia, maka semua kekuatan dari element-element harus bersatu di bawah satu payung revolusi yang bersatu dalam kekuatan-kekuatan yang beraliran Islam dan nasionalis.

Ditambah alasan Komintren yang menggangap Pan-Islamisme merupakan musuh dari marxisme/komunis, yang diperkuat oleh keputusan Komintern tahun 1920 untuk menempatkan Pan Islamisme Sebagai musuh dan lawan karena Pan-Islamisme dianggap sebagai bentuk lain dari imperialisme, maka itu harus dilawan, tapi Tan Malaka melihat berbeda dan dia ingin mengoreksi serta mengkritisi keputusan yang salah kaprah itu. Menurutnya kekutan Islam yang membawa Pan-Islamisme itu harus dirangkul dan diajak kerja sama karena Pan-Islamisme menurutnya merupakan wahana atau alat yang bisa dipakai oleh masyarakat Islam di negara-negara terjajah di Asia dan Afrika dalam melawan kapitalisme dalam bentuk kolonilisme dan imperialisme. Dikarenakan Tan Malaka melihat gelombang modernisasi atau

pembaharuan Islam dalam diri Pan-Islamisme yang mampu mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang baru pula bagi masyarakat yang dijajah untuk merdeka, karena itu merupakan keputusan yang salah dan sangat keliru untuk memusuhi Islam dan gerakan Pan-Islamisme.

Visi dan keyakinan politik perjuangannya masih sangat kental dengan nuansa- nuansa keislaman. Walaupun dia termasuk dalam partai komunis namun Tan Malaka merupakan tokoh yang kontroversial karena mendukung aliansi Islam, sehingga ia sering tak sepaham dengan kawan-kawan seperjuangan lainnya. Apalagi setelah pemberontakan PKI 1925, yang dikritik keras oleh Tan Malaka berhasil dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Melihat itu Tan Malaka semakin yakin akan persepsinya tentang persatuan perjuangan yang harus besar dan kuat, untuk itu menurutnya persatuan dan kerja sama yang erat dari semua kekuatan politik yang anti kapitalisme dan imperialisme mutlak sifatnya.

Menarik untuk dibahas adalah keberpihakan Tan Malaka terhadap gerakan Pan-Islamisme. Tan Malaka menganggap adanya kesalahpahaman sebagian besar kaum komunis dalam memaknai Pan-Islamisme. Tan Malaka menjelaskan bahwa Pan-Islamisme memiliki potensi yang besar untuk menghancurkan kapitalisme dunia. Karena ia telah menginspirasi persatuan umat Islam sedunia untuk melawan penjajahan di Hindia Belanda.

Semakin kuat dan besar sebuah gerakan anti imperialisme, maka makin besar pula dorongan penjajah untuk memakai politik memecah belah. Mungkin itu yang terjadi antara PKI dengan semangat sosialismenya dan SI (Sarekat Islam) dengan jargon Pan-Islamismenya. Perseteruan antara keduanya hanya akan semakin melemahkan gerakan dan semangat anti kolonial, dan tan malaka kecewa melihat itu sebagaimana yang dikatakanya kalau perbedaan Islamisme dan Komunisme kita

perdalam dan dilebih-lebihkan, berari kita memberikan kesempatan kepada musuh yang terus menerus mengintai untuk melumpuhkan gerakan Indonesia.

Di bawah kepemimpinan H. Agus Salim, Sarekat Islam menerapkan “disiplin partai”. Sebuah kebijakan yang melarang anggotanya untuk terlibat dalam keanggotaan partai lain atau SI membatasi keangoatan PKI dalam tubuh sarekat Islam. Kondisi ini justru memperuncing keadaan dan perpecahan gerakan. Tentunya, kondisi ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolinial untuk memakai politik pecah belahnya. Lagi-lagi Tan Malaka sedih melihat perpecahan itu, namun setelah PKI di bawah kepemimpinannya, upayanya untuk menyatukan kekuatan itu memperlihatkan keberhasilan, tetapi pemerintah kolonial membuangnya ke negari Belanda tahun 1922. Namun prinsip politiknya untuk penyatuan Pan-Islamisme dan nasionalisme serta komunis tetap menjadi angenda utama Tan Malaka.

Tan Malaka adalah tokoh yang dekat dengan Tjokroaminoto. Tan Malaka memiliki keyakinan yang sama bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan pembentukan SI “merah” oleh Tan Malaka, karena ia tidak ingin Islam dipertentangkan dengan komunisme. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidaksepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926 menyebabkannya harus didepak dari PKI. Mungkin penggalan pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional keempat pada tanggal 12 Nopember 1922 dapat menjelaskan bagaimana sikap Tan Malaka sebagai tokoh komunis terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia menentang tesis Lenin yang diadopsi pada kongres kedua, yang menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan Islamisme”. Di sini Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Berikut penggalan pidato Tan Malaka:

“Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia

Belanda di mana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner. Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik- pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.”

Selanjutnya, tentang Pan-Islamisme sendiri, Tan Malaka mengatakan:

“Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya, tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.”84

Oleh karena itu Pan-Islam sekarang berate perjuangan nasional, perjuangan dalam merebut kemerdekaan nasional, perjuangan yang ditujukan

84

dalam melawan kapitalisme dan Pan-Islamisme dan tidak lain persatuan semua orang muslim terhadap penindasnya. Bagi tan malaka gerakan semacam ini haruslah didukung, karena sesungguhnya apa yang di perjuangkan oleh kelompok Pan-Islamisme sejalan dengan komunisme, yaitu melawan imperialism dan kapitalisme guna kemerdekaan bangsanya. Didasari dengan pemahaman yang mendalam tentang semangat perlawanan yang dimiliki gerakan pan-Islamisme dan Komunisme, Tan Malaka dengan lantang menyerukan bersatunya dua kekuatan Revolusioner tersebut yaitu Islam dan komunisme. Dengan demikian jelaslah sikap Tan Malaka mendukung persatuan seluruh kekuatan Revolusioner rakyat, jauh diatas fanatisme kelompok dan Golongan tertentu. Kemajuan sebuah bangsa yang dicita- citakan Tan Malaka semata-mata hanyalah untuk Negara yang makmur dan terlepas dari keterikatan terhadap kapitalisme.

Dalam dokumen Pemikiran Tan Malaka Tentang Konsep Negara (Halaman 82-90)