Karakteristik penting dari psikopatologi perkembangan adalah asumsi bahwa terdapat hubungan berkelanjutan antara perkembangan yang normal dan abnormal. Di bawah setiap bagian atau aspek kehidupan – dimana terdapat yang sehat ataupun yang gagal beradaptasi – terdapat prinsip perkembangan fundamental yang sama. Maka dari itu, sangat penting untuk dapat memiliki konseptualisasi yang jelas dari perkembangan adaptif untuk memahami bagaimana perkembangan dapat menjadi serba salah.
Merupakan hal yang normal untuk memiliki masalah dalam perkembangan.
Developmental Psychopathology memandang bahwa masalah psikologis bukan sebagai
proses penyakit yang menetap dalam suatu individu, melainkan sebagai deviasi yang signifikan dari proses developmental yang sehat.
Dalam banyak hal tubuh dibangun untuk dapat menangani stres, dan faktanya sejumlah tertentu "beban stres" pada tulang, otot, dan otak sangat diperlukan untuk pertumbuhan, fungsi dan kemampuan optimal bahkan dikaitkan dengan berkembangnya ketahanan untuk stresor masa depan. Namun, pasti jenis stres seperti penganiayaan anak dapat merangsang sirkuit otak dan membuatnya rentan daripada membuatnya tahan terhadap stresor masa depan. Bagi pasien dengan sirkuit otak yang rentan, yang kemudian menjadi terpapar dengan banyak stres kehidupan sebagai orang dewasa, hasilnya dapat berupa berkembangnya depresi. Sehingga, jumlah stres yang sama dapat diatasi tanpa menjadi depresi pada seseorang yang tidak mengalami pelecehan masa kanak secara hipotetis dapat menyebabkan depresi pada seseorang dengan riwayat pelecehan anak sebelumnya. Hal ini menunjukkan potensi dampak lingkungan pada sirkuit otak. Banyak penelitian secara nyata menegaskan bahwa pada wanita yang mengalami pelecehan pada masa kanak, depresi dapat ditemukan hingga empat kali lebih sering daripada wanita yang tidak pernah mengalami pelecehan. Secara hipotetis, perubahan epigenetik yang disebabkan oleh stresor lingkungan menciptakan perubahan molekuler yang relatif permanen pada sirkuit otak pada saat anak mengalami pelecehan yang belum tentu menyebabkan depresi pada saat itu, tapi membuat sirkuit otak rentan terhadap kerusakan saat terpapar stresor masa depan di masa dewasa (Stahl, 2013).
Terdapat faktor risiko dalam hal ini. Risiko adalah suatu kondisi atau situasi yang menyebabkan berkembangnya suatu psikopatologi. Tidak ada suatu daftar faktor risiko yang disetujui secara resmi dalam konteks ini. Pada konteks biologis, risiko dapat berupa termasuk defek saat melahirkan, kerusakan neurologis, nutrisi yang tidak adekuat atau orang tua yang memiliki gangguan terkait dengan komponen genetik. Dalam konteks individual, risiko dapat berbentuk rendahnya intelegensi, rendahnya percaya diri, dan buruknya kontrol diri. Pada konteks keluarga, risiko dapat berupa penolakan orang tua, dan dalam konteks interpersonal, perilaku antisosial dapat menjadi risiko. Pada konteks kultural, risiko dapat timbul dari kemiskinan atau faktor ekonomi. Saat risiko tunggal memiliki kekuatan yang terbatas, risiko yang multiple dapat memiliki efek kumulatif.
Contohnya, anak-anak dengan kedua orang tua yang alkoholik dapat menjadi 2x lebih berrisiko menimbulkan masalah dibandingkan dengan anak-anak dengan 1 orang tua
yang alkoholik. Bagaimanapun, kerangka ini memandang secara luas risiko sebagai agen penyebab yang tetap/statis.
Jika risiko adalah sebuah faktor yang diduga menyebabkan efek negatif pada anak-anak yang terpapar, kerapuhan meningkatkan kemungkinan dimana anak tertentu tidak tahan terhadap risiko. Jadi, saat risiko secara langsung menyebabkan gangguan, maka kerapuhan memperkuat respon anak terhadap resiko. Contohnya, proses berpindah rumah secara berkala merupakan kejadian yang signifikan pada kehidupan seorang anak, bukan berarti seluruh anak-anak akan menjadi stres karena hal ini – tetapi anak dengan temperamen cemas yang paling akan terpengaruh secara negatif dengan gangguan di dalam rumah. Cara yang sangat membantu dalam membedakan risiko dan kerapuhan adalah dengan menggunakan istilah dari konsep statistik efek versus interaksi. Faktor resiko berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan psikopatologi pada seluruh anak-anak yang terpapar dengan stresor/risiko tersebut. Demikian juga hal tersebut muncul sebagai efek utama pada analisis statistik. Sedangkan kerapuhan, secara jelas meningkatkan kemungkinan psikopatologi tertentu pada anak-anak yang rentan, dan muncul sebagai efek yang berhubungan.
Terdapat beberapa faktor kerapuhan menurut Rutter (1990). Jenis kelamin contohnya, saat laki-laki dan perempuan terpapar stres keluarga dengan buruk, laki-laki berreaksi dengan masalah perilaku yang lebih banyak daripada perempuan. Temperamen adalah faktor kerapuhan yang lain; anak-anak yang sulit untuk dirawat atau diperhatikan adalah sasaran yang lebih sering dari iritabilitas orang tua, kritikan, dan permusuhan daripada anak-anak yang lebih mudah diatur. Dan selanjutnya lebih rapuh terhadap gangguan berikutnya. Daftar yang dibuat oleh Rutter juga berisi hilangnya hubungan baik dengan orang tua, kemampuan perencanaan yang buruk, kurangnya pengalaman positif dalam sekolah, kurangnya kasih sayang, dan kurangnya kemampuan bersosialisasi. Lebih lanjut, pada tingkat sosiokultural, anak-anak yang karakteristik personalnya tidak sesuai dengan harapan lingkungan – misalnya anak yang pemalu berada pada kultur yang menghargai keberanian – dapat lebih rapuh terhadap risiko/stresor.
Pada tingkat yang sama, faktor potensial adalah faktor yang meng-eksaserbasi dampak dari risiko. Contohnya, paparan dengan kekerasan pada suatu kelompok dan anak yang tersangkut paut adalah dua risiko potensial terhadap berkembangnya masalah perilaku anak. Bagaimanapun, anak yang kemungkinan besar akan terpengaruh secara
negatif adalah yang hidup pada suatu lingkungan tanpa rasa kebersamaan yang kuat yang tidak ramah atau tidak adanya tetangga untuk berlindung saat ada bunyi letusan senjata api pada hari pulang sekolah. Demikian, isolasi sosial dapat mempotensiasi efek dari stresor lingkungan yang lain.
Tidak semua anak yang berrisiko merasa terganggu, tantangan bagi penulis adalah untuk menemukan faktor yang yang memajukan dan mempertahankan perkembangan yang sehat. Hal ini dinamakan Faktor Protektif, dan anak-anak yang memiliki penyesuaian yang baik daripada menjadi berrisiko disebut Resilient atau Tangguh.
Faktor Protektif pada anak-anak dapat termasuk kepandaian, temperamen yang mudah, dan adanya kompetensi yang dihargai oleh lingkungan, dapat berupa akademis, atletik, artistik, atau mekanik. Faktor protektif dalam keluarga dapat termasuk adanya orang tua yang penuh cinta kasih dan dapat diandalkan; pola asuh yang dikarakteristik dengan kombinasi dari kehangatan dan keteraturan; keuntungan sosioekonomi, dan dukungan sosial dari lingkungan di luar keluarga. Rekan atau teman sebaya dapat memiliki pengaruh protektif dengan memberikan dukungan emosional dan dorongan untuk perilaku prososial. Faktor protektif dalam konteks kultural meliputi keterlibatan dengan institusi prososial, seperti Gereja atau tempat ibadah atau Sekolah.
Sebagai contoh, sebuah studi mendalam dari resiliensi dilakukan di Kauai, Kepulauan Hawaii. Werner dan Smith (1992) mengevaluasi 505 individu dalam rentang usia bayi, masa kanak dini dan masa kanak tengah, masa remaja akhir, dan masa dewasa awal. Mengacu pada model Developmental Psychopathology, mereka mengkonseptualisasi resiliensi sebagai keseimbangan antara risiko dan faktor protektif.
Faktor risiko seperti kemiskinan, stres perinatal, dan psikopatologi atau perselisihan orang tua. Sebagian besar dari peserta dengan risiko rendah menjadi cakap, percaya diri dan orang dewasa yang penuh kepedulian, sedangkan dua pertiga dari peserta dengan resiko tinggi mengalami riwayat tingkat kenakalan atau kesehatan mental atau masalah pernikahan yang berat atau perceraian. Penulis sangat tertarik dengan sisa sepertiga dari kelompok resiko tinggi yang menjadi cakap, percaya diri dan dewasa yang penuh kepedulian.
Penulis mengelompokkan 3 cluster dari faktor protektif: (1) kepandaian dan atribut pribadi yang rata-rata menimbulkan respon positif dari anggota keluarga dan orang dewasa lainnya, seperti ketahanan, semangat, dan temperamen sosial; (2) keterikatan
kasih sayang dengan orang tua pengganti seperti kakek nenek atau saudara yang lain, yang mendorong kepercayaan, kemandirian, dan inisiatif; dan (3) sistem pendukung eksternal di Gereja atau tempat ibadah, kelompok pemuda, atau sekolah, yang menghargai kompetensi.
Rutter (1990) berpendapat bahwa kita mengetahui daftar faktor protektif untuk memahami apa yang menjadi penyebab pada kekuatan protektif dari variabel berikut;
contohnya, apakah kepandaian atau keuntungan sosioekonomi yang melindungi diri dari psikopatologi? Istilah yang digunakan untuk proses ini adalah mekanisme protektif, dan Rutter mengidentifikasi 4 dari mekanisme ini pada dasar teori, observasi dan penelitian empiris.
Mekanisme pertama, reduksi dari dampak resiko, berarti bahwa beberapa variable bertindak untuk menyangga seorang anak dari paparan resiko. Contohnya, pengaruh buruk lingkungan adalah faktor resiko yang cukup kuat pada anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang dikuasai geng tertentu. Bagaimanapun, orang tua yang memonitor aktivitas kelompok pertemanan anak-anak mereka dan membimbing anak-anak dalam pilihannya atas permainan dan persahabatan dapat menurunkan kemungkinan kenakalan.
Mekanisme berikutnya adalah reduksi dari reaksi berantai yang negatif. Faktor protektif dapat menyediakan efek terhadap pengaruh pada hubungan. Contohnya, anak yang bertemperamen mudah lebih sedikit kemungkinan untuk menjadi sasaran kemarahan orang tua yang stres; karena itu, anak akan lebih sedikit kemungkinan untuk menimbulkan masalah perilaku, dengan demikian menurunkan stres orang tua dan mengurangi kemarahan. Demikian lingkaran setan dari reaksi negatif dari orang tua kepada anak dapat dihindari.
Berikutnya, faktor yang memajukan harga diri dan kepercayaan diri membantu anak-anak merasakan bahwa mereka dapat mengatasi dengan sukses masalah-masalah kehidupannya. Kualitas ini ditingkatkan dengan hubungan personel yang penuh dukungan dan aman dan dengan penyelesaian tugas-tugas, seperti misalnya pencapaian di sekolah dapat membantu perkembangan kepercayaan diri.
Mekanisme protektif yang keempat adalah membuka kesempatan.
Perkembangan melibatkan banyak titik balik yang menawarkan kesempatan untuk menurunkan dampak dari faktor resiko, dan anak yang tangguh adalah yang dapat mengambil keuntungan dari kesempatan ini. Demikian, remaja yang memilih untuk tetap
di sekolah membuatnya memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan pencapaian daripada dikeluarkan dari sekolah, dan bagi yang mengejar bakat atau ketertarkan terhadap seni unik mereka memiliki kesempatan untuk pemenuhan daripada yang menyangkal bakat mereka dan mengikuti orang banyak (Wenar et al, 2009).