Dalam beberapa tahun terakhir, manfaat dan pentingya pemberian dukungan sosia lebih dipahami, dan penelitian sekarang menunjukkan diberikannya dukungan sosial kepada orang lain mungkin akan menurunkan stres baik bagi pemberi dan penerima.
Misalnya, perspektif altruisme timbal balik Trivers (1971) menunjukkan bahwa memberikan bantuan kepada orang lain meningkatkan kemungkinan bahwa akan ada orang lain yang selalu siap saat dibutuhkan. Memberikan dukungan kepada orang lain mungkin akan mempererat hubungan pribadi, memberikan makna dan tujuan, dan menandakan bahwa hal itu penting bagi orang lain. Semua yang mempromosikan kesejahteraan, termasuk juga membantu orang lain juga bisa mengurangi kesedihan secara psikologis dan berkontribusi terhadap kesehatan dan umur panjang.
Dalam tahap perkembangan itu sendiri, terdapat hubungan yang konstan antara berbagai konteks dalam dimensi waktu, yaitu meliputi faktor biologi, individual, keluarga, sosial dan kultural. Faktor Biologis melibatkan beberapa pengaruh organic yang relevan untuk dipahami yaitu genetik, faktor kimiawi otak, struktur otak, neurologis, dan fungsi neuropsikologis. Faktor Individual melibatkan berbagai karakteristik kepribadian, kognisi, emosi, dan ekspektasi dalam hubungan. Konsep ini menjadi figur yang sangat penting dalam perkembangan psikopatologis. Faktor Keluarga merupakan faktor yang penting, bahkan sangat penting dalam perkembangan. Terdapat beberapa bukti yang mendukung bahwa seseorang yang menderita Skizofrenia misalnya, mengalami gangguan dalam lingkungan caregiver, termasuk hilangnya dan perpisahan dengan caregiver primernya. Hal ini sebagai stresor yang menjadi faktor presipitasi dari gangguan tersebut. Faktor Sosial mengemukakan bahwa hubungan dengan orang lain merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan dan menjadi meningkatkan perhatian para peneliti dan klinisi dalam beberapa tahun terakhir. Penolakan dan hubungan yang negatif akan memberi pengaruh yang negative pula dalam perkembangan.
Faktor Kultural adalah variabel yang sangat mempengaruhi secara signifikan pada perkembangan psikopatologis (Wenar & Kerig, 2010).
Pada sebagian besar kasus, gejala dapat sembuh dengan cepat (paling sering dalam beberapa jam) pada kasus dimana pasien dapat dipindahkan dari lingkungan penyebab stres tersebut. Pada kasus dimana stres berlanjut atau tidak dapat dihentikan, gejala-gejala biasanya mulai hilang setelah 24-48 jam dan menjadi minimal setelah tiga hari (Katona C, 2012).
Dukungan sosial dapat memperbaiki penanganan dan modifikasi (misalnya mengurangi atau menghilangkan) terjadinya stresor psikososial atau konsekuensi buruknya. Temuan yang konsisten dalam literatur bahwa hidup sendirian, memiliki status sosial ekonomi rendah, dan menganggur adalah faktor risiko yang signifikan untuk gangguan mood. Dengan kata lain, itu berarti lemah atau kurang dukungan sosial (termasuk jaringan sosial, interaksi sosial, dan dukungan instrumental) juga dapat dianggap sebagai faktor risiko utama. Namun, mengenai interaksi sosial, frekuensi interaksi lebih penting daripada jumlahnya. Dukungan sosial yang buruk terkait dengan onset, kambuh, dan kambuhnya depresi, namun tidak ada bukti kelebihan depresi di kalangan wanita yang disebabkan oleh berkurangnya dukungan sosial. (Sadock, 2017)
Sementara pada masyarakat perkotaan dengan budaya yang beragam, psikoedukasi memberikan manfaat yang baik. Contohnya pada PTSD, psikoedukasi ditampilkan dalam kebanyakan terapi berbasis bukti untuk PTSD, psikoedukasi penting untuk digunakan sebagai tatalaksana. Hal ini meliputi peningkatan pemahaman tentang reaksi umum terhadap stres traumatis dan kesulitan dalam penyesuaian diri, pengalaman normalisasi, identifikasi gejala, keterampilan dalam mengatasi gejala, dan pertanyaan yang dapat mempengaruhi tatalaksana dan membawa hasil yang baik bagi pasien atau bahkan menjadi penghalang dalam tatalaksana. Tujuan dari psikoedukasi bagi pasien dengan gangguan terkait stres adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menentukan sikap terhadap pengobatan, dan kebutuhan apa saja yang dirasakan oleh pasien (Ghafoori et al, 2016).
Secara keseluruhan, studi menemukan bahwa untuk menjawab pertanyaan tentang intervensi mana yang secara klinis efektif, hemat biaya, dapat diterima dan untuk siapa.
Dari penelitian dan bukti kualitatif yang ter-identifikasi, ditemukan enam jenis intervensi yang telah dievaluasi dalam literatur peer-review: (1) psikoterapi; (2) psikoedukasi; (3)
advokasi; (4) bimbingan mandiri; (5) training kemampuan pengasuhan yang dikombinasi dengan advokasi; dan (6) advokasi yang dikombinasi dengan psikoedukasi. Berdasarkan bukti terkini, psikoedukasi berbasis kelompok dan pelatihan keterampilan orang tua dikombinasikan dengan advokasi mungkin merupakan intervensi yang paling efektif, walaupun efektivitas dapat bervariasi sesuai dengan jenisnya, siapa yang menerima intervensi, dengan apa yang terbaik untuk memperbaiki masalah kesehatan mental anak-anak (berlawanan dengan masalah perilaku). Mengenai efektivitas biaya, psikoedukasi mungkin paling hemat biaya untuk memperbaiki kesehatan mental. (Howarth et al, 2016)
I. Stresor
Pada tahun 1967, psikiater Thomas Holmes dan Richard Rahe memeriksa rekam medis lebih dari 5.000 pasien psikiatri sebagai cara untuk menentukan apakah peristiwa stres dapat menyebabkan dan memperberat gangguan pada pasien. Pasien diminta untuk menghitung daftar 43 peristiwa kehidupan berdasarkan skor relatif, dan terdapat korelasi positif 0,118 ditemukan antara peristiwa hidup mereka dan gangguan mereka. Hasilnya diterbitkan sebagai Skala Penilaian Penyesuaian Sosial / Social Readjustment Rating Scale (SRRS), yang lebih dikenal sebagai Holmes and Rahe Stress Scale. Penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara stres dan penyakit.yang menjadi faktor penting dalam menyebabkan stres hingga menjadi Gangguan Terkait Stres (Holmes and Rahe, 1967).
Tubuh adalah instrumen waktu yang halus yang tidak menyukai kejutan. Setiap rangsangan perubahan mendadak yang memengaruhi tubuh, atau penyusunan ulang rutinitas penting yang sudah menjadi kebiasaan bagi tubuh, dapat menyebabkan stres yang tidak diperlukan, membuat seluruh fisik menjadi kacau. Tabel berikut memberi informasi bagaimana menilai diri pada Skala Penyesuaian Sosial / Social Readjusment Scale dimana aspek sosial memberi nilai dan pengaruh terhadap stres dan tubu
Tabel 1. Social Readjustment Rating Scale (Holmes and Rahe Stress Scale)
No Event Impact
Score
No Event Impact
Score 1. Kematian pasangan 100 23. Anak meninggalkan
rumah
29
2. Perceraian 73 24. Masalah hukum 29
3. Tinggal terpisah (menikah)
65 25. Pencapaian pribadi yang luar biasa 6. Cedera pribadi atau
sakit
39 35. Perubahan aktivitas di tempat ibadah
19 14. Bertambahnya
anggota keluarga
39 36. Perubahan aktivitas sosial
Jawaban dari kriteria di atas bersifat absolute, sehingga jika responden mengalami stresor tersebut adalah “Ya” dan dihitung Impact Score sesuai dengan tabel di atas, jika
“Tidak” maka Impact Score adalah “0” atau tidak dihitung. Jumlah total Impact Score menggambarkan total Life Change Unit.
Life Change Unit digambarkan dalam Impact Score, dimana Life Change Unit memberi pengaruh dalam kemungkinan terjadinya gangguan mental hingga fisik di masa mendatang. Adapun perhitungan total Life Change Unit dan kemungkinan terjadinya gangguan tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 2. Life Change Unit dan Kemungkinan terjadi Gangguan dalam persen.
Life Change Unit Kemungkinan Terjadi Gangguan (persen)
Lebih dari sama dengan 300 80 persen
150 sampai 299 50 persen
Kurang dari sama dengan 150 30 persen
Misalnya Responden mengalami total Life Change Unit di atas 300, artinya Responden tersebut mengalami kemungkinan terjadinya gangguan jiwa sebesar 80 persen, atau dengan kata lain memiliki risiko tinggi atau sangat tinggi menjadi sakit, dan dalam beberapa studi yang tervalidasi, diinterpretasikan sebagai mengalami stresor berat, danhal ini dapat dibuktikan dengan adanya gejala gangguan jiwa dalam pemeriksaan.
Di Indonesia telah sangat banyak penelitian yang menggunakan Skala Holmes and Rahe dalam mengukur stres, beberapa di antaranya adalah :
1. Studi oleh Agung W Putro, Irmia Kusumadewi, Iris Rengganis, Feranindhya Agiananda dari Departemen Psikiatri dan Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2018 dengan judul “Hubungan Antara Gangguan Depresi dengan Kualitas Hidup, Stresor Psikososial, dan Tingkat Kontrol Asma pada Pasien Asma di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo”.
2. Studi oleh Dewi Ayu Astari Paramitha dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2011 dengan judul “Hubungan antara Derajat Keintiman Keluarga dengan Daya Tahan Stres pada Siswa SMA Negeri 1 Surakarta”.
3. Studi oleh Tri Sosilawati dari Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2013 dengan judul “Hubungan Stres Keluarga dengan Kualitas Keperawatan Keluarga di Desa Gendeng, Bangun Jiwo RT 04 Kasihan Bantul Yogyakarta”.