Dalam pertemuan para kepala negara dan perwakilan tingkat tinggi di Markas Perwakilan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 25 sampai 27 September 2015, telah dideklarasikan Sustainable Development Goals (SDG) 2030 yang dituangkan dalam salah satu tujuan dan targetnya adalah menetapkan visi yang sangat ambisius dan transformasional, dimana membayangkan dunia yang bebas dari kemiskinan, kelaparan, dan penyakit di mana semua kehidupan dapat berkembang, dunia yang bebas dari rasa takut dan kekerasan, keaksaraan (tidak ada buta huruf) secara universal, akses yang adil dan menyeluruh untuk pendidikan berkualitas di semua tingkatan, pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial, dan tercapainya kesejahteraan fisik, mental dan sosial (United Nations, 2015). WHO pada pertemuan World Health Assembly tahun 2013 mengakui peran penting kesehatan mental dalam mencapai kesehatan bagi semua orang, dan sasaran keempat pada pertemuan tersebut adalah memperkuat sistem informasi, bukti, dan penelitian dalam bidang ini.
World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, dalam laporannya berjudul WHO’s Mental Health Action Plan memaparkan bahwa terdapat sekitar 300 juta penduduk dunia mengalami depresi, 60 juta penduduk dunia menderita gangguan afektif bipolar, dan 23 juta penduduk menderita gangguan psikosis. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data dari Riskesdas 2018, data penderita gangguan jiwa pada penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas, terdapat 6,1 persen yang menderita depresi, terdapat 9,8 persen menderita gangguan mental emosional, dan untuk gangguan jiwa berat termasuk di dalamnya adalah Gangguan Terkait Stres terdapat trend peningkatan kejadian jika dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2013, yaitu terdapat peningkatan jumlah penderita dari tahun 2013 sejumlah 5,3 persen menjadi 7 persen di tahun 2018 (Kemenkes, 2018)
Dalam militer, dimana salah satu tugas pokok militer adalah Operasi Militer Perang (OMP), dimana dibuktikan bahwa operasi militer adalah merupakan hal yang
sangat berbahaya namun merupakan bagian dari tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh prajurit. Begitu banyak kasus gangguan jiwa yang dialami baik dalam masa pertempuran maupun pasca tempur atau post-combat. (Jones F.D, 1995). Sekitar 30 persen tentara Vietnam mengalami berbagai gangguan terkait stres seperti Gangguan Stres Pasca Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dengan tambahan 25 persen mengalami bentuk subklinis gangguan tersebut. Dari 700.000 tentara Amerika yang bertugas di koalisi pada Perang Teluk, 100.000 di antaranya mengalami iritabilitas, rasa lelah kronis, nafas pendek, nyeri sendi dan otot, gangguan pencernaan, sering lupa dan gangguan konsentrasi. (Kaplan & Sadock, 2015). Dari 1.218.857 veteran perang Irak dan Afghanishtan yang menjadi pasien Veteran Affairs AS, sejumlah 708.062 terdiagnosis gangguan jiwa. Sekitar 20 persen dari seluruh prajurit yang bertugas pada dua operasi militer tersebut mengalami PTSD (US Department of Veteran Affairs, 2017).
Selain terpapar trauma dan kekerasan, stresor umum yang dihadapi oleh individu mencakup konflik di antara anggota keluarga, sering berpindah rumah dan sering mengalami masa transisi, mengalami pembedaan perlakuan atau terpapar diskriminasi, dan adanya kesulitan ekonomi (Ghafoori, 2016). Stres menyebabkan banyak gangguan yang dirasakan oleh pasien dan merusak hubungan dengan keluarga dan lingkungan.
Gejala seperti iritabilitas, perasaan terasing atau alienasi, juga menyalahkan diri sendiri dan orang lain dapat berakibat buruk bagi hubungan sosial dan menurunkan kualitas hubungan sosial tersebut (American Psychiatric Association, 2013).
Menurut Undang-undang nomor 34 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) Bab I Pasal 1, prajurit adalah anggota TNI. Dan Prajurit TNI aktif adalah Seorang warga negara yang melaksanakan dinas keprajuritan yaitu pengabdian seorang warga negara sebagai Prajurit TNI. Timbulnya masalah dalam hubungan yang dialami oleh prajurit dengan gangguan terkait stres menghambat pelaksanaan tugas pokok dan perintah yang harus dilaksanakan oleh prajurit. Dalam hal kedinasan, gangguan ini dapat merusak hubungan dengan atasan ataupun rekan kerja hingga menimbulkan terjadinya berbagai pelanggaran. Di samping itu, prajurit yang seharusnya berperan sebagai benteng negara, pelindung rakyat dapat menjadi sebaliknya, yaitu menimbulkan keresahan dan ketakutan pada masyarakat akibat gejala atau gangguan yang dialaminya.
Anggota militer sendiri sudah merupakan manusia yang dilatih secara khusus dengan berbagai kualifikasi tertentu. Dan dengan kemampuannya tersebut, seorang anggota militer dari negara manapun adalah merupakan sebuah “senjata” dimanapun berada, walaupun tidak membawa persenjataan apapun, terlebih bagi prajurit yang dilatih lebih lanjut pada kesatuan-kesatuan khusus. Ketika kita berpikir tentang perilaku militer dalam pengertiannya yang paling dasar adalah dapat dikatakan sebagai instrumen kekerasan yang terorganisir, dan tidaklah klise untuk mengatakan bahwa hal tersebut terkait dengan adanya bahaya yang nyata, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain dalam melaksanakan tugas maupun tujuan tertentu secara politis. Pada dasarnya, perilaku militer terjadi di lingkungan yang tidak stabil, kacau, tidak pasti, dan sarat kehancuran.
(Sookermany, 2015).
Sebuah tantangan yang mendasar untuk dapat menemukan bahwa suatu ketidaknormalan berasal dari perkembangan yang awalnya mungkin saja normal. Oleh karena topik yang penting ini, perlu dipelajari bagaimana kontribusi faktor sosial dapat memengaruhi kerentanan seseorang dalam menghadapi stresor (Wenar & Kerig, 2010).
Prajurit selalu dianggap sebagai sosok yang kuat, tahan uji, dan memiliki mental yang kuat, namun sebagai individu yang memiliki struktur neurobiologi yang sama dengan individu lain tentunya memiliki mekanisme stres yang sama dan perlu diketahui seberapa jauh stresor dari faktor sosial memengaruhi stres pada prajurit, dan seberapa jauh stresor dari faktor sosial tersebut berpengaruh dalam pencapaian kesembuhan prajurit yang menderita Gangguan Terkait Stres.
Menurut Levinson (2006), masa dewasa awal yaitu masa di sekitar usia 17-22 tahun adalah periode yang berlangsung selama 5 tahun untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki tahap berikutnya. Pada masa transisi, seseorang akan maju ke tahap yang lebih stabil ketika struktur kehidupan mereka lebih dapat ditentukan pada setiap momen.
Struktur kehidupan dapat terdiri dari hubungan orang tersebut dengan orang lain, termasuk orang lain, kelompok, dan organisasi. Dalam masa ini pula seorang calon prajurit mulai memasuki dinas militer dan merupakan masa yang penting dalam kehidupan, dan di masa inilah individu tersebut terpapar situasi militer dengan banyak tekanan dan bahaya yang potensial. Saat ini masalah hubungan manusia menjadi lebih rumit seiring dengan kemajuan teknologi, dan beberapa dinamika tugas di institusi militer juga berada dalam situasi ini. Hubungan sosial menjadi lebih lemah di beberapa
penugasan tertentu seperti pada tugas penjagaan markas, penjagaan tawanan perang, dan tugas tertentu dimana prajurit kehilangan keterikatan emosional yang seharusnya dapat membantu mereka dalam masalah mental dan emosional (Ebrahimisani, 2012).
Terdapat berbagai stresor yang dapat dialami oleh personel militer sebagai individu. Pada tahun 1967, psikiater Thomas Holmes dan Richard Rahe memeriksa rekam medis lebih dari 5.000 pasien psikiatri sebagai cara untuk menentukan apakah peristiwa stres dapat menyebabkan dan memperberat penyakit. Pasien diminta untuk menghitung daftar 43 peristiwa kehidupan berdasarkan skor relatif, dan terdapat korelasi positif 0,118 ditemukan antara peristiwa hidup mereka dan penyakit mereka. Hasilnya diterbitkan sebagai Skala Penilaian Penyesuaian Sosial / Social Readjustment Rating Scale (SRRS), yang lebih dikenal sebagai Holmes and Rahe Stress Scale. Setiap item dalam kuesioner ini memiliki skor masing-masing dan setiap item ditandai sebagai peristiwa kehidupan yang telah terjadi dalam setahun terakhir. Kuesioner stres ini telah divalidasi dengan nilai signifikansi p <0,05 dan Cronbach's Alpha 0,98. Dimana nilai p<0.005 berarti signifikan dan nilai Cronbach's Alpha 0,98 atau di atas 0,60 maka kuesioner dinyatakan reliable atau konsisten (Suswati, 2020).
Penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara stres dan penyakit.yang menjadi faktor penting dalam menyebabkan stress hingga menjadi Gangguan Terkait Stres. Sedangkan bagi personel militer sendiri, dipastikan akan mengalami 16 di antaranya secara langsung sejak mulai bertugas.
Stresor yang dimaksud di atas antara lain masalah dalam keluarga, stresor setelah penempatan, termasuk di dalamnya adalah perubahan status pekerjaan, jabatan yang berpindah-pindah dalam waktu singkat, masalah mengenai asuransi kesehatan atau jaminan kesehatan dalam latihan, dan masalah hukum atau pelanggaran adalah hal yang cukup biasa terjadi di lingkungan militer. Semuanya ini memberikan beban tambahan pada personil militer yang sudah dipengaruhi oleh berbagai peristiwa traumatis dalam latihan maupun penugasan (Cerda, 2014).
Stresor pada prajurit telah lama dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, khususnya Gangguan Terkait Stres yaitu PTSD dan gangguan depresi mayor / Major Depressive Disorder (MDD). Penelitian membuktikan bahwa peningkatan risiko untuk PTSD dan MDD di antara prajurit akan lebih besar timbul bagi prajurit yang mendapatkan
penempatan pada satuan tempur. Terdapat kerentanan yang melekat dan sangat berhubungan dengan faktor-faktor risiko dalam masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan stress atu diagnosis Gangguan Terkait Stres (Servatius, 2017).