Berdasarkan Holmes and Rahe Stress Scale dan Instrumen Penilaian Stres Psikososial, stresor yang dialami oleh responden adalah sebagai berikut:
1. Responden I.
a. Berdasarkan Holmes and Rahe Stress Scale:
1). Hidup Terpisah dalam Pernikahan (score 65)
Seperti halnya prajurit yang lain, hidup terpisah dalam pernikahan selalu pernah dialami. Responden mengalami hal ini selama bertahun-tahun (lebih dari 5 tahun) saat mengikuti berbagai pendidikan, bertugas, termasuk dalam tugas operasinya yang terakhir.
2). Penahanan dalam penjara (score 63)
Responden juga mengalami penahanan di satuan dalam penanganan tindak pelanggaran disipilin akibat gangguannya.
3). Kematian keluarga dekat (score 63)
Bagi prajurit, adanya esprit de corpse atau jiwa korsa membuat rekan sesama prajurit apalagi dalam 1 unit penugasan dirasa bahkan lebih dari sekedar keluarga. Oleh karena itu, kematian rekan 1 unit bagi prajurit dirasakan sebagai kematian keluarga dekat.
4). Cedera atau sakit (score 53)
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD berkepanjangan.
5). Perbedaan Pendapat (score 35)
Responden mengalami hampir setiap hari adanya perbedaan pendapat baik di rumah, lingkungan sekitar rumah, lingkungan dinas, dimana responden merasa tidak ada seorangpun yang memahami kondisi sakitnya, dan apa yang dirasakan oleh responden.
6). Perubahan Tanggung Jawab dalam Pekerjaan (score 29).
Responden mengalami banyak perubahan dalam tanggung jawab. Mulai dari berubahnya wewenang sebagai Komandan Regu dan perannya di satuan, hingga perubahan tanggung jawab saat tidak dapat lagi berperan sebagai pelatih tinju propinsi yang merupakan salah satu kegiatan yang disukai dan menjadi kebanggaan responden juga.
7). Masalah dengan Mertua (score 29)
Responden mengalami masalah keluarga dengan mertua, dimana gangguan yang dialaminya menyebabkan mertua merasa bahwa responden tidak dapat lagi berperan sebagai suami dan ayah yang baik, merasa bahwa responden telah berubah menjadi pribadi yang menakutkan, dan mertua responden tidak memahami bahwa hal ini terjadi sebagai akibat dari trauma dan stresor yang dialami responden.
8). Perubahan Kondisi Kehidupan (score 25)
Responden mengalami berbagai perubahan kondisi kehidupan. Diantaranya adalah gangguan yang terus menerus dialaminya setiap hari, mengganggu fungsi peran dan pekerjaan responden, dan perubahan respon dan hubungan antara responden dengan istri, anak, sahabat, atasan, dan rekan kerja. Yang hal ini seluruhnya belum pernah dialami oleh responden sebelum mengalami trauma.
9). Perbaikan Kebiasaan Pribadi (score 24)
Adanya berbagai gangguan yang dialami oleh responden menyebabkan responden harus mengalami perubahan wewenang dan tanggung jawab,
sehingga menyebabkan perubahan kehidupan, yang menyebabkan responden harus melakukan perbaikan kebiasaan pribadi akibat sakitnya.
Misalnya responden harus minum obat, konseling, dan menghindari traumatic events yang tentunya hal itu sangat sulit dilakukan dalam lingkungan kesatuan tempur.
10). Masalah dengan Atasan (score 23).
Responden mengalami masalah dengan atasan, yaitu akibat sakitnya maka responden sering melakukan hal yang sulit terkendali, hingga masuk ke dalam ranah pelanggaran. Dan sebagai prajurit, pelanggaran ini menyebabkan responden mengalami masalah baik dengan atasan langsung maupun tingkat di atasnya.
11). Perubahan Kebiasaan Tidur (score 16)
Responden mengalami gangguan tidur akibat keluhan yang dialaminya.
Responden sering terbangun karena mimpi buruk yang berulang dan sulit untuk memulai tidur kembali.
Total Score: 425
Score di atas 300 menurut Holmes and Rahe bahwa responden mengalami risiko tinggi terjadi gangguan jiwa
b. Berdasarkan Instrumen Penilaian Stresor Psikososial (IPSP) 1). Mempunyai Keinginan / Permintaan yang Tidak Terpenuhi
Responden sangat ingin sembuh dan tidak mengalami gangguan seperti saat ini, ingin dapat kembali bertugas dengan baik, melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, lepas dari stigma negatif dalam lingkungan dan satuannya, dan tentunya juga kembali menjadi suami dan ayah yang baik. Hal ini belum dapat tercapai karena responden masih belum sembuh dan masih diperberat dengan berbagai stresor yang dialaminya.
2). Menerima perlakuan “tidak adil”
Responden merasa bahwa tindakan disiplin, stigma, lepasnya berbagai wewenang dan tanggung jawab, serta hilangnya kepercayaan pimpinan dan anggapan bahwa responden tidak mampu lagi bertugas dengan baik adalah
suatu “perlakuan tidak adil” yang diterimanya. Responden tidak pernah ingin sakit dan mengalami semua ini.
3). Konflik dengan teman sekerja, sahabat, atau tetangga dekat.
Akibat gangguan yang dialaminya sementara tidak semua orang dapat memahami bahwa responden mengalami penderitaan akibat trauma dan stresor, maka responden mengalami banyak konflik dengan teman sekerja, atasan, sahabat, keluarga, dan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.
4). Kematian sahabat dekat.
Seperti pada pembahasan pada bagian Holmes and Rahe, pada IPSP ini juga kematian sahabat dekat masuk dalam kriteria stresor. Dan hal ini adalah salah satu issue utama yang dialami oleh responden, dalam hubungan dengan trauma yang dialaminya.
5). Kegagalan Pekerjaan
Tugas operasi yang dilaksanakan oleh responden dan unitnya telah berhasil, namun karena adanya korban yang menyebabkan trauma yang dialami oleh responden, justru responden merasa mengalami kegagalan dalam pekerjaannya pasca tugas operasi, dimana banyak tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat terlaksana akibat gangguan yang dialaminya.
6). Menderita Sakit / Cedera
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD.
7). Kematian Pasangan Hidup / Anggota Keluarga
Instrumen ini memisahkan kematian pasangan hidup / anggota keluarga dengan kematian sahabat, namun bagi prajurit, sebagaimana telah dibahas pada Holmes and Rahe, kematian rekan 1 unit / sahabat dirasakan sama seperti kematian anggota keluarga.
8). Kematian Beberapa Anggota Keluarga
Rekan 1 unit yang gugur dalam tugas tersebut bukan hanya 1 orang, namun lebih dari satu dan terjadi berturut-turut dalam 1 periode tugas. Hal ini dirasakan oleh responden sebagai kematian beberapa anggota keluarganya.
2. Responden II.
a. Berdasarkan Holmes and Rahe Stress Scale:
1). Hidup Terpisah dalam Pernikahan (score 65)
Seperti halnya prajurit yang lain, hidup terpisah dalam pernikahan selalu pernah dialami. Responden mengalami hal ini selama bertahun-tahun (lebih dari 5 tahun) saat mengikuti berbagai pendidikan, bertugas, termasuk dalam tugas operasinya yang terakhir. Dan saat ini responden hidup terpisah karena istri responden meninggalkan responden karena takut akibat gejala yang dialami oleh responden.
2). Penahanan dalam penjara (score 63)
Responden juga dimungkinkan mengalami penahanan di satuan dalam penanganan tindak pelanggaran disipilin akibat gangguannya.
3). Cedera atau sakit (score 53)
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD berkepanjangan.
4). Perbedaan Pendapat (score 35)
Responden mengalami hampir setiap hari adanya perbedaan pendapat baik di rumah, lingkungan sekitar rumah, lingkungan dinas, dimana responden merasa tidak ada seorangpun yang memahami kondisi sakitnya, dan apa yang dirasakan oleh responden.
5). Perubahan Tanggung Jawab dalam Pekerjaan (score 29).
Responden mengalami banyak perubahan dalam tanggung jawab. Mulai dari berubahnya wewenang sebagai Komandan Regu dan perannya di satuan, hingga perubahan tanggung jawab saat tidak dapat lagi berdinas dengan baik, dan saat ini bahkan responden menjadi nonjob atau tidak berjabatan sama sekali, hingga tidak dinaikkan pangkat sesuai waktu.
6). Masalah dengan Istri dan Mertua (score 29)
Responden mengalami masalah keluarga dengan istri dan mertua, dimana gangguan yang dialaminya menyebabkan istri responden merasa takut, lalu pergi meninggalkannya, dan mertua responden merasa bahwa responden
tidak dapat lagi berperan sebagai suami dan ayah yang baik, merasa bahwa responden telah berubah menjadi pribadi yang menakutkan, dan mertua responden tidak memahami bahwa hal ini terjadi sebagai akibat dari trauma dan stresor yang dialami responden.
7). Perubahan Kondisi Kehidupan (score 25)
Responden mengalami berbagai perubahan kondisi kehidupan. Diantaranya adalah gangguan yang terus menerus dialaminya setiap hari, mengganggu fungsi peran dan pekerjaan responden, dan perubahan respon dan hubungan antara responden dengan istri, anak, sahabat, atasan, dan rekan kerja. Yang hal ini seluruhnya belum pernah dialami oleh responden sebelum mengalami trauma.
8). Perbaikan Kebiasaan Pribadi (score 24)
Adanya berbagai gangguan yang dialami oleh responden menyebabkan responden harus mengalami perubahan wewenang dan tanggung jawab, sehingga menyebabkan perubahan kehidupan, yang menyebabkan responden harus melakukan perbaikan kebiasaan pribadi akibat sakitnya.
Misalnya responden harus minum obat, konseling, dan menghindari traumatic events yang tentunya hal itu sangat sulit dilakukan dalam lingkungan kesatuan tempur.
9). Masalah dengan Atasan (score 23).
Responden mengalami masalah dengan atasan, yaitu akibat sakitnya maka responden sering melakukan hal yang sulit terkendali, hingga masuk ke dalam ranah pelanggaran. Dan sebagai prajurit, pelanggaran ini menyebabkan responden mengalami masalah baik dengan atasan langsung maupun tingkat di atasnya.
10). Perubahan kebiasaan tidur (score 16).
Responden mengalami gangguan tidur akibat keluhan yang dialaminya.
Responden sering terbangun karena mimpi buruk yang berulang dan sulit untuk memulai tidur kembali
Total Score: 352
Score di atas 300 menurut Holmes and Rahe bahwa responden mengalami risiko tinggi terjadi gangguan jiwa
b. Berdasarkan Instrumen Penilaian Stresor Psikososial (IPSP):
1). Mempunyai Keinginan / Permintaan yang Tidak Terpenuhi
Responden sangat ingin sembuh dan tidak mengalami gangguan seperti saat ini, ingin dapat kembali bertugas dengan baik, melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, lepas dari stigma negatif dalam lingkungan dan satuannya, ingin istrinya kembali, dan tentunya juga kembali menjadi suami dan ayah yang baik. Hal ini belum dapat tercapai karena responden masih belum sembuh dan masih diperberat dengan berbagai stresor yang dialaminya.
2). Menerima perlakuan “tidak adil”
Responden merasa bahwa tindakan disiplin, stigma, lepasnya berbagai wewenang dan tanggung jawab, serta hilangnya kepercayaan pimpinan dan anggapan bahwa responden tidak mampu lagi bertugas dengan baik adalah suatu “perlakuan tidak adil” yang diterimanya. Responden tidak pernah ingin sakit dan mengalami semua ini.
3). Konflik dengan teman sekerja, sahabat, atau tetangga dekat.
Akibat gangguan yang dialaminya sementara tidak semua orang dapat memahami bahwa responden mengalami penderitaan akibat trauma dan stresor, maka responden mengalami banyak konflik dengan teman sekerja, atasan, sahabat, keluarga, dan tetangga, hingga masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
4). Kegagalan Pekerjaan
Tugas operasi yang dilaksanakan oleh responden dan unitnya telah berhasil, namun karena adanya korban yang menyebabkan trauma yang dialami oleh responden, justru responden merasa mengalami kegagalan dalam pekerjaannya pasca tugas operasi, dimana banyak tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat terlaksana akibat gangguan yang dialaminya. Selain itu, saat ini responden bertugas di satuan kewilayahan dan merasa bahwa dirinya
justru membuat masyarakat merasa takut dan tidak dapat menjadi panutan bagi masyarakat.
5). Menderita Sakit / Cedera
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD.
3. Responden III.
a. Berdasarkan Holmes and Rahe Stress Scale:
1). Hidup Terpisah dalam Pernikahan (score 65)
Seperti halnya prajurit yang lain, hidup terpisah dalam pernikahan selalu pernah dialami. Responden mengalami hal ini selama bertahun-tahun (lebih dari 5 tahun) saat mengikuti berbagai pendidikan, bertugas, termasuk dalam tugas operasinya yang terakhir.
2). Penahanan dalam penjara (score 63)
Responden telah mengalami penahanan di satuan dalam penanganan tindak pelanggaran disiplin akibat gangguannya.
3). Kematian keluarga dekat (score 63)
Bagi prajurit, adanya esprit de corpse atau jiwa korsa membuat rekan sesama prajurit apalagi dalam 1 unit penugasan dirasa bahkan lebih dari sekedar keluarga. Oleh karena itu, kematian rekan sesama prajurit dirasakan sebagai kematian keluarga dekat.
4). Cedera atau sakit (score 53)
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD berkepanjangan.
5). Perbedaan Pendapat (score 35)
Responden mengalami hampir setiap hari adanya perbedaan pendapat baik di rumah, lingkungan sekitar rumah, lingkungan dinas, dimana responden merasa tidak ada seorangpun yang memahami kondisi sakitnya, dan apa yang dirasakan oleh responden.
6). Perubahan Tanggung Jawab dalam Pekerjaan (score 29).
Responden mengalami banyak perubahan dalam tanggung jawab. Mulai dari berubahnya wewenang dan perannya di satuan akibat gangguan yang dialaminya, hingga perubahan tanggung jawab saat tidak dapat lagi berperan sebagai pelatih tinju propinsi yang merupakan salah satu kegiatan yang disukai dan menjadi kebanggaan responden juga.
7). Masalah dengan Mertua (score 29)
Responden mengalami masalah keluarga dengan mertua, dimana gangguan yang dialaminya menyebabkan mertua merasa bahwa responden tidak dapat lagi berperan sebagai suami dan ayah yang baik, merasa bahwa responden telah berubah menjadi pribadi yang menakutkan, dan mertua responden tidak memahami bahwa hal ini terjadi sebagai akibat dari trauma dan stresor yang dialami responden
8). Perubahan Kondisi Kehidupan (score 25)
Responden mengalami berbagai perubahan kondisi kehidupan. Diantaranya adalah gangguan yang terus menerus dialaminya setiap hari, mengganggu fungsi peran dan pekerjaan responden, dan perubahan respon dan hubungan antara responden dengan istri, anak, sahabat, atasan, dan rekan kerja. Yang hal ini seluruhnya belum pernah dialami oleh responden sebelum mengalami trauma.
9). Perbaikan Kebiasaan Pribadi (score 24)
Adanya berbagai gangguan yang dialami oleh responden menyebabkan responden harus mengalami perubahan wewenang dan tanggung jawab, sehingga menyebabkan perubahan kehidupan, yang menyebabkan responden harus melakukan perbaikan kebiasaan pribadi akibat sakitnya.
Misalnya responden harus minum obat, konseling, dan menghindari traumatic events yang tentunya hal itu sangat sulit dilakukan dalam lingkungan kesatuan tempur.
10). Masalah dengan Atasan (score 23).
Responden mengalami masalah dengan atasan, yaitu akibat sakitnya maka responden sering melakukan hal yang sulit terkendali, hingga masuk ke dalam ranah pelanggaran. Dan sebagai prajurit, pelanggaran ini
menyebabkan responden mengalami masalah baik dengan atasan langsung maupun tingkat di atasnya.
11). Perubahan Kebiasaan Tidur (score 16)
Responden mengalami gangguan tidur akibat keluhan yang dialaminya.
Responden sering terbangun karena mimpi buruk yang berulang dan sulit untuk memulai tidur kembali.
Total Score: 425
Score di atas 300 menurut Holmes and Rahe bahwa responden mengalami risiko tinggi terjadi gangguan jiwa
b. Berdasarkan Instrumen Penilaian Stresor Psikososial (IPSP):
1). Mempunyai Keinginan / Permintaan yang Tidak Terpenuhi
Responden sangat ingin sembuh, kembali bertugas dengan baik, melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, lepas dari stigma negatif dalam lingkungan dan satuannya, dan tentunya juga kembali menjadi suami dan ayah yang baik. Hal ini belum dapat tercapai karena responden masih belum sembuh dan masih diperberat dengan berbagai stresor yang dialaminya.
2). Menerima perlakuan “tidak adil”
Responden merasa bahwa tindakan disiplin, stigma, lepasnya berbagai wewenang dan tanggung jawab, serta hilangnya kepercayaan pimpinan dan anggapan bahwa responden tidak mampu lagi bertugas dengan baik adalah suatu “perlakuan tidak adil” yang diterimanya. Responden tidak pernah ingin sakit dan mengalami semua ini.
3). Konflik dengan teman sekerja, sahabat, atau tetangga dekat.
Akibat gangguan yang dialaminya sementara tidak semua orang dapat memahami bahwa responden mengalami penderitaan akibat trauma dan stresor, maka responden mengalami banyak konflik dengan teman sekerja, atasan, sahabat, keluarga, dan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.
4). Kematian sahabat dekat.
Seperti pada pembahasan pada bagian Holmes and Rahe, pada IPSP ini juga kematian sahabat dekat masuk dalam kriteria stresor. Dan hal ini adalah salah satu issue utama yang dialami oleh responden, dalam hubungan dengan trauma yang dialaminya.
5). Kegagalan Pekerjaan
Tugas operasi yang dilaksanakan oleh responden dan unitnya telah berhasil, namun karena adanya korban yang menyebabkan trauma yang dialami oleh responden, justru responden merasa mengalami kegagalan dalam pekerjaannya pasca tugas operasi, dimana banyak tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat terlaksana akibat gangguan yang dialaminya.
6). Menderita Sakit / Cedera
Responden mengalami berbagai cedera dalam penugasan operasi yang terakhirnya, mengalami sakit baik secara fisik maupun mental dimana terjadi trauma psikis yang mengakibatkan responden mengalami PTSD.
7). Kematian Pasangan Hidup / Anggota Keluarga
Instrumen ini memisahkan kematian pasangan hidup / anggota keluarga dengan kematian sahabat, namun bagi prajurit, sebagaimana telah dibahas pada Holmes and Rahe, kematian rekan / sahabat dirasakan sama seperti kematian anggota keluarga.
8). Kematian Beberapa Anggota Keluarga
Rekan yang gugur dalam tugas tersebut bukan hanya 1 orang, namun lebih dari satu dan terjadi dalam 1 kejadian. Hal ini dirasakan oleh responden sebagai kematian beberapa anggota keluarganya.
C. Perubahan yang Dialami oleh Responden Setelah Mengalami Faktor Pencetus