• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

GAMBARAN UMUM KONDISI FLORES TIMUR

2.3 Aspek Pelayanan Umum Fokus Layanan Urusan Wajib

Kinerja layanan urusan wajib ditunjukkan oleh indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah, yaitu bidang urusan pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, penataan ruang, perencanaan pembangunan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, kependudukan dan catatan sipil, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, sosial, ketenagakerjaan, koperasi dan usaha kecil menengah, penanaman modal, kebudayaan, kepemudaan dan olah raga, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, statistik, kearsipan, komunikasi dan informatika dan perpustakaan. Kinerja dari masing-masing urusan tersebut sebagai berikut:

a. Urusan Pendidikan

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan pendidikan antara lain: angka partisipasi sekolah, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah dan rasio guru terhadap murid.

     

  Halaman    II‐ 14    Tabel 2.13 Perkembangan Indikator Layanan Urusan Pendidikan Tahun 2007‐2010                                      Sumber : Dinas P&K Kab. Flores Timur, 2010   

Angka Partisipasi Sekolah pada setiap jenjang pendidikan tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami peningkatan. Angka Partisipasi Kasar pada tahun 2008 untuk SD/MI 111,82% meningkat menjadi 116,55% tahun 2009, tingkat SMP: 90,95% meningkat menjadi 100,50% tahun 2009. Tingkat SLTA: 106,21% meningkat menjadi 116,60% tahun 2009. Angka Partisipasi Murni (APM): pada tahun 2008 untuk tingkat SD/MI: 93,48% meningkat menjadi 94,88% pada tahun 2009, tingkat SMP: 76,34% meningkat menjadi 80,38% pada tahun 2009, dan tingkat SLTA: 72,54% meningkat menjadi 83,17% pada tahun 2009. Angka partisipasi sekolah yang tinggi tersebut harus didukung dengan ketersediaan sarana pendidikan dengan rasio yang memadai. Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar yakni sebesar 84,12; SMP/MTs 56,49; dan SMA/MA/SMK sebesar 47,71 pada tahun 2010. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar dan menengah.

Sedangkan rasio guru terhadap murid pada tahun 2007 untuk jenjang SD/MI/SDLB sebesar 16,00; SMP/MTs: 12,91 dan SMU/MA sebesar 10,96 dan SMK sebesar 7,20. Pada tahun 2009. Rasio tersebut mengalami beberapa perubahan pada setiap jenjang pendidikan. Pada jenjang SD/MI/SDLB menurun menjadi 10,00; SMP/MTs meningkat menjadi 14,00 dan SMU/MA meningkat menjadi 25,00 serta SMK menjadi 24,00 dan pada tahun 2010, pada jenajang SD/MI sebesar 74,2; SMP/MTs sebesar 76,53; dan SMA/MA sebesar 91,87 serta SMK sebesar 91,08.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi sekolah yang tinggi telah didukung dengan ketersediaan sekolah dan guru yang cukup memadai. Akan tetapi sebarannya masih belum merata pada semua kecamatan. Salah satu penyebabnya adalah faktor geografis yang menyebabkan rendahnya aksesibilitas antarwilayah.

  NO  Jenjang Pendidikan  2007  2008   2009  2010          1  Angka Partisipasi Kasar    a. SD/MI (%)  96,96 111,82 116,55  116,89   b. SMP/MTs (%) 86,62 90,95 100,50  103,02   c. SMU/MA/SMK (%) 96,36 106,21 116,60  115,75 2  Angka Partisipasi Murni    a. SD/MI (%)  93,81 93,48 94,88  95,85   b. SMP/MTs (%) 84,59 76,34 80,38  81,18   c. SMU/MA/SMK (%) 65,88 72,54 83,17  84,01 3  Rasio guru terhadap murid    a. SD/MI   16,00 14,70 10,00  74,2   b. SMP/MTs   12,91 12,67 14,00  76,5   c. SMU/MA   10,96 12,69 25,00  91,9   d. SMK   7,20 8,53 24,00  91,1

  Halaman    II‐ 15  b. Urusan Kesehatan

Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini, merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik, lingkungan yang sehat dan aman, pengembangan psikososial/emosi, kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak. Pengalaman empirik menunjukan, bahwa strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak seperti itu, dapat dilakukan pada Posyandu. Karena Posyandu merupakan wadah peranserta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya, maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini, dapat dilakukan di setiap posyandu.

Selain posyandu, indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 2.14.   Tabel 2.14    Perkembangan Indikator Layanan Urusan Kesehatan Kabupaten  Flores Timur  Tahun 2007‐2010    No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010          1.  Rasio posyandu per satuan balita 14,55 22,96  24,78  25,25 2.  Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per  satuan penduduk  0,30 0,28  0,30  0,31 3.  Rasio rumah sakit per satuan penduduk 0,0043 0,0043  0,0043  0,0043 4.  Rasio dokter per satuan penduduk 0,13 0,06  0,13  0,16 5.  Rasio tenaga medis per satuan penduduk 2,11 1,95  2,06  2,00 7.  Cakupan desa/kelurahan UCI 50  62  96,01 8.  Cakupan Puskesmas  77,78 94,44  94,74  94,74             Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Flores Timur dan BPS,2010   

Kinerja pelayanan umum bidang kesehatan sebagaimana Tabel 2.14 menunjukkan bahwa rasio posyandu terhadap jumlah balita sebesar 22,96 persen pada tahun 2008 meningkat menjadi 24,78 persen pada tahun 2009.

Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita.

Selain itu, cakupan puskesmas sudah cukup memadai akan tetapi ketersediaan dokter masih jauh dari harapan. Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani 2.500 penduduk. Sedangkan kondisi eksisting sebagaimana pada Tabel 2.14 menunjukkan bahwa rasio dokter per satuan penduduk sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 masih jauh dari standar nasional, yakni satu orang dokter melayani 7.256 penduduk pada tahun 2007 dan 6.113 penduduk pada tahun 2010.

  Halaman    II‐ 16  c. Urusan Pekerjaan umum

Beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan pekerjaan umum antara lain:

  Tabel 2.15 Perkembangan Indikator Layanan Urusan Pekerjaan Umum Kabupaten  Flores Timur Tahun 2007‐2010    No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010  1.  Proporsi panjang jaringan jalan dalam  kondisi baik   0,28 0,29 0,28  0,30 2.  Rasio Jaringan Irigasi  1,93 1,77 1,84  1,81 3.  Rasio tempat ibadah per satuan penduduk  1,68 1,54 1,80  1,82 4.  Persentase rumah tinggal bersanitasi   61,00 66,59 67,76  68,52 5.  Rasio rumah layak huni   0,94 0,94  0,01 6.  Panjang jalan dilalui Roda 4   0,0025 * 0,0034 Sumber : Dinas PU dan BPS, 2010  *data tidak tersedia   

Upaya peningkatan pelayanan pada urusan pekerjaan umum selalu dilaksanakan setiap tahun. Walaupun demikian, tingkat pelayanan masih perlu ditingkatkan karena masih banyak permasalahan yang harus segera diatasi. Sebagaimana Tabel 2.15, proporsi jaringan jalan dalam kondisi baik hanya mencapai 0,28 pada tahun 2007 dan meningkat 0,30 pada tahun 2010. Angka tersebut menunjukkan bahwa dari total panjang jalan yang ada (533,07 km), hanya 30 persen berkondisi baik. Demikian pula dengan indikator lainnya.

Rasio jaringan irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer, sekunder, tersier. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian. Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan. Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. Tabel 2.15 menunjukkan bahwa rasio jaringan irigasi berfluktuasi dalam kurun waktu tahun 2007-2010. Tahun 2007 sebesar1,93 menurun menjadi 1,77 pada tahun 2008, meningkat lagi menjadi 1,84 pada tahun 2009 kemudian menurun lagi menjadi 1,81 pada tahun 2010. Kondisi ini dipengaruhi oleh tidak stabilnya debit air untuk irigasi. Indikator lain seperti rasio tempat ibadah per satuan penduduk, persentase rumah tinggal bersanitasi, rasio rumah layak huni dan panjang jalan dilalui roda 4, selalu meningkat dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Peningkatan terbesar terjadi pada persentase rumah tinggal bersanitasi dengan rata-rata perubahan sebesar 3,38 persen pertahun. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kesadaran hidup sehat pada masyarakat.

d. Urusan Perumahan

Dari hasil SUSENAS 2010 diketahui bahwa 88,59% dari total rumah tangga menghuni rumah dengan status milik sendiri. 4,99% lainnya di rumah milik orang tua/sanak saudara. Sisanya tinggal di rumah dengan status kontrak, sewa, rumah dinas, bebas sewa dan lainnya. 64,48% rumah tangga menghuni rumah dengan luas lantai di bawah 50 m2 dan 37,93% dari mereka menempati rumah dengan lantai tanah. Sebagian besar tempat

  Halaman    II‐ 17  tinggal tersebut beratap seng (86,96%). Beton dan genteng hanya 0,49%. Sisanya beratapkan ijuk/rumbia, asbes dan lainnya.

Rumah tangga menempati rumah dengan dinding tembok sebanyak 49,70%, berdinding bambu 44,21%, sisanya berdinding kayu dan lainnya.

Pada umumnya rumah tangga sudah menggunakan listrik sebagai sumber penerangan utama (72,69%). Namun masih banyak juga yang menggunakan pelita (26,91%). 53,86% dari mereka menggunakan mata air terlindung sebagai sumber air minum utama, 20,93% menggunakan sumur terlindung, 14,14% menggunakan ledeng dan 11,97% sisanya menggunakan sumber air lainnya.

Sebagian besar rumah tangga (68,52%) memiliki fasilitas tempat buang air besar sendiri. Namun yang tidak memiliki fasilitas tersebut masih cukup besar, yaitu 24,44%. Sisanya tidak memiliki fasilitas sendiri tetapi menggunakan secara bersama dengan rumah tangga lain (6,86%) dan menggunakan fasilitas umum (0,19%).

Indikator-indikator tersebut sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan perumahan dengan perkembangan sejak tahun 2007 sebagimana Tabel 2.16 berikut:

  Tabel 2.16 Perkembangan Indikator Layanan Urusan Perumahan  Tahun 2007‐2010    No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010        1.  Rumah tangga pengguna air bersih (%)  98,38 92,81 95,12  93,1 2.  Rumah tangga pengguna listrik (%) 58,08 62,84 74,86  72,89 3.  Rumah tangga ber‐Sanitasi (%) 61,00 66,59 67,76  68,52 4.  Rumah tidak layak huni (buah) 3.274 3.350 3.274 Sumber : BPS, 2010          *data tidak tersedia   

e. Urusan Tata Ruang

Sejak tahun 2007-2010, kinerja pelayanan umum pada urusan tata ruang antara lain dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027; Sedangkan rencana detailnya masih dalam proses penetapan. Sebagai upaya pengendalian pemanfaatan ruang, pemerintah daerah membentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, terakhir dengan Keputusan Bupati Flores Timur Nomor 226 Tahun 2010 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kabupaten Flores Timur Tahun 2010.

f. Urusan Perencanaan Pembangunan

Beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan perencanaan pembangunan antara lain tersedianya dokumen perencanaan baik jangka panjang (20 tahun), jangka menengah (5 tahun) maupun jangka pendek (1 tahun).

  Tabel 2.17 Perkembangan Indikator Layanan Urusan Perencanaan Pembangunan  Kabupaten Flores Timur Tahun 2007‐2010    No  Indikator  2007  2008  2009  2010  1.  Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD  yang telah ditetapkan dengan PERDA 

ada ada  ada  ada 2.  Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD  ada ada  ada  ada

  Halaman    II‐ 18 

No  Indikator  2007  2008  2009  2010 

yang telah ditetapkan dengan PERKADA 3.  Tersedianya Dokumen Perencanaan RKPD 

yang telah ditetapkan dengan PERKADA  ada ada  ada  ada 4.  Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD ada ada  ada  ada Sumber : Bappeda dan PM Kab. Flores Timur 

 

Sehubungan dengan beberapa indikator tersebut, sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2010, dokumen perencanaan tersebut telah ditetapkan baik dengan Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Kepala Daerah (Perkada). RPJP Kabupaten Flores Timur ditetapkan dengan Perda Nomor 14 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Flores Timur Tahun 2005-2025 kemudian dirubah dengan Perda Nomor 17 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Perda Nomor 14 Tahun 2005 dan RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 8 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2005-2010, kemudian direvisi dan ditetapkan dengan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 10 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 8 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2005-2010. Sedangkan RKPD setiap tahunnya ditetapkan dengan Peratutan Bupati, terakhir tahun 2011 ditetapkan dengan Peraturan Bupati Nomor 17 Tahun 2010.

g. Urusan Perhubungan

Beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan perhubungan antara lain jumlah arus penumpang angkutan umum, rasio ijin trayek, jumlah pelabuhan (laut, udara dan terminal) serta beberapa indikator pelayanan seperti lama dan biaya pengujian kelayakan angkutan umum, dan pemasangan rambu-rambu.

Sampai dengan tahun 2010 di wilayah kabupaten Flores Timur terdapat 4 buah pelabuhan perintis yaitu pelabuhan Larantuka, Tobilota, Menanga dan Terong. Pelabuhan-pelabuhan perintis tersebut selalu disinggahi kapal-kapal berukuran besar dari luar Flores Timur, kecuali pelabuhan Laut Tobilota. Sedangkan pelabuhan laut Larantuka, selain disinggahi kapal-kapal barang/dagang dari luar, juga kapal penumpang milik PT. Pelni yaitu KM Sirimau dan KM Awu. Selain pelabuhan perintis tersebut, terdapat Pelabuhan lokal/rakyat yang diusahakan baik atas bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat yang tersebar di beberapa lokasi kecamatan antara lain di Kecamatan Adonara Barat, Witihama, Ile Boleng, Solor Barat, Solor Timur dan Titehena dan pelabuhan/dermaga penyeberangan Fery, di Waibalun-Larantuka dan Boleng Kecamatan Ile Boleng.

Arus kunjungan dan penumpang kapal laut pada pelabuhan laut Larantuka dalam kurun waktu tahun 2009-2010 seperti pada Tabel 2.18.

  Halaman    II‐ 19  Tabel.  2.18  Arus  Kunjungan  dan  Penumpang  Kapal  Laut  pada 

Pelabuhan Laut Larantuka Tahun 2009 dan 2010   

Bulan 

Tahun 2009 Tahun 2010 

Kunjungan 

Kapal  Jumlah PenumpangTurun Naik Kunjungan Kapal  Jumlah PenumpangTurun  Naik Januari  554  13.609  11.779  526 11.675  9.453 Februari  451  9.750 7.430 489 9.804  7.851 Maret  585  14.326 12.555 565 11.736  9.340 April  686  12.728 9.319 586 14.323  11.029 Mei  664  12.712 9.420 569 13.416  2.063 Juni  552  11.165 8.029 641 15.990  11.507 Juli  656  16.107 10.999 626 18.820  13.458 Agustus  607  12.785 9.023 582 14.019  11.332 September  616  15.399 10.218 560 15.155  11.281 Oktober  615  13.783 10.801 564 14.752  10.832 November  512  12.732 12.595 565 14.783  11.299 Desember  620  14.962 9.819 609 17.491  14.176 Jumlah  7.118   160.058   121.987   6.882  171.964  123.621  Sumber : BPS, 2011   

Selain terdapat parasarana transpotasi darat dan laut, terdapat sebuah bandara udara yang bernama “Gewayan Tanah” yang terdapat di Watowiti Kecamatan Ile Mandiri. Frekuensi penerbangan setiap hari pergi pulang Kupang dengan pesawat berukuran kecil, karena landasan pacunya tidak cukup bagi mendaratnya pesawat-pesawat berkapasitas besar. Pemerintah Kabupaten Flores Timur saat ini sedang melaksanakan upaya pengembangan bandara ini melalui perluasan landasan pacu, sehingga di tahun – tahun mendatang diharapkan bandara Gewayan Tanah dapat melayani penerbangan pesawat berkapasitas besar, dan juga dapat menambah rute penerbangan ke kota-kota lain di Indonesia, baik melalui Kupang maupun penerbangan langsung dari Larantuka.

h. Urusan Lingkungan Hidup

Beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan umum pada urusan lingkungan hidup antara lain persentase penanganan sampah, persentase penduduk berakses air minum, persentase luas permukiman tertata, tempat pembuangan sampah per satuan penduduk dan penegakan hukum lingkungan serta pencemaran status mutu air.

Perkembangan beberapa indikator tersebut menunjukkan kemajuan walaupun belum sepenuhnya memberikan dampak yang signifikan. Salah satu diantaranya adalah persentase rumah tangga pengguna air bersih yakni sebesar 98,38 persen pada tahun 2007 menurun menjadi 93,1 persen pada tahun 2010. Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur, atau mata air yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal.

Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia,

  Halaman    II‐ 20  terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya

Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh

dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. 

i. Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil

Kinerja layanan urusan kependudukan dan catatan sipil dapat diukur melalui beberapa indikator antara lain rasio penduduk berKTP per satuan penduduk, rasio pasangan berakte nikah, kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk dan penerapan KTP Nasional berbasis NIK. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan KTP Nasional berbasis NIK sudah dilaksanakan sejak tahun 2007 sedangkan perkembangan beberapa indikator lainnnya berfluktuasi dari tahun 2007-2009 sebagaimana Tabel 2.19.   Tabel 2.19  Perkembangan Indikator Layanan Urusan Kependudukan dan Catatan  Sipil  Kabupaten Flores Timur Tahun 2007‐2010  No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010  1.  Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk   0,018 0,021  0,017  2.  Rasio bayi berakte kelahiran     0,30  3.  Rasio pasangan berakte nikah   0,74 1,41  1,64  4.  Kepemilikan KTP  0,18 0,21  0,17  5.  Kepemilikan akta kelahiran per 1000  penduduk  5,42 11,51  8,60 

6.  Penerapan KTP Nasional berbasis NIK  sudah sudah  sudah  sudah 

Sumber : diolah dari Flores Timur Dalam Angka 2010.  

 

Rasio penduduk yang memiliki KTP per satuan penduduk tahun 2007 sebesar 0,018. Hal ini menggambarkan bahwa dari total penduduk wajib KTP, hanya 1,8 persen yang memiliki KTP. Pada tahun 2009, rasio tersebut mengalami penurunan sebesar 0,01 menjadi 0,017. Artinya, dari total penduduk wajib KTP, hanya 1,7 persen yang memiliki KTP. Pengertian yang sama juga berlaku untuk indikator lainnya. Sedangkan untuk indikator kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk, tahun 2007 sebesar 5,42. Angka ini menggambarkan bahwa dari 1000 penduduk terdapat 5 orang yang memiliki akte kelahiran. Tahun 2008 meningkat menjadi 11,51 sedangkan tahun 2009 kembali menurun menjadi 8,60.

Kondisi ini diakibatkan oleh belum akuratnya data kepemilikan dokumen kependudukan baik KTP maupun akte kelahiran dan akte nikah dan juga tergantung dari tingkat kesadaran masyarakat atas kewajiban sebagai warga negara serta dipengaruhi juga oleh kebutuhan untuk memenuhi syarat-syarat administrasi lain yang mengharuskan adanya administrasi kependudukan.

j. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Kinerja pemerintah daerah pada urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dinilai cukup baik. Hal ini ditandai dengan beberapa indikator yang mengalami peningkatan. Partisipasi angkatan kerja meningkat dari 93,48 % pada tahun 2007 menjadi 95,45 % pada tahun 2009 dan 69,73 pada tahun 2010. Begitu juga dengan persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah pada tahun 2009 sebesar 3,86 atau mengalami peningkatan sebesar 0,44 % dibanding tahun 2008. Sedangkan tahun 2010 menurun menjadi 3,82 %. Walaupun demikian nilai penurunannya tidak signifikan yakni hanya 0,04 point. Hal ini

  Halaman    II‐ 21  menunjukan bahwa semakin besar peran serta perempuan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan, baik yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup perempuan secara khusus maupun kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat secara umum.   Tabel 2.20  Perkembangan Indikator Layanan Urusan Pemberdayaan Perempuan  dan Perlindungan Anak Kabupaten Flores Timur Tahun 2007‐2010  No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010  1.  Persentase partisipasi perempuan  di lembaga pemerintah   2,92 3,42 3,86  3,82 2.  Partisipasi perempuan di lembaga  swasta   97,08 96,58 96,14  96.18 3.  Partisipasi angkatan kerja  perempuan  93,48 94,05 95,45  95,60 Sumber : BPS, 2011   

k. Urusan Keluarga Berencana

Hasil evaluasi terhadap kinerja pemerintah daerah pada layanan urusan keluarga berencana menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Beberapa indikator yang sering digunakan antara lain rata-rata jumlah anak per keluarga, rasio akseptor KB, cakupan peserta KB aktif dan keluarga pra sejahtera dan sejahtera 1. Data BPS menunjukkan, pada tahun 2007 dan 2008 rata-rata jumlah anak per keluarga sebesar 2,11 menurun menjadi 2,05 pada tahun 2009. Rasio akseptor KB pada tahun 2007 dan 2008 sebesar 51,77 sedangkan pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 10,06 % dibandingkan dua tahun sebelumnya. Demikian juga dengan cakupan peserta KB aktif pada tahun 2009 sebesar 12,43 persen atau mengalami peningkatan sebesar 2,25% dari tahun 2008. Sedangkan tahun 2010 meningkat lagi menjadi 14,43%. Meningkatnya kedua indikator ini berperan besar dalam menekan laju pertumbuhan penduduk yang ditunjukan dengan menurunnya rata-rata jumlah anak dalam keluarga. Keberhasilan pemerintah daerah pada urusan keluarga berencana juga berdampak pada menurunnya persentase Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I sebesar 1,01 % pada tahun 2009 dan 6,7% pada tahun 2010.   Tabel 2.21 Perkembangan Indikator Layanan Urusan Keluarga Berencana  Kabupaten Flores Timur Tahun 2007‐2010  No  INDIKATOR  2007  2008  2009  2010  1.  Rata‐rata jumlah anak per keluarga  * * 2.  Rasio akseptor KB (%)  51,77 51,77 61,83  *  3.  Cakupan peserta KB aktif (%) 10,18 10,18 12,43  14,43 4.  Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga  Sejahtera I (%)  * 73,92 72,91  66,12 Sumber : BPS,2011          *data tidak tersedia    l. Urusan Sosial

Urusan sosial merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Melalui urusan tersebut, pemerintah daerah dapat melakukan berbagai upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di masyarakat.

  Halaman    II‐ 22  Data BPS tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah penduduk rawan sosial di kabupaten Flores Timur masih relatif tinggi sebagaimana tergambar pada Tabel 2.24 berikut ini:

  Tabel 2.22 Penduduk Rawan Sosial Kabupaten Flores Timur Tahun 2009  No  Kecamatan  Fakir  Miskin  (KK)  Balita  Terlan  tar Anak  Terlantar  Lanjut Usia  Terlantar  Komunitas  Adat  Terpencil  Penyan dang  Cacat Wulanggitang  50  5 1 58 180  29 Titehena  62  2 20 92 ‐  31 Ilebura  243  12 ‐  8 Tanjung Bunga  204  10 50 834  135 Lewolema  530  6 19 64 ‐  63 Larantuka  467  104 ‐  174 Ile Mandiri  386  10 60 ‐  88 Demon Pagong   58  45 136  88 Solor Barat  270  70 111 204  106 10  Solor Timur  225  4 150 169  108 11  Solor Selatan  131  10 60 ‐  152 12  Adonara Barat  107  7 27 667  23 13  Wotan Ulumado  123  3 43 79  48 14  Adonara Tengah  553  26 79 180  45 15  Adonara Timur  200  88 180  58 16  Ile Boleng  413  14 15 123 ‐  177 17  Witihama  40  4 32 91 162  103 18  Klubagolit  91  2 2 12 ‐  25 19  Adonara  98  11 ‐  4   Jumlah  4.251  36 226 1.190 2.791  1465 Sumber : BPS, 2010 

Berdasarkan sebaran penduduk rawan sosial tersebut, pemerintah daerah belum menyediakan sarana dan prasarana secara proporsional. Sampai dengan tahun 2010, sarana sosial berupa panti baru berjumlah 13 buah yang terdiri dari panti anak cacat sebanyak 3 buah, panti sosial bina remaja sebanyak 4 buah, panti sosial anak sebanyak 5 buah sedangkan panti lanjut usia baru tersedia 1 buah yang sebagian besar berada di ibu kota kabupaten.

m. Urusan Ketenagakerjaan

Di kabupaten Flores Timur, dari penduduk usia 15 tahun ke atas, 69,73 persen di antaranya merupakan angkatan kerja. Dari angkatan kerja tersebut 67,02 persen di antaranya bekerja dan sisanya 2,70 persen aktif mencari pekerjaan. Dari angkatan kerja yang bekerja, 37,46 persen di antaranya berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga/buruh tidak tetap dan 29,37 persen lainnya merupakan pekerja tidak dibayar.

Layanan urusan ketenagakerjaan diukur dengan beberapa indikator antara lain angka partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran terbuka dan pencari kerja yang ditempatkan. Data BPS menunjukkan bahwa dari 66,92 persen angkatan kerja yang bekerja bila dirinci menurut tingkat pendidikan, maka pekerja dengan tingkat pendidikan Diploma/Universitas sebanyak 4.510 orang (laki-laki 1.69 0rang dan perempuan 2.168 orang); SLTA Umum 6.825 orang (laki-laki 4.720 orang dan perempuan 2.105 orang); SLTP Sederajat 10.281 orang (laki-laki 7.196 orang dan perempuan 3.085 orang); SD 46.186 orang (laki-laki = 24.896 orang dan

  Halaman    II‐ 23  perempuan 21.290 orang); tidak tamat SD 18.488 orang (laki-laki 8.655 orang dan perempuan 9.833 orang); dan tidak memiliki pendidikan formal 5.582 orang (laki-laki 2.223 orang dan perempuan 3.359 orang). Sedangkan bila dirinci menurut jenis pekerjaan, maka (1) Tenaga Profesional, Teknisi dan lain-lain berjumlah 5.472 orang; (2) Pejabat Pelaksana dan Tenaga Tata Usaha Penjualan berjumlah 8.676 orang; (4) Tenaga Usaha Jasa berjumlah 1.195 orang; (5) Tenaga Usaha Pertanian berjumlah 63.134 orang; (6) Tenaga Produksi, Operator Alat Angkutan dan Pekerja Kasar berjumlah 10.273 orang; (7) TNI / POLRI bejumlah 418 orang; (8) Tenaga kerja lain-lain berjumlah 529 orang.

n. Urusan Koperasi dan UKM

Layanan urusan koperasi dan UKM yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah salah satunya ditunjukkan oleh persentase koperasi aktif. Jumlah Koperasi yang terdaftar di Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Flores Timur sampai dengan Tahun 2009 sebanyak 92 unit. Dari jumlah koperasi tersebut, yang berstatus masih aktif sebanyak 73 unit (79%) dan sisanya sebanyak 19 unit tidak aktif. Selain indikator tersebut, indikator lain adalah jumlah BPR/LKM dan jumlah UKM. Perkembangan jumlah koperasi dan UKM meningkat sejak tahun