BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Rangkuman Hasil Wawancara dan Pembahasan
1. Aspek Pemahaman
a. Model pembelajaran apa yang digunakan dalam pembelajaran sebelum adanya pandemi COVID-19 ?
Selama ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran tatap muka. Siswa kelas XI Bahasa mengalami masa peralihan dari pembelajaran tatap muka secara langsung menjadi pembelajaran secara daring.
Siswa merasa bahwa selama ini diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvesional dan siswa tidak begitu memahami secara jelas model pembalajaran yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Selama ini siswa mengalami pembelajaran seperti biasa tanpa mengetahui model pembelajaran yang digunakan oleh guru mata pelajaran. Siswa hanya mengetahui tentang materi yang diberikan oleh guru mata pelajaran sehingga siswa menerima masing-masing materi dari setiap guru yang berbeda dan dengan cara mengajar yang berbeda.
Siswa merasa bahwa hasil yang mereka dapatkan pada setiap mata pelajaran tidak stabil atau mendapat rata-rata nilai yang sama. Hal itu terjadi karena adannya beberapa faktor penyebab, salah satu faktornya yaitu karena model pembelajaran yang digunakan masing-masing guru berbeda sehingga ada yang mudah diterima oleh siswa dan juga ada yang membutuhkan waktu lebih lama unutuk dapat diterima oleh siswa.
Sedangkan menurut salah satu guru mata pelajaran di sekolah tersebut, pembelajaran yang dilakukan sebelumnya yaitu tatap muka secara langsung dengan menggunakan macam-macam model pembelajaran. Model pembelajaran yang paling sering digunakan adalah praxis kateketik. Model pembelajaran tersebut memang bukanlah model pembelajaran yang umum digunakan untuk mengajar siswa SMA. Menurutnya, model pembelajaran yang digunakannya
adalah yang paling relevan untuk diterapkan dalam mengajar pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Model ini bertujuan mengajak siswa agar mudah menerapkan materi yang diberikan dalam kehidupan dalam bermasyarakat maupun dalam hidup menggereja. Selain itu, model pembelajaran ini dipilih dan dilakukan agar praktek keagamaan yang berupa pewartaan iman tersebut dapat diwujudkan oleh siswa.
Model pembelajaran ini tetap berpegang dan berinti pada teori dan materi namun penekanan yang diberikan adalah berupa praktek keagamaan. Model lain yang digunakan yaitu berupa bedah kasus, diskusi, dan contextual learning.
Dengan adanya macam-macam model pembelajaran tersebut, akan menghasilkan sebuah praktek yang dilakukan secara bersama oleh siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa sebelum adanya pandemi COVID-19 ini, siswa tidak terlalu memahami model pembelajaran yang dipraktekkan oleh guru mata pelajaran karena tidak ada penjelasan sebelum memulai materi. Selain itu, siswa tidak menerima cara penyampaian materi yang sama dari masing-masing guru mata pelajaran dikarenakan masing-masing guru mata pelajaran menggunakan cara ajar masing-masing.
Siswa selama ini menangkap bahwa pembelajaran tatap muka justru sebagai salah satu model pembelajaran. Sedangkan yang dimaksudkan model pembelajaran ialah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.
b. Apakah yang anda ketahui tentang model pembelajaran Blended Based Learning ?
Model pembelajaran Blended Based Learning adalah penggabungan atau kolaborasi antar mata pelajaran dengan mengusung satu tema lalu diaplikasikan menjadi sebuah produk. Bisa juga dikatakan sebagai pencampuran pada setiap materi mata pelajaran menjadi satu yang menghasilkan sebuah produk. Kurikulum pembelajarannya pun dilaksanakan tidak tatap muka secara langsung. Adapun contoh produk yang dihasilkan yaitu berupa podcast, iklan, vlog,makalah dan film pendek, cerita pendek. Dari berbagai pilihan tersebut, rata-rata siswa di kelas XI Bahasa memilih podcast.
Saat ini SMA Pangudi Luhur Santo yosef mengalami perubahan penyebutan model pembelajaran. Pada awalnya, sekolah ini menyebut model pembelajaran ini sebagai Blended Based Learning namun setelah itu terdapat pergantian menjadi Colaborative Learning. Kedua model pembelajaran tersebut tidak terdapat pembedaan yang berarti karena memiliki sistem pembelajaran yang sama. Model pembelajaran ini adalah suatu bentuk pencampuran beberapa mata pelajaran. Walau begitu, tidak semua mata pelajaran tergabung dalam model pembelajaran ini.
Mata pelajaran yang terlibat untuk menjalankan model pembelajaran ini adalah Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Antropologi, Matematika, dan Prakarya dan Kewirausahaan. Pencampuran mata pelajaran ini dirasa akan
lebih mengembangkan minat belajar siswa. Siswa juga diajak untuk bisa berpikir lebih kreatif dengan adanya pencampuran mata pelajaran tersebut.
Penggabungan mata pelajaran ini sebenarnya tidak semata-mata hanya mencampurkan mata pelajaran yang satu dengan lainnya saja namun penekanannya lebih pada pengembangan kreativitas serta kemandirian siswa agar dapat berpikir secara kritis. Secara teoritis memang model pembelajaran ini tidak berjalan sesuai dengan semestinya karena seharusnya terdapat penggabungan pertemuan tatap muka dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajar. Pada prinsipnya, pelaksanaan model pembelajaran ini tetap membaurkan mata pelajaran namun karena terhalang oleh adanya pandemi maka mengakibatkan tidak adanya pertemuan antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lainnya.
Pembauran mata pelajaran ini juga memiliki arti sebagai pencampuran dua model pembelajaran yaitu Project Based Learning dan Colaborative Learning, keduanya saling berkaitan dan menghasilkan sebuah produk. Produk itulah yang dijadikan sebagai salah satu sumber nilai yang akan diperoleh oleh siswa. Hal ini juga dilakukan dalam rangka mengembangkan soft skill dan hard skill siswa.
Sehingga sekakigus juga dalam rangka membantu siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan diri berdasarkan materi pembelajaran dan diwujudkan dalam produk yang dipilih oleh siswa yang bersangkutan.
Menurut pengalaman siswa saat memilih produk iklan, siswa merasa bekerja sendiri sehingga muncul rasa terbebani dalam diri pribadi siswa. Lain hal juga dirasakan oleh siswa saat siswa tersebut mencoba mengajak siswa lainnya
untuk produktif. Namun justru yang didapatkannya justru tidak adanya tanggapan dari teman lain dalam satu kelompok. Hal inilah yang membuat siswa merasa cukup tidak mengerti dengan sistem model pembelajaran ini. Menurutnya model pembelajran ini seharusnya justru membuat semua siswa menjadi lebih aktif namun yang dialami justru terdapat sebagian siswa yang tidak memanfaatkan ini dengan baik.