BAB I PENDAHULUAN
1.6 Asumsi Penelitian
Penelitian ini berangkat dari asumsi penelitian sebagaimana berikut:
1. Meskipun masyarakat luas mengenal PT. Pegadaian (Persero) adalah perusahaan pemerintahan yang bergerak di berbagai pegadaian, namun masyarakat luas belum mengenal produk digital mereka yaitu Pegadaian Digital Service (PDS) dengan baik. Masyarakat masih lebih menyenangi transaksi secara manual dibandingkan melalui daring.
2. Pemasaran digital yang dilakukan oleh PT. Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan utamanya dalam memasarkan produk PDS mereka masih belum optimal, dimana masyarakat luas belum mengenal PDS dengan baik.
2.1 Telaah Teori
2.1.1 Definisi Pemasaran Digital
Menurut Chaffey (2012) pemasaran digital merupakan terapan teknologi yang berbentuk saluran online seperti website, e-mail, data base, digital TV dan menerapkan inovasi terbaru lainnya menggunakan blog, feed, podcast, dan jejaring sosial didalamnya terdapat kontribusi terhadap suatu pemasaran, yang tujuannya bisa keuntungan dan mempertahankan konsumen di dalam proses pembelian yang multi-channel dan daur hidup pelanggan, lewat usaha mengenali pentingnya teknologi digital dan mengembangkan pendekatan yang terencana untuk meningkatkan kesadaran konsumen (terhadap perusahaan, perilaku, nilai dan pendorong loyalitas terhadap merek produknya), dan kemudian menyampaikan pesan lewat kegiatan komunikasi dan layanan berbasis online yang terintegrasi dan terfokus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang spesifik.
Menurut Sanjaya dan Tarigan (2010), pemasaran digital adalah kegiatan marketing termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web seperti blog, web site, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial. Tentu saja pemasaran digital bukan hanya berbicara tentang internet marketing.
Berdasarkan dari definisi para ahli diatas, maka disimpulkan bahwa pemasaran digital adalah kegiatan pemasaran yang memanfaatkan saluran online (internet) guna mengenalkan, sosialisasi, branding dan juga menjalin komunikasi dengan pelanggan. Adapun bentuk saluran online bisa berupa website maupun
2.1.2 Dimensi Pemasaran Digital
Adapun dimensi dari Pemasaran Digital menurut Chaffey dalam Ekasari (2014) adalah:
1. Hubungan
Melalui pemasaran digital, hal ini mampu membangun hubungan (relationship) yang lebih intim antara konsumen dengan penjual.
2. Interaksi
Interaksi (komunikasi) yang terjadi antara konsumen dengan penjual lebih cepat dan bisa dilakukan secara langsung.
3. Pasca pembelian
Pemasaran digital juga mampu menyediakan wadah interaksi antara konsumen dengan penjual pasca pembelian, hal ini guna menjamin konsumen nyaman untuk bertransaksi dengan penjual.
4. Bentuk Informasi
Pemasaran digital mampu menyampaikan informasi dengan lengkap, akurat dan memungkinkan konsumen menanyakan langsung kepada penjual jika ada informasi tambahan yang ingin diketahui oleh konsumen.
2.1.3 Definisi Citra Merek
Citra Merek merupakan suatu hal yang terdapat dipikiran oleh pelanggan sewaktu membeli produk merek tertentu (Vanessa dan Arifin, 2017). Hal ini menggambarkan jika pelanggan tidak membicarakan kualitas dari produk tersebut, namun pelanggan membicarakan merek dari produk itu sendiri. Merek memang lahir dari produk, tetapi satu produk diisi oleh beragam merek, pelanggan merasakan pengalaman dari berbagai merek, dan apa yang mereka rasakan positif
akan memberikan kesan pada merek tersebut. Kesan ini lah yang menjadi citra merek. Kesan yang positif memberikan citra merek yang positif dan pelanggan terbuka kemungkinan untuk kembali menggunakan merek yang sama, sebaliknya kesan yang negatif menimbulkan citra merek yang negatif pula dan pelanggan kemungkinan tidak akan menggunakan merek itu kembali.
Mothersbaugh dan Hawkins (2016) menjelaskan citra merek sebagai ingatan skematis pelanggan terhadap suatu merek. Citra merek mengacu apa yang terlintas pertama sekali pada saat suatu merek disebutkan. Pelaku industri tidak hanya membangun kualitas produk, namun merek yang mudah diingat dan dirasakan oleh pelanggan.
Berdasarkan uraian para ahli, jika citra merek merupakan anggapan pelanggan terhadap merek yang dibentuk berdasarkan pengalaman menggunakan produk yang positif, dan merek tersebut melekat dalam ingatan pelanggan ingin terus menerus membeli produk tersebut.
2.1.4 Dimensi Citra Merek
Adapun dimensi citra merek menurut Kotler dan Armstrong (2014) mengemukakan ada 4 (empat) pembentuk citra merek sebagai berikut:
1. Indentitas merek
Indentitas merek merupakan karakteristik yang terdapat dalam merek ataupun produk tersebut sehingga konsumen bisa mengetahui dan membedakannya dengan merek atau produk lainnya, seperti logo, warna, identitas perusahaan, slogan, dan lain – lain.
2. Manfaat dan keunggulan merek
Manfaat & keunggulan merek merupakan nilai yang memiliki keunggulan produk yang ditawarkan oleh suatu merek oleh pelanggan yang membuat pelanggan rasakan manfaat karena kebutuhan yang tercapai.
3. Pengetahuan
Bagaimana pelanggan mengetahui merek tersebut, apa hanya sekedar mengetahui, atau mempelajari merek tersebut lebih mendalam.
4. Ketertarikan
Ketertarikan adalah hubungan emisonal yang timbul antara sebuah merek dengan konsumennya. Ketertarikan sejajar dengan asosiasi positif yang membuat konsumen menyukai suatu produk dan jasa.
2.1.5 Definisi Ekuitas Merek
Ekuitas merek berkenaan dengan harga yang melekat pada merek, harga disini mencakup nilai yang dimiliki oleh merek tersebut. Suatu merek yang memiliki nilai tinggi dipercaya produk yang mereka hasilkan juga bernilai tinggi.
Terkadang pelaku industri mempertahankan suatu merek berdasarkan nilai ekslusivitasnya, ada merek yang buat untuk kelas atas, menengah dan juga kelas bawah. Pelaku usaha sengaja membangun merek baru daripada mempengaruhi nilai dari merek tersebut.
Marshall dan Johnston (2015) menguraikan ekuitas merek sebagai sekumpulan aset (liabilitas) terkait suatu nama, simbol dari suatu merek yang bisa menambah nilai merek tersebut namun bisa juga menurunkan nilai dari merek tersebut. Merek dalam hal ini, bukan sekedar nama dan atau simbol, namun sudah memiliki nilai uang atau sudah memiliki harga (Armstrong, dkk, 2015). Harga dari
ekuitas merek bukan ditentukan dari harga produksi atau biaya pembuatan, tetapi dibentuk melalui sekumpulan pengalaman yang dirasakan oleh pelanggan terhadap suatu merek dan ini tidak melulu ditentukan oleh kualitas produk, namun dapat juga karena aspek psikologis, kelekatan terhadap suatu merek atau suatu peristiwa yang bisa menimbulkan loyalitas pelanggan terhadap suatu merek.
Penjelasan senada juga disampaikan oleh Ferrel dan Hartline (2011) yang menyatakan ekuitas merek mempunyai nilai atau harga dari suatu merek yang diukur berdasarkan aktivitas marketing dan keuangan di tengah pasar. Aktivitas marketing adalah bagaimana upaya memasarkan suatu merek yang dikenal, diingat dan dirasakan oleh pelanggan, sedangkan aktivitas keuangan adalah harga dari merek tersebut yang dikonversikan dalam bentuk uang.
Berdasarkan definisi diatas, ekuitas merek ialah tambahan nilai yang diberi dari suatu produk atau jasa tercemin cara pelanggan berpikir, merasakan, dan tindakan dalam hubungan dengan merek yang mempunyai kekuatan, daya tahan, dan keunggulan agar bisa membedakan dengan merek lainnya.
2.1.6 Dimensi Ekuitas Merek
Marshall dan Johnston (2015) menguraikan ada 5 (lima) dimensi pembentukan Ekuitas Merek sebagaimana berikut:
1. Kesadaran merek
Dimensi ini menunjukkan seberapa jauh pelanggan familiar dengan merek tersebut.
2. Kesetiaan merek
Keyakinan pelanggan untuk percaya terhadap merek dan menggunakan kembali atau berulang pada merek tersebut.
3. Persepsi Kualitas
Merupakan bentuk penilaian pelanggan terhadap kualitas dan prestis dari produk yang dihasilkan suatu merek.
4. Asosiasi merek
Dimensi ini mengacu pada asosiasi yang dikaitkan pelanggan jika berhubungan dengan peristiwa atau kebutuhan pelanggan.
2.2 Review Penelitian Terdahulu
Penelitian Yuvaraj dan Indumathi (2018) berangkat dari ingin mengetahui bagaimana pemasaran digital telah membuat masyarakat lebih mengenal merek dan perkembangan merek di pasar melalui teknologi. Penelitian ini memberikan gambaran umum tentang berbagai alat pemasaran digital seperti pemasaran email, SEO, pemasaran seluler, blogging, pemasaran berafiliasi, dan sebagainya dan pengaruhnya terhadap pembangunan merek di antara pelanggan. Studi ini membantu untuk menentukan hubungan antara pemasaran digital dan pembangunan merek. Pemasaran digital membuat konsumen mengingat caption eye-catchy yang berkedip di perangkat digital mereka mulai dari email hingga mesin pencari. Studi tersebut mengidentifikasi bahwa saluran dan aset digital digunakan untuk mengkomunikasikan pemosisian merek sebagai bagian dari komunikasi merek multisaluran atau program keterlibatan di mana pemasaran digital dapat disebut sebagai merek digital atau komunikasi digital.
Hasil studi menemukan bahwa pemasaran digital memainkan peran utama dalam membangun merek di dunia saat ini. Pelanggan lebih tertarik pada media digital daripada media tradisional seperti media cetak, televisi, dan sejenisnya.
Perubahan perilaku pembeli, membuat pemasar memahami pelanggan dengan cara
yang lebih baik untuk merancang strategi pemasaran yang sesuai untuk mempertahankan pelanggan dan menangkap pasar potensial, sehingga pasar dapat beralih dari pendekatan pemasaran tradisional ke pendekatan pemasaran digital.
Dengan demikian, pemasaran digital berfungsi sebagai komunikasi digital untuk digital branding.
Ahmed, et al (2016) meneliti dengan tujuan ingin mengetahui pentingnya media digital dalam meningkatkan pendapatan dan pangsa pasar produk terhadap beberapa merek di Pakistan. Penelitian ini bersifat eksploratif dan desain penelitian bersifat kualitatif. Mereka melakukan wawancara dari berbagai pakar media digital yang sangat paham dengan tren pemasaran terkini. Temuan penelitian mereka mengungkapkan bahwa strategi pemasaran yang bijak dapat meningkatkan pangsa pasar berbagai merek, terutama pendatang baru, dibandingkan media konvensional.
Hasil penelitian mereka menyimpulkan jika media digital memiliki peran kunci dalam menciptakan royalti merek karena periklanan telah berubah dari tradisional ke digital sehingga ada banyak ruang lingkup yang tersedia, minat konsumen meningkat pada platform pemasaran digital di Pakistan, terutama perusahaan besar. seperti Coca-Cola, Unilever, P&G dan Gucci, telah berhasil menciptakan ciytra merek dan asosiasi merek dengan melibatkan berbagai aktivitas melalui media digital.
Sukandi, Sofiati dan Sudaryo (2019) melakukan penelitian terhadap Citra Merek (PT. BNI, Tbk) ditinjau dari Pemasaran Digital melalui Kepuasan Nasabah sebagai variabel mediasi. Mereka melihat bahwasanya Citra Merek BNI terjadi penurunan dengan indikasi Citra Perbankan PT. BNI, Tbk berada di peringkat ke-5 dengan skor 8,44 dibawah Bank BCA. Mereka melakukan penyebaran kuesioner
guna mendapatkan data penelitian yang kemudian mereka olah dengan pendekatan Analisa Jalur dimana Pemasaran Digital sebagai variabel bebas (X), Kepuasan Nasabah sebagai variabel mediasi (Z) dan Citra Merek sebagai variabel terikat (Y).
Hasil penelitian mereka menemukan bahwa penerapan pemasaran digital berpengaruh kepada tingkat kepuasan yang dirasakan oleh nasabah dan berimplikasi pada peningkatan citra lembaga perbankan nasional PT. BNI, Tbk.
Pelaksanaan kampanye melalui pemasaran digital terbukti efektif dalam meningkatkan citra merek PT. BNI, Tbk.
Rizky dan Pantawis (2011) melihat adanya penurunan market share produk Nokia dalam pasar telepon genggam. Mereka melihat adanya transisi konsumen ke merek yang lain. Penyebab utama dari adanya transisi ini disebabkan karena ekuitas merek kedua merek tersebut menurun. Hal ini menjadi dasar mereka untuk melakukan penelitian mengenai peran citra merek dan sikap merek terhadap merek Nokia di Kota Semarang. Mereka melakukan riset terhadap pengguna produk Nokia dengan menggunakan analisa regresi sebagai metode pengujian hipotesis.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa citra merek dan sikap merek secara bersamaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekuitas merek.
Penurunan citra merek terbukti menyebabkan konsumen beralih dari merek Nokia.
Coelho, Bairrada dan De Mantos (2019) melakukan penelitian mengenai bagaimana peran inovasi merek dan penilaian kualitas (perceived quality) terhadap nilai yang diperoleh (perceived value). Pengalaman merek dan kepribadian merek telah menjadi dua konstruksi teoretis penting dalam literatur merek. Namun, penelitian tentang anteseden dari dua konstruksi ini telah difokuskan pada karakteristik dan kualitas merek yang tidak berwujud, meremehkan peran fitur
fungsional. Studi ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ini dengan mendalilkan bahwa dua kualitas merek fungsional utama, kualitas dan inovasi, membantu membentuk pengalaman merek dan kepribadian, yang pada akhirnya mereka prediksi berkontribusi pada nilai yang dirasakan. Investasi dalam kualitas dan inovasi telah tumbuh secara substansial, tetapi bagaimana hal itu terwujud dalam manfaat bagi pelanggan dan perusahaan masih belum jelas. Oleh karena itu, studi ini memberikan wawasan tentang bagaimana perusahaan dapat memunculkan karakteristik penawaran mereka untuk membangun merek yang dianggap oleh konsumen sebagai menghasilkan nilai pengalaman dan kepribadian merek.
Hasil dari dua sampel memberikan dukungan luas untuk model yang diusulkan. Kualitas merek dan inovasi berkontribusi pada pengalaman dan kepribadian merek. Selain itu, mereka mengamati bahwa pengalaman merek dan kepribadian berhubungan dengan nilai yang dirasakan. Akhirnya, mereka juga menyimpulkan bahwa kepribadian dan pengalaman merek secara parsial memediasi hubungan antara inovasi merek dan kualitas serta nilai yang dirasakan.
Oleh karena itu, hasil penelitian ini memberikan implikasi yang relevan baik untuk teori maupun praktik manajemen merek.
Tabel 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu pada masa yang akan datang fokus pada aktivitas daring
Hal ini relevan dengan PT Pegadaian (Persero) yang juga merupakan perusahaan di bidang pembiayaan keuangan.
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Merek (dalam hal ini adalah Nokia) mampu
Sumber: Pengolahan Berbagai Jurnal, 2020 2.3 Resume Landasan Teori Hasil Penelitian
Penelitian Suci dan salsabila (2020), pemasaran digital mengacu pada strategi yang ditampilkan dengan memberikan konten bahasa yang lebih menarik dan meningkatkan layanan pencarian informasi melalui website agar konsumen mudah mengenali dan memahami mendapatkan informasi. Strauss dan Frost (2012), dengan kegiatan pemasaran digital dan proses untuk membuat, berkomunikasi, memberikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan dapat mengetahui dan minat untuk memakai suatu merek tersebut.
Menurut penelitian seric, dkk (2012), kegiatan pemasaran digital sangat penting untuk di evaluasi secara benar dan tepat dan dalam pemasaran digital di
aplikasi harus efektif dalam biaya aktivitas tersebut. Untuk membangun merek yang kuat adalah menjaga konsistensi dalam keseluruhan perusahaan dan mengkordinasikan semua pemasaran digital yang berkualitas agar membangun citra dan ekuitas merek dalam perusahaan tersebut.
Pada penelitian Winarto, J (2011) menunjukkan bahwa dengan adanya ekuitas merek yang kuat bisa memberikan banyak manfaat bagi perusahaan seperti menjadi merek yang pertama kali muncul dalam pikiran konsumen, mempunyai konsumen yang setia menggunakan produk dengan merek tersebut, mempunyai konsumen yang bersedia membeli dengan harga sedikit mahal karena mereka yakin dengan merek tersebut. Penelitiannya juga menyatakan jika citra merek yang positif bisa diciptakan melalui program pemasaran digital yang mengkaitkan asosiasi merek yang kuat, unik dan disukai di dalam ingatan konsumen. Asosiasi yang kuat, unik dan disukai akan menciptakan citra merek positif juga.
2.3.1 Peran Pemasaran Digital dalam Membentuk Citra Merek
Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa pemasaran digital merupakan kegiatan pemasaran yang menggunakan perkembangan teknologi sistem informasi sebagai wadah pemasaran. Pada penelitian Rasid, Muhammat (2012) menyatakan bahwa dengan menggunakan digital marketing maka citra merek akan mudah dikenal sehingga akan memperbesar kemungkinan terjadinya transaksi pembelian produk oleh pelanggan.
Sama halnya dengan kegiatan pemasaran digital, dimana aktivitas ini menurut beberapa studi menunjukkan berperan dalam pembentukan citra merek suatu produk (Sya’idah, dkk, 2019; Yuvaraj dan Indumathi, 2018; Ahmed, dkk, 2016). Saat ini, generasi Y dan Z merupakan generasi mayoritas, hal ini setidaknya
ditunjukkan oleh data sensus penduduk tahun 2020 silam (BPS, 2020). Ciri utama generasi Y dan Z adalah mereka yang sangat lekat dengan gadget dalam keseharian mereka. Guna membangun citra merek, maka kampanye yang paling efektif adalah dengan menggunakan kecanggihan teknologi yaitu pemasaran digital. Kemajuan teknologi tidak hanya melanda pada generasi Y dan Z, namun tidak dapat dipungkiri generasi diatas nya yaitu generasi X dan Babyboomers juga menggunakan gadget mereka dalam aktivitas sehari-hari, sehingga peran pemasaran digital dalam membentuk citra merek adalah hal yang sangat vital.
2.3.2 Peran Pemasaran Digital dalam Membentuk Ekuitas Merek
Melalui pemasaran digital perusahaan ingin meningkatkan kesadaran konsumen tentang sebuah produk dan menyasar target yang lebih tersegmentasi.
Menurut Sterne (2010), pemasaran digital dapat membantu perusahaan untuk melihat berbagai opini dan menganalisis pergeseran sikap dari pelanggan. Hal ini dapat memberikan wawasan kepada perusahaan untuk dapat mempertahankan diri di tengah perubahan pasar dan brand equity perusahaan.
Penelitian dilakukan oleh Godey dan Bruno (2016) menyatakan bahwa pemasaran digital memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap ekuitas merek dan pada dimensi kesadaran atau pengenalan merek tersebut. Semakin tinggi peran pemasaran digital maka akan meningkatkan brand equity perusahaan.
2.3.3 Peran Ekuitas Merek dalam Membentuk Citra Merek
Ekuitas merek merupakan asset yang bisa memberikan nilai tersendiri di mata pelanggan atau konsumennya. Ekuitas Merek bisa mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengembilan keputusan pembelian atas dasar pengalaman masa
lalu dalam penggunaan atau kedekatan, asosiasi merek, dengan berbagai karakteristik merek.
Dalam penelitian Devonalita dan Yohanes (2013) menyatakan bahwa keterkaitan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasinya. Berbagai asosiasi merek yang di ingat konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra merek di dalam benak konsumen. Dan dalam penelitian Durianto (2011) menyatakan berbagai asosiasi merek yang saling berhubungan dapat menimbulkan suatu rangsangan yang diketahui brand, semakin banyak asosiasi yang saling berhubungan maka akan semakin kuat citra mereknya.
2.3.4 Peran Pemasaran Digital Meningkatkan Citra Merek Melalui Ekuitas Merek
Tugas awal pemasar digital adalah bagaimana membentuk citra merek yang positif di mata konsumen. Dalam dunia pemasaran, kedudukan merek sama pentingnya dengan kualitas produk itu sendiri. Konsumen pada umumnya jika berhadapan dengan merek yang sudah memiliki reputasi yang baik, terus menganggap apapun produk turunan dari merek tersebut adalah bagus.
Menurut Winarto, J (2011), citra merek yang positif dapat diciptakan melalui program pemasaran digital yang mengkaitkan asosiasi merek yang kuat, unik, dan disukai didalam ingatan konsumen. Asosiasi yang kuat, unik dan disukai akan menciptakan citra merek positif. Citra merek yang unik, kuat dan disukai akan membawa merek tersebut berada dalam posisi strategis didalam ingatan konsumen dan hal ini akan meningkatkan ekuitas merek. Begitu juga dengan penelitian Seo dan Park (2018), menyatakan jika kegiatan pemasaran digital bisa berkontribusi
pada ekuitas merek dan menciptakan citra merek yang positif karena perkembangan teknologi dan perusahaan bisnis tersebut memfasilitasi interaksi mereka dengan pelanggan sekarang serta pelanggan baru, yang dalam artinya jika perusahaan bisa memasarkan produknya ke sosial media, iklan, dan digital lainnya membuat fasilitas konten promo agar dilirik pelanggan dan terus menggunakannya maka merek tersebut tercipta.
2.4 Kerangka Konseptual
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa PT Pegadaian (Persero) yang memiliki produk Pegadaian Digital Service (PDS) belum memiliki ekuitas merek (brand equity) yang kuat dimana hal ini ditandai dengan rendahnya citra merek (brand image) PDS di benak pelanggan. Fenomena ini ditenggarai oleh belum optimalnya pemasaran digital yang dilakukan oleh PT Pegadaian (Persero), padahal produk yang mereka jual berbasis digital, sehingga seharusnya tidak ada hambatan peran pemasaran digital terhadap pembentukan ekuitas merek PDS. Dari uraian tersebut disusun Kerangka Konseptual dalam penelitian ini sebagaiman pada Gambar 2.1 berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber: Pengolahan Kerangka Konseptual, 2020
Pada gambar 2.1 menunjukkan bahwasanya Pemasaran Digital (X) dan Citra Merek (Y) sebagai variabel antara menjadi predictor terhadap Ekuitas Merek
Pemasaran Digital (X)
Ekuitas Merek (Z)
Citra Merek (Y)
H 3 H 1
H 2
H 4
penelitiannya dengan mengambil populasi adalah seluruh pengguna pegadaian digital di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan.
2.5 Rumusan Hipotesis
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dikembangkan Hipotesis Penelitian sebagai berikut:
H1. : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Pemasaran Digital (X) terhadap Citra Merek (Y) di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan.
H2. : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Pemasaran Digital (X) terhadap Ekuitas Merek (Y) di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan.
H3. : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Ekuitas Merek (Z) terhadap Citra Merek (Y) di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan.
H4. : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Pemasaran Digital (X) terhadap Citra Merek (Y) melalui Ekuitas Merek (Z) di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan.
2.6 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi dari setiap variabel penelitian yang ada didalam kerangka teoritis dan atributnya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah variabel yang menjadi perhatian utama peneliti yaitu variabel terikat (Citra Merek).
Sedangkan variabel independen adalah yang mempengaruhi variabel dependen
yaitu variabel bebas (Pemasaran Digital) dan Variabel mediasi (Ekuitas Merek) secara tidak langsung.
Tabel 2.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
No. Variabel Penelitian
Definisi
Operasional Dimensi Indikator Skala Ukur dari pada merek yang lain
Skala
Sumber: Pengolahan Variabel Penelitian, tahun 2020
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian dipergunakan pada penelitian ini ialah teknik metode deskriptif dengan jenis korelasional menggunakan metode kuantitatif yang menjelaskan hubungan antara setidaknya dua faktor, sejauh mana varietas dalam satu variabel di identifikasi dengan varietas dalam faktor yang berbeda. Penelitian hubungan bermaksud untuk membedakan sejauh mana varietas dalam suatu faktor di identifikasi dengan setidaknya satu variabel berbeda dimana bergantung pada koefisien koneksi (Sinulingga,2017).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, dimana alamatnya ada di Jl. Medan – Belawan kilometer 16,5, Medan, Sumatera Utara.
3.3 Deskripsi Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini ialah pengguna nasabah digital dimana terdata di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan, pada tahun 2019 sebanyak 1.578 orang. Guna mewakili keseluruhan populasi, maka ditarik sampel penelitian sebagai representasi populasi penelitian.
3.3.2 Sampel Penelitian
Adapun cara pengambilan ukuran sampel dalam penelitian multivariat sebaiknya menggunakan Metode Hair (2014). Penentuan jumlah sampel yang ideal
dan menyatakan bahwa untuk pengukuran yang lebih baik maka jumlah minimal
dan menyatakan bahwa untuk pengukuran yang lebih baik maka jumlah minimal