BAB II TINJAUAN LITERATUR
2.6 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi dari setiap variabel penelitian yang ada didalam kerangka teoritis dan atributnya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah variabel yang menjadi perhatian utama peneliti yaitu variabel terikat (Citra Merek).
Sedangkan variabel independen adalah yang mempengaruhi variabel dependen
yaitu variabel bebas (Pemasaran Digital) dan Variabel mediasi (Ekuitas Merek) secara tidak langsung.
Tabel 2.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
No. Variabel Penelitian
Definisi
Operasional Dimensi Indikator Skala Ukur dari pada merek yang lain
Skala
Sumber: Pengolahan Variabel Penelitian, tahun 2020
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian dipergunakan pada penelitian ini ialah teknik metode deskriptif dengan jenis korelasional menggunakan metode kuantitatif yang menjelaskan hubungan antara setidaknya dua faktor, sejauh mana varietas dalam satu variabel di identifikasi dengan varietas dalam faktor yang berbeda. Penelitian hubungan bermaksud untuk membedakan sejauh mana varietas dalam suatu faktor di identifikasi dengan setidaknya satu variabel berbeda dimana bergantung pada koefisien koneksi (Sinulingga,2017).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, dimana alamatnya ada di Jl. Medan – Belawan kilometer 16,5, Medan, Sumatera Utara.
3.3 Deskripsi Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini ialah pengguna nasabah digital dimana terdata di PT Pegadaian (Persero) CP Labuhan Deli, Medan, pada tahun 2019 sebanyak 1.578 orang. Guna mewakili keseluruhan populasi, maka ditarik sampel penelitian sebagai representasi populasi penelitian.
3.3.2 Sampel Penelitian
Adapun cara pengambilan ukuran sampel dalam penelitian multivariat sebaiknya menggunakan Metode Hair (2014). Penentuan jumlah sampel yang ideal
dan menyatakan bahwa untuk pengukuran yang lebih baik maka jumlah minimal 100 sampel dan maksimum 200 sampel. Pada penelitian ini terdapat indikator 12 item, batas minimal responden untuk penelitian ini 5 x 12 = 60 tidak sesuai jumlah minimal responden untuk pengukuran yang lebih baik, sedangkan dengan batas maksimal 10 x 12 = 120, dengan demikian sampel dalam penelitian ini di ambil sebanyak 130 nasabah pengguna aplikasi PDS sebagai responden yang di atas batas maksimal pengukuran agar pengukuran lebih baik.
Sedangkan metode pengambilan sampel dipergunakan metode sampling non probability ialah pengambilan sampel bukan acak. Jenis menggunakan cara purposive sampling yakni pengambilan sampel yang sudah ada sumber data terhadap kelompok dan persyaratan sampel dari sebuah populasi tertentu dimana sangat gampang didapatkan (Sugiyono, 2017). Persyaratan yang harus dipenuhi merupakan nasabah PT. Pegadaian Cabang Pembantu Labuhan deli yang menggunakan aplikasi PDS.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Sumber data penelitian yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari hasil survei dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan wawancara kepada nasabah digital pengguna aplikasi PDS, sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil data primer yang telah diolah seperti diagram, tabel, dan grafik yang mendukung penelitian menjadi lebih informatif dan dapat dipahami.
Metode pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :
a. Wawancara (interview) dilakukan kepada nasabah di PT. Pegadaian Cabang Pembantu Labuhan Deli yang menggunakan aplikasi pegadaian digital service (PDS)
b. Daftar pertanyaan (questionnaire) mengenai pertanyaan secara tertulis kepada beberapa responden mengenai hal yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian. Pertanyaan tersebut dapat mengetahui informasi dan data dalam penelitian. Untuk pengukuran variabel dalam kuesioner peneliti menggunakan skala likert, yang merupakan pengukuran sikap dengan menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya terhadap subyek atau objek tertentu.
c. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan, meneliti, dan menganalisa data dan jurnal penelitian sebelumnya sebagai referensi untuk menyelesaikan penelitian.
3.5 Instrumen Penelitian
Semua alat uji dalam penelitian ini menggunakan Skala Likert. Skala Likert ialah alat untuk mengukur sikap responden. Sikap ialah sejenis kecenderungan perilaku responden dengan sikap positif cenderung mengadopsi perilaku dimana sama dengan sikapnya. Di sisi lain, responden yang bersikap negatif cenderung berperilaku dengan cara yang sama seperti mereka.
Sebelum alat ukur digunakan untuk penelitian, alat ukur terlebih dahulu dilakukan pengujian dari sisi keabsahan (validitas) dan konsistensi (reliabilitas).
Pengujian alat ukur masuk ke dalam bagian dalam penelitian ini. Dengan kata lain, jika hasil statistik terdapat item pernyataan yang tidak layak, maka item tersebut
dikeluarkan dan pengujian statistik diulang kembali guna mendapatkan hasil penelitian dari item penyataan yang benar-benar layak.
3.6 Metode Analisis Data 3.6.1 Analisa Deskriptif
Analisa deskriptif ialah suatu strategi untuk memecah data dengan menggambarkan lingkungan objek eksplorasi sepenuhnya dengan tujuan membuat kesimpulan tergantung pada semua data yang dikumpulkan (Sinulingga, 2013:85).
Penyelidikan informasi menggunakan metodologi faktual yang mencerahkan berencana untuk berbagai gambaran tentang situasi yang ada atau berlaku pada objek eksplorasi. Biasanya, artikel dimana digambarkan sebagai tabel, bagan atau grafik, digabungkan dengan penyelidikan terukur yang langsung. Pengukuran grafis digunakan untuk memberikan data tentang atribut - atribut faktor penelitian utama dan data segmen responden. Pengukuran dimana dipakai pada pelibatan meliputi : pengulangan, pengukuran fiksai informasi (normal), dan pengukuran penyebaran informasi (standar deviasi).
3.6.2 Structural Equation Model – Partial Least Square
Pemeriksaan ini memanfaatkan teknik investigasi informasi PLS dengan bantuan program Smart PLS 3.0. Analisis Partial Least Square (PLS) ialah pemeriksaan kondisi dasar (SEM) berbasis variasi yang bisa sekaligus menyelesaikan pengujian model estimasi seperti pengujian model utama. PLS tidak mengasumsikan distribusi tertentu untuk mengestimasi parameter dan memprediksi hubungan kausalitas. Oleh karena itu, teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan karena model ini bersifat nonparametrik. Evaluasi model PLS dilakukan dengan mengevaluasi outer model dan inner model. Outer
model merupakan model pengukuran untuk memprediksi hubungan antara indikator atau parameter yang diestimasi dengan variabel latennya, sedangkan inner model merupakan model struktural untuk memprediksi hubungan kausalitas antar variabel laten. Pada model penelitian yang menggunakan konstuk multidimensional (konstruk yang terbentuk dari konstruk dimensi dan indikator yang membentuk konstruk laten dimensi), pengujian atau analisis dilakukan pada dua jenjang, yaitu analisis pada First Order Construct atau Lower Order Construct (konstruk laten dimensi yang direfleksikan atau dibentuk oleh indikator – indikatornya) dan analisis pada Second Order Construct atau Higher Order Construct (konstruk yang direfleksikan atau dibentuk oleh konstruk laten dimensi).
3.6.2.1 Diagram Jalur
Diagram jalur ialah gambar dimana menjelaskan pola kunci antar variabel.
Pembuatan diagram jalur harus memperhatikan struktur variabel eksogen dan endogen dengan variabel nyata (indikator) dari masing – masing variabel laten tersebut.
3.6.2.2 Model Pengukuran (Outer Model)
Model penelitian tidak bisa diuji dalam suatu model prediksi hubungan relasional dan kausal jika belum melewati tahap purifikasi dalam model pengukuran. Model pengukuran digunakan untuk menguji validitas konstrk dan reliabilitas instrumen. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kemampuan instrumen penelitian dalam mengukur apa yang seharusnya diukur (Cooper, 2006).
Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat ukur dalam mengukur suatu konsep atau dapat juga digunakan untuk mengukur konsistensi responden dalam menjawab item pertanyaan dalam kuesioner atau instrumen penelitian.
Untuk uji validitas konstruk digunakan dua metode yaitu convergent validity dan discriminant validity (Abdillah dan Jogiyanto, 2015). Sedangkan untuk uji reliabilitas digunakan metode yaitu cronbach’ alpha, composite reliability, dan loading factors. Cronbach’ alpha mengukur batas bawah nilai reliabilitas suatu konstruk sedangkan composite realibility mengukur nilai sesungguhnya reliabilitas suatu konstruk. Namun, composite realibility dinilai lebih baik dalam mengestimasi konsistensi internal suatu konstruk. Sebetulnya, uji konsistensi internal tidak mutlak untuk dilakukan jika validitas konstruk telah terpenuhi, karena konstruk yang valid adalah konstruk yang reliabel, sebaliknya konstruk yang reliabel belum tentu valid (Cooper, 2006).
3.6.2.3 Model Struktural (Inner Model)
Pemeriksaan inner model diselesaikan dengan menilai arti dari koefisien jalur atau nilai-t setiap jalur antar variabel penelitian. Besarnya nilai koefisien jalur atau inner model menunjukkan besarnya pengaruh dari variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen. Nilai standardized coefficient path ditunjukkan oleh panah hubungan variabel laten. Apabila nilai standardized coefficient path ≥ 0,1 maka pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen signifikan (semakin besar nilainya, semakin besar pengaruhnya). Bisa juga dinilai melalui skor koefisien jalur yang ditunjukkan oleh nilai t-statistic, dimana nilainya harus ≥ 1,96 untuk pengujian dua arah (two tailed) dan ≥ 1,64 untuk pengujian satu arah (one tailed) pada α = 5% (Hair, 2014).
Hasil akhir dari pengujian model struktural serta signifikansi model dilakukan dengan menggunakan metode bootstrap (metode non parametrik) dikarenakan PLS tidak menggunakan asumsi data terdistribusi normal sehingga
pengujian signifikansi parametrik tidak dapat dilakukan (Hair, 2014). Hasil uji signifikansi inilah yang nanti akan dijadikan sebagai dasar pengujian hipotesis penelitian. Untuk melihat besarnya pengaruh dan hubungan antar variabel laten dalam penelitian dapat dilihat melalui koefisien determinasi (R2 ).
3.6.2.4 Uji Hipotesis
Uji hipotesis didasarkan pada path coefficient dan total effect dari variabel – varibel penelitian. Pengujian signifikansi pengaruh – pengaruh ini dilakukan dengan bootstrapping. Apabila nilai ini signifikan secara statistika, maka hipotesis penelitian diterima. Pengujian efek mediasi dilakukan dengan pendekatan bootstrap dengan tahapan – tahapan sebagai berikut :
1. Menguji efek utama (pengaruh independen terhadap dependen) : harus signifikan.
2. Menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel mediasi : harus signifikan. Apabila pengaruh langsung variabel independen terhadap variabel mediasi tidak signifikan, maka tidak terdapat pengaruh mediasi variabel tersebut.
3. Kalkulasi nilai Variance Accounted For (VAF). Nilai VAF dihitung dengan formula sebagai berikut : VAF = pengaruh tidak langsung pengaruh total x 100 % kriteria penilaian efek mediasi didasarkan pada nilai VAF. Apabila nilai VAF > 80% maka variabel mediasi bersifat full mediation, apabila 20% ≤ VAF ≤ 80 % maka variabel mediasi bersifat partial mediation, dan apabila VAF < 20% maka variabel mediasi bukan bersifat sebagai mediator.
4.1 Deskripsi Objek Penelitian 4.1.1 Sejarah PT Pegadaian
Sejarah PT Pegadaian (Persero), atau disebut juga dengan “Perseroan” atau
“Pegadaian”, dikelompokkan dalam 2 (dua) era, yaitu era kolonial/penjajahan dan era kemerdekaan. Bisnis gadai sudah melekat sejak lama dalam keseharian masyarakat Indonesia. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan tonggak sejarah Pegadaian yang berawal sejak tahun 1746 hingga berdirinya Pegadaian Negara pertama di Sukabumi tanggal 1 April 1901.
4.1.1.1 Era Kolonial
Berdasarkan sejarah pendirian Pegadaian, terlihat bahwa bisnis gadai memang sudah lama dikenal dalam keseharian masyarakat Indonesia, dengan menjadi lembaga formal sejak Pemerintah Kolonial Belanda melalui pendirian Bank Van Leening oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai.
Momentum awal pendirian lembaga Pegadaian di Indonesia itu terjadi pada tanggal 20 Agustus 1746 di Batavia. Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1811, Bank Van Leening dibubarkan dan sebagai gantinya, masyarakat mendapat keleluasaan mendirikan usaha Pegadaian sepanjang mendapat lisensi dari Pemerintah daerah setempat (liecentie stelsel).
Dalam perkembangannya, metode tersebut berdampak buruk. Pemegang lisensi menjalankan praktik rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang
Inggris kemudian mengganti metode liecentie stelsel menjadi pacth stelsel, yaitu pendirian Pegadaian diberikan kepada masyarakat umum yang mampu membayarkan pajak tinggi kepada Pemerintah. Saat Belanda berkuasa kembali, metode tersebut masih tetap dipertahankan dan menghasilkan dampak yang sama.
Pemegang hak banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya.
Tak ingin hal tersebut terus terjadi, Pemerintahan Hindia Belanda mencari jalan keluar dengan menerapkan cultuurstelsel yang kajiannya mengusulkan agar kegiatan Pegadaian ditangani oleh Pemerintah dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Kemudian, diterbitkanlah peraturan Staatsblad (Stbl) No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan usaha monopoli Pemerintah sehingga berdirilah lembaga Pegadaian Negara pertama di Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 1 April 1901. Momentum itulah yang menjadikan tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.
Pada masa Jepang berkuasa, Gedung Kantor Pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di Jalan Kramat Raya 162 sempat dijadikan sebagai tempat tawanan perang, sehingga Kantor Pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke Jalan Kramat Raya 132.
Selama kekuasaan Jepang itu, tidak banyak perubahan yang terjadi, baik dari sisi kebijakan maupun struktur organisasi Jawatan Pegadaian atau dalam bahasa Jepang disebut Sitji Eigeikyuku. Saat itu, pimpinan jawatan dipegang oleh Ohno-San yang berkebangsaan Jepang dan wakilnya orang pribumi, M. Saubari.
4.1.1.2 Era Kemerdekaan
Pada awal Pemerintahan Republik Indonesia, Kantor Jawatan Pegadaian sempat berpindah keluar Jakarta, yakni ke Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah
karena situasi perang yang semakin memanas. Agresi Militer Belanda kedua memaksa Kantor Jawatan Pegadaian kembali mengalami perpindahan, yakni ke Magelang, Jawa Tengah. Pasca perang, Kantor Jawatan Pegadaian kembali berkantor pusat di Jakarta dan dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sejak dikelola Pemerintah, Pegadaian telah mengalami sejumlah pergantian status, mulai dari Perusahaan Negara (PN) pada 1 Januari 1961, dan menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) pada tahun 1969 berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1969.
4.1.1.3 Pegadaian Saat Ini
Pegadaian kini telah berkembang pesat menjadi perusahaan gadai milik Pemerintah yang terbesar di Indonesia. Saat ini Perseroan memiliki 4 (empat) entitas anak perusahaan sebagai pilar bisnis Perseroan, yaitu PT Balai Lelang Artha Gasia yang bergerak di bidang jasa lelang, PT Pesonna Optima Jasa yang bergerak di bidang pelayanan jasa umum (general services), PT Pesonna Indonesia Jaya yang bergerak di bidang pengelolaan hotel dan bisnis properti lainnya. Yang terbaru, Perseroan mendirikan satu entitas anak lagi, yakni PT Pegadaian Galeri Dua Empat pada pertengahan tahun 2018, yang bergerak di bidang perdagangan emas batangan, perdagangan perhiasan dan perdagangan batu mulia. Disamping itu, Perseroan juga memiliki 1 (satu) entitas asosiasi yakni PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang bergerak di bidang biro kredit efek.
Pegadaian terus memperluas pangsa pasar melalui jaringan Perseroan yang telah tersebar di hampir seluruh Indonesia. Per 31 Desember 2019, tercatat Perseroan telah memiliki 12 Kantor Wilayah, 61 Kantor Area, 642 Kantor Cabang, 3.481 Kantor Unit Pelayanan Cabang, dan 4.123 outlet. Dalam rangka menjaring
kaum milenial, Pegadaian telah membangun gerai bernama The Gade Coffee &
Gold, yang per 31 Desember 2019 tercatat sebanyak 33 gerai telah berhasil dibangun dan sebanyak 33 gerai telah beroperasi. Selain itu, Perseroan pun berhasil mendirikan Bank Sampah di 63 lokasi di kota-kota besar di Indonesia melalui Program Pegadaian Bersih-Bersih, dalam rangka mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan.
Di sepanjang tahun 2019, Pegadaian terus melakukan digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan kualitas layanan dengan meluncurkan sejumlah produk inovatif berbasis digital. Sementara itu, dalam rangka meningkatkan penetrasi bisnis gadai ke seluruh wilayah Indonesia, Perseroan aktif melakukan sinergi dan kolaborasi dengan ratusan mitra dan instansi di berbagai daerah di Indonesia.
Sepanjang tahun 2019, Pegadaian berhasil menjalin sinergi dan kolaborasi dengan 425 instansi, yang terdiri dari 83 instansi Pemerintah, 80 instansi BUMN, 181 instansi swasta, dan 81 instansi perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Strategi bisnis yang dilakukan Perseroan di sepanjang tahun 2019, tercatat mampu mendorong penambahan jumlah nasabah Pegadaian dari 10,64 juta di tahun 2018 menjadi 13,86 juta di tahun 2019, atau naik 3,2 juta.
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan Visi Perusahaan:
“Menjadi The Most Valuable Financial Company di Indonesia dan Sebagai Agen Inklusi Keuangan Pilihan Utama Masyarakat”
Misi Perusahaan:
1. Memberikan manfaat dan keuntungan optimal bagi seluruh stakeholder dengan mengembangkan bisnis inti.
2. Membangun bisnis yang lebih beragam dengan mengembangkan bisnis baru untuk menambah proposisi nilai ke nasabah dan stakeholder.
3. Memberikan service excellence dengan fokus nasabah:
a. Bisnis proses yang lebih sederhana dan digital b. Teknologi Informasi yang handal dan mutakhir c. Praktik manajemen risiko yang kokoh
d. SDM yang professional berbudaya kinerja baik Penjelasan Visi dan Misi
Visi dan Misi baru Pegadaian merupakan penajaman atas perkembangan industry bisnis gadai Indonesia, banyaknya pilihan produk pembiayaan/penyaluran kredit yang tersedia di pasar, teknologi komunikasi yang semakin pesat, dan kondisi masyarakat yang semakin cerdas dan kritis. Roadmap pencapaian visi dan misi baru ini dibagi dalam 3 (tiga) tahap, yaitu Digitize, Diversify, dan Dominate, sebagaimana dideskripsikan di bawah ini, dengan strategi #G-5tar, yaitu:
1. Grow Core, memperkuat peningkatan terhadap bisnis inti utama Pegadaian, yaitu jasa pergadaian.
2. Grab New, menangkap setiap peluang bisnis baru terutama financial technology/digital business.
3. Groom Talent, meningkatkan kompetensi dan kualitas sumber daya manusia atau karyawan.
4. Gen Z Technology, menerapkan sistem teknologi terbaru untuk mendukung pelaksanaan bisnis dan operasional.
5. Great Culture, maju dan berkembang bersama dengan budaya perusahaan yang kuat.
Visi dan Misi yang telah tertuang dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) tahun 2019-2023 merupakan gambaran proses transformasi yang akan mengubah Pegadaian menjadi Financial Company dan berperan aktif dalam program inklusi keuangan melalui kemudahan produk dan layanannya serta kemudahan aksesnya.
Berikut diuraikan transformasi perseroan terkait dengan perubahan visi dan misi untuk sepanjang tahun 2019 – 2023 sebagaimana dituangkan pada Gambar 4.1 berikut:
Gambar 4.1 Transformasi Perseroan Sumber: Laporan Keuangan Perseroan, 2020 4.1.3 Pemasaran Digital PT Pegadaian (Persero)
Saat ini PT Pegadaian (Persero) terus melakukan inovasi dan pemasaran produk dengan mendekatkan diri kepada pelaku pasar serta mengembangkan promosi – promosi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Adapun pemasaran digital di PT Pegadaian (Persero) antara lain :
1. Sahabat Pegadaian, salah satu pemasaran digital dengan memanfaatkan aplikasi web dan sosial media. Sahabat pegadaian terdapat informasi
menganai produk – produk PT Pegadaian (Persero) maupun promosi – promosi pembelian produknya.
2. Agen Pegadaian, pemasaran digital yang melalui aplikasi mobile phone.
Aplikasi agen pegadaian berguna untuk pengembangan channel distribution meningkatkan inklusi keuangan sesuai dengan visi PT Pegadaian (Persero) sebagai agen inklusi keuangan. Agen pegadaian bentuk kerja sama antara PT Pegadaian (Persero) dengan pemilik usaha yang ingin menjadi agen pegadaian.
3. Pegadaian Digital System (PDS), bentuk aplikasi via mobile phone.
Fungsi dari PDS sendiri adalah aplikasi yang memberi kemudahan kepada calon nasabah yang ingin bertransaksi gadai.
4.1.4 Pegadaian Digital System (PDS)
Pegadaian Digital Service merupakan aplikasi berbasis online yang digunakan oleh calon nasabah untuk melakukan kegiatan transaksi tanpa harus datang ke outlet. PT. Pegadaian (Persero) mulai melakukan transformasi perusahaan dalam upaya menjadi financial company melalui strategi G-5 start generation. Langkah perubahan ini ditandai dengan diluncurkannya Pegadaian Digital Service (PDS) untuk memperbesar target pasar hingga ke generasi milenial.
Keunggulan dari aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS) ini adalah dari segi kecepatannya. Nasabah mendapatkan pelayanan setara dengan yang diberikan oleh pelayanan di outlet Pegadaian konvensional. Nantinya nasabah Pegadaian cukup meluangkan beberapa menit saja untuk mengisi informasi di aplikasi PDS tersebut.
Dengan menggunakan aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS) nasabah dapat melakukan pengajuan gadai atau pengajuan kredit mikro sesuai dengan kebutuhan
nasabah. Selain itu aplikasi PDS juga melayani nasabah yang ingin membuka tabungan emas, membayar angsuran, melakukan top-up tabungan emas, melakukan pembelian emas batangan. Pegadaian merupakan lembaga keuangan yang membantu masyarakat dalam berinvestasi emas. Menyesuaikan kemampuan finansial masyarakat, pegadaian menyediakan emas mulia dengan berbagai ukuran, mulai 1 gram hingga 1 kilogram. Cara membeli emas di pegadaian juga beragam, yakni secara tunai dan cicilan. Juga pembelian dapat dilakukan melalui aplikasi Pegadaian Digital Service.
Gambar 4.2 Pegadaian Digital Service Sumber : Aplikasi Pegadaian Digital, 2020
4.2 Hasil Deskripsi Penelitian 4.2.1 Deskripsi Sebaran Responden
deskriptif sebaran responden penelitian merupakan suatu proses mendeskripsikan para responden berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan, dan lama menjadi nasabah pegadaian. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 130 nasabah Penggunaan aplikasi pegadaian digital system (PDS) di PT Pegadaian (Persero) Cabang Pembantu Labuhan Deli, Medan. Berikut ini disajikan statistik deskriptif sebaran responden :
1. Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Deskriptif responden berdasarkan jenis kelamin nasabah PT Pegadaian (Persero) Cabang Pembantu Labuhan Deli dijelaskan pada gambar 4.3 sebagai berikut :
Gambar 4.3 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber : Pengolahan Data Penelitian, 2021
Dari keterangan gambar 4.3 menunjukkan bahwa dari 130 responden dengan jenis kelamin wanita sebanyak 76 orang atau sebesar 58%, sedangkan jenis kelamin pria sebanyak 54 orang atau sebesar 42%. Hal ini
wanita 58%
pria 42%
JENIS KELAMIN
pada jenis kelamin pria, karena wanita mengetahui mengatasi kebutuhan hidup di keluarga.
2. Deskriptif Responden Berdasarkan Usia
Deskriptif responden berdasarkan usia nasabah PT Pegadaian (Persero) Cabang Pembantu Labuhan Deli Medan dijelaskan pada gambar 4.4 sebagai berikut :
Gambar 4.4 Responden Berdasarkan Usia Sumber : Pengolahan Data Penelitian, 2021
Dari keterangan gambar 4.4 dapat dilihat bahwa dari 130 responden menunjukkan rentang usia 26 sampai dengan 35 tahun sebanyak 57 orang atau sebesar 44%, berikutnya berada rentang usia 36 sampai dengan 45 tahun sebanyak 49 orang atau sebesar 38%, rentang usia 17 sampai dengan 25 tahun sebanyak 19 orang atau sebesar 14%, dan rentang usia diatas 45 tahun sebanyak 5 orang atau sebesar 4%. Hal ini menunjukkan bahwa rentang usia produktif yaitu 26 tahun sampai dengan 45 tahun. Pada
17 - 25 Tahun 14%
26 - 35 Tahun 44%
35 - 45 Tahun 38%
Diatas 45 Tahun
4%
USIA
katagori usia tersebut umumnya berada pada usia bekerja sehingga kemampuan untuk membayar relatif tinggi.
3. Deskriptif Responden Berdasarkan Pendidikan
Deskriptif responden berdasarkan pendidikan nasabah PT Pegadaian (Persero) Cabang Pembantu Labuhan Deli Medan ditunjukkan pada gambar 4.5 sebagai berikut :
Gambar 4.5 Responden Berdasarkan Pendidikan Sumber : Pengolahan Data Penelitian 2021
Dari keterangan gambar 4.5 menunjukkan bahwa dari 130 responden mayoritas responden penelitian ini adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 49 orang atau sebesar 38%. Lulusan Sarjana (S1) sebanyak 45 orang atau sebesar 35%, lulusan Diploma (D3) sebanyak 24 orang atau sebesar 18%, lulusan Master (S2) sebanyak 11 orang atau sebesar 8%, dan terakhir lulus Doktor (S3) sebanyak 1 orang atau sebesar 1%. Hal ini
Sekolah Menengah Atas (SMA)
38%
Diploma (D3) 18%
Sarjana (S1) 35%
Master (S2) 8%
Doktor (S3) 1%
TINGKAT PENDIDIKAN
menunjukkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan adalah gologan SMA
menunjukkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan adalah gologan SMA