• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Data

3. Atribusi Kepribadian

Informan YF merasa bahwa dirinya saat ini menjadi mampu untuk lebih berempati kepada orang lain. Terutama ketika bertemu dengan seseorang dengan keadaan yang menyentuh perasaannya.

Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

YF : “...Heeh lebih berempati ke orang terus apa ya.

Eee hati kita jadi lebih mudah tersentuh tapi bukan cengeng. Kalo cengeng kan ikut nangis, tapi enggak kalo tersentuh...” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 815-818)

Informan YF juga pernah menunjukkan empatinya kepada seorang pengidap kanker yang berasal dari Papua. Informan YF mengetahui fakta bahwa pengidap kanker tersebut tidak memilki keluarga atau orang terdekat yang menemaninya untuk berobat di Jakarta. Kondisi perekonomian yang tidak memadai juga menyulitkan pengidap kanker tersebut untuk mencari makan.

Informan YF merasa sangat sedih jikalau dirinya mengingat

meninggal berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

“....Iya, bukan apa-apa ibu tahu ya mungkin untuk sehemat mungkin, bukan berarti dia serakah mungkin dia saat itu baru makan. Disitu ya ibu ih sedihnya luar biasa kalau ingat dulu itu ya ibu pengen nangis, orangnya ya udah nggak ada juga.

Itu namanya H**** dari Papua....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 295-300)

Sedangkan pada informan NI, rasa empati ditunjukkannya ketika dirinya sedang menjalankan tugasnya sebagai hotline service di komunitas kanker payudara. Informan NI banyak berkomunikasi dengan para pengidap kanker, beberapa kali ia menemukan mereka yang membutuhkan bantuan finansial. Perasaan sedih seringkali dirasakan oleh informan NI karena dirinya merasa tidak dapat membantu para penyintas kanker tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:

NI :”... walaupun di perjalanannya saya suka ikut terbawa, suka ikut melow gitu kenapa itu ketika saya tidak bisa melakukan apa apa mungkin karna biaya. Mungkin setelah saya melihat foto foto minta bantuan biaya saya tidak bisa karena biasanya itu mengganggu mood saya 1 hari 2 hari saya sedih terus itu...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 748-754)

Kemudian pada informan EW, dirinya menunjukkan empati ketika melihat pengidap kanker yang bisa kembali sehat. Informan EW merasa senang jikalau seorang pengidap kanker bisa kembali sehat. Perasaan sedih akan muncul ketika ia melihat pengidap

merupakan bentuk penderitaan. Informan EW nampak ikhlas ketika jikalau memang pada akhirnya pengidap kanker tersebut harus meninggal dunia. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:

“...Saya juga seneng sih kalo orang juga bisa sehat lagi gitu kan ya. Artinya eeee ada semangat yang memang yang dia sehat lagi dan tidak merasakan lagi menderita. Saya juga sedih kalau sakit terus, ya kalo dia meninggal ya udah lah ya itu jalannya Tuhan...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 211-216)

Informan EW pernah menunjukkan rasa empatinya kepada seorang pengidap kanker yang mengkhawatirkan biaya pengobatan kanker yang sangat mahal. Informan EW berusaha untuk bisa mengerti apa yang dirasakan oleh pengidap kanker tersebut.

Informan EW juga memberikan solusi yang kemungkinan bisa digunakan oleh pengidap kanker tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:

“...Dan yang dia takutkan bukan cuman dari penyakitnya, tapi harga obat yang begitu mahal kalau tidak ditanggung dari rumah sakit bagaimana cara dia mengobati itu. Jadi ya kami bergandengan tangan, ya saya mencoba ikut merasakan apa yang dia rasakan gitu. Pada akhirnya kan dia ditanggung juga sama rumah sakit sampai selesai...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 96-103)

Informan YF menunjukkan rasa simpatinya terhadap seorang public figure yang meninggal dua bulan setelah terdiagnosis kanker.

Informan YF mengetahui bahwa public figure tersebut sangat menjaga kebersihan barang-barang yang digunakan, salah saatnya adalah penggunaan botol minum. Setelah mendengar kabar bahwa public figure tersebut meninggal, informan YF merasa sedih.

Dirinya menyadari bahwa meskipun kebersihan telah dijaga, namun nyawa seseorang tetaplah berada di tangan Tuhan. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

YF: ”.... Bagus ketika masalah banyak itu bagus, menimpa seseorang menempa. Ini maap aja ketika Bu A***** S** terserang tervonis kanker, ibu sempet kepikiran. Kepikirannya nih kayak gini disitu kan ada berita. Dia beliau itu minum aja harus ga boleh lebih dari tiga jam. Botol minum yang kayak gini kalo udah lebih dari tiga jam ga boleh diminum harus steril. Lah dalam hatiku yaelah hebat banget gua kadang kala nih seharian baru minum. Tapi nyawa ada di tangan Tuhan, lah dua bulan kemudian sedih banget denger beliau meninggal. Jadi yang steril-steril begini ga pasti, mungkin beliau juga banyak pikiran. Kita kan gatau orang kaya itu pikirannya kayak gimana.

...” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 670-683)

Setelah mengidap kanker informan YF memiliki banyak teman-teman yang juga sesama pengidap kanker. Terkadang informan YF ingin memberikan kabar kepada temannya yang lain bahwa salah satu teman mereka sudah meninggal. Tanpa disadari informan YF, ternyata temannya yang ingin ia kabari tersebut juga

siapa temannya yang masih hidup dan siapa temannya yang sudah meninggal. Adik informan YF membantunya untuk menghapus kontak teman-temannya yang sudah meninggal. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

“...Saya suka bingung mana temen yang masih hidup mana yang udah ga ada. Kadang kala ketika temen ini ninggal saya pingin ngasih tahu, ih saya mau ngasih tauh ah si N** bahwa M***** udah ninggal, adek saya ngasih tahu N** juga udah ninggal kak. Ya Allah. Terus sama adek ku di hapus-hapusin nama temen-temen yang udah ninggal tapi kan...” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 292-298)

Sedangkan pada informan NI, dirinya menunjukkan simpati pada saat dirinya menjalankan tugasnya sebagai hotline service komunitas. Dirinya seringkali dihubungi oleh para pengidap kanker yang tidak mau bergerak mengambil keputusan mengenai kanker yang sedang diidapnya. Informan NI merasa miris dengan hal ini dan jikalau ia memaksa, keputusan akhir tetap ada pada para pengidap kanker tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:

NI :”... jadi saya miris, ternyata apa ya, tidak semua wanita memang berani bergerak gitu yah bahkan untuk dirinya sendirinya gitu. Jadi gitu aja, kasihan sekali gitukan, saya kan ga bisa paksa mereka “ayo dong ayo dong cepet cepet”, walaupun saya paksa tetep keputusan ada di mereka....” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 683-689)

ketika dirinya melihat hasil pemeriksaan miliki salah satu temannya sesama pengidap kanker. Sebagai seorang perawat informan EW bisa membaca hasil pemeriksaan yang dimiliki oleh temannya tersebut, namun ia memutuskan untuk tidak memberitahukan apa sebenarnya yang ada di dalam hasil pemeriksaan tersebut. Ada kemungkinan bahwa hasil pemeriksaan yang dimiliki oleh teman Informan EW adalah hasil yang kurang baik. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:

EW : “...Waktu itu sih dia belum sinar sama saya, dia negluh kok kakinya sakit, terus berbobat hasilnya dia tunjukkin ke saya. Hasil labnya, hasil fotonya karena saya orang medis kan saya taunya artinya apa gitu kan. Tapi saya ga bilang....” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 183-187)

c. Pantang menyerah

Informan YF berusaha untuk tidak menyerah dengan kanker yang dimilikinya. Bagi informan YF jika sampai saatnya dirinya mersakan putus asa menandakan bahwa dirinya harus siap untuk dipanggil Tuhan. Setiap orang dianggap informan YF wajib untuk berusaha. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

YF : “...Iya, jangan putus asa. Kalau sudah putus asa berarti itu sudah persiapan ibu saat itu juga harus siap-siap dipanggil, tapi kan namanya manusia harus wajib berusaha...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris (37-40)

dengan efek samping pada fisik yang dirasakannya. Informan YF mengajak untuk tidak mengeluh dengan keadaan yang ada terutama dengan hal-ha yang sederhana. informan YF meyakini bahwa masih banyak orang dengan masalah yang sulit dan membutuhkan usaha yang besar untuk bisa bertahan hidup. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:

YF: “...Makannya kadang ibu berfikir buat yang sehat bersyukurlah dengan ibu ini, jangan kau mengeluh dengan hal yang sepele, baru putus cinta kamu mengeluh. Dua hari ngelamar keerjaan kamu mengeluh, tga hari kamu nggak punya duit mengeluh, baru juga pegel-pegel mengeluh, nggak bisa tidur aja mengeluh, selalu mengeluh mengeluh kayak gitu, karena dibagian sana banyak orang yang mati matian untuk tetap bernafas untuk saat ini. Mereka nggak berpikiran lagi, kalau nggak ada duit ya ya udah yang penting saat ini mereka bisa makan....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 547-658)

Sedangkan pada informan SI, dirinya menunjukkan semangat pantang menyerah ketika melihat anak-ananknya dan menyadari mengenai tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Informan SI merasa bahwa dirinya harus bangkit dari keterpurukan ketika terdiagnosis kanker karena hanya masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhinya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:

SI : “...Jadi terpuruk pasti, pertama terdiagnosis itu pasti terpuruk yah cuman kembali lagi ke kita lah, aku seorang ibu, seorang istri, punya anak, kalau saya ga bersemangat, kalau saya ga bangkit, jadi

berjuang...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 64-69)

d. Optimis

Informan EW tidak percaya terhadap khasiat dari pengobatan tradisional jikalau digunakan sebagai pengobatan utama untuk penyakit kanker. Menjalani pengobatan dan prosedur medis harus lebih diutamakan menurut informan EW. Menanamkan keyakinan untuk sembuh dan optimis dengan prosedur medis yang dijalani merupakan sesuatu yang dilakukan oleh informan EW. Berikut ini merupakan dua pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:

“...Pelengkap jangan jadikan yang utama, saya minum obat tradisional, saya minum kunyit putih, saya minum sarang semut, saya minum udah segala macem tapi obat dari dokter yang dari rumah sakit semua saya jalani. Itu haya sebagai apa ya penyemangat dan sugesti gitu kan ya buat menambah sugesti “oh iya ya saya bisa sembuh”...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 769-775)

“....Kuncinya di kata optimis itu, optimis dengan prosedur yang ada....” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 783-784)

Sama seperti informan EW, informan SI juga menyatakan bahwa pengidap kanker harus optimis akan sembuh melaui pengobatan medis dan menjalankan pola hidup yang sehat. Jadi bagi informan SI merasa optimis perlu diutamakan. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:

pengobatan dari medis, terus menjalani pola hidup sehat, terus yang pertama harus optimis, optimis pasti bisa gitu....” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 515-518)