BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Data
4. Sikap Kepedulian Pada Orang Lain
a. Kemauan untuk membantu orang lain
Setelah mengidap kanker, informan YF seperti memiliki dorongan untuk bisa membantu orang lain setiap harinya. Seringkali ketika keinginan untuk membantu orang lain sudah muncul informan YF akan berusaha untuk membantunya, meskipun dirinya tidak memiliki uang sekalipun. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“...terpaksa atau apalah kagak ngertilah saya juga ga ngerti yang pasti tiap hari pingin berbuat baik aja. Ingin berbuat baik termasuk diantaranya kadang kala ya lebih jadi kedodoran. Maksudnya kedodoran ga ada duit pun kalo misalkan ada orang butuh diusahakan ada aja...” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 798-803)
Informan YF banyak membantu orang yang membutuhkan alat-alat seperti kursi roda, kaki palsu dan tongkat. Informan YF memberikan bantuan tersebut dengan usahanya sendiri tanpa meminta bantuan dari komunitas. Hal ini dikarenakan informan YF berpikir mengenai prosedur panjang yang harus dilaluinya jikalau ingin membantu melalui komunitas. Informan YF berusaha untuk bergerak cepat untuk mereka yang membantu orang yang
pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“...Karena kan kalau bareng komunitas ada prosedur, sedangkan saya kadang kala terjun ke sosial lebih banyak sendiri karena saya kadang kala kalau untuk prosedur lama, sementara orang itu darurat. Misal besok dia harus butuh kursi roda palsu, kalau kita bicarakan di komunitas kan butuh waktu, eh kursi roda palsu. Maksudnya kursi roda.
Terus kaya kaki palsu, tongkat, itu kan mereka darurat. Ini bukan menyalahkan, bukan bukan. Tapi memang prosedur untuk yayasan ada prosedurnya dan itu memang bagus untuk ketertiban pembukuan yayasan Jadi kalau saya pas lagi berjuang sendiri ya saya gitu aja, ada duit saya lakukan saya kasihkan.
Gerak cepat gitu. Lebih banyak ke gerak cepatnya itu...” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 123-137)
Informan YF akan merasa senang ketika orang yang dibantunya juga merasa senang, seperti yang dinyatakan oleh informan YF berikut ini:
“...Ketika seseorang itu dianya susah terus ibu bisa nolong dianya terus tersenyum lega, ibu juga jadi tersenyum lega, gitu....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 765-767)
Sedangkan pada informan NI, dirinya sudah memiliki kemauan untuk bisa memberikan bantuan untuk orang lain. Hal ini dikarenakan informan NI merasa bahwa banyak orang diluar sana yang tidak seberuntung dirinya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“...kami bisa jalan jalan kemana pun yang kami mau gitu, terus saya berpikir ini waktunya saya berkontribusi untuk sesama, pastinya banyak orang
Sedangkan informan EW lebih memberikan bantuan untuk menuntun seseorang supaya dapat menerima kondisi yang dimilikinya. Hal ini ditujukan untuk para pengidap kanker yang masih belum dapat menerima keadaannya sebagai pengidap kanker.
Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
“...Itu sih wajar, wajar aja terjadi cuman memang kita sebagai orang yang eee sehat yang tau kita harus jadi mengupayakan menuntun orang tersebut bisa bisa menerima kondisinya...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 655-658)
Kemudian informan SI dengan sukarela mau untuk membantu memberikan penjelasan kepada para pengidap kanker yang akan melakukan operasi mastektomi dan kemoterapi.
Informan SI berusaha memberikan penjelasan bahwa tidak semua pengidap kanker payudara yang melakukan mastektomi akan merasakan keterpurukan. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“....Sampai sekarang teman ku gini, “bu temanku kena cancer nih mau ga di telfon di kasih, kasih dong pencerahan gitu”, “boleh kok”. Awal awal aku juga kalau di unit ada yang mau kemo , teman teman pada manggilin aku, “bu bantuin dong ada yang baru pertama kali kemo”, terus kalau ada mau operasi, “besok mastektomi ibu mau ga datang?”,
“mau” saya senang sekali, saya datang saya ngobrol jadi kasih penjelasan lah, ga semua orang cancer itu, ga semua orang mastektomi itu akan terpuruk
Informan SI juga pernah memberikan penjelasan kepada pengidap kanker dengan kondisi yang nampaknya cukup parah.
Penjelasan untuk mencegah terjadinya metastasis diberikan oleh informan SI kepada pengidap kanker tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“...ada teman “gw punya teman begini begini nih, susah banget dia ngobatin gitukan, mau ga?, boleh ga gw kasih nomor telfonnya?” saya bilang
“boleh”, jadi saya senang sekali jadi di jalani sampai sekarang, jadi kalau ada yang telfon, jalani, kita ngobrol, ya aku kasih penjelasan gitu, jangan sampai udah metastasis....” (SI, Transkrip wawancara 1, baris 314-320)
b. Kemauan untuk berbagi
Setelah mengidap kanker informan EW menceritakan pengalamannya kepada salah satu pengidap kanker juga. Menurut informan EW pengidap kanker tersebut menjalani pengalaman yang berat, namun sampai saat ini masih sehat. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
“....Terus ya udah saya ceritakan pengalaman saya apa yang saya alami gitu. Terus dia ya udah di jalani memang berat sih, waktu dia kemo itu dia juga suka sharing sampe sekarang masih sehat gitu...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 208-211)
Informan EW tidak hanya membagikan pengalaman saja kepada pengidap kanker lainnya, tetapi juga sebuah renungan.
Informan EW saling berbagi renungan dan menguatkan satu sama
kanker tersebut meninggal dunia. Berikut ini merupakan pernyataan yang disamapikan oleh informan EW:
“....Dia kemo sama saya juga, kita saling menguatkan, kalo pagi dia sapa saya juga lewat renungan itu saya bales. Tapi beberapa tahun kemaren atau beberapa tahun lalu ya? Akhirnya dia meninggal juga....” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 141-145)
Sedangkan pada informan SI dirinya mengakui bahwa mengidap kanker membawa perubahan bagi dirinya. Kemauan untuk berbagi muncul pada diri informan SI, meskipun sebelum mengidap kanker dirinya tidak suka untuk berbagi. Saat ini informan SI bisa membagikan pengalamannya selama mengidap kanker. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“....Terus kalau di lingkungan luar perubahannya saya bisa berbagi ya semua tentang penyakit saya saya bisa berbagi, saya awalnya ga suka berbagi sih tadinya...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 425-428)
Bagi informan SI kemauannya untuk bisa membagikan pengalamannya sendiri kepada orang lain dapat membantu orang tersebut menghadapi pengalaman yang sama seperti informan SI (mengidap kanker). Hal ini dikarenakan informan SI meyakini bahwa perlu untuk bisa melihat pengalaman dari orang lain dan bagaimana orang tersebut menyelesaikan masalahnya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
emang biasanya perlu lihat orang lain , oh dia juga bisa, kadang kadang orang terpuruk kan oh kok gw gini ya, tapi kalau dia kaya yang uda terkena nih kita berbagi pengalaman berbagi cerita, ya kalau kita sehat ini ya pasti bisa, ya dia pasti bisa...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 559-565)
c. Terlibat di dalam komunitas
Setelah informan YF mengidap kanker dirinya tidak langsung bergabung dengan komunitas kanker payudara. Informan YF secara tiba-tiba dimasukkan ke dalam komunitas tersebut yang dipimpin oleh seorang public figure yang membuat dirinya terkejut.
Informan YF merasa bukan siapa-siapa, namun dirinya diundang di dalam komunitas tersebut dan mengikuti sebuah pertemuamn.
Berikut ini merpukan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“....Tiba-tiba ada di WA group, ada yang minta nomor telpon terus tiba-tiba masuk ke dalam grup Y***, yang pimpinannya adalah ibu L**** A***
G******. Terus terang pertama kali masuk terus ibu diajak perkumpulan pertama ibu sempat syok.
Ibu sempat syok karena ibu itu ngerasain dari kalangan biasa ada perkumpulan...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 361-368)
Setelah bergabung bersama dengan komunitas kanker payudara tersebut, informan SI menjadi terkenal dan sering dipanggil untuk menjadi nara sumber pada komunitas lainnya.
Informan YF dipanggil untuk mengisi acara baik dari dalam negeri
disampaikan oleh informan YF:
“....Heeh sampe Malaysia muter, ya ada hubungannya dengan kanker. Saya ga bisa Bahasa Inggris tapi nanti ada translate. Kalo biacara depan orang mah saya biasa, kalo ke Solo ada komunitas, kalo Jogja saya belom pernah, tau komunitasnya apa, tapi kalo di Solo saya kalo ulang tahun bulan April, pasti panggil saya, L***** P*** S***....”
(YF, Transkrip wawancara 1, baris 503-509)
Berbeda dengan informan YF, informan NI sudah memiliki keinginan untuk menjadi sukarelawan sebuah komunitas sebelum dirinya mengidap kanker. Hal ini tidak pernah berhasil dilakukakannya. Informan NI baru masuk ke dalam komunitas ketika dirinya sudah mengidap kanker. Faktanya komunitas tersebut merupakan salah satu komunitas yang sebelumnya dikirimkan lamaran oleh informan NI untuk bisa menjadi sukarelawan. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“....saya belum terdiagnosa. Itu saya punya keinginan untuk berbuat sesuatu untuk orang orang yang tidak seberuntung saya. Saya ada kirim 8 apa 9 plus Y*** yah tapi tidak ada yang respons. Lalu teraba benjol, belum direspons, ga ada yang respons satupun, setelah itu teraba benjolan terdiagnosa baru terespons oleh Y***. Jadi sebelumnya saya hanya mau jadi relawan saja. Jadi saya lewat internet tapi bukan karna saya terdiagnosa, itu beberapa minggu setelah saya terdiagnosa baru di respons...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 82-93)
Setelah bergabung di dalam komunitas informan NI, berperan sebagai hot line service. Tugasnya adalah menerima
mengenai kanker payudara. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“...Jadi saya ini juga pengelola hot line service YKPI, artinya siapapun yang membutuhkan informasi tentang Y*** baik itu seputar donasi, baik itu seputar kanker payudara, baik itu mau bekerja sama pokoknya apapun itu akan bekerja sama dengan saya....” (NI, Transkrip wawancara 1, baris 585-590)
Kemudian informan SI juga mengakui bahwa dirinya sempat mengikuti beberapa kelompok komunitas pengidap kanker. Selama menjadi anggota komunitas informan SI saling berbagi cerita dengan anggota komunitas lainnya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
SI :”.... Saya awal awal itu ada ikut komunitas penyandang grupnya kanker gitu, jadi disitu, awal awal aku banyak ikut grup ya, jadi disitu kita berbagi cerita gini gini gitu, itu satu....” (SI, Transkrip wawancara 1, baris 274-277)
Selain komunitas pengidap kanker, informan SI juga mengikuti komunitas keagamaan. Di dalam komunitas ini informan SI dilibatkan di dalam acara-acara komunitas keagamaan tersebut.
Selain itu informan SI juga membagikan pengalamannya mengidap kanker di dalam komunitas keagamaan tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“....saya Muslim ya jadi punya komunitas kaya ibu ibu pengajian itu sangat sangat mendukung sekali, itu banyak doa doa yang dikasih, terus selalu ikut dilibatkan dalam acara acara keagamaan, yang
berbagi ilmu berbagi semuanya gitu didalam komunitas pengajian gitu....” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 29-36)
d. Memberi dukungan sosial pada sesama penyintas kanker Dukungan sosial diberikan kepada para penyintas kanker lainnya oleh informan YF. Salah satu yang dilakukan oleh informan YF adalah membagikan masker kepada para penyintas kanker yang membutuhkan. Hal ini dilakukan oleh informan YF sebagai bentuk tindakan untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang sedang terjadi.
Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“...Kaya kemarin ada masker, bagi lagi buat sesama kanker. Nah itu mungkin jiwa-jiwa seperti itu yang ada pada saya....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 83-86)
Dukungan sosial juga pernah diberikan kepada seorang pengidap kanker yang berasal dari golongan perekonomian menengah kebawah. Informan YF memberikan kursi roda dan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari pengidap kanker tersebut. Melalui pengalaman ini informan YF menyadari bahwa ada banyak orang dengan perekonomian menengah ke bawah yang mengidap kanker. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“...Iya, terakhir-terakhir aja dia udah nggak bisa jalan kan nggak mungkin itu kursi roda ada, nggak
ngasih ke dia mau nggak mau ya harus datang bantu dia, dan ibu berpikir untuk bertanggung jawab juga untuk berpikir tentang masalah kehidupannya sehari-hari di situ. Nah dari situlah ibu melekat di situ. Melekat bahwa banyak banget orang-orang yang kadang udah kena kanker, hidupnya di bawah...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 173-183)
Kemudian pada informan EW, dirinya sering dimintai oleh orang lain adalah untuk memberikannya kekuatan ketika akan menghadapi penyakit kanker. Tanggapan diberikan oleh informan EW terhadap seorang mantan karyawan yang sedang sedih karena baru saja terdiagnosis kanker. Informan EW tetap mendatangi orang tersebut meskipun pada waktu itu dirinya sedang menjalani rapat.
Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
EW : “....Iya saya memang banyak bertemu dengan... Banyak orang orang yang dengan sengaja meminta saya menguatkan yang sedang sakit karena tidak sengaja saya bertemu. Beberapa waktu yang lalu juga saya lagi rapat, dulu karyawan C****** sudah pensiunan kan, dia telpon saya nangis-nangis terus kenapa sih gitu, tapi akhirnya ya udah terus akhirnya saya angkat saya ijin saya keluar nemuin orang itu di hall di bawah itu, terus dia cerita kalo dia baru aja didiagnosa kanker gitu...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 198-207)
Sedangkan pada informan SI, dirinya memberikan pendampingan kepada salah satu temannya yang mengidap kanker dan melakukan pengobatan dengan jaminan BPJS. Hal ini
dalam melakukan penanganan kanker. Teman informan SI membutuhkan waktu satu bulan sampai satu setengah bulan untuk mengantri berobat. Informan SI mendampingi temannya tersebut hingga temannya meninggal. Berikut merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“....pertama temenku dia pengobatannya pakai BPJS jadi lama, jadi mestinya kemoterapinya sekarang jadinya ditunda tunda, itu yang diungkapkan ke saya gini, “kamu enak gini rumah sakit mu menanggung semua”, dia bilang “kita sama sama cancer gitu kan, ya tapi kan lu enak ditanggung rumah sakit semuanya, jadi pengobatan lu, jadi pengobatan kamu sesuai waktu, aku BPJS, jadi kadang kadang sebulan, sebulan setengah”.
Jadi saya mendampingi dia itu sampai dia mau meninggal...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 280-290)
e. Memikirkan anggota keluarga
Informan NI memikirkan mengenai bagaimana kondisi keluarganya jikalau seandainya dirinya meninggal. Informan NI tidak terlalu mengkhawatirkan suaminya karena dirinya berfikir bahwa suaminya masih bisa menikah lagi. Di sisi lain informan NI tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi anaknya jikalau dia harus meninggal dunia. Informan NI. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“...karena itu waktu itu saya pikir suami saya tanpa saya gapapa bisa cari lagi mungkin gitu ya, walaupun dia juga tidak memikirkan itu. Tapi kalau anak saya ga ada saya gimana,...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 290-294)
anaknya jikalau dirinya meninggal dunia. Informan EW merasa kasihan kepada anaknya bila dirinya meninggal dunia, maka anaknya sudah tidak memiliki ibu di usia yang masih muda. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
EW : “....Lalu saya mikir aduh anak saya masih kecil, sampai saya harus eee nggak ada. Aduh saya mikirnya aduh kasian banget ya pas seusia itu udah ga punya ibu gitu...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 163-166)
Informan SI juga memikirkan anaknya karena dirinya merasa bahwa anaknya masih membutuhkan dirinya. Anak-anak dari informan SI membuat dirinya terinspirasi untuk berjuang dan menerima penyakit kanker yang diidapnya. Berikut ini merupakan dua pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
SI : “...kembali lagi ingat anak anak yang masih membutuhkan kita gitu....” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 71-72)
5. Menemukan Makna Hidup