• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA RESILIENSI PADA PENYINTAS KANKER PAYUDARA. Skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DINAMIKA RESILIENSI PADA PENYINTAS KANKER PAYUDARA. Skripsi"

Copied!
446
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA RESILIENSI PADA PENYINTAS KANKER PAYUDARA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Antonius Agung Prihartanto 169114119

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2021

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penelitian ini secara khusus saya persembahkan kepada:

 Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya karena saya telah

diberikan kesempatan untuk merasakan pengalaman hidup yang sangat berharga ini.

 Kedua orang tua saya yang selalu mendukung setiap usaha saya dalam menghadapi setiap tantangan hidup yang saya temui.

 Seluruh informan penelitian yang telah bersedia meluangkan waktunya

untuk membagikan sebagian dari pengalaman hidup mereka selama menjadi seorang penyintas kanker payudara.

 Para penyintas kanker payudara dan seluruh kerabat terdekat mereka yang

terus berjuang dan berusaha menghadapi setiap tantangan yang telah ditemui sejak terdiagnosis kanker.

 Seluruh pihak yang telah berkontribusi untuk membantu saya dalam menyelesaikan naskah skripsi ini.

(5)

v

HALAMAN MOTTO

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,aku tidak takut bahaya,sebab Engkau beserta ku;gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”

Mazmur 23:4

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya”

Yesaya 40:29

“The most terrifying thing is to accept oneself completely”

Carl Gustav Jung

(6)

vi

DINAMIKA RESILIENSI PADA PENYINTAS KANKER PAYUDARA Antonius Agung Prihartanto

ABSTRAK

Fokus dari penelitian ini adalah untuk memahami dinamika resiliensi yang terjadi pada penyintas kanker payudara. Peneliti bertujuan untuk memahami seperti apa dinamika resiliensi pada penyintas kanker melalui bagaimana mereka menghadapi tantangan dan perubahan yang ditemui. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Proses wawancara semi terstruktur digunakan sebagai metode pengambilan data. Terdapat empat informan di dalam penelitian ini yang seluruhnya adalah seorang penyintas kanker payudara wanita yang berusia antara 41-53 tahun. Para informan telah melalui masa 5 tahun sejak pertama kali terdiagnosis kanker. Pendekatan penelitian Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) digunakan untuk mengungkap pengalaman para informan dari sudut pandang mereka. Lima tema besar ditemukan pada penelitian yaitu, faktor spiritualitas/religiusitas, faktor dukungan sosial, atribusi kepribadian, sikap kepedulian kepada orang lain, dan menemukan makna hidup. Melalui penelitian ini terungkap bahwa faktor pelindung berperan sangat penting untuk resiliensi pada penyintas kanker. Dukungan sosial dan spiritualitas menjadi faktor pelindung yang berperan besar dalam membantu penyintas kanker mengatasi tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Terjadi banyak perubahan selama penyintas kanker menjalani pengobatan kanker, sehingga faktor pelindung sangat diperlukan untuk hadir pada fase ini.

Kata Kunci: Resiliensi; Penyintas Kanker, Faktor Pelindung, Dukungan Sosial, Spiritualitas

(7)

vii

THE DYNAMICS OF RESILIENCE IN BREAST CANCER SURVIVORS Antonius Agung Prihartanto

ABSTRACT

The focus of this research is to understand the dynamics of resilience in cancer survivors.

Researchers aim to understand the experiences of cancer survivors through various challenges to overcome them with resiliency. This research used qualitative research with data collection methods using a semi-structured interview process. There were four informants in this study, all of whom were women aged 41-53 years. The informants were cancer survivors who have cancer for about five years. The researcher used Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to reveal informant experiences from their point of view. Factors of spirituality/religiosity, social support factors, personality attributions, caring attitudes towards others, and finding the meaning of life were the five major themes found in the research. The result of the study shows that protective factors have a significant impact on the resilience of cancer survivors. Social support and spirituality are protective factors that play a critical role in helping cancer survivors overcome the challenges they face. There are many changes during cancer survivors undergoing cancer treatment, so the protective factors become clinical at this phase.

Key Words: Resilience; Cancer Survivors, Protective Factors, Social Support, Spirituality.

(8)
(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Proses yang terjadi selama pengerjaan dan penyelesaian skripsi ini merupakan salah satu pengalaman hidup paling berharga yang tidak akan dapat saya lupakan. Ada begitu banyak pelajaran hidup yang saya temui selama mengerjakan skripsi ini. Pada tahap ini saya begitu banyak memahami dan menyadari bagaimana semesta bekerja pada harapan yang ingin dicapai oleh setiap orang. Doa merupakan sebuah sugesti bagi setiap orang untuk merealisasikan segala upaya yang terbaik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Proses mengerjakan skripsi membuat saya menyadari bahwa setiap tantangan dan masalah yang kita hadapi di dalam hidup ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Saya percaya bahwa akan ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki dan menyesuaikan hidup ini dengan segala bentuk perubahan yang terjadi. Bersyukur pada setiap kesempatan yang dimiliki di dalam hidup adalah jalan terbaik untuk menciptakan suasana kehidupan yang lebih sejahtera.

Ada begitu banyak orang yang sudah membantu saya di dalam menyelesaikan naskah skripsi ini. Hal tersebut membuat saya merasa telah berhasil memenuhi salah satu tanggung jawab yang saya miliki kepada mereka. Meskipun banyak jalan berliku yang harus dihadapi dan tak jarang menimbulkan kegagalan dan kekecewaan, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak kembali bangkit. Kesadaran tersebut membantu saya untuk membangun kembali semangat hidup saya yang sempat runtuh karena satu dan dua hal. Mencoba untuk membangun kembali harapan dan cita-cita yang sudah saya kubur dalam-dalam. Maka dari itu saya ingin

(11)

xi

mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak berikut ini karena telah memberikan dampak yang begitu besar di dalam penyelesaian naskah skripsi saya ini.

1. Kepada Tuhan yang telah memberikan saya kekuatan, motivasi, semangat dan kesehatan sehingga saya mampu menyelesaikan skripsi dan juga studi saya sebagai mahasiswa psikologi. Engkau juga telah memberikan kesempatan bagi saya untuk melalui pengalaman hidup yang berharga ini.

Kehadiran peristiwa yang menyenangkan hingga pahit yang terjadi selama proses pengerjaan skripsi ini merupakan bentuk dukungan terbaik dari Tuhan untuk membantu mengembangkan karakter yang saya miliki.

2. Kepada papa dan mama yang sudah memberikan banyak dukungan yang tidak ternilai oleh apapun. Papa dan mama juga sudah mengusahakan yang terbaik untuk perkuliahan saya sejak awal sampai akhir. Meskipun saya tidak bisa lulus tepat waktu saya mengucapkan terima kasih atas segala pengertian dan kesabarannya. Sekali lagi terima kasih karena tidak pernah lelah mengingatkan untuk selalu mensyukuri apapun yang kita terima di dunia ini. Hal tersebut merupakan alasan sehingga saya mampu melalui semuanya ini meskipun dengan segala keterbatasan yang ada. Ucapan terima kasih secara khusus juga diberikan untuk mama yang telah menjadi inspirasi utama dari awal hingga akhir dari penelitian ini. Semoga apa yang tersaji di dalam skripsi ini dapat menghadirkan gambaran bahwa setiap peristiwa yang ada di dalam hidup ini memiliki sisi terangnya masing- masing.

(12)

xii

3. Kepada Vani yang selalu menghibur di setiap waktu dan menemani dalam keadaan apapun. Membawakan semangat untuk tetap dapat melangkah dan selalu semangat menghadapi segalanya.

4. Kepada seluruh informan yang terlibat di dalam penelitian ini. Sebuah kesempatan berharga bagi saya untuk bisa mendengarkan cerita pengalaman hidup anda. Melalui cerita-cerita yang anda sampaikan, saya percaya bahwa semangat hidup dapat kita temukan ketika kita mampu berbagi pengalaman dengan banyak orang. Saya yakin bahwa semangat hidup yang telah anda bagikan telah memberikan inspirasi kepada hidup banyak orang terutama kepada bagi sesama penyintas kanker yang telah anda temui selama ini.

Saya panjatkan doa kepada Tuhan untuk kesejahteraan seluruh informan di dalam penelitian ini. Khusus informan YF yang telah dipanggil Tuhan di tahun 2020, saya mendoakan semoga Tuhan dapat membalas segala bentuk kebaikan, usaha, dan karya yang telah anda perjuangkan sepanjang hidup anda. Bagi saya seluruh informan merupakan pribadi yang dengan sepenuh hati berjuang demi mencapai kesejahteraan hidup. Ketulusan hati selalu ditunjukkan pada setiap bantuan yang informan berikan kepada orang lain dan juga penyintas kanker lainnya. Sekali saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuan para informan di dalam penelitian ini. Seluruh informan adalah pribadi yang sangat hebat karena mampu melalui tantangan hidup yang tidak semua orang dapat lalui.

5. Kepada Tante Tito dan Om Bert yang telah memenuhi kebutuhan perkuliahan saya dan bentuk kebutuhan lainnya. Terima kasih atas segala

(13)

xiii

bentuk dukungan yang telah diberikan. Mohon maaf atas bila ada hal-hal yang kurang berkenan terjadi selama perkuliahan saya ini. Terima kasih untuk segala masukkan dan evaluasi yang telah diberikan kepada saya selama ini. Semuanya itu akan saya ingat untuk kemudian diterapkan di dalam kehidupan saya ke depannya.

6. Kepada sahabat-sahabat saya di Yogyakarta yaitu Glory, Katrin dan Mbak Yuni yang selalu memberikan dukungan satu sama lain dalam kondisi yang sulit, terutama di dalam periode pengerjaan skripsi ini. Terima kasih untuk seluruh kata-kata motivasi, semangat dan masukkan yang telah kalian berikan. Terima kasih juga untuk kebersamaan yang telah kita bagi dan lalui bersama. Banyak hal tak ternilai telah kita lewati bersama dan saya berharap semoga kita dapat lebih banyak lagi berbagi pengalaman bersama. Semoga kita juga dapat meraih segala cita-cita dan impian yang ingin kita wujudkan.

7. Kepada sahabat-sahabat saya di Jakarta Nathanael, Dandi, Whisnu, dan Alex yang telah banyak berbagi waktu dan pengalaman bersama. Meskipun saya berada jauh di Yogyakarta namun kalian tetap mau membantu saya ketika saya membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun. Semoga kita semua bisa mencapai kesuksesan kita di dalam hidup kita masing-masing.

8. Kepada Luluk, Hartono dan Bagas, teman-teman satu bimbingan skripsi saya yang sudah mau memberikan waktu untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi bersama. Terima kasih karena kalian telah membantu saya untuk dapat menyelesaikan skripsi ini, meskipun seringkali kita berada di dalam

(14)

xiv

pilihan-pilihan yang sulit. Sekali saya ucapkan terima kasih untuk segala bentuk bantuannya.

9. Kepada Erick yang membantu saya dalam mengerjakan verbatim wawancara informan. Terima kasih juga karena mau memberikan masukkan dan pendapat mengenai skripsi yang saya kerjakan.

10. Kepada Kak Flora yang juga mau membantu saya memperbaiki naskah skripsi saya. Terima kasih kak Flo atas waktu dan tanggapan yang telah diberikan untuk memberikan saran dalam pengerjaan skripsi saya ini.

11. Terima kasih kepada Universitas Sanata Dharma dan Fakultas Psikologi karena telah memberikan saya tempat untuk dapat belajar mengenai ilmu psikologi ini. Terima kasih juga atas seluruh kesempatan lainnya yang bisa saya dapatkan selama saya menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

12. Kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perkuliahan saya sejak awal hingga akhir dan tidak dapat saya sebutkan satu persatu; Terima kasih banyak untuk segala usaha dan kesempatan yang sudah diberikan kepada saya

Saya mohon maaf jika mungkin selama proses pengerjaan skripsi ini berlangsung, saya belum dapat memberikan hasil yang terbaik bagi setiap pihak yang sudah terlibat. Mohon maaf pula bila saya pernah mengecewakan secara disengaja maupun tidak disengaja kepada para pihak yang terlibat. Akhir kata, saya berharap segala informasi yang terkandung di dalam penelitian ini bisa berguna

(15)
(16)

xvi

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO ... v

ABSTRAK ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... viii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xvi

DAFTAR TABEL ... xix

DAFTAR GAMBAR ... xx

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

BAB I PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 15

1. Manfaat teoritis ... 15

2. Manfaat praktis ... 15

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17

A. Resiliensi ... 17

1. Definisi Resiliensi... 19

2. Proses Terjadinya Dinamika Resiliensi ... 22

B. Penyintas kanker ... 22

C. Fase-Fase Penyintas Kanker ... 25

1. Fase Awal Penyintas Kanker ... 26

2. Fase penyintas Jangka Panjang... 27

3. Fase Penyintas Permanen ... 29

D. Faktor Pelindung Resiliensi Pada Penyintas Kanker ... 32

1. Dukungan sosial ... 33

2. Spiritualitas dan religiusitas... 35

3. Optimisme ... 37

(17)

xvii

4. Strategi Koping ... 38

5. Emosi Positif... 40

6. Usia ... 41

E. Faktor Pelindung Lainnya ... 41

F. Faktor Risiko yang Menghambat Resiliensi Penyintas Kanker ... 42

G. Dinamika Resiliensi Pada Penyintas Kanker Payudara ... 44

BAB III METODE PENELITIAN... 48

A. Pendekatan Penelitian ... 48

B. Fokus Penelitian ... 50

C. Reflektivitas Penelitian ... 50

D. Informan Penelitian ... 51

E. Metode Pengumpulan Data ... 51

F. Metode Analisis Data ... 55

G. Kredibilitas Penelitian ... 59

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 62

A. Pelaksanaan Penelitian ... 62

1. Persiapan Penelitian ... 63

2. Pelaksanaan penelitian ... 64

3. Pelaksanaan Member Checking... 64

B. Informan Penelitian ... 64

1. Demografi Informan ... 65

2. Latar Belakang Informan ... 73

C. Hasil Penelitian ... 73

1. Informan YF/41 Tahun ... 79

2. Informan NI/42 Tahun ... 82

3. Informan EW/53 Tahun ... 86

4. Informan SI/52 Tahun ... 90

D. Analisis Data ... 90

1. Religiusitas/Spiritualitas ... 98

2. Dukungan sosial ... 114

3. Atribusi Kepribadian ... 122

4. Sikap Kepedulian Pada Orang Lain... 133

5. Menemukan Makna Hidup ... 137

E. Pembahasan ... 138

(18)

xviii

1. Dinamika resiliensi penyintas kanker payudara yang berkaitan dengan

kondisi fisik mereka... 138

2. Dinamika resiliensi penyintas kanker payudara yang berkaitan dengan kondisi psikologis mereka ... 141

3. Dinamika resiliensi penyintas kanker payudara yang berkaitan dengan relasi sosial mereka ... 145

4. Dinamika resiliensi penyintas kanker payudara yang berkaitan dengan kondisi finansial mereka ... 148

5. Dinamika resiliensi penyintas kanker payudara yang berkaitan dengan Kondisi spiritualitas mereka ... 151

6. Skema Dinamika Resiliensi Yang Terjadi Pada Penyintas Kanker .... 153

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 154

A. Kesimpulan ... 154

B. Saran Penelitian ... 155

1. Bagi Penyintas Kanker ... 155

2. Bagi Keluarga Penyintas Kanker ... 155

3. Bagi Tenaga Profesional ... 156

4. Bagi Peneliti Selanjutnya... 156

C. Keterbatasan Penelitian ... 157

DAFTAR PUSTAKA ... 158

(19)

xix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Panduan Wawancara Semi Terstruktur ... 53 Tabel 2. Pelaksanaan Penelitian ... 63 Tabel 3. Demografi Informan ... 64

(20)

xx

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Dinamika resiliensi pada penyintas kanker ... 153

(21)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 4. Member Checking ... 184

Tabel 5. Tema Induk ... 185

Tabel 6. Tema Emergen yang Berulang ... 196

Tabel 7. Transkrip Wawancara 1 Informan YF ... 198

Tabel 8. Transkrip Wawancara 2 Informan YF ... 227

Tabel 9. Transkrip Wawancara 1 Informan NI ... 264

Tabel 10. Transkrip Wawancara 2 Informan NI ... 284

Tabel 11. Transkrip Wawancara 1 Informan EW ... 312

Tabel 12. Transkrip Wawancara 2 Informan EW ... 339

Tabel 13. Transkrip Wawancara 1 Informan SI ... 367

Tabel 14. Transkrip Wawancara 2 Informan SI ... 390

Tabel 15. Tema Emergen Informan YF ... 411

Tabel 16. Tema Emergen Informan NI ... 415

Tabel 17. Tema Emergen Informan EW ... 418

Tabel 18. Tema Emergen Informan SI ... 422

(22)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Pengalaman mengidap kanker tergolong sebagai sebuah pengalaman hidup yang berat bagi para penyintas kanker. Seorang penyintas kanker akan menghadapi beberapa isu di dalam hidupnya salah satunya seperti mengalami gangguan pada fisik (rasa sakit kronis) (Feuerstein, 2007).

Gangguan pada fisik ini kemudian mempengaruhi kondisi psikis para penyintas kanker, yaitu membuat para penyintas kanker mengalami perasaan tertekan (Seiler & Jenewein, 2019). Ketidakpastian akan keberlangsungan hidup juga dirasakan oleh para penyintas kanker (Feuerstein, 2007). Hal ini seperti yang dialami oleh para penyintas kanker payudara yang merasa ketakutan terhadap potensi penurunan kondisi dan penampilan fisik, penurunan kondisi seksualitas dan potensi mengalami metastasis paska pengobatan kanker (Williams & Jeanetta, 2016). Menjadi seorang penyintas kanker menandakan bahwa seorang individu telah memasuki salah satu pengalaman hidup yang sulit untuk dihadapi.

Penyakit kanker adalah salah satu jenis penyakit tidak menular paling mematikan di dunia (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan kasus kanker baru mencapai 19 juta jiwa diiringi dengan angka kematian 9 juta jiwa di seluruh dunia pada tahun 2020 berdasarkan data yang dikumpulkan oleh GLOBOCAN ( The Global Burden

(23)

of Cancer Study). Sebelumnya pada tahun 2019 kasus pertumbuhan penyakit kanker berada di angka 18 juta jiwa (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Jumlah kasus pertumbuhan kanker payudara merupakan yang tertinggi di seluruh dunia pada tahun 2020 mencapai 2,3 juta kasus (Sung dkk, 2021). Jumlah pertumbuhan kasus penyakit kanker di seluruh dunia juga diprediksi akan mengalami peningkatan mencapai 47% atau setara dengan 28,4 juta jiwa pada tahun 2040 (Sung dkk, 2021). Hal ini membuktikan bahwa angka pertumbuhan penyakit kanker akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di negara Indonesia sendiri angka pertumbuhan penyakit kanker juga terus meningkat begitu juga dengan angka kematiannya. Tercatat bahwa pada tahun 2010 terdapat 200 kasus kematian akibat penyakit kanker di Rumah Sakit Dharmais khusus kanker di Jakarta. Kemudian pada tahun 2013 terdapat peningkatan angka kematian menjadi 300 kasus kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Pada tahun 2020 sendiri kasus kematian akibat kanker telah mencapai sekitar 240 ribu jiwa dan terdapat pertumbuhan 400 ribu kasus penyakit kanker di seluruh wilayah di Indonesia berdasarkan data yang dirilis oleh The Global Cancer Observatory (WHO, 2021). Tingkat pertumbuhan kasus penyakit kanker payudara merupakan yang paling tinggi di Indonesia diikuti dengan kanker rahim dan kanker paru-paru (WHO, 2021). Data statistik ini membuktikan bahwa di Indonesia bahwa dari tahun ke tahun semakin banyak individu

(24)

yang mengidap kanker dan harus meninggal dunia karena penyakit kanker ini.

Telah diketahui sebelumnya bahwa penyakit kanker payudara memiliki tingkat pertumbuhan kasus tertinggi di negara Indonesia pada tahun 2020. Di Indonesia jumlah pertumbuhan kasus baru kanker payudara pada wanita mencapai kurang lebih 65 ribu kasus diikuti dengan angka kematian yang mencapai kurang lebih 22 ribu jiwa (WHO, 2021). Hal ini memunculkan sebuah skala perbandingan dimana 3 dari 5 orang wanita di Indonesia berpotensi mengidap penyakit kanker (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah pengidap kanker payudara di Indonesia terus meningkat.

Penyebab pasti seorang individu mengidap kanker belum diketahui secara pasti, akan tetapi terdapat beberapa faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kanker disebabkan oleh faktor genetik, faktor karsinogenik seperti zat kimia, radiasi, virus, hormon dan gaya hidup. Pola gaya hidup yang kurang sehat diduga menjadi salah satu penyebab utama individu mengidap kanker hingga menyebabkan kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

Mengonsumsi alkohol, merokok, dan kurangnya konsumsi buah dan sayuran adalah bentuk gaya hidup yang tidak sehat (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Gaya hidup yang tidak sehat, paparan zat asing dan keadaan genetik menjadi beberapa faktor penyebab seorang individu mengidap penyakit kanker.

(25)

Bentuk gaya hidup yang diterapkan oleh seorang individu diketahui menjadi faktor yang dapat menyebabkan individu mengidap kanker.

Diketahui bahwa prevalensi penyakit kanker yang ada di Indonesia lebih banyak berada di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Sebuah penelitian juga mengungkap bahwa pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan perubahan gaya hidup yang drastis pada individu. Wanita yang bekerja pada sektor industri dengan perubahan gaya hidup yang drastis berisiko mengidap kanker (Sung dkk, 2021).

Faktor kesehatan mental individu juga dapat menimbulkan risiko bagi dirinya untuk mengidap kanker. Kinerja sistem saraf dan hormon di dalam tubuh individu akan terpengaruh ketika dirinya sedang merasa tertekan akibat dari situasi yang dimilikinya (Reiche dkk, 2004). Keadaan ini akan mempengaruhi sistem imun yang bekerja pada tubuh sehingga tubuh menjadi rentan terkena penyakit (Reiche dkk, 2004). Individu yang terpapar zat karsinogenik ketika imun tubuh sedang lemah akibat kondisi mental yang sedang tertekan diduga akan memicu potensi mengidap kanker (Reiche dkk, 2004). Kemudian ditambah juga dengan kemungkinan individu melakukan perilaku menyimpang ketika berada di bawah tekanan akan semakin mendukung pertumbuhan sel kanker tersebut (Reiche dkk, 2004).

Masyarakat dan penyintas kanker membutuhkan informasi mengenai penyakit kanker dan pengobatannya karena dapat memberikan

(26)

dampak positif bagi mereka. Pengenalan mengenai faktor risiko pada penyakit kanker yang diberikan kepada masyarakat dapat berpotensi menurunkan tingkat pertumbuhan kasus kanker baru (Kementerian Kesehatan, 2015). Seperti pada para penyintas kanker payudara yang membutuhkan segala informasi yang relevan mengenai penyakit kanker payudara dan bentuk pengobatan yang harus mereka dijalani (Jakobsen dkk, 2018). Hal ini kemudian akan sangat berpengaruh kepada pengambilan keputusan mereka untuk proses pengobatan dan proses pemulihan paska pengobatan (Williams & Jeanetta, 2016).

Penyintas kanker adalah istilah yang merujuk pada individu yang memiliki latar belakang pengalaman mengidap kanker di dalam hidupnya.

Penyintas kanker merupakan istilah yang diberikan kepada individu dengan latar belakang mengidap penyakit kanker. Pengalaman mengidap penyakit kanker ini dimulai sejak terdiagnosis kanker, menjalani pengobatan kanker dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sepanjang hidupnya dapat disebut sebagai penyintas kanker (Marzorati dkk, 2017). Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) istilah penyintas kanker ditujukan kepada pengidap kanker yang telah pulih kondisi fisiknya dan telah dinyatakan “bersih” dari penyakit kanker (Wronski, 2015).

Di sisi lain, potensi untuk mengidap kanker kembali atau metastasis berpotensi terjadi pada penyintas kanker yang telah dinyatakan “sembuh”

atau bersih dari penyakit kanker. Hal ini dapat diakibatkan oleh beragam faktor seperti kondisi kanker sebelumnya, kondisi lingkungan dan dampak

(27)

dari pengobatan kanker itu sendiri (Marzorati dkk, 2017). Penyakit kanker sendiri memang tidak dapat disembuhkan secara penuh dan hanya dapat dikendalikan saja yang membuat penyakit ini termasuk ke dalam penyakit kronis (Hebdon dkk, 2015). Jadi istilah penyintas kanker sudah dapat diberikan kepada individu yang baru saja terdiagnosis kanker karena sejak saat itu individu telah memiliki latar belakang penyakit kanker dalam hidupnya.

Penyintas kanker payudara sendiri merupakan individu yang telah dinyatakan terdiagnosis kanker payudara. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa wanita yang mengidap kanker payudara mengalami tekanan akibat perubahan kondisi fisik yang dirasakan setelah menjalani pengobatan kanker (Williams & Jeanetta, 2016). Para penyintas kanker payudara tidak menyukai perubahan fisiknya terutama bila hal tersebut sudah mempengaruhi penampilannya (Jakobsen dkk, 2018). Hal ini membuat para penyintas kanker payudara menjadi selektif dalam melakukan hubungan sosial (Jakobsen dkk, 2018).

Individu yang telah terdiagnosis kanker payudara akan melalui fase- fase sebagai seorang penyintas kanker. Dinyatakan bahwa tiga fase akan dilalui oleh seorang penyintas kanker yaitu fase penyintas akut, fase penyintas yang diperpanjang, dan fase penyintas permanen (Mullan, 1985).

Sepanjang fase-fase tersebut penyintas kanker melakukan adaptasi terhadap perubahan kondisi emosional, perubahan hubungan sosial dan dampak dari pengobatan medis yang mereka jalani (Marzorati dkk, 2017). Salah satu

(28)

hasil penelitian menunjukkan perubahan kondisi emosional penyintas kanker payudara setelah menyelesaikan pengobatan kankernya. Para penyintas kanker payudara akan merasa sedih bila setelah pengobatan kankernya telah selesai, mereka tidak mampu kembali melakukan kegiatan sehari-harinya lagi (Jakobsen dkk, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa baik atau buruk nya kondisi dari kesehatan psikologis seorang penyintas kanker berhubungan pada bagaimana perkembangan adaptasi mereka terhadap tekanan atau beban yang terus dirasakan (Andrykowski dkk, 2008).

Terdapat beragam tantangan atau masalah yang harus dihadapi oleh penyintas kanker payudara di dalam tiga fase penyintas kanker yang akan mereka lalui. Penyintas kanker payudara akan merasa tertekan sesaat setelah mereka terdiagnosis (Di Giacomo dkk, 2016). Hal ini dikarenakan penyintas kanker dipaksa untuk menghadapi kenyataan bahwa penyakit kanker ini berpotensi membawa mereka pada kematian. Kematian menjadi hal yang paling mereka takutkan pada fase awal penyintas kanker (Mullan, 1985).

Pada fase kedua penyintas kanker akan lebih banyak dihadapi dengan tantangan dalam melakukan peranannya di dalam kegiatan sehari- hari seperti menjadi orang tua, pasangan rekan kerja, dll (Feuerstein, 2007).

Dikarenakan Salah satu efek samping dari pengobatan kanker adalah kondisi fisik yang mudah lelah (Stanton dkk, 2015) sehingga situasi menjadi tidak menentu bagi penyintas kanker untuk dapat menjalankan kegiatannya sehari-hari (Feuerstein, 2007). Para penyintas kanker payudara juga merasakan kesulitan untuk dapat kembali menjalankan kegiatannya seperti

(29)

semula (Jakobsen dkk, 2018). Penyintas kanker sendiri memang berpotensi untuk dapat kehilangan profesi pekerjaannya bila kondisi fisiknya sudah dianggap tidak lagi mampu untuk bekerja seperti sedia kala (Andrykowski dkk, 2008).

Pada fase penyintas kanker permanen, tantangan berupa efek samping jangka panjang akibat dari pengobatan kanker harus terus dihadapi oleh para penyintas kanker payudara. Proses pemulihan diri para penyintas kanker payudara tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir, meskipun proses pengobatan kanker secara keseluruhan telah selesai dilakukan (Williams & Jeanetta, 2016). Rasa kekhawatiran dan kecemasan dalam diri para penyintas kanker juga tetap ada, karena mereka mengetahui bahwa mereka memiliki potensi untuk mengidap kanker kembali dan menjalani pengobatan kanker kembali (Marzorati dkk, 2017).

Seringkali sulit untuk memprediksi seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyakit kanker terhadap seorang individu mulai dari segi fisik, sosial dan psikologis (Seiler & Jenewein, 2019). Isu kelelahan fisik dan menurunnya kemampuan pemrosesan memori dialami oleh para penyintas kanker payudara sehingga mereka mengalami kesulitan untuk melakukan pekerjaannya dalam waktu yang lama (Jakobsen dkk, 2018).

Beberapa penyintas kanker payudara diharuskan untuk melakukan operasi mastectomy (operasi pengangkatan payudara), hal ini mengakibatkan kecenderungan citra diri yang rendah dimiliki oleh mereka (Feuerstein, 2007). Hal ini membuat penyintas kanker perlu menyesuaikan keadaan fisik

(30)

dan psikologis mereka secara positif terutama saat terdiagnosis dan menjalani pengobatan kanker (Stanton, 2015).

Resiliensi didefinisikan sebagai keadaan di mana individu dapat mengembangkan dirinya setelah mengalami kesulitan di dalam hidupnya.

Resiliensi merupakan penyesuaian diri yang positif di saat individu menghadapi pengalaman hidup yang sulit (Fletcher & Sarkar, 2013).

Resiliensi merupakan proses dengan sifat dinamis pada individu untuk dapat bertumbuh ketika bersinggungan dengan kesulitan hidup yang sangat berat (Molina dkk, 2014). Resiliensi juga dianggap sebagai hal yang mendasari individu untuk beradaptasi pada kesulitan hidup yang sangat berat (Eicher dkk, 2015).

Kesulitan-kesulitan hidup memiliki konteks yang berbeda-beda mulai dari hal sederhana di kehidupan sehari-hari sampai dengan fenomena dengan kriteria yang sangat ketat (Fletcher & Sarkar, 2013). Menyesuaikan diri dari pengalaman sulit dan menumbuhkan diri yang lebih baik dibandingkan sebelum mengalami pengalaman tersebut itulah yang disebut resiliensi (Smith dkk, 2012). Jadi resiliensi selalu memiliki hubungan yang erat dengan pengalaman hidup yang sulit.

Pada seorang individu proses dinamika resiliensi berlangsung sepanjang hidupnya dan berinteraksi dengan berbagai area kehidupan individu (Herrman dkk, 2011). Dinamika dari resiliensi bermula ketika individu menerapkan beragam cara untuk dapat menanggapi tekanan yang disebabkan pengalaman sulit hidupnya (Rutter, 2006). Individu mengalami

(31)

proses untuk dapat mengantisipasi, menyerap dan memulihkan diri dari kesulitan hidup tersebut (Cutter, 2016). Melalui proses dinamika resiliensi ini individu dapat mengatasi kesulitan yang dapat berpotensi membuatnya mengalami sebuah gangguan mental (Herrman dkk, 2011).

Proses dari dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara dipengaruhi oleh faktor-faktor pelindung. Faktor pelindung yang ada pada diri penyintas kanker dapat memunculkan resiliensi pada diri mereka (Deshields dkk, 2015). Faktor-faktor pelindung yang ada pada resiliensi penyintas kanker seperti koping (Reich dkk, 2010), optimisme (Gallagher dkk, 2019), religiusitas (Foy dkk, 2011) dan dukungan sosial (Coughlin, 2008) dapat mengembangkan kualitas hidup penyintas kanker.

Kesejahteraan sosial dan kesejahteraan psikologis merupakan dua hal penting yang ada di dalam perkembangan kualitas hidup penyintas kanker (Feuerstein, 2007). Faktor pelindung dapat dikatakan sebagai sebuah faktor kunci yang dibutuhkan oleh seorang penyintas kanker payudara untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang mereka alami (Williams

& Jeanetta, 2016).

Seorang penyintas kanker payudara yang resilien memiliki kualitas hidup yang lebih baik (Ristevska-Dimitrоvska dkk, 2015). Hal ini dibuktikan dengan tingkat kesehatan fisik dan mental pada taraf yang lebih baik dibandingkan ketika mereka baru saja terdiagnosis kanker dan menjalani pengobatan kanker (Feuerstein, 2007). Khususnya pada kesehatan mental, individu yang resilien mampu untuk menjaga

(32)

keseimbangan fungsi psikologis yang dimilikinya (Reich dkk, 2010).

Penyintas kanker payudara dapat mengurangi dampak dari emosi negatif yang dirasakannya akibat mengidap kanker (Markovitz dkk, 2015).

Pengalaman mengidap kanker menjadi sebuah pengalaman yang tidak dapat dilupakan bagi penyintas kanker. Penyintas kanker asal Amerika Serikat menceritakan perjuangannya menghadapi kanker selama kurang lebih 14 tahun sejak tahun 2008. Ia merasa terkejut saat terdiagnosis kanker dan masa pengobatan kanker adalah masa yang paling berat baginya.

Banyak gejala gangguan fisik yang dialaminya selama pengobatan berlangsung bahkan gangguan fisik tetap dialaminya setelah pengobatan telah selesai dilakukan. Melalui berbagai keinginan untuk terus bertahan hidup, dukungan dari lingkungan sosial, dan dukungan dari pihak medis membuatnya mampu untuk menghadapi berbagai gangguan fisik dan mulai menjalani hidup secara “normal” kembali. Cerita ini menunjukkan bahwa dirinya telah memiliki sudut pandang atau pemaknaan pribadi mengenai pengalamannya mengidap kanker.

Terdapat beberapa hal yang belum diketahui mengenai bagaimana para penyintas kanker payudara dapat mengatasi dan menghadapi pengalamannya mengidap kanker. Salah satunya seperti bagaimana cara penyintas kanker payudara yang mengalami kesulitan ekonomi dapat membiayai pengobatan kankernya (Williams & Jeanetta, 2016). Lalu bila ada kesulitan lain yang ditemui selama menjadi seorang penyintas kanker bagaimana strategi koping yang mereka gunakan untuk dapat mengatasi

(33)

kesulitan dan tersebut (Di Giacomo dkk, 2016). Melalui penelitian dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara ini kedua hal tersebut dapat ditemukan.

Melalui penelitian ini dapat diketahui mengenai bagaimana dinamika resiliensi yang dialami oleh para penyintas kanker payudara.

Dinamika resiliensi dari penyintas kanker dapat mengungkapkan akan apa yang sebenarnya mereka harapkan, apakah sebuah keajaiban untuk bisa sembuh, menemukan kesempatan untuk dapat melakukan sesuatu, dapat menemukan makna hidup, menghabiskan waktu yang tersisa dengan orang- orang terdekat, mempertahankan rasa nyaman atau keinginan untuk meninggal dengan tenang (Feuerstein, 2007). Kemudian dapat diketahui juga akan hal apa yang mendorong mereka untuk cenderung melakukan kegiatan yang dapat membantu para penyintas kanker lainnya (Feuerstein, 2007). Serta mengetahui bagaimana perubahan sudut pandang akan kehidupan dapat meredakan tekanan yang mereka rasakan (Seiler &

Jenewein, 2019), setelah begitu banyak tantangan yang telah mereka alami (Hebdon dkk, 2015). Beberapa hal tersebut dapat ditemukan melalui penelitian dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara ini.

Paska pengobatan kanker telah selesai dilakukan dan penyintas kanker tidak melakukannya lagi dalam jangka waktu yang panjang diyakini sebagai sebuah “remisi” atas pengalaman yang sudah mereka hadapi tersebut (Hebdon dkk, 2015). Dapat “sembuh” dari penyakit kronis seperti kanker dianggap sebagai sebuah kesempatan hidup yang kedua bagi para

(34)

penyintas kanker. Meskipun memang ada beberapa penyintas kanker yang masih terus menjalani pengobatan kanker sampai akhir masa hidupnya (Hebdon dkk, 2015). Dinyatakan bersih dari Begitu pula dengan penyintas kanker payudara yang telah dinyatakan telah bersih dari kankernya, tidak mengartikan bahwa mereka telah benar-benar terbebas dari apa yang sudah disebabkan penyakit kanker tersebut (Ristevska-Dimitrоvska dkk, 2015).

Arti dan nilai hidup penyintas kanker dapat terbentuk oleh pengalaman perubahan hidup yang mereka lalui (Deshields dkk, 2016). Makna hidup lainnya yang ada pada penyintas kanker payudara akan ditemukan di dalam penelitian dengan mengetahui proses dinamika resiliensi yang mereka miliki.

Topik penelitian dinamika resiliensi pada penyintas kanker ini penting untuk diteliti karena dapat memberikan pemahaman mengenai bagaimana dinamika resiliensi yang terjadi pada seorang penyintas kanker payudara. Penelitian dapat mengungkap harapan hidup seperti apa yang mereka inginkan setelah mengidap kanker; mengungkapkan tujuan dan makna hidup baru setelah mengidap kanker; mengungkapkan bagaimana cara mereka menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang terdekat mereka; dan mengungkapkan apa yang mereka pikirkan mengenai kematian akibat kanker. Hal ini penting untuk diketahui para ahli klinis dalam membangun intervensi yang dapat membantu penyintas kanker lainnya untuk resiliensi (Feuerstein, 2007).

(35)

Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara. Hal ini dikarenakan dengan pendekatan fenomenologi dapat terungkap bahwa seorang individu merasakan dan mengalami pengalaman yang sama hanya saja dilalui dengan cara yang berbeda (Willig, 2008). Begitu juga dengan para penyintas kanker payudara, yang memiliki caranya masing-masing untuk menghadapi tantangan dan perubahan yang dialami pada pengalamannya mengidap kanker. Melalui pendekatan fenomenologi akan terungkap secara nyata pengalaman seorang individu yang di lingkungan sekitar kita (Willig, 2008). Seperti pengalaman para penyintas kanker yang telah menjadi sebuah fenomena dengan jumlah kasus yang banyak di tengah masyarakat. Sehingga metode fenomenologi dipilih untuk digunakan dalam meneliti dinamika resiliensi yang terjadi pada para penyintas kanker payudara.

B. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana dinamika resiliensi yang ada pada penyintas kanker payudara di dalam pengalaman hidup mereka sejak terdiagnosis kanker hingga saat ini?

C. Tujuan Penelitian

Memahami dinamika resiliensi pengalaman hidup penyintas kanker payudara mulai sejak terdiagnosis kanker hingga saat ini.

(36)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan di dalam kajian ilmu psikologi berkaitan dengan dinamika resiliensi yang terjadi pada penyintas kanker payudara.

2. Manfaat praktis

a. Untuk Para Penyintas Kanker Payudara

Penyintas kanker payudara dapat mengetahui seperti apa proses dari dinamika resiliensi yang dapat mereka alami. Serta faktor pelindung apa saja yang akan dapat membantu mereka untuk menghadapi serta mengatasi berbagai tantangan yang muncul akibat dari penyakit kanker yang mereka miliki. Melalui proses dinamika resiliensi yang terungkap, para penyintas kanker payudara dapat memahami dinamika pemulihan kondisi fisik, psikologis dan sosial mereka setelah mereka terdiagnosis kanker.

b. Untuk Masyarakat Luas

Penelitian ini dapat memberikan informasi pada masyarakat luas mengenai peranannya di dalam proses dinamika resiliensi penyintas kanker payudara. Masyarakat dapat memahami seberapa besar peran yang dimiliki untuk dapat membantu para penyintas kanker payudara untuk beradaptasi dan memulihkan diri terhadap perubahan yang terjadi pada hidup mereka.

(37)

c. Untuk Individu yang Berhubungan Dekat dengan Para Penyintas Kanker Payudara

Individu dengan relasi dan hubungan yang dekat dengan para penyintas kanker payudara dapat mengetahui bahwa mereka berperan sangat penting dalam memberikan dukungan sosial. Dukungan sosial yang diberikan akan sangat berperan penting terutama ketika penyintas kanker payudara berada pada fase terdiagnosis dan menjalani pengobatan kanker.

d. Untuk Para Tenaga Profesional (Medis dan Psikologis)

Hasil penelitian ini dapat membantu para tenaga profesional dalam memberikan intervensi yang dapat membantu para penyintas kanker payudara. Melalui hasil dari penelitian ini para tenaga profesional dapat mengetahui peranan mereka di dalam proses dinamika resiliensi yang terjadi pada para penyintas kanker payudara.

e. Untuk Para Peneliti Selanjutnya

Para peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai sebuah referensi mengenai dinamika resiliensi yang terjadi pada penyintas kanker payudara. Hal ini akan memberikan manfaat untuk bagi para peneliti selanjutnya yang ingin meneliti penyintas kanker payudara berkaitan dengan proses resiliensi yang mereka alami.

(38)

17

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bagian kajian pustaka ini akan memaparkan mengenai unsur-unsur yang terdapat di dalam dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara. Hal tersebut akan dijelaskan terlebih dahulu melalui pemahaman mengenai apa itu resiliensi;

bagaimana proses dinamika resiliensi dapat terjadi; kemudian pemahaman mengenai penyintas kanker payudara; fase-fase yang akan dilalui oleh seorang penyintas kanker; dan bagaimana dinamika resiliensi yang terjadi pada penyintas kanker payudara. Maka dari itu kajian pustaka ini dijadikan dasar pemahaman akan penelitian dinamika resiliensi pada penyintas kanker payudara ini.

A. Resiliensi

1. Definisi Resiliensi

Resiliensi adalah proses adaptasi diri individu ketika menghadapi peristiwa hidup yang sulit atau berat. Resiliensi ini bersifat dinamis dengan menunjukkan bagaimana individu memiliki caranya sendiri untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi pengalaman hidup yang sulit (VanMeter & Cicchetti, 2020). Resiliensi dilakukan oleh individu untuk merespon kesulitan di dalam pengalaman hidupnya.

Pengalaman ini dapat ditemui individu pada permasalahan yang terjadi sehari-hari hingga permasalahan dalam bentuk pengalaman yang lebih kompleks (Fletcher & Sarkar, 2013) seperti mengidap suatu penyakit

(39)

tertentu (Stainton dkk, 2019). Resiliensi dapat dikatakan sebagai sebuah keadaan dimana individu dapat meningkatkan kapasitas untuk beradaptasi mengatasi perubahan dan gangguan yang dialaminya dalam hidup (Cutter, 2016).

Resiliensi melindungi individu dari potensi mengalami gangguan mental setelah Kesulitan di dalam hidup individu dapat membuatnya mengalami gangguan mental. Individu yang merasa tertekan akibat mengahdapi masalah hidup yang sulit berisiko mengalami gangguan mental (Stainton dkk, 2019). Pengalaman hidup yang sulit juga dapat membuat individu mengalami depresi (Smith dkk, 2012). Resiliensi adalah sebuah proses dimana individu berusaha bertahan dalam menghadapi tekanan yang diakibatkan oleh pengalaman hidup yang sulit (Rutter, 2006).

Proses resiliensi ini melibatkan kombinasi kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh individu dalam menyesuaikan diri.

Kombinasi dari kemampuan dan karakteristik yang dimaksud adalah seperti mengerti diri sendiri, self-esteem, sikap daya tahan diri, dan mampu menahan emosi dan perilaku negatif. Kemudian ada kemampuan interpersonal yang mencakup: kemampuan untuk bersosialisasi, mengungkapkan emosi, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri pada masalah yang dihadapi (Reich dkk, 2010).

Melalui kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh individu maka

(40)

potensi resiliensi akan muncul untuk mengatasi pengalaman hidup sulit yang sedang dihadapinya.

Beradaptasi secara positif mengartikan bahwa dampak dari adaptasi tersebut dapat menjaga keseimbangan psikologis, fisiologis, dan kehidupan sosial individu setelah menghadapi peristiwa hidup yang penuh tekanan (Reich dkk, 2010). Individu resilien dapat menemukan kesempatan untuk dapat mengembangkan diri setelah menghadapi keadaan hidup yang sangat sulit (Tusaie & Dyer, 2004). Resiliensi membuat individu dapat merasakan dampak positif setelah menghadapi pengalaman hidup yang sulit. Pemulihan kesehatan mental atau fisik pada individu yang resilien menjadi dampak positif yang dirasakan olehnya (Ryff dkk, 1998). Jadi dapat dikatakan bahwa resiliensi dapat mengatasi dampak buruk yang dirasakan oleh individu akibat dari pengalaman hidup yang sulit (Markovitz dkk, 2015).

2. Proses Terjadinya Dinamika Resiliensi

Seorang individu di dalam hidupnya berpotensi bertemu dengan banyak peristiwa atau pengalaman yang sulit. Seorang individu dapat resilien pada pada salah satu peristiwa sulit, namun belum tentu dapat resilien pada peristiwa sulit lainnya (Herrman dkk, 2011). Maka dari itu individu menerapkan beragam mekanisme untuk mempertimbangkan dampak yang akan diterimanya ketika berusaha untuk mengatasi kesulitan di dalam hidup (Rutter, 2006). Dinamika resiliensi pada individu dapat dikatakan terus berlangsung sepanjang hidupnya. Proses

(41)

ini juga bersinggungan dengan berbagai aspek yang dimiliki oleh seorang individu (Herrman dkk, 2011)

Proses dinamika resiliensi dimulai ketika individu mencoba bertahan dari suatu peristiwa yang mengganggu kondisi kestabilan kehidupannya. Gangguan ini dapat berasal dari tuntutan hidup dan peristiwa yang merubah kondisi kehidupan individu sehingga individu dapat merasa tertekan oleh karenanya (Richardson, 2002). Gangguan ini berpotensi memberikan dampak yang positif atau negatif pada diri individu (Richardson, 2002). Hal ini dikarenakan sesaat setelah gangguan tersebut dirasakan individu muncul beberapa emosi seperti rasa takut, rasa sakit hati dan perasaan bersalah. Kemudian individu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri mengenai bagaimana caranya untuk mampu mengatasi gangguan yang dialaminya tersebut (Richardson, 2002).

Proses dinamika resiliensi dilakukan oleh individu untuk dapat mengembalikan kestabilan hidupnya setelah berhadapan dengan peristiwa sulit. Kondisi ketika individu mengalami keseimbangan/kestabilan hidupnya secara fisik dan mental dinamakan dengan homeostasis. (Fletcher & Sarkar, 2013; Tusaie & Dyer, 2004).

Mampu mencapai homeostasis kembali menandakan bahwa individu mampu mengatasi dan beradaptasi atas peristiwa yang mengganggu hidupnya tersebut (Richardson, 2002). Individu yang resilien menunjukkan memiliki kecenderungan untuk mengendalikan

(42)

masalahnya dibandingkan dengan menghindarinya (Rutter, 2006).

Homeostasis biopsikospiritual (fisik, mental dan spiritual) diperoleh individu ketika mampu beradaptasi atas gangguan yang mungkin saja menjadi salah satu peristiwa tersulit di dalam hidupnya (Richardson, 2002; Tusaie & Dyer, 2004).

Maka dari itu individu melakukan reintegrasi untuk mengembalikan kondisi homeostasis biopsikospiritual di dalam dirinya. Proses reintegrasi ini bertujuan untuk membuat individu kembali pulih atau berkembang dengan melewati gangguan dalam hidupnya tersebut. Proses ini tidak lepas dari peran faktor pelindung individu yang membantunya mengatasi gangguan tersebut (Richardson, 2002). Berikut ini merupakan empat proses reintegrasi yang kemungkinan dapat dialami oleh individu (Fletcher & Sarkar, 2013;

Richardson, 2002):

a. Reintegrasi resiliensi, Protektif faktor yang dimiliki individu membuatnya mampu untuk resiliensi sehingga dapat kembali mencapai tingkat homeostasis sebelumnya atau bahkan lebih tinggi.

b. Reintegrasi homeostasis, merupakan keadaan ketika individu kembali ke zona nyaman yang stabil sehingga membuatnya merasa mampu untuk melewati gangguan atau masalah yang sedang dihadapi.

c. Reintegrasi dengan kerugian, merupakan saat di mana gangguan atau masalah yang dilalui membuat individu kehilangan faktor

(43)

pelindung yang dapat membantunya mengatasi gangguan tersebut.

Hal ini dapat membuat individu masuk ke dalam tingkat homeostasis yang lebih rendah dari pada sebelumnya.

d. Reintegrasi bermasalah, merupakan saat individu melakukan penyesuaian diri yang kurang tepat untuk mengatasi gangguannya.

Individu justru lebih menunjukkan sifat atau perilaku yang merusak terutama untuk dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh kegagalan individu dalam introspeksi diri untuk menemukan cara mengatasi gangguan tersebut. Diperlukan adanya tindakan dari tenaga profesional untuk membantu individu tersebut.

B. Penyintas kanker

WHO (2008) mengungkapkan bahwa penyintas kanker merupakan individu yang terdiagnosis kanker, menjalani pengobatan kanker dan telah dinyatakan “sembuh” dari penyakit tersebut. “Sembuh” disini diartikan sebagai tahap dimana kondisi kesehatan (fisik dan psikis) yang telah kembali pulih dan tidak lagi memiliki gejala simtom penyakit kanker.

Seorang penyintas kanker juga dianggap memiliki risiko yang rendah untuk kembali mengidap kanker. Dengan kata lain menurut WHO penyintas kanker merupakan individu yang sudah tidak lagi memiliki gejala kanker di dalam tubuhnya dan berhasil pulih dari dampak yang ditimbulkan oleh penyakit dan pengobatan kanker tersebut.

Di sisi lain, penyintas kanker secara umum juga dapat diberikan kepada individu yang terdiagnosis kanker. Istilah penyintas kanker sendiri

(44)

merupakan bentuk identitas baru dari individu yang memiliki latar belakang kanker. Hal ini diawali dari terdiagnosis kanker terlebih dahulu. Identitas sebagai penyintas kanker akan terus melekat pada diri individu tersebut mulai dari terdiagnosis, menjalani pengobatan kanker, dan perjalanan hidupnya paska pengobatan kanker. Memiliki identitas sebagai penyintas kanker sendiri juga sebagai media yang digunakan individu untuk mengingat pengalaman kanker yang telah dilaluinya (Wronski, 2015a).

Melalui pengalaman tersebut penyintas kanker akan menghadapi tantangan- tantangan yang kemudian akan memberikan dampak positif atau negatif di dalam hidup mereka. Hal ini yang membuat istilah penyintas kanker tidak hanya menggambarkan bahwa mereka memiliki latar belakang penyakit kanker (Hebdon dkk, 2015). Jadi penyintas kanker adalah individu dengan latar belakang pengalaman hidup mengidap penyakit kanker dengan segala dampak yang ditimbulkannya.

Telah disinggung sebelumnya bahwa istilah penyintas kanker ini dapat juga disematkan kepada mereka yang masih menjalani pengobatan kanker sampai sepanjang hidup mereka. Beberapa bahkan tidak mengetahui sampai kapan pengobatan kanker tersebut akan mereka jalani (Feuerstein, 2007). Bisa menjalani pengobatan kanker jangka pendek setelah menjalani pengobatan utama dianggap sebagai bentuk remisi di dalam hidup mereka.

(Hebdon dkk, 2015). Hal ini yang menunjukkan bahwa tahap pengobatan kanker merupakan bagian yang sangat penting di dalam pengalaman para penyintas kanker.

(45)

Perlu diketahui juga bahwa tidak semua individu yang mengidap kanker mengerti definisi dari istilah atau memaknai diri mereka sendiri sebagai seorang “penyintas kanker”. Hal ini dikarenakan memang tidak semua individu dengan latar belakang penyakit kanker menggunakan istilah penyintas kanker sebagai bentuk identitas mereka (Hebdon dkk, 2015).

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ada beberapa pengidap kanker yang merasa bahwa istilah penyintas kanker kurang sesuai disematkan pada diri mereka. Hal ini dikarenakan istilah tersebut mereka anggap kurang sesuai dengan pengalaman mereka yang tidak benar-benar sangat mematikan. Namun tetap ada individu yang menggunakan istilah penyintas kanker yang disematkan ke dalam identitas mereka karena telah berhasil melalui serangkaian proses hingga sampai ke tahap tertentu di dalam pengalaman mereka (Khan dkk, 2012).

Penting bagi peneliti untuk mengetahui definisi dari penyintas kanker, meskipun terdapat beragam definisi mengenai siapa itu sebenarnya penyintas kanker atau bagaimana istilah penyintas kanker dimaknai oleh pengidap kanker itu sendiri. Melalui definisi tersebut peneliti dapat memahami bagaimana penyintas kanker melalui proses yang terjadi di dalam pengalaman kanker mereka mulai dari terdiagnosis kanker hingga paska menjalani pengobatan kanker (Marzorati dkk, 2017). Hal ini juga dapat membantu peneliti untuk memahami bagaimana istilah penyintas kanker diinterpretasikan oleh pengidap kanker itu sendiri. Karena ada yang menolak dan menerima untuk dinyatakan sebagai seorang penyintas kanker

(46)

(Khan dkk, 2012). Jadi menjadi hal yang penting bagi peneliti untuk memahami bagaimana definisi dari penyintas kanker untuk memahami pengalaman mereka di dalam penelitian ini.

C. Fase-Fase Penyintas Kanker

Penyintas kanker akan melalui beberapa fase di dalam pengalamannya mengidap kanker. Fase penyintas kanker berkaitan erat dengan proses yang terjadi di dalam pengalaman kanker mereka mulai dari terdiagnosis kanker hingga hidup dengan efek samping dari penyakit dan pengobatan kanker itu sendiri sepanjang hidup mereka. Di dalam fase-fase ini para penyintas kanker sangat dekat dengan hadirnya efek samping pengobatan kanker, gejala atau simtom penyakit yang masih dirasa membebani, perubahan ketika menjalankan peran sosial, dan keadaan tingkat kesejahteraan hidup yang mereka miliki (Wronski, 2015).

Memahami fase-fase ini akan membantu dalam menemukan kebutuhan yang secara umum dibutuhkan oleh penyintas kanker (Hebdon dkk, 2015). Kebutuhan ini sangat penting untuk dapat dipenuhi, karena transisi yang terjadi dalam fase-fase penyintas kanker ini merupakan sesuatu yang sangat kritikal. Kebutuhan yang sangat diperlukan oleh penyintas kanker adalah seperti kemampuan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh pengobatan kanker, memperbaiki gaya hidup mereka menjadi gaya hidup yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan hidup yang mereka miliki (Wronski, 2015).

Berikut ini adalah fase-fase yang aksan dilalui penyintas kanker:

(47)

1. Fase Awal Penyintas Kanker

Fase ini diawali ketika penyintas kanker baru saja terdiagnosis kanker (ASCO, 2011). Terdiagnosis mengidap kanker membuat individu merasakan cemas dan khawatir akan potensi kematian yang dapat ditimbulkan oleh penyakit kanker mereka. (Mullan, 1985). Terdiagnosis kanker juga menyebabkan penyintas kanker kehilangan harapan untuk dapat hidup dengan waktu yang lebih lama lagi (Mullan, 1985). Pada individu yang mengidap kanker payudara juga mengungkapkan emosi negatif (rasa marah) setelah terdiagnosis kanker (Di Giacomo dkk, 2016).

Fase awal ini juga mencakup masa pengobatan kanker yang harus dilalui oleh penyintas kanker. Pada fase ini para penyintas kanker juga mulai menjalani pengobatan kanker secara rutin (ASCO, 2011). Fase ini mengawali pengalaman kanker yang harus mereka jalani dengan tantangan-tantangan yang harus dihadapi (Stanton dkk, 2015).

Tantangan-tantangan yang akan mereka hadapi di dalam fase ini adalah efek samping pada fisik yang ditimbulkan karena pengobatan kanker (seperti: kemoterapi, radiologi dan melakukan pembedahan operasi) yang harus mereka jalani. Pengobatan kanker ini membuat penyintas kanker merasakan rasa sakit dan perubahan fisik lainnya (seperti kerontokan rambut), sehingga membuat mereka tidak merasa nyaman dengan kondisi tubuh mereka sendiri (Mullan, 1985). Perubahan fisik ini juga membuat penyintas kanker mengalami isu kepercayaan diri ketika

(48)

melakukan aktivitas hubungan sosial (Stanton dkk, 2015). Hal ini terjadi pada penyintas kanker payudara

Dukungan dibutuhkan oleh para penyintas kanker saat terdiagnosis dan menjalani pengobatan kanker. Pada fase awal ini penyintas kanker sangat membutuhkan dukungan sosial terutama dari keluarga mereka (Mullan, 1985). Seperti pada para penyintas kanker payudara yang yang mendapatkan kekuatan ketika menjalani pengobatan kanker setelah mendapatkan dukungan dari anggota keluarga mereka (Williams & Jeanetta, 2016). Maka dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh seorang penyintas kanker pada fase awal ini.

2. Fase penyintas Jangka Panjang

Fase selanjutnya adalah penyintas jangka panjang yang akan dilalui oleh penyintas kanker ketika dampak dari pengobatan mereka akan sangat mereka rasakan di dalam hidup mereka. Fase ini biasanya akan dimulai setelah penyintas kanker selesai menjalani pengobatan kankernya yang utama (ASCO, 2011). Pengobatan kanker yang dilakukan secara rutin dalam waktu yang telah ditentukan masih tetap dilakukan oleh para penyintas kanker di fase ini. Beberapa penyintas kanker lainnya juga tetap menjalani pengobatan kanker secara intensif, meskipun pengobatan utamanya telah selesai. Ini merupakan fase dimana penyintas kanker mulai benar-benar hidup dengan segala efek samping yang diberikan oleh penyakit dan pengobatan kanker itu sendiri (Marzorati dkk, 2017).

(49)

Perasaan cemas juga dirasakan oleh penyintas kanker pada fase ini karena mereka memiliki potensi untuk mengidap kanker kembali (Stanton dkk, 2015). Mereka merasa cemas karena jika mereka kembali mengidap kanker maka mereka harus melalui pengalaman yang sama seperti fase sebelumnya yaitu terdiagnosis kanker dan menjalani pengobatan kanker beserta efek samping fisik dan psikis yang sama akan mereka rasakan kembali (Mullan, 1985).

Penyintas kanker akan merasa mendapat “remisi” atau perasaan beban yang diringankan atas penyakit kankernya ketika dirinya mendapatkan prognosis medis yang positif setelah menjalani serangkaian pengobatan kanker yang intensif. Penyintas kanker yang mencapai tahap ini perlu mendapatkan tindak lanjut untuk mempertahankan kondisi kesehatannya yang mulai membaik (Marzorati dkk, 2017).

Kondisi kesehatan fisik penyintas kanker yang tak kunjung membaik dapat memberikan dampak pada hubungan sosial dan psikis.

Hubungan sosial yang dimaksud adalah relasi dengan anggota keluarga, anggota komunitas dan rekan kerja di tempat mereka bekerja. Gangguan psikologis mulai dari yang ringan (kecemasan) hingga yang berat (depresi) dapat mereka rasakan oleh karena kondisi kesehatan fisik mereka yang buruk (Mullan, 1985).

Pada fase ini dapat dikatakan bahwa penyintas kanker sedang berusaha untuk memulai kembali menjalani kehidupannya dengan efek samping dari pengobatan kanker yang masih merek rasakan. Penyintas

(50)

kanker sangat membutuhkan dukungan pelayanan profesional (medis dan psikologis) untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan perubahan kesehatan fisik yang mereka miliki pada fase ini (Mullan, 1985). Jadi pada fase penyintas jangka panjang ini, penyintas kanker berpotensi merasakan hasil positif atau hasil negatif dari pengobatan kanker yang sudah mereka jalani.

3. Fase Penyintas Permanen

Fase penyintas permanen adalah saat dimana penyintas kanker telah dinyatakan “sembuh” dari penyakit kankernya (Mullan, 1985).

Penyintas kanker pada umumnya akan memasuki fase ini lima tahun sejak terdiagnosis kanker untuk pertama kalinya (Stanton dkk, 2015).

Pada umumnya setelah memasuki fase ini penyintas kanker sudah tidak lagi melakukan pengobatan kanker secara intensif (ASCO, 2011).

Penyintas kanker akan dinyatakan bersih dari kanker dan kemungkinan besar tidak lagi ditemukan potensi untuk kembali mengidap kanker (Marzorati dkk, 2017). Penyintas kanker dianggap telah berhasil mengalahkan penyakit kanker mereka setelah menjalani pengalaman kanker yang sudah memberikan kesan positif maupun negatif di dalam hidup mereka (Mullan, 1985). Pada fase ini penyintas kanker juga sudah tidak lagi begitu merasakan gangguan fisik akibat penyakit dan pengobatan kanker mereka (Mullan, 1985).

Penyintas kanker memang memiliki potensi untuk “sembuh” pada fase ini, namun ada kemungkinan lain yang berpotensi dapat mereka

(51)

alami. Beberapa penyintas kanker ada yang tetap merasakan gangguan fisik akibat efek samping pengobatan kanker mereka (Stanton dkk, 2015). Hal ini menyebabkan penyintas kanker tetap menjalani pengobatannya meski sudah tidak intensif seperti sebelumnya (Stanton dkk, 2015). Selain gangguan fisik, penyintas kanker juga berpotensi mengalami isu finansial akibat biaya pengobatan kanker yang sangat tinggi bagi sebagian besar individu (Marzorati dkk, 2017). Hal ini dikarenakan tidak semua penyintas kanker mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan selama menjalani pengobatan kanker. Asuransi kesehatan pada umumnya diperoleh dari tempat mereka bekerja. Bila tidak ada bantuan asuransi kesehatan maka penyintas kanker kemungkinan besar harus menanggung sendiri seluruh biaya pengobatan kanker mereka (Mullan, 1985).

Penyintas kanker terancam tidak dapat meningkatkan jenjang karir mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini tentu saja berkaitan dengan pertimbangan kondisi kesehatan mereka setelah menjalani pengobatan kanker (Mullan, 1985). Sebuah penelitian pada penyintas kanker payudara mengungkapkan bahwa mereka sangat kesulitan untuk dapat bekerja dengan optimal. Penyintas kanker payudara merasakan penurunan kemampuan daya ingat setelah menjalani pengobatan kanker (Jakobsen dkk, 2018). Performansi kerja yang menurun ini kemungkinan menjadi alasan mengapa penyintas kanker tidak dapat meningkatkan jenjang karir mereka.

(52)

Potensi untuk mengidap kanker untuk yang kedua kalinya tetap dapat terjadi pada fase ini. Terdapat faktor-faktor yang dapat membuat penyintas kanker dapat kembali terdiagnosis kanker untuk yang kedua kalinya. Faktor genetik dan kondisi lingkungan penyintas kanker dapat memicu mereka untuk kembali mengidap kanker. Kemudian faktor pengobatan kanker mereka yang pertama juga dapat menjadi pemicu munculnya kanker kedua di dalam tubuh mereka. Bila kanker kedua yang muncul adalah dampak dari kanker yang pertama maka penyintas kanker belum dapat dikatakan telah sampai di fase penyintas permanen. Hal ini dikarenakan mereka belum benar-benar bersih dari penyakit kanker mereka yang pertama (Marzorati dkk, 2017).

Setiap fase yang dilalui oleh penyintas kanker akan memberikan efek samping pada kondisi fisik dan psikologis mereka. Dapat dikatakan bahwa penyintas kanker memasuki kenormalan baru di dalam hidup mereka akibat terjadinya perubahan kondisi interpersonal, intrapersonal dan fisik yang mereka alami (Hebdon dkk, 2015). Secara garis besar terdiagnosis kanker untuk yang kedua kalinya menjadi kekhawatiran yang hampir selalu hadir pada pengalaman penyintas kanker.

Perubahan kondisi kesehatan fisik akibat efek samping akibat pengobatan kanker mereka dapat dikatakan hampir tidak dapat dihilangkan bahkan setelah bertahun-tahun tidak lagi menjalani pengobatan kanker.

Beberapa isu seperti finansial dan pekerjaan juga menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh beberapa penyintas kanker karena berpengaruh

(53)

terhadap keberlangsungan hidup mereka. Melalui fase pengalaman penyintas kanker ini dapat dilihat bahwa mereka harus menjalani proses pengalaman hidup yang berat.

D. Faktor Pelindung Resiliensi Pada Penyintas Kanker

Faktor pelindung berperan penting di dalam proses dinamika resiliensi seorang individu. Proses dinamika resiliensi adalah ketika individu yang sedang berusaha untuk mendapatkan kembali kondisi kesehatan mental setelah mengalami pengalaman yang sulit (Herrman dkk, 2011). Akibat dari resiliensi yang bersifat dinamis maka beragam faktor pelindung dapat digunakan oleh individu sesuai dengan kebutuhannya dalam mengatasi kesulitan hidup (Stainton dkk, 2019). Faktor pelindung dapat bersumber dari faktor psikologis dan dukungan sosial (Herrman dkk, 2011). Individu dapat memutuskan kapan sumber daya yang dimilikinya sebagai faktor pelindung ini akan digunakan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya (Stainton dkk, 2019) Hal ini menunjukkan bahwa Individu sangat membutuhkan faktor pelindung untuk mendapatkan kekuatan melawan dan menyesuaikan diri di saat mengalami keadaan hidup yang sulit (Smith dkk, 2012).

Kehadiran faktor pelindung membuat penyintas kanker dapat mempertahankan dan mengembalikan keseimbangan psikologis dan fisik (Deshields dkk, 2016). Resiliensi pada penyintas kanker lebih berfokus pada faktor pelindung yang akan mendukung mereka menyesuaikan diri selama mengidap kanker (Pengalaman terdiagnosis kanker, menjalani pengobatan

(54)

kanker & Pemulihan dari kanker) (Seiler & Jenewein, 2019). Faktor pelindung resiliensi kepada para penyintas kanker bersumber dari faktor personal dan faktor lingkungan yang mereka (Eicher dkk, 2015).

Kehadiran faktor pelindung menentukan kualitas resiliensi individu.

Hal ini dikarenakan faktor pelindung dapat memberikan manfaat bagi individu dalam mengatasi gangguan yang dihadapinya (Stainton, dkk.., 2019). Faktor pelindung yang kurang memadai dapat menyebabkan individu kembali mengalami gangguan (Richardson, 2002). Bagaimana gangguan di dalam hidup dapat diatasi oleh individu bergantung pada faktor pelindung yang dimilikinya (Stainton dkk, 2019). Maka dari itu faktor pelindung sangat diperlukan dalam proses resiliensi.

Kondisi mental individu dan situasi lingkungan yang ada di sekitarnya mempengaruhi ketersediaan faktor pelindung ketika peristiwa sulit sedang dihadapi (Deshields dkk, 2016). Kehadiran dari faktor pelindung mampu untuk meredam risiko individu mengalami gangguan psikologis ketika menghadapi tantangan hidup yang berat. (Stainton dkk, 2019). Maka dari itu berikut ini merupakan beberapa faktor pelindung dari dinamika resiliensi pada seorang penyintas kanker payudara:

1. Dukungan sosial

Faktor di luar diri individu yang mempengaruhi resiliensi adalah dukungan sosial. Individu yang resilien dapat mempererat dukungan sosial, menjadi orang yang lebih terbuka dan lebih mudah di dalam membangun relasi pertemanan (Reich dkk, 2010). Melalui hadirnya

(55)

dukungan sosial para penyintas kanker mampu untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Memperoleh dukungan sosial dapat meningkatkan kesejahteraan hidup akan meningkat ketika penyintas kanker menemukan relasi ketika memperoleh dukungan sosial dari lingkungannya (Seiler & Jenewein, 2019). Memperoleh dukungan sosial juga dapat mempengaruhi cara mereka merespon (Deshields dkk, 2016), dan mengatasi beban serta tekanan (Andrykowski dkk, 2008) yang ditimbulkan oleh pengalaman kanker mereka. Hal ini didukung juga oleh hasil penelitian penyintas kanker di yang menunjukkan bahwa resiliensi memiliki keterkaitan secara signifikan dengan dukungan sosial (Min dkk, 2013). Kehadiran dukungan sosial dari keluarga penyintas kanker sendiri sangatlah penting, terutama ketika menjalani masa-masa pengobatan kanker (Mullan, 1985).

Dukungan sosial juga berguna bagi para penyintas kanker untuk mendapatkan informasi seputar kanker. Dukungan sosial yang berasal dari tenaga profesional sangat dibutuhkan untuk membantu penyintas kanker menyesuaikan diri terhadap kondisi fisiknya paska menjalani pengobatan kanker (Mullan, 1985). Tenaga profesional dapat menjadi penyalur informasi penting bagi penyintas kanker mengenai pengobatan kanker yang dijalaninya (Jakobsen dkk, 2018). Informasi yang didapatkan oleh para penyintas kanker tersebut dapat meningkatkan kondisi kesehatan mereka (Coughlin, 2008). Maka dari itu tenaga

Gambar

Tabel 1. Panduan Wawancara Semi Terstruktur  ...........................................
Gambar 1. Dinamika resiliensi pada penyintas kanker ....................................

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat 4 aspek dalam dinamika psikologis dukungan suami pada istri yang sedang menjalani pengobatan pasca operasi kanker payudara

Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi dinamika konsep diri wanita dewasa madya yang terdiagnosa kanker payudara dan sudah melakukan mastektomi sejak masa

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ting- kat pendidikan dengan resiliensi penyintas bencana banjir Indramayu di Desa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang berpengaruh terhadap resiliensi wanita penyintas erupsi Merapi 2010 adalah nilai kebersamaan,

Tujuan dari penelitian ini selain menitikberatkan pada proses segmentasi wilayah kanker payudara dengan wilayah non kanker, hasil segmentasi yang diperoleh dari

dengan sikap yang ditunjukkan oleh survivor kanker payudara yaitu memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa mereka dapat sembuh dari kanker, selain itu

Hal tersebut terjadi kepada mereka disebabkan karena terlambatnya untuk melakukan pemeriksaan dini kanker payudara, kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap deteksi dini

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kualitas hidup pasien kanker payudara dengan pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi di RSUP