• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

1. Informan YF/41 Tahun

a. Proses Metastasis karena kesalahan diagnosis

Informan YF mengalami metastasis sebelum dirinya terdiagnosis. Pada awalnya informan YF menyadari adanya benjolan pada payudaranya. Kemudian informan YF memeriksakan diri ke dokter di Puskesmas mengenai kondisinya. Dokter mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan benjolan tersebut

disentuh.

Informan YF secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan pada kakinya dan merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggungnya. Hal ini terjadi sehari setelah Informan YF melakukan pemeriksaan di Puskesmas. Informan YF dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pengecekan secara menyeluruh dan ditemukan bahwa ternyata terdapat persebaran sel kanker yang mencengkeram bagian tulang punggung informan YF sehingga dirinya mengalami kelumpuhan kaki. Persebaran sel kanker juga terjadi hingga ke rahim, kelanjar getah bening dan juga terjadi sedikit persebaran di otak. Kemudian diketahui bahwa informan YF sebenarnya mengidap kanker payudara, namun karena penanganan yang terlambat terjadi metastasis ke beberapa bagian sel tubuh lainnya.

Hasil pemeriksaan ini membuat Informan YF terdiagnosis kanker payudara stadium 4.

b. Menjalani penanganan kanker

Informan YF melakukan pengobatan kanker di rumah sakit khusus kanker Dharmais di Jakarta. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi dokter di rumah sakit lain yang sanggup menangani kondisi informan YF. Bersama dokter yang ada di rumah sakit tersebut informan YF melakukan serangkaian tindakan yang diawali dengan mengatasi persebaran yang terjadi di tulang belakang informan YF.

kembali. Kemudian informan YF melakukan operasi mastektomi (operasi pengangkatan payudara) untuk mengangkat kanker payudaranya yang sudah stadium 4. Beberapa waktu setelahnya Informan YF juga melakukan operasi pengangkatan rahim dikarenakan sel kankernya juga sudah menginfeksi rahimnya.

Sedangkan persebaran sel kanker yang terjadi di otak tidak dapat dilakukan banyak tindakan karena risiko yang ditimbulkan sangat besar. Informan bisa mengalami gangguan kognitif jika seandainya operasi tersebut dilakukan.

Informan YF juga menjalani pengobatan kemoterapi sebanyak 18 kali dan radiasi sebanyak 30 kali. Informan YF mengakui bahwa dirinya telah melakukan beberapa kali proses kemoterapi dan radiasi sehingga dirinya sudah lupa jumlah pasti berapa kali dirinya menjalani pengobatan kemoterapi dan radiasi.

c. Rintangan yang ditemukan saat menjalani pengobatan kanker Informan YF mengalami beberapa rintangan di saat menjalani pengobatan kanker. Isu finansial menjadi rintangan yang selalu dihadapi oleh informan. Pengobatan kemoterapi memerlukan pengeluaran biaya yang sangat besar, informan YF memperkirakan satu kali kemoterapi dirinya harus mengeluarkan biaya sebesar 15 juta. Pada waktu informan YF menjalani 18 kali kemoterapi yang

kali kemoterapi yang dilakukan informan YF. Sedangkan 10 kali kemoterapi selanjutnya harus dibiayai sendiri oleh informan.

Kondisi perekonomian informan YF tidaklah cukup untuk membiayai pengobatannya ini, maka dari itu adik informan YF menjual rumahnya untuk membantu membiayai pengobatan informan YF. Seiring berjalannya waktu pengobatan informan YF juga harus melakukan peminjaman uang untuk dapat membiayai pengobatannya terebut.

Tantangan lainnya yang dirasakan oleh informan YF adalah waktu yang lama untuk bisa berobat. Informan YF adalah pasien kanker yang mendapatkan jaminan pengobatan dari BPJS, maka dari itu dirinya harus mengikuti prosedur yang berlaku. Butuh waktu yang lama untuk mengikuti prosedur tersebut dikarenakan ada begitu banyak pasien kanker yang juga menanti untuk bisa berobat.

Informan dan adiknya harus datang subuh ketika mereka ingin berobat ke rumah sakit Dharmais, karena jika tidak datang subuh mereka tidak akan mendapat nomor antrian untuk berobat.

Informan YF dan adiknya juga pernah mengalami kesulitan untuk mendapatkan rumah sakit yang menyediakan alat untuk melakukan bone scan. Hal ini membuat mereka hampir menyerah karena hampir di setiap rumah sakit yang mereka kunjungi. Tidak ada yang menyediakan alat tersebut atau alat nya sedang rusak.

Informan memperoleh dukungan sosial dari adiknya yang sangat berperan penting membantu informan YF untuk bisa menjalani pengobatan kankernya. Informan YF merasa ini adalah bentuk balas budi yang dilakukan oleh adiknya karena dulu informan YF pernah membantu adiknya tersebut ketika sedang mengahdapi masalah. Adik informan YF menjadi pendamping informan YF mulai dari terdiagnosis kanker hingga informan YF meninggal dunia.

e. Mendapat bantuan pengobatan

Informan YF mulai mendapatkan jaminan pengobatan BPJS sejak tahun 2015. Separuh dari biaya pengobatan informan YF ditanggung oleh BPJS, meskipun harus melewati serangkaian prosedur terlebih dahulu yang sedikit memakan waktu. Informan YF juga sempat mendapatkan bebas biaya operasi yang sepenuhnya ditanggung oleh dokter yang mengoperasi informan YF.

f. Munculnya keinginan untuk membantu orang lain

Setelah informan YF mengidap kanker, muncul sebuah keinginan dari dalam dirinya untuk bisa membantu orang lain yang dianggapnya membutuhkan. Informan YF mengungkapkan bahwa muncul dorongan dari dalam dirinya untuk bisa berbuat baik pada orang lain. Informan YF berjualan untuk bisa mendapatkan penghasilan, namun seringkali dirinya menggunakan penghasilan

YF pernah membelikan beberapa temannya sebuah kursi roda yang dibeli dengan uangnya sendiri.

Informan YF juga pernah mengadakan penggalangan dana melalui sebuah platform untuk membantu seorang pemulung yang mengidap kanker payudara di sekitar rumahnya. Meskipun pada akhirnya informan YF mendapatkan pengalaman yang kurang baik melalui penggalangan dana ini. Kemudian informan YF memutuskan untuk membantu orang lain semampu yang ia bisa bantu, jika tidak maka dirinya akan mengatakan secara jujur bahwa dirinya tidak dapat membantu.

g. Memiliki impian untuk menyebarkan emosi positif kepada banyak orang

Sebagai seorang penyintas kanker informan memiliki cita-cita untuk menyebarkan perasaan cinta kepada para pengidap kanker. Informan YF menggunakan istilah “virus cinta” sebagai bentuk emosi positif yang ingin dibagikannya. Bagi informan YF perasaan cinta merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penyintas kanker. Informan YF ingin membuka mata hati banyak orang melalui cita-citanya tersebut. Untuk merealisasikan impiannya tersebut Informan YF memproduksi barang seperti Hoodie dengan tulisan yang memberikan ajakan untuk menyemangati para penyintas kanker.

a. Masa terdiagnosis kanker

Informan NI terdiagnosis kanker payudara setelah dirinya memeriksakan benjolan yang muncul pada payudaranya di akhir tahun 2015. Informan NI mencari dokter terbaik yang bisa dihubunginya di Indonesia untuk bisa memeriksa apa yang ada di dalam payudaranya. Awalnya hanya diduga kista bukan kanker, namun setelah dilakukan operasi barulah diketahui bahwa informan NI mengidap kanker.

b. Merasa tidak percaya diri

Kepercayaan diri informan menurun ketika dirinya mengalami efek samping pada fisik yang ditimbulkan oleh pengobatan kemoterapi dan radioterapi yang dijalani informan NI.

Perasaan tidak percaya diri Informan NI muncul karena dirinya merasa tidak berdaya. Sebelum mengidap kanker informan NI dikenal anaknya sebagai sosok pribadi yang kuat. Informan NI juga tidak ingin anaknya melihat dirinya tanpa rambut di kepala. Ketika berada di dalam rumah, informan NI selalu menutupi kepalanya dengan syal dan hanya melepasnya ketika berada di dalam kamar saja.

c. Menutup diri dari keluarga

Rasa tidak percaya diri informan NI membuat dirinya memutuskan untuk menutup diri dari keluarganya. Informan NI

kamarnya tersebut. Perasaan tidak berdaya dan menilai bahwa anggota keluarganya tidak dapat memahami apa yang dirasakannya membuat menjadi alasan informan NI menutup diri dari keluarganya. Informan NI menilai bahwa anggota keluarganya hanya kasihan saja dengan kondisinya waktu itu dan tidak memahami perasaan yang dimilikinya. Informan mulai menutup dirinya saat merasakan efek dari kemoterapi yang pertama kali.

d. Muncul semangat hidup kembali setelah memperoleh perhatian dari anak

Suatu kali informan NI tidak sengaja lupa untuk mengunci pintu kamarnya ketika sedang dalam masa menutup diri dari keluarganya. Kemudian anak informan NI masuk ke dalam kamar dan melihatnya sedang tidak menutup kepalanya, hal ini membuat informan NI sangat terkejut. Informan NI merasa tidak siap bertemu dengan anaknya dengan kondisi seperti itu. Anak informan NI memberikan semangat kepadanya untuk tetap kuat. Informan NI tidak menduga bahwa ternyata anggota keluarganya masih menyayanginya. Semenjak saat itu anak informan NI menjadi sering tidur dan menyemangatinya. Kemudian informan NI memutuskan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya kembali.

Ketika informan NI terdiagnosis kanker dan sedang menjalani kemoterapi, dirinya masuk dan menjadi anggota salah satu komunitas kanker payudara. Sebelumnya informan NI memang sudah memiliki niat untuk bergabung di dalam komunitas sebelum terdiagnosis kanker. Hal ini dikarenakan informan NI merasa sudah waktunya bagi dirinya untuk membantu orang-orang yang tidak seberuntung informan NI. Beberapa kali informan NI mendaftar menjadi volunteer beberapa komunitas, namun tidak ada yang menerimanya. Pada akhirnya Informan NI diterima menjadi anggota salah satu komunitas kanker payudara setelah dirinya terdiagnosis kanker.

Di dalam komunitas ini informan NI merasa dipahami oleh para anggota komunitas lainnya yang juga merupakan seorang penyintas kanker payudara. Bagi informan NI para anggota lainnya juga mengalami penderitaan yang sama sepertinya. Informan NI saat ini telah diangkat menjadi bagian Hotline Service untuk menanggapi segala bentuk informasi yang akan diterima oleh komunitas. Selama menjalani peran sebagai Hotline Service informan NI banyak menerima konsultasi dari para pengidap kanker lainnya. Hal ini justru membuat informan NI merasa miris dan prihatin dengan kenyataan di lapangan. Informan NI menemukan bahwa masih banyak pengidap kanker payudara yang tidak mau melakukan

terbawa suasana ketika mengetahui ada pengidap kanker yang ada dalam kondisi yang cukup parah dan tidak memiliki biaya untuk berobat, namun informan NI tidak dapat membantu mereka dalam hal ini. Pimpinan komunitas selalu mengingatkan informan NI untuk tidak terbawa suasana. Pimpinan komunitas dan informan NI juga mencoba untuk menguatkan kembali persebaran sosialisasi mengenai kanker payudara kepada masyarakat.

f. Tidak percaya dengan pengobatan alternatif

Informan NI dan seluruh anggota yang ada di dalam komunitas tidak mempercayai khasiat dari pengobatan alternatif.

Bagi Informan NI, sesuatu yang tidak melewati uji klinis tidak dapat dipercaya, sama halnya dengan melakukan pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker. Informan NI menemui beberapa anggota komunitas yang melakukan pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kankernya justru menjadi semakin parah dan lanjut ke stadium selanjutnya. Salah satu teman informan NI juga ada yang meninggal karena lebih mengutamakan melakukan pengobatan alternatif.

3. Informan EW/53 Tahun

a. Merasakan efek samping dari pengobatan kanker

Setelah dan selama menjalani pengobatan kanker, informan EW merasakan efek samping seperti kelelahan fisik dan kerontokan

bisa bekerja sebagai perawat. Informan EW juga seringkali merasakan perasaan yang tidak karuan pada tubuhnya setelah selesai melakukan kemoterapi. Informan EW bahkan hampir memutuskan untuk berhenti menjalani pengobatan kemoterapi, namun suaminya menguatkan informan EW untuk mau kembali melanjutkan pengobatannya. Kelelahan fisik yang dialami oleh informan EW juga berdampak pada divisi perawat tempatnya bertugas. Pada akhirnya informan EW harus dipindahkan ke divisi perawat yang berfokus pada urusan administrasi dan tidak lagi menangani pasien secara langsung.

b. Dukungan sosial dari lingkungan

Informan EW mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, rekan kerja dan rekan gereja. Rekan kerja informan EW memberi dukungan dengan tidak membiarkannya melakukan pekerjaan yang terlalu berat ketika sedang menjalani kemoterapi. Rekan kerja informan EW banyak membantunya di dalam membuat jadwal dinas. Rekan gereja informan EW memberi dukungan sosial melalui kunjungan yang dilakukan ke rumahnya. Informan EW juga sempat dikirimi lagu rohani dari pendetanya yang membuat perasaannya tersentuh. Lagu ini yang membuat informan EW mau untuk berjuang kembali dengan keadaannya.

Informan EW merasa bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya banyak memberikan dukungan kepadanya. Bagi informan EW mendapatkan dukungan dari orang sekitar dapat meringankan separuh dari penyakit yang dirasakan, jadi dukungan sosial merupakan yang utama baginya. Informan tidak bisa membayangkan jikalau tidak ada dukungan sosial yang didapatkan oleh orang yang sedang sakit.

c. Semuanya sudah ditentukan oleh takdir Tuhan

Bagi Informan EW, alasan mengapa dirinya mengidap kanker adalah karena takdir Tuhan. Baginya Tuhan sudah menuliskan jalan hidup yang akan dilaluinya Tuhan juga sudah menentukan kapan dirinya harus meninggal dan dengan cara apa dirinya akan meninggal. Informan EW juga meyakini bahwa jika seandainya Tuhan mengizinkan dirinya untuk bisa sembuh maka ia juga akan sembuh.

d. Memikirkan kondisi anggota keluarga

Ketika terdiagnosis kanker informan EW sempat memikirkan bagaimana kondisi keluarganya jika seandainya ia harus meninggal karena kanker. Informan EW sangat memikirkan kondisi anaknya jika di usia sekitar 10 tahun sudah kehilangan ibunya yang meninggal karena kanker. Informan EW berpikir bahwa jika seandainya ia meninggal maka Tuhan yang akan

mengkhawatirkan kondisi suaminya yang beberapa kali menemani informan EW saat kemoterapi. Informan EW mengkhawatirkan efek dari radiasi yang dapat berdampak pada kesehatan suaminya.

e. Mendampingi pengidap kanker

Setelah informan EW menjadi penyintas kanker dirinya beberapa kali mendampingi beberapa pengidap kanker. Salah satu rekan kerja informan EW harus menghadapi isu finansial ketika akan melakukan kemoterapi. Informan EW menginfakkan kepada rekan kerjanya tersebut untuk mengajukan bantuan dari rumah sakit tempat mereka bekerja, yang pada akhirnya mendapatkan persetujuan. Informan EW juga menjalin hubungan baik dan saling menceritakan pengalaman satu sama lain pada seorang pengidap kanker yang ditemuinya ketika melakukan rawat jalan. Beberapa kali informan EW juga mendampingi beberapa pengidap kanker sampai akhirnya mereka harus meninggal. Informan akan merasa senang jikalau penyintas kanker yang sering mengajaknya bercerita bisa kembali sembuh.

f. Tidak percaya dengan pengobatan alternatif

Informan EW tidak percaya terhadap khasiat dari pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker. Melalui pengalamannya bekerja sebagai perawat di rumah sakit, beberapa kali informan EW melihat adanya beberapa pengidap kanker yang

justru membuat kondisinya semakin parah. Informan juga menemukan bahwa ada juga yang meninggal karena menggunakan pengobatan alternatif. Bagi informan EW pengobatan kanker hanya bisa melalui medis dikarenakan setiap jenis kanker membutuhkan jenis obat kanker yang berbeda juga.

4. Informan SI/52 Tahun

a. Proses diagnosis dan pengobatan kanker

Informan SI terdiagnosis kanker pada tahun 2015.

Pemeriksaan apakah informan SI benar mengidap kanker atau tidak setelah ia menyadari adanya benjolan pada payudaranya. Informan SI kemudian melakukan operasi mastektomi karena kanker payudara yang diidapnya ternyata ganas.

Informan SI menjalani kemoterapi sebanyak 8 kali beberapa saat setelah menyelesaikan operasi mastektomi. Ketika informan SI berpikir bahwa pengobatan kemonya telah usai, ternyata dokter memerintahkan informan SI untuk melakukan kemo kembali sebanyak 18 kali dikarenakan sel kanker yang dimilikinya memiliki potensi tingkat persebaran yang sangat cepat. Kemoterapi tahap dua yang dilakukan oleh informan SI tidak memberikan efek samping fisik yang signifikan seperti kemoterapi tahap satu.

Informan SI sempat mengalami penolakan akan keadaan selama hampir 4 bulan setelah terdiagnosis kanker. Informan SI mempertanyakan mengapa harus dirinya yang mengidap kanker dan mengapa bukan saudaranya yang lain saja. Informan SI tidak dapat membohongi dirinya sendiri jikalau ia memang mempertanyakan mengapa keadaan seperti ini harus terjadi pada dirinya dan bagaimana nantinya dia akan melanjutkan hidupnya.

c. Berusaha menerima keadaan yang ada setelah terdiagnosis kanker

Informan SI berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya saat ini adalah seorang pengidap kanker. Informan SI menyadari bahwa saat ini kondisi tubuhnya tidak seperti dahulu lagi. Pasrah dan menerima keadaan dilakukan oleh Informan SI karena dirinya sudah tidak mampu untuk bisa kembali kepada keadaan yang dahulu. Bagi Informan SI penyakit kanker ini sudah diberi Tuhan dan dirinya harus mampu untuk melewatinya dan beradaptasi dengan keadaan yang ada saat ini.

d. Memikirkan isu finansial ketika akan menjalani pengobatan Setelah terdiagnosis mengidap kanker dan telah melaksanakan operasi mastektomi, informan SI diharuskan menjalani kemoterapi. Informan SI terpikirkan biaya mahal yang harus dikeluarkannya untuk menjalani pengobatan kemoterapi. Satu

berkonsultasi dengan salah satu rekan kerjanya, informan SI akhirnya mendapatkan cara untuk mendapatkan bantuan finansial dari rumah sakit tempatnya bekerja. Informan SI merasa sangat bersyukur karena dirinya bisa mendapatkan biaya pengobatan tersebut.

e. Dukungan sosial dari lingkungan

Dukungan sosial informan SI dapatkan dari seluruh anggota keluarganya. Suami informan yang juga merupakan seorang perawat dianggapnya mampu mengerti kondisinya saat ini. Suami Informan SI juga merupakan orang yang mendukung informan ketika akan menjalankan operasi pengangkatan kanker. Suami informan SI

Dukungan sosial juga diperolehnya dari rekan kerjanya sesama perawat. Informan SI seringkali diberitahu oleh rekan kerjanya untuk tidak melakukan aktivitas pekerjaan yang berat, namun beberapa kali informan SI mencoba untuk tetap mengerjakannya karena masih merasa mampu untuk mengerjakannya. Informan SI juga mendapatkan pendampingan dengan salah satu rekan kerjanya yang juga mengidap kanker payudara. Informan SI sering berkonsultasi dengan rekan kerjanya tersebut, terutama ketika dirinya berhadapan dengan isu finansial.

Pada akhirnya informan SI harus dipindahkan menjadi perawat yang mengerjakan urusan administrasi dan tidak berkontak langsung

yang dimilikinya saat ini. Pada awalnya informan SI tidak terima karena ia tidak suka bekerja di belakang komputer dan lebih suka bekerja melayani pasien secara langsung. Kemudian informan SI menganggap bahwa hal ini merupakan bentuk perhatian oleh manajemen rumah sakit terhadap dirinya.

f. Mendampingi penyintas kanker

Informan SI memiliki dua teman yang sudah meninggal karena kanker. Temannya yang pertama meninggal dikarenakan faktor finansial yang kurang memadai. Temannya yang kedua meninggal dikarenakan tidak adanya dukungan sosial dari keluarga.

Informan SI mendampingi kedua temannya tersebut dari awal terdiagnosis hingga akhirnya meninggal dunia. Informan SI merasa sangat sedih atas peristiwa ini. Menurut informan SI dukungan finansial dan dukungan keluarga harus berjalan beriringan pada pengidap kanker.

g. Tidak percaya dengan pengobatan alternatif

Informan SI tidak mempercayai pengobatan alternatif untuk pengidap kanker. Informan pernah ditawari suaminya untuk meminum sebuah minuman herbal, namun ia menolaknya. Bagi informan SI diperlukan keyakinan ketika melakukan pengobatan alternatif. Informan SI yang merupakan seorang perawat yang lebih

fakta yang ada.

D. Analisis Data

Hasil transkrip wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti kemudian di analisis dengan menggunakan Interpretative Phenomenological analysis. Setelah peneliti membaca berulangkali mengenai transkrip wawancara yang telah dilakukan oleh seluruh informan maka tahap selanjutnya ada memberikan komentar eksplanatoris dari penyataan informan yang menggambarkan pikiran, bagaimana pandangan hidup yang mereka miliki dan konsep abstrak yang muncul (Smith, 2009).

Peneliti kemudian membuat sebuah tema-tema emergen yang dapat menggambarkan apa yang dimaksud informan di dalam pernyataannya dan interpretasi yang dimiliki oleh peneliti (Smith, 2009). Kemudian peneliti mencari keterkaitan diantara tema-tema yang terbentuk, baik tema-tema yang ada di dalam satu informan maupun antar informan (Smith, 2009).

Tema-tema induk kemudian dibuat oleh peneliti dengan mendung setiap tema emergen dan pernyataan setiap informan yang tercakup di dalam tema induk tersebut (Smith, 2009). Tabel untuk tema induk seluruh informan dapat dilihat pada lampiran Tabel 5. Tema Induk.

1. Religiusitas/Spiritualitas a. Bersyukur

Informan YF merupakan penyintas kanker dengan kanker yang sudah memasuki proses metastasis. Persebaran sel kanker yang

juga informan mengalami kesulitan untuk bisa bernafas, namun ia mampu untuk melewati hal terebut. Hal ini membuat informan merasa bersyukur masih bisa diberikan nafas kehidupan seperti yang diungkapkannya berikut ini:

“...Nggak ada kata rugi dalam hidup, yang ada kita bersyukur bahwa saat ini ibu masih bernafas di mana orang lain mungkin nggak bersyukur, nafas yang sudah diberikan...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 637-640)

Informan YF juga bersyukur karena meskipun dirinya mengidap kanker masih banyak orang yang harus menghadapi keadaan yang lebih sulit dari dirinya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan informan YF:

“...Kita lebih bersyukur bahwa masih banyak orang yang lebih susah dari kita....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 282-283)

“...Setidaknya kita bersyukur yang seperti adek saya tadi ngomong. Masih bisa makan, masih bisa.

Banyak orang lho, udah kena kanker makan aja susah...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 183-186)

Informan NI juga memiliki pemikiran yang sama yaitu ia merasa bersyukur karena meskipun dirinya mengidap kanker masih ada pengidap kanker lainnya yang mungkin tidak seberuntung dirinya. Hal ini dinyatakan oleh informan NI seperti berikut ini:

“....Walaupun saya terdiagnosa kanker tetap saya masih dikasih keberuntungan maksudnya banyak orang di **** menjalani treatment nya lebih sulit dari saya. Mungkin mereka mohon maaf pakai

wawancara, baris 117-122)

Informan juga menyatakan bahwa dirinya bersyukur kepada Tuhan karena ia yakin Tuhan masih baik kepadanya. Informan NI juga nampak memiliki niatan untuk bisa membuat hidupnya lebih berguna setelah menjadi penyintas kanker. Berikut ini adalah

Informan juga menyatakan bahwa dirinya bersyukur kepada Tuhan karena ia yakin Tuhan masih baik kepadanya. Informan NI juga nampak memiliki niatan untuk bisa membuat hidupnya lebih berguna setelah menjadi penyintas kanker. Berikut ini adalah