• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Member Checking

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

3. Pelaksanaan Member Checking

Peneliti melakukan Member Checking kepada para informan sebagai salah satu upaya yang dilakukan oleh peneliti untuk menjaga kredibilitas penelitian. Pengecualian untuk informan YF yang telah meninggal sebelum proses Member Checking dilakukan. Proses Member Checking mulai dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2021.

Seluruh informan dapat memberikan tanggapan mengenai bagian dari transkrip wawancara yang perlu dirubah oleh peneliti. Detail dari proses pelaksanaan Member Checking bisa dilihat pada Tabel 4. Member Checking yang terdapat di bagian lampiran.

B. Informan Penelitian 1. Demografi Informan

Tabel 3.

Demografi Informan

Informan Usia Jenis Kanker Tahun

diagnosa

EW 53 tahun

a. Informan YF/ Telah Meninggal di usia 41 Tahun

Informan yang pertama adalah Ibu YF. Informan pertama tinggal di daerah Tangerang Selatan bersama dengan salah satu adik kandungnya. Informan pertama terdiagnosis mengidap kanker payudara pada tahun 2014. Pada waktu itu secara tiba-tiba dirinya mengalami kelumpuhan dan rasa sakit pada bagian tulang belakang.

Setelah diperiksa secara rinci oleh dokter informan pertama dinyatakan mengidap kanker payudara stadium 4 dengan metastasis sel kanker yang sudah tersebar di berbagai tempat seperti rahim, kelenjar getah bening, tulang belakang dan otak. Metastasis sel kanker yang ada pada tulang belakang adalah penyebab beliau menjadi lumpuh dan tidak dapat berjalan.

Informan pertama tidak menikah dan tidak memiliki suami dikarenakan ditinggalkan oleh calon suaminya ketika akan menikah.

Kemudian kehidupannya informan pertama menjadi sangat sulit bahkan untuk makan satu kali sehari saja sangatlah sulit.

Pengalaman hidup ini dirasa informan pertama merupakan

pengalamannya mengidap kanker.

Selama mengidap kanker informan pertama bergabung bersama dengan salah satu komunitas kanker payudara. Selama menjadi anggota komunitas ini informan pertama banyak melakukan kegiatan bersama dengan penyintas kanker di berbagai tempat di Indonesia bahkan tak jarang pula beliau mendapatkan panggilan untuk menjadi nara sumber di luar negeri. Informan pertama dianggap mampu memberikan dorongan motivasi pada penyintas kanker lainnya melalui pengalaman hidup yang dimilikinya.

Membantu para penyintas kanker yang kesulitan dengan salah satunya memberikan kursi roda sering sekali dilakukan oleh beliau. Informan pertama sering menyisihkan sebagian besar dari pendapatan atau apapun yang dimilikinya untuk diberikan kepada para orang-orang yang membutuhkan dan tidak hanya sebatas sesama penyintas kanker saja. Informan pertama merasa bahwa dirinya tidak akan membawa mati harta duniawi yang dimiliki saat ini sehingga lebih senang membagikannya pada orang-orang yang beliau anggap membutuhkan. Informan pertama pada akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada bulan September 2020 setelah kembali menjalani serangkaian proses kemoterapi dan operasi akibat adanya metastasis sel kanker di beberapa bagian di tubuhnya.

Informan yang kedua adalah Ibu NI. Informan kedua tinggal di daerah Depok bersama dengan suami dan satu anaknya. Informan kedua terdiagnosis kanker pada tahun 2015 setelah merasa curiga dengan benjolan di salah satu payudara beliau. Dokter menyatakan bahwa beliau terdiagnosis kanker payudara stadium 1B berdasarkan hasil pemeriksaan setelah operasi.

Informan kedua merasakan penurunan kepercayaan diri akibat dari perubahan keadaan dan penampilan sebelumnya. Beliau memutuskan untuk menutup diri dari anak dan suaminya karena hal ini. Informan kedua banyak menyendiri dan mengunci diri di kamarnya selama masa awal menjalani kemoterapi. Sampai pada akhirnya secara tidak sengaja anaknya masuk ke dalam kamar melihat beliau tidak mengenakan wig (rambut palsu). Pada tahap ini beliau mau secara perlahan membuka diri kembali pada anak dan suaminya.

Informan kedua juga bergabung di dalam komunitas penyintas kanker payudara. Pada awalnya beliau ingin bergabung bersama mereka hanya untuk menjadi tenaga sukarelawan, namun lamarannya tidak diterima. Kemudian setelah mengetahui bahwa beliau mengidap kanker, komunitas penyintas kanker payudara tersebut menerima beliau menjadi bagian dari anggota mereka.

Selama bergabung di dalam komunitas Informan kedua merasa tidak

beruntung dari segi pelayanan pengobatan dibandingkan dengan sesama penyintas kanker lainnya. Saat ini Ibu NI bertugas menjadi bagian hotline service di dalam komunitas tersebut.

Berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh informan kedua selama menjadi hotline service, informan kedua merasa bahwa masih banyak pasien kanker yang sebenarnya bisa diatasi dengan lebih cepat dan tepat. Hambatan yang ditemui adalah rendahnya keinginan untuk memeriksakan diri ketika adanya

c. Informan EW/53 tahun

Informan yang ketiga adalah Ibu EW. Informan merupakan seorang perawat ruangan untuk salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Pusat sebelum mengidap kanker. Setelah terdiagnosis kanker, informan dipindahkan oleh SDM ke bagian manajemen dan administrasi supaya tidak mengerjakan beban pekerjaan yang membutuhkan banyak aktivitas fisik. Sebelum mengidap kanker informan adalah seorang kepala perawat ruangan, di mana salah satu pekerjaan informan adalah membuat jadwal dinas untuk seluruh perawat di ruangan tempatnya bertugas. Saat ini informan fokus bekerja sebagai perawat untuk memberikan edukasi kesehatan di dalam atau di luar rumah sakit.

Informan terdiagnosis kanker payudara pada tahun 2014.

Berdasarkan hasil pemeriksaan informan mengidap kanker ganas

pengobatan. Sesaat setelah terdiagnosis kanker, informan merasa sangat tertekan dan mengira bahwa ini adalah penyakit akan membuatnya meninggal dunia. Informan harus menjalani 6 kali kemoterapi dan pada kemoterapi keempat dirinya hampir tidak ingin melanjutkan kembali pengobatan kemoterapinya. Hal ini disebabkan oleh efek samping pada fisik yang dialaminya, terutama yang membuat tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat melakukan banyak aktivitas pekerjaan. Informan juga pernah mengalami muntah-muntah ketika ingin pergi ke gereja yang menyebabkan dirinya harus dilarikan ke UGD. Suami informan yang menyemangatinya untuk kembali mau melakukan proses kemoterapi hingga selesai.

Informan mendapat dukungan sosial mulai dari suaminya hingga teman-teman gerejanya. Suami informan sempat merasa tertekan ketika mengetahui bahwa informan mengidap kanker ganas.

Setelah informan mengidap kanker suaminya dianggap memiliki sikap yang lebih mengalah dibandingkan sebelumnya. Informan juga mendapat bentuk perhatian dari anaknya. Ketika informan mengalami kebotakan rambut, anaknya sering mencium dan memeluk informan. Kemudian ada rekan-rekan kerja informan yang mau membantunya meringankan informan untuk membuat jadwal dinas. Mereka sering mengisi kekosongan jadwal secara insiatif

Teman-teman gereja informan memberikan dukungan dalam bentuk mengunjungi informan dengan membawakan makanan dan bahan bacaan mengenai penyintas kanker. Seorang pendeta juga berperan besar membantu informan untuk keluar dari rasa tertekan yang dialaminya, ketika dirinya mengirimkan sebuah lagu rohani kepada informan. Informan merasa tersentuh dengan lagu yang sebetulnya sudah sering informan dengarkan, namun ketika informan sudah mengidap kanker dirinya merasa bahwa lagu ini diciptakan untuk dirinya.

Informan menganggap bahwa mengidap kanker sebagai takdir yang sudah direncanakan Tuhan. Ketika mengetahui bahwa dirinya telah terdiagnosis kanker, informan mengaku tidak marah kepada Tuhan. Informan meyakini bahwa ada hikmah yang bisa diambilnya di dalam pengalamannya mengidap kanker. Informan merasa bahwa selama ini dirinya telah banyak menyalurkan berkat kepada orang lain. Setelah mengidap kanker, informan menjadi sering menyebarkan kutipan Injil Alkitab melalui sosial medianya.

Informan yakin setidaknya ada 1 orang yang akan menerapkan nilai-nilai terkandung di dalam kutipan Injil tersebut dari sekian banyak orang yang melihatnya.

Informan yang keempat adalah Ibu SI. Informan juga merupakan seorang perawat ruangan untuk salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Pusat sebelum mengidap kanker. Informan juga dipindahkan oleh SDM ke bagian manajemen dan administrasi supaya tidak mengerjakan beban pekerjaan yang membutuhkan banyak aktivitas fisik. Keputusan ini sebenarnya tidak disukai oleh informan dan ditolak pada awalnya. Kemudian informan mencoba untuk menerima dan menjalani kondisi pekerjaannya saat ini.

Informan merasa terpuruk ketika pertama kali mengetahui bahwa dirinya terdiagnosis kanker payudara. Informan terdiagnosis kanker pada bulan Agustus tahun 2015. Penolakan akan keadaan dilakukan oleh informan dan mempertanyakan mengapa harus dirinya yang mengidap kanker. Informan semakin terpuruk ketika mengetahui bahwadirinya mengidap kanker ganas dengan pertumbuhan sel kanker yang sangat cepat. Masa ini dianggap sebagai masa yang sangat berat bagi informan karena dirinya terpikirkan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani proses kemoterapi yang harus dilakukan.

Kemoterapi memberikan dampak yang besar kepada informan. Dirinya sempat merasa khawatir dengan bagaimana suaminya menilai dirinya yang saat ini fisiknya tidak lengkap lagi.

Informan juga menjadi mudah lelah sehingga sulit untuk melakukan

kemoterapi. Sampai saat ini informan tetap membatasi kegiatan fisik yang dilakukannya karena dirinya menyadari dan bisa mengukur batas kemampuannya saat ini.

Dukungan sosial banyak diperoleh informan mulai dari keluarga hingga rekan kerja. Suami informan dianggap telah memahami keadaan penyakitnya tersebut karena memiliki persepsi yang sama sebagai seorang perawat juga. Dukungan sosial juga diperoleh dari anak-anak informan yang merasa sedih ketika pertama kali mengetahui informan mengidap kanker. Informan baru memberi tahu anak-anaknya sehari sebelum dirinya melakukan operasi kanker payudara. Informan mendapatkan dukungan dari rekan kerjanya dengan mempersilahkan informan untuk sering beristirahat saat bekerja bila dirasa sudah lelah setelah melakukan kemoterapi. Rekan kerja informan juga memberikan informasi dan masukkan mengenai isu finansial yang dihadapinya ketika akan menjalani kemoterapi.

Teman-teman informan di komunitas pengajian juga sering memberikan kesempatan kepada informan untuk ikut terlibat di dalam kegiatan komunitas.

Setelah menjadi penyintas kanker, informan menjadi sangat sering mendampingi dan membagikan pengalamannya pada pengidap kanker lainnya. Sebagai seorang perawat, informan sering dimintai tolong untuk mendampingi orang yang akan melaksanakan

beberapa kali diajak untuk berkonsultasi oleh rekan kerja atau temannya yang baru saja terdiagnosis kanker. Informan merasa sangat senang ketika dapat membagikan pengalamannya dan bisa berguna bagi orang lain terutama pengidap kanker payudara.

Terjadi sebuah dinamika di dalam hubungan informan dengan Tuhan selama mengidap kanker. Informan sangat marah kepada Tuhan ketika baru terdiagnosis kanker. Informan sering mempertanyakan alasan mengapa harus dirinya yang mengidap kanker, mengapa bukan saudaranya saja atau orang lain saja yang mengidap kanker. Kemarahan informan ini mempengaruhi rutinitas kegiatan ibadah informan. Pada akhirnya informan menganggap bahwa alasan dirinya mengidap kanker adalah karena takdir yang sudah dituliskan oleh Tuhan. Informan yakin bahwa ada hikmah yang bisa diambilnya sebagai penyintas kanker.

C. Hasil Penelitian

1. Informan YF/41 Tahun

a. Proses Metastasis karena kesalahan diagnosis

Informan YF mengalami metastasis sebelum dirinya terdiagnosis. Pada awalnya informan YF menyadari adanya benjolan pada payudaranya. Kemudian informan YF memeriksakan diri ke dokter di Puskesmas mengenai kondisinya. Dokter mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan benjolan tersebut

disentuh.

Informan YF secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan pada kakinya dan merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggungnya. Hal ini terjadi sehari setelah Informan YF melakukan pemeriksaan di Puskesmas. Informan YF dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pengecekan secara menyeluruh dan ditemukan bahwa ternyata terdapat persebaran sel kanker yang mencengkeram bagian tulang punggung informan YF sehingga dirinya mengalami kelumpuhan kaki. Persebaran sel kanker juga terjadi hingga ke rahim, kelanjar getah bening dan juga terjadi sedikit persebaran di otak. Kemudian diketahui bahwa informan YF sebenarnya mengidap kanker payudara, namun karena penanganan yang terlambat terjadi metastasis ke beberapa bagian sel tubuh lainnya.

Hasil pemeriksaan ini membuat Informan YF terdiagnosis kanker payudara stadium 4.

b. Menjalani penanganan kanker

Informan YF melakukan pengobatan kanker di rumah sakit khusus kanker Dharmais di Jakarta. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi dokter di rumah sakit lain yang sanggup menangani kondisi informan YF. Bersama dokter yang ada di rumah sakit tersebut informan YF melakukan serangkaian tindakan yang diawali dengan mengatasi persebaran yang terjadi di tulang belakang informan YF.

kembali. Kemudian informan YF melakukan operasi mastektomi (operasi pengangkatan payudara) untuk mengangkat kanker payudaranya yang sudah stadium 4. Beberapa waktu setelahnya Informan YF juga melakukan operasi pengangkatan rahim dikarenakan sel kankernya juga sudah menginfeksi rahimnya.

Sedangkan persebaran sel kanker yang terjadi di otak tidak dapat dilakukan banyak tindakan karena risiko yang ditimbulkan sangat besar. Informan bisa mengalami gangguan kognitif jika seandainya operasi tersebut dilakukan.

Informan YF juga menjalani pengobatan kemoterapi sebanyak 18 kali dan radiasi sebanyak 30 kali. Informan YF mengakui bahwa dirinya telah melakukan beberapa kali proses kemoterapi dan radiasi sehingga dirinya sudah lupa jumlah pasti berapa kali dirinya menjalani pengobatan kemoterapi dan radiasi.

c. Rintangan yang ditemukan saat menjalani pengobatan kanker Informan YF mengalami beberapa rintangan di saat menjalani pengobatan kanker. Isu finansial menjadi rintangan yang selalu dihadapi oleh informan. Pengobatan kemoterapi memerlukan pengeluaran biaya yang sangat besar, informan YF memperkirakan satu kali kemoterapi dirinya harus mengeluarkan biaya sebesar 15 juta. Pada waktu informan YF menjalani 18 kali kemoterapi yang

kali kemoterapi yang dilakukan informan YF. Sedangkan 10 kali kemoterapi selanjutnya harus dibiayai sendiri oleh informan.

Kondisi perekonomian informan YF tidaklah cukup untuk membiayai pengobatannya ini, maka dari itu adik informan YF menjual rumahnya untuk membantu membiayai pengobatan informan YF. Seiring berjalannya waktu pengobatan informan YF juga harus melakukan peminjaman uang untuk dapat membiayai pengobatannya terebut.

Tantangan lainnya yang dirasakan oleh informan YF adalah waktu yang lama untuk bisa berobat. Informan YF adalah pasien kanker yang mendapatkan jaminan pengobatan dari BPJS, maka dari itu dirinya harus mengikuti prosedur yang berlaku. Butuh waktu yang lama untuk mengikuti prosedur tersebut dikarenakan ada begitu banyak pasien kanker yang juga menanti untuk bisa berobat.

Informan dan adiknya harus datang subuh ketika mereka ingin berobat ke rumah sakit Dharmais, karena jika tidak datang subuh mereka tidak akan mendapat nomor antrian untuk berobat.

Informan YF dan adiknya juga pernah mengalami kesulitan untuk mendapatkan rumah sakit yang menyediakan alat untuk melakukan bone scan. Hal ini membuat mereka hampir menyerah karena hampir di setiap rumah sakit yang mereka kunjungi. Tidak ada yang menyediakan alat tersebut atau alat nya sedang rusak.

Informan memperoleh dukungan sosial dari adiknya yang sangat berperan penting membantu informan YF untuk bisa menjalani pengobatan kankernya. Informan YF merasa ini adalah bentuk balas budi yang dilakukan oleh adiknya karena dulu informan YF pernah membantu adiknya tersebut ketika sedang mengahdapi masalah. Adik informan YF menjadi pendamping informan YF mulai dari terdiagnosis kanker hingga informan YF meninggal dunia.

e. Mendapat bantuan pengobatan

Informan YF mulai mendapatkan jaminan pengobatan BPJS sejak tahun 2015. Separuh dari biaya pengobatan informan YF ditanggung oleh BPJS, meskipun harus melewati serangkaian prosedur terlebih dahulu yang sedikit memakan waktu. Informan YF juga sempat mendapatkan bebas biaya operasi yang sepenuhnya ditanggung oleh dokter yang mengoperasi informan YF.

f. Munculnya keinginan untuk membantu orang lain

Setelah informan YF mengidap kanker, muncul sebuah keinginan dari dalam dirinya untuk bisa membantu orang lain yang dianggapnya membutuhkan. Informan YF mengungkapkan bahwa muncul dorongan dari dalam dirinya untuk bisa berbuat baik pada orang lain. Informan YF berjualan untuk bisa mendapatkan penghasilan, namun seringkali dirinya menggunakan penghasilan

YF pernah membelikan beberapa temannya sebuah kursi roda yang dibeli dengan uangnya sendiri.

Informan YF juga pernah mengadakan penggalangan dana melalui sebuah platform untuk membantu seorang pemulung yang mengidap kanker payudara di sekitar rumahnya. Meskipun pada akhirnya informan YF mendapatkan pengalaman yang kurang baik melalui penggalangan dana ini. Kemudian informan YF memutuskan untuk membantu orang lain semampu yang ia bisa bantu, jika tidak maka dirinya akan mengatakan secara jujur bahwa dirinya tidak dapat membantu.

g. Memiliki impian untuk menyebarkan emosi positif kepada banyak orang

Sebagai seorang penyintas kanker informan memiliki cita-cita untuk menyebarkan perasaan cinta kepada para pengidap kanker. Informan YF menggunakan istilah “virus cinta” sebagai bentuk emosi positif yang ingin dibagikannya. Bagi informan YF perasaan cinta merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penyintas kanker. Informan YF ingin membuka mata hati banyak orang melalui cita-citanya tersebut. Untuk merealisasikan impiannya tersebut Informan YF memproduksi barang seperti Hoodie dengan tulisan yang memberikan ajakan untuk menyemangati para penyintas kanker.

a. Masa terdiagnosis kanker

Informan NI terdiagnosis kanker payudara setelah dirinya memeriksakan benjolan yang muncul pada payudaranya di akhir tahun 2015. Informan NI mencari dokter terbaik yang bisa dihubunginya di Indonesia untuk bisa memeriksa apa yang ada di dalam payudaranya. Awalnya hanya diduga kista bukan kanker, namun setelah dilakukan operasi barulah diketahui bahwa informan NI mengidap kanker.

b. Merasa tidak percaya diri

Kepercayaan diri informan menurun ketika dirinya mengalami efek samping pada fisik yang ditimbulkan oleh pengobatan kemoterapi dan radioterapi yang dijalani informan NI.

Perasaan tidak percaya diri Informan NI muncul karena dirinya merasa tidak berdaya. Sebelum mengidap kanker informan NI dikenal anaknya sebagai sosok pribadi yang kuat. Informan NI juga tidak ingin anaknya melihat dirinya tanpa rambut di kepala. Ketika berada di dalam rumah, informan NI selalu menutupi kepalanya dengan syal dan hanya melepasnya ketika berada di dalam kamar saja.

c. Menutup diri dari keluarga

Rasa tidak percaya diri informan NI membuat dirinya memutuskan untuk menutup diri dari keluarganya. Informan NI

kamarnya tersebut. Perasaan tidak berdaya dan menilai bahwa anggota keluarganya tidak dapat memahami apa yang dirasakannya membuat menjadi alasan informan NI menutup diri dari keluarganya. Informan NI menilai bahwa anggota keluarganya hanya kasihan saja dengan kondisinya waktu itu dan tidak memahami perasaan yang dimilikinya. Informan mulai menutup dirinya saat merasakan efek dari kemoterapi yang pertama kali.

d. Muncul semangat hidup kembali setelah memperoleh perhatian dari anak

Suatu kali informan NI tidak sengaja lupa untuk mengunci pintu kamarnya ketika sedang dalam masa menutup diri dari keluarganya. Kemudian anak informan NI masuk ke dalam kamar dan melihatnya sedang tidak menutup kepalanya, hal ini membuat informan NI sangat terkejut. Informan NI merasa tidak siap bertemu dengan anaknya dengan kondisi seperti itu. Anak informan NI memberikan semangat kepadanya untuk tetap kuat. Informan NI tidak menduga bahwa ternyata anggota keluarganya masih menyayanginya. Semenjak saat itu anak informan NI menjadi sering tidur dan menyemangatinya. Kemudian informan NI memutuskan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya kembali.

Ketika informan NI terdiagnosis kanker dan sedang menjalani kemoterapi, dirinya masuk dan menjadi anggota salah satu komunitas kanker payudara. Sebelumnya informan NI memang sudah memiliki niat untuk bergabung di dalam komunitas sebelum terdiagnosis kanker. Hal ini dikarenakan informan NI merasa sudah waktunya bagi dirinya untuk membantu orang-orang yang tidak seberuntung informan NI. Beberapa kali informan NI mendaftar menjadi volunteer beberapa komunitas, namun tidak ada yang menerimanya. Pada akhirnya Informan NI diterima menjadi anggota salah satu komunitas kanker payudara setelah dirinya terdiagnosis kanker.

Di dalam komunitas ini informan NI merasa dipahami oleh para anggota komunitas lainnya yang juga merupakan seorang penyintas kanker payudara. Bagi informan NI para anggota lainnya juga mengalami penderitaan yang sama sepertinya. Informan NI saat ini telah diangkat menjadi bagian Hotline Service untuk menanggapi segala bentuk informasi yang akan diterima oleh komunitas. Selama menjalani peran sebagai Hotline Service informan NI banyak menerima konsultasi dari para pengidap kanker lainnya. Hal ini justru membuat informan NI merasa miris dan prihatin dengan kenyataan di lapangan. Informan NI menemukan bahwa masih banyak pengidap kanker payudara yang tidak mau melakukan

terbawa suasana ketika mengetahui ada pengidap kanker yang ada dalam kondisi yang cukup parah dan tidak memiliki biaya untuk berobat, namun informan NI tidak dapat membantu mereka dalam hal ini. Pimpinan komunitas selalu mengingatkan informan NI untuk tidak terbawa suasana. Pimpinan komunitas dan informan NI juga mencoba untuk menguatkan kembali persebaran sosialisasi mengenai kanker payudara kepada masyarakat.

f. Tidak percaya dengan pengobatan alternatif

Informan NI dan seluruh anggota yang ada di dalam komunitas tidak mempercayai khasiat dari pengobatan alternatif.

Bagi Informan NI, sesuatu yang tidak melewati uji klinis tidak dapat dipercaya, sama halnya dengan melakukan pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker. Informan NI menemui beberapa anggota komunitas yang melakukan pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kankernya justru menjadi semakin parah dan lanjut ke stadium selanjutnya. Salah satu teman informan NI juga ada yang meninggal karena lebih mengutamakan melakukan pengobatan alternatif.

3. Informan EW/53 Tahun

a. Merasakan efek samping dari pengobatan kanker

Setelah dan selama menjalani pengobatan kanker, informan

Setelah dan selama menjalani pengobatan kanker, informan