BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Data
1. Religiusitas/Spiritualitas
Informan YF merupakan penyintas kanker dengan kanker yang sudah memasuki proses metastasis. Persebaran sel kanker yang
juga informan mengalami kesulitan untuk bisa bernafas, namun ia mampu untuk melewati hal terebut. Hal ini membuat informan merasa bersyukur masih bisa diberikan nafas kehidupan seperti yang diungkapkannya berikut ini:
“...Nggak ada kata rugi dalam hidup, yang ada kita bersyukur bahwa saat ini ibu masih bernafas di mana orang lain mungkin nggak bersyukur, nafas yang sudah diberikan...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 637-640)
Informan YF juga bersyukur karena meskipun dirinya mengidap kanker masih banyak orang yang harus menghadapi keadaan yang lebih sulit dari dirinya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan informan YF:
“...Kita lebih bersyukur bahwa masih banyak orang yang lebih susah dari kita....” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 282-283)
“...Setidaknya kita bersyukur yang seperti adek saya tadi ngomong. Masih bisa makan, masih bisa.
Banyak orang lho, udah kena kanker makan aja susah...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 183-186)
Informan NI juga memiliki pemikiran yang sama yaitu ia merasa bersyukur karena meskipun dirinya mengidap kanker masih ada pengidap kanker lainnya yang mungkin tidak seberuntung dirinya. Hal ini dinyatakan oleh informan NI seperti berikut ini:
“....Walaupun saya terdiagnosa kanker tetap saya masih dikasih keberuntungan maksudnya banyak orang di **** menjalani treatment nya lebih sulit dari saya. Mungkin mereka mohon maaf pakai
wawancara, baris 117-122)
Informan juga menyatakan bahwa dirinya bersyukur kepada Tuhan karena ia yakin Tuhan masih baik kepadanya. Informan NI juga nampak memiliki niatan untuk bisa membuat hidupnya lebih berguna setelah menjadi penyintas kanker. Berikut ini adalah pernyataan informan NI: mengidap kanker dirinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pengidap kanker lainnya. Berikut ini adalah pernyataan informan:
“...Akhirnya saya bersyukur, “Tuhan terima kasih saya Tuhan kasih kesempatan untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan”. Enggak setiap orang kan Tuhan kasih kesempatan buat merasakan sakit yang seperti ini kan gitu ya itu....” (EW, Transkrip wawancara 1. Baris 188-193)
“...saya bersyukur karena Tuhan seperti memberi kesempatan saya untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain di hidupnya...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 614-616)
Bagi informan SI penyakit kanker ini adalah pemberian dari Tuhan yang sudah adil memberikan sesuatu kepada banyak orang.
Informan SI menganggap bahwa dirinya harus bersyukur dan menerima penyakit kankernya tersebut. Berikut ini adalah pernyataan yang diberikan oleh informan:
kita kita mau apa, mau proses mau apa udah Tuhan kasih segini. Emang Tuhan kasih seperti ini, kalau sama Tuhan kan kita ga bisa protes....”(SI, Transkrip wawancara 2, baris 477-481).
b. Relasi yang erat dengan Tuhan
Bagi informan YF mengidap kanker membuat relasinya dengan Tuhan menjadi lebih dekat. Hal ini membuatnya tidak berani untuk mengerjai orang lain. Berikut ini adalah pernyataan informan YF:
“...Kanker membuat saya lebih dekat dengan sang pencipta. Jadi kalo mau melakukan sesuatu istilahnya ngejailin orang dikit aja ga berani...”
(YF, Transkrip wawancara 1, baris 791-793)
Informan YF juga menyatakan bahwa relasi yang dekat dengan Tuhan membuat dirinya merasakan adanya peringatan akan kematian yang diberikan oleh Tuhan. Berikut ini merupakan pernyataan informan YF:
“...Bahkan kayaknya udah warning. Lu tiba-tiba besok mati lu karena kanker gitu. Satu lebih deket dengan yang kuasa,....” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 795-797)
Mengidap penyakit kanker juga membuat informan EW merasakan relasi yang erat dengan Tuhan. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan informan EW:
“....Yak saya malah lebih, justru malah lebih apa ya merasakan lebih dalam hubungannya dengan Tuhan karena saya tahu bahwa ketika saya sakit...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 479-481)
informan EW disaat ia meyakini bahwa ketika dirinya meninggal, maka Tuhan yang akan menjaga anggota keluarga yang ditinggalkannya. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan EW:
EW : “...Tuhan. Kalaupun saya dipanggil Tuhan pasti anak-anak saya dan suami saya pasti Tuhan berikan yang terbaik itu lah yang selalu saya dengungan. Dari situ saya mulai merasakan hubungan saya yang lebih dekat dengan Tuhan gitu....” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 198-203)
c. Marah kepada Tuhan
Ketika informan NI terdiagnosis kanker ia merasa marah kepada Tuhan karena dirinya harus terdiagnosis kanker. Informan NI juga cenderung tidak melaksanakan kegiatan ibadahnya (Sholat) dan cenderung untuk tidak melakukan apapun. Berikut ini adalah pernyataan yang diberikan oleh informan NI:
NI : “...Hmmm, pada saat itu saya marah pada sama Tuhan, Bahkan seingat saya dari saya terdiagnosis sampai menjalani pengobatan saya ga mau ngapa-ngapain. Nggak mau sholat ga mau ini, ga mau itu, pokoknya saya marahlah untuk sesaat gitu,...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 307-311)
Informan SI juga merasa marah kepada Tuhan setelah terdiagnosis kanker. Sama seperti informan NI, informan SI tidak bersungguh-sungguh ketika berdoa. Informan SI menganggap
pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
SI : “...awal awal kan marah sama Tuhan, kita bilang Tuhan ga adil, tapi Tuhan kan maha semuanya, jadi merasa Tuhan ga adil mengapa harus saya gitu, ehh marah, yang sempet awal awal itu doa pun sholat pun hanya sholat doa pun hanya sepintas,...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 107-113).
d. Takdir Tuhan
Informan EW menanggap bahwa apa yang terjadi kepadanya saat ini baik itu mengenai penyakit kanker dan apakah dirinya akan sembuh atau tidak, hal tersebut sudah ditentukan oleh takdir Tuhan.
Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan EW:
“....Jadi saya pikir gitu yaa eee sebetulnya apa yang kita alami penyakit apapun itu itu dikendalikan oleh Tuhan gitu. Jadi meskipun saya sudah mengidap kanker kalaupun Tuhan mengizinkan saya untuk sembuh, ya saya ga akan ngalamin lagi gitu....”
(EW, Transkrip wawancara 2, baris 408-413).
Informan EW juga menanggap bahwa pada saat dirinya meninggal dunia nanti, keluarga informan EW sudah berada di dalam pemeliharaan Tuhan. Informan EW meyakini bahwa apa yang terjadi di dalam hidupnya berada di dalam tangan Tuhan.
Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
EW : “.... Hidup saya toh semuanya ada di tangan Tuhan gitu. Apapun yang terjadi Tuhan tidak pernah jauh dari saya, jadi eee kalaupun saya harus
Transkrip wawancara 2, baris 39-44)
Informan SI percaya bahwa Tuhan mengetahui segalanya dan penyakit kankernya ini sudah menjadi takdir yang ditentukan oleh Tuhan. Hal ini yang dianggap informan menjadi alasan mengapa dirinya yang harus mengidap kanker dan mengapa bukan saudaranya kandungnya yang lain. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan SI:
”... , Tuhan maha semua ya sudah dijalanin, itu sudah garisnya Tuhan, takdirnya Tuhan gitukan, kalau menurutku...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 122-125)
“...Tuhan pasti percaya saya bisa jalanin untuk semuanya, mungkin karna aku perawat rumah sakit bisa jamin jadi Tuhan kasih ke aku. Coba kalau Tuhan kasih ke kakakku yang dia ibu rumah tangga apakah dia bisa menjalani kemoterapi, terus fisik, psikisnya, kalau kakakku yang dapat apakah mereka bisa menjalani?....” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 650-656)
e. Tuhan Memberikan kesempatan hidup
Informan NI menganggap bahwa kesembuhan yang dialaminya dari kanker merupakan pemberian dari Tuhan Informan NI merasa bahwa proses yang dialaminya untuk mencapai kesembuhan berlangsung dengan cepat. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan NI:
NI : ”... Tuhan kasih saya kesembuhan yang luar biasa, cepatnya maksudnya, saya bisa menjalani semuanya dengan baik, terus tanpa hambatan, terus
Informan NI merasa bahwa ia telah diberikan kesempatan hidup yang kedua oleh Tuhan. Informan NI ingin menepati janjinya kepada Tuhan ketika dirinya memperoleh kesempatan hidup yang kedua tersebut. Berikut ini adalah pernyataan yang diberikan oleh informan NI:
”... Karna ini memang janji saya sama Tuhan, kalau saya diberikan kesempatan kedua apa sih yang mau saya lakukan, ini yang mau saya lakukan gitu....”
(NI, Transkrip wawancara 2, baris 741-744)
Sedangkan pada informan EW, menganggap bahwa dirinya dipercayakan menjalani sisa hidup yang masih diberikan oleh Tuhan. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
“...Saya selalu bilang Tuhan jika saya masih bisa menjalani hidup seperti yang saya jalani itu adalah sisa hidup yang masih Tuhan percayakan kepada saya. Jadi saya gamau hidup saya tersia-sia...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 527-533)
Informan EW juga membayangkan bagaimana bila seandainya dirinya harus meninggal dan tidak lagi mendapatkan kesempatan hidup dari Tuhan. Maka dari itu informan meyakini bahwa hidup ini merupakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.
Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan EW:
saya lagi kesempatan hidup, Tuhan langsung panggil saya yaudah selesai. Mungkin akan lebih banyak penyesalan aduh saya belum ini belum ini.
Saya selama ini kemarin-kemarin belum ini ah saya masih emosi gitu ya...” (EW, Transkrip wawancara 1, baris 553-559)
2. Dukungan sosial
a. Dukungan sosial dari anggota keluarga
Informan YF mendapatkan dukungan sosial dari adiknya yang menjadi satu-satunya keluarga dekat yang dimiliki informan YF. Dukungan sosial yang diberikan oleh adiknya sangat dirasakan oleh informan YF. Hal ini membuat informan YF merasa kasihan dengan anak-anak adiknya. Berikut ini merupakan penyataan yang diberikan oleh informan YF:
“...Tapi adek saya itu dukung banget, saya disini di dukung oleh adek, kalo kakak-kakak semua di Jawa jadi bener-bener dia tuh dukung. Saya kadang kasian sama anak-anaknya dia....” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 346-550)
Adik informan YF juga rela untuk menjual rumahnya untuk bisa memenuhi kebutuhan biaya yang diperlukan untuk pengobatan kanker informan YF. Adik dan informan YF akhirnya tinggal bersama di rumah informan YF. Berikut ini merupakan penyataan yang diberikan oleh informan YF:
“...Ohh ya yang 8 kali di cover oleh pemerintah yang 10 bayar sendiri. Sekali kemo 15 juta, 15 juta kali 10. Waktu itu saya eee bingung harus kayak gimana, terus adek saya ngomong kan kamu single, kalo kamu boleh aku jual rumah aku tinggal sama
wawancara 1, baris 197-203)
Informan YF juga merasa bahwa dukungan sosial yang diberikan oleh adiknya sebagai bentuk balas budi. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan YF:
“....Heem hukumnya balas budi kali dia ke saya jadi support banget, support banget ke saya...” (YF, Transkrip wawancara, baris 619-620)
Sedangkan pada informan NI, dukungan keluarga diperoleh dari suami dan anaknya. Setelah terdiagnosis kanker informan NI sempat berada di fase menutup dari dari keluarganya karena rasa tidak percaya diri. Ketika berada di dalam fase ini, informan NI merasa dimengerti oleh suami dan anaknya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
”... Jadi ehm sangat supportive gitu dan apa namanya, ketika saya gak mau diajak bicara gitu kan.. ehm iya mereka berdua mengerti gitu...” (NI, Transkrip wawancara 1, baris 347-349)
Suami informan NI sering membantu dirinya untuk mencetak informasi yang berkaitan dengan kanker yang diidapnya.
Hal ini dilakukan karena dapat memudahkan informan NI untuk bisa membaca informasi yang ditemukan karena pada saat itu dirinya hanya ingin tiduran saja. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“...pengennnya rebahan aja gitukan.., nah jadi ehm semua informasi saya dapet dari suami gitu bahkan
gitu...” (NI, Transkrip wawancara 1, baris 338-342).
Informan NI kemudian menyadari bahwa ternyata ia merasakan rasa sayang berlipat ganda dari suami dan anaknya setelah mengidap kanker. Perasaan saling takut kehilangan yang diyakini informan NI yang menguatkan perasaan sayang yang diterimanya. Informan NI juga menyadari bahwa anggota keluarganya tidak memiliki pikiran negatif seperti yang dipikirkannya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“....ternyata orang orang disekitar saya ternyata tetap menyayangi saya seperti itu bahkan double sayangnya gitu karena kita semua merasa takut kehilangan dan ternyata mereka tidak berpikir negatif seperti saya berpikir negatif terhadap mereka...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 246-251)
Sedangkan pada informan EW, dirinya merasakan bahwa suami dan anaknya sangat memahami dirinya ketika berada di rumah. Suami informan EW sering membantunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu jikalau memang informan EW merasa lelah.
Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
“...Kalo saya sih yang saya alami di rumah ya, yang saya alami dengan eee suami dan anak saya, jadi mereka sangat memahami saya,...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 578-580)
dukungan dari suami dan anak-anaknya dan merasa bahwa itu sudah merupakan yang terbaik. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan SI:
“....dan jadi udah selama pengobatan terus suami mendukung, anak mendukung jadi sudah yang terbaik,...” (SI, Transkrip wawancara 1, baris 145-147)
Informan SI juga mendapatkan dukungan dari suaminya untuk melakukan pemeriksaan, sebelum terdiagnosis kanker. Hal ini dikarenakan ayah dari informan SI yang ternyata juga mengidap kanker. Berikut ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh informan SI:
“...Karna suami perawat jadi dia paham, jadi aku minta diperiksain aja, dia bilang “yasudah periksa karna kamu ada riwayat cancer bapakmu, kamu periksa aja” gitukan...” (SI, Transkrip wawancara 1, baris 370-373)
b. Pentingnya dukungan sosial
Selama mengidap kanker, informan YF banyak didampingi oleh adik kandungnya. Hal ini dikarenakan dirinya tidak memiliki suami. Melihat semangat yang ditunjukkan oleh adiknya ketika mengantarnya pergi berobat, membuat informan YF juga ingin menunjukkan semangat. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
bertahan dan semangat. Terutama keluarga, ya kalau ibu kan nggak ada pendamping ya keluarga istilahnya adek kayak gitu. Adek sendiri masih semangat ngantar ke sana kemari, keluarga masih mendukung kita masak ya kita nggak semangat....”
(YF, Transkrip wawancara, baris 45-51)
Informan YF juga mengakui bahwa ketika mendapatkan perhatian ada perasaan tidak enak yang dirasakan olehnya.
Informan YF takut merepotkan orang yang memberikannya perhatian tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“....Kadang kalau ada yang memperhatikan ibu, ibu ngerasa banget lah. Kadang ibu juga takut, takut kalau merepotkannya terlampau banyak. Kadang ya maaf ya aku ngrepotin, enggak enggak, enggak apa-apa. Ya sudah, di situ, perhatian...” (YF, Transkrip wawancara 2, baris 566-571)
Informan YF menyampaikan betapa pentingnya pendamping bagi penyintas kanker. Pendamping sangat diperlukan terutama bagi pengidap kanker yang kondisi kankernya sudah parah. Bagi informan YF pengidap kanker sangat membutuhkan seorang yang dapat mendampingi. Hal ini diperlukan seandainya terjadi sesuatu pada pengidap kanker tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan YF:
“....Harus ada kerjasama, memang harus ada pendamping. Ketika seseorang tervonis kanker ya harus ada pendamping. Siapapun. Apalagi kalau kankernya udah mulai payah lah. Kalau dirumah singgah kan memang ada yang nunggu lah
946)
Informan EW mendapatkan penguatan dari suaminya ketika dirinya hampir menyerah untuk meneruskan pengobatan kemoterapi yang sedang dijalaninya. Dukungan ini yang membuat informan EW mau untuk kembali melanjutkan pengobatan kemoterapinya yang sudah berjalan. Hal ini membuat informan EW menyadari bahwa seseorang yang sedang sakit sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
“...Heeh udah ga tahan, terus suami saya bilang
“kalo empat kali aja kamu bisa jalani kan tinggal dua kali kamu harus bisa” jadi suami saya support luar biasa itu, pokoknya anak, suami itu sangat support banget gitu. Saya ga ngebayangin kalo misalkan kita sakit, kita ga punya orang-orang di sekitar kita yang bisa memberikan
Dukungan
Dukungan yang positif gitu ya heem saya gatau...”
(EW, Transkrip wawancara 1, baris 265-273)
Bagi informan EW mendapatkan dukungan dari keluarga di saat sakit adalah yang paling utama. Informan EW merasakan bahwa ketika mendapatkan dukungan dari keluarga rasa sakit yang dirasakannya berkurang sebanyak 50%. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan EW.
“....Tapi dukungan terbesar itu betul keluarga, itu betul-betul nomor satu. Jadi gini kalo kita sakit itu ketika ada keluarga yang bisa kasih perhatian lebih itu rasanya kayak, kalo saya sih ngerasain kalo
Kemudian menurut informan SI adanya dukungan yang baik dari keluarga dan teman akan membuat pengidap kanker menjadi lebih sehat. Dukungan dari teman dan keluarga tidak akan membuat pengidap kanker merasa sendirian dan menghindari rasa putus asa.
Berikut ini merupakan dua pernyataan yang disampaikan oleh informan EW:
SI : “...Iya membangun menghadapi penyakitnya, itu kalau dukungan keluarga dan teman teman nya baik kan lebih sehat,...” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 264-266)
“....Dukungan keluarga teman teman itu perlu banget, tanpa dukungan keluarga teman teman dia akan sendiri, kalau sendiri kan, dia mau ngapai lalu putus asa....” (SI, Transkrip wawancara 2, baris 259-262)
Informan SI juga menyarankan bagi pengidap kanker yang baru saja melakukan kemoterapi dan baru saja terdiagnosis kanker untuk dapat mencari dukungan yang dapat membangun rasa percaya diri. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“...Yang pasti sih kalau buat yang baru kemoterapi yang baru terdiagnosa pasti harus yakin harus yakin pasti bisa sehat terus cari dukungan cari dukungan yang bisa membangun rasa percaya diri...” (EW, Transkrip wawancara 2, baris 534-537)
c. Dukungan sosial dari sesama penyintas kanker
Setelah terdiagnosis kanker informan NI memutuskan untuk bergabung bersama dengan komunitas kanker payudara. Ketika
bahwa dirinya dimengerti oleh para penyintas kanker lainnya yang menjadi anggota komunitas tersebut. Informan NI merasa bahwa dirinya bisa dimengerti karena mengalami hal yang sama (mengidap kanker payudara). Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI:
“...ternyata sharing dengan mereka di WA grup saya merasa mereka ngerti saya, karena apa yang saya alami mereka alami. Saya tidak merasa mereka itu faking gitu....” (NI, Transkrip wawancara 2, baris 123-126)
Sebelum bergabung dengan komunitas kanker payudara tersebut informan NI sempat merasakan kemarahan yang ditimbulkan terdiagnosis kanker. Setelah bergabung dengan komunitas kanker payudara tersebut dirinya sangat merasa diperhatikan oleh pemimpin komunitas tersebut. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan NI
“....Jadi ada kemarahan-kemarahan tersendiri lah ya karena kan baru diagnosa kanker itu. Tapi setelah itu apa ya, setelah bergabung dengan **** apalagi, Ibu L**** A*** G****** sebagai ketua ****
sangat sangat memberi perhatian luar biasa kepada kami...” (NI, Transkrip wawancara 2, baris129-134)
Sedangkan pada informan SI, dirinya mendapatkan dukungan sosial dari seorang dokter yang juga sama-sama mengidap kanker. Dukungan ini didapatkan informan SI ketika dirinya sedang melakukan kemoterapi. Informan SI dan dokter
juga sering memberikan saran obat kepada informan SI yang berguna untuk mengatasi efek samping yang ditimbulkan akibat kemoterapi seperti muntah-muntah. Berikut ini merupakan pernyataan yang disampaikan oleh informan SI:
“...terus kedua ada juga dokter kaya aku yang dia cancer nya beda bukan payudara, cowok. Jadi kita saling support gitu, , “Bu S**** gimana? aku uda kemo cuma masih mual mual nih, aku juga kemo aku punya obat nih, jadi kalau kamu mau kemo kamu satu jam sebelumnya kamu minum ini, kamu minum ini” sampai saya di kasih obatnya, “jadi supaya Bu S**** ga ngerasain mual, ibu ga ngerasain sakit, selama kemo ibu bisa tenang tidur”
jadi kami diskusilah sama si dokter itu nak, di kasih obat lah “nih bu gw kasih obat yah” katanya gitu kan, “jadi satu jam sebelum kemo kamu minum ini, biar kamu nyaman gitu ga muntah muntah terus badan enak”, jadi di kasih obatlah sama dokter itu, jadi kita enak sama sama ada teman diskusi.
Gimana Bu Silla? gimana dok? kemonya gimana?
Jadi tempat diskusi gitu” (SI, Transkrip wawancara 1, baris 228-241)
d. Dukungan sosial dari tenaga medis
Informan YF harus melaksanakan operasi di rumah sakit lain karena informan YF perlu menunggu hingga 2 bulan untuk bisa operasi menggunakan jaminan BPJS di rumah sakit khusus kanker di Jakarta. Informan YF kemudian bertemu dengan seorang dokter yang mau membiayai operasi informan YF di salah satu rumah sakit di daerah Tangerang. Hal ini dikarenakan dokter tersebut mengetahui perjuangannya untuk mengatasi persebaran sel kanker
disampaikan oleh informan YF:
“...Jadi dokter ambil keputusan udah kalo kamu ada bisa saya ga usah di bayar, saya akan operasi kamu ga usah di bayar....” (YF, Transkrip wawancara 1, baris 271-273)
“....emang dokternya baik ngelihat saya perjuangannya kayak gimana. Jadi di **** Alam Sutra sini. Dokternya yang nanganin ga usah di
“....emang dokternya baik ngelihat saya perjuangannya kayak gimana. Jadi di **** Alam Sutra sini. Dokternya yang nanganin ga usah di