• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DEMOKRASI DAN INTERRELASI DALAM

D. Aturan Main dalam Bingkai Non Formalitas

Permasalahan terkadang lebih mudah terselesaikan dengan jalur informal. Dalam sebuah acara PKM yang dihadiri Walikota, terjadi dialog santai dan tidak mengesankan dialog antara Walikota dengan pedagang.

Dalam dialog tersebut semua permasalahan diungkapkan langsung ke depan Walikota oleh pedagang yang terkait dengan masalah . Melalui obrolan santai itu, Walikota dan pedagang bisa membangun kesepahaman tentang tegasnya kebijakan pemkot yang dirasakan sakit oleh pedagang, dianalogkan dengan dokter yang memberi obat pahit yang harus diminum pasien demi kesembuhan pasien.

Dalam internal paguyuban pun, pil pahit sering diproduksi oleh PKM sendiri. Anggota yang merasa kalah dalam sebuiah pengambilan keputusan organisasi akan merasa sangat kecewa dengan hasil yang dicapai tersebut.

Hasil yang dicapai tentunya tidak bisa memuaskan semua anggota, apalagi dengan tingkat keragaman anggota yang dimiliki PKM. Anggota PKM yang kalah dengan legowo akan menerima kekalahannya tanpa mengurangi komitmennya pada paguyuban.52 Untuk masalah ini PKM memiliki cara

52 Mengenai kekalahan dalam pengambilan keputusan, ada kejadian yang menarik yang dialami langsung oleh penulis. Yaitu pada saat PKM akan menentukan keputusan tentang nama sebuah trophy yang akan diberikan pada sebuah acara khusus paguyuban yang diselenggarakan PKM dengan memanfaatkan moment hari ulang tahun tokoh PKM yang menjadi korban pada tragedi Situbondo. Pada acara itu, akan diserahkan trophy yang belum diberi nama kepada lembaga atau orang yang peduli kepada Malioboro. Akhirnya voting memutuskan nama “Malioboro Award”

dengan selisih satu suara saja, ternyata keputusan itu disesalkan ole h salah seorang aktifis PKM.

Walaupun dia menerima keputusan itu, wajah dan sikapnya dalam forum yang menunjukkan kekecewaannya tetap tidak bisa disembunyikan. Hingga sebulan kemudian saat hari-h pelaksanaan

tersendiri, suatu cara yang elegan diberikan kepada anggota untuk memberikan protes atau ketidaksepakatannya jika tidak puas dengan sebuah keputusan yang dihasilkan. Yaitu sebuah pertemuan khusus akan diadakan lagi jika masih ada persoalan yang mengganjal dari hasil keputusan sebelumnya, sekaligus melakukan revisioning kepada anggota terhadap perspektif dalam pengambilan sebuah ke putusan.

Kecepatan setiap individu dan kelompok memang tidak sama dalam mempraktekkan kehidupan demokrasi melalui paguyuban. Intensitas yang tinggi dalam beraktifitas bersama, baik di dalam maupun di luar forum, sangat membantu sesama anggota untuk saling bertukar informasi dan belajar tentang prinsip -prinsip yang telah disepakati dalam paguyuban.

Para pemilik toko, pengusaha, maupun pengelola usaha jasa yang beberapa diantaranya mengurbankan aset mereka untuk dipergunakan sebagai fasilitas publik, memiliki termasuk akselerasi yang tinggi dalam mengikuti arus perubahan dalam paguyuban. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa adaptasi tersebut terkait dengan besarnya jumlah modal yang harus diamankan. Tetapi kesadaran terhadap hak dan kewajiban yang dimiliki dan orang lain merupakan modal yang berharga bagi proses di paguyuban selanjutnya. Kewajiban untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan tetap dilaksanakan penuh walaupun sebagian tanahnya dipakai untuk fasilitas umum dan PKL. Hak mereka untuk membuka usaha di Malioboro juga diiringi dengan kewajiban untuk menjaga “nyawa” dan harmoni kawasan agar tetap hidup. Pendampingan terhadap pengemudi becak, menjaga hubungan secara

acara, kekecewaannya masih ditunjukkan dengan sikapnya yang mendatangi acara tetapi enggan masuk ke dalam ruangan, dia memilih berdiri di lantai satu (acara di lantai dua) untuk menyambut tamu dengan sesekali mengungkapkan pendapatnya tentang ketidak sepakatannya pada penyebutan nama trophy itu. Uniknya, selama sebulan itu, dia juga ikut membantu proses terselenggaranya acara.

psikologis dengan elemen masyarakat dan kelompok sektoral, dan beberapa aktifitas sosial lain.

Pembentukan PKM yang beranggotakan beberapa asosiasi yang beragam dalam perilaku berorganisasi masih didominasi oleh sikap-sikap non mekanis. Relasi kerja yang dibangun masih berupa pertemanan, sehingga pendekatan kekeluargaan akan selalu mejadi wacana utama dalam penyelesaian permasalahan. Hal tersebut sangat positif jika kekeluargaan menjadi roh dalam bertindak, bukan pada permasalahan teknis. Karena masalah teknis yang harus tegas pelaksanaannya akan sulit ditegakkan meskipun dengan cara-cara yang persuasif jika asumsi awalnya adalah bisa terselesaikan dengan “cara teman”.

Oleh karena itu, PKM sebagai ruang publik yang terbuka membutuhkan aturan main sebagai payung legal aktifitasnya. Apalagi PKM sebagai forum yang ‘kasat mata’ hanya bisa dilihat saat pertemuan rutin bulanan, produsen aspirasi kolektif ini akan mudah ditunggangi oleh konsumen gelap yang memanfaatkan jasanya untuk kepentingan sesaat.

Aturan main juga memuat sanksi-sanksi yang tegas bila ada yang tidak melaksanakan, dan juga memuat alat-alat kelengkapan organisasi serta menjelaskan jalur-jalur yang bisa dipakai anggota bila ingin menyuarakan aspirasinya. Pemberdayaan komponen dalam PKM memang sangat diperlukan sebagai upaya untuk menuntunnya menjadi sebuah organisasi modern.

Dengan pemberdayaan anggota, maka aspek-aspek pada organisasi modern bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan nilai-nilai yang telah mereka sepakati bersama.

Mekanisme pengambilan keputusan akan lebih terjaga pelaksanaannya bila ada aturan main. Ketiadaan aturan tersebut nampak

pada beberapa pertemuan, dimana peserta pertemuan itu selalu berubah formasi baik individu maupun lembaga. Hal yang lebih fatal terlihat pada salah satu proses pengambilan keputusan melalui mekanisme voting (lihat catatan kaki no 51). Penulis yang notabene orang luar paguyuban, pada saat ada mekanisme voting mendapatkan hak suara yang sama dengan pengurus paguyuban yang lain. Padahal jumlah dan komposisi anggota yang hadir pada saat itu tidak merata, namun suara dihitung berdasar pada individu yang hadir bukan per kelompok anggota paguyuban.

Sebuah paguyuban (gemeinschaft) lebih longgar dari pada patembayan (gesselschaft ), dengan hanya mengusung nilai-nilai moral dan semangat kekeluargaan tanpa dibatasi oleh prinsip yang mekanis semisal sanksi, PKM akan sangat cair keanggotaannya. Memang sifat dan model keanggotaan yang terbuka dan tidak mengikat mendukung aktifitas seperti paguyuban, tetapi komunitas itu akan seperti warung kopi, komitmen masing-masing anggota tidak bisa dipegang utuh karena mereka keluar masuk tanpa permisi dan tidak ada sanksi yang tegas untuk menindak anggota yang tidak berkomitmen lagi.