• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV INTERAKSI PKM DENGAN PEMERINTAH

A. Pengelolaan Aspirasi : Berdiri Diatas Standar Ganda

Dengan mengklaim beranggotakan representasi dari seluruh elemen masyarakat Malioboro, PKM bisa menjadi alat yang efektif bagi kelompok masyarakat di kawasan tersebut untuk dapat memasuki ruang partisipasi publik. Banyak kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan PKM khususnya saat mengadakan suatu event di Malioboro, seperti Yogya Great Sale dalam rangka HUT Kota Yogyakarta bulan Okober 2003 dan Malioboro Fair di penghujung tahun 2003.

Dalam Asian Tourism Forum (ATF) 2002, yang dilaksanakan pada 21-28 Januari 2002 di Yogyakarta, pemerintah melibatkan PKM dalam program tersebut. Karena Malioboro merupakan etalase raksasa yang bisa menyajikan komoditas perdagangan bagi wisatawan asing, sehingga dengan melibatkan warga Malioboro sendiri dapat tercipta citra yang baik bagi

59 Diambil dari R.Yando Zakaria dan Erwin Fahmi, Multi-Stakehoder Processes dan Good Governance: Minus Malum dalam Wacana Neol iberal? Makalah Lokakarya Indonesian Forum of Local Politics and Democratization (IF-LPD) di Yogyakarta, 9-11 Maret 2004.

Malioboro di mata delegasi asing yang akan datang pada perhelatan tingkat internasional tersebut. Pemerintah juga memberi bantuan kongkrit, dana sebesar Rp 25 Juta diserahkan kepada PKM. Dana tersebut digunakan untuk program pengadaan gerobak 2 in 1, suatu program yang dirumuskan sendiri sesuai dengan kebutuhan komunitas, agar tercipta nuansa yang tertib dan indah pada Malioboro.60

Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa agenda besar pemerintah yang berskala internasional bisa melibatkan asosiasi yang relatif baru dan belum ada legalitas hitam di atas putih, padahal berbagai asosiasi formal yang merupakan representasi masyarakat tidak kurang jumlahnya, misalnya LPMK. Berarti pula ada ja lur dan kondisi tertentu yang memungkinkan meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah dengan paguyuban ini. Berikut ini akan sedikit dipaparkan jalur produksi aspirasi kolektif yang dibuat berdasarkan informasi dan proses dialektika antara elemen internal dan eksternal.

Jalur distribusi informasi yang datang dari pemerintah mengenai suatu program atau kebijakan yang bersinggungan dengan PKM biasanya melalui Sujarwo Putro dari YCM sebagai pendamping. Secara personal pun seringkali anggota paguyuban mengetahui sendiri informasi dari pemkot. Hal ini dapat dimaklumi karena beberapa kelompok sektoral anggota PKM telah mempunyai pendamping bagi aktifitas organisasi kelompoknya, selain itu juga terdapat orang -orang dari pihak pengusaha toko, restoran atau hotel yang memiliki akses informasi langsung ke pemkot, secara psikologis mereka juga dekat dengan Walikota yang juga anggota dan pernah beraktifitas di PKM.

60 Bernas 11 Juli 2001 dan 28 Oktober 2001.

Informasi yang didapat oleh anggota kemudian dibawa ke pertemuan bulanan atau pertemuan khusus, b ila ada hal yang dianggap mendesak untuk dibahas dan dikupas. Pembahasan internal ini yang membuat setiap ada pertemuan dengan pemerintah kota, pihak paguyuban memiliki konsep -konsep yang sudah matang. Bukan sekedar kelompok masyarakat yang dimobilisasi tanpa punya wacana bersama untuk berdialog dengan pemerintah.

Perwakilan dari anggota paguyuban, dengan perbendaharaan kata yang terbatas tapi berani karena menguasai kondisi di lapangan, selalu menyimak dan mengkritisi materi-materi pertemuan. Bukan hanya pertemuan internal paguyuban, tetapi juga pertemuan dengan pemerintah. Kondisi psikologis memang sangat mempengaruhi para anggota tersebut, kondisi itu terbentuk dari pertemuan internal anggota. Wacana yang muncul dan mengendap dalam pikiran para anggota itu adalah hasil dari dialog yang intensif dilakukan oleh para pendamping disaat awal-awal berdirinya PKM dan berlanjut hingga saat ini.

Pihak pemerintah juga berusaha untuk mempertemukan dan memfasilitasi pertemuan dialogis antar elemen masyarakat. Setia p kebijakan yang akan diambil akan melalui beberapa tahapan yang disyaratkan, partisipasi aktif masyarakat mulai saat proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi pelaksanaannya akan dijunjung tinggi. Proses tersebut untuk menciptakan kebijakan yang efektif dalam implementasinya.

“Pemerintah selalu mengusahakan adanya dialog dengan berbagai pihak yang kompeten setiap ada kebijakan baru.

Sehingga dengan melibatkan pihak yang sama-sama memiliki kepentingan dalam kebijakan itu, produk hukum yang dihasilkan dapat dilaksanakan bersama-sama, karena itu kan merupakan hasil kesepakatan bersama.”

Penuturan Tion61 dari Dinas Perekonomian Kota Yogyakarta tersebut mempertegas komitmen pemerintah untuk mengikat peran sakeholders dalam sebuah kebijakan, dan menciptakan produk kebijakan yang tidak terkesan elitis. Dengan hasil dari produk bersama, pemerintah mengharapkan implementasinya dapat berjalan lancar karena semua elemen masyarakat sudah mengerti duduk permasalahannya. Keinginan itu sejalan dengan UU No 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi “Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.”

Di era otonomi daerah ini, sesungguhnya yang muncul terdepan bukanlah pelaksanaan proses kebijakan publik yang aspiratif, tetapi lebih pada perlombaan daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan berbagai macam cara. Nyawa ekonomi nyata -nyata telah merongrong kesediaan pemerintah untuk membuka partisipasi warganya. Lain halnya dengan masyarakat, pandangan yang terlanjur terbentuk selama puluhan tahun yang menempatkan dirinya sebagai konsumen dalam kebijakan publik terasa sulit bila melakukan suatu perubahan yang drastis.

Namun kebutuhan untuk mempertemukan keduanya sangat urgen di masa kini. Aransemen kebijakan yang dibuat bersama dan aspiratif akan dapat dilihat hasilnya saat bertemunya aspirasi kolektif dari bawah melalui PKM dengan draft yang diajukan dalam proses-proses dialogis yang biasa disebut public hearing, dengar pendapat, dan sebagainya. Sebuah kebijakan publik disebut aspiratif dan telah melalui proses yang demokratis apabila

61 Wawancara tanggal 18 November 2003

penawaran draft dari pemerintah, terutama pasca terselenggaranya public hearing, memasukkan aspirasi kolektif dari masyarakat.

Dibutuhkan kemampuan pengelolaan aspirasi yang baik agar dapat menghasilkan kebijakan yang aspiratif. Keinginan pemerintah untuk menciptakan hal itu akan berhadapan dengan dua hal yang berbeda, yaitu misi pemerintah untuk meningkatkan PAD dengan ketidak siapan untuk melaksanakan perubahan sepenuhnya, baik itu pada pemerintah maupun komunitas. Tak pelak hal ini akan berwujud pada terciptanya standar ganda pemerintah dalam melaksanakan kebijakannya sendiri.