BAB IV INTERAKSI PKM DENGAN PEMERINTAH
C. Sektor Informal
Analisa tentang sektor informal sengaja diturunkan, karena sektor ini mendominasi aktifitas perdagangan di kawasan Malioboro. Perkembangan sektor informal juga masuk dalam rentetan perkembangan sejarah Malioboro.
Karena sektor informal juga wisatawan berdatangan, selain itu pencanangan pemerintah yang menjkadikan Malioboro sebagai kawasan wisata belanja terkait dengan keberadaan sektor informal.
Sektor informal di perkotaan lahir sebagai refleksi atas problematika urbanisasi, problematika masyarakat pinggiran dalam mensiasati hidup (survive). Akibat pembangunan yang bias kota, terjadi migrasi penduduk desa ke kota. Padahal selain lahan kerja di kota sangat terbatas, juga menuntut adanya spesifikasi tenaga ke rja yang membutuhkan ketrampilan tertentu, suatu hal yang sulit dipenuhi akibat tidak meratanya pendidikan.
Ivan Illich66 menamakannya sebagai sektor ekonomi yang tak terpantau atau tak dilaporkan. Dikatakan demikian karena sektor ekonomi yang satu ini memang tidak pernah masuk dalam laporan ekonomi pemerintah, bahkan dianggap sektor yang mengacaukan atmosfer ekonomi formal. Sektor informal ini misalnya berupa pasar-pasar tradisional, pedagang klithikan, pedagang kaki lima, warung-warung keluarga, pedagang asongan dan sektor bawah tanah lainnya.
Padahal, sebenarnya banyak jasa yang ditorehkan sektor informal.
Sektor ini berperan mendistribusikan barang yang menjadi produk sektor formal, bahkan dengan harga yang terjangkau masyarakat ke bawah.
Penciptaan lapangan pekerjaan yang tidak sedikit juga tidak bisa dianggap remeh, karena perkara itu rawan memunculkan masalah sosial. Para pekerja yang bekerja di sektor formal juga mendapatkan manfaat dari sektor informal yang tumbuh di dekatnya.
Yang sangat disayangkan, seperti yang diungkapkan Illich, sektor informal itu tidak tercatat dalam data. Data formal seperti PDRB, jumlah pekerja , moneter, jumkah institusi ekonomi, belum memasukkan eksistensi mereka . Karena itu Policy Maker sering under estimate, akibatnya solusi untuk mereka sering keliru .
Di Indonesia, khususnya di Jalan Malioboro, sektor informal sering luput dari perhatian para pengambil kebijakan. Mungkin perhatian lebih ke arah bagaimana menertibkan pedagang, yang justru biasanya kontraproduktif terhadap harapan pedagang. Perhatian dari pemerintah ini bisa dilihat misalnya kasus tarik ulur antara pemerintah dengan pedagang kaki lima yang
66 Lihat Ivan Illich, Matinya Gender, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.
menolak dilokalisir ke bekas gedung milik DPU, atau kasus penataan PKL melalui lahirnya Raperda No 26/2002 yang telah d ibahas di atas.
Menurut Ivan Illich, usaha formalisasi seperti melokalisir sektor informal merupakan kebijakan birokratis yang didukung oleh agen-agen profesional akademik yang sebenarnya lebih mirip sebagai bentuk baru dari kolonialisme ekonomi gaya kota. Kasus-kasus usaha formalisasi tersebut saat ini hampir merata di seluruh Indonesia. Selain Yogya, kita bisa melihat kasus serupa di Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Medan, Denpasar, dan berbagai kota besar lainnya.
Bagi Walikota Yogya67, formalisasi sekto r informal-dalam hal ini PKL -justru akan meningkatkan usaha mereka. Karena dengan adanya pengakuan resmi dari pemerintah, para pedagang akan memiliki akses ke perbankan untuk mendapatkan modal. Penentuan lokasi yang bisa digunakan untuk berdagang atau relokasi ke satu tempat khusus dimaksudkan untuk memberikan kepastian lahan bagi para pedagang, hal ini akan menghapuskan pedagang dari jerat praktek premanisme yang mewabah pada frontierisme ruang publik kota.
Memang karena beberapa faktor tertentu seperti modal, struktur usaha, dan jaminan hukum yang minim, maka sektor informal memanfaatkan celah -celah kosong yang mesti akan berhadapan dengan perangkat hukum negara. Tidak adanya ijin usaha dan terganggunya fasilitas publik menjadi alasan klise pemerintah dala m praktek penggusuran pelaku sektor ini.
Perbedaan kepentingan pemerintah dengan masyarakat pelaku sektor informal sangatlah tajam. Jika pemerintah memiliki kepentingan dalam
67 Saat audiensi penulis bersama Tim Perkotaan WALHI DIY dengan Walikota Yogya, Herry Zudianto, bertempat di Ruang Kerja Walikota pada tanggal 25 Mei 2004.
menata tata ruangnya sejak awal, tentunya ada perancaan yang matang dan bisa meminimalisir masalah yang muncul belakangan.
Seharusnya ada tindakan yang tegas ketika sektor ini memulai usahanya yang dinilai merusak perencanaan tata ruang. Tetapi kebiasaan yang dilakukan pemerintah adalah membiarkan penyakit itu muncul, setelah menjadi kronis baru diberikan tindakan. Anehnya lagi, saat jeda antara pelaku informal memulai usahanya sampai pemerintah melakukan penggusuran, sektor ini justru dikenakan retribusi baik secara langsung maupun tidak.
Secara langsung melalui petugas keliling yang menarik retribusi dengan karcis, sedangkan secara tidak langsung dengan pemanfaatan area parkir di sekitar lokasi usaha sektor informal. Disinilah terlihat inkonsistensi pemerintah dalam menghadapi sektor informal.
Dualisme Ekonomi
Sisi informalitas bagian dari kehidupan di Malioboro, ada dualisme yang hidup bersamaan yaitu Modern dan Tradisional di satu tempat yang sama . Sistem dualisme ekonomi yang muncul sebagai praktek perdagangan di Malioboro bisa dilihat dari interaksi dan perilaku pedagang. Di satu sisi pedagang berjualan untuk mendapatkan untung yang berefek pada terciptanya rantai pasokan barang dari produsen ke penjual, disertai dengan penciptaan citra yang bernilai ekonomis pada kawasan ini sehingga orang akan membutuhkan kapital yang besar bila ingin masuk ke dalamnya atau memiliki persil untuk berjualan. Di sisi yang lain hubungan antar pedagang lebih didasarkan pada model kekerabatan, misalnya saat ada acara di warga maka seorang pedagang yang menghadiri hajatan itu menitipkan dagangannya kepada teman yang lain. Atau mekanisme penetapan standar
harga dan mekanisme masuknya orang luar menjadi pedagang pembeli kapling.
Ada beberapa konsep yang muncul tentang dualisme ekonomi. J.H.
Boeke membagi dua terminologi utama dalam konsep dualistiknya ke dalam sektor ekonomi kapitalis dan pra kapitalis. 68Sektor kapitalis memiliki ciri : produksi untuk laba dengan faktor produksi modal yang dominan, motif ekonomi terpisah dari non ekonomi, struktur organisasi terpisah dari keluarga, skala produksi besar dan berorientasi pada pasar. Sedangkan sektor pra kapitalis memiliki ciri : produksi untuk kepuasan tenaga kerja, faktor produksi dan struktur organisasi sama dengan keluarga, motoif ekonomi berbaur dengan non ekonomi, serta skala produksi yang kecil dan tidak berorientasi pada pasar. Konsep tersebut dikembangkan oleh Gustav Ranis yang mengkombinasikan pendekatan Boeke menjadi bentuk tradisional (agraris) dan bentuk modern (industri).69
Sedangkan Clifford Geertz membagi dua sistem itu ke dalam bentuk sistem “ bazaar economy” dan sistem “firm centered economy”.70 Sistem ekonomi bazaar merupakan kelanjutan dari sistem ekonomi agraris dimana ciri pokoknya adalah berlakunya mekanisme harga luncur (tawar menawar), sedangkan firm centered economy system sepenuhnya memiliki ciri-ciri ekonomi kapitalistik dimana perniagaan dan industri berlangsung melalui pranata sosial yang impersonal. Teori ini dikembangkan oleh Terry
68 J.H. Boeke, Ekonomi Dualistis Dialog antara Boeke dan Burger, Penerbit Bharata, Jakarta, 1973.
69 Lihat Didik J. Rachbini, Ekonomi Informal Perkotaan, LP3ES, Jakarta, 1994. hal 18 -21.
70 Clifford Geertz, Peddler and Princess (Social Development and Economic in Two Indonesian Town), University of Chicago Press, Chicago, 1963 . hal 30-37.
Mc’Gee, dalam analisanya mengenai kekokohan sistem perekonomian tradisional dan teorinya mengenai involusi kota.71
Sektor Informal seperti PKL adalah sisi tradisional di kota dan berdampingan dengan sektor modern di kota. Mereka (modern dan tradisional) bercampur tapi tak berkimia. Artinya apa, yaitu mereka memang ada pada dunia masing-masing dan tapi saling mendukung. Ikatan nilai-nilai komunitas tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan Malioboro.
Walaupun etnisitas pedagang heterogen, namun masing-masing mampu membawa dirinya pada nilai-nilai di wilayah mereka berdagang.
Khusus untuk Malioboro, fenomena sektor informal (PKL) beranomali. Mulai dari hubungan sektor ini yang dekat dengan pemerintah, yang bisa dilihat dari kebijakan wisata belanja Malioboro atau Raperda PKL, hingga kemunculan PKL bermodal besar yang merubah P pada PKL dari pedagang menjadi pengusaha.
D. ‘Warga’ ?
Masalah yang seringkali muncul dalam partisipasi adalah cakupan dari representasi. Siapa yang berhak untuk bersuara dan menyuarakan aspirasi masyarakat. Para mahasiswa berunjuk rasa mengklaim bahwa mereka menyuarakan aspiras i rakyat. Gerak aktifis NGO juga mengatas namakan kepentingan rakyat. Anggota legislatif yang duduk di dewan sedikit bias antara mewakili rakyat atau mewakili partai. Kalangan pemerintah pun sering melontarkan pertanyaan ‘Rakyat yang mana?’ bila menghadapi situasi dimana mahasiswa dan aktifis NGO bersuara mengatasnamakan rakyat di
71 Terry Mc’Gee, ‘Perombakan Struktural dan Kota di Dunia Ketiga Suatu Teori Involusi Kota’, dalam Chris Manning dan Tadjuddin NE, Urbanisasi, Pengangguran dan Sektor Informal di Kota, Gramedia, Jakarta, 1985. hal 34-42.
hadapan mereka. Yang lebih memprihatinkan bila kita menengok pada masa orde baru , dimana kepentingan pejabat dibungkus dengan kepentingan rakyat, sehingga penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan rakyat terdistorsi sedemikian rupa.
Bila stratifikasi masyarakatnya sangat heterogen selain kuantitas yang terus meningkat, dapat dipastikan representasi akan menjadi masalah abadi. Pelaksanaan demokrasi model perwakilan cenderung menyerahkan kekuasaan pada individu-individu yang memiliki cukup sumberdaya yang telah melalui proses seleksi bersyarat dengan menarik lebih banyak pemilih dalam suatu pemilihan tertentu. Sedangkan otoritarian mengingatkan bahwa kekuasaan untuk mengatur henda knya pada mereka yang mampu menunjukkan otoritas absolutnya. Dalam kedua kasus tersebut, elit penguasa mengklaim kedaulatan total atas domain yang dikuasai, kedaulatan warga dikesampingkan.
Struktur kekuasaan yang meniadakan peranan riil warga dalam membentuk komunitas mereka sepatutnya dirubah sedemikian rupa sehingga setiap orang dapat berpartisipasi secara bertanggung jawab sebagai warga yang sederajat dalam membentuk keputusan yang mempengaruhi mereka.
Dengan demikian, perlu adanya perubahan perspektif aspek sosial dan politik dalam kehidupan, terutama berkaitan dengan relasi negara dengan masyarakat. Salah satunya adalah pendekatan yang diajukan demokrasi komunitarian yang mengandalkan partisipasi dalam menyusun pemecahan masalah di komunitas yang menimbulkan masalah publik, dimana melalui jalan aktifitas dan eksistensinya sendiri dipakai sebagai titik tolak dalam menemukan solusi bersama.
Komunitas dalam hal ini bukan hanya orang yang bertempat tinggal atau memiliki KTP wilayah tertentu. Tetapi semua bagian dalam suatu entitas yang berinteraksi dan berproses bersama hingga memunculkan suatu aktifitas tertentu. Masing -masing organ yang membentuk sesosok tubuh Malioboro berhak untuk bersuara atau turut ambil bagian dalam keputusan yang mempengaruhi tubuh yang mereka bentuk. Pengalaman me -ruang sejak beberapa tahun lalu yang dialami dan dilakukan para pengusaha dan pemilik toko, PKL, pengemudi becak, pengemudi andong, juru parkir, pejalan kaki dan pengunjung, serta warga yang bertempat tinggal di sana telah memberi warna dalam sosok Malioboro. Segala hal yang berkaitan dengan tubuh hendaknya melibatkan organ -organ pembentuknya.
Atas dasar itu lah, PKM merasa memiliki hak untuk melibatkan diri dalam proses pengambilan kebijakan publik khususnya yang terkait dengan kawasan Malioboro.