BAB IV INTERAKSI PKM DENGAN PEMERINTAH
B. Jalan Berliku dalam Berpartisipasi
Dari banyak kebijakan yang diproduksi pemerintah, penetapan Peraturan Daerah No 26/2002 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Yogyakarta adalah kasus yang diikuti penulis saat penelitian, nampak aktifitas elemen masyarakat yang terkait menunjukkan aktifitas berpartisipasi, selain masalah parkir dan uji coba lalu lintas. Perda tersebut merupakan kebijakan yang sangat menyentuh eksistensi dari pedagang kaki lima, tidak hanya di Malioboro saja tapi di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.
Raperda PKL
Raperda tentang Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) pertama kali mencuat ke publik sekitar pertengahan bulan Oktober 2001 lalu. Dengan dijiwai oleh sema ngat untuk menciptakan Kota Yogya yang bersih dan tertib sesuai dengan slogan Yogya Berhati Nyaman, Pemkot Yogya bermaksud untuk menata lagi keberadaan PKL yang dianggap sudah membuat semrawut wajah kota Yogya. Membuat semrawut karena lokasi berjualannya mengambil tempat di beberapa fasilitas untuk publik seperti trotoar, pinggir jalan, tempat parkir, dan sebagainya.
Khusus untuk Jalan Malioboro, penataan tersebut telah kesekian kalinya dilaksanakan Pemkot Yogya. Awalnya, pada tahun 1968 Pemkot Yogya melarang menggunakan trotoar di sepanjang Jalan Malioboro untuk melaksanakan aktifitas perekonomian. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah No 10/1968 Bab II Pasal 2 poin m. Inti Perda tersebut antara lain melarang adanya pendirian warung-warung dan dasaran umum di bagian pejalan kaki jika tidak ada ijin dari pemerintah. Namun himpitan perekonomian membuat para pedagang tetap berjualan, tanpa takut dengan Perda yang sudah ada. Namun Pemkot juga tidak tinggal diam, penertiban-penertiban terhadap PKL te rsebut kerap dilakukan.
Jumlah pedagang tetap membengkak, dan memberi warna tersendiri di Malioboro. Akhirnya, Pemkot menurunkan status menjadi mengatur keberadaan PKL dengan mengeluarkan SK Walikotamadya No:
56/KD/1987 yang disempurnakan dengan SK Walikota No: 311/KD/1995 tentang pengaturan PKL di wilayah Kota Yogya. Kemudian, ketika SK tersebut dirasa kurang memadai sejalan dengan semakin kompleksnya masalah yang berkembang. Pemerintah mengajukan Raperda No 26/2002 tersebut.
Setelah mengetahui akan adanya Raperda tersebut, PKM bersama beberapa kelompok PKL di Yogya menyusun berbagai rencana dialog dengan pihak eksekutif. Masing-masing juga membawa counter draft Raperda yang telah diolah di internal kelompok atau paguyuban. Ternyata pertemuan dengan eksekut if yang diprakarsai oleh paguyuban diklaim sepihak oleh Pemkot sebagai salah satu tahapan pembuatan kebijakan, yaitu public hearing. Sehingga legitimasi tersebut membawa Raperda versi eksekutif masuk ke meja anggota dewan.
Kabar yang menyebutkan bahwa Raperda PKL telah ke gedung DPRD sungguh sangat mengejutkan berbagai kalangan, tak terkecuali warga PKM. Karena draft yang diajukan eksekutif dianggap tidak melewati proses dialog dengan stakeholders yang menjadi obyek dari kebijakan tersebut.
Maka, pertemuan semakin intensif dilakukan, koalisi dengan beragam kelompok PKL dari seluruh Yogya digalang erat. Mereka pun melabrak gedung DPRD Kota Yogyakarta dengan membawa counter draft masing-masing. Yang kemudian terjadi beberapa kali dialog dan penyaluran aspirasi antara paguyuban dengan anggota legislatif.
Beberapa hal yang menjadi perhatian mereka dalam raperda tersebut antara lain : syarat ontologi raperda mengenai istilah penataan;
syarat aksiologi dimana penyusunannya masih top down dan belum memuat
beberapa UU yang menjadi dasar pijakan dalam menyusun; syarat epistemologi yang nyata-nyata menunjukkan adanya ketidakseimbangan
antara hak dan kewajiban PKL; dan juga masalah ijin lokasi berdagang.
Terkadang dalam penyusunan counter draft , ada benturan kepentingan antar kelompok. Tetapi adanya common issue yang dihadapi menyangkut eksistensi mereka mengharuskan mereka untuk melakukan kompromi. Alternatif yang win-win solution menjadi pilihan. Beban kemenangan dan kekalahan sama -sama diletakkan di pundak paguyuban, bukan lagi dibawa oleh anggota.
Berbagai rapat, pertemuan, dan dialog dilakukan dalam kerangka pembahasan Raperda tersebut. Hal itu menyebabkan proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. “Konsekuensi yang harus dihadapi bila ingin melahirkan produk hukum yang disepakati banyak pihak” tutur Tion
“Adalah dengan molornya proses pembuatan dari produk yang bersangkutan.
Tetapi tidak seperti masa orde baru kan? Yang ujug-ujug ada kebijakan dari pemerintah tanpa rembugan sebelumnya”. Memang, proses yang memakan waktu tersebut disebabkan oleh transaksi wacana yang dilakukan dalam berbagai interaksi antara pemerintah dengan paguyuban.
Namun, banyaknya proses yang dilewati tidak menjamin aspirasi dari kelompok pedagang terakomodasi. Draft yang pada akhirnya menjadi Perda tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan usulan draft saat pertama kali diajukan. Aspirasi mereka masih belum bisa menyentuh ranah pengambilan keputusan. Kebijakan itu juga tidak seimbang, karena tidak memuat kewajiban pemerintah terhada p PKL, padahal PKL juga punya hak karena mereka juga diberi legitimasi pemerintah melalui penarikan retribusi kebersihan dan tempat berdagang.
Lain halnya dengan alasan yang dikemukakan pemerintah, menurut Tion, pemerintah berada di tengah-tengah dan bertindak sebagai fasilitator, tidak mungkin semua keinginan pedagang dipenuhi karena elemen masyarakat yang lainnya juga perlu diakomodir, sehingga pemerintah akan mencari jalan tengah dengan memunculkan produk kebijakan yang sitik iding, tentu dari produk ini akan ada pihak yang merasa dirugikan karena aspirasinya tidak tertampung.
Masalah Parkir dan Uji Coba Lalu Lintas
Selain raperda penataan PKL, beberapa kebijakan berkaitan dengan Malioboro juga menunjukkan kecenderungan yang tidak aspiratif.
Misalnya berkaitan dengan uji coba arus lalu lintas, yang berwujud pada penutupan Jalan Malioboro selama waktu tertentu. Penutupan tersebut dinilai paguyuban sangat merugikan masyarakat di Malioboro, tidak hanya pelaku ekonomi saja bahkan pengunjung dan masyarakat yang berdomisili di sana
pun merasa dirugikan.62 Akses masuk ke kawasan itu tertutup sehingga dianggap mematikan aktifitas disana. Penutupan yang rencananya akan berlaku terus merupakan rekomendasi YUIMS selaku konsultan yang telah melakukan penelitian selama dua tahun. Obsesi para arsitek itu adalah untuk menciptakan Malioboro yang nyaman dengan menetapkan Jalan Malioboro sebagai kawasan pedestrian, yaitu kawasan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki..
Dengan menerapkan konsep pedestrian, otomatis parkir akan tergusur karena kendaraan bermotor tidak boleh lewat. Padahal di sana terdapat 180 orang yang kepulan asap dapurnya mengandalkan hasil dari parkir. Oleh karena itu pemerintah berencana memindahkan tempat parkir ke kantong -kantong parkir di sekitar Malioboro. Konsep pemindahan parkir ke beberapa lokasi itu dipertanyakan juru parkir sendiri, karena selain belum ada infrastruktur pendukung juga tidak ada jaminan kebijakan itu konsisten dilaksanakan dan juru parkir yang sebelumnya di Malioboro akan mendapatkan tempat di sana. Hal itu akan memunculkan konflik baru diantara para juru parkir, yaitu antara juru parkir yang terkena relokasi dengan yang sudah beroperasi di tempat relokasi tersebut.
Menurut Sigit Kartosaptono63, ketua paguyuban parkir, penutupan itu tidak hanya akan merugikan juru parkir sendiri tetapi juga akan merugikan seluruh warga Malioboro. Maka penentangan rencana tersebut ikut pula menjadi bagian dalam kegiatan advokasi yang dilakukan PKM untuk mencegah lahirnya kebijakan yang tidak aspiratif.
“Kami melawan bukan karena kami membangkang, tapi tanpa perlawanan pemerintah akan seenaknya sendiri membuat peraturan”
62 Radar Yogya, 17 Oktober 2000; Kedaulatan Rakyat, 18 Oktober 2000.
63 Wawancara tanggal 13 November 2003
Dalam hal pembuatan produk kebijakan yang aspiratif, langkah pemkot pada proses pembuatan raperda PKL dan beberapa raperda parkir sebenarnya patut diacungi jempol dengan beberapa perubahan yang diterapkan, misalnya public hearing untuk menjaring masukan dari masyarakat. Namun sedikit berbeda dengan kasus raperda PKL, pada kasus raperda parkir yang menodai proses pembuatan kebijakan yang partisipatif terletak pada kurangnya sosialisasi pemkot kepada juru parkir tentang produk kebijakan yang menjadi tema publik hearing. Celakanya, ternyata yang dibahas dalam publik hearing itu tidak hanya satu kebijakan tentang parkir tetapi ada empat produk kebijakan yang kemudian pada tanggal 27 Juli 2002 disahkan menjadi empat Perda perparkiran, yaitu : Perda No 17 Th 2002 tentang Penyelenggaraan Perparkiran; Perda No 19 Th 2002 tentang Retribusi Parkir di tepi Jalan Umum; Perda No 20 Th 2002 tentang Retribusi Tempat Khusus Parkir; dan Perda No 22 Th 2002 tentang Pajak Parkir. Padahal setahu juru parkir hanya satu raperda, hal itu yang membuat mereka merasa dipermainkan dan hanya menganggap publik hearing itu sebagai acara makan-makan.
Semua kebijakan tentang parkir hendaknya juga melibatkan juru parkir sebagai pihak masyarakat yang terkena dampaknya. Kebijakan tanpa melibatkan pihak yang terkait akan berakibat buruk dalam pelaksanaannya nanti. Selain pedestrianisasi, bagi juru parkir yang harus diperjuangkan adalah masalah karcis parkir.64
64 Tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan ketersediaan lahan parkir di Yogyakarta menyebabkan badan jalan kota menjadi sempit karena dipergunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Asumsi yang terbangun dari jumlah kendaraan yang diparkir di pinggir jalan dengan banyaknya karcis parkir yang terpakai adalah penerimaan PAD kota yang besar dari sektor ini.
Namun setiap tahun PAD dari retribusi parkir pencapaiannya tidak memenuhi target. Dapat ditebak jika pemerintah kemudian menuding pemakaian karcis parkir yang tidak sesuai prosedur -lah penyebabnya. Karcis yang seharusnya sekali pakai dengan diberikan ke warga yang memakirkan kendaraannya ternyata dipakai berulang kali. Maka untuk memacu penerimaan dari
Juru parkir merasakan adanya ketidak adilan dari pemkot. Mereka diperas dengan meningkatkan PAD dari sektor parkir yang berarti tidak adanya tambahan pendapatan dari perputaran karcis yang berulang, namun kesejahteraan para juru parkir diabaikan. Beratnya tugas mereka sebagai penjaga motor yang diparkir tidak diimbangi dengan fasilitas yang diberikan pemkot, misalnya seragam yang hanya setahun sekali dalam bentuk lembaran kain dan tiadanya asuransi kecelakaan kerja. Beban itu semakin berat dengan adanya kebijakan yang menyebutkan apabila ada motor yang diparkir hilang, 50% dari nilai kendaraan tersebut menjadi tanggungan juru parkir sedangkan sisanya ditanggung pemkot. Karcis parkir akan diundi dengan berbagai macam hadiah bernilai jutaan rupiah, menurut Sigit, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan minimnya fasilitas yang diberikan pemkot kepada juru parkir. Dana yang bisa dialokasikan untuk kesejahteraan mereka, yang selama ini dirasa kurang, oleh pemkot dihamburkan dengan pemberian berbagai macam hadiah undian tersebut.
Paguyuban parkir gigih memperjuangkan hak anggotanya yang terabaikan, salah satunya dengan demonstrasi besar-besaran ke Balai Kota Yogya.65 Bagi mereka, belum ada tukang parkir di Indonesia yang memperjuangkan aspirasinya segigih ini dengan demo yang sebesar jumlah mereka. Paguyuban Parkir juga mendapatkan dukungan dari sesama anggota PKM, karena masalah parkir juga menyangkut kepentingan mereka di Malioboro. Kedekatan lahan parkir berarti semakin me ndekatkan dan memudahkan akses bagi konsumen mereka, sebaliknya kalau tempat parkir jauh atau tidak ada maka calon pembeli pun malas untuk datang.
sektor parkir, pemerintah membuat program karcis berhadiah. Dengan harapan wrga meminta dan menyimpan karcis yang mereka minta dari juru parkir.
65 Tercatat dua kali demonstrasi pada saat itu. Yang pertama pada 31 Desember 2002 dan kedua tanggal 13 Januari 2003.Selengkapnya lihat Kedaulatan Rakyat tanggal 2, 14, 18, 25, 27, dan 28 Januari 2003.
Pengembangan kawasan Malioboro sepatutnya mengikutsertakan peran serta pihak yang paham dan merasakan kondisi daerah itu. Dua pembahasan di atas menunjukkan lika -liku perjalanan menuju penciptaan sebuah kebijakan yang aspiratif memang mambutuhkan waktu dan tenaga.
Tarik ulur kepentingan antara pemerintah dengan komunitas atau masyarakat menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan harus dipertemukan dalam sebuah ruang dialog. Tetapi dialog yang setara tidak akan ditemui bila pemerintah tetap memposisikan diri sebagai pembuat kebijakan, sedangkan masyarakat sebagai pelaksana keputusan, terlebih lagi ada elemen yang tersisihkan di dalamnya.