• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV INTERAKSI PKM DENGAN PEMERINTAH

F. Partisipasi : Budaya, Formalitas, atau

Keberadaan eksekutif dan legislatif dalam struktur politik sebagai pemegang otoritas pembuat kebijakan selalu berusaha untuk memperbaiki kinerjanya, salah satunya dengan memasukkan konsep partisipatif dalam pembuatan keputusan publik. Dengan ditinggalkannya model kebijakan yang top down mempunyai banyak konsekuensi, diantaranya adalah proses

penyerapan dan negosiasi aspirasi dari masyarakat yang memakan waktu dan tenaga lebih banyak. Semua itu harus dilewati untuk melahirkan sebuah kebijakan yang aspiratif.

Namun konsep kebijakan partisipasif tersebut dalam prakteknya menemui banyak kendala. Mekanisme yang dilakukan hanya menggunakan pendekatan formalitas, yaitu proses dilibatkannya elemen masyarakat dengan mengundang mereka pada pembahasan kebijakan tertentu. Namun substansinya belum tersentuh, para pelaku partisipatif yang dilibatkan ternyata belum benar-benar memahami materi yang dibahas, selain secara individu mencerminkan sikap tidak mau tahu terhadap permasalahan secara komprehensif, ini terutama disebabkan oleh minimnya informasi dan

keterbukaan akses informasi ke masyarakat. Selain itu, kondisi yang berkembang di lapangan tidak tercakup dalam pendekatan formalitas, sehingga obyek kebijakan yang memahami kondisi lapangan tidak sinkron dengan materi kebijakan.

Dalam tabel 4.1 ditunjukkan contoh-contoh pelibatan PKM dalam aktifitas pembuatan kebijakan publik. Bentuk pelibatan mulai dari duduk se-meja dalam perencanaan program sampai yang paling ekstrem dengan aktifitas demo ke eksekutif atau legislatif. Dari tabel tersebut di bawah terlihat bahwa walaupun PKM aktif dan terlibat dalam proses pembuatan beberapa kebijakan, tetapi keterlibatan itu untuk membahas sebuah produk ide dari atas atau masih berparadigma top down. Ide -ide dari bawah atau kebijakan yang bottom up belum merupakan sebuah keharusan bagi pemegang otoritas dalam merumuskan sebuah produk kebijakan.

Tabel 4.1

Contoh Pelibatan PKM dalam Kebijakan Pemerintah

No Kebijakan/Permasalahan Bentuk Pelibatan 1 Raperda PKL Mengkritisi draft dalam internal

paguyuban kemudian melakukan publik hearing dan dialog dengan Walikota dengan menyampaikan counter draft, dan koalisi dengan beberapa paguyuban PKL se-Yogya untuk melakukan demonstrasi.

2 Asian Tourism Forum (ATF) 2002

Bantuan dana dari pemerintah untuk kampanye dengan pemakaian gerobag 2 in 1 dan poster ATF 2002, serta komitme dalam mensukseskan penyelenggaraan event tersebut dengan menganalogkan Malioboro sebagai ‘etalase raksasa’

Yogyakarta.

3 Raperda Parkir Publik hearing, pengkritisan draft, bersama asosiasi parkir se-kota Yogya menyampaikan aspirasi lewat jalur demonstrasi

4 Yogya Great Sale dan Malioboro Fair

Perencanaan bentuk kegiatan hingga kerja sama dan kontribusi sesuai dengan

kemampuan kelompok masing-masing saat pelaksanaan kegiatan.

5 Penataan Kawasan Malioboro, termasuk Uji Coba Lalu Lintas dan Rencana Pedestrian Area

Setelah melalui beberapa perte muan dan lokakarya, PKM memohon kesediaan Pemkot untuk mengkaji ulang penataan Kawasan Malioboro termasuk penataan lalulintas; pelibatan komunitas di kawasan mulai dari proses sampai hasil; dan meletakkan rencana penataan kawasan pada asas keberpihakan pada lingkungan dan budaya, perkembangan ekonomi, lapangan kerja, dan anti kekerasan. Juga menyatakan sikap melalui media massa.

Sumber : BERNAS, Jawa Pos, dan Pengamatan Langsung.

Pemerintah melibatkan atau memberi kesempatan masyarakat untuk berpartisipas i dalam sebuah aktifitas dari kebijakan publik dengan memanfaatkan PKM yang dianggap cukup representatif. Bukan hanya itu, kelompok sektoral pun dilibatkan apabila sebuah kebijakan menyangkut eksistensi mereka. Walaupun pada awalnya yang proaktif untuk minta dilibatkan adalah elemen masyarakat anggota paguyuban ini, namun proses tersebut menunjukkan pengakuan pemerintah secara informal terhadap eksistensi paguyuban tersebut dan upaya untuk membuka ruang publik melalui pelibatan forum-forum yang ada.

Pelibatan melalui berbagai paguyuban yang bisa dikatakan adanya perubahan keterbukaan pada pemerintah dalam ruang pembuatan kebijakan bukannya tanpa resiko sama sekali. Modifikasi dari otoritarian bisa muncul bila ada ketidak seimbangan dalam hal bargaining position yaitu mengenai kapasitas dan legalitas. Hegemoni penguasa terhadap rakyat dilewatkan melalui perilaku atau proses yang demokratis. Pembentukan

kelompok-kelompok dengan tujuan menciptakan mekanisme partisipasi yang lebih aktif dan distributif, jika tidak mengedepankan kesejajaran sebagai pilar dasar dialog antara pemerintah dengan rakyat, akan berujung pada pemberangusan konsep partisipatif itu sendiri. Karena proses tawar menawar antara aspirator dengan otoritas pembuat kebijakan akan terjadi apabila ada kesejajaran.

Dari bermacam proses pembuatan kebijakan publik, posisi pemerintah sebagai pemegang otoritas terlihat masih dominan. Proses pembuatan Raperda PKL dan Raperda Parkir adalah salah satu contoh dimana bentuk-bentuk aspirasi dari masyarakat belum bisa menembus batas otoritas atau minimal bisa memberi perubahan pada kebijakan yang berpijak dari aspirasi yang berkembang. Perubahan masih mengesampingkan kepentingan-kepentingan sektor informal yang memang secara legalitas memiliki posisi yang lemah.

Dua contoh pembuatan Raperda diatas menunjukkan bahwa partisipasi masih dilihat sebagai proses bukan isi. Walaupun diakui proses yang dilakukan sudah mengarah ke bentuk partisipatif, namun tidak berarti kebijakan yang dihasilkan sudah demokratis dan partisipatif.

Sebenarnya dengan dibukanya kran kesempatan untuk berpartisipasi, warga menjadi memiliki perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi di lingkungannya. Dan secara psikologis juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri untuk terlibat, mempengaruhi, dan berkontribusi dalam pemecahan masalah serta dalam proses pembuatan kebijakan. Produk kebijakan yang dihasilkan merupakan aransemen bersama antara pemerintah dan masyarakat yang akan lebih dipatuhi dan dilaksanakan, sehingga dengan terbukanya pemerintah terhadap aspirasi stakeholders dapat meningkatkan trust rakyat terhadap pemerintah.

Dalam setiap kesempatan pertemuan, anggota yang hadir dalam forum selalu menekankan kesadaran perlunya gerakan “mengatur diri sendiri”

dari para anggota PKM, langkah-langkah kongkrit yang diperlukan oleh paguyuban bisa segera dilaksanakan tanpa harus menunggu inisiatif dari pemerintah. Kesadaran tersebut mengindikasikan bahwa dalam tataran aktifitas keseharian mereka, sudah memiliki kemampuan untuk mengelola asosiasi tersebut, termasuk dalam mengelola konflik, manajemen organisasi, penggalian aspirasi, dan pengambilan keputusan bersama.

Hal tersebut sebenarnya menguntungkan bagi pemerintah karena beberapa kendala yang dihadapi dalam pemecahan masalah publik bisa teratasi, misalnya petunjuk mengenai kebutuhan dan keinginan warga, prioritas kebutuhan dalam pembangunan suatu kawasan, dan peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hasil-hasil proyek. Daily politics dalam paguyuban dapat menyelesaikan langkah awal untuk menghasilkan kebijakan melalui proses yang demokratis, sampai pada perlakuan pemerintah terhadap aspirasi kolektif yang diterima, bisa dilihat apakah proses-proses tersebut mendorong ke arah sikap demokratis ataukah tidak ada perubahan paradigmatik pada pemerintah.

Tetap bermuara ke saluran institusional sebagai tujuan untuk mengartikulasikan kepentingan dengan pemahaman atas fungsi dari lembaga politik menunjukkan masih membutuhkan sistem politik yang sudah berjalan, dari pada mendobrak sistem yang ada tanpa keberhasilan misi dari aspirasi mereka. Yang sedikit dirubah adalah proses deliberasi dari produk kebijakan publik, semangat untuk “mengatur diri sendiri” dari anggota PKM bisa menjadi katalis perubahan tersebut.

F. Catatan Akhir

Sebagai institusi yang dominan dalam penyelesaian masalah yang semakin kompleks, kinerja pemerintah menunjukkan hasil yang mengecewakan terutama terkait dengan tidak sinkronnya keinginan dan harapan antara pemerintah dengan rakyat serta proses pembuatan kebijakan publik yang untouchable. Peralihan menuju ke era reformasi hanya merubah misi dari perjalanan pembuatan kebijakan publik, dari yang bersifat tertutup berubah menjadi sosialisasi tanpa adanya perubahan yang signifikan pada sisi pertisipasi masyarakat. Di pihak masyarakat dan komunitas pun perubahan belum bisa diterima sepenuhnya. Masih dibutuhkan kondisi yang sedemikian rupa yang bisa membuat partisipasi menjadi sebuah kesadaran dan kebutuhan pokok, bukan sekedar euforia dan mekanisme survival yang konstruktif.

Eksisnya forum warga semacam PKM akan mendorong individu maupun organisasi untuk merekonstruksi kerjasamanya dalam lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Aransemen bersama yang dihasilkan melalui proses tersebut lebih mendapatkan legitimasi dari masyarakat, dan lebih efektif dalam prakteknya karena fungsi kontrol telah melekat pada masyarakat sebagai obyek dari kebijakan itu.

Di dalam masyarakat dan komunitas dengan interaksi yang sehat, proses demokratisasi tidak hanya berlangsung melalui pendekatan formalitas saja. Peningkatan serta perubahan pada model relasi kuasa, kapasitas, informasi, dan kesempatan lebih mendekatkan proses tersebut kepada rakyat. Aspek psikologis yang terbangun dari proses -proses diskusi dan intensitas yang tinggi berpengaruh pada ‘kenikmatan’ ya ng diperoleh rakyat, sehingga kualitas secara individu dan kelompok turut mendorong proses

demokratisasi. Beberapa anggota PKM yang telah memiliki status ekonomi yang lebih mapan secara internal akan menjadi pendorong bagi rekan-rekannya untuk lebih peduli dengan proses itu, selama ‘perut belum kenyang’

kebutuhan akan asosiasi dan wacana -wacana demokrasi masih dinomor duakan.

Ruang untuk berpartisipasi yang tersedia di Malioboro melalui PKM telah menjadi wahana untuk memperluas peran masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Gejala -gejala yang mengarah pada kekurangan atau hambatan yang ditemukan bila disikapi dengan kultur dan kapasitas yang telah terbangun akan menjadi koreksi untuk lebih memperbaiki institusi. Dengan tidak melebihi wewenang atau mereduksi peran konstitusional dari lembaga-lembaga perwakilan yang ada, PKM menjadi jalan pintas demokratisasi.

Skema 4.3 Jalur Aspirasi

Keterangan :

a. Ruang ini bernama forum warga, interaksi terjadi antara anggota dan pendamping. Proses-proses dialog yang sejajar mengolah informasi yang masuk dan permasalahan yang ada menjadi sebuah keputusan bersama. Garis putus -putus manandakan bahwa pendamping memiliki peranan penting dalam PKM, namun posisinya mengalami perubahan seiring dengan perkembangan kapasitas yang dialami oleh anggota PKM. Pendamping yang pada awalnya mempromotori terbentuknya forum, sekarang praktis hanya sebagai moderator dan konsultan saja b. Proses yang terjadi di dalam forum warga dengan keputusan bersama

yang lebih mengakomodir kepentingan yang heterogen, menjadi input bagi pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan. Di sisi lain, proses

Pemerintah

PKM

Anggota Anggota Anggota Pendamping

Formal ProseduralDeliberatif

Masyarakat

b

a

c d

e

pembuatan kebijakan dinilai partisipatif setelah melalui proses konsultasi dengan publik sehingga pemerintah bisa memanfaatkan forum ini untuk berdialog, tetapi juga bisa mengklaim telah ada dialog dengan stake holder dengan memanfaatkan legitimasi dari forum untuk sebuah proses pembuatan kebijakan.

c. Masyarakat, terutama yang telah menjadi anggota, bisa memanfaatkan forum ini untuk menyampaikan aspirasi dan kepentingannya atau untuk masuk ke dalam sebuah proses dialog yang akan memberi manfaat bagi individu maupun kelompoknya.

Sosialisasi hasil-hasil dialog dan kebijakan pemerintah melalui forum lebih efektif karena jalur distribusi informasi jelas terhubung sampai ke level paling bawah.

d. Selain melalui forum, akses untuk menyalurkan aspirasi bisa melalui tol free dengan difasilitasi paguyuban. Hambatan birokrasi dapat

tereduksi dan dengan cara tatap muka langsung atau ‘curhat’ secara psikologis masyarakat lebih dapat mengartikulasikan aspirasi ke pihak otoritas.

e. Dari titik tengah (PKM) ke bawah terjadi proses diskusi untuk menghasilkan keputusan kolektif, model pengambilan keputusan deliberatif ini dapat meningkatkan kualitas keputusan yang dihasilkan.

Keputusan kolektif itu dibawa ke titik atas melalui jalur-jalur formal prosedural yang telah tersedia.

MAWAR MALIOBORO Ia tumbuh di belukar kaki lima Duri-durinya runcing seperti kuku-kuku kucing Adalah tanda cinta sekaligus tanda bahaya Seperti malam ini, dadaku dirobeknya

“aku yang akan menanam tangkai mawar ini kepada siapapun yang pernah menyinggahi hati.”

Katanya sambil menunjuk dadanya sendiri.

Ia tumbuh seiring musim penghujan datang.

Di atas trotoar ia menari, seperti tak ada sunyi.

Menggerakkan hasratku mengiringi liuk tangkainya.

Begitu seterusnya, ia selalu menggairahkanku.

“Bagaimana kalau kita berdansa bersama?” ajakku.

Akhirnya seperti malam lalu, dadaku dirobeknya.

“kamu adalah pecundang berwajah cinta.” Katamu.

Membuat Malioboro hinggar tanpa bunga-bunga.

Maka akulah mawar yang akan membuatmu selalu luka.

BAB V

BAB V PENUTUP

“Operationalizing the Urban Forums has not been without problems, not least because their role is still unclear, as is the composition of its membership and the range of issues local government is supposed to consult the forums on” .72

Dalam realitas perkembangan demokrasi di Indonesia, munculnya forum warga masih terbilang baru. Reformasi yang bergulir dengan menghasilkan kebijakan desentralisasi serta perubahan paradigma relasi antara negara dan masyarakat, turut menggairahkan masyarakat dengan membuka ruang baginya untuk berpartisipasi.

Sebagai salah satu modus partisipasi ekstra parlementer, kehadiran forum warga dapat menjadi faktor koreksi dari distorsi yang terjadi pada sistem demokrasi perwakilan yang dijalankan saat ini. Tanpa berniat untuk mereduksi peran institusional dari lembaga perwakilan yang ada, forum warga sedikit banyak telah memenuhi hasrat beraktualisasi dan menyerap aspirasi masyarakat, hal yang tidak terpenuhi dengan melalui institusi seperti partai politik dan lembaga leg islatif.

Forum warga membuat pemerintah lebih terjangkau oleh rakyatnya, karena intensitas komunikasi diantara keduanya lebih meningkat.

Di dalam masyarakat dan komunitas dengan interaksi yang sehat, proses demokratisasi tidak hanya berlangsung melalui pendekatan formalitas saja.

Peningkatan serta perubahan pada model relasi kuasa, kapasitas, informasi, dan kesempatan lebih mendekatkan proses tersebut kepada rakyat. Aspek

72 ‘Decentralizing Indonesia: A Regional Public Expenditure Review Overview Report ’, Report No 26191-IND , hal. 64, The World Bank, 2003 . Diambil dari R. Yando Zakaria dan Erwin Fahmi, Op cit.

psikologis yang terbangun dari proses -proses diskusi dan intensitas yang tinggi berpengaruh pada ‘kenikmatan’ yang diperoleh rakyat, sehingga kualitas secara individu dan kelompok turut mendorong proses demokratisasi.

Beberapa anggota PKM yang telah memiliki status ekonomi yang lebih mapan secara internal akan menjadi pendorong bagi rekan-rekannya untuk lebih peduli dengan proses itu, selama ‘perut belum kenyang’ kebutuhan akan asosiasi dan wacana -wacana demokrasi masih dinomor duakan.

Ruang untuk berpartisipasi yang tersedia di Malioboro melalui PKM telah menjadi wahana untuk memperluas peran masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Gejala -gejala yang mengarah pada kekurangan atau hambatan yang ditemukan bila disikapi dengan kultur dan kapasitas yang telah terbangun akan menjadi koreksi untuk lebih memperbaiki institusi. Dengan tidak melebihi wewenang atau mereduksi peran konstitusional dari lembaga-lembaga perwakilan yang ada, PKM menjadi jalan pintas demokratisasi.

A. Posisi PKM dalam Proses Demokrasi

Pembentukan individu-individu yang mampu menelorkan sikap dan budaya yang demokratis , melalui penciptaan lingkungan dalam komunitas dengan aktifitas yang menjunjung tinggi nafas demokrasi dilakukan PKM tanpa menanggalkan sama sekali pola pikir para anggotanya. Dengan memposisikan sebagai wadah untuk curah pendapat sekaligus pencarian penyelesaian masalah, proses dalam berorganisasi secara bertahap akan menanggalkan pola pikir yang dianggap menghambat tujuan diatas.

Praktek Demokrasi Partisipatoris

PKM menjadi lembaga koordinasi dalam proses perencanaan dan berperan sebagai ahli yang mampu memfasilitasi proses perencanaan dan dapat memberikan bantuan teknisi agar dapat membantu warga mendiskusikan dan mengambil keputusan yang sesuai dengan prioritas yang mereka inginkan.

PKM juga menjadi dewan perencanaan masyarakat sebagai bagian dari pemerintah lokal yang membantu proses mekanisme perencanaan dalam level masyarakat. Dalam menyusun perencanaan, PKM menggunakan proses perencanaan partisipatif, sehingga semua pihak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan serta membagi tugas dan tanggung jawab yang sesuai.

Modal Sosial Paguyuban

Menurut Robert Putnam73, modal sosial adalah “features of social life -networks, norms, and trust - that enable participants to act together

more effectively to pursue shared objectives”. Menurut Fukuyama74 bahwa jenis modal sosial yang paling berguna seringkali bukanlah kemampuan untuk bekerja di bawah otoritas dari sebuah komunitas atau kelompok tradisional, tetapi kapasitas untuk membentuk asosiasi-asosiasi baru dan bekerja sama berkaitan dengan referens i yang mereka tetapkan. Fukuyama juga

73 Robert Putnam, Tuning in Tuning out: The Strange Disappearance of Social Capital in America, PS, 28(4): 664-683 dikutip dari Michael Folley and Bob Edwards, its it Time to Disinvest in Social Capital ?, Journal of Public Policy, 19(2) , 1999, pp.144; Lihat pula Robert D. Putnam, Bowling Alone: America’s Declining Social Capital, Journal of Democracy, 6(1), 1995, dikutip dari Penyusunan Konsep Perumusan Pengembangan Kebijakan Pelestarian Nilai -nilai Kemasyarakatan (Social Capital) untuk Integrasi Sosial, Laporan Akhir Penelitian Fisipol UGM -Kantor Eks Mentri Negara Masalah-Masalah Kemasyarakatan, Yogyakarta, 2001.

74 Francis Fukuyama, TRUST Kebajikan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2002; Hal. 38.

menyatakan bahwa trust berfungsi seperti pelumas yang membuat kelompok organisasi masyatakat dapat berjalan secara lebih efektif.

Anggota masyarakat yang tergabung dalam PKM memiliki kesadaran, bahwa mereka memiliki ke wenangan untuk menentukan apa yang harus mereka putuskan dalam menentukan nasibnya sendiri, masa depannya, dan alokasi sumber daya yang mereka miliki. Pola pengembangan kesadaran diri tersebut bisa diolah dari institusi-institusi lokal yang telah ada. Praktek kehidupan yang demokratis bisa dimulai dari kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat, tidak mutlak mengadopsi nilai-nilai dari luar. Karena hanya masyarakat sendirilah yang tahu bagaimana memanfaatkan potensi yang mereka miliki dengan caranya sendiri. Beberapa faktor berpotensi dalam mendorong masyarakat untuk menuju kehidupan yang demokratis, faktor itu antara lain :

• Kebiasaan Berproses

Selain institusi lokal yang telah dimiliki anggotanya, PKM sendiri memiliki alat organisasi yang vital, yaitu pertemuan bulanan. Sebuah rutinitas yang berfungsi sebagai institusi pengambilan keputusan, mendiskusikan permasalahan, dan konsolidasi anggota berkaitan dengan suatu kegiatan.

Berbagai macam cara dan proses yang dilakukan dalam melakukan diskusi, mengambil keputusan untuk kepentingan bersama, melakukan suatu kegiatan untuk dimanfaatkan secara bersama, memberikan bentuk kebisasaan

• Pemahaman terhadap nilai-nilai lokal

Pemahaman terhadap filosofi sumbu imajiner, budaya keraton, sejarah Yogya terutama riwayat Kawasan Malioboro, proses politik di masa kemerdekaan, dan berbagai tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta,

serta memahami posisi penting Kawasan Malioboro. Dengan pemahaman terhadap nilai lokal, prinsip yang dianut paguyuban tidak akan tercerabut dari lingkungannya dan tetap memegang prinsip berbisnis yaitu di mana kaki berpijak di situ pula langit dijunjung. Yang berpengaruh dalam kehidupan berorganisasi antara lain prinsip dalam penyelesaian masalah, proses dan mekanisme pengambilan keputusan, serta tata cara dalam berhubungan dengan pemerintah.

• Ketrampilan yang dimiliki

Pemetaan kemampuan yang jelas akan memudahkan para anggota PKM untuk saling bekerja sama dan men-support kegiatan bersama dengan kemampuan masing-masing. Kondisi psikologis yang dekat membantu para anggota untuk saling menemukenali kemampuan masing-masing, sehingga kerjasama lebih mudah dirajut. Banyaknya sektor-sektor yang bergabung, memperkaya sumber daya yang dimiliki PKM.

B. Peran PKM

Dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki, PKM bisa menempatkan dirinya dalam proses demokratisasi sebagai :

• Wahana Pertemuan Publik

Dengan beranggotakan kelompok masyarakat atau paguyuban sektoral, PKM menjadi sebuah forum jaringan. Bila agenda pertemuan rutin dan insidental diselenggarakan, maka akan terjadi pertemuan jaringan dari berbagai kelompok kepentingan. Mulai dari kelompok anggota, institusi lokal, LSM, bahkan hingga pemerintah.

• Lembaga Perantara

PKM menjadi lembaga mediasi antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya anggota paguyuban. Beberapa anggota yang belum memiliki kemampuan tertentu untuk berhubungan dengan pihak lain seperti dengan pemerintah atau dengan lembaga yang lain. Aspirasi yang terserap di paguyuban dibawa ke pemerintah. Bahkan aspirasi yang karena beberapa faktor tidak diserap oleh pemerintah atau masih mengendap di masyarakat, bisa terangkut dengan memakai kendaraan PKM.

• Lembaga Pelengkap (Komplementer)

Eksistensi PKM terbangun dari eksistensi paguyuban sektoral dan institusi lokal yang sudah ada sebelumnya atau yang ada setelah terbentuk PKM.

Sehingga PKM tinggal mengumpulkan yang sudah ada, tanpa perlu membentuk entitas yang betul-betul baru. PKM bukan merupakan tandingan dari institusi lokal yang sudah eksis lebih dulu. Sebagai sebuah forum warga di Malioboro, PKM cukup dengan menghimpun kegiatan institusi lokal yang telah ada tersebut, dalam mewujudkan visi, misi, dan kerangka kerja yang telah disepakati sebelumnya.

• Wadah Keterlibatan

Keterlibatan dalam arti partisipasi publik dan partisipasi proyek.

Pemeri ntah melihat PKM sebagai lembaga yang merepresentasikan anggota masyarakat, sehingga kebutuhan melibatkan partisipasi dalam mekanisme kebijakan dan juga tawaran untuk terlibat dalam suatu agenda dari pemerintah dibuka melalui pintu PKM. Selain pemerintah, lembaga non pemerintah juga berpotensi untuk memanfaatkan PKM

sebagai ajang meningkatkan partisipasi masyarakat melalui agenda tertentu.

• Lembaga Monitoring dan Evaluasi

Pertemuan rutin menjadikan PKM sebagai lembaga monitoring dan evaluasi. Forum evaluasi akan lebih terbuka dan bertanggung jawab di hadapan anggota paguyuban sendiri yang memiliki solidaritas dan menjunjung tinggi terhadap kesamaan tujuan, keterbukaan, serta musyawarah dialog. Hal itu juga berpengaruh pada pelaksanaan pengawasan terhadap program dan proyek yang dilaksanankan pemerintah di wilayahnya, baik yang melibatkan mereka maupun tidak.

C. Masa Depan Forum

Proses desentralisasi akan lebih bermakna karena masyarakat terlibat dalam sebuah ruang yang sebelumnya elitis. Masa depan dari forum ini merupakan optimise pada sebuah bentuk pengorganisasian yang mampu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, sehingga memberi kontribusi pada proses demokratisasi. Masa depan bukan hanya optimisme tapi juga memperhatikan hal-hal yang menjadi hambatan untuk meraihnya. Hambatan

Proses desentralisasi akan lebih bermakna karena masyarakat terlibat dalam sebuah ruang yang sebelumnya elitis. Masa depan dari forum ini merupakan optimise pada sebuah bentuk pengorganisasian yang mampu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, sehingga memberi kontribusi pada proses demokratisasi. Masa depan bukan hanya optimisme tapi juga memperhatikan hal-hal yang menjadi hambatan untuk meraihnya. Hambatan