• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

2. Audio Visual

3. Audio visual menggunakan aplikasi Filmora 9 disajikan dengan gambar bergerak, tulisan, dan suara yang menarik.

G. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Universitas Sanata Dharma

Pengembangan ini bermanfaat sebagai salah satu referensi bagi kampus Sanata Dharma khususnya FKIP untuk pengembangan media yang efektif dan efisien bagi pembelajaran baik itu di dalam maupun di luar sekolah. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti lain baik pada program studi Pendidikan Sejarah maupun bagi program studi lainnya yang hendak melakukan penelitian serupa, yakni pengembangan media audio visual bagi proses pembelajaran.

2. Sekolah

Hasil dari produk dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sejarah di sekolah. 3. Siswa

Hasil dari produk penelitian ini diharapkan dapat mempermudah siswa dalam mempelajari materi seputar Kubur Panggung serta dapat menumbuhkan pendidikan karakter pada diri siswa terutama nilai nasionalisme dan patriotisme.

4. Guru

Hasil dari produk penelitian ini diharapkan dapat mempermudah guru dalam pemanfaatan media pembelajaran sejarah dikelas untuk materi Kubur Panggung, sehingga pembelajaran dapat lebih menarik, efektif dan efisien serta implementasi pendidikan karakter pada siswa dapat berjalan dengan lebih optimal.

5. Peneliti

Sebagai calon pendidik, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan dalam menciptakan media pembelajaran yang menyesuaikan dengan era perkembangan peserta didik agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori

1. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’.6 Sedangkan pembelajaran sendiri yakni proses belajar. Belajar menghasilkan perubahan dalam diri seseorang yang salah satunya perubahan dalam hal tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).7 Media dalam proses belajar mengajar sangat berguna untuk efektivitas penyampaian pesan dari guru ke siswa.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala bentuk dan sarana penyampaian informasi yang dibuat atau dipergunakan sesuai dengan teori pembelajaran, dapat digunakan untuk tujuan pembelajaran dalam menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali.8

6 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Rajawali Prees, Jakarta, 2010, hlm. 3.

7Arief S. Sadiman dkk, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2008, hlm. 2.

8Nunuk Suryani dkk, Media Pembelajaran Inovatif dan Pengembangannya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2018, hlm. 5.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Levie & Lentz (1982) dalam bukunya Arsyad mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.9

Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

c. Manfaat Media Pembelajaran

Dale (1969:180) dalam bukunya Arsyad mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Guru harus selalu hadir untuk

menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi:10

1. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas; 2. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa;

3. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa;

4. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa;

5. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa; 6. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan

melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar;

7. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari;

8. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan;

9. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat;

10. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. d. Ciri-ciri Media Pembelajaran

Gerlach & Ely (1971) dalam bukunya Arsyad mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.11

a. Ciri Fiksatif (Fixative Property)

Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat.

10Ibid.,hlm. 23-24.

b. Ciri Manipulatif (Manipulative Property)

Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.

c. Ciri Distributif (Distributive Property)

Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat direproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan di berbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat.

e. Klasifikasi Media Pembelajaran

Media pembelajaran apabila dilihat dari sudut pandang yang luas, tidak hanya terbatas pada alat-alat audio, visual, audio-visual saja, melainkan sampai pada tingkah laku pengajar dan kondisi pribadi pembelajar. Maka media pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:12

a. Bahan-bahan yang mengutamakan kegiatan membaca atau dengan menggunakan simbol-simbol kata dan visual berupa bahan-bahan cetakan dan bacaan.

b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini, yaitu: 1) Media proyeksi, seperti: overheda projector, slide, film, dan LCD,

12Hujair AH Sanaky, Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif, Kaukaba Dipantara, Yogyakarta, 2013, hlm. 44-45.

2) Media non-proyeksi, seperti: papan tulis, poster, papan tempel, kartun, papan planel, komik, bagan, diagram, gambar, grafik, dll, dan

3) Benda tiga dimensi antara lain benda tiruan, diorama, boneka, topeng, lembaran balik, peta, globe, pameran, dan museum sekolah.

c. Media yang menggunakan teknik atau masinal, yaitu, slide, film strif, film rekaman, radio, televisi, video, VCD, laboratorium elektronik, perkakas otoinstruktif, ruang kelas otomatis, sistem interkomunikasi, komputer, internet.

d. Kumpulan benda-benda (material collections), yaitu berupa penginggalan sejarah, dokumentasi, bahan-bahan yang memiliki nilai sejarah, jenis kehidupan, mata pencaharian, industri, perbankan, perdagangan, pemerintahan, agama, kebudayaan, politik, dan lain-lain.

e. Contoh-contoh kelakuan, perilaku pengajar. Pengajar memberi contoh perilaku atau suatu perbuatan. Misalnya, mencontohkan suatu perbuatan dengan gerakan tangan dan kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain. Media pembelajaran dalam bentuk ini, sangat tergantung pada inisiatif, rekayasa, dan kreasi pengajar itu sendiri. “Jenis media seperti ini, hanya dapat dilihat dan ditirukan oleh pembelajar”.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi audio, pada pertengahan abad ke-20 lahirlah alat bantu audio visual yang terutama menggunakan pengalaman yang konkret untuk menghindari verbalisme. Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu, Edgar Dale mengadakan

klasifikasi media menurut tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak dan dinamakan dengan kerucut pengalaman (cone experience).13

Gambar I.

Klasifikasi Media Menurut Edgar Dale

Dari kerucut pengalaman Edgar Dale dapat dijelaskan, sebagai berikut: 1. Pengalaman langsung. Siswa pada tahap ini perlu berhubungan langsung

dengan keadaan dan kejadian yang sebenarnya.

2. Pengalaman melalui tiruan. Membuat tiruan dari kejadian-kejadian atau peristiwa atau benda-benda sebenarnya yang sulit diperoleh untuk dibawa ke kelas.

3. Pengalaman melalui dramatisasi. Materi pengajaran disajikan dalam bentuk drama. Peran yang diperankan agar menarik anak didik, sehingga isi pengajaran dapat diterima.

13Nizwardi Jalinus, Ambiyar, Media dan Sumber Pembelajaran, Kencana, Jakarta, 2016, hlm. 12-13.

4. Pengalaman melalui percontohan/ demonstrasi. Materi pengajaran disajikan dengan didemonstrasikan pada bagian-bagian tertentu.

5. Pengalaman melalui darmawisata. Dalam hal-hal tertentu, pengalaman yang diperoleh anak didik melalui darmawisata/ karyawisata ini sangat berarti, karyawisata untuk memperluas pengalaman belajar anak didik.

6. Pengalaman melalui pameran. Dalam pengalaman melalui pameran, siswa dapat memperlihatkan dan memamerkan kemampuan serta kemajuan-kemajuan mereka secara individu atau kelompok.

7. Pengalaman melalui televisi. Televisi dalam program pendidikan era reformasi merupakan media yang baik, karena minat anak didik, mereka dapat memperoleh informasi-informasi yang autentik, peristiwa terjadi atau yang sedang terjadi.

8. Pengalaman melalui gambar hidup. Anak didik dapat memperoleh pengalaman melalui gambar hidup atau film.

9. Pengalaman melalui rekaman, gambar diam, dan radio. Pengalaman anak melalui rekaman, radio, dan kaset.

10. Pengalaman melalui lambang visual. Pengalaman melalui visualisasi benda-benda berdimensi dua, misalnya sketsa, lukisan, dan karikatur.

11. Pengalaman melalui lambang kata. Tahap ini, anak didik sudah mampu memperoleh pengalaman belajar, atau mampu memperoleh pengetahuan hanya melalui lambang kata, yang diperoleh hanya dengan membaca buku.

f. Prinsip dalam Memilih Media Pembelajaran

Pemilihan media pembelajaran sangatlah penting hal ini agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam pemilihan media ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu:14

1. Harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa.

2. Pemilihan media harus secara obyektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar selingan atau hiburan. Hendaknya pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk peningkatan efektivitas belajar siswa.

3. Tidak ada satu pun media yang dipakai untuk semua tujuan. Tiap-tiap media mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

4. Pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar yang digunakan, materi pelajaran, mengingat media adalah bagian integral dalam proses belajar-mengajar.

5. Untuk dapat memilih media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri media.

6. Pemilihan media supaya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.

7. Pemilihan media juga harus didasarkan pada kemampuan, gaya/ pola belajar siswa.

14Ny. Dientje Borman Rumampuk, Media InstruksionalIPS, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1988, hlm. 19.

2. Audio Visual

a. Pengertian Audio Visual

Audio visual sendiri terdiri atas dua suku kata “audio” dan “visual”, dimana keduanya memiliki arti tersendiri. Media audio adalah penyajian pengajaran atau pengetahuan melalui pendidikan audio atau pengalaman mendengar.15 Sedangkan visual adalah penyajian pengajaran atau pengetahuan melalui pendidikan visual atau pengalaman melihat. Konsep visual pada konsep pembelajaran mulai muncul tahun 1960-an dalam bentuk grafik seperti sketsa, gambar, foto, diagram, tabel dan lain-lain.16

Media audio-visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara.17 Jadi dapat disimpulkan bahwasannya media audio-visual adalah media yang memadukan gambar dan suara dalam satu kesatuan sehingga menghasilkan cerita yang sama seperti aslinya.

b. Jenis-jenis Audio Visual

Media audio visual yang memadukan gambar dan suara pastinya banyak kita temukan pada kehidupan sehari-hari, tanpa terkecuali pada lingkungan pendidikan. Media ini berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi belakangan ini mulai dari yang sederhana hingga kompleks. Alat-alat yang termasuk dalam kategori media audio-visual, adalah: televisi, video-VCD, sound slide, dan film.18

15Hujair AH Sanaky, op.cit., hlm. 107. 16Ibid., hlm. 113-114.

17Ibid., hlm. 119.

a. Televisi

Televisi dalam pengertiannya berasal dari dua kata, yaitu: kata tele (bahasa Yunani), yang berarti jauh, dan visi (bahasa Latin), berarti penglihatan. Television (bahasa Inggris), bermakna melihat jauh. Dalam sistem transmisi, gambar dan suara yang dihasilkan oleh kamera elektronik diubah menjadi gelombang elektromaknetis dan selanjutnya ditransmisikan (dipancarkan) melalui stasiun pemancar. Gambar dan suara yang telah diubah menjadi gelombang elektronik itu diterima oleh sebuah antena penerima yang terpasang pada televisi set penerima.

Televisi sebagai lembaga penyiaran, telah banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Makin banyak siaran televisi yang khusus menginformasikan atau menyiarkan pesan-pesan materi pendidikan dan pengajaran, yang disebut televisi pendidikan (educational television).

b. Video – VCD

Gambar bergerak, yang disertai dengan unsur suara, dapat ditayangkan melalui medium video dan video compact disk (VCD). Sama seperti medium audio, program video yang disiarkan (broadcasted) sering digunakan oleh lembaga pendidikan jarak jauh sebagai sarana menyampaikan materi pembelajaran. Video dan televisi mampu menayangkan pesan pembelajaran secara realistik.

c. Media Sound Slide (Slide bersuara)

Sound slide merupakan media pembelajaran yang bersifat audio-visual. Secara fisik, slide suara adalah gambar tunggal dalam bentuk film positif tembus pandang yang dilengkapi dengan bingkai yang diproyeksikan. Pada saat

penggunaannya dapat dikombinasikan dengan audio kaset atau juga dapat digunakan secara tunggal tanpa suara. Sebagai media pembelajaran, slide suara dapat menyajikan gambar yang tetap dengan urutan yang tetap, sehingga menjamin keutuhan pelajaran dan gambar tidak mudah hilang, terbalik, atau berubah urutan jika teknik pengemasannya benar dan baik.

d. Film

Mengkombinasikan media visual dan media audio. Membuat film sangat sesuai bagi media pembelajaran dan juga dunia pendidikan. Film dalam dunia pendidikan sering dimanfaatkan karena alur cerita film yang menarik dan realistis sangat memudahkan siswa dalam menerima pembelajaran setiap adegan yang ada didalam film tersebut. Film dapat disesuaikan dengan jenis pelajaran yang akan disampaikan.

e. Video Youtube

Youtube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Seiring berjalannya waktu situs ini mendapat respon yang positif dikalangan masyarakat dunia dan mengalami perkembangan yang masif. Pada perkembangannya situs ini tidak hanya dipakai sebagai media hiburan semata akan tetapi sudah merambah kepada media penunjang pendidikan bagi kaum milenial. Pada situs ini dapat kita jumpai berbagai video pendidikan yang membahas seputar materi pembelajaran tertentu, tidak terkecuali dengan materi pembelajaran sejarah. Dari mulai sejarah dunia hingga sejarah Indonesia dapat kita jumpai di situs web berbagi video Youtube.

Berdasarkan jenis-jenis audio visual di atas, peneliti hendak melakukan penelitian dengan jenis media video. Video yang akan dibuat dan dikembangkan untuk penelitian yakni tentang peninggalan kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Buddha “Kubur Panggung”.

c. Peran Audio Visual sebagai Media Pembelajaran Sejarah

Media audio visual merupakan media yang menggabungkan media audio dengan media visual yang lebih menarik dan lebih realistis dibandingkan dengan media yang hanya mengandalkan media audio maupun visualnya saja.

Media audio visual sangat berperan penting dalam pembelajaran sejarah. Salah satu peran yang paling terlihat yakni memberikan kemudahan bagi guru untuk lebih menggambarkan keadaan sebenarnya dari objek yang dibahas sehingga siswa dapat lebih mudah memahami apa yang mereka pelajari. Hal ini dikarenakan bantuan media audio visual yang dapat memberikan gambaran lebih nyata dari sekedar pembahasan materi dan nilai-nilai karakter dengan menggunakan media papan tulis dan sebagainya. Pembelajaran akan terasa lebih menarik dan menyenangkan sehingga penyampaian materi dan nilai-nilai karakter dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

d. Prinsip dalam Merancang Media Audio Visual sebagai Media Pembelajaran Sejarah

Dalam merancang media audio visual sebagai media pembelajaran sejarah haruslah memperhatikan beberapa prinsip agar proses merancang media audio visual dapat berjalan dengan lancar. Adapun prinsip-prinsip tersebut antara lain:

1. Menyiapkan narasi berupa penjelasan isi audio visual, berupa teks dan suara. 2. Menyiapkan audio visual, yang dihasilkan haruslah hasil dari perpaduan dari

gambar dan suara yang relevan dengan objek yang dibahas.

3. Menyiapkan foto, adapun foto yang dihasilkan haruslah jelas baik foto berwarna maupun foto hitam putih, lebih baik jika dihasilkan secara pribadi dan foto idealnya merupakan foto yang up to date.

4. Menyiapkan musik (back sound) dan music ini haruslah relevan dengan gambar yang tertera di video

5. Transisi berupa peralihan antar gambar yang bergerak dalam satu audio visual. 6. Editing sebagai sebuah proses penyempurnaan audio visual dari keadaan

semula sehingga dapat lebih baik lagi.

e. Kelebihan dan Kelemahan Media Audio Visual

Setiap media yang digunakan dalam proses pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tanpa terkecuali dengan media audio visual.

Kelebihan media berbasis audio-visual adalah sebagai berikut.19

a. Lebih efektif dalam menerima pembelajaran karena dapat melayani gaya bahasa siswa auditif maupun visual.

b. Dapat memberikan pengalaman nyata lebih dari yang disampaikan media audio maupun visual.

c. Siswa akan lebih cepat mengerti karena mendengarkan disertai melihat langsung, sehingga tidak hanya membayangkan.

19Nunuk Suryani dkk, Media Pembelajaran Inovatif dan Pengembangannya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2018, hlm. 53.

d. Lebih menarik dan menyenangkan menggunakan media audio-visual. Kekurangan media berbasis audio-visual adalah sebagai berikut.

a. Pembuatan media audio-visual memerlukan waktu yang lama, karena memadukan 2 elemen, yakni audio dan visual.

b. Membutuhkan keterampilan dan ketelitian dalam pembuatannya.

c. Biaya yang digunakan dalam pembuatan media audio visual cukup mahal. d. Jika tidak terdapat pirantinya akan sulit untuk membuatnya (terbentur alat

pembuatannya).

Dokumen terkait