UCAPAN TERIMA KASIH
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 1 Konsep Strateg
3.1.7 Audit Internal
Analisis lingkungan internal merupakan analisis yang dilakukan terhadap situasi dalam perusahaan, dan tahap pengkajian faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam suatu perusahaan. Lingkungan internal terbagi menjadi enam bagian yakni manajemen; pemasaran; keuangan atau akuntansi; produksi atau operasi; penelitian dan pengembangan; dan sistem informasi komputer. Perusahaan yang menjalankan strategi pengembangan produk harus mempunyai orientasi litbang yang kuat (David 2009).
Landasan penting dari anlisis lingkungan internal adalah pengertian mengenai pemikiran pencocokan kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman yang ada di lingkungan .
1. Manajamen
Fungsi Manajemen terdiri dari lima aktivitas dasar, perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengendalian, dan pengolahan staf. Manajemen dilakukan pada struktur organisasi perusahaan secara keseluruhan. Manusia merupakan sumber daya yang penting bagi perusahaan.
2. Pemasaran
Proses mendefinisikan, mengantisipasi, menciptakan serta memenuhi kebutuhan dan keinginan atas barang dan jasa. Adapun tujuh fungsi pemasaran yaitu analisis pelanggan, penjualan produk dan jasa, penetapan harga, perencanaan produk dan jasa, distribusi, riset pemasaran, dan analisa peluang.
3. Keuangan
Indikator terbaik posisi kompetitif dan daya tarik perusahaan. Likuiditas, solvabilitas, modal kerja, keuntungan, pemanfaatan harta, arus kas, dan modal saham dapat mengurangi sejumlah hal yang dianggap feasible atau dapat dilaksanakan. Fungsi keuangan terdiri dari tiga keputusan yaitu investasi, finansial dan deviden. Keputusan keuangan berkaitan dengan struktur modal terbaik untuk perusahaan dan meneliti berbagai metode yang meningkatkan modal
4. Produksi atau operasi
Kegiatan produksi operasi perusahaan dapat dilihat dari keteguhan dalam prinsip efisiensi, produktivitas, dan efektivitas. Fungsi produksi dari suatu usaha terdiri dari semua aktivitas yang mengubah masukan barang dan jasa. 5. Penelitian dan Pengembangan
Perusahaan membutuhkan penelitian dan pengembangan yang kuat agar dapat bertahan dan berkembang. Anggaran Litbang diarahkan pada pengembangan produk baru sebelum pesaing melakukannya dan memperbaiki proses manufaktur untuk mengurangi biaya.
6. Sistem Informasi Manajemen
Informasi menghubungkan semua fungsi bisnis menjadi satu dan menyediakan dasar untuk semua keputusan manajerial. Tujuan dari sistem
manajemen informasi adalah meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara meningkatkan kualitas keputusan kerja.
3.1.8 Menetapkan Tujuan Jangka Panjang
Strategi merepresentasikan tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan jangka panjang. Hal ini berarti tujuan jangka panjang merupakan hasil yang diharapkan dari penerapan strategi saat ini. Sifat dari tujuan jangka panjang ialah kuantitatif, terukur, realistis, dapat dimengerti, menantang, hierarkis, dapat dicapai, dan selaras antar unit organisasi. Tujuan biasanya dinyatakan dalam bentuk pertumbuhan aset, pertumbuhan penjualan, profitabilitas, pangsa pasar, tingkat dan sifat diversivikasi, tingkat dan sifat integrasi vertikal, laba bersih per saham, dan tanggung jawab sosial.
3.1. 9 Merumuskan, Menetapkan dan Memilih Strategi
Analisis dan pilihan strategi berguna untuk menentukan alternatif tindakan untuk mencapai misi dan tujuan dengan cara yang terbaik. Strategi, tujuan, dan misi perusahaan digabungkan dengan informasi audit internal dan eksternal sehingga memberikan dasar untuk menghasilkan dan mengevaluasi strategi yang layak. Alternatif strategi diturunkan dari visi, misi, tujuan, audit eksternal, audit internal perusahaan dan konsisten dengan strategi masa lalu yang telah berhasil dijalankan. Beberapa alat analisis yang dapat digunakan dalam perumusan, penetapan dan pemilihan strategi antara lain:
3.1.9.1 Matriks EFE dan IFE
Matriks EFE digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal perusahaan. Data eksternal dikumpulkan untuk menganalisis hal yang menyangkut ekonomi, sosial, budaya, demografi, politik, lingkungan, pemerintahan, hukum, teknologi, persaingan di pasar industri dimana perusahaan berada dan data eksternal lainnya yang relevan. Sedangkan Matriks IFE digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal perusahaan berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan yang dianggap penting. Data dan informasi dapat dilakukan dari beberapa fungsional perusahaan yaitu aspek manajemen, keuangan, SDM, pemasaran, sistem informasi, dan produksi.
3.1.9.2 Matriks IE (Internal-Eksternal)
Matriks Internal-Eksternal (IE) merupakan matriks yang digunakan pada tahap pencocokan (The Matching Stage) pada proses manajemen strategi. Matriks IE merupakan matriks yang memadukan atau mencocokan hasil pembobotan IFE dan EFE. Pada Matriks IE, terdapat dua dimensi dengan total skor dari matriks IFE pada sumbu X dan total skor dari Matriks EFE pada sumbu Y. Hasil dari pencocokan tersebut akan terangkum dalam matriks IE yang mempunyai sembilan sel yang akan menunjukkan posisi perusahaan di dalam industri.
3.1.9.3 Matriks SWOT
Matriks SWOT adalah sebuah pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan empat tipe strategi yaitu Strategi S-O memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Strategi W-O bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Strategi S-T menggunakan kekuatan sebuah perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal. Strategi W-T adalah taktik defensive yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal (David, 2009).
3.1.9.4 Matriks QSP (QSPM)
QSPM adalah alat yang direkomendasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternative secara objektif, berdasarkan key success factors internal-eksternal yang telah diidentifikasi. Jadi, secara konseptual, tujuan QSPM adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih, untuk menentukan strategi mana yang dianggap paling baik untuk diimplementasikan. (Umar, 2008)
3.2 Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian mengenai strategi pengembangan usaha sudah cukup banyak dilakukan tetapi Analisis Strategi Pengembangan Usaha Beras Organik di Desa Ciburuy Kecamatan Cigombong Kabupaten Bogor belum ada. Pada umumnya
tujuan dalam penelitian strategi pengembangan usaha adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan ekternal yang mempengaruhi perusahaan, merumuskan alternatif strategi yang paling sesuai, dan penting bagi pengembangan usaha.
Rohmiatin (2006) melakukan penelitian dengan judul Analisis Strategi Pengembangan Usaha Beras Organik Lembaga Pertanian Sehat di Desa Pasir Buncir Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Faktor internal yang mempengaruhi yaitu :
1) Manajemen
Fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan dibuat berdasarkan musyawarah, program keja, penilaian hasil kerja yang dilakukan oleh manajemen DD-Republika secara langsung maupun tidak langsung.
2) Pemasaran
Pemasaran yang dikoordinir oleh manajer umum ke agen-agen penjual beras sehat/organik sekaligus memasarkan produk saprotan ke outlet pertanian yang tersebar di Jakarta dan Bogor, ketetapan harga jual disepakati oleh petani maupun LPS.
3) Keuangan
Sumber dana berasal dari bantuan/subsidi yang berasal dari Dompet Dhuafa Republika, laporan keuangan LPS masih belum terkomputerisasi secara lengkap.
4) Produksi
Produk input pertanian yaitu berupa pupuk organic dengan nama VIR-X dan pupuk OFER.
5) Penelitian dan pengembangan
Teknologi sarana produksi pertanian yang ramah lingkungan yaitu produk saprotan pupuk dan pestisida alami, transfer teknologi pembuatan pupuk LPS dilakukan melalui pembinaan petani kader yang dapat memanfaatkan sumber daya local, LPS membantu uji laboratorium bahan baku yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu : 1) Faktor ekonomi
Permintaan beras organik dipengaruhi oleh peningkatan kesadaran akan bahaya pestisida, inflasi harga-harga kebutuhan pokok menjadi naik namun penjualan beras LPS tidak merugikan petani.
2) Faktor lingkungan
Usaha beras organik rentan terhadap pengaruh iklim dan cuaca. Faktor kebijakan pemerintah meliputi Adanya program Go Organik 2010 yang dicanangkan Pemerintah,acuan mengenai pertanian organic diatur oleh SBI No. 01-6729-2002.
3) Faktor teknologi
Teknologi yang digunakan LPS belum cukup modern artinya teknologi yang dipakai masih manual dan saprotan yang dibuat LPS masih terbatas karena bahan bakunya terbatas
4) Faktor pesaing
Pesaing yang dihadapi LPS adalah dari hasil pertanian non organik, pesaing yang sudah dikenal di masyarakat adalah beras organic UFO, beras organic raos dan pulen, beras organic pelopor dari sragen.
Identifikasi terhadap faktor-faktor internal menghasilkan rumusan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi perusahaan. Kekuatan-kekuatan yang dimiliki perusahaan yaitu memiliki prospek usaha yang baik dan ramah lingkungan, produk memiliki nilai ekonomis dan berdaya saing tinggi, memiliki jejaring DDR di berbagai daerah, dan memiliki dukungan produksi saprotan yang cukup lengkap. Sedangkan yang menjadi kelemahan yaitu sarana dan prasarana yang terbatas, harga jual lebih mahal disbanding beras non organik, jumlah sumber daya manusia yang terbatas, promosi yang belum intensif, modal kerja terbatas.
Identifikasi terhadap faktor-faktor eksternal menghasilkan rumusan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Peluang-peluang yang ada pada perusahaan yaitu terbatasnya suplai pangan yang ramah lingkungan di pasar, tren pertanian organik, kemanan produk pangan, kerjasama dengan pihak pemerintah daerah, dan permintaan pasar terhadap beras organik masih terbuka luas. Sedangkan yang menjadi ancaman yaitu adopsi teknologi ramah lingkungan
belum berkesinambungan, adanya kompetior pangan organik, dan daya beli masyarakat rendah. Alat analisis yang digunakan adalah matriks IFE, EFE, SWOT dan QSPM.
Dudiagunoviani (2009) melakukan penelitian dengan judul Analisis Strategi Pengembangan Usahatani Beras Organik Kelompok Tani Cibeureum Jempol. Faktor internal yang mempengaruhi yaitu :
1) SDM
Kelompok tani Cibeureum Jempol terdiri dari seorang ketua sekaligus pendiri yaitu Bapak Amin, Kelompok tani ini memiliki 40 anggota, sistem kerja di kelompok tani Mulyaharja ini adalah sistem padat karya, sehingga keharmonisan didalamnya sangat diperlukan dalam proses kerjanya.
2) Keuangan
Modal awal kelompok tani Cibeureum Jempol berasal dari milik Bapak Amin selaku pendiri dan modal pinjaman. Pada sistem keuangannya, kelompok tani ini masih digunakan sistem keuangan yang sederhana.
3) Produksi dan operasi
Kelompok tani Cibeureum Jempol memiliki kelompok tani yang terdiri dari petani penggarap dan petani pemilik sekaligus penggarap. Bibit yang dikembangkan adalah bibit yang berasal dari saran pemerintah (Dinas Agribisnis Bogor).
4) Penelitian dan pengembangan
Kelompok tani Cibeureum Jempol melakukan uji coba terlebih dahulu untuk jenis produk yang akan dikembangkan. Uji coba dilakukan diatas lahan milik ketua kelompok seluas 2.500 m2.
5) Pemasaran
Produk yang dihasilkan kelompok tani ini yaitu beras organik dengan harga Rp 6.500-12.000 per kg, sistem penetapan harga didasarkan pada harga pasar sehingga produk yang dihasilkan kelompok tani ini dapat bersaing dengan sehat dengan produk yang ada di pasar, saluran distribusi kelompok tani ini pendek karena dari kelompok tani langsung ke swalayan kemudian ke konsumen akhir atau dari kelompok tani langsung ke konsumen akhir, dan kelompok tani ini
juga melakukan promosi dengan membagikan brosur serta dari mulut ke mulut melalui para konsumennya.
Sedangkan yang mempengaruhi factor eksternal yaitu : 1) Faktor ekonomi
Kontribusi sektor pertanian terhadap tingkat PDB masih cukup besar. Pada triwulan III tahun 2008 terhadap triwulan III tahun 2007 tingkat PDB pertanian tumbuh sehingga memberi kontribusi sebesar 2,4 persen terhadap PDB nasional.
2) Faktor teknologi
Kelompok tani Cibeureum Jempol terus dikembangkan teknik budidaya beras organik secara tepat.
3) Kebijakan pemerintah
Adanya program Go organic yang dicanangkan pemerintah melalui Departemen Pertanian secara tidak langsung dapat membangun gairah para petani kelompok tani Cibeureum Jempol untuk tetap mengembangkan usahanya dalam memproduksi beras organik.
4) Faktor Sosial dan budaya
Usaha beras merupakan usaha agribsinis yang sangat rentan terhadap pengaruh iklim dan cuaca. Komoditas pertanian termasuk beras yang memiliki sifat yang mudah rusak.
5) Demografi
Semakin bertumbuhnya peningkatan penduduk maka permintaan akan bahan pangan utama ini yaitu beras semakin meningkat juga.
Identifikasi terhadap faktor-faktor internal menghasilkan rumusan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi perusahaan. Kekuatan-kekuatan yang dimiliki yaitu memiliki pimpinan yang berjiwa sosial dan bertanggung jawab, memiliki produk yang ekonomis dan bersertifikasi organik dengan nomor 215A/RSS/MK/DN/VIII/07, memiliki dukungan penggilingan yang cukup baik dan lengkap, sudah mampu dilakukannya uji coba dan pengembangan terhadap komoditas padi organik unggulan pada lahan milik sendiri. Sedangkan yang menjadi kelemahan yaitu terjadinya konversi lahan dari pertanian ke non pertanian sehingga lahan yang masih produktif semakin menyempit, kurangnya pendidikan SDM yang
dimiliki, sarana dan prasarana yang masih terbatas, sistem keuangan yang masih sederhana, modal kerja yang terbatas.
Identifikasi terhadap faktor-faktor eksternal menghasilkan rumusan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Peluang-peluang yang dimiliki adalah adanya program pemerintah Go Organik, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi untuk hidup sehat, adanya dukungan pemerintah, tersedianya pasar beras organik yang masih luas dan ketersediaan air yang cukup banyak sedangkan yang menjadi ancaman adalah tingkat daya beli masyarakat yang masih rendah, banyaknya beredar produk organik palsu, perubahan cuaca, lahan produksi yang menyempit. Alat analisis yang digunakan adalah matriks IFE, EFE, SWOT dan QSPM.
Mustika (2009) melakukan penelitian dengan judul Formulasi Strategi Pengembangan Bisnis Kentang pada PT Dafa Teknoagro Mandiri Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Faktor internal yang mempengaruhi yaitu :
1) Pemasaran
Daerah pemasaran perusahaan lebih terkonsentrasi disekitar wilayah Bogor sebab daya beli konsumen di wilayah ini masih besar. Selain itu jarak transportasi yang relatif dekat menyebabkan biaya transportasi lebih murah sehingga penerimaan perusahaan lebih maksimal.
2) Keuangan
Setiap transaksi keluar dan masuknya uang hanya dicatat dalam buku keuangan dan terkadang ada transaksi-transaksi yang tidak tercatat dan untuk mendapatkan modal jangka pendek berupa pinjaman dari Bank, karena bentuk badan usaha yang dimiliki oleh perusahaan telah berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
3) Produksi
Dalam proses produksi, semua proses dilakukan secara manual sebab tidak ada kebutuhan mesin tertentu untuk membantu proses produksi. Produktivitas perusahaan ini rata-rata tiap harinya dapat menyediakan 900-1.200 kg kentang per hari.
4) Penelitian dan pengembangan
Saat ini perusahaan masih fokus pada kegiatan utamanya yaitu penyediaan dan pemasaran bibit kultur jaringan.
5) SDM
Saat ini jumlah tenaga kerja tetap perusahaan berjumlah 29 orang, dengan alokasi jumlah yang berbeda-beda pada setiap bagian. Tingkat pendidikannya pun sudah tinggi sehingga karyawan telah memiliki keterampilan yang baik
6) Struktur prusahaan
Sejak tahun 2001, perusahaan telah berbadan hukum yang kuat karena telah berbentuk Peseroan Terbatas (PT) sehingga pembagian kerja telah tersusun rapi dan tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan Hal ini merupakan kekuatan bagi perusahaan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi : 1) Kebijakan pemerintah
Sektor pertanian dapat dijadikan tumpuan harapan karena upaya kembali pada kegiatan yang mengandalkan sumberdaya domestik. Bagi PT. DaFa Teknoagro Mandiri kebijakan pemerintah tersebut akan berdampak pada adanya jaminan bagi prospek pengembangan bisnis kentang.
2) Ekonomi
Kondisi ekonomi yang semakin membaik yang diiringi dengan peningkatan daya beli masyarakat memungkinkan adanya peningkatan pasar kentang. Selain itu, Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik memicu tumbuhnya iklim investasi khususnya dalam usaha retail berupa munculnya pasar, swalayan dan rumah makan baru yang memasarkan atau menggunakan kentang sebagai bahan bakunya.
3) Demografi
Di Indonesia pertambahan jumlah penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sehingga menjadi peluang untuk pengembangan produk kentang dalam penjualannya.
4) Sosial
Adanya slogan “back to nature” mengindikasikan adanya peluang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini ditandai dengan munculnya kafe-kafe atau rumah makan vegetarian yang khusus menyediakan masakan sayur-sayuran.
5) Tekonolgi
Teknologi dalam kegiatan produksi yang telah diterapkan oleh perusahaan adalah teknologi kultur jaringan yaitu suatu teknik pembiakan tanaman yang lahir seiring dengan revolusi dalam bidang bioteknologi. Pada awalnya teknik kultur jaringan hanya digunakan pada proses pemuliaan tanaman untuk memperoleh jenis-jenis tanaman yang unggul. Tetapi teknik ini kemudian dimanfaatkan pula pada proses produksi bibit secara massal dan komersial.
Identifikasi terhadap faktor-faktor eksternal menghasilkan rumusan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Peluang-peluang yang ada pada lingkungan eksternal diantaranya kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan usaha agribisnis, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik, bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, munculnya kafe-kafe atau rumah makan vegetarian yang khusus menyediakan masakan sayur-sayuran, meningkatnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya nilai gizi, kemajuan teknologi yang semakin pesat serta kekuatan tawar menawar petani kentang yang lemah. Ancaman yang dihadapi perusahaan diantaranya adalah perdagangan bebas antar negara, banyaknya perusahaan sejenis di Jawa Barat, adanya produk substitusi dengan fungsi yang sama, bargaining power perusahaan terhadap pembeli lemah serta kekuatan tawar menawar pemasok saprotan tinggi.
Identifikasi terhadap faktor-faktor internal menghasilkan rumusan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan. Kekuatan-kekuatan yang dimiliki perusahaan yaitu kualitas kentang yang akan dipasarkan sangat baik dan kontinuitas barang sangat terjamin, perusahaan telah memiliki pelanggan tetap, memiliki relasi luas serta baik dengan pihak pemasok, jalur pemasaran yang pendek, adanya sistem pembayaran langsung dan tepat waktu, memiliki tenaga kerja yang terampil, perusahaan telah berbadan hukum, kentalnya suasana
kekeluargaan dan sifat gotong royong mulai dari karyawan hingga pimpinan. Sedangkan kelemahan yang dimiliki perusahaan antara lain penggunaan lahan dan kapasitas produksi belum optimal, pengimputan data keuangan belum menggunakan sistem akuntansi yang baik, kondisi alam yang kurang sesuai dengan syarat tumbuh kentang, kegiatan penelitian dan pengembangan masih belum dilakukan oleh pihak perusahaan, kurang agresifnya dalam mempromosikan produk, dan belum teratur dalam pemberian pelatihan kepada karyawan baru. Alat analisis yang digunakan adalah matriks IFE, EFE, IE dan QSPM.
Siahaan (2009) melakukan penelitian dengan judul Strategi Pengembangan Padi Organik Kelompok Tani Sisandi Desa Babuara Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara. Faktor internal yang mempengaruhi yaitu :
1) Manajemen
Proses perencanaan dalam kelompok tani lebih didominasi oleh ketua, pengorganisasian di Kelompok Tani Sisandi masih sangat terpusat pada ketua. motivasi anggota kelompok tani berdasarkan hasil pengamatan masih rendah, fungsi pengendalian dilakukan oleh ketua, terutama dalam hal kegiatan produksi.
2) Pemasaran
Berdasarkan pengamatan harga penjualan padi di daerah Kabupaten Tobasa saat ini (Mei 2009) adalah Rp 3.300 per kg. Saluran pemasaran kelompok ini belum efisien. Para petani masih memasarkan padinya secara individu kepada para pengumpul kemudian pengumpul akan memasarkan lagi kepada pedagang besar dan selanjutnya pedagang besar akan memasarkan kepada konsumen
3) Keuangan
Sumber keuangan kelompok tani ada dua yaitu: dari luar kelompok tani berupa bantuan pemerintah atau pinjaman dan dari dalam kelompok tani berupa iuran anggota. Kelompok Tani Sisandi telah mendapat bantuan modal KUT sejak tahun1992-2000. Bantuan modal yang diperoleh berkisar dua juta rupiah hingga 20 juta rupiah.
4) Produksi
Petani anggota Kelompok Tani Sisandi mengusahakan tanaman padi di lahan sendiri dan lahan sewa dan Proses produksi padi terdiri dari kegiatan pengolahan lahan hingga pemanenan.
5) Penelitian dan pengembangan
Kegiatan yang telah dilakukan dalam kelompok tani masih berupa uji multilokasi atau demplot
Sedangkan factor eksternal yang mempengaruhi adalah 1) Politik
Program operasional pengembangan pertanian organik yang lebih dikenal dengan slogan Go Organic 2010 telah dimulai sejak tahun 2001. Program ini memberikan pedoman dan persyaratan kepada petani tentang cara bertani secara organik yang telah disepakati secara internasional
2) Ekonomi
Tahun 2007 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,30 persen dengan nilai PDB sebesar 1.964,0 triliun. Pertumbuhan ekonomi yang baik akan mendukung kelancaran usaha termasuk pengembangan padi organik.
3) Sosial dan budaya
Proses produksi beras sangat rentan terhadap pengaruh iklim dan cuaca. Beras memiliki sifat yang mudah rusak. Proses produksi ini terdiri dari pengolahan lahan hingga pemanenan. Proses ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tingkat kesuburan tanah, curah hujan, dan ketersediaan air.
4) Teknologi
Pemerintah daerah juga sudah pernah mengikutsertakan ketua Kelompok Tani Sisandi pelatihan pertanian ramah lingkungan yang dilakukan di daerah lain seperti Brastagi dan Sukabumi. Untuk mendukung pengembangan padi organik di Kelompok Tani Sisandi di Kabupaten Tobasa telah tersedia sarana pertanian organik seperti bibit, pupuk, dan pestisida organik dalam jumlah yang cukup dan sudah bersertifikat.
Adapun faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan adalah memiliki peralatan pertanian yang mendukung, memiliki ketua kelompok tani yang aktif dan dinamis, telah mengikuti pelatihan teknologi budidaya pertanian ramah
lingkungan, telah mengikuti pelatihan budidaya padi yang baik, dan lokasi usaha yang strategis. Sedangkan yang menjadi kelemahan yaitu modal kerja yang terbatas, mayoritas lahan petani merupakan lahan sewa, petani kurang mampu mengimplementasikan budidaya padi organik, pemasaran yang kurang efisien, dan kurang konsistensinya anggota organisasi terhadap tugas-tugasnya .
Faktor eksternal yang menjadi peluang yaitu hubungan baik dengan Dinas Pertanian setempat, adanya konsultan pertanian yang memahami pertanian organik dan mau membina petani, tersedianya sarana produksi pertanian organik seperti pupuk, bibit, dan pestisida organik yang sudah bersertifikat, meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi untuk hidup sehat , peluang pasar yang masih luas baik domestik maupun mancanegara, adanya program pemerintah Go Organic 2010 sedangkan yang menjadi ancaman yaitu perubahan cuaca yang tidak menentu,banyaknya peredaran produk padi organik palsu, maraknya konversi lahan pertanian. Alat analisis yang digunakan adalah matriks SWOT, QSPM, dan rancangan arsitektur
Penelitian terdahulu digunakan sebagai bahan rujukan dalam penelitian ini. Diperkirakan faktor internal yang ada meliputi manajemen, produksi, pemasaran,