BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. LQ Ternak Herbivora
5.2.3. Ayam Pedaging
Hasil analisis LQ ayam pedaging 10 kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat menarik dicermati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu wilayah kabupaten-kota di NTB yang secara konsisten menjadi daerah basis ayam pedaging, setidaknya berdasarkan analisis LQ selama lima tahun terakhir. Rincian mengenai hasil analisis LQ ayam petelur di NTB tersaji pada Tabel 5.7 dan Gambar 5.4.
Nilai LQ ayam pedaging di Kota Bima yang pada tahun 2011 dan tahun 2012 relatif tinggi yakni masing-masing 2,20 dan 2,27; lalu pada tahun 2013 melorot menjadi 0,97. Artinya, dalam waktu relatif singkat Kota Bima beralih dari berstatus konsentrasi ayam pedaging menjadi non basis komoditas itu. Perlu ada penelitian tersendiri untuk menggali penyebab melorotnya posisi Bima sebagai basis ayam pedaging.
Fenomena serupa terjadi di Lombok Timur yakni LQ ayam pedagingnya tahun 2011 sebesar 1,32; naik menjadi 1,36 setahun kemudian dan pada tahun 2013 nilai nya adalah sebesar 0,73. Kabupaten Bima lain lagi, yakni pada tahun 2011 nilai LQ-nya sebesar 1,18; kemudian turun menjadi 0,92 pada tahun 2012 dan tiba-tiba LQ-LQ-nya melonjak menjadi 2,02 pada tahun 2013.
Fenomena nilai LQ yang naik tajam lalu merosot lagi setiap pergantian tahun dan atau sebaliknya juga terjadi di hampir seluruh daerah di NTB. Diduga hal itu
terjadi sebagai akibat fluktuasi nilai ayam pedaging yang relatif tajam dari suatu periode pemeliharaan ke periode berikutnya. Pemeliharaan ayam pedaging yang relatif padat modal membuat peternak harus cermat dan jeli memperhatikan fluktuasi harga pasar input dan harga jual ayam potong. Kelalaian memperhatikan fluktuasi harga dan ketidak pekaan mempergunakan insting dalam berdagang ayam pedaging membuat peternak berpotensi merugi dan pada gilirannya kapok mengusahakan ternak ini bila salah perhitungan.
Tabel 5.7. Hasil Analisis LQ Ayam Pedaging di NTB
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 2013 Mataram 0.88 1.68 0.48 0.51 0.62 Lombok Barat 1.05 0.73 0.66 0.84 0.83 Lombok Utara 0.05 0.03 0.02 0.07 0.08 Lombok Tengah 1.05 0.62 0.65 0.67 1.17 Lombok Timur 0.84 1.40 1.32 1.36 0.73 Sumbawa Barat 0.33 0.02 0.32 0.06 0.06 Sumbawa 1.07 0.65 0.12 0.86 0.75 Dompu 0.43 0.46 0.57 0.68 0.65 Bima 1.22 1.34 1.18 0.92 2.02 Kota Bima 1.74 1.73 2.20 2.27 0.97 Sumber: BPS NTB, diolah.
Sebaliknya pengusahaan ayam potong akan memberikan laba relatif menjanjikan bila kalkulasi hitung dagang komoditas ini ternyata tepat. Hal inilah yang membuat seseorang dengan gampang keluar-masuk mengusahakan komoditas ayam potong di setiap daerah dan kemudian berimplikasi pada tampilan LQ masing-masing wilayah dalam konteks sebagai daerah basis-non basis.
Kekuatan Lombok Tengah sebagai pusat pengembangan ayam broiler adalah dekat dengan pusat sapronak (sarana produksi peternakan) seperti bibit, pakan dan obat-obatan, serta dapat berperan sebagai pusat suplayer daging untuk kebutuhan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa bagian barat (Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa).
Gambar 5.4. Hasil Perhitungan LQ Ayam Pedaging di NTB Lima Tahun Terakhir.
Kota Bima dipandang sebagai daerah yang sangat strategis untuk pengadaan daging khususnya untuk melayani kebutuhan warga Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, serta untuk memenuhi kebutuhan daging warga di wilayah Provinsi NTT bagian barat (Pulau Flores dan Pulau Sumba).
5.2.4. Itik
Perkembangan LQ itik di NTB lima tahun terakhir tertera pada Tabel 5.8 dan Gambar 5.5. Hal unik terkait LQ itik adalah cenderung berbaliknya beberapa daerah dari semula menjadi basis ternak itik menjadi wilayah non basis. Setidaknya hal itu terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Kota Mataram, Dompu dan di Kabupaten Bima. LQ itik di Kabupaten Lombok Tengah, pada tahun 2011, misalnya, mencapai 2,02, lalu LQ-nya merosot menjadi 1,82 pada tahun 2012 serta turun lagi menjadi 1,15 pada tahun 2013. Hal serupa terjadi di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.
Fenomena sebaliknya dialami Kabupaten Lombok Timur ditandai melonjaknya nilai LQ itik dari semula 0,68 pada tahun 2011, menurun menjadi 0,57 setahun kemudian serta pada tahun 2013 nilai LQ itik di Kabupaten Lombok Timur adalah
sebesar 1,48. Fenomena LQ ternak itik seperti dialami Lombok Timur terjadi juga di Kota Bima (lihat Tabel 5.8).
Tabel 5.8. Nilai LQ Itik di Provinsi Nusa Tenggara Barat Lima Tahun Terakhir.
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 2013 Mataram 1.92 0.87 1.63 1.93 1.22 Lombok Barat 0.87 0.99 0.99 1.00 0.77 Lombok Utara 0.43 0.58 0.56 0.54 0.51 Lombok Tengah 1.25 1.72 2.02 1.82 1.15 Lombok Timur 0.95 0.71 0.68 0.57 1.48 Sumbawa Barat 0.76 0.84 0.55 0.98 0.96 Sumbawa 0.41 0.14 0.15 0.13 0.11 Dompu 1.65 1.79 1.61 1.35 1.22 Bima 1.39 1.20 1.30 1.22 0.31 Kota Bima 0.71 0.43 0.37 0.34 1.00 Sumber: BPS NTB, diolah
Sama seperti fenomena yang terjadi pada ayam pedaging, daerah basis ternak itik juga diduga rentan terhadap fluktuasi harga produk yang dihasilkan komoditas ini. Oleh karena itu diperlukan sikap kehati-hatian dalam menyelesaikan masalah sosial-ekonomi yang terjadi di seputar usaha peternakan itik di NTB.
Kesimpulan lain terhadap hasil analisis LQ itik adalah bahwa Kota Mataram, Lombok Timur dan Lombok Tengah sejauh ini dapat dikategorikan sebagai kawasan basis ternak itik untuk Pulau Lombok. Adapun Kabupaten Dompu di Pulau Sumbawa, berdasarkan hasil analisis LQ, merupakan basis pengusahaan itik. Oleh karena itu, konsentrasi pengembangan ternak itik agar diarahkan ke daerah yang menjadi basisnya.
Meskipun Kota Mataram potensial bagi pengembangan itik, namun karena daerah ini berpenduduk padat maka pengembangan ternak itik di daerah ini perlu dipertimbangkan karena bisa mengganggu kenyamanan penduduk, karena pengaruh bau yang tidak sedap yang ditimbulkannya.
Gambar 5.5: Grafik LQ Ternak Itik di Provinsi NTB Lima Tahun Terakhir
Adapun Kabupaten Dompu meskipun berdasarkan hasil analisis LQ potensial bagi pengembangan itik, namun karena daerah ini sebagian besar wilayahnya relatif kering, secara ekologis perlu dipertimbangkan dengan matang jika hendak dikembangkan sebagai sentra ternak itik. Oleh sebab itu pengembangan itik ke depan layak dipusatkan di Kabupaten Lombok Timur.
Sistem budidaya ternak itik selama ini memberikan kontribusi besar dalam pengadaan telur konsumsi bahan baku telur asin. Daerah persawahan dengan dua kali panen padi dalam setahun merupakan daerah penghasil dedak (bahan pakan sumber energi), serta merupakan daerah berkembangnya biota akuatik seperti keong mas, ikan sapu-sapu, duckweed dan lain sebaginya sebagai bahan pakan sumber protein bagi ternak itik.
Pengembangan itik di Lombok Timur didukung tersedianya daerah persawahan berpengairan teknis dengan dua kali panen padi setiap tahun dengan areal panen 21.911 Ha. Tingginya luas daerah persawahan ini berkontribusi langsung pada pengadaan dedak halus sebagai bahan pakan sumber energi, dengan produksi diestimasi mencapai 1.785.575 ton per tahun. Kabupaten Lombok Timur juga strategis sebagai sentra budidaya ternak itik di masa mendatang selaras dengan meningkatnya
luas lahan basah yang dapat ditanami padi sebagai akibat beroperasinya bendungan Pandanduri yang kini dalam proses penyelesaian. Bendungan tersebut diprediksi mampu mengairi minimal lima kecamatan di Kabupaten Lombok Timur dan satu kecamatan di wilayah Lombok Tengah yang selama ini tergolong daerah kering. Kawasan di Lombok Timur yang dapat dialiri oleh bendungan Pandanduri adalah Kecamatan Sakra, Sakra Timur, Sakra Barat, Keruak dan Jerowaru. Sedangkan wilayah Lombok Tengah adalah Kecamatan Praya Timur (Mujur).