ENTITAS KELUARGA YANG WAJIB
3. Ayat Mawaddah
Mereka itulah figur-figur yang dimaksud dari istilah al-qurbâ atau kerabat. Dalam hal ini, kecintaan terhadap mereka ditetapkan Allah Swt sebagai upah bagi risalah Nabi Muhammad Saw, sebagaimana firman-Nya:
{
ًةَن َسَح ْفِ َتْْقَي نَمَو ىَبْرُقْلا ِفِ َةَّدَو َْلِا َّلاِإ اًرْجَأ ِهْيَلَع ْمُكُلَأْسَأ َّلا لُق
ٌروُك َش ٌروُفَغ َ َّللها َّنِإ اًنْسُح اَهيِف ُهَل ْدِزَّن
}
″Katakanlah, ′Aku tidak minta upah kepada kalian atas risalah ini kecuali kasih sayang terhadap kerabat, dan barangsiapa mengerjakan
kebaikan-nicaya-Kami tambahkan kebaikan kepadanya;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterima Kasih″2
Ahmad bin Hambal dalam kitab Fadhâ′il Al-Shahâbah″, Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya, Thabrani dalam buku Al-Mu′jam Al- Kabîr, dan lain-lain meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan,
″Manakala ayat: ′Aku tidak minta upah kepada kalian atas risalah ini
1- Hakim Tirmidzi, Nawâdir Al-Ushûl, hlm. 69, bab 50 mengenai ″Berpegang Teguh pada al-Quran dan Sunah″. Samhudi Syafi′i juga berpendapat sama dalam Jawâhir al-′Aqdain (hal. 243). Ia mengatakan, ″Orang-orang yang kita dianjurkan untuk berpegang teguh kepadanya dari kalangan Ahlul Bait Nabi dan ′itrah yang suci adalah orang-orang yang alim terhadap kitab suci Allah Swt. Karena, tidak mungkin beliau Saw menganjurkan kita berpegang teguh pada selain mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mungkin terpisah dari al-Quran hingga mereka sama-sama mendatangi beliau di telaga. Oleh karena itu, beliau bersabda, ′Jangan kalian mendahului mereka, karena mereka lebih alim dari kalian.′″ Mulla Ali Qari juga berpendapat sama dalam Mirqât al-Mafâtîh (jld. 5, hlm. 600). Ia mengatakan, ″Yang pasti, Ahlul Bait pada umumnya lebih tahu ihwal pemilik bait (rumah) dan keadaan-keadaannya. Maka, yang dimaksud Ahlul Bait di sini adalah ahli ilmu di antara mereka yang mengetahui pola hidup beliau secara baik, berjalan di atas jalan beliau, dan mengenali hukum serta hikmah beliau. Itulah sebabnya mereka pantas menjadi padanan kitab suci Allah Swt, sebagaimana difirmankan- Nya: ′… wa yu′allimuhum al-kitâba wa al-hikmah.′ Ini juga didukung riwayat Ahmad dalam Al-Manâqib, dari Hamid bin Abdullah bin Zaid yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw kagum tatkala mendengar kabar tentang pengadilan Ali bin Abi Thalib. Lalu beliau bersabda, ′Puja dan puji kehadirat Allah yang telah menetapkan hikmah di antara kita, Ahlul Bait.′″
kecuali kasih sayang terhadap kerabat,′ diwahyukan, mereka berkata,
′Wahai Rasulullah! Siapakah kerabatmu yang wajib hukumnya bagi kami untuk mengasihi mereka?′ Beliau menjawab, ′Ali, Fatimah, dan kedua putra mereka.″1
Fakhru Razi mempercayai itu dalam kitab tafsirnya seraya memberi catatan, ″Dengan demikian, terbukti sudah bahwasanya keempat orang itu merupakan kerabat Nabi Muhammad Saw. Sat terbukti demikian, maka sudah tentu mereka harus diberi keistimewaan khusus berupa pengagungan ekstra. Terdapat beberapa bukti untuk itu…″ Ia lalu menyebutkan tiga jenis bukti, dan mengenai bukti ketiga, ia mengatakan, ″Doa untuk âl atau keluarga Nabi Saw adalah kedudukan yang agung. Oleh karena itu, doa ini diletakkan pada penutup
tasyahud dalam shalat, yaitu:
ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهللا
ٍدَّمَ ُمح َلآ َو اًدَّمَ ُمح مَحرا َو ،ٍدَّمَ ُمح ِلآ َو
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan rahmatilah Muhammad
dan keluarga Muhammad″
Pengagungan ini tidak ditemukan di tempat lain kecuali pada âl atau keluarga Nabi Muhammad Saw; dan ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap mereka bersifat wajib.″2
Dalam kitab Mustadrak-nya, Hakim Nisaburi meriwayatkan khutbah Imam Hasan as pada momen kesyahidan ayahandanya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Khutbah itu sangat panjang, dan kami hanya menukilkan bagian yang diperlukan sekarang. Beliau as berkata:
ََتْفا َنيِذلا ِتيبلا ِلهأ نِم اَنأ َو ،اًيِْهطَت مُهَرَّه َط َو َسجِّرلا مُهنَع ُللها َبَهذأ َنيِذَّلا ِتيَبلا ِلهأ نِم اَنأ َو
َض
ٍمِلسُم ِّلُک یَلَع مُهَتَّدَوَم ُللها
اًرْجَأ ِهْيَلَع ْمُكُلَأْسَأ َّلا لُق" : ِهِلآ َو ِهيَلَع ُللها یَّلَص ِهِّيِبَنِل یَلاَعَت َو َکَراَبَت َلاَقَف ،
1- Ahmad bin Hambal, Fadhâ′il Al-Shahâbah, jld. 2, hlm. 669/1141; Abdul Rahman bin Muhammad bin Idris Razi Ibnu Abi Hatim, Tafsîr Ibnu Abî Hâtim (Tafsîr Al- Qur′ân Al-′Adzîm), jld. 8, hlm. 3277/18477; Thabrani, op. cit., jld. 3, hlm. 47/ 2641; Nurudin Haytsami, Mu′jam al-Zawâ′id, jld. 7, hlm. 103; Abul Qasim Zamakhsyari Khawrazmi, Al-Kasysyâf ′an Haqâ′iq Al-Tanzîl, jld. 4, hlm. 223; Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Anshari Qurtubi, Al-Jâmi′ li Ahkâm Al-Qur′ân, jld. 16, hlm. 21 – 22; dan Ahmad bin Hajar Haitami Makki, op. cit., jld. 2, hlm. 487.
اَف ،" ٌروُك َش ٌروُفَغ َ َّللها َّنِإ اًنْسُح اَهيِف ُهَل ْدِزَّن ًةَنَسَح ْفَِتْْقَي نَمَو ىَبْرُقْلا ِفِ َةَّدَو َْلِا َّلاِإ
َسَلْا ُفاَِتْق
اَنُتَّدَوَم ِةَن
ِتيَبلا ِلهأ
″Dan aku termasuk Ahlul Bait yang telah dihindarkan Allah dari segala jenis kotoran dan mereka disucikan-Nya sesuci-sucinya. Dan
aku termasuk Ahlul Bait yang Allah mengharuskan semua Muslim mencintai mereka. Karena Dia berfirman kepada Nabi-Nya (shallallâhu ′alaihi wa âlihi): Katakanlah, ′Aku tidak minta upah kepada kalian atas risalah ini kecuali kasih sayang terhadap kerabat,
dan barangsiapa yang berbuat baik-niscaya-Kami tambahkan kebaikan kepadanya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterima Kasih.′ Maka perbuatan baik yang dimaksudkan ayat
ini adalah kecintaan terhadap kami, Ahlul Bait″1
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata tentang bagian ayat ″barangsiapa yang berbuat baik″, bahwa, ″Maksud perbuatan baik di sini adalah kecintaan terhadap âl atau keluarga Nabi Muhammad Saw.″2
Perhatikanlah secara seksama, bagaimana al-Quran menjuluki mereka dengan al-qurbâ atau kerabat. Dan Nabi Muhammad Saw menerangkan bahwa anggota kerabat dalam konteks ini adalah Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Begitu pula, bagaimana titel al-qurbâ
menggantikan posisi titel ahl al-bayt dan âl Muhammad Saw pada beberapa wahana lain. Juga, bagaimana Imam Hasan as mengkombinasikan ayat tathhir dan ayat mawaddah untuk menunjukkan kepada Anda bahwa figur-figur yang dimaksudkan kedua ayat itu adalah identik. Poin-poin tersebut sudah tentu menjadikan Anda yakin bahwa titel-titel yang disebutkan di atas menunjukkan satu fakta eksternal, yaitu, lima sosok yang secara khusus berada di bawah selimut (ashhâb al-kisâ′).