• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mazhab Hanafi dan Mazhab Malik

TINJAUAN HISTORIS

1. Mazhab Hanafi dan Mazhab Malik

Mazhab Hanafi dan Maliki sama-sama berpendapat bahwa salawat kepada Nabi Saw hukumnya sunah dan mustahab. Kemudian. dalam menentukan tatacara yang benar untuk menunaikan hukum sunah ini, mereka bersandar pada hadis Ka′ab bin Ajrah dan Abu Mas′ud.

Demikian pula yang disampaikan Wazir Ibnu Hubairah manakala memaparkan perbedaan keempat mazhab dalam memilih tatacara yang benar untuk menunaikan hukum salawat. Saat itu pula ia memahami yang dimaksudkan firman Allah Swt dalam konteks ini. Ia menyebutkan pilihan mazhab Hanafi dan Maliki, seraya berkata,

″Berkenaan dengan pilihan mazhab Abu Hanifah dalam hal ini, tidak terdapat bukti kecuali yang disampaikan Muhammad bin Hasan dalam kitab al-Haj, yaitu hendaknya seseorang mengucapkan:

َميِهاَربإ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع َو ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهللَا

ِهاَربإ یَلَع َتکَراَب اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع َو ٍدَّمَ ُمح یَلَع کِراَب َو ،ٌديَِمج ٌديِ َحْ َکَّنإ َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َو

یَلَع َو َمي

َعلا ِفِ َميِهاَربإ ِلآ

ا

ٌديَِمج ٌديِ َحْ َکَّنإ ،َيْ َِلِ

″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaluhur, dan berkahilah

Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim di alam semesta.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaluhur

Lalu, Muhammad bin Hasan menyatakan, ″Beginilah tatacara salawat yang diriwayatkan Malik bin Anas kepada kami.″1

Abdurrahman Jazri menegaskan hal itu seraya berkata, ″Sebaiknya ia mengatakan "لخا ... َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع َو ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهللَا", dan tatacara salawat ini menurut mazhab Maliki dan Hanafi adalah sunah.″2

Atas dasar itu, bila penyebutan keluarga Nabi (âl) merupakan bagian dari sunah dan tatacara yang benar dalam menunaikan salawat, maka, bolehkah menghapus bagian tersebut dan menghukumi salawat yang terpenggal sebagai absah? Meskipun demikian, mereka telah membeda-bedakan hukumnya seraya mengatakan bahwa menunaikan hukum salawat cukup dengan menyebutkan Nabi Saw dan tidak perlu menyebutkan keluarga beliau (âl), kendati hal itu lebih utama!

Mereka bersandar pada beberapa hal yang akan kami sebutkan dalam ulasan mengenai kritik terhadap orang-orang yang berpendapat wajib

1- Wazir Aunudin Abu Mudhzafar Yahya bin Muhammad Ibnu Hubairah Hambali, al-Ifshâh ′an Ma′ânî al-Shihâh, jld. 1, hlm. 89-90.

untuk bersalawat. Karena, bukti yang kami tetapkan terhadap kalangan yang memisahkan antara Nabi Saw dan keluarga beliau (âl)

dalam konteks dapat ditetapkan pula sebagai bukti terhadap kalangan yang memisahkan antara keduanya. Sebab, dalil yang dijadikan pegangan hanya satu, begitu pula sumbernya [hanya satu].

2. Mazhab Syafi′i dan Hambali

Kedua mazhab ini sama-sama meyakini kewajiban bersalawat kepada Nabi Saw dalam tasyahud akhir. Mereka memegang teguh dalil-dalil selain membuktikan kewajiban salawat untuk Nabi, juga membuktikan kewajiban yang sama untuk keluarga beliau (âl). Karena, pada kenyataannya, dalil-dalil itu tidak membedakan keduanya. Bahkan dalil-dalil tersebut telah menggabungkan secara integral keduanya dalam satu konteks yang tidak mungkin dipisahkan satu sama lain.

Meskipun perintah salawat sudah jelas dan secara tegas mengintegrasikan Nabi Saw dengan keluarga beliau (âl), namun, kalangan ini terbelah dalam dua kelompok. Kelompok pertama mengatakan, wajib hukumnya bersalawat kepada keluarga Nabi, sebagaimana wajib hukumnya bersalawat kepada beliau sendiri. Mereka mendasarkan alasannya pada bukti-bukti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Adapun kelompok kedua menyangkal kewajiban itu dan memisahkan Nabi dari keluarganya. Mereka beralasan dengan sejumlah bukti yang sama sekali tidak sanggup menandingi ketegasan perintah Nabi Saw dalam hadis-hadis nabawi yang mengintegrasikan mereka dalam salawat; yaitu, hadis-hadis yang digunakan mereka sendiri dalam mewajibkan hukum bersalawat kepada Nabi Saw.

Kali ini, kami akan memaparkan pernyataan kedua kelompok tersebut, dan pada saat yang sama, mengusahakan agar ulasan ini juga memuat sebagian bukti penolakan terhadap kelompok kedua. Adapun sebagian bukti lain akan kami sampaikan pada tema atau pembahasan lain.

a. Mazhab Syafi′i

Kalangan pengikut Mazhab Syafi′i meriwayatkan dari imamnya bahwa ia meyakini kewajiban bersalawat kepada keluarga Nabi (âl)

dalam tasyahud akhir shalat. Di antara mereka adalah Imam Haramain dan sahabatnya, Ghazali.1 Adapun Ibnu Hajar Haitami mengutarakan

pernyataan Safi′i itu secara mursal (tanpa silsilah periwayat). Namun, menurutnya, itu sudah pasti dan tidak ada lagi yang meragukannya. Bukti hadis yang menjadi alasan mereka seputar kewajiban bersalawat kepada Nabi Saw dalam tasyahud shalat secara jelas menyatakan bahwa pendapat Syafi′i terhadap salawat kepada keluarga Nabi (âl)

dalam tasyahud tersebut adalah wajib. Karena, kedua hadis Abu Hurairah dan Ka′ab yang menjadi tumpuan mereka untuk mewajibkan salawat kepada Nabi Saw sama-sama mengintegrasikan keluarga (âl)

bersama beliau dalam satu perintah yang sama sekali menolak pemisahan keduanya. Dan siapa pun yang memisahkan keduanya, sungguh tidak memiliki bukti untuk itu. Ibnu Hajar Haitami menekankan bahwa bukti Syafi′i dalam persoalan ini adalah kedua hadis tersebut. Pada saat yang sama, Ibnu Hajar menolak kemungkinan Syafi′i bersandar pada bukti lain. Ia berkata, ″Daru Quthni dan Baihaqi meriwayatkan hadis, ′Barangsiapa melaksanakan shalat, tapi dalam shalatnya itu tidak bersalawat kepadaku dan Ahlul Baitku [secara bersamaan], maka shalatnya tidak diterima darinya.′ Sepertinya, inilah hadis yang menjadi alasan Syafi′i mengatakan bahwa salawat kepada keluarga Nabi (âl) merupakan salah satu kewajiban shalat, sebagaimana salawat kepada kepada Nabi Saw. Hanya saja, kecil kemungkinan Syafi′i bersandar pada hadis itu. Bukti yang sesungguhnya adalah perintah beliau dalam hadis yang telah disepakati kesahihannya, yaitu, ′Katakanlah: Allâhumma shalli alâ muhammad wa ′alâ âli muhammad.′ Nah, menurut pendapat yang benar, perintah itu secara hakiki mengimplisitkan kewajiban.″2

Hadis yang menurut Ibnu Hajar sangat kecil kemungkinannya dijadikan Syafi′i sebagai sandaran untuk mewajibkan salawat dalam shalat, merupakan hadis yang diriwayatkan Abu Mas′ud Anshari.3

Yaitu, sosok sahabat yang menyampaikan hadis sahih tentang tatacara salawat dan menjadi sandaran bagi kalangan yang mewajibkan

1- Menurut kutipan Ibnu Katsir. Redaksinya kami tulis pada beberapa paragraf setelah ini.

2- Ahmad bin Hajar Haitami Makki, op. cit., hlm. 348, bab pensyariatan salawat kepada keluarga Nabi sebagai implikasi salawat kepada Nabi Saw.

salawat kepada Nabi Saw dalam shalat. Itulah mengapa ia mengatakan, ″Seandainya aku melakukan shalat yang di dalamnya aku tidak bersalawat kepada keluarga (âl) Muhammad, maka aku tidak memandang shalatku ini lengkap.″1 Perkataan serupa juga

diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Anshari, yang mengatakan,

″Seandainya aku melakukan shalat yang di dalamnya aku tidak bersalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maka aku tidak memandang shalatku itu diterima.″2

Syafi′i mengungkapkan pendapatnya tentang kewajiban secara hukum untuk menyebutkan keluarga Nabi (âl) dalam salawat lewat bait-bait puisinya yang indah. Ia mengatakan:

متبح للها لوسر تيب لهأ اي

هلزنأ نآرقلا يق للها نم ضرف

م مکافک

متنأ ردقلا ميمع ن

هل ةلاص لا متيلع لصي لم نم

″Wahai Ahlul Bait Rasulullah, cinta pada kalian adalah kewajiban dari sisi Allah yang diturunkan-Nya dalam al-Quran. Agung sekali penghargaan untuk kalian bahwa, barangsiapa yang

tidak bersalawat kepada kalian maka tiada shalat baginya″3

Di antara sahabatnya yang mengikuti pendapat itu adalah Abu Ishaq Marwazi (340 H) yang merupakan imam mazhab semasa hidupnya. Ia mengatakan, ″Saya beritikad bahwa salawat pada keluarga Nabi Saw adalah wajib dalam tasyahud akhir shalat.″4 Alhafidz Baihaqi Syafii

(485 H) juga membenarkan dan mendukung pendapat ini. Setelah menukil pendapat tersebut, ia mengatakan, ″Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan seputar tatacara salawat kepada Nabi Saw, terdapat bukti yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakannya.″5

Sayid Abu Bakar Hadhrami dalam kitab Rasyfat Al-Shâdî

mengatakan, ″Di antara ulama Syafi′i yang meyakini kewajiban salawat kepada keluarga Nabi (âl) dalam tasyahud shalat adalah Allamah Tarbaji dan Sayid Samhudi. Mereka beralasan dengan makna literal perintah yang maktub dalam sabda Nabi Saw, ′Katakanlah:

Allâhumma shalli alâ muhammad wa alâ âli muhammad (Ya Allah!

1- Ibid., hlm. 348/ 1329.

2- Muhibudin Thabari, Dzakhâ′ir Al-′Uqbâ fî Manâqib Dzawî Al-Qurbâ, hlm. 52 3- Ahmad bin Hajar Haitami Makki, op. cit., hlm. 228, bab 11, pasal pertama. 4- Abu Bakar Ahmad bin Husain Baihaqi, Syu′ab Al-Îmân, jld. 2, hlm. 224. 5- Ibid.

Bersalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad).′

Penulis keterangan buku Al-Imrîthiyah mengatakan, ′Penyebutan keluarga dalam jawaban yang menjadi keterangan atas ayat salawat (tashliah) menunjukkan kewajiban salawat kepada mereka pula. Khususnya ketika jawaban itu mengintegrasikan Nabi dan keluarga beliau dalam satu perintah yang merupakan subjek kewajiban.″1

Ibnu Abi Hadid mengatakan, ″Mayoritas kolega Syafi′i meyakini kewajiban salawat kepada keluarga nabi dalam salawat.″2 Hanya saja,

menurut sebagian mereka, mayoritas ulama Mazhab Syafi′i tidak berpendapat demikian. Terdapat, sedikitnya, dua pendapat di antara mereka. Pendapat pertama menetapkan kewajiban salawat kepada keluarga Nabi Saw. Sedangkan pendapat kedua menolak kewajiban itu. Adapun mayoritas mereka mendukung pendapat kedua. Perincian ini telah disampaikan Ibnu Katsir Dimisyqi (774 H) yang merupakan ulama terkemuka mazhab Syafi′i. Ia mengatakan, ″Sebagian kolega kita mewajibkan salawat kepada keluarga Nabi Saw. Ini pendapat Syafi′i yang digambarkan Bandaniji dan Salim Razi, didukung Nasr bin Ibrahim Maqdisi, dan dinukil Imam Haramain serta sahabatnya, Ghazali. Sebenarnya, ini hanyalah salah satu pendapat. Adapun mayoritas ulama Syafi′i berpendapat sebaliknya. Bahkan, mereka mengaku adanya konsensus untuk pendapat sebaliknya ituersebut. Namun demikian, pendapat yang menyatakan ′wajib′ didukung teks- teks hadis. Wallâhu a′lam.″3

Perincian mengenai kedua pendapat ini juga dapat Anda temukan dalam keterangan Rafi′i terhadap pernyataan Abu Hamid, yang sekaligus menerangkan bukti yang disodorkan kalangan yang mewajibkan salawat kepada keluarga Nabi (âl). Ia mengatakan,

″Pendapat pertama mengatakan wajib, karena teks hadis yang diriwayatkan, bahwa seseorang berkata pada Nabi Saw, ′Wahai Rasulullah! Bagaimana caranya kami bersalawat kepadamu?′ Lalu beliau menjawab, ′Katakanlah, Allâhumma shalli ′alâ muhammad wa

1- Abu Bakar Shihabudin Hadhrami, Rasyfat Al-Shâdî min Bahr Fadhâ′il Banî Al- Nabî Al-Hâdî, hlm. 72.

2- Abu Hamid Izudin Ibnu Abi Hadid Mada′ini, Syarh Nahj Al-Balâghah, jld. 6, hlm. 144, pidato ke-71.

3- Ibnu Katsir, op. cit., hlm. 1383, persisnya pada penafsiran ayat ke-56 surah al- Ahzâb.

′alâ âli muhammad.′ Namun pendapat yang lebih benar adalah, tidak wajib hukumnya bersalawat kepada keluarga beliau. Hukumnya tidak lebih dari sunah, yang disebabkan salawat kepada Nabi Saw.″1

b. Mazhab Hambali

Tidak ada pernyataan jelas yang dinukil Ahmad bin Hambal mengenai persoalan ini. Hanya saja, menurut interpretasi sebagian ulama,2 ia

berpendapat, tidak wajib hukumnya bersalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahud shalat. Interpretasi ini disimpulkan dari pernyataannya yang mewajibkan salawat kepada beliau Saw di sela-sela keterangannya tentang riwayat Abu Zar′ah yang mengatakan bahwa salawat kepada Nabi Saw adalah perintah; dan barangsiapa meninggalkannya harus mengulang shalat. Menurut sebagian ulama tersebut, dalam pernyataan ini, Ahmad bin Hambal tidak menyebutkan salawat kepada keluarga Nabi (âl).

Interpretasi ini jelas-jelas tidak proporsional. Karena, Ahmad bin Hambal [menyatakan itu] dalam konteks menerangkan hukum wajib bersalawat dalam shalat, setelah sebelumnya berpendapat lain. Jadi, bukan dalam upaya menerangkan, siapa saja yang wajib menjadi subjek salawat. Di samping itu, ia juga sedang menjelaskan bukti kewajiban salawat tersebut; yaitu, perintah yang maktub dalam sejumlah hadis. Ini juga sebagaimana diisyaratkan Ibnu Qudamah- sebagaimana kutipannya telah disebutkan sebelumnya-dan dinyatakan secara jelas oleh Wazir Ibnu Hubairah Hambali (560 H) saat menukil pendapat Ahmad bin Hambal dari Abu Hamid sebagai berikut:

″Bukti Ahmad bin Hambal adalah riwayat Ka′ab bin Ajrah. Riwayat Ka′ab ini memerintahkan salawat kepada keluarga Nabi (âl) beserta Nabi. Itulah sebabnya, tidak mungkin seseorang beralasan dengan riwayat ini untuk membuktikan kewajiban bersalawat kepada Nabi, tapi tanpa keluarga beliau; karena, perintah untuk bersalawat kepada Nabi dan keluarga beliau bersifat uniter (kesatuan integral). Atas dasar itu, ia berpendapat, wajib hukumnya bersalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahud shalat. Jika demikian duduk persoalannya di mata

1- Abu Qasim Abdu Karim Rafi′i, Al-′Azîz fî Syarh Al-Wajîz, jld. 1, hlm. 533. 2- Interpretasi Qadhi Abu Ya′la menurut kutipan kitab al-Mughnî karya Ibnu Qudamah (jld. 1, hlm. 379-380). Begitu pula Wazir Ibnu Hubairah dalam Al-Ifshâh, jld. 1, hlm. 90.

Abu Hamid, demikian pula di mata Ahmad bin Hambal; karena keduanya bersandar kepada hadis yang sama.″

Abu Hamid, sahabat Ahmad bin Hambal, mengatakan: ″Kadar yang diperlukan untuk menunaikan salawat adalah wajib bersalawat kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau, dan keluarga Nabi Ibrahim, seraya memohon berkah untuk Nabi Muhammad, keluarga beliau, dan keluarga Nabi Ibrahim. Karena, itulah hadis yang dirujuk Ahmad bin Hambal.″1

Darinya, dan atas dasar makna literal ucapan Ahmad bin Hambal yang telah disebutkan sebelumnya, juga berdasarkan bukti yang dikemukakan Abu Hamid, kami lebih setuju mengategorikannya bersama sosok yang mewajibkan salawat kepada keluarga Nabi dalam

tasyahud shalat, dan bukan sebaliknya—sebagaimana dipahami sebagian kalangan.

Di antara ulama Hambali yang mewajibkan salawat kepada keluarga Nabi (âl) itu adalah Abu Khatthab. Dalam gugatannya terhadap bukti kelompok yang menolak kewajiban salawat terhadap keluarga Nabi (âl), ia menjelaskan bahwa mereka mengatakan, ″Itu adalah salawat kepada makhluk. Maka dari itu, ia [seperti salawat kepada keluarga Muhammad] tidak dapat disyaratkan dalam ritual shalat.″ Kami perlu mengatakan kepada mereka, ″Jika penyebutan salawat kepada keluarga Nabi disyaratkan dalam pokok semua ibadah, yaitu iman, lantas mengapa salawat itu tidak disyaratkan dalam shalat? Menurut kami, wajib hukumnya bersalawat sampai kata-kata hamîdun majîd.″2 Maksud Abu Khatthab di sini adalah tatacara salawat yang

maktub dalam hadis Ka′ab bin Ajrah yang memuat keluarga Nabi Muhammad sampai kata-kata hamîdun majîd.

Ibnu Katsir menyatakan dalam buku tafsirnya, ″Sebagian imam mazhab Hambali mewajibkan agar dalam salawat menyebutkan sesuatu seperti yang telah diajarkan Nabi Saw kepada para sahabat

1- Wazir Aunudin Abu Mudzaffar Yahya bin Muhammad bin Hubairah Hambali, Al-Ifshâh ′an Ma′ânî Al-Shihâh, jld. 1, hlm. 90.

2- Abu Khatthab Mahfudz bin Ahmad Kaludzani Hambali, Al-Intishâr li Ahl Al- Sunnah wa Al-Hadîts fî Radd Abâthîl Hasan Al-Mâlikî, jld. 2, hlm. 291.

saat mereka bertanya kepada beliau bagaimana caranya.″1 Maksudnya,

ajaran beliau yang tertera dalam riwayat Ka′ab. Dengan kata lain, menurut para imam mazhab Hambali, sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir, wajib [pula] hukumnya bersalawat kepada keluarga Nabi (âl)

dalam tasyahud shalat.

Zarkasyi mendukung pendapat ini dan mengatakan, ″Kadar yang diperlukan untuk menunaikan kewajiban salawat adalah bersalawat kepada Nabi Muhammad beserta keluarga beliau dan keluarga Nabi Ibrahim. Begitu pula dengan memohon berkah untuk mereka semua sampai kata-kata hamîdun majîd. Pendapat ini dipilih Ibnu Hamid dan Abu Khatthab dengan menyandarkan alasan pada makna tekstual perintah untuk bersalawat dalam hadis Ka′ab. Adapun menurut Qadhi dan dua Syekh, kadar yang diperlukan untuk itu hanyalah salawat kepada beliau. Karena, menurut mereka, itulah yang disepakati hadis- hadis tentang perintah bersalawat. Adapun selain itu hanya disebutkan sebagian hadis dan tidak disebutkan sebagian hadis yang lain.″2

Ibnu Qudamah Maqdisi hanya menganggap salawat plus keluarga Nabi (âl) sebagai salawat yang lebih utama dan lebih sempurna. Ia mengatakan, ″Seutamanya seseorang menunaikan salawat kepada Nabi Saw sesuai cara yang disebutkan Khurqi. Karena hal itu sesuai dengan hadis Ka′ab bin Ajrah yang merupakan hadis paling sahih mengenai salawat. Sebagian ulama mazhab kami mengatakan bahwa hukum salawat bersifat wajib sesuai cara yang maktub dalam riwayat Ka′ab; karena Nabi memerintahkan cara itu, dan perintah berimplikasi pada kewajiban. Akan tetapi, pendapat pertama tadi lebih bagus, dan Nabi Saw memerintahkan cara itu kepada para sahabat ketika mereka meminta beliau mengajarkannya; dan bukan beliau sendiri yang memulai memerintahkan atau mengajarkannya.″3

Nampaknya, Ibnu Qudamah menyampaikan kata-kata terakhirnya ini dalam upaya membuktikan pendapatnya tersebut. Namun kata- katanya itu tidak layak dijadikan bukti. Karena, perihal ′adanya

1- Ibnu Katsir, op.cit., hlm. 1382, persisnya pada penafsiran ayat ke-56 surah al- Ahzab.

2- Syamsudin Zarkasyi, Syarh Al-Zarkasyiy ′alâ Mukhtashar Al-Khurqiy, jld. 1, hlm. 588.

pertanyaan terlebih dulu, bukan sejak awal hadis disampaikan secara langsung′ sama sekali tidak berpengaruh bagi upaya menyimpulkan hukum syariat dari sabda Nabi Saw. Kita semua berkewajiban untuk mengikuti sabda beliau (dalam kapasitas beliau sebagai penjelas syariat Allah Swt) secara mutlak, baik berupa jawaban atas pertanyaan maupun keterangan beliau sendiri yang disampaikan tanpa didahului pertanyaan apa pun. Tak satu pun bukti yang menunjukkan pembedaan terhadap kedua bentuk sabda beliau ini. Juga, tak satu pun ulama yang berpendapat seperti itu. Bahkan, dalam al-Quran sendiri, terdapat banyak sekali hukum syariat yang diwahyukan dalam bentuk jawaban atas suatu pertanyaan.1 Apakah kita masih ragu menerima

hukum-hukum itu? Di samping itu, Anda sendiri juga telah menggunakan bukti tersebut untuk mewajibkan salawat kepada Nabi Saw; lalu, apa alasan Anda membeda-bedakannya; padahal persoalannya adalah satu?

Pemberlakuan (Syariat) Salawat Terpenggal

Pada pembahasan sebelumnya, kiranya sudah jelas adanya dua pendapat di kalangan Ahli Sunah mengenai hukum salawat kepada keluarga Nabi (âl). Di antara mereka, terdapat kalangan yang menetapkan apa pun hukum yang mereka tetapkan pada Nabi Saw dan keluarga beliau, baik berupa hukum wajib maupun sunah. Terdapat pula di antara mereka yang menolak penetapan seperti itu; kendati mereka sendiri mengakui penyebutan keluarga Nabi (âl) dalam salawat jauh lebih utama. Namun, bagi mereka, penunaian hukum salawat sudah dianggap ditunaikan-hanya dengan menyebutkan Nabi Saw—tanpa [perlu] menyebutkan keluarga beliau. Itu artinya, mereka membolehkan penghapusan keluarga Nabi (âl) dari teks salawat. Dengan kata lain, mereka telah memberlakukan [syariat] salawat yang terpenggal. Padahal, sebagaimana Anda telah jelas memahaminya, pemberlakuan jenis salawat ini jelas-jelas bertolak belakang dengan

1- Seperti di dalam firman Allah Swt. di surat Al-Baqarah, ayat 217:

{ ِهللها ِليِب َس نَع ٌّدَصَو ٌيِْبَك ِهيِف ٌلاَتِق ْلُق ِهيِف ٍلاَتِق ِماَرَْلْا ِرْهََّلا ِنَع َكَنوُلَأْسَي }

Artinya: ″Dan mereka bertanya kepada kamu tentang perang pada bulan haram, katakanlah, ″berperang di bulan itu adalah dosa besar, dan -adapun- menghalangi - manusia- dari jalan Allah....″

Begitu pula halnya dengan ayat ke219 dan ayat 222 dari surat yang sama serta ayat- ayat yang lain.

konsensus atau kesepakatan hadis-hadis yang menerangkan tatacara salawat. Hadis-hadis tersebut—sebagaimana telah kami buktikan kepada Anda sebelumnya dan telah diakui pula kalangan pakar—tidak pernah membeda-bedakan salawat kepada Nabi Saw dengan salawat keluarga beliau, walau hanya sekali.

Hakikat ini, menurut standar fikih dan argumentasi, merupakan bukti kuat dan otoritas niscaya yang memaksa mayoritas Ahli Sunah menyatakan wajib hukumnya menyebutkan keluarga Nabi Saw bersama beliau dalam salawat. Mereka tidak berhak meninggalkan bukti itu kecuali jika terdapat bukti yang lebih kuat darinya. Sungguh, tidak sepatutnya mereka meninggalkan bukti itu, dan malah bersandar pada dalih-dalih yang tidak layak dijadikan sandaran, serta tidak berdaya untuk menandingi bukti tersebut. Ini mengingat bahwa dasar pembuktian kalangan yang menolak kewajiban bersalawat kepada keluarga Nabi (âl) beserta beliau adalah sejumlah hadis yang tidak mencantumkan penyebutan keluarga Nabi (âl); dan, menurut mereka, seandainya penyebutan keluarga Nabi hukumnya wajib, niscaya hadis- hadis itu mustahil mengabaikannya.

Yang dimaksud mereka dengan hadis-hadis itu adalah hadis Abu Sa′id Khudri dan hadis Abu Humaid Sa′idi. Pada saatnya kelak, kami akan menjawab alasan mereka secara terperinci. Namun, ada baiknya pula jika kami menyinggung pernyataan sebagian kalangan yang menyangkal bukti mereka itu. Terkait dengan hadis Abu Sa′id Khudri, telah kami buktikan bahwa sosok ini tidak menghafalkan sabda Nabi itu dengan cara benar. Karena, ternyata, terdapat beberapa redaksi yang berbeda-beda untuk sabda tersebut. Kami juga telah membuktikan soal ada pula juru riwayat yang menukilnya secara sempurna dan lengkap, dengan keluarga Nabi Saw beserta beliau. Oleh karena itu, hadis Abu Sa′id Khudri yang mereka ajukan tidak pantas dijadikan bukti. Sehingga, dengan demikian, mereka tidak memiliki bukti selain hadis Sa′idi yang menempatkan istri-istri nabi dan keturunan beliau sebagai representasi keluarga beliau (âl). Status hadis ini bermasalah dari segi konteksnya, sekaligus tergolong langka [dari segi teksnya] karena bertentangan dengan konsensus serta ihwal mutawatir. Itulah sebabnya, tidak satu pun ulama yang mempercayai tatacara salawat tersebut. Ini merupakan bukti nyata perihal absurditas hadis Sa′idi. Terlebih jika ditambah dengan berbagai kritik terhadap

matarantai periwayatannya-yang nanti akan kami ulas secara terperinci.

Klaim kami bahwa tidak satu riwayat pun yang tidak menyebutkan keluarga Nabi (âl), telah ditegaskan—sebagaimana pernah kami kemukakan sebelumnya—oleh Ibnu Qayim Jauzi. Khususnya, saat ia mengatakan, ″Mayoritas hadis sahih dan hasan, bahkan semua hadis itu, jelas-jelas menyebutkan Nabi Saw sekaligus keluarga beliau.″1

Begitu pula Hasan Seqaf yang mengatakan, ″Wajib hukumnya,