• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENTITAS KELUARGA YANG WAJIB

4. Hadis Kisa ′

Dalam hadis ini, Nabi Muhammad Saw menjelaskan maksud ″Ahlul Bait″

yang maktub dalam firman Allah Swt:

1- Hakim Nisaburi, op. cit., jld. 3, hlm. 188/ 4802, kitab ″Ma′rifat al-Shahâbah″. 2- Jalaludin Suyuthi, op. cit., jld. 5, hlm. 701.

{

اًيِْه ْطَت ْمُكَرِّه َطُيَو ِتْيَبْلا َلْهَأ َسْجِّرلا ُمُكنَع َبِهْذُيِل ُ َّللها ُديِرُي اَ َّنمِإ

}

″Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian, Ahlul Bait, dan

menyucikan kalian sesuci-sucinya″1

Beliau menjelaskan maksud tersebut dalam banyak hadis, dalam berbagai kesempatan, dan dengan cara berbeda-beda. Sehingga, siapa pun yang merenungkannya secara rasional, niscaya akan mencapai pada kesimpulan yang kokoh dan tanpa menyisakan keraguan sedikit pun di dalamnya; bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait as adalah lima figur yang secara khusus berada di bawah selimut Nabi Muhammad Saw, dan beliau bersabda, ″Mereka adalah ahli-ku; mereka Ahlul Baitku; mereka âl-ku.″ Berikut, kita akan membaca sebagian nash yang terkait dengan penjelasan beliau ini.

a. Dalam kitab Shahîh-nya, Muslim meriwayatkan hadis dari Shafiyah binti Syaibah yang mengatakan bahwa Aisyah berkata,

″Suatu pagi, Nabi Saw keluar dengan memebalutkan kain berbulu warna hitam. Lalu Hasan bin Ali datang dan beliau memasukkannya ke dalam kain itu; kemudian Husain datang dan beliau memasukkannya juga bersama Hasan; setelah itu Fatimah datang, dan beliau juga memasukkannya ke dalam; dan akhirnya Ali datang, lalu beliau pun memasukkannya ke dalam, seraya membacakan ayat:

′Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci- sucinya.′″2

b. Dalam kitab Al-Mustadrak alâ Al-Shahîhain karyanya, Hakim Nisaburi meriwayatkan sebuah hadis yang diklaimnya sebagai hadis sahih dengan syarat Bukhari-kendati dirinya sendiri tidak meriwayatkannya-dan disepakati Dzahabi dalam kitab Al-Talkhîsh. Hadis itu diriwayatkannya dengan matarantai periwayatan yang

1- Al-Ahzab:33.

2- Muslim bin Hajjaj Nisaburi, op, cit., jld. 4, hlm. 1501/2424; Hakim Nisaburi, op. cit., jld. 3, hlm. 159/4707; Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Kufi, Mushannaf Ibnu Abî Syaibah fî Al-Ahâdîts wa Al-Âtsâr, jld. 7, hlm. 501/39; Abdul Rahman bin Muhammad bin Idris Razi Ibnu Abi Hatim, Tafsîr Ibnu Abî Hâtim (Tafsîr Al-Qur′ân Al-′Adzîm), jld. 9, hlm. 3131/17672; Abdullah bin Ahmad (lebih dikenal dengan Hakim Haskani), Syawâhid al-Tanzîl, jld. 2, hlm. 56/ 676; dan Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, jld. 9, hlm. 413-414.

berujung pada Atha′ bin Yasar, dari Ummu Salamah, yang mengatakan, ″Ayat ′Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya,′ diwahyujan di rumahku.″ Lalu ia mengatakan,

″Setelah itu, Rasulullah Saw mengutus [seseorang] untuk memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain-semoga keridhaan Allah senantiasa tercurahkan kepada mereka semua, seraya bersabda, ′Ya Allah! Merekalah Ahlul Baitku.′″ Ummu Salamah menyahut, ″Wahai Rasulullah! Tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?″ Beliau menjawab,

″Sesungguhnya engkau berada dalam kebaikan, dan mereka adalah Ahlul Baitku. Ya Allah! Ahliku lebih berhak.″1

c. Ahmad bin Hambal dalam kitab Musnad-nya, Thahawi dalam kitab

Musykil Al-Âtsâr-nya, Thabrani dalam kitab Al-Mu′jam Al-Kabîr-nya, dan Abu Ya′la Musheli dalam kitab Musnad-nya, meriwayatkan hadis dari Syahr bin Hausyab, dari Ummu Salamah bahwa (teks hadis ini berdasarkan kutipan Ahmad bin Hambal) Rasulullah Saw berkata kepada Fatimah, ″Ajaklah suami dan kedua anakmu kemari.″ Fatimah pun segera menghadirkan mereka. Kemudian Rasulullah menyelimutkan kain Fadak ke sekujur mereka semua. Lalu, sang perawi melanjutkan, ″Kemudian, beliau meletakkan tangannya di atas mereka, seraya bersabda, ′Ya Allah! Sungguh mereka adalah âl

Muhammad. Maka tetapkan salawat-Mu dan berkah-Mu atas Muhammad dan âl Muhammad. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahaluhur.″ Ummu Salamah mengatakan, ″Aku segera mengangkat kain itu supaya bisa masuk bersama mereka. Namun beliau langsung menariknya dari tanganku, seraya bersabda, ′Sungguh engkau berada dalam kebaikan.′″2

d. Dalam kitab Al-Mustadrak-nya, Hakim Nisaburi meriwayatkan sebuah hadis yang dinyatakan sahih dengan syarat Bukhari dan Muslim melalui matarantai periwayatan yang berujung pada Abdullah bin Ja′far, ″Ketika menyaksikan rahmat yang sedang turun, Rasulullah

1- Hakim Nisaburi, op. cit., jld. 2, hlm. 451/3558, kitab ″al-Tafsîr″, persisnya pada penafsiran surah al-Ahzâb.

2- Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, jld. 7, hlm. 455/ 26206; Abu Ja′far Thahawi Mishri Hanafi, Musykil Al-Âtsâr, jld. 1, hlm. 234; Thabrani, op. cit., jld. 3, hlm. 53/ 2665; dan Abu Ya′la Ahmad bin Ali bin Mutsanna Musheli, Musnad Abi Ya′lâ, jld. 6, hlm. 86/ 6876.

Saw bersabda, ′Panggillah kemari! Panggillah kemari!′ Shafiyah mengatakan, ′Siapa, wahai Rasulullah?′ Beliau menjawab, ′Ahlul Baitku; yaitu Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain.′ Mereka pun bergegas memanggilnya ke dekat beliau. Kemudian beliau menyelimutkan kain ke atas mereka, seraya mengangkat tangan dan bersabda, ′Ya Allah! Mereka adalah keluargaku (âl), maka bersalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga (âl) Muhammad.′ Ketika itu. Allah Swt. menurunkan ayat: ′Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.′″1

Bila mencermati diksi, komposisi, dan konteks hadis-hadis tersebut, kita menjumpai semua itu secara tegas membatasi maksud ayat tersebut hanya pada kelima figur yang secara khusus berada di balik selimut itu; keberadaan mereka di bawah selimut, sabda beliau untuk mereka ″ya Allah! Merekalah Ahlul Baitku″ atau ″ya Allah! Merekalah keluargaku (âl)″, dan posisi beliau pada momen itu sebagai penjelas wahyu Ilahi, menunjukkan spesifikasi maksud tersebut. Seandainya terdapat sosok lain yang juga termasuk Ahlul Bait, sudah tentu beliau juga akan menyebutkannya. Karena, jika tidak menyebutkannya, penjelasan yang beliau sampaikan tidak lengkap. Adapun klaim bahwa istri-istri beliau termasuk Ahlul Bait dengan alasan konteks ayat [dimaksud], maka siapa pun yang merenungkannya bakal memahami bahwa hal itu tidak cukup untuk mengabaikan mereka dalam penjelasan ayat yang disampaikan Nabi Saw. Terlebih beliau sendiri dengan terang-terangan mencegah istrinya, Ummu Salamah, masuk ke balik selimut tersebut.

Di samping itu, seandainya beliau tidak bermaksud membatasi jumlah Ahlul Bait dengan sabdanya ″Ya Allah! Merekalah Ahlul Baitku″, niscaya beliau akan bersabda, ″Ya Allah! Mereka adalah sebagian Ahlul Baitku.″ Dengan begitu, pintu [kemungkinan] akan tetap terbuka bagi sosok lain untuk masuk ke dalamnya dan agar mereka juga dapat masuk [ke balik selimut] dengan alasan konteks ayat atau pun lainnya. Namun, kenyataannya, beliau tidak melakukan itu. Bahkan, sebaliknya; beliau berkali-kali mengulang kata-kata yang menunjukkan spesifikasi tersebut!

Apakah Nabi Muhammad Saw tidak menyadari bahwa kata-kata beliau tersebut dapat dipahami sebagai pembatasan, sehingga istri-istri beliau diragukan termasuk dalam kategori ayat tersebut? Tidakkah seyogianya beliau lebih berhati-hati dalam hal ini (mengingat posisi beliau sebagai penafsir wahyu Ilahi) dan melontarkan pernyataan dengan lebih teliti, yang menekankan bahwa itu hanyalah sebagian Ahlul Baitnya? Atau setidaknya, walau hanya sekali, beliau memberi catatan bahwa istri-istrinya juga dimaksudkan ayat tersebut, sebagaimana beliau melakukannya untuk ashhâb al-kisâ′; karena, telah diriwayatkan dari berbagai jalur sahih yang berujung pada sahabat Anas bin Malik yang menceritakan bahwa selama enam bulan, setiap kali Nabi Muhammad Saw keluar rumah untuk menunaikan shalat subuh, beliau senantiasa melewati pekarangan rumah Fatimah, seraya menyeru, ″Shalat, wahai Ahlul Bait: ′Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.′″1

Ternyata, kita tidak pernah mendengar. walau hanya sekali, bahwa beliau melakukan itu kepada istri-istrinya. Tak pernah pula kita mendengar beliau, dalam kesempatan apa pun, menyebut mereka dengan julukan Ahlul Bait!

Apakah pelbagai keterangan Nabi Muhammad Saw seputar maksud ayat yang dikhususkan bagi ashâb al-kisâ ini kurang jelas jika dibandingkan konteks ayat yang dijadikan bukti oleh kalangan yang mengklaim istri-istri beliau termasuk dalam maksud ayat tersebut, sehingga keterangan beliau perlu penekanan lain berupa rutinitas berdiri di depan pintu rumah Fatimah as selama enam bulan, sedangkan konteks ayat-ayat tersebut tidak butuh penekanan seperti itu? Atau sebaliknya, mengingat konteks ayat bersifat lahiriah, sedangkan keterangan Nabi Muhammad Saw merupakan nash, sudah tentu yang lahiriah lebih membutuhkan penekanan ketimbang nash. Selain itu, sahabat Abu Sa′id Khudri telah menukil sabda Nabi Muhammad Saw yang terang-terangan membatasi turunnya ayat itu untuk ashâb al-kisâ′, dan tidak untuk selainnya; Thabari, Ibnu Abi

1- Abu Isa Muhammad bin Isa, op, cit., jld. 5, hlm. 263/ 206; Ahmad bin Hambal, op. cit., jld. 4, hlm. 202/13626; Hakim Nisaburi, op. cit., jld. 3, hlm. 172/4748; dan Thabrani, op. cit., jld. 3, hlm. 56/ 2673.

Hatim, dan Ibnu Katsir di dalam buku tafsir masing-masing, dan Thabrani dalam Al-Mujam Al-Kabîr telah meriwayatkan dari Abu Sa′id Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

″Ayat ini turun untuk lima insan; untukku, untuk Ali, Hasan, Husain, dan Fatimah: ′Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.′″1

Hal ini juga terbukti oleh sikap Ummu Salamah yang bersikukuh untuk ikut masuk ke balik selimut; sikapnya yang berdarah Arab sejati ini menunjukkan bahwa ia memahami betul kalau dirinya tidak termasuk dari yang dimaksudkan ayat tersebut. Jika memang memahami bahwa dirinya juga termasuk dalam konteks ayat-ayat yang dijadikan pegangan oleh sebagian kalangan, niscaya ia tidak perlu lagi bersikeras ikut masuk ke balik selimut. Bahkan, ia bukan sekedar bertanya apakah dirinya termasuk atau tidak, melainkan bahkan bertindak nekat dengan mengangkat selimut itu agar dapat ikut masuk ke dalamnya. Namun Nabi Muhammad Saw langsung menarik selimut itu dari tangannya. Padahal, ikut masuk ke balik selimut itu tidak mempunyai makna yang lebih dari cakupan ayat tersebut bagi figur-figur yang berada di baliknya.

Lagipula, jika memang Ummu Salamah termasuk dalam maksud ayat tersebut, mengapa Nabi Muhammad Saw bersikeras untuk menghalanginya, itu pun dengan cara yang relatif keras? Padahal, tak ada alasan yang mencegahnya masuk ke balik selimut? Jika memang ayat itu juga menghendaki Ummu Salamah, atau minimal jika beliau Saw sendiri yang tidak menghendakinya masuk ke balik selimut, maka seyogianya beliau memberitahukan bahwa Allah Swt juga menghendakinya melalui ayat itu. Dengan begitu, beliau akan membuatnya gembira; dan itu jauh lebih baik ketimbang beliau mengatakan kepadanya bahwa dirinya berada dalam kebaikan dan tergolong istri-istri Nabi Saw; sehingga ia sangat ingin kalau-kalau beliau bersabda ″ya″; maka itu lebih disukainya ketimbang segala sesuatu yang berada di antara terbit dan terbenamnya matahari.

1- Muhammad bin Jarir Thabari, op. cit., hlm. 19/21727; Abdul Rahman bin Muhammad bin Idris Razi Ibnu Abi Hatim, op. cit., jld. 9, hlm. 3131/ 17673 dan 3132/ 13677; dan Ibnu Katsir, op. cit.

Bukankah itu merupakan pernyataan sikap yang sangat jelas dari pihak Nabi Muhammad Saw terhadap Ummu Salamah dan selainnya; bahwa ayat ini dikhususkan bagi kelima sosok tersebut dan tidak meliputi istri-istri beliau?

Adapun konteks ayat yang dijadikan bukti sebagian kalangan untuk mengklaim istri-istri beliau termasuk dalam maksud ayat tersebut, jelas-jelas keliru. Untuk membuktikan kekeliruannya itu, cukup kiranya Anda menengok kembali riwayat-riwayat yang menunjukkan bagaimana Ummu Salamah berulang kali menekankan bahwa ayat

tathhir ini diwahyukan di rumahnya; seketika itu pula, Nabi Muhammad Saw menjelaskan, siapa sosok yang dimaksud ayat tersebut.

Manakala ayat ini diturunkan secara terpisah dari ayat-ayat surah Al- Ahzab lainnya, lalu lantas, di manakah konteks yang mereka maksudkan? Apalagi konteks ayat tidak lebih dari aspek lahiriah yang dapat diterima dengan syarat tidak ada nash yang menentangnya. Dan sebagaimana telah terbukti, dan akan kami tambahkan lagi serangkaian bukti dalam pembahasan selanjutnya, terdapat nash

mutawatir yang menetapkan maksud ayat itu, yang tak lain dari Ahlul Bait beliau. Oleh karena itu, ″konteks″ tidak lagi bermakna di hadapan

nash tersebut.

Di antara ihwal yang harus dicermati dan berhubungan langsung dengan yang hendak kami buktikan kali ini sekaitan maksud dari kata

âl adalah, teks-teks hadis itu sendiri, khususnya dua teks terakhir. Teks-teks tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw mengkombinasikan ayat tathhir dengan salawat kepada beliau dan keluarga beliau. Selain itu, beliau juga telah menggantikan kata âl

dengan kata ahl al-bayt yang beliau gunakan dalam hadis-hadis lain. Beliau bersabda, ″Merekalah keluargaku (âl).″ Penggunaan kata ahl al-bayt sebagai ganti kata âl ini sengaja beliau lakukan untuk menegaskan bahwa maksud dari semua penggunaan kata dan konsep tersebut adalah figur-figur yang itu-itu juga, yaitu ashhâb al-kisâ. Ini didukung pula sejumlah hal yang telah kami kemukakan sebelumnya; jumlahnya banyak dan konsep yang digunakan juga beragam, namun figur-figur yang dimaksud tidak lain adalah ashhâb al-kisâ.

Sejak peristiwa Mubahalah hingga Ayat Mawaddah, Hadis Tsaqalain, Ayat Tathhir, Hadis Kisa′, serta berbagai kesempatan lainnya, Nabi

Muhammad Saw menerangkan dengan jelas dan tegas, siapa yang dimaksud dengan aneka titel, nama, istilah, atau konsep tersebut. Adakalanya beliau menyebut mereka dengan ahl al-bayt, adakalanya pula dengan âl, atau itrah, begitu seterusnya. Beliau juga telah menekankan maksud itu dengan berbagai ungkapan yang jelas, pasti, dan spesifik. Setelah mengumpulkan sosok-sosok yang dimaksud, beliau bersabda, ″Ya Allah! Merekalah ahl al-bayt-ku; merekalah âl-

ku; merekalah itrah-ku.″ Beliau mengulang-ulang tindakan ini dalam berbagai kesempatan. Bahkan pengulangan dan penekanan tersebut beliau lakukan dengan cara mengetuk pintu rumah mereka, seraya kemudian berseru, ″Merekalah Ahlul Baitku,″ seakan-akan beliau tahu persis bahwa konsep dan rangkaian titel ini akan disalahartikan dan disalahgunakankan. Itulah sebabnya, beliau menentang pemahaman yang menyimpang tersebut serta mencegahnya terjadi. Ini agar pihak lain tidak lagi memiliki dalih untuk menyalahartikan dan menyalahgunakannya.

Meskipun sudah sangat jelas, tegas, dan riwayat yang menentukan maksud pembuat syariat dari konsep-konsep itu juga mencapai tingkat mutawatir, akan tetapi masih saja ada sebagian pihak yang tidak merasa puas dengannya karena tidak selaras dengan keinginan dan kepercayaannya. Akhirnya, mereka berusaha mencari-cari penafsiran- penafsiran lain seraya mengajukan pelbagai dalih yang sama sekali tidak sebanding dengan bukti-bukti di atas, serta tidak mampu menandinginya dengan menggunakan tolok ukur ilmiah apa pun. Anehnya, pendapat-pendapat dan penafsiran-penafsiran lain itu justru yang menjadi pupuler dan tersebar luas di kalangan muslimin. Padahal, tak ada bukti kuat yang mendukungnya. Namun, berhubung sesuai dengan ambisi para sultan yang sama sekali tidak senang mengetahui ashhâb al-kisâ hanya sendirian mendapatkan warisan, hak, dan kedudukan itu. Karenanya, mereka pun mendukung penafsiran-penafsiran lain tersebut dan menyebarluaskannya. Bahkan mereka juga mengecam pendapat yang menyebut ashhâb al-kisâ

sebagai maksud dari konsep dan teks-teks syariat tersebut. Untuk itu, masyarakat berpaling dari pendapat tersebut, dan lambat laun, penafsiran serta dalih yang dibuat-buat komplotan para sultan dan oknum-oknum tertentu itu berubah status menjadi pendapat salaf yang tidak boleh diabaikan dan dilarang diotak-atik kembali!

Faktor zaman dan modus pemalsuan pendapat berperan penting dalam melestarikan dan menyebarluaskan penafsiran-penafsiran sesat tersebut. Kurun waktu telah menjungkir-balik dari sekedar pendapat menjadi nash yang sakral; sedangkan manipulasi dan tipudaya telah mengubah dari sekedar pendapat menjadi sarana untuk mengucilkan siapa pun yang menentangnya. Senyatanya pendapat itu hanyalah sebuah kondisi yang baru muncul, namun kemudian berubah menjadi tujuan yang dogmatis dan tidak boleh diotak-atik lagi.

Keluarga Nabi dalam Perspektif Ahli Sunah

Banyak sekali pendapat seoutar keluarga Nabi (âl) di kalangan Ahli Sunah. Tentunya kami tidak bermaksud untuk meneliti semuanya secara terperinci. Namun, kami merasa cukup dengan rangkuman yang kami kutip dari salah seprang spesialis dalam bidang ini, yaitu Ibnu Qayyim Jauzi, yang membahasnya secara panjang dan lebar dalam kitab Jalâ′ Al-Afhâm. Sebelum itu, kami akan meringkas ulasannya seputar persoalan ini. Setelah itu, kami akan mengomentarinya. Ia mengatakan, ″Terdapat empat pendapat berbeda mengenai siapakah keluarga (âl) Nabi Muhammad Saw. Pendapat pertama mengatakan, mereka adalah kalangan yang haram menerima sedekah. Pendapat ini sendiri memiliki tiga jenis penafsiran dari para ulama. Pertama, mereka adalah bani Hasyim dan bani Abdul Muttalib. Kedua, bani Hasyim saja. Ketiga, bani Hasyim [dalam garis silsilah] ke atas, sampai pada Ghalib. Dengan demikian, bani Muttalib, Bani Umayyah, bani Naufal, dan seterusnya sampai pada Ghalib, termasuk kategori (âl) Muhammad Saw.

Pendapat pertama yang mengartikan keluarga Nabi (âl) dengan orang- orang yang haram menerima sedekah ini merupakan pendapat Syafi′i, Ahmad bin Hambal, dan banyak ulama lainnya. Pendapat ini juga diusung mayoritas pengikut mazhab Ahmad bin Hambal dan Syafi′i. Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa keluarga (âl) Nabi Muhammad Saw adalah keturunan dan istri-istri beliau saja. Pendapat ini disampaikan Ibnu Abdul Bar dalam kitab Al-Tamhîd, bab

″Abdullah bin Abi Bakar″, keterangan atas hadis Abu Humaid Sa′idi. Ia mengatakan, ″Sekelompok orang beralasan dengan hadis Abu Humaid Sa′idi ini untuk mengatakan bahwa yang dimaksud keluarga

(âl) Muhammad adalah istri dan keturunan beliau saja. Karena, dalam hadis Malik dari Na′im Mujmar dan lain-lain, disabdakan, ′Ya Allah!

Bersalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad ِّلَص َّمُهللا"

ٍدَّمَ ُمح ِلآ َو ٍدَّمَ ُمح یَلَع

" .′ Sementara, dalam hadis Abu Humaid Sa′idi ini, beliau bersabda, ′Ya Allah! Bersalawatlah kepada Muhammad dan istri-istri serta keturunannya " ِهِتَّيِّرُذ َو ِهِجاَوزأَو ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهللا".′ Kemudian, mereka menarik kesimpulan bahwa hadis Abu Humaid Sa′idi ini merupakan keterangan atas hadis Na′im dan menafsirkan keluarga (âl) Muhammad dengan istri dan keturunan beliau. Oleh karena itu, menurut mereka, siapa saja berhak mengucapkan ′semoga Allah bersalawat kepadanya dan bersalam " َمَّلَس َو اَهيَلَع ُللها یَّلَص",′ untuk masing- masing istri Nabi Muhammad Saw, dan mengucapkan ′semoga Allah bersalawat kepadamu " َکيَلَع ُللها یَّلَص",′ untuk setiap keturunan beliau yang ada di hadapannya; serta ′semoga Allah bersalawat kepadanya ُللها یَّلَص"

ِهيَلَع

" ,′ untuk masing-masing mereka yang ada di belakangnya. Namun siapa pun tidak berhak menuturkan kata-kata salawat itu untuk selain mereka. Mereka berpendapat bahwa âl dan ahl adalah identik. Âl

seseorang sama dengan ahl-nya; yaitu istri-istri dan keturunannya. Dan alasan mereka adalah hadis Abu Humaid Sa′idi tersebut.″

Pendapat ketiga mengatakan bahwa keluarga (âl) Nabi Muhammad Saw adalah pengikut beliau hingga hari kiamat.

Dan pendapat keempat mengatakan, keluarga (âl) Nabi Muhammad Saw adalah orang-orang yang bertakwa di antara umat beliau.″

Setelah itu, Ibnu Qayyim Jauzi menyebutkan masing-masing alasan dari keempat pendapat tersebut, untuk kemudian memilih pendapat yang menurutnya benar, seraya mengatakan, ″Yang benar pendapat pertama. Pendapat kedua berada di urutan berikutnya. Adapun pendapat ketiga dan keempat terbilang lemah. Karena, Nabi Muhammad Saw telah menyingkirkan keraguan dalam persoalan ini, dengan sabdanya, ′Sesungguhnya sedekah tidak halal untuk keluarga

(âl) Muhammad.′ Dan sabdanya, ′Sesungguhnya keluarga (âl)

Muhammad makan dari harta ini.′ Serta, ′Ya Allah! Jadikan rezeki keluarga (âl) Muhammad makanan pokok.′ Sudah barang tentu, tidak mungkin maksud beliau di sini adalah seluruh umatnya.

Oleh karena itu, makna paling kuat untuk keluarga (âl) dalam salawat adalah keluarga (âl) yang disebutkan di tempat lain, dan tidak boleh lepas dari arti tersebut. Adapun penyebutan istri dan keturunan oleh Nabi tidak menunjukkan bahwa keluarga (âl) hanyalah mereka. Sebaliknya, pernyataan Nabi tersebut merupakan bukti bahwa

keluarga (âl) tidak terbatas pada mereka semata. Karena, Abu Dawud meriwayatkan hadis tentang salawat dari Na′im Mujmar, dari Abu Hurairah, sebagai berikut:

،َيِْنِمؤ ُلِا ِتاَهَّمُا ِهِجاَوزأ َو ِّ ِبَِّنلا ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهللا َميِهاَربإ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ، ِهِتيَب ِ฀ِلهأ َو ، ِهِتَّيِّرُذ َو

″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad sang nabi, istri-istri beliau yang merupakan para ibu kaum mukmin, keturunan beliau, dan Ahlul Bait beliau, sebagaimana

Engkau telah bersalawat kepada Ibrahim

Dalam hadis ini, istri dan keturunan serta Ahlul Bait beliau digabungkan jadi satu. Jika masing-masing mereka disebutkan secara khusus, maka hal itu untuk menjelaskan bahwa mereka berhak dikategorikan sebagai keluarga (âl) Nabi Muhammad Saw dan tidak berada di luarnya. Bahkan, merekalah yang lebih berhak dimasukkan dalam kategori itu. Ungkapan seperti ini adalah hal biasa dalam wicara; sebagaimana halnya menghubungkan ihwal yang khusus kepada ihwal yang umum, atau sebaliknya; menghubungkan ihwal yang umum kepada ihwal yang khusus.″1

Demikianlah Ibnu Qayyim Jauzi menyebutkan keempat pendapat tentang keluarga Nabi (âl) menurut Ahli Sunah. Ia telah menjadikan kita tidak lagi perlu menyangkal pendapat ketiga dan keempat. Hanya