• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mazhab Hanafi dan Malik

TINJAUAN HISTORIS

1. Mazhab Hanafi dan Malik

Masing-masing mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan bahwa salawat kepada Nabi Muhammad Saw dalam tasyahud akhir shalat hukumnya sunah dan tidak wajib. Salah seorang tokoh mazhab Hanafi, Ala′udin Abu Bakar Kasani Hanafi (wafat 587 H) dalam konteks ini mengatakan, ″Menurut kami, salawat kepada Nabi Saw dalam shalat, hukumnya tidak wajib, melainkan sunah dan

mustahab.″1 Tokoh lain mazhab ini yang bernama Nasafi, juga

mengatakan hukumnya sunah. Zaila′i mendukung pendapatnya seraya menyebutkan alasannya. Ia mengatakan, ″Hal itu karena sabda beliau Saw, ′Apabila salah seorang di antara kalian shalat, mulailah dengan pujaan kepada Allah Swt, kemudian dengan salawat [kepadaku],2

kemudian dengan doa.″3 Ini merupakan hadis Fadhalah bin Ubaid

yang mereka gunakan sebagai bukti bahwa hukum salawat itu sunah; padahal para penentang mereka justru menggunakan hadis itu sebagai bukti bahwa hukum salawat itu wajib. Kasani Hanafi juga mengajukan hadis ini sebagai bukti hukum sunah, bukan wajib.

1- Ala′udin Abu Bakar Kasani Hanafi, Badâ′i′ Al-Shanâ′i′, jld. 2, hlm. 69, kitab ″al- Shalâh″.

2- Kata-kata dalam kurung itu tidak terdapat dalam riwayat yang disebutkan Zaila′i. Namun saya membubuhkannya karena hadis ini tidak pernah diriwayatkan [dalam buku induk hadis], kecuali lengkap dengan bubuhan kata itu. Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya (jld. 2, hlm. 77, kitab ″al-Shalâh″, bab tentang doa [1481]). Begitu pula Tirmidzi dalam Sunan-nya (jld. 5, hlm. 482-483, kitab ″al- Da′awât″.

3- Fakhrudin Usman Zaila′i Hanafi, Tabyîn Al-Haqâ′iq Syarh Kanz Al-Daqâ′iq, jld. 1, hlm. 281.

Adapun menurut mazhab Maliki, sebagaimana dinukil dari Malik dalam kitab Al-Mudawwanat Al-Kubrâ, dikatakan, ″Salawat kepada Nabi Saw dalam shalat, hukumnya sunah dan merupakan kewajiban mutlak pada selain shalat.″1

Ibnu Abdil Bar mengatakan, ″Telah diriwayatkan dari Malik, Abu Hanifah, Tsauri, dan Awza′i bahwa mereka mengatakan salawat kepada Nabi Saw dalam tasyahud shalat adalah boleh dan hukumnya sunah. Menurut mereka, orang yang meninggalkannya telah berbuat buruk, tapi pada saat yang sama mereka tidak mewajibkan amalan itu dalam tasyahud shalat.″2 Atas dasar [pemahaman] itulah kalangan

pengikut Malik beramal. Tapi, ada pula sebagian mereka yang menentang dan mengatakan hukum salawat itu wajib dalam tasyahud

akhir shalat, seperti Ibnu Muwazi, Ibnu Arabi, dan Ibnu Hajib.3

2. Mazhab Syafi′i dan Hambali

Menurut mazhab Syafi′i dan Hambali, hukum salawat kepada Nabi Saw itu wajib dalam tasyahud akhir shalat. Dalam hal ini, Imam Syafi′i mengatakan, ″Allah Swt telah mewajibkan kita bersalawat kepada rasul-Nya Saw dalam firman-Nya: ′Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat atas Nabi, hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kepadanya dan pasrahlah sepasrah- pasrahnya.′ Dan tak ada momen yang lebih baik untuk bersalawat kepada beliau dari selain shalat. Kami mendapatkan hadis dari Rasulullah Saw yang menunjukkan bahwa salawat kepada rasul-Nya berstatus wajib dalam ibadah shalat, wallahu a′lam.″4 Kemudian, ia

menyebutkan hadis yang dijadikan rujukannya, yaitu dua di antara sekian hadis mengenai tatacara salawat yang telah kami sebutkan pada bab kedua. Hadis pertama adalah hadis Abu Hurairah yang tercantum

1- Malik bin Anas, Al-Mudawwanah Al-Kubrâ, riwayat Imam Sahnun dari Ibnu al- Qasim (jld. 5, hlm. 66, bab amalan-amalan sunah dalam shalat).

2- Ibnu Abdil Bar, op. cit.

3- Syamsudin Ramli (terkenal dengan julukan Syafi′i Shaghir), Nihâyah Al-Muhtâj ilâ Syarh Al-Minhâj, jld. 1, hlm. 524; Abu Bakar Muhammad bin Arabi, Ahkâm al- Qur′ân, jld. 3, hlm. 623; dan Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Mawaq, Al-Tâj wa Al-Iklîl li Mukhtshar Khalîl (dicetak bersama Mawâhib Al-Jalîl karya Ra′ni), jld. 2, hlm. 250.

4- Muhammad bin Idris Syafi′i, Al-Umm, jld. 1, juz 2, hlm. 191–193, bab tasyahud dan salawat kepada Nabi (shallallâhu ′alaihi wa sallam).

pada nomor tiga dalam bab itu; sementara hadis kedua merupakan hadis Ka′ab (hadis nomor pertama).

Sebagian ulama menentang Syafi′i dan menuduh pendapatnya sebagai langka. Tapi, di sisi lain, para pengikutnya melakukan semacam pembelaan terhadapnya seraya menyodorkan serangkaian bukti yang menopang pendapat tersebut. Di antaranya, kandungan ayat salawat (tashliah), hadis Fadhalah yang telah kami sebutkan, hadis tentang tatacara salawat, cara Ibnu Mas′ud bertasyahud, dan bukti-bukti lainnya-sebagaimana dikemukakan Syamudin Ramli dalam upaya membela imamnya, Syafi′i. Di akhir penjelasan, ia mengatakan,

″Barangsiapa mengklaim bahwa Syafi′i berpendapat langka karena telah mewajibkan salawat-dalam tasyahud, dan tidak seorang ulama salaf pun yang mempunyai sunah semacam itu untuk kemudian diikutinya, jelas-jelas keliru. Karena, mewajibkan salawat itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash, konsensus (ijma), qiyas

(analogi syariat), dan maslahat lebih besar. Bahkan sebaliknya, banyak sekali pembesar sahabat dan generasi setelah mereka yang menyetujui pendapatnya. Dari kalangan sahabat, seperti Umar dan putranya, Abdullah, begitu pula Ibnu Mas′ud, Abu Mas′ud Badri, dan Jabir bin Abdillah; adapun dari kalangan tabi′in, seperti Muhammad bin Ka′ab Qaradhi, Sya′bi, dan Muqatil. Pendapat ini juga merupakan pendapat Ahmad bin Hambal yang terakhir, Ishaq, dan salah satu pendapat Malik yang dijadikan landasan Ibnu Muwazi dan dibenarkan Ibnu Hajib dalam kitab Mukhtashar-nya, serta Ibnu Arabi dalam kitab

Sirâj Al-Murîdîn. Menurut mereka semua, wajib hukumnya bersalawat dalam tasyahud. Malah sebagian peneliti sampai mengatakan, ′Andaikan saja Syafi′i sendirian dalam hal itu, maka betapa bagusnya kesendirian itu.″1

Adapun menurut mazhab Hambali, kalangan pengikut Ahmad bin Hambal meriwayatkan bahwa sebelumnya, imam mereka tidak menyatakan wajib bersalawat dalam tasyahud. Namun kemudian ia menyatakannya dan bersikap konsisten terhadap pernyataannya itu. Juru riwayat [asal] Syam, Abu Zar′ah Demasyqi (281 H) menukil perkataan Imam Ahmad bin Hambal, ″Dulu, aku mengkhawatirkan

1- Syamsudin Ramli, op. cit.; Abu Qasim Abdul Karim Rafi′i, Al-′Azîz Syarh Al- Wajîz, jld. 1, hlm. 533; dan Ibnu Katsir, op. cit., hlm. 1283, persisnya pada penafsiran surah al-Ahzâb, ayat ke-5.

pendapat itu, tapi kemudian terbukti untukku bahwa salawat [dalam

tasyahud shalat] adalah wajib.″1 Ibnu Qudamah Maqdisi juga menukil

perkataan Ahmad bin Hambal ini dan mengomentarinya,

″Tampaknya, pernyataan ini menunjukkan pergeseran dirinya dari pendapatnya yang pertama ke pendapatnya yang terakhir.″2

Pergeseran pendapat ini didasarkan pada riwayat Ka′ab bin Ajrah dan riwayat Fadhalah bin Ubaid.

Abu Khattab Kaludzani Hambali (510 H) mengikuti imamnya, Ahmad bin Hambal, seraya menyinggung perkataan sang imam tersebut, yang mewajibkan salawat. Kemudian ia juga menyandarkan pendapat soal wajib bersalawat [dalam tasyahud shalat] ini pada Syafi′i, Ishaq bin Rahuwiyah, Dawud Dzahiri, dan Khurqi, lalu setelah itu menyebutkan ayat salawat (tashliah) serta hadis Abu Mas′ud Badri sebagai bukti pendapat yang mewajibkan salawat.3

Ibnu Qayyim Jauzi, salah satu tokoh besar mazhab Hambali, menyebutkan enam bukti kewajiban salawat yang diajukan para pendukung pendapat itu. Di antaranya adalah perkataan mereka, ″Tak seorang pun dari kalian, kecuali telah mewajibkan beberapa hal dalam shalat tanpa bukti-bukti seperti ini.″ Ia menyebutkan sebagiannya dari Abu Hanifah serta Mallik, lalu berkata, ″Mewajibkan salawat kepada Nabi Saw, jika tidak lebih kuat [buktinya] dari mewajibkan hal-hal lain seperti ini, maka tidak lebih lemah darinya.″4