• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadis Abu Mas ′ ud Anshar

BAB II: HADIS TATACARA

2. Hadis Abu Mas ′ ud Anshar

Tak seorang pun yang meriwayatkan hadis dari Abu Mas′ud Anshari ini, kecuali Muhammad bin Abdullah bin Zaid. Statusnya sahih dan

1- Abdul Razaq Shan′ani, Al-Mushannaf, jld. 2, hlm. 212/3107. 2- Ibid., jld. 2, hlm. 212/3105.

3- Sebenarnya, masih ada lagi perbedaan-perbedaan lain dalam nukilan hadis Ka′ab. Namun sayang, bukan pada tempatnya untuk menyebutkan semuanya. Karena itu, telaah atas perbedaan-perbedaan yang tidak sempat dikemukakan itu kami serahkan pada pembaca.

telah dikutip buku-buku induk hadis sahih, periwayatan, dan indeks, hanya dengan dua jalur yang berujung pada Muhammad bin Abdullah bin Zaid. Dua jalur periwayatan itu adalah jalur Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid, dan kedua dari jalur Malik bin Anas dari Na′im bin Abdullah Mujmar dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid.

Jalur periwayatan pertama memuat kalimat ″apabila kami bersalawat kepadamu saat menunaikan ibadah shalat″; sedangkan jalur periwayatan kedua tidak memuat kalimat tersebut dalam hadisnya. Jalur periwayatan pertama telah dikutip Ahmad bin Hambal dalam

Musnad-nya,1 Ibnu Khuzaimah2 dan Ibnu Habban3 dalam kitab shahîh

masing-masing, Daru Quthni4 dan Baihaqi5 dalam kitab sunan

masing-masing, serta Hakim Nisaburi dalam Al-Mustadrak ′alâ Al- Shahîhain. Ia berkomentar bahwa, ″Hadis ini sahih dengan syarat Muslim, dan mereka berdua tidak menukilnya dengan menyebut salawat kepada Nabi Saw dalam ibadah shalat.″ Dzahabi juga menyepakatinya dalam kitab Al-Talkhîsh, seraya mengatakan, ″Hadis ini dengan syarat Muslim.″6 Teks hadis ini, menurut kutipan Hakim,

adalah berikut:

1- Ahmad bin Hambal, op. cit., jld. 13, hlm. 257/17009. Dalam catatan kakinya, ia menyebutkan sanad hadis ini sahih.

2- Abu Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah Nisaburi, Shahîh Ibn Khuzaimah, jld. 1, hlm. 351/711, bab ciri-ciri salawat kepada Nabi.

3- Ala′udin Ali bin Balban Faresi, Al-Ihsân bi Tartîb Shahîh Ibn Habbân, jld. 3, hlm. 207/ 1956.

4- Ali bin Umar Daru Quthni, Sunan Al-Dâr Quthnî, jld. 1, hlm. 347/ 1324, bab salawat kepada Nabi Saw setelah tasyahud.

5- Ahmad bin Husain Baihaqi, Sunan Al-Baihaqî (Al-Sunan Al-Kubrô), jld. 2, hlm. 146-147, bab salawat kepada Nabi dalam tasyahud.

6- Hakim Nisaburi, Al-Mustadrak ′Alâ Al-Shahîhain, jld. 1, hlm. 401/ 987. Hadis ini juga dinukil Thabrani (op. cit., jld. 17, hlm. 251/698). Muhammad bin Abdul Rahman Sakhawi juga menukilnya dalam Al-Qawl Al-Badî′ fî Al-Shalâh ′Alâ Al- Habîb Al-Syafî′(hal. 35). Ia memberi catatan terhadap hadis itu, seraya mengatakan, ″Hadis ini dinyatakan sahih oleh Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim Nisaburi. Selain itu, Daru Quthni juga mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan dan muttashil atau bersambung. Lalu Baihaqi juga mengatakan, ′Sanad hadis ini sahih.′ Saya katakan bahwa meskipun dalam sanad hadis ini terdapat Ibnu Ishaq, akan tetapi dalam riwayat ini ia menyebutkan hadis secara jelas sehingga terhitung sebagai hadis yang maqbul (diterima) dan sahih dengan syarat Muslim. Ini sebagaimana disebutkan Hakim Nisaburi. Di samping itu, ketika mengomentari hadis ini dalam

″Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami, Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq meriwayatkan kepada kami, Abu Azhar meriwayatkan kepada kami, dan saya menulisnya dari referensi aslinya, Ya′qub bin Ibrahim bin Sa′d meriwayatkan kepada kami, dan ayah saya meriwayatkan kepada saya dari Ibnu Ishaq yang berkata, ′Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada saya-ihwal salawat kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu, ketika seorang muslim bersalawat kepada beliau saat beribadah shalat-dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabbih, dari Abu Mas′ud Aqabah bin Amr yang mengatakan, ″Seorang lelaki datang dan kemudian duduk di hadapan Rasulullah Saw. Saat itu kami berada di samping beliau. Lelaki itu berkata kepada beliau, ′Wahai Rasulullah! Ihwal salam kepadamu, kami sudah tahu bagaimana. Namun kami tidak tahu, bagaimana seharusnya kami bersalawat kepadamu saat kami menunaikan ibadah shalat?′″ Abu Mas′ud melanjutkan,

″Rasulullah Saw terdiam saat mendengar pertanyaan itu, sehingga kami berangan-angan, andaikan saja lelaki itu tidak bertanya demikian kepada beliau. Kemudian beliau memecah keheningan, seraya bersabda, ′Apabila kalian bersalawat kepadaku, maka bersalawatlah sebagai berikut:

ُهلَّلَا

ِهاَربِإ ِلآ یَلَع َو َميِهاَربِإ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع َو ِّيِّمُلأا هيِّبَّنلا ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّم

کِراَب َو ،َمي

َربِإ ِلآ یَلَع َو َميِهاَربِإ یَلَع َتکَراَب اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع َو ِّيِّمُلأا هيِّبَّنلا ٍدَّمَ ُمح یَلَع

ِها

ٌديَِمج ٌديِ َحْ َکَّنِإ َمي

Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad, sang nabi yang ummi (tidak membaca dan tidak menulis), dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat

kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dan [kumohon] berkahilah Muhammad, sang nabi yang ummi (tidak membaca

dan tidak menulis), dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahaluhur

Shahîh Muslim, Nawawi memberi catatan atas kutipan ″apabila kita bersalawat kepadamu di saat menunaikan ibadah shalat″ seraya mengatakan, ″Kutipan tambahan ini sahih dan telah diriwayatkan dua imam yang hafidz, yaitu Abu Hatim bin Habban dan Hakim Abu Abdillah dalam kitab Shahîh mereka.″ Lih., Shahîh Muslim bi Syarh Al-Nawawî, jld. 2, juz 4, hlm. 105, hadis ke-65, bab ke-17.

Adapun jalur periwayatan kedua, tak seorang pun yang meriwayatkannya kecuali Malik dalam Al-Muwaththa-nya.1

Hadis ini merupakan bukti paling penting bagi kalangan yang meyakini kewajiban bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw saat ber-tasyahud dalam ibadah shalat. Sebab, maktub pernyataan yang teramat jelas mengenainya dalam pertanyaan lelaki penanya, yaitu

″saat kami menunaikan ibadah shalat.″ Dalam pada itu, Ibnu Hajar mengatakan, ″Hadis ini telah dijadikan bukti untuk mewajibkan bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw dalam setiap shalat. Karena terdapat tambahan yang terkait di dalamnya menurut beberapa jalur periwayatan dari Abu Mas′ud, yaitu jalur periwayatan yang dinukil kalangan penulis buku induk hadis sunan dan telah dinyatakan sahih oleh Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim Nisaburi. Mereka semua mebgutip hadis itu melalui jalur Muhammad bin Ishaq dan memuat kalimat ′saat kami menunaikan ibadah shalat′. Daru Quthni juga mengatakan, ″Matarantai periwayatan hadis ini hasan dan muttasil

(bersambung).″ Baihaqi juga mengatakan, ″Matarantai periwayatan hadis ini sahih dan hasan.″2

Syaukani mengatakan, ″Bukti paling jelas bagi kewajiban bersalawat dalam shalat adalah hadis yang terbukti kebenarannya dan secara tegas menyebutkan, ′Sesungguhnya Allah memerintahkan kita bersalawat kepadamu, lalu bagaimana sepatutnya kita bersalawat kepadamu saat kita menunaikan ibadah salah?′ Lalu beliau bersabda,

′Katakanlah…′ Catatan dalam hadis ini dapat dijadikan argumentasi ihwal kewajiban bersalawat dalam shalat.″3

1- Malik bin Anas, Al-Muwaththa′, jld.1, hlm. 163/405, bab qashar shalat dalam perjalanan dan bab salawat kepada Nabi Saw. Muslim juga meriwayatkannya dalam kitab Shahîh-nya (jld. 1, hlm. 305/405, bab salawat kepada Nabi setelah tasyahud). Begitu pula Nasa′i dalam Sunan-nya (jld. 3, hlm. 32/1285, kitab seputar lupa, bab ke-49). Juga Tirmidzi dalam Sunan-nya (jld. 5, hlm. 359/ 3220, kitab tentang tafsir al-Quran, bab ke-34, surah Al-Ahzâb). Serta Abu Dawud dalam Sunan-nya (jld. 2, hlm. 55/972, bab salawat kepada Nabi [shallallâhu ′alaihi wa âlihi] setelah tasyahud shalat). Mereka semua menukil hadis itu dengan jalur masing-masing yang berujung pada Malik dengan teks yang sama persis.

2- Ibnu Hajar Asqalani, op. cit., hlm. 195, kitab tentang doa-doa(bab 32).

3- Muhammad bin Ali Syaukani, Fath Al-Qadîr, jld. 4, hlm. 377, tafsir ayat ke-56 surah Al-Ahzab.

Terdapat catatan penting yang perlu kami kemukakan berkenaan dengan hadis Abu Mas′ud al-Badri.

Interpretasi atas Emosi dan Sikap Diam Nabi

Seluruh versi hadis Abu Mas′ud Badri menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw terdiam barang sejenak sebelum menjawab pertanyaan lelaki yang bertanya itu. Ini membuat para sahabat yang hadir pada saat itu berangan-angan, seandainya lelaki itu tidak sampai menanyakan hal tersebut kepada beliau!

Namun persoalan ini tidak hanya sampai di sini. Rasulullah Saw bukan hanya terdiam, melainkan, menurut riwayat Thabrani, terlihat gusar. Thabrani mengatakan, ″Seorang lelaki menghampiri Rasulullah Saw, kemudian duduk di hadapan beliau. Lalu ia berkata, ′Wahai Rasulullah! Soal salam, kami sudah tahu bagaimana mengucapkannya kepadamu. Namun, soal salawat, [kami tidak tahu bagaimana]. Karena itu [beritahu kami bagaimana seharusnya bersalawat kepadamu]?′ Lalu Rasulullah Saw gusar sehingga kami berangan-angan, seandainya lelaki itu tidak sampai menanyakan hal tersebut kepada beliau, lalu beliau bersabda…″1

Inilah sikap Nabi Muhammad Saw terhadap seseorang yang hendak menanyakan persoalan agamanya. Padahal, kita semua diperintahkan untuk bertanya. Semestinya beliau senang mendengar pertanyaan itu, bukannya malah gusar. Apalagi tugas utama beliau adalah menerangkan al-Quran kepada seluruh umat manusia, dan tidak ada lagi selain beliau yang memikul tugas tersebut. Karena itu, sikap beliau kali ini perlu direnungkan secara khusus dan harus dicermati; apa faktor-faktor konkret yang mendorong beliau bersikap demikian. Karena hal itu memang tanggungjawab kita di hadapan apa pun yang muncul dari sisi beliau. Pasalnya, beliau merupakan teladan seluruh

umat manusia dan kita diperintahkan

Allah Swt untuk meneladani apa pun yang berasal dari beliau, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Untuk itu, kami memandang penting menelaah persoalan ini lebih jauh.

Berdasarkan itu, sebagian ulama yang sempat terpukau dalam momen ini berusaha menginterpretasikan sikap beliau itu. Di antaranya adalah

Ibnu Hajar yang mengatakan, ″Para sahabat berangan-angan seperti itu karena merasa khawatir kalau-kalau pertanyaan yang disampaikan lelaki itu tidak menarik bagi beliau, dan mereka sangat ingat soal larangan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, sebagaimana telah dijelaskan dalam penafsiran firman Allah Swt pada surah Al-Ma′idah yang berarti: ′Janganlah kalian bertanya tentang perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian. Adapun Thabari menyebutkan alasan lain ihwal sikap beliau dalam hadis tersebut. Menurutnya, beliau terdiam sesaat hingga wahyu diturunkan kepada beliau dan membawakan jawaban. Baru setelah itu, beliau bersabda, ′Katakanlah…″1

Setiap ulama yang berusaha menafsirkan sikap diam atau gusae Nabi Muhammad Saw ini tidak terlepas dari jawaban di atas. Padahal, jawaban itu sangat tidak tepat. Karena, sudah barang tentu pertanyaan yang dilontarkan si penanya tidak masuk kategori pertanyaan- pertanyaan yang dilarang dalam ayat ke-101 surah al-Ma′idah, sebagaimana diduga Ibnu Hajar.

Allah Swt berfirman:

{

ْاوُلَأْسَت نِإَو ْمُكْؤُسَت ْمُكَل َدْبُت نِإ ءاَيْشَأ ْنَع ْاوُلَأْسَت َلا ْاوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي

ٌميِلَح ٌروُفَغ ُ هللهاَو اَهْنَع ُ هللها اَفَع ْمُكَل َدْبُت ُنآْرُقْلا ُلَّزَنُي َيِْح اَهْنَع

}

″Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian, dan jika kalian menanyakannya di waktu al- Quran sedang diturunkan niscaya akan diterangkan kepada kalian,

Allah memaafkan kalian tentang hal-hal itu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun″2

Ayat ini melarang muslimin bertanya tentang pelbagai perkara sebelum wahyu al-Quran diturunkan. Karena, sangat mungkin pertanyaan seperti itu mengundang jawaban yang tidak mengenakkan atau menyulitkan. Seperti perkara yang tadinya longgar bagi si penanya namun kemudian berubah menjadi sesuatu yang menghimpitnya, atau hal mudah menjadi sulit baginya. Ini tentu berbeda halnya jika wahyu al-Quran sudah diturunkan. Namun begitu,

1- Ibnu Hajar Asqalani, op. cit., hlm. 186. 2- Al-Ma′idah:101.

masih dibutuhkan penjelasan lebih lanjut. Jika demikian halnya, mereka tentu berhak bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya pula, beliau berkewajiban memberi keterangan tentangnya. Karena, tak ada lagi yang berhak menerangkan al-Quran kecuali beliau.

Kali ini, kami bertanya pada Ibnu Hajar dan siapa pun yang bersikeras mempertahankan jawaban tersebut; bukankah Muslimin pada masa itu sedang menanyakan perkara yang telah diwahyukan dalam al-Quran, kendati bagi mereka masih terbilang global dan memerlukan keterangan lebih lanjut? Jika memang pertanyan muslimin saat itu tergolong yang dilarang dalam ayat ke-101 surah al-Ma′idah seperti yang kalian sangka, lantas mengapa beliau menjawab pertanyaan mereka dan memberi keterangan terhadap apa yang mereka pertanyakan setelah menunjukkan sikap gusar dan tidak rela?

Kemungkinan lain, bahwa saat itu Nabi Muhammad Saw terdiam lantaran sedang menanti wahyu, juga tidak dapat dibenarkan. Karena, kemungkinan ini berlandaskan pada riwayat yang, setelah diteliti, ternyata tidak maktub, baik dalam kitab Thabari maupun di tempat lain. Status riwayat ini juga majhûl atau tak dikenal. Di samping itu, isi riwayat ini bertentangan dengan fakta yang populer seputar kondisi penantian; yaitu suatu kondisi spiritual yang mengundang kebahagiaan. Benar, penantian wahyu biasanya diwarnai ketegangan dan kucuran keringat. Namun begitu, kondisi tersebut tidak pernah dibarengi sikap gusar dan diam-sampai-sampai muslimin saat itu berangan-angan, seandainya mereka tidak menanyakan persoalan tersebut kepada Nabi. Mungkinkah Muslimin-pada saat itu-tidak menyukai diturunkannya wahyu; padahal mereka terkenal sangat mencintai wahyu? Di samping itu, perihal turunnya wahyu niscaya dinukil dan senantiasa diperhatikan Muslimin. Maka dari itu, kalaupun cerita mengenai ″sikap″ Nabi tersebut benar-benar faktual, niscaya mereka akan meriwayatkannya-ternasuk Abu Mas′ud sendiri-dan mustahil hanya dinukil satu riwayat yang statusnya majhûl atau tidak dikenal.

Darinya kita yakin, motif yang sesungguhnya di balik sikap diam dan gusar Nabi Muhammad Saw adalah fakta bahwa sebagian sahabat beliau tidak suka menyebut keluarga dalam teks salawat yang disyariatkan Allah Swt. Kebencian ini memotivasi mereka hingga

mengulang-ulang pertanyaan seputar tatacara bersalawat kepada beliau, dengan harapan dapat mendengar jawaban yang berbeda. Karena, bagi mereka, cukup sekali saja beliau mengajarkan salawat tanpa menyebutkan keluarga (âl) di dalamnya, sehingga pengalaman sekali itu dapat dijadikan dalih untuk menghapus keluarga (âl) dari teks salawat.

Nabi Muhammad Saw tentu mengetahui dan membaca motif untuk mengulang-ulang pertanyaan seputar tatacara salawat tersebut. Oleh karena itu, beliau bermaksud melarang mereka dari sikap tarik-ulur dalam mematuhi perintah beliau dan bersalawat sesuai tatacara yang pernah beliau ajarkan.1 Untuk itulah beliau terdiam dan menunjukkan

sikap gusar, agar mereka menghentikan sikap konyol tersebut. Lalu beliau mengulang dan menekankan kembali tatacara salawat dengan analogi sejelas-jelasnya. Sehingga, ketegasan analogi itu dapat dirasakan dan dicerap siapa pun yang mendengarnya. Beliau

1- Anda, pembaca yang budiman, tidak perlu heran menyaksikan pembangkangan sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw terhadap perintah-perintah beliau. Karena, masih banyak lagi contoh pembangkangan mereka yang lain, sepanjang mereka hidup bersama beliau. Sikap itu telah dinukil referensi-referensi hadis dan sejarah melalui jalur-jalur periwayatan yang sahih serta tidak dapat diingkari siapa pun. Sebagiannya akan kami singgung dalam beberapa pembahasan mendatang, dan ada baiknya sekarang kami menyebutkan satu fakta saja yang dinukil Bukhari dan dinyatakan sebagai riwayat sahih (Ibnu Hajar Asqalani, op. cit., jld. 5, hlm. 426, yaitu pada catatannya terhadap hadis ke-2731 dan 2732, bab syarat-syarat jihad). Ketika Bukhari menukil kisah tentang Sulh Hudaibiyah (Perdamaian Hudaibiyah); setelah Rasulullah Saw menandatangani surat perdamaian dengan pihak musyrik, beliau menghadap ke arah para sahabat seraya bersabda, ″Bangkitlah kalian dan sembelihlah kurban lalu gundulkanlah kepala kalian.″ Perawi mengatakan, ″Demi Allah, tidak seorang pun di antara mereka yang bangkit sehingga beliau mengulang seruannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun di antara mereka yang bangkit, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah seraya menceritakan perlakukan mereka terhadap diri beliau.″ Ibnu Hajar mengomentari riwayat ini seraya berkata, ″Menurut versi riwayat Ibnu Ishaq, beliau bersabda kepada Ummu Salamah, ′Tidakkah engkau menyaksikan khalayak? Sungguh aku telah perintahkan mereka untuk melakukan sesuatu namun mereka tidak mengindahkannya.″ Ibnu Hazm, dalam Al-Ahkâm (jld. 6, hlm. 254, bab 36 tentang pembatalan taklid) memberi catatan terhadap kejadian ini, seraya mengatakan, ″Hal lebih parah dari semua ini adalah, mereka yang hadir dalam Perdamaian Hudaibiyah mengulur-ulur waktu untuk menggundulkan kepala, menyembelih kurban, dan tahallul. Padahal Nabi Muhammad Saw telah memerintahkan mereka melakukan semua itu. Oleh karena itu, beliau marah dan mengadukan mereka kepada Ummu Salamah, ibu kaum yang beriman.″

menetapkan salawat dalam formula analogis antara tugas dan tatacara pelaksanaannya. Beliau bersabda, ″Apabila kalian berselawat kepadaku, bersalawatlah sebagai berikut:

َّمُهلَّلَا

ٍدَّمَ ُمح ِلآ َو ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص

″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Maksud Rasulullah Saw adalah salawat kepada beliau sama dengan salawat kepada beliau dan keluarganya (âl) secara bersamaan. Sedangkan salawat tanpa menyebut keluarga beliau hanyalah salawat buntung dan tidak dapat disebut sebagai salawat. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin bersikap pasrah terhadap perintahnya terhadap mereka, sebagaimana ayat tashliah sendiri menuntut demikian: "اًميِلسَت اوُم ِّلَس َو", yakni, ″Pasrahlah kalian terhadap perintah Nabi Muhammad Saw dalam bersalawat.″ Keterangan mendetailnya akan kami kemukakan pada rangkaian pembahasan mendatang.

Kesimpulan ini merupakan poin teramat penting dalam telaahan kita perihal salawat yang terpenggal. Karena hal itu merupakan upaya pertama untuk mengenyahkan keluarga Nabi (âl)dari teks salawat dan mentradisikan salawat yang terpenggal.