BAB II: HADIS TATACARA
14. Hadis Mursal Abdurrahman bin Basyar bin Mas ′ ud
Status hadis ini sahih1 dan ditransmisikan secara mursal dari
Rasulullah Saw. Qadhi Isma′il Jahdhami meriwayatkannya melalui tiga jalur (Ayyub, Ibnu ′Aun, dan Hisyam) dari Muhammad bin Sirin dari Abdurrahman bin Basyar bin Mas′ud; namun, teks-teks hadis dari pelbagai jalur tersebut berbeda-beda. Padahal, itu hanya satu hadis dan seluruh matarantai periwayatannya berujung pada seorang periwayat. Jalur transmisi pertama hadis ini diriwayatkan Jahdhami yang mengatakan Sulaiman bin Harb telah meriwayatkan kepadanya, yang mengatakan Hammad bin Zaid telah meriwayatkan kepadanya, dari Ayyub, dari Muhammad, dari Abdurrahman bin Basyar bin Mas′ud yang mengatakan bahwa seseorang berkata, ″Wahai Rasulullah! Engkau memerintahkan kami bersalam kepadamu dan juga bersalawat kepadamu. Kami sudah mengetahui bagaimana caranya bersalam kepadamu. Akan tetapi, bagaimana kami harus bersalawat kepadamu?″ Beliau menjawab, ″Bersalawatlah sebagai berikut:
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع ِّلَص َّمُهلَّلَا
َمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع کِراَب َو
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتکَراَب ا
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bersalawat kepada keluarga
Ibrahim, dan berkahilah keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim″
1- Muhammad Nasirudin Albani menilai jalur-jalur periwayatan Jahdhami atas hadis ini berstatus sahih. Berkenaan dengan jalur pertama, ia mengatakan, ″Sanadnya mursal dan sahih. Semua periwayat dalam sanad itu adalah orang-orang yang diterima secara konsensus.″ Ia mengatakannya dalam Fadhl Al-Shalâh ′Alâ Al-Nabî (shallallâhu ′alaihi wa âlihi) karya Jahdhami (hal.67).
Jalur transmisi kedua periwayatan hadis ini adalah bahwa ia mengatakan Musaddad telah meriwayatkan kepadanya, seraya mengatakan Yazid bin Zari′ telah meriwayatkan kepadanya, seraya mengatakan ′Aun telah meriwayatkan kepadanya, dari Muhammad bin Sirin, dari Abdurrahman bin Basyar bin Mas′ud yang mengatakan bahwa mereka berkata, ″Wahai Rasulullah! Kami sudah mengetahui bagaimana caranya bersalam kepadamu. Akan tetapi bagaimanakah caranya bersalawat kepadamu?″ Beliau menjawab, ″Bersalawatlah sebagai berikut:
،َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع ِّلَص َّمُهلَّلَا
َمَک ٍدَّمَ ُمح یَلَع کِراَب َّمُهلَّلَا
َراَب ا
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتک
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah! [Kumohon] berkahilah Muhammad
sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim″
Adapun jalur transmisi ketiga; ia mengatakan Nashr bin Ali telah meriwayatkan kepadanya, seraya mengatakan Abdul′ A′la telah meriwayatkan kepadanya, seraya mengatakan Hisyam telah meriwayatkan kepadanya, dari Muhammad dari1 Abdurrahman bin
Basyar bin Mas′ud yang mengatakan kepada Nabi Muhammad Saw,
″Kami diperintahkan untuk bersalawat kepadamu, juga bersalam kepadamu. Soal salam, kami sudah mengetahui bagaimana caranya. Namun, bagaimanakah caranya kami bersalawat kepadamu?″ Beliau menjawab, ″Bersalawatlah sebagai berikut:
،َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع ِّلَص َّمُهلَّلَا
َمَک ٍدَّمَ ُمح ِلآ یَلَع کِراَب َّمُهلَّلَا
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتکَراَب ا
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat kepada keluarga
Ibrahim. Ya Allah! [Kumohon] berkahilah keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim″2
1- Teks yang sebenarnya adalah ″dari Muhammad bin Abdul Rahman″ bukan ″dari Muhammad dari Abdul Rahman″, dan telah terjadi kekeliruan dalam mencatat (نب) yang berarti ″putra″ dengan (نع) yang berarti ″dari″.
2- Isma′il bin Ishaq Jahdhami Qadhi Maliki, op. cit., hlm. 67-68 dan 71-73, secara berurutan, sesuai jalur-jalur dalam periwayatan teks hadis tersebut.
Dalam kitab tafsirnya, Thabari juga meriwayatkan hadis itu dengan matarantai periwayatan yang sampai kepada jalur pertama. Ia mengatakan Ya′qub Duraqi telah meriwayatkan kepadanya, seraya mengatakan Ibnu Aliyah telah meriwayatkan kepadanya, yang mengatakan Ayub telah meriwayatkan kepadanya, dari Muhammad bin Sirin, dari Abdurrahman bin Basyar bin Mas′ud Anshari yang mengatakan bahwa manakala ayat tashliyah (Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat atas Nabi, hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kepadanya dan pasrahlah sepasrah- pasrahnya) diwahyukan, mereka berkata, ″Wahai Rasulullah! Soal salam kami sudah mengetahuinya. Namun bagaimana caranya bersalawat, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?″ Beliau menjawab, ″Bersalawatlah sebagai berikut:
،َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح یَلَع ِّلَص َّمُهلَّلَا َلَع کِراَب َّمُهلَّلَا
َمَک ٍدَّمَ ُمح ی
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتکَراَب ا
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat kepada keluarga Ibrahim.
Ya Allah! [Kumohon] berkahilah Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim″1
Nasa′i juga meriwayatkan hadis ini dalam kitab Sunan-nya dengan matarantai periwayatan yang berujung pada jalur ketiga, yaitu jalur Hisyam. Akan tetapi ia menetapkannya sebagai riwayat Abdurrahman bin Basyar dari Abu Mas′ud Anshari secara muttasil atau bersambung pada Rasulullah Saw.2 Ia mengatakan bahwa Ziyad bin Yahya telah
memberitakan kepadanya, yang mengatakan Hisyam bin Hassan telah meriwayatkan kepadanya, dari Muhammad dari Abdurrahman bin
1- Muhammad bin Jarir Thabari, op. cit., hlm. 49/ 21852, di bawah tafsir surah al- Ahzâb, ayat ke-56.
2- Ini hanyalah imajinasi belaka. Hadis ini sudah terbukti tidak bersambung sanadnya hingga Rasulullah Saw. Sebaliknya, statusnya adalah hadis mursal dari riwayat seorang tabi′in bernama Abdul Rahman bin Basyar bin Mas′ud. Ini didukung pula oleh Albani dalam catatannya atas hadis tersebut. Menurutnya, kepercayaan bahwa sanad hadis itu bersambung sampai Rasulullah Saw muncul akibat dugaan periwayat yang keliru perihal Hisyam. Ia adalah Abdul Wahhab bin Abdul Majid. Kemudian ia berkata, ″Yang benar adalah riwayat Abdul A′la, yaitu putra Abdul A′la Bashri Sami dari Hisyam. Karena, riwayat ini sepakat dengan riwayat Ibnu Aun dan Ayub dari Muhammad bin Sirin.″ Albani mengatakannya dalam Fadhl Al-Shalâh ′Alâ Al-NabîSaw karya Jahdhami, hlm.68.
Basyar dari Abu Mas′ud Anshari yang mengatakan, ″Telah dikatakan kepada Nabi Saw bahwa kami telah diperintahkan untuk bersalawat kepada beliau dan juga bersalam. ′Soal salam kami sudah mengetahui caranya; namun bagaimana caranya bersalawat kepadamu?′ Beliau menjawab, ′Bersalawatlah sebagai berikut:
ِّلَص َّمُهلَّلَا
،َميِهاَربإ یَلَع َتيَّلَص اَمَک ٍدَّمَ ُمح یَلَع
َميِهاَربإ ِلآ یَلَع َتکَراَب اَمَک ٍدَّمَ ُمح یَلَع کِراَب َّمُهلَّلَا
″Ya Allah! [Kumohon] bersalawatlah kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah bersalawat kepada Ibrahim. Ya Allah!
[Kumohon] berkahilah Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim′″1
Sebagaimana terlihat di atas, teks hadis ini sangat inkonsisten sehingga tidak satu pun teks yang konsisten dengan ketiga jalur transmisinya. Jalur transmisi pertama menetapkan salawat dan berkah semata-mata untuk keluarga (âl); jalur kedua menetapkan keduanya untuk Nabi Muhammad Saw; dan jalur ketiga memisahkan keduanya, yaitu menetapkan salawat untuk keluarga (âl) dan berkah untuk Nabi Muhammad Saw! Bahkan, lebih parah lagi, kutipan dan transmisi pada satu jalur sendiri telah mengalami perbedaan—sebagaimana kita saksikan pada jalur trasmisi pertama. Yaitu, jalur Ayub yang diriwayatkan Jahdhami dan jalurnya yang diriwayatkan Thabari. Riwayat Jahdhami memproyeksikan salawat dan berkah untuk keluarga (âl), sedangkan riwayat Thabari memproyeksikan keduanya untuk Nabi Muhammad Saw!
Hal serupa terjadi pada jalur transmisi ketiga periwayatan hadis ini. Yaitu, jalur Hisyam menurut versi trasmisi Nasa′i berbeda dengan jalur transmisi dalam versi Jahdhami. Transmisi Nasa′i memproyeksikan salawat dan berkah untuk Nabi Muhammad Saw. Sedangkan transmisi Jahdhami memisahkan keduanya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya! Tambahan lagi, sebagian teks hadis ini tidak relevan dengan maksud si penanya. Ia bertanya tentang tatacara salawat kepada Nabi Muhammad Saw, sementara hadis beliau menjawab soal bagaimana bersalawat kepada keluarga! Apalagi
1- Abdul Rahman Ahmad bin Syu′aib Nasa′i, op. cit., jld. 3, hlm. 33/1286, bab bagaimana caranya bersalawat kepada Nabi Saw.
tatacara salawat dalam teks hadis ini tidak selaras dengan tatacara salawat yang sahih menurut hadis mutawatir.
Inkonsistensi luar biasa dalam satu teks hadis ini, yang diriwayatkan tiga tokoh periwayat hadis yang jujur dan terpercaya di kalangan Ahli Sunah1 dari syekh dan imam mereka, yaitu muhadis terkemuka yang
jujur dan terpercaya pula, Muhammad bin Sirin, membuat kita yakin, hadis ini tidak dihafal dengan baik dan benar, serta tidak dinukil sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya, telah terjadi penanggalan dalam hadis yang sampai pada kita. Penanggalan itu disebabkan, antara lain, oleh anggapan keliru para periwayatnya, kelemahan daya hafal mereka, kegagalan menyalin tulisan hadis, atau faktor-faktor lain yang berperan peran penting dalam merusak hadis tersebut dan menjadikan teksnya berbeda-beda dari satu jalur transmisi hingga jalur transmisinya yang lain. Bahkan sampai mengubahnya dari status hadis mursal ke hadis berstatus muttashil. Kejadian seperti ini tidak asing dalam literatur hadis kita, melainkan memang sudah lumrah dan kasat mata bagi siapa pun yang menelitinya. Terdapat banyak contoh seperti itu. Di antaranya, yang terjadi pada hadis Zaid bin Kharijah yang telah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis lainnya.
Darinya, kita dapat mengatakan bahwa ketika memperhatikan hadis Abu Sa′id Khudri dan tidak mendapatinya menyebutkan keluarga (âl) bersama Nabi Muhammad Saw, tentunya kita tidak terkejut menjumpai adanya penanggalan teks keluarga (âl) dalam tatacara salawat yang disampaikan. Ini lumrah terjadi, sebagaimana telah terjadi pula dalam hadis-hadis lain. Bahkan, lebih dari itu, siapa pun yang cerdas berpikir dan netral dalam menilai, niscaya mendukung kesimpulan soal adanya penanggalan dalam hadis-hadis tersebut.
1- Merekalah poros jalur pertama, yaitu Ayub bin Abu Tamimah Sakhtiyani dan Abu Bakar Bashri yang wafat pada 131 H. Adapun poros jalur kedua adalah Abdullah bin Aun Muzni Bashri yang wafat pada 150 H. Sementara poros jalur ketiga adalah Hisyam bin Hasan Azdi Bashri yang wafat pada 146 H. Mereka semua meriwayatkan dari syekhnya, yaitu Muhammad bin Sirin yang wafat pada 110 H. Buku-buku biografi hidup perawi menyepakati kejujuran dan keutamaan mereka bertiga sekaligus syekhnya. Dalam hal ini, silahkan merujuk Ibnu Hajar Asqalani, Tahdzîb Al-Tahdzîb, jld. 1, hlm. 413/647, jld. 4, hlm. 424/7568, dan jld. 7, hlm. 200/6187, sesuai urutan nama mereka sebagaimana disebutkan.
Camkan baik-baik persoalan ini. Karena insya Allah, kita akan membicarakannya lebih jauh dalam pembahasan mendatang.