• Tidak ada hasil yang ditemukan

(4) Azas Partisipasi

Dalam dokumen POLRI Peranan dan Kedudukan (Halaman 53-57)

Azas ini merupakan azas partisipasi dari masyarakat untuk menangkal, mencegah terjadinya ganguan keamanan dan ketertiban masyarakat/kriminalitas dari dalam masyarakat itu sendiri. Hal ini mengarah pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan metode Community Policing.

Dengan kewenangan yang dimiliki oleh kepolisian tersebut yang dilegitimasi dalam peraturan perundang-undangan, maka ada suatu tangggung jawab hukum bagi setiap anggota Polri yang bukan saja tanggung jawab pidana, tanggung jawab perdata maupun tanggung jawab administrasi, tetapi yang lebih penting tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang menyangkut hak asasi manusia secara mendasar. Dengan demikian maka setiap petugas menempatkan dirinya sebagai warga negara teladan dari warga negara yang lain.

3.5 Kondisi Kemandirian Polri Saat Ini

Dalam membahas tentang kondisi kemandirian Polri saat ini, akan diuraikan tentang aspek struktural, aspek instrumental, dan aspek kultural. Akan dikaitkan pula di dalamnya kondisi pembinaan kekuatan dan kondisi penggunaan kekuatan Polri.

3.5.1 Aspek Struktural

Sejak awal berdirinya kepolisian di Indonesia, status dan kedudukan kepolisian senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan politik, sebagaimana yang dikatakan oleh Djamin65:

“Polisi sebagai suatu organisasi yang telah ada sejak tahun 1945, telah mengalami beberapa kali perubahan struktur. Polri pernah berada di bawah Departemen Dalam Negeri, Kejaksaan Agung dan juga di bawah Presiden, kemudian pernah di bawah Perdana Menteri dan bahkan sebagai Departemen tersendiri (Departemen

65 Wawancara, Senin, 14 Januari 2002, PTIK, Jakarta.

Kepolisian). Semua itu menunjukkan bahwa sejak awal, walaupun Polri di bawah naungan Departemen lain, tetapi status dan kedudukannya tetap sebagai organisasi yang mandiri dan otonom karena baik pembinaan operasional, kebjakan dan anggaran masih tetap dikendalikan oleh Polri sendiri”

Sejak berintegrasi dengan ABRI, Polri berada di bawah menhankam/pangab, dimana sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1997, pembinaan berada di bawah Menhankam, sedangkan Kapolri tetap sebagai pimpinan Polri dan merupakan salah satu staf dari Menhankam, sehingga jabatan Kapolri setingkat dengan Direktur Jenderal (Dirjen) di departemen lain. Hal ini berarti bahwa secara hierarkis dapat dikatakan menurun karena sebelumnya Kapolri setingkat Menteri yang langsung di bawah Presiden sebagai Menteri Panglima Angkatan Kepolisian. Dengan kondisi pembinaan di bawah Markas Besar ABRI (mabes ABRI), mengisyaratkan bahwa segala kebijakan yang menyangkut masalah anggaran, personil, sarana/prasarana, pendidikan, dan operasional rutin Polri tidak sepenuhnya menjadi kewenangan Polri, tetapi harus melalui Mabes ABRI.

Polri yang merupakan bagian integral dari ABRI secara hierarkis merupakan organisasi angkatan bersenjata yang termuda sehingga dalam segala geraknya, Polri harus mampu bersikap menempatkan diri sebagai junior sesuai dengan hierarki yang memang menjadi tradisi/ciri khas militer. Dengan demikian, sebagai junior dalam ABRI akan sulit untuk mengembangkan diri secara maksimal karena ditinjau dari segi kemampuan, kekuatan, keberanian, kelengkapan, profesionalisme, dan lain-lain akan tetap sebagai junior yang ditabukan melangkahi seniornya.

Sebagai imbas dari kebijakan polisi ABRI di era reformasi, khususnya yang menyangkut dwi fungsi ABRI, Daerah Operasi Militer (DOM), dan tindakan-tindakan kekerasan ABRI telah mempengaruhi organisasi Polri yang memang sebelumnya kurang diuntungkan sehingga menjadikan organisasi serta citra Polri yang semakin terpuruk.

3.5.2 Aspek Instrumental

Aspek instrumental adalah segala aspek yang berkaitan erat dengan peraturan, kebijakan, dan sarana/prasana penunjang tugas kepolisian, baik yang berhubungan dengan peraturan perundang-undangan, dasar filosofi tugas, doktrin, kebijaksanaan (political will), pola kerja, kemampuan fungsi, dan penerapan hukum terhadap pola kerja kepolisian.

Dasar filosofi pelaksanaan tugas kepolisian adalah untuk melumpuhkan musuh dengan mengutamakan motto mencegah lebih baik dari pada mengobati. Sebelum lahirnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002, Polri merupakan bagian integral dari ABRI, maka filosofi militer kill or to be killed telah mempengaruhi dasar filosofi Polri sehingga berakibat pada sering terjebaknya aparat kepolisian pada tindakan kekerasan yang melanggar hak asasi manusia.

Dasar filosofi Polri lainnya adalah doktrin Tata Tentaram Kerta Raharja, Tri Brata, dan Catur Prasetya yang lebih berorientasi pada kesejahteraan dan kepentingan pelayanan, perlindungan masyarakat. Sifat doktrin kepolisian ini adalah dinamis sehingga lebih diperlukan seni kreatifitas untuk memutuskan sendiri tanpa harus menunggu perintah.

Dasar filosofi Polri tentu berbeda jauh dengan filosofi khas militer, yaitu : sapta marga, sumpah prajurit, dan trilogi ABRI, yang menitik beratkan pada sifat-sifat keprajuritan yang patuh dan taat pada pimpinan, sebagai perintah mutlak yang tidak bisa dibantah karena merupakan kewenangan komando yang bersifat hierarki.

Dalam doktrin militer ini, kepentingan komando adalah di atas segala-galanya.

Pada saat Polri masih bagian dari ABRI, pengambilan kebijaksanaan organisasi sesuai dengan kewenangannya dirasakan sangat lambat serta kurang adanya kepastian, karena setiap keputusan harus melalui Mabes Polri yang cenderung birokratis. Di samping itu sering kebijaksanaan dan kepentingan Polri lebih banyak terpinggirkan, karena Mabes Polri lebih mengutamakan misi ABRI/ TNI). Sebagai contoh adalah kebijakan Pengamanan Langsung (Pamsung) dan Pengamanan Tidak Langsung (Pamtaksung) pada masa Pemilihan Umum (Pemilu), kebijakan operasi gabungan, kebijakan misi keluar negeri baik yang menyangkut pendidikan ataupun penugasan luar negeri (penugasan-penugasan PBB atau Internasional lainnya).

Melihat kewenangan yang begitu besar pada mabes ABRI terhadap kebijakan Polri, sangat mempengaruhi kinerja Polri. Campur tangan organisasi lain di luar Polri mengakibatkan kerugian pada kinerja dan citra Polri.

Aparat Polri yang selalu dan secara langsung berhadapan dengan masyarakat dengan berbagai permasalahannya secara komplek dituntut untuk segera mengambil keputusan setiap saat. Dengan mengutamakan kemampuan individu yang disertai dengan kewenangan diskresi yang melekat pada anggota Polri dan merupakan pertanggung jawaban pribadi, namun dengan berlakunya pola kerja ABRI selama ini (sebelum lahirnya UU No.2/2002) yang mengutamakan kepentingan kelompok, tanggung jawab ada pada atasan sehingga anggota selalu menjadi ragu untuk melakukan kewenangan diskresi, bahkan bisa dianggap salah bila tanpa adanya perintah atasan, karena sesuai dengan motto militer yang menyatakan bahwa : “tidak ada anak buah yang salah, sehingga komandanlah yang harus bertanggung jawab”.

Rumusan tugas pokok Polri, sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 adalah sebagai berikut:

(1) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, (2) menegakkan hukum, dan

(3) memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Rumusan tugas pokok Polri yang terdapat dalam UU No. 2/2002, berbeda jauh dengan ketentuan Undang-undang Nomor 20 tahun 1982 (telah dicabut dengan UU No.3/2002 tentang Pertahanan Negara). Dalam UU No. 20/1982 disebutkan bahwa Polri selain mengemban fungsi keamanan (Kamdagri) juga mengemban fungsi

bantuan pertahanan. Fungsi keamanan dan pertahanan merupakan dua fungsi yang berbeda, sebagai mana yang dikatakan oleh Djamin:66 “Fungsi pertahanan dan keamanan tidak dapat disatukan, karena fungsi pertahanan sebagai defence adalah fungsi khusus militer yang berperan untuk bertempur, sedangkan fungsi keamanan adalah sebagai security adalah fungsi khas kepolisian universal yang berperan untuk melindungi dan melayani masyarakat”.

Kondisi Polri saat ini, di samping melaksanakan tugas pokok juga melaksanakan tugas-tugas sosial politik. Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung keterlibatannya dengan politik akan mengakibatkan keberpihakan pada faham tertentu. Padahal sesuai dengan tugas pokoknya sebagai penegak hukum harus bersikap adil dan tidak memihak. Hal ini jelas akan menurunkan tingkat kepercayaan dan legitimasi yang telah diberikan rakyat kepada Polri, sehingga sering muncul adanya anggapan masyarakat terhadap banyaknya kasus-kasus kriminal yang sengaja dipolitisasi untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang berkuasa.

Salah satu dari aspek insrumental yang mempengaruhi kinerja Polri adalah pelaksanaan tugas yang erat kaitannya dengan kemampuan fungsi kepolisian.

Dewasa ini, terdapat lima fungsi dasar pada organisasi Polri, yaitu:

(1) Fungsi Reserse;

(2) Fungsi Intel Pam Polri;

(3) Fungsi Bimmas;

(4) Fungsi Lantas; dan (5) Fungsi Sabhara.

Kelima fungsi fungsi kepolisian tersebut harus dapat bekerja secara sistematis, terpadu, dan kontinyu dengan melakukan tindakan preemtif, preventif maupun tindakan represif. Di samping itu perlu juga pemberdayaan fungsi teknis kepolisian dalam mewujudkan profesionalisme Polri Tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kemampuan Polri sebagai penegak hukum yang harus diwujudkan dalam proses penyelidikan dan penyidikan.

Kemampuan Polri sebagai penegak hukum dalam proses penyelidikan dan penyidikan belum dapat diwujudkan secara maksimal, sebagaimana harapan masyarakat. Perbedaan penafsiran terhadap aturan hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum baik itu oleh Polisi, Jaksa, dan Hakim seringkali tidak sama. Hal ini menimbulkan dampak negatif terhadap peran Polri sebagai aparat penyidik. Lebih jauh dari itu, sering terjadi tumpang tindih kewenangan atas suatu proses penyidikan, karena menurut aturan hukum, di Indonesia selain Polri masih ada organisasi yang berwenang melakukan upaya penyidikan, baik itu dari pihak kejaksaan ataupun Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

Kurangnya konsistensi dan ketegasan terhadap pelaksanaan undang-undang oleh aparat penegak hukum seperti pihak PPNS di atas, yang seharusnya

66 Wawancara, Senin, tanggal 12 Agustus 2002, PTIK, Jakarta.

dikoordinasikan oleh Polri dalam melaksanakan penyidikan ternyata tidak melalui aparat Polri dan dapat diterima oleh penuntut umum proses pemeriksaannya. Kondisi demikian apabila berlangsung secara terus menerus tanpa adanya koreksi dapat mengakibatkan undang-undang tidak dapat berjalan dengan semestinya sehingga dikhawatirkan akan mengurangi peran Polri pada masa yang akan datang sebagai koordinator pengawas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

Tidak adanya sanksi hukum yang tegas terhadap aparat penegak hukum untuk melaksanakan hukum sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, menyebabkan terjadinya pelecehan terhadap peran sesama atau antaraparat penegak hukum dan dapat merusak sistem yang telah disepakati oleh wakil-wakil rakyat.

3.5.3 Aspek Kultural

Aspek kultural adalah segala sikap, tingkah laku, atau budaya yang mengarah pada perwujudan Polri yang mandiri dan profesional. Terdapat sedikitnya empat unsur yang penting dibahas, yakni : mentalitas, sikap tampang, pengembangan profesi, dan kondisi sumber daya Polri.

Dalam dokumen POLRI Peranan dan Kedudukan (Halaman 53-57)