• Tidak ada hasil yang ditemukan

(a) Terhadap faktor kendala intern

Dalam dokumen POLRI Peranan dan Kedudukan (Halaman 115-118)

4.0.3 Upaya-Upaya yang Dapat Dilakukan untuk Mengatasi Hambatan-hambatan Polri dalam Melaksanakan Tugasnya Sebagai Alat Negara Penegak Hukum dan Kamtibmas

Dalam rangka mengoptimalkan peranan dan fungsi Polri sebagai alat negara di dalam kerangka penegakan hukum dan ketertiban dalam masyarakat (law and order) adalah dengan memanfaatkan secara maksimal setiap faktor peluang yang ada dan memperkecil semua faktor kendala yang ada. Untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi Polri dalam melaksanakan tugas-tugasnya adalah dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

dilakukan di lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Polri sendiri, seperti Akademi Kepolisian (Akpol), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian (Sespimpol) maupun di lembaga pendidikan lain, seperti di universitas-universitas negeri/swasta di seluruh Indonesia.

Untuk meningkatkan keahlian dan profesionalisme anggota Polri, perlu ditingkatkan pendidikan kejuruan (dikjur) Polri yang disesuaikan dengan bakat dan kemampuan anggota pada masing-masing fungsi. Untuk meningkatkan profesionalisme anggota Polri anggota yang akan mengikuti dikjur harus telah lulus seleksi khusus kemampuan fungsi. Bagi anggota yang telah memperoleh dikjur agar tetap dipertahankan pada fungsinya masing-masing untuk mewujudkan polisi yang profesional.

Selama ini banyak anggota Polri yang belum mengikuti dikjur karena terbatasnya anggaran. Di samping itu, ada pula anggota Polri yang mengikuti lebih dari satu dikjur dengan beberapa fungsi yang berbeda pula. Misalnya, anggota polri yang mengikuti Dikjur Dasar Bintara Reserse (Dasba Serse) juga mengikuti Dikjur Dasar Bintara Lalu lintas (Dasba Lantas) atau Dikjur Dasar Bintara Bimbingan Masyarakat (Dasba Bimmas). Ada pula yang mengikuti dikjur secara tidak konsisten, seperti anggota Polri yang mengikuti Dikjur Dasba Lantas kemudian mengikuti Dikjur Bintara Lanjutan Reserse (Balan Serse), bahkan tidak jarang ada anggota Polri yang belum mengikuti dikjur dasar diizinkan mengikuti dikjur lanjutan. Begitu pula pada dikjur yang diikuti oleh para perwira. Dikjur sendiri ada yang ditujukan bagi bintara, perwira pertama, dan perwira menengah. tingkatan dikjur meliputi dikjur dasar, dikjur lanjutan, dan dikjur senior.

Ketidakkonsistenan dalam menempuh jalur dikjur akan menyebabkan anggota Polri kurang profesional dan membuang anggaran secara percuma. Penempatan anggota Polri sesuai dengan dikjur yang diikuti pada fungsinya masing-masing akan meningkatkan profesionalisme anggota Polri dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Hal ini sesuai dengan Pasal 31 UU No. 2 /2002 yang menyatakan bahwa:

“Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus memiliki kemampuan profesi”

Ketentuan Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 33 UU No. 2/2002 menyatakan bahwa :

Pasal 33 ayat (1) : “Pembinaan kemampuan profesi Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetahuan serta pengalamannya di bidang teknis kepolisian melalui pendidikan, pelatihan, dan penugasan secara berjenjang dan berlanjut”

Pasal 32 : “Guna menunjang pembinaan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dilakukan pengakjian, penelitian, serta pengembangan ilmu dan teknologi kepolisian”

Pembinaan kemampuan profesi anggota Polri dilaksanakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetahuan serta pengalaman penugasan secara berjenjang, berlanjut, dan terpadu. Peningkatan dan pengembangan pengetahuan dapat dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan, baik di dalam maupun di luar lingkungan Polri, di lembaga pendidikan di dalam atau di luar negeri, serta berbagai bentuk pelatihan lainnya sepanjang untuk meningkatkan profesionalisme.

Sedangkan pengalaman maksudnya meliputi jenjang penugasan yang diarahkan untuk memantapkan kemampuan dan prestasi. Tuntutan pelaksanaan tugas serta pembinaan kemampuan profesi Polri mengharuskan adanya lembaga pendidikan tinggi kepolisian yang menyelenggarakan pendidikan ilmu kepolisian yang bersifat akademik maupun profesi dan pengkajian teknologi kepolisian.107

Untuk meningkatkan sumber daya manusia Polri melalui jenjang penugasan, diperlukannya kebijakan dan kearifan dari pimpinan Polri. Pimpinan Polri harus jeli melihat kemampuan dan prestasi kinerja bawahannya secara merata dan menyeluruh.

Selama ini pimpinan Polri banyak menggunakan manajemen jendela (Window Management) dalam menilai prestasi bawahannya. Manajemen jendela (window management) adalah suatu majemen yang hanya memperhatikan keberhasilan orang-orang yang berada di sekitar atau di dekatnya, atau dengan perkataan lain, hanya menilai keberhasilan tugas bawahannya sepanjang bawahan tersebut terlihat oleh pimpinan tersebut untuk dipromosikan ke suatu jabatan tertentu. Padahal orang-orang yang berhasil tidak hanya berada di dekat pimpinan tersebut saja.

Untuk mengatasi terbatasnya jumlah personil Polri, harus diadakan program prioritas Polri, yakni menambah jumlah personil Polri sekurang-kurangnya sesuai dengan standar ASEAN 1 : 700. Dewasa ini penduduk Indonesia mencapai 230 Juta jiwa. Dengan demikian, idealnya, jumlah personil Polri di Indonesia adalah 328.571.

di samping itu, perpanjangan usia pensiun bagi anggota Polri dalam upaya mencapai Police Employee Rate yang seimbang di samping sebagai upaya memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat. Sebagaimana ketentuan Pasal 30 ayat (2) UU No.

2/2002 bahwa usia pensiun maksimum anggota Polri adalah 58 tahun dan dapat dipertahankan sampai dengan 60 tahun bagi anggota yang memiliki keahlian khusus dan sangat dibutuhkan dalam tugas kepolisian. Polri perlu juga melakukan upaya pembinaan potensi masyarakat dan sistem pembinaan wilayah108 misalnya dengan meningkatkan pengamanan swakarsa.

Dalam menghilangkan kultur militer dari anggota Polri tidak dapat dilakukan secara sekaligus, tetapi harus secara bertahap. Langkah pertama dan utama yang perlu dilakukan adalah menanamkan kembali doktrin kepolisian yakni, Doktrin Tata Tentrem Kerta Raharja, Tri Brata dan Catur Prasetya dan kembali kepada motto kepolisian yakni fight crime, help the delinquent, dan love humanity.

107 Penjelasan Pasal 32 ayat (1) UU No. 2/2002.

108 Ermaya Suradinata, Pembinaan Potensi Masyarakat dan Sistem Pembinaan Wilayah Dalam Rangka Strategi Penyelenggaraan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, Penerbit Ramadan, Bandung, 1996, hlm. 2.

Mengembalikan kultur Polri dari militer ke sipil dapat dimulai dari proses rekrutmen personil Polri, proses pendidikan termasuk materi dan kurikulum pendidikan/latihan, seragam dinas yang disesuaikan dengan pakaian sipil yakni tidak terlalu ketat dan berwarna menyejukkan agar tidak terkesan anker, menyusun kembali pola, dan sebutan pangkat dan jabatan dalam kepolisian. Kultur Polri sebagai civillian police dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku anggota Polri sehari-hari.

Dalam mengatasi minimnya anggaran Polri dapat dilakukan dengan efisiensi dan efektivitas penggunan anggaran dengan menggunakan skala prioritas. Sistem penyusunan anggaran yang menggunakan Budget Oriented System tidak dapat dipertahankan lagi dan harus diganti dengan Program Oriented System sehingga dapat melakukan kerjasama dengan instansi lain di luar Polri, yang salah satunya adalah Pemerintah Daerah (Pemda).

Dalam distribusi anggaran dari mabes Polri ke jajaran tingkat bawah sebaiknya menggunakan pola satu pintu. Selama ini, untuk sampainya dana dari Mabes Polri ke Polres atau Polsek harus melewati beberapa pintu. Sebagai contoh, anggaran perawatan kendaraan dan bangunan yang didistribusikan dari Mabes Polri ke Polsek harus melalui pintu Polda (Kepala Keuangan Polda atau Kaku Polda), Polwil (Pemegang Kas Polwil atau Pekas Polwil), Polres (Juru Bayar Polres atau Jubar Polres), dan akhirnya Juru Bayar Polsek (Pubar Polsek). Selain tidak efisien juga dikhawatirkan terjadinya kebocoran dana. Sebaiknya dana yang dialokasikan oleh Mabes Polri ke Polsek langsung ditujukan ke Polsek yang bersangkutan melalui Kapolsek atau Juru Bayar Polsek.

Dalam dokumen POLRI Peranan dan Kedudukan (Halaman 115-118)