(d) Kondisi Sumber Daya Polri
3.6 Perkembangan Lingkungan Strategis
3.6.3 Perkembangan Lingkungan Strategis Nasional
Mencermati perkembangan negara Indonesia sedang mengalami krisis moneter, hukum, politik, dan ekonomi serta ancaman disintegrasi bangsa yang memuncak pada bentuk krisis kepercayan terhadap pemerintah. Secara mendasar disebabkan adanya ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi, poltik, dan hukum. Pokok permasalahannya terletak pada mekanisme dan dinamika pengambilan keputusan yang tidak transparan karena adanya berbagai faktor. Pengambilan keputusan yang terpusat pada eksekutif menyebabkan masyarakat kurang melakukan kontrol yang akhirnya bermuara pada sikap apatis. Keadaan ini menghasilkan distorsi fungsi dan sistem sehingga melahirkan berbagai krisis yang berlanjut menjadi krisis kepercayan masyarakat terhadap pemerintah.
Pada saat ini telah ada kecenderungan pergeseran kekuasaan dari eksekutif ke legislatif. Pergeseran kekuasaan ini menimbulkan nuansa baru dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di Indonesia. Adanya paradigma baru yang coba diterapkan di Indonesia ternyata membuat negara dan bangsa Indonesia dalam kehidupan bernegara yang sangat sulit. Adanya tolak tarik kekuasaan antara eksekutif dan legislatif membuat terbengkalainya beberapa urusan pemerintahan yang berdampak pada masyarakat. Ketidakpastian hukum, kesenjangan ekonomi, arogansi politik, disintegrasi bangsa, dan kemunduran budaya serta degradasi moral menyebabkan Bangsa Indonesia mengalami kemunduran beberapa langkah dalam proses pembangunan.
Ada beberapa hal yang menjadi objek bahasan perkembangan lingkungan strategis nasional yaitu : Kondisi geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan serta keamanan.
(a) Geografi
Kondisi geografi Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau dan terletak pada posisi silang memberikan kedudukan yang strategis di bidang transportasi, perdagangan, dan hubungan antarnegara yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional. Namun demikian, dapat juga mengundang kerawanan karena terbuka kesegala arah yang mengarah pada berbagai konflik khususnya masalah perbatasan.
Terdapatnya beragam kelompok etnis, agama, dan kepercayaan serta sumber kekayaan alam yang hampir merata di seluruh pelosok nusantara akan menempatkan Indonesia pada potensi yang rawan terhadap pertikaian yang berdasarkan suku, agama dan rasial (sara) yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa apabila tidak ditangani dengan baik.
Luasnya kepulauan Indonesia tidak sepenuhnya dapat diawasi secara maksimal oleh negara melalui alat-alat perlengkapan negara , khususnya oleh Polri yang terbatas dalam personil, sarana/prasarana, dan anggaran. Tidak heran apabila di daerah tertentu yang luput dari perhatian pemerintah pusat, seperti Aceh, Papua, dan Ambon terjadi gangguan kamtibmas dalam skala besar, bahkan telah menuju ke arah konflik bersenjata. Untuk itu, perlu kiranya pemerintah memaksimalkan peran Polri sebagai alat negara dalam fungsinya menegakkan hukum dan ketertiban dalam masyarakat.
(b) Demografi
Jumlah penduduk yang besar (lebih kurang 230 juta jiwa) dengan tingkat pertumbuhan 1,6% per tahun merupakan peluang dalam menjadikan jumlah penduduk sebagai aset dari pembangunan. Akan tetapi, penyebaran penduduk yang belum merata dengan kualitas yang relatif rendah merupakan kerawanan dan menjadi beban pembangunan. Dihadapkan pada dampak krisis ekonomi yang belum terselesaikan akan berakibat pada bertambah tingginya angka pengangguran maupun kelompok masyarakat di bawah garis kemungkinan.
Tidak seimbangnya jumlah penduduk dengan jumlah polisi akan menyulitkan Polri melaksanakan fungsi penegakan hukum dan pewujud keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Untuk mengurangi Police Employee Rate yang begitu besar, sudah sepatutnya jumlah personil Polri ditambah, sekurang-kurangnya agar mencapai ratio ideal sesuai dengan standar kepolisian di negara-negara ASEAN yaitu 1 : 700.
(c) Sumber Daya Alam
Eksploitas dan eksplorasi sumber daya alam dan hayati dalam menunjang pembangunan nasional akan memerlukan peran serta investor asing sebagai pihak penanam modal. Selain itu, pihak ketiga sebagai pemodal atau pemberi pinjaman (IMF, World Bank, ADB, dll) mensyaratkan beberapa ketentuan dalam proses
pemberian pinjaman atau penanaman investasi di Indonesia. Para investor asing dan pihak pemberi pinjaman perlu mendapatkan jaminan stabilitas keamanan dan politik di dalam negeri. Hal ini penting untuk kelancaran pembangunan di Indonesia dan proses pengembalian pinjaman serta keuntungan dari investasi yang ditanamkan.
Jaminan stabilitas keamanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Polri dan menuntut Polri untuk bertindak secara profesional. Selanjutnya, polri juga dituntut mampu mengerti dan memahami perjanjian internasional dan perlindungan terhadap aset asing yang ditanamkan di Indonesia.
(d) Ideologi
Pancasila sebagai ideologi negara akan tetap dipertahankan dan UUD 1945 sebagai konstitusi negara akan terus di sempurnakan sesuai dengan tuntutan masyarakat menuju masyarakat madani, adil, makmur, dan sejahtera.
Gangguan terhadap ideologi negara merupakan ancaman serius terhadap keutuhan dan kedaulatan negara, dan sebagai tindakan preventif Polri harus dapat dengan segera membaca tanda-tanda ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan terhadap ideologi yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
(e) Politik
Tuntutan akan transparansi, penegakan HAM, dan demokrasi dibarengi dengan gelombang reformasi dalam bidang politik mendorong tumbuhnya kelompok-kelompok politik yang saling berlomba untuk tampil sebagai pucuk pimpinan nasional. Perubahan paket peraturan perundang-undangan bidang politik akan lebih memberikan peluang pada berbagai kekuatan untuk membentuk partai politik, yang akan mengarah pada perubahan sistem politik dan pemerintahan di Indonesia.
Terhadap kekuatan politik TNI/Polri yang terdapat di Majelis Permusyawaratan rakyat (MPR) dalam fraksi TNI/Polri juga terjadi perubahan yang sangat signifikan, bahwa berdampak pada dihilangkannya fraksi TNI/Polri tersebut di MPR. Adanya wacana bagi prajurit TNI dan anggota Polri untuk ikut dalam pemilihan umum merupakan fenomena politik yang berdampak besar terhadap sistem ketatanegaraan di Indonesia. Menurut penulis hak ikut memilih dan dipilih dalam pemilihan umum bagi anggota Polri merupakan suatu kesempatan Polri secara lembaga atau individu untuk dapat mengaktualisasikan diri dalam kehidupan politik. Dengan demikian, sangat tidak tepat untuk tetap mempertahankan Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) UU No.
2 Tahun 2002.70
Konsekuensi bagi anggota Polri yang terpilih sebagai pengurus suatu partai politik atau memegang jabatan politis adalah berhenti sementara dari tugas dan fungsinya sebagai Polri, mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian.71
70 Pasal 28 ayat (1) : “Kepolisian Negara Republik Indonesia bersikap netral dalam kehidupan Politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik praktis. Pasal 28 ayat (2) : “Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak menggunakan hak memilih dan dipilih”
71 Lihat ketentuan Pasal 28 ayat (3) UU No. 2/2002.
Perlu disadari bahwa Polri adalah bagian dari masyarakat sipil yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
(f) Ekonomi
Krisis moneter yang melanda Indonesia dengan segala permasalahan yang timbul sudah mengarah pada krisis kepercayaan terhadap berbagi kebijakan yang diambil dalam bidang ekonomi. Gonta-ganti pimpinan tertinggi eksekutif (presiden) dan pembantu-pembantunya, pergantian beberapa direktur Bank Indonesia (BI) dan jatuh bangunnya tim-tim ekonomi membuat Indonesia semakin kepayahan dalam menata kembali sistem perekonomiannya.
Gelombang reformasi ekonomi yang dituntut mahasiswa dan para pakar ekonomi menjadikan kondisi perekonomian Indonesia lebih terpuruk ke dalam bidang ekonomi, baik makro maupun mikro yang sangat memprihatinkan.
Pembangunan yang selama ini dilaksanakan telah porak poranda, bahkan secara tragis menempatkan Indonesia sebagai negara terburuk yang mengalami dampak krisis moneter dari beberapa negara di Asia, khususnya di asia Tenggara. Meskipun demikian, tingkat kebocoran dana APBN bisa mencapai 40 %, dan menambah prestasi buruk Indonesia sebagai negara terkorup di dunia.
Kondisi seperti ini apabila tidak segera diatasi akan menimbulkan kerawanan sosial yang meluas ke seluruh wilayah Indonesia dan sangat membahayakan stabilitas keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Keterpurukan ekonomi di Indonesia secara perlahan atau drastis dapat meningkatkan angka tindak kriminal . Hal ini tentu berimbas pada kesiapan Polri untuk menciptakan daya tangkal yang cepat, tepat, dan efektif dalam mengatasi ganguan kamtibmas.
(g) Sosial budaya
Terjadinya perubaan nilai budaya yang lebih transparan juga dilandasi oleh tindakan lebih berani dalam menolak adanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), yang nilai-nilai ini akan sangat mempengaruhi stabilitas kamtibmas. Adanya pengawasan atau kontrol masyarakat serta adanya transparansi dalam segala bidang merupakan gejala sosial yang baru dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia.
Adanya serapan kebudayaan dari luar juga mempengaruhi pola pikir dan tindak masyarakat. Bisa jadi masyarakat itu akan cenderung arogan dan euforia dengan kebebasan politik. Di lain pihak, dapat pula menjadikan perubahan pola pikir dan tindak masyarakat seiring dengan meningkatnya kepatuhan dan ketaatan kepada hukum, sehingga menimbulkan masyarakat yang makin taat dan patuh hukum.
(h) Pertahanan
Urusan pertahanan negara menjadi tanggung jawab TNI sepenuhnya sesuai
dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 200272. Sejauh ini belum ada ancaman perang yang serius dan terbuka yang dilancarkan pihak asing terhadap Indonesia. TNI sebagai alat negara penjaga keutuhan dan kedaulatan negara harus dapat memainkan peran sebagai benteng pertahanan negara dengan peningkatan profesionalisme prajurit (militer), dan tidak ikut campur dalam bidang yang di luar kewenangannya.
Pertahanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun dan membina kemampuan, daya tangkal negara, dan bangsa serta menangggulangi setiap ancaman. Pemerintah berkewajiban mempersiapkan secara dini segala sesuatu yang menyangkut sistem pertahanan negara, baik dengan menyediakan sarana/prasarana seperti markas, persenjataan, alat komunikasi, maupun informasi.
Sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan TNI sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung. Sebagai komponen utama, TNI harus profesional dan handal dalam bertindak dan berbuat, karena yang dihadapi adalah ancaman dari luar.
Dengan demikian kecanggihan persenjataan dan peralatan perang/tempur harus disediakan secara memadai. Lebih penting lagi adalah kemauan dari TNI untuk terus mengasah keahlian dan keterampilan untuk menguasai teknologi persenjataan dan harus meninggalkan keterlibatannya dalam politik dan pemerintahan atau yang biasa disebut back to barac (kembali ke barak).
Polri adalah komponen cadangan yang harus siap sedia tampil bila diperlukan.
Untuk itu, kesiapan Polri juga tidak hanya terbatas pada masalah penegakan hukum dan Kamtibmas tapi lebih jauh sebagai penjaga keutuhan dan kedaulatan negara lapis kedua. Kembalinya TNI ke barak merupakan konsekuensi dari suatu negara modern dan demokrasi, dan sedikit banyak membantu Polri untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penegak hukum dan ketertiban dalam masyarakat (law and order) tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun, termasuk TNI.
(i) Keamanan
Pengertian keamanan erat sekali hubungannya dengan tugas polisi. Keamanan adalah suatu kondisi dinamis yang penuh dengan kedamaian dan ketenteraman yang dapat dirasakan secara langsung oleh seluruh masyarakat, yang memungkinkan seluruh rakyat berkembang sesuai dengan kemampuan dan tuntutan hidup masing-masing dalam kehidupan sehari-hari yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat ditujukan kepada usaha untuk mengembangkan sistem keamanan dan ketertiban masyarakat yang bersifat swakarsa, dengan berintikan Polri sebagai alat negara penegak hukum yang mahir,
72 Pasal 10 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara menyatakan bahwa : “Tentara Nasional Indonesia sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
terampil, bersih, dan berwibawa. Dalam pembinaan kamtibmas ini lebih diutamakan usaha-usaha pencegahan dan penangkalan, sedangkan pembinaan masyarakat terhadap keamanan dan ketertiban terus ditingkatkan melalui setiap kesempatan yang tidak hanya melibatkan Polri, melainkan juga semua instansi pemerintah yang terkait dan masyarakat itu sendiri.
Keamanan dan ketertiban masyarakat adalah suatu kondisi dinamis masyarakat yang ditandai oleh terjaminnya tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk ganguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat, yang merupakan salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional.73
Dewasa ini masalah keamanan merupakan masalah kebutuhan hidup yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Adanya rasa aman merupakan bagian dari HAM (freedom of fear). Polri sebagai penanggung jawab keamanan dalam negeri harus berperan aktif untuk mewujudkan kamtibmas. Maraknya aksi unjuk rasa yang kadang cenderung anarkhis harus dapat direspon dan ditangani secara baik dan tidak melanggar HAM.
Di samping itu, adanya rusuh massa, tawuran, bahkan pemberontakan bersenjata, seperti di Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam), Papua (Irian Jaya), dan Ambon memerlukan pola penagganan yang serius dan hati-hati serta perlu kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh semua komponen masyarakat.