Teori proses (process theories) menjelaskan tentang perilaku dimulai dan dilaksanakan Termasuk dalam hal ini adalah:
1) Teori pengharapan, individu diperkirakan akan menjadi pelaksana dengan prestasi tinggi apabila:
a) kemungkinan usaha mereka mengarah ke prestasi yang tinggi; b) kemungkinan mencapai hasil yang menguntungkan;
c) hasil-hasil tersebut akan menjadi pada keadaan keseimbangan, penarik efektif bagi mereka
Menurut Victor Vroom (teori nilai pengharapan Vroom), orang dimotivasi untuk bekerja apabila usaha-usaha yang ditingkatkan akan mengarahkan ke balas jasa tertentu dan menilai balas jasa dari hasil usahanya (Victor H Vroom, 164) Apabila dirumuskan akan tampak sebagai berikut
Motivasi = ×
Bagan 4.2. Teori Nilai Pengharapan Vroom
Sumber: Victor H. Vroom, Work and Motivation, John Wiley, New York, 1964
2) Teori pembentukan perilaku ( operant conditioning ), dikemukakan oleh BF Skinner yang didasarkan pada hukum pengaruh ( law of effect), bahwa perilaku yang diikuti dengan konsekuensi pemuasan cen-derung diulang, sedangkan perilaku yang diikuti konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang Proses pembentukan perilaku ini dapat digambarkan sebagai berikut
Rangsangan > Tanggapan > Konsekuensi > Tanggapan pada waktu (stimulus) yang akan datang
Bagan 4.3. Teori Pembentukan Perilaku
Ada empat teknik yang dapat digunakan manajer untuk meng-ubah perilaku bawahan, yaitu:
a) penguatan positif, baik primer maupun sekunder;
b) penguatan negatif, individu akan mempelajari perilaku yang membawa konsekuensi tidak menyenangkan dan menghindari-nya pada masa mendatang;
KEWIRAUSAHAAN Teori dan Praktik
76
KEWIRAUSAHAAN Teori dan Praktik 75
Faktor-faktor pemuas Faktor-faktor pemeliharaan Prestasi Kebijaksanaan dan administrasi perusahaan Penghargaan Kualitas pengendalian teknik
Pekerjaan kreatif dan me- Kondisi kerja nantang tanggung jawab Hubungan kerja kemajuan dan peningkatan Status pekerjaan Keamanan kerja Kehidupan pribadi
Penggajian Penilaian individu terhadap
balas jasa sebagai hasil dan usahanya Pengharapan bahwa
peningkatan usaha akan mengarah pada peningkatan balas jasa
Pustaka Setia
c) pemadaman, dilakukan dengan peniadaan penguatan;
d) hukuman, manajer mengubah perilaku bawahan yang tidak tepat dengan pemberian konsekuensi negatif
3) Teori Porter Lawler merupakan teori pengharapan dari motivasi dengan versi orientasi masa mendatang dan menekankan antisipasi tanggapan atau hasil Dasarnya, yaitu kemungkinan usaha peng-harapan yang dirasakan, usaha yang dijalankan, prestasi yang dicapai, penghargaan yang diterima, kepuasan yang terjadi, dan mengarahkan ke usaha pada masa yang akan datang
Model pengharapan menyajikan sejumlah implikasi bagi mana-jer tentang cara memotivasi bawahan dan implikasi, yaitu:
a) pemberian penghargaan yang sesuai dengan kebutuhan bawahan; b) penentuan prestasi yang diinginkan;
c) pembuatan tingkat prestasi yang dapat dicapai; d) hubungan penghargaan dengan prestasi;
e) penganalisan faktor-faktor yang bersifat berlawanan dengan efektivitas penghargaan;
f) penentuan penghargaan yang mencukupi Implikasi bagi organisasi adalah:
a) sistem penghargaan yang dapat memotivasi perilaku;
b) pekerjaan dibuat sebagai pemberian penghargaan secara intrinsik; c) atasan langsung mempunyai peranan penting dalam proses
motivasi
4) Teori keadilan Orang akan selalu membandingkan antara masukan dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan, dan usaha dengan hasil atau penghargaan yang diterima Keyakinan tentang adanya ketidakadilan akan berpengaruh pada perilaku pelaksanaan kegiatan Faktor kunci bagi manajer, yaitu mengetahui ketidakadilan dirasakan, bukan ketidakadilan secara nyata ada
Teori keadilan memberikan implikasi bahwa penghargaan harus diberikan sesuai yang dirasa adil oleh individu yang bersangkutan
5) Teori petunjuk (prescriptive theories), yaitu cara memotivasi para karya-wan yang didasarkan atas pengalaman coba-coba
B. Model dan Karakteristik Motivasi
Berbagai model yang menguraikan terjadi motivasi telah dikembang-kan Tiga dari model tersebut adalah sebagai berikut
1. Model Motivasi Kebutuhan dan Tujuan
Model motivasi kebutuhan dan tujuan dimulai dengan perasaan ke-butuhan individu Keke-butuhan ini ditransformasi menjadi perilaku yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan Tujuan perilaku tujuan adalah untuk mengurangi kebutuhan yang dirasakan Secara teoretis, perilaku mendukung tujuan dan perilaku tujuan berkelanjutan sampai kebutuhan yang dirasakan telah sangat berkurang Contoh, seseorang mungkin merasakan kelaparan Kebutuhan ini ditransformasikan pertama dalam perilaku yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan untuk makan Contoh dari perilaku yang mendukung termasuk juga aktivitas-aktivitas seperti memasak dan menyajikan makanan untuk dimakan Perilaku pendukung tujuan dan perilaku tujuan makan akan berkelanjutan sampai individu merasakan kebutuhan lapar menjadi berkurang Sekali individu mengalami kebutuhan lapar kembali, daur tersebut akan mulai kembali
2. Model Ekspektasi Motivasi Vroom
Pada kenyataannya, proses motivasi adalah situasi yang lebih rumit dibandingkan yang digambarkan oleh model motivasi kebutuhan Model ekspektasi Vroom mengatasi beberapa kerumitan tambahan Seperti halnya dengan model kebutuhan-tujuan, model ekspektasi Vroom didasarkan pada premis bahwa kebutuhan yang dirasakan menyebabkan perilaku kemanusiaan Akan tetapi, model ekspektasi Vroom mengungkapkan isu kekuatan motivasi Kekuatan motivasi adalah tingkatan keinginan individu untuk menjalankan suatu perilaku Ketika keinginan meningkat atau menurun, kekuatan motivasi dikatakan ber-fluktuasi
Vroom (1964) dalam kutipan Wayne dan Faules (2000: 124–125), mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai tujuan, alih-alih berdasarkan kebutuhan internal Teori harapan ( expectancy theory) memiliki tiga asumsi pokok, yaitu: (1) setiap individu percaya bahwa sekalipun ia berperilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu Inilah yang disebut harapan
Pustaka Setia
hasil (outcome expectancy); (2) setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu, inilah disebut valensi ( valence); (3) setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit mencapai hasil tersebut, inilah disebut harapan usaha ( effort expectancy)
Menurut model motivasi Vroom, kekuatan motivasi ditentukan oleh nilai dari hasil menjalankan suatu perilaku yang dirasakan dan kemungkinan yang dirasakan bahwa perilaku yang dijalankan oleh individu menyebabkan diperolehnya hasil Ketika kedua faktor tersebut meningkat, kekuatan motivasi atau keinginan individu untuk menjalan-kan perilaku amenjalan-kan meningkat Pada umumnya, individu cenderung untuk menjalankan perilaku perilaku yang memaksimumkan balas jasa pribadi dalam jangka panjang
Bagan 4.4 Model Ekspektasi Motivasi Vroom dalam Bentuk Persamaan
3. Model Motivasi Porter-Lawler
Porter dan Lawler telah mengembangkan model motivasi yang menggambarkan uraian proses motivasi yang lebih lengkap dibanding-kan dengan model kebutuhan-tujuan atau model ekspektasi Vroom Model motivasi Porter-Lawler konsisten dengan dua model sebelumnya, yaitu menerima premis bahwa: (1) kebutuhan yang dirasakan akan me-nyebabkan perilaku kemanusiaan; dan (2) usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tugas ditentukan oleh nilai balas jasa yang dirasakan yang dihasilkan dari suatu tugas dan probabilitas bahwa balas jasa ter-sebut akan menjadi nyata
Porter dan Lawler (dalam Sri Handayani, 2001) menyatakan bahwa
succesfull role achievement yang diperoleh seseorang akan berasal dari
perbuatannya Berdasarkan definisi tersebut, jelas bahwa kinerja karyawan merupakan bentuk kesuksesan seseorang untuk mencapai peran atau terget tertentu yang berasal dari perbuatannya Kinerja seseorang dikatakan baik apabila hasil kerja individu dapat melampaui peran atau target yang ditentukan sebelumnya
Model motivasi Porter-Lawler menekankan tiga karakteristik lain dan proses motivasi, yaitu sebagai berikut
a Nilai balas jasa yang dirasakan ditentukan oleh baiknya balas jasa intrinsik dan ekstrinsik yang menghasilkan kepuasan kebutuhan ketika suatu tugas diselesaikan Balas jasa intrinsik berasal langsung dari pelaksanaan suatu tugas, sementara balas jasa ekstrinsik tidak ada hubungannya dengan tugas Contoh, ketika seorang wirausahawan memberi bimbingan pada bawahan mengenai suatu masalah pribadi, wirausahawan tersebut mungkin mendapat balas jasa intrinsik dalam bentuk kepuasan pribadi dengan membantu orang lain
b Tingkatan saat individu secara efektif menyelesaikan suatu tugas ditentukan oleh dua variabel: (a) persepsi individu tentang hal yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas, dan (b) kemampuan sesungguhnya dari individu untuk menjalankan tugas Sesungguhnya, efektivitas individu dalam menyelesaikan suatu tugas meningkat ketika persepsi dari sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas menjadi lebih akurat dan ketika kemampuan untuk menjalankan suatu tugas meningkat
c Keadilan balas jasa yang dirasakan akan memengaruhi jumlah kepuas-an ykepuas-ang dihasilkkepuas-an oleh balas jasa tersebut Pada umumnya, semakin adil balas jasa yang dirasakan oleh individu, semakin besar kepuasan yang dirasakan sebagai hasil dari menerima balas jasa tersebut
4. Karakteristik Motivasi Para Wirausahawan
Para pendiri usaha yang memiliki pertumbuhan tinggi memiliki karakteristik yang mampu memberi kontribusi untuk keberhasilan usaha baru berupa pertumbuhan usaha yang cepat Karakteristik tersebut di antaranya adalah passion dan tenacity (Baron dan Shane, 2007)
a. Passion
Passion dalam arti sederhana adalah semangat yang besar disertai
emosi yang kuat, hasrat yang membara ( burning desire), sebuah deter-minasi untuk mewujudkan suatu tujuan (Gunawan, 2009) Para wirausaha-wan mengawali dan menjalankan usaha dengan pertumbuhan yang tinggi karena mereka memiliki passion terhadap pekerjaan dan perusahaannya Para wirausahawan yang memiliki kesuksesan tinggi mencintai semua hal yang mereka kerjakan, dan ini ditunjukkan dalam setiap jalan yang ditempuhnya (Baron dan Shane, 2007)
KEWIRAUSAHAAN Teori dan Praktik
80
KEWIRAUSAHAAN Teori dan Praktik 79
Kekuatan Motivasi Nilai hasil pelaksanaan perilaku yang dilaksanakan Probabilitas bahwa hasil tersebut akan terwujud = ×
Pustaka Setia
Motivasi dalam diri individu, akan menghasilkan passion yang tinggi dalam tindakan yang melebihi kebiasaan sebelumnya Passion menjadi api membara yang membakar semangat bekerja Passion menjadi mesin kreativitas yang menghasilkan 1001 alternatif untuk hasil pekerjaan ter-baik Passion menjadi batu karang komitmen untuk berjuang meraih tujuan pekerjaan sampai titik darah penghabisan Passion adalah hasrat yang menyala-nyala, imajinasi kreatif tanpa batas, dan loyalitas yang tidak terbantahkan (Suharli, 2009)
Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa passion adalah semangat yang tinggi dalam diri individu yang diperlukan oleh seorang wirausaha dalam menjalankan bisnis
b. Tenacity
Tenacity dapat diartikan sebagai keuletan, ketekunan, ketabahan,
dan kegigihan Ketekunan merupakan dimensi motivasi yang merupakan ukuran mengenai waktu mempertahankan usahanya Individu-individu yang termotivasi bertahan melakukan suatu tugas dalam waktu yang lama demi mencapai tujuan mereka (Robbins dan Judge, 2008)
Tenacity akan membantu seorang pengusaha untuk menemukan jalan
keluar ketika yang telah diupayakan menghadapi hambatan (Harper, 2005) Dengan memiliki bekal berupa tenacity, para wirausahawan tetap mampu bertahan pada saat orang lain telah menyerah, dan tetap melanjutkan usaha mereka bahkan setelah mengalami kekecewaan yang besar atau kebangkrutan (Baron dan Shane, 2007)
Oleh karena itu, disebutkan oleh Dessler dan Philips (2008) bahwa
tenacity merupakan karakter krusial yang harus dimiliki oleh seorang
wira-usahawan Hal ini akan membantu wirausahawan dalam menciptakan sesuatu yang di luar dugaan ketika mengalami kesulitan Tenacity merupa-kan salah satu bentuk motivasi usaha yang merupamerupa-kan karakter yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha agar seorang wirausaha mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan
C. Memotivasi Anggota-anggota Organisasi
Orang-orang termotivasi atau menjalankan perilaku untuk memuas-kan kebutuhan pribadi mereka Oleh karena itu, dari sudut pandang manajerial, memotivasi anggota organisasi adalah proses memberikan
kesempatan kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan sebagai hasil menjalankan perilaku produktif dalam organisasi Memotivasi adalah satu dari empat aktivitas fungsi memengaruhi yang saling berhubungan yang dilaksanakan oleh wirausahawan untuk menuntun perilaku anggota organisasi ke arah pencapaian tujuan organisasional
1. Arti Penting Memotivasi Anggota-anggota Organisasi
Kebutuhan anggota organisasi yang tidak terpenuhi akan menye-babkan munculnya perilaku anggota organisasi yang tidak semestinya Wirausahawan yang berhasil dalam memotivasi anggota organisasi akan meminimalisasi terjadinya perilaku anggota organisasi yang tidak diingin-kan dan memaksimumdiingin-kan terjadinya perilaku anggota organisasi yang diinginkan Kemudian, wirausahawan dapat meningkatkan kemungkinan bahwa produktivitas anggota organisasi akan meningkat dan memper-kecil kemungkinan bahwa produktivitas anggota organisasi akan menurun Motivasi anggota organisasi yang berhasil adalah sangat penting bagi wirausahawan
2. Strategi Memotivasi Anggota Organisasi
Wirausahawan mempunyai berbagai strategi memotivasi anggota organisasi Tiap strategi tersebut ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan anggota organisasi konsisten dengan yang diuraikan oleh hierarki ke-butuhan Maslow, rangkaian kesatuan kedewasaan-ketidakdewasaan Argyris, dan Motif berprestasi Mc Clelland Pada hakikatnya, strategi tersebut berisi garis pedoman umum yang dapat dilakukan oleh wirausahawan untuk menjamin bahwa anggota organisasi memenuhi kebutuhan tersebut melalui pelaksanaan perilaku anggota organisasi yang sesuai Strategi motivasi manajerial tersebut adalah sebagai berikut