• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II.GAMBARAN UMUM

C. Jenis Alat Tangkap Nelayan dan Pemanfaatan Sumber Daya Laut

C.2. Nelayan Lepas Pantai dan Laut Lepas

C.2.1. Bagan Boat (Boat Lift Net)

Desa Pekan Tanjung Beringin dan Pantai Cermin Kanan tidak ada yang mengoperasikan alat ini. Nelayan yang mengoperasikan alat ini adalah nelayan yang berasal dari luar wilayah Sergai. Bagan Boat merupakan sarana penangkapan kapal motor berkonstruksi kayu keras dengan panjang buritan sampai 20-30m. Daya mesin Bagan Boat 150 PK dan 40-60 GT umumnya memakai mesin merek Kubota, Fuso, Hino, Isuzu, Mitsubishi yang khusus didatangkan dari Taiwan dan Thailand, dilengkapi dengan fasiltas kotak es pendingin, fish fender dan lampu pijar, halogen berkekuatan total 5.000 watt, jumlah 34 lamou holagen setiap lampu memerlukan 1.000 watt.

Alat tangkap ikan utama yang digunakan adalah jaring angkat (lift net) ukuran mata jaring 2-3 mm dan panjang 25-30 m, lebar 15 m2 yang ditarik dan dijatuhkan dengan gulungan (katrol) bertenaga mesin bersamaan dengan kerangka bagan (jaring) terbuat dari kayu-kayu kecil memanjang, dibingkai berbentuk segi empat masuk ke dalam laut sedalam 20-40m. Posisi bergandengan cadik kapal berbentuk tangan-tangan tempat jaring turun naik. Kelengkapan lain yang digunakan radio single band (SSB),

peta laut, kompas manual, atau digital merangkap dengan deteksi fish fender yang menentukan posisi kapal, jarak tempuh, kedalam laut, kecepatan angin, arus laut, posisi ikan. Semuanya mempermudah nelayan dalam mengoperasikan dan untuk berkomunikasi antar sesama nelayan mengenai situasi dan kondisi perairan, cuaca, lokasi ikan, bergerombol serta menghubungkan nelayan dengan toke, pemasaran, dan pihak keamanan laut.

Inisiatif untuk merubah teknologi yang digunakan dalam penangkapan ikan tergantung ketersediaan modal yang sangat sulit dirasakan para nelayan kecil untuk menyediakan modal sebesar itu, hanya nelayan-nelayan modal besar dapat menyediakan dana demi merubah alat tangkap mereka. Keunggulan bagan boat dibanding bagan tradisional terletak pada kemampuan jelajah dan gaya manufer mencakup kawasan wilayah penangkapan ikan (fishing ground). Di samping itu bagan boat lebih mudah dipindah-pindahkan ke lokasi-lokasi tertentu yang dianggap lebih melimpah stok ikannya dengan bantuan alat deteksi ikan yang mampu memantau lokasi ikan, jumlah, jenis dan kedalaman laut dengan radius 1 mil laut. Jenis-jenis ikan yang tertangkap adalah ikan-ikan pelagis antara lain ikan teri, ikan jenis gembung, aso-aso, tenggiri, ikan tongkol, bawal, sotong dan jenis cumi-cumi.

Proses penangkapan merupakan inti kegiatan kru bagan boat dalam menghasilkan produksi ikan maksimal, keberhasilan dalam proses penangkapan berkaitan dengan persiapan yang dilakukan seperti kelayakan bagan boat beroperasi, modal kerja, kerjasama kru. Selain itu planing di darat akan teruji melalui proses

penangkapan, yang tergantung pada kerjasama, keterampilan dan etos kerja masing-masing kru serta peran tekong sebagai pemimpin operasi.

Wilayah penangkapan bagan boat menurut aturan baku berada pada jalur III antara 8-12mil dan perairan bebas, namun pada prakteknya sangat tergantung pada putusan tekong dengan berbagai pertimbangan kecenderungan lokasi kantong ikan. Kemampuan mesin telah mempermudah nelayan bagan boat menjelajahi wilayah penangkapan sampai ke perairan Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu dan Aceh. Penyusuran lokasi penangkapan dilakukan siang sampai sore hari sembari dikombinasikan dengan metode deteksi fish fender. Lalu ketika malam hari penelusuran segera dihentikan jatuh sauh/jangkar dengan pertimbangan telah ditemukan lokasi yang tepat sebab bila malam tiba bagan boat tidak bisa berpindah-pindah lagi. Menyalakan lampu rangsangan harus bedasarkan posisi timbul dan kelamnya bulan sebab cahaya bulan dapat mengganggu bahkan mengalahkan intensitas cahaya lampu halogen sehingga gerombolan ikan tidak mengumpul ke jaring. Tetapi sebelum mati bulan atau masih dalam waktu bulan timbul 3-2 jam sebelum lampu mulai dinyalakan, atau dapat pula walaupun saat terang bulan namun tidak terang total serta cuaca hujan kondisi gelap cahaya bulan sehingga intensitas cahaya rendah menerangi perairan maka bagan boat dapat beroperasi jatuh jaring seiring dinyalakannya lampu rangsangan.

Setelah diamati dan diperkirakan melalui fish fender bahwa gerombolan ikan sudah banyak berkumpul disekitar jaring dan layak untuk ditangkap, maka setelah beberapa jam atau ½ jam berikutnya seluruh lampu utama serentak dimatikan kecuali lampu-lampu pijar pendukung yang dinyalakan terus 100-200 watt yang berfungsi

sebagai stimulan terhadap ikan agar tidak lari menyebar jauh dari dalam jaring dan agar ikan-ikan yang agak jauh dari jaring semakin mendekat mengumpul. Kira-kira ½ jam berikutnya secara berlahan jaring bagan ditarik (katrol) ke atas oleh para anggota kru secara bergantian atau dapat ditarik dengan menggunakan mesin katrol kapal yang telah tersedia sampai ikan-ikan tertangkap. Lalu ikan-ikan disortir menurut jenis, besar untuk dikategorikan dalam msaing-masing kotak pendingin dan wahana lainnya seperti drum, fiber, kulkas/kerangjang/goni atau ember plastik). Bila ikan hasil tangkapan belum mencapai target, maka proses penangkapan (jatuh Jaring) tersebut akan terus dilakukan berulang-ulang pada daerah yang sama atau keesokan harinya dengan daerah yang berbeda (operasinya tetap malam hari) biasanya dalam satu malam turun angkat jaring dapat dilaksanakan sebanyak 2-3 kali.

Penangkapan akan dihentikan bila hasil tangkapan telah memenuhi target atau dianggap berhasil, penangkapan dihentikan sementara jika lokasi penangkapan dekat dengan wilayah pangkalan bongkar muat dan hasil penangkapan melimpah, sementara akomodasi masih tersedia maka hasil produksi harus dibongkar lalu langsung kembali beroperasi sampai persediaan bahan makanan habis. Waktu yang dibutuhkan untuk bagan boat dalam melakukan trip operasi sekitar 4-5 hari, saat musim Barat tiba terkadang tidak teratur beroperasi namun tetap pergi melaut.

Pengeluaran uang belanja operasional dalam satu trip sekitar Rp. 5.000.000-7.000.000,-. Uang belanja boat tersebut biasany dipegang oleh toke atau dipegang oleh tekong. Uang tersebut mencakup biaya perehaban boat yang difakturkan kepada hutang para kru bagan boat yang selalu diperhitungkan saat akhir masa operasi (wajib bayar)

dari penghasilan penjualan ikan hasil tangkapan. Biaya pengeluran sering kali menurut para awak dimar-ap toke dan tekong sedangkan para anggota tidak diperkenankan mengetahui kalkulasi perbelanjaan tekong yang notabene adalah tangan kanan toke. Mereka tidak tranparan berkenaan dengan pengeluaran setiap trip operasi, hal tersebut lumrah dikalangan anggota kru bagan boat.

Bila dalam satu operasi penangkapan hasil tangkapan tidak mampu menutupi biaya operasional berbelanjaan karena minimnya pendapatan atau sama sekali tidak mendapat hasil tangkap maka kru bagan boat akan sangat merugi sebab mereka terhitung terutang kepada toke, maka untuk menutupi hutang tersebut dibebankan kepada hasil tangkap berikutnya. Dalam hal merugi ini toke sama sekali tidak menanggungjawabi atau kerugian tidak dibebankan kepadanya, semuanya dibebankan kepada tekong dan kru bagan boat bersangkutan. Bila masa panceklik berkelanjutan dari masa operasi ke operasi selanjutnya maka proses terhutang tersebut akan membengka, dan toke akan memutuskan hubungan atau kontaro kerja dengan tekong beserta krunya, maka posisi unit bagan boat tersebut dengan gantung artinya tidak dioperasikan menanti datangnya tekong baru dan kru-kru yang baru.

Resesi penangkapan membawa para nelayan bagan boat kepada keterlilitan hutang yang mengarah kepada jaringan patron-klien, apalagi saat kebutuhan uang mendesak misalnya menghadapi hari-hari besar seperti halnya hari raya Idul Fitri tekong akan meminta pinjaman kepada toke, kru biasa tidak berurusan kepada toke maka mereka meminjam kepada tekong. Pola patron-klien sudah mengental di kalangan nelayan baik nelayan besar maupun nelayan tradisional. Nelayan toke sengaja membuat

kondisi seperti demikian agar ketergantungan para nelayan sangat besar kepadanya mulai dari pinjaman operasi, belanja boat, pembagian hasil serta pinjaman lainya yang semuanya menjurus agar hasil tangkapan pun didistribusikan melalui tangan-tangan toke.

Keadaan paceklik dan hutang yang menumpuk akan membuat para nelayan bagan boat berusaha untuk mendapatkan hasil tangkapan yang banyak. Hal tersebut akan membuat mereka berusaha mengeksploitasi sumberdaya laut secara berlebihan. Mereka menjadi tidak memandang keadaan ekosistem laut yang akan rusak nantinya. Mereka hanya berfikir bagaimana memperoleh hasil tangkapan yang besar, untuk membayar hutang mereka kepada para toke. Contohnya perilaku para kru yang melakukan aktifitas memancing untuk menambah penghasilan diluar pembagian kerja sebagai kru bagan boat. Aktifitas memancing dilaksanakan saat siang hari sewaktu istirahat, sebab malam hari memancing tidak memungkinkan dilakukan karena mereka akan dituntut aktif menjaring atau mengatrol ikan. Hasil memancing tidak termasuk pedapatan bagan boat namun pendapatan individu awak kapal. Lokasi pemancingan dicari berdasarkan petunjuk fish fender biasanya tekong selalu mengarahkan kapal kelokasi-lokasi berstok ikan anatar zona terumbu karang yang tampak jelas memiliki karakter hidup atau mati menurut tampilan layar fish fender.

Dokumen terkait