• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II.GAMBARAN UMUM

C. Jenis Alat Tangkap Nelayan dan Pemanfaatan Sumber Daya Laut

C.1. Nelayan Kawasan Hutan Mangrove dan Pantai

Komunitas nelayan hutan bakau (mangrove) dan kawasan pantai merupakan mayoritas kelompok nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan tradisional terbatas kemampuan daya jelajahnya dan aktif beroperasi hanya disekitar kawasan bakau dan pantai disebut juga perikanan rakyat.

C. 1. 1. Nelayan Pencari Biota-biota Bakau

Saat ini penduduk desa Pekan Tanjung Beringin dan desa Pantai Cermin Kanan yang melakukan aktifitas penangkapan biota laut yang ada di lokasi hutan bakau sudah hampir tidak ada lagi. Hal tersebut dikarenakan lokasi hutan bakau di dua wilayah ini hampir tidak ada lagi yang kondisinya masih baik. Keberadaan nelayan ini hanya beberapa orang saja yang tetap aktif melakukan penangkapan biota-biota laut di pinggiran bakau tersebut.

Hewan yang banyak menghuni bakau diantaranya: dari jenis kerang-kerangan, hewan melata, ketpiting, siput, kepah dan lainnya. Kerang-kerangan yang hidup di bakau selalu berkelompok, untuk menandakan tempat mereka tidak terlalu sulit, biasanya mereka hidup berkoloni didalam lumpur bakau atau pasir lunak. Sementara untuk kepiting dan siput biasanya mereka berada di sekita akar-akar bakau yang

berlumpur dan beriaran. Para nelayan cukup menggunakan jaring yang khusus dapat menangkap kepiting. Biasanya mereka akan menebar jaring mereka di sekitar akar-akar bakau ketika air laut sedang pasang, dan setelah surut maka mereka akan datang kembali kelokasi dan mengambil jaring kepiting tersebut. Biasanya mereka selalu mendapatkan 5-10 ekor sekali menebar jaring setiap harinya.

Pencarian biota-biota dilakukan biasanya pada saat air sedang surut di pagi hari, siang atau sore sehingga untuk berjalan di lumpur hutan bakau tersebut tidak akan sulit. Pekerjaan pencari biota-biota ini biasanya didominasi kaum wanita dewasa dan anak laki-lakinya, namun laki-laki dewasa dapat melakukan aktifitas ini meskipun jumlahnya lebih sedikit.

Biasanya mereka akan mengumpulkan hasil pencarian mereka kedalam wadah masing-masing berupa ember, lalu bila ember mereka penuh maka akan dimasukkan kedalam satu wadah yang terbuat dari goni plastik yang berada didalam satu ember pastik atau baskom, lalu kemudian mereka akan menggotongnya secara bersama-sama. Pekerjaan ini bukanlah mata pencaharian pokok masyarakat nelayan, namun untuk sekedar menambah penghasilan atau untuk dikonsumsi sendiri oleh keluarga mereka.

Hasil pencarian nelayan ini sekembalinya dari lokasi akan langsung dibersihkan dan kemudian di jual kepada pedagang pengumpul yang menjadi langganan mereka. Biota-biota ini saat ini dijual dengan harga Rp.700-800,- per kilo, sementara pedagang pengumpul akan menjualnya dipasaran dengan harga Rp. 1100-1400,- per kilo.

C. 1. 2. Nelayan Penangkap Ketam dan Kepiting

Sama halnya dengan nelayan pencari biota-biota, nelayan penangkap ketam dan kepiting yang kebanyakan beroperasi di hutan bakau, saat ini sudah jauh berkurang jumlah nelayan yang melakukan aktifitas ini. Hal ini terjadi akibat kemerosotan kualitas dan kuantitas hutan bakau akibat perubahan fungsi, dan hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil tangkap mereka dimana populasi ketam dan kepiting ini sudah berkurang. Diantara dua wilayah ini, nelayan yang melakukan aktifitas penangkapan kepiting yang paling banyak adalah di desa Pantai Cermin Kanan. Sementara di Pekan Tanjung Beringin hampir tidak ada nelayan yang melakukan aktifitas ini. Hal tersebut dikarenakan nelayan di desa Pekan Tanjung Beringin lebih terkofokus dengan jaring Gembung sebagai alat tangkapnya. Dan rata-rata nelayan di desa ini adalah nelayan buruh yang notabene tidak memiliki sampan/kapal pribadi. Di desa Pantai Cermin Kanan banyak yang melakukan penangkapan ini karena menurut mereka keadaan pesisir mereka memang dari dahulu sangat banyak kepitingnya sebagai sumber daya alam. Ditambah lagi biasanya nelayan yang melakukan aktifitas ini adalah nelayan dengan modal yang pas-pasan. Mereka juga menimbang struktur harga kepiting yang semakin hari semakin mahal harganya, jarang harga kepiting yang bisa turun drastis harganya. Ditambah lagi di daerah tersebut adalah wilayah wisata. Sehingga bila mendapat hasil tangkap akan segera laku terjual ke pedagang penampung dengan harga yang cukup mahal per kilonya. Saat ini harga kepiting per kilonya Rp. 15.000,-

Penangkapan ketam dan kepiting ini termasuk zona perikanan pantai. Mereka biasanya menebar jaring mereka ke wilayah bakau yang hampir menuju laut kira-kira

30-50 meter dari pinggiran hutan. Biasanya mereka menebar jaring jam 4 pagi lalu sore datang kembali kelokasi sekitar jam 3 sore untuk melihat hasil tangkapan mereka. Jaring yang mereka gunakan biasanya adalah jaring yang di rajut sendiri oleh mereka. Mereka akan membeli bahan-bahan yang menjadi bahan utama pembuatan jaring yaitu benang, besi yang berbentuk bulat lonjong yang berukuran 1cm sebanyak yang mereka butuhkan, lalu jarum kait untuk mengkait benang-benang tersebut. Mereka biasanya membuat jaring dengan panjang kira-kira 10-30m dengan tinggi 40-50cm tergantung modal yang mereka punya.

Hasil tangkapan mereka biasanya tergantung musim. Bila sekitar bulan Desember sampai pertengahan bulan February biasanya hasil tangkapan mereka banyak. Namun di sekitar bulan Maret sampai awal November maka hasil tangkap mereka tidak terlalu banyak. Biasanya hasil tangkapan mereka akan di jual kepada para pedagang yang memang khusus menampung hasil laut berupa kepiting. Para nelayan biasanya menjual kepada pedagang penampung yang menjadi langganan mereka.

Ada hal yang cukup menarik dari hubungan pedagang penampung dan nelayan penangkap kepiting ini. Untuk mengikat para nelayan agar mau menjual hasil tangkap kepiting mereka, biasanya para pedagang ini akan langsung mendatangi si nelayan sehari sebelum si nelayan pergi kelaut. Hal ini mereka lakukan agar si nelayan tidak menjualkan hasil tangkapnya ke pedagang yang lain. Dan para pedagang ini akan memberi uang muka awal untuk nelayan sebagai tanda jadinya. Hal tersebut dikarenakan lokasi Pantai Cermin Kanan yang saat ini sedang mengembangkan wisata pantainya yang cukup terkenal yaitu Theme Park. Di lokasi wisata tersebut banyak

sekali rumah makan atau yang biasa disebut kafe oleh warga setempat menyediakan berbagai menu makanan yang terbuat dari bahan kepiting atau ketam laut yang harganya cukup mahal per porsinya sekitar Rp. 45.000-75.000,-. Dan menurut para pemilik kafe makanan yang terbuat dari bahan kepiting dan ketam tersebutlah yang menjadi primadona oleh para pengunjung pantai.

C. 1. 3. Penjaring Ikan

Alat tangkap yang digunakan nelayan penjaring ini adalah jaring insang (gill net) yang berbentuk empat persegi panjang dan dilengkapi dengan pemberat-pemberat pada tali ris dibawahnya dan pelampung-pelampung pada tali ris di atasnya. Jaring ini dipasang tegak lurus dalam air dan menghadang arah gerak ikan atau dipasang melingkar. Ikan-ikan tertangkap karena tersangkut pada mata jaring atau tergulung pada jaring tersebut. Jenis ikan yang sering tertangkap oleh jaring ini adalah ikan belanak, ikan bulan-bulan, bandeng, tertangkap juga kedalam jaring saat dioperasikan. Pembuatan jaring dirakit sendiri dengan membeli bahan-bahan yang diperlukan seperti benang nilon, pelampung dan timah pemberat. Panjang jaring berkisar 15-20 m, lebar 1-1,5 m. Total harga sebuah jaring gill net ini sekitar Rp. 100.000,- lebih murah dan hemat bila dibandingkan membeli jaring yang telah siap dari toko, begitupun jaring yang bentuk siap dari toko biasanya terlalu panjang dan lebar sehingga tidak sesuai diterapkan di perairan disana, serta daya tahan jaringnya pun kurang kuat dibanding buatan nelayan sendiri.

Disamping alat tangkap jaring, alat tangkap jala (Cast Net) pun digunakan nelayan untuk berburu ikan daerah bakau, mereka menelusuri air setinggi pinggang

lantas menyebar jala pada lokasi-lokasi yang dianggap berikan. Jenis ikan yang tertangkap hampir sama dengan penjaring, aktivitas menjala hanya dilakukan seorang nelayan sedangkan menjaring terdiri dari dua orang nelayan dan tidak tertutup kemungkinan mereka menggunakan transportasi sampan (perahu) dalam mempelancar aktifitas menangkap ikan.

C. 1. 4. Nelayan Pukat Pantai (Beach Seine Net)

Pukat pantai lazim disebut dengan jaring tepi, nelayan yang mengoperasikan biasnya selalu berkelompok 5-10 orang bahkan lebih terdiri dari seorang kepala regu, 2 orang pembangkit pukat lebihnya anak buah biasa.

Bentuk pukat ini rata-rata lebar kotak jaring awal kurang lebih 5cm, lebar jaring penghalang atas bawah 1 m dan lebar kotak kantong jaring tempat terperangkapnya ikan 2 mm dengan demikian ikan kecil 1cm bila masuk kantong jaring maka akan terperangkap. Jaring juga dilengkapi dengan pelampung pengapung berjarak 1m antar pelampung terbuat dari bahan gabus jika tidak nelayan menggantikan dengan sandal bekas, sebagai pemberat terbuat dari batu atau timah seberat 3-6 Kg yang terletak pada ujung jaring pukat tepi.

Harga satu unit pukat tepi Rp 7.000.000 jika dibeli siap, namun nelayan cenderung merakit sendiri bahan-bahan jaring sehingga terbentuk sebuah jaring pukat yang siap pakai dengan alasan lebih hemat biaya dan kualitas jaring lebih tahan lama atau kuat dibanding jaring yang dibeli siap pakai dari toko. Pembuatan satu unit jaring membutuhkan sekitar 1 bulan yang dikerjakan secara bersama-sama dengan anggota-anggota.

Saat ini yang masih menekuni alat tangkap model pukat tepi hanya nelayan yang tidak memiliki modal yang besar, baik di desa Pekan Tanjung Beringin maupun Pantai Cermin Kanan. Para nelayan dalam operasi penangkapan selalu membawa bekal makan siang (akomodasi) sebab tidak ada waktu untuk kembali ke rumah saat menjatuhkan jaring di pantai yang agak jauh dari tempat tinggal mereka atau mereka cukup makan dan minum di warung-warung terdekat dengan pusat operasi dan penjual ikan tangkapan.

Pukat tepi beroperasi di perairan laut yang landai atau berlumpur harus menghindari kawasan terumbu karang sebab akan menghambat kelancaran jaring, karena jaring akan tersangkut pada karang dan akan fatal akibatnya pada jaring. Namun tidak jarang juga ada beberapa nelayan yang berani menebarkan jaring di areal trumbu karang, biasanya mereka mengambil resiko tersebut dikarenakan alasan ketiadaan ikan-ikan di luar perairan trumbu karang tersebut. Biasanya mereka yang menebar jaring di areal trumbu karang dengan memperhitungkan titik rawan dan mekanisme penarikan jaring untuk menghindari kerusakan.

Faktor musim sangat mempengaruhi kinerja nelayan pukat tepi, arus deras saat bulan-bulan musim Barat Desember-Maret terkadang mengganggu penebaran dan penarikan jaring sebab jaring akan menyamping terbawa arus menyebabkan ikan sukar terperangkap, tetapi suasana ini tidak selalu datang. Musim Barat menurut kebiasaan nelayan ikan cenderung ke pinggir, air laut keruh maka musim ini menjadi masa panen nelayan pukat tepi. Dibandingkan pada Musim Timur bulan Juni-September dan musim peralihan (Musin Selatan) bulan April, Mei, Oktober, Nopember menurut kebiasaan air

laut tenang, jernih menyebabkan kecenderungan ikan akan ketengah, dan dikarenakan air laut terlihat jernih, ikan akan melihat ketika jaring sedang ditebarkan sehingga ikan-ikan akan sangat sulit untuk terperangkap di jaring. Bila keadaan begini maka nelayan pukat tepi melaksanakan operasi pada malam hari. Dimana menurut mereka keliaran ikan berkurang saat malam. Namun para nelayan pukat tepi ini bila mengadakan operasi di malam hari akan bersaing dengan para nelayan bagan pancang, bagan boat dan pukat cincin sebab mereka aktif melampu ikan (menangkap ikan) di tengah laut dengan demikian lampu ransangan akan menghambat arah ikan ke peinggir, ikan akan lebih tertarik kepada gejala fototaksis (gerak rangsang makhluk hidup untuk bergerak menuju cahaya atau benda yang bercaya) alat-alat tangkap moderen.

Hambatan teknis maupun non teknis sangat mempengaruhi hasil pendapatan mereka, semakin hari pendapatan mereka semakin menurun sebab utamanya adalah persaingan alat tangkap perairan laut yang makin kompleks, daya efektifitas pukat tepi dan semakin berkurangnya persediaan ikan (over fishing) di pesisir dan laut. Seperti penuturan seorang informan Agustaf (Pekan Tanjung Beringin):

Dulu kita tidak perlu ketengah laut untuk menangkap ikan, cukup dipinggir-pinggir saja sudah banyak ikan yang dapat. 1 atau 2 kali tebar jaring ikannya sudah banyak yang dapat. Dulupun musim mempengaruhi hasil tangkapan tapi sekarang karena ikan mulai berkurang jadi musim tidak diperhitungkan lagi. Banyaknya persaingan antar nelayan aja sudah membuat hasil laut berkurang. Apalagi

ditambah nelayan yang datang dari luar pakai pukat yang seharusnya tidak boleh dipakai di pinggir, maka ikan-ikan jadi cepatlah habisnya”.

Pemorsiran nelayan pukat turun untuk melaut terdorong oleh semakin sulitnya mendapatkan hasil tangkap maksimal sehingga mengenyampingkan faktor-faktor musim (gejala alam) terkecuali cuaca yang sangat rawan baik aktifitas turun beroperasi, selama ini musim seyogyanya menjadi perhitungan kaun nelayan dalam penangkapan ikan.

Hasil tangkap nelayan pukat tepi berupa ikan pelagis seperti ikan aso-aso/gembung, gembung kuring, teri/bada, bawal, tenggiri, pandan-pandan, sinangin dan lain-lain. Ikan demersal (button Fish) seperti sumbelang, pari, jenis udang-udangan (udang putih, udang kelong, udang windu, udang batu, udang kotak dan lain-lain). Biasanya jenis-jenis hasil tangkap sesuai dengan musimnya, namun saat ini tidak tentu lagi.

Ikan hasil penangkapan sangat bervariasi dan masih berdasarkan kecenderungan musim-musim koloni-koloni jenis ikan yang terdapat dalam areal perairan. Tetapi tidak jarang nelayan hanya mendapatkan banyak berjenis-jenis ikan namun sangat sedikit hasilnya sehingga harus dipilih ikan-ikan yang berkualitas baik, berharga mahal bila dipasarkan seperti tenggiri, aso-aso/gembung dan lain-lain. Ikan-ikan seperti itu nelayan menyebutnya dengan istilah lauk baik (ikanbagus) sedangkan ikan berharga rendah disebut dengan istilah lauk campur. Biasanya ikan-ikan tersebut tidak dijual, nelayan mengolahnya menjadi ikan asin supaya agak terangkat harganya jika dijual kepasar.

Saat operasi penangkapan di antara kru nelayan pukat terkadang mengkombinasikan alat tangkap tepi dengan jaring lampu disebut dengan istilah melampu, dengan melilitkan jaring ke arah kantong pukat kegunaannya menangkap ikan-ikan yang terlepas dari jaring pukat, dilaksanakan ketika jaring utama telah berada 10-15m dari tepi pantai. Jika ikan dirasa banyak masuk jaring tetapi banyak yang terlepas maka dihambat dengan jaring lampu, biasanya dilakukan 2-3 orang nelayan dengan merenangkan jaring untuk melilitkannya. Jaring lampu sama seperti jaring gill net, besar mata jaring 1-2cm dilengkapi dengan pemberat. Hasil tangkapan jaring ini hanya dibagi kepada nelayan aktif melampu sebagai penambah dari pembagian hasil tangkapan pukat tepi.

Pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan ada dua jenis. Yang pertama dengan sistem penjualan hasil langsung kepada toke-toke mereka, yang kedua dengan menjualnya secara langsung dengan sistem borong per keranjang kepada para pedagang berjalan atau langsung dengan konsumen yang biasanya adalah masyarakat setempat dengan harga kiloan. Bila dijual kepada si toke, maka harga akan ditentukan oleh toke mereka tersebut. Biasanya nelayan yang menjual kepada toke adalah nelayan yang mempunyai ikan patron-klien. Si toke adalah patron dan si nelayan adalah kliennya. Sistem ini ada dikarenakan si nelayan adalah nelayan yang tidak memiliki kapal/boat sendiri sehingga mereka bekerja membawa kapal milik toke dengan perjanjian bahwa hasil yang ditangkap akan dijual hanya kepada toke. Ada pula yang hubungan antara toke dan nelayan adalah hubungan pinjaman modal melaut. Biasanya nelayan tersebut memiliki perahu sendiri namun ketika melaut mereka meminjam atau meminta dana

dari seorang toke ketika mereka akan melaut. Hal ini dilakukan oleh nelayan karena mereka kehabisan modal atau sedang dalam kesulitan keuangan sehingga mereka akan berhutang dengan si toke. Pembayaran yang dilakukan oleh nelayan dengan cara menjual hasil laut mereka kepada toke. Mekanisme lelang melibatkan beberapa orang pembeli yang terlebih dahulu berembuk, mengumpulkan uang untuk modal membeli ikan tersebut, setelah ikan sesuai harganya dengan nelayan ikan yang dibeli itu dilelangkan kembali kepada anggota-anggota pengumpul modal tadi. Jika telah ada yang bersedia membeli maka ia akan mengembalikan modal awal hasil pengumpulan untuk membeli ikan dari nelayan kepada pihak-pihak yang terlibat rembuk pengumpul modal tersebut.

C. 1. 5. Nelayan Jaring Gembung (Jaring Salam/Gill Net)

Komunitas nelayan yang menggunakan jaring gembung lebih banyak di desa Pekan Tanjung Beringin. Hal ini terlihat dari aktifitas mereka yang setiap hari melakukan penangkapan dan perawatan jaring di pelataran-pelataran mereka. Menurut data Base Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2007 perbandingan antara kedua desa ini, jumlah nelayan yang menggunakan jaring ini adalah untuk desa Pekan Tanjung Beringin sebanyak 84 nelayan dan untuk desa Pantai Cermin Kanan sebanyak 15 nelayan. Jaring ini banyak digunakan nelayan yang pemasangannya dibiarkan hanyut mengikuti arus dan salah satu ujungnya diikatkan pada perahu/kapal atau nelayan sering meninggalkan/menahan jaring tersebut selama beberapa jam sebelum ditarik kemabali yang ditandai dengan pelampung-pelampung

kecil sebagai tanda lokasi jaring terpasang. Tetapi jaring ini juga dapat dilingkarkan sesuai dengan inisiatif nelayan dalam pengoperasiannya.

Wilayah penangkapan jaring adalah jalur I, 3 mil laut. Namun pada prakteknya nelayan sampai ke jalur II dan III, 4 sampai 12 mil laut dan zona terbuka bagi seluruh nelayan karena biasanya kemampuan mesin kapal untuk melakukan pengoperasian ini sudah memadai untuk mengadakan penjelajahan daerah penangkapan. Pengoperasian alat ini dibantu dengan kapal/boat bermesin 3-15 PK disamping mesin tempel. Satu unit kapal/boat terdiri dari 1-2 orang anggota kru, panjang jaring 2-4 set atau sama dengan 200-400 m. Jaring terbuat dari benang nilon, ditambah pelampung, timah pemberat dan tali ris untuk penarik jaring. Lebar mata jaring tergantung jenis dan besar ikan yang akan ditangkap yaitu anak pari, hiu dan ikan sebelah dapat pula tertangkap. Tetapi pada umumnya jaring ini dikhususkan untuk menangkap jenis-jenis ikan aso-aso/gembung, gembung kuring, dan lainnya. Harga jaring gembung berkisar Rp. 11.000.000,- dengan ukuran 24 kaki.

Nelayan jaring gembung beroperasi 2 kali sehari, waktu pagi hari jam 05.00-10.00 WIB kemudian dilanjutkan jam 15.00-21.00 WIB. Pemilihan waktu tersebut berhubungan dengan perubahan pola siklus angin darat menuju laut dan dari laut menuju darat hal ini menurut nelayan berkorelasi dengan kecenderungan ikan untuk timbul dalam bermain dan mencari makan. Nelayan jaring ini juga beroperasi bersamaan dengan bagan boat saat mengatrol jaringnya untuk memburu ikan-ikan gembung/aso-aso, menurut mereka bagan sulit untuk menangkap ikan-ikan tersebut

yang sering terlepas dari perangkap mereka untuk itu nelayan jaring salam telah siap menghambat ikan-ikan itu dengan alat tangkap yang mereka miliki.

Dalam pengoperasiannya jaring gembung ini mudah sekali mengalami kerusakan. Kerusakan jaring bisa saja diakibatkan tersangkut di karang atau ada kepiting yang terperangkap yang dapat memutuskan benang-benang jaring karena terkadang dioperasikan didasar laut. Dan bila dalam kondisi seperti ini nelayan terpaksa selalu menambal agar jaring kembali layak pakai. Untuk memperbaiki jaring biasanya akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Bila kerusakannya tidak begitu parah maka nelayan akan mengeluarkan dana minimal Rp. 100.000 perharinya, tetapi bila kerusakan cukup parah maka nelayan akan mengeluarkan dana bisa sampai minimanl Rp. 500.000,- perharinya. Kegiatan penambalan ini biasanya dilakukan disaat para nelayan sedang tidak melaut, dan dilakukan dipelataran para toke mereka.

C. 1. 6. Nelayan Jaring Udang (Trammel Net)

Penangkapan menggunakan jaring udang mulai berkembang setelah nelayan mengetahui banyaknya sumber daya jenis udang di perairan Serdang Bedagai. Ditambah lagi nilai jual berbagai jenis udang yang sangat tinggi saat ini, membuat para nelayan tertarik untuk menangkapnya. Desa yang banyak menggunakan alat tangkap ini adalah desa Pantai Cermin Kanan dengan jumlah 62 nelayan, sementara untuk wilayah desa Pekan Tanjung Beringin saat ini menurut data Base Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2007 tidak ada yang menggunakan alat tangkap ini. Mulanya tidak ada alat khusus yang diterapkan, udang-udang tertangkap oleh jaring-jaring yang sering mereka gunakan dan yang tertangkap hanya beberapa ekor saja.

Pengalaman dan nilai harga jual yang tinggi mendorong nelayan untuk menyiapkan alat khusus untuk menangkap udang-udangan yaitu jaring udang (Trammel Net).

Jaring udang adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari tiga lapis jaring, dimana ukuran mata jaring bagian dalam lebih kecil sekitar 2 cm daripada kedua lapis jaring luarnya selebar 4 cm. Tujuan utama penangkapan alat ini adalah jenis udang sehingga pemasangannya dilakukan di dasar perairan. Bahan jaring terbuat dari benang pukat dan benang nilon biasanya berwarna-warni, bagian dalam berwarna putih sedangkan luar biru atau merah tetapi ada juga seluruhnya benang jaring berwarna polos putih atau biru. Panjang jaring berkisar 20-30 m. Jaring udang hanya dapat dibeli dalam bentuk siap pakai sebab nelayan tidak mampu menjalin tiga lapis seperti jaring gembung. Harga rata-rata per unit jaring udang berkisar Rp. 300.00-500.000,-

Pengoperasian alat tangkap masih termasuk aktifitas perikanan pantai di jalur I dengan bantuan biduk atau boat berkekuatan 2 PK. Nelayan kadang mengkombinasikan

Dokumen terkait