I. PENDAHULUAN
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Data dari hasil penelitian ini dapat digunakan menjadi bahan acuan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kasus trauma kapitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Trauma Kapitis 2.1.1. Definisi
Trauma kapitis diartikan sebagai suatu bentuk trauma mekanik terhadap kepala yang dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan menyebabkan gangguan fungsi neurologis seperti gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial yang dapat bersifat temporer maupun permanen12.
2.1.2. Anatomi yang Terlibat
Anatomi tubuh yang bersangkutan dengan kejadian trauma kapitis adalah :
1. Kulit Kepala (Scalp)
Kulit kepala terdiri atas 5 lapisan, yang biasa disingkat sebagai SCALP, yaitu1 :
a. Skin atau lapisan kulit
b. Connective Tissue atau lapisan jaringan ikat
c. Aponeurosis atau lapisan perlekatan antar otot (galea aponeurotika) d. Loose Areolar Tissue atau jaringan penyokong longgar
e. Perikranium 2. Tulang Tengkorak
Tulang tengkorak dapat kita bagi menjadi 2 bagian, yaitu kubah (kalvaria) dan basis kranii. Kalvaria, terutama pada bagian temporal merupakan lempengan tulang yang tipis, namun pada bagian ini dilapisi oleh otot temporal. Basis kranii dapat dibagi atas 3 bagian atau fossa, yaitu fossa anterior, fossa media dan fossa posterior.1
3. Meningen
Meningen adalah suatu struktur yang berebentuk selaput yang menutupi seluruh permukaan otak. Selaput meningen terdiri atas 3 lapisan, yaitu : duramater, araknoid dan piamater. Selaput duramater adalah selaput yang keras
dan terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan bagian dalam dari tulang kranium. Dibawah lapisan duramater adalah lapisan araknoid.
Lapisan araknoid adalah lapisan kedua dari meningen. Strukturnya tipis dan tembus pandang. Sedangkan pada lapisan ketiga terdapat lapisan piamater.
Piamater melekat erat pada korteks serebri. Didalam rongga sub araknoid terjadi sirkulasi cairan serebrospinal.1
4. Otak
Otak manusia dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum terdiri atas 2 hemisfer, hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Kedua hemisfer ini dipisahkan oleh falks serebri, yaitu suatu struktur yang merupakan lipatan dari lapisan duramater. Batang otak terdiri atas mesensefalon, pons dan medulla oblongata. Serebelum terletak pada fossa posterior. Fungsinya adalah mengatur sistem keseimbangan.1
5. Cairan Serebrospinal
Cairan serebrospinal (CSS) diproduksi oleh pleksus khoroideus. Kecepatan produksinya adalah 20ml/jam. Dalam sirkulasinya CSS mengalir dari ventrikel lateral menuju foramen monro hingga mencapai ventrikel III, lalu ke aquaductus sylvii dan sampai ke ventrikel IV. Selanjutnya CSS akan masuk ke ruang subaraknoid. Pada akhirnya CSS akan direabsorbsi oleh vili araknoid menuju sirkulasi vena.1
Gambar 2.1. Anatomi yang terlibat pada kasus trauma kapitis.
2.1.3. Fisiologi yang Terlibat 1. Tekanan Intra Kranial
Ruangan intrakranial diisi oleh jaringan otak, darah dan CSS. Tiap unsur ini akan menempati volume tertentu. Dalam keadaan normal penempatan volume ini akan menghasilkan tekanan yang berkisar antara 50-200 mmH2O atau 4-15 mmHg. Secara fisiologis tekanan intra kranial dipengaruhi oleh aktivitas sehari hari. Tekanan intrakranial dapat meningkat untuk sementara waktu melebihi batas normal. Peningkatan volume pada unsur-unsur pengisi ruangan intrakranial akan menimbulkan desakan ruang dan meningkatkan tekanan intrakranial.13
2. Hipotesa Monro-Kellie
Hipotesa Monro-Kellie menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak akan bisa mengalami perluasan. Jadi, bila salah satu unsur pengisi mengalami pertambahan volume, maka unsur lain akan berkompensasi dengan mengurangi volumenya. Mekanisme kompensasi ini terbatas. Mekanisme yang terjadi adalah peningkatan aliran cairan serebrospinal ataupun mekanisme yang fatal seperti penurunan aliran arah ke otak atau pergeseran otak ke arah bawah (herniasi).13
2.1.4. Patofisiologi
Pukulan atau benturan dapat menyebabkan trauma kapitis akibat dari akselerasi yang cepat, deselerasi, maupun dampak trauma itu secara langsung.
Trauma kapitis juga dapat diakibatkan oleh cedera yang bersifat penetrasi langsung ke otak. Akibat dari trauma kapitis adalah terganggunya fungsi otak yang dapat berlangsung sementara maupun permanen dan juga kerusakan struktur otak yang mungkin tidak dapat dideteksi secara langsung. Tingkat keparahan cedera amatlah luas, jadi tidak semua cedera, pukulan ataupun benturan dapat menyebabkan trauma kapitis.14
Trauma kapitis dapat menyebabkan cedera otak yang bersifat fokal ataupun difus. Cedera ini dapat disertai maupun tidak disertai fraktur tengkorak.
Cedera otak yang bersifat fokal dapat berbentuk kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural ataupun perdarahan intraserebral. Sementara untuk cedera yang bersifat difus hanya menyebabkan gangguan fungsional seperti komosioo atau gegar otak dan cedera struktural difus.15
Lesi kontusio adalah lesi perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik titik besar dan kecil, tanpa adanya kerusakan selaput duramater. Lesi kontusio yang timbul dibawah area benturan disebut dengan lesi kontusio “coup”.
Jika lesi kontusio timbul di area yang bersebrangan dengan lokasi benturan (yang tidak terkena kompresi) maka lesi ini disebut dengan lesi kontusio
“countercoup”. Jika lesi kontusio timbul diantara “coup” dan “countercoup”
maka lesi ini disebut dengan lesi kontusio intermediate. Ketiga jenis lesi kontusio ini timbul akibat akselerasi kepala saat benturan yang bersifat linear maupun rotatorik.16
Cedera otak yang terjadi akibat dari benturan ataupun trauma disebut dengan cedera otak primer. Beberapa menit hingga beberapa jam setelah terjadinya cedera primer ini sering terjadi gangguan aliran darah di otak. Artinya suplai oksigen dan glukosa untuk otak akan terganggu. Neuron dan sel-sel otak amat bergantung terhadap suplai glukosa dan oksigen yang dibawa oleh darah.
Cedera primer mengakibatkan hilangnya kemampuan otak untuk mengatur vaskularisasi dengan baik. Akibatnya akan terjadi edema yang akan berujung pada
herniasi melalui foramen tentorium, foramen magnum ataupun dibawah falks serebri. Akibat dari herniasi ini, jaringan otak akan mengalami iskemi hingga terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut dengan cedera otak sekunder. Oleh karena itu, pada pasien trauma kapitis amat diperlukan perhatian khusus jalan nafas dan gerak nafas yang adekuat, untuk mencegah cedera otak sekunder yang dapat berakibat kematian.13,14
2.1.5. Klasifikasi
Trauma kapitis dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 kelompok, yaitu : mekanisme terjadinya cedera kepala, berat cedera kepala dan morfologi cedera kepala.
1. Mekanisme Terjadinya Cedera Kepala
Berdasarkan mekanismenya, trauma kapitis dapat dikelompokkan menjadi trauma tumpul dan trauma tembus. Trauma tembus misalnya terjadi akibat benturan ataupun pukulan benda tumpul. Trauma tembus terjadi akibat tusukan ataupun tembakan.12
2. Beratnya Cedera Kepala
Untuk mengelompokkan berat atau ringannya suatu cedera kepala, digunakan skala koma glasgow (GCS). Penilaian GCS dilakukan dengan mengobservasi kemampuan pasien dalam membuka mata, respon verbal dan respon motoriknya. Nilai total GCS adalah 15. Suatu cedera kepala dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan apabila skor GCS-nya 13-15, sedang apabila skornya 9-12 dan berat apabila skornya 3-8.12
3. Morfologi
a. Fraktur Kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada kalvaria ataupun basis kranii.
Bentuknya dapat berupa garis (linear) ataupun seperti bintang (stellata). Fraktur ini dapat pula bersifat terbuka ataupun tertutup.
Untuk mengidentifikasi suatu fraktur kranium diperlukan pemeriksaan CT Scan dengan teknik “bone window” agar garis frakturnya tampak
jelas. Tanda tanda klinis fraktur dapat menjadi petunjuk untuk melakukan pemeriksaan yang lebih rinci. Fraktur kranium yang terbuka dapat mengakibatkan terhubungnya laserasi kulit kepala dengan permukaan otak. Hal ini terjadi karena robeknya selaput duramater. Suatu bentuk fraktur kranium tidak dapat diremehkan Fraktur kranium dapat diklasifikasikan sebagai berikut17 :
1. Gambaran Fraktur
Dapat dimulai dari komosio serebri ringan. Pada cedera otak difus temuan CT Scan dapat memberi gambaran normal hingga gambaran yang amat buruk.
Saat komosio pasien biasanya kehilangan kesadaran dan kemungkinan mengalami amnesia, baik retrograd maupun anterograd. Cedera tipe difus biasanya terjadi akibat cedera kepala sekunder, yaitu di periode dimana pada otak terjadi hipoksia, iskemi akibat syok atau apnoe yang berkepanjangan. Gambaran CT Scan biasanya menunjukkan gambaran yang normal. Namun pada beberapa kasus didapati gambaran edema dengan batas area berwarna abu-abu atau putih yang kabur.
Istilah Cedera Aksonal Difus (CAD) digunakan untuk menggambarkan cedera otak yang berat dengan prognosis yang buruk. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan kerusakan akson dan tercerminkan pada manifestasi klinisnya.17
5. Perdarahan Epidural
Perdarahan epidural adalah penumpukan darah di ruang antara duramater dan tulang kranium. Perdarahan ini paling sering terjadi akibat robeknya arteri meningea media. Robeknya arteri ini lazimnya disebabkan oleh fraktur pada bagian temporal dari kranium. Lokasi yang paling sering dari perdarahan ini adalah di bagian temporal atau tempoparietal. Kedua lokasi ini ditemui pada 70%
kasus perdarahan epidural. Sisanya berlokasi di bagian frontal, oksipital dan fossa serebri posterior.18
Berdasarkan rentang waktu antara trauma dengan penanganannya, perdarahan epidural dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok akut adalah yang mendapat penanganan minimal 3 hari setelah kejadian. Kelompok subakut adalah yang mendapat penanganan 4-13 hari setelah kejadian dan kelompok kronik adalah yang mendapat penanganan setelah lewat 13 hari pasca kejadian trauma.19
Pada manifestasinya, pasien bisa saja tetap sadar maupun tidak sadar, ataupun dari sadar menjadi tidak sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar untuk beberapa waktu lalu kemudian tidak sadar kembali. Periode kesadaran pasien diantara ketidaksadarannya tadi disebut dengan lucid interval. Lamanya lucid interval ini dapat berlangsung dalam hitungan jam maupun hari. Semakin singkatnya periode ini menandakan perdarahan yang terjadisemakin cepat dan besar. Selain itu pasien dapat pula mengalami sakit kepala, defisit neurologis dan perubahan tanda vital.18,20
Untuk mendiagnosa perdarahan epidural diperlukan pemeriksaan CT Scan kepala. Pada CT Scan kepala akan tampak double convex sign atau menyerupai lensa cembung. Sebagai tatalaksana diperlukan kraniotomi segera untuk mengevakuasi perdarahan.18
(a). (b).
(c).
Gambar 2.2. (a). Perdarahan Epidural Akut (b). Perdarahan Epidural Subakut (c). Perdarahan Epidural Kronik
6. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi di ruang antara duramater dan araknoid. Perdarahan ini umumnya disebabkan oleh robeknya vena di dalam ruang araknoid. Gejala umum dari perdarahan subdural adalah penurunan kesadaran, pupil anisokor dan defisit neurologis yang utamanya adalah gangguan motorik. Perdarahan subdural dapat diklasifikasikan menjadi akut, subakut dan kronik. Perdarahan subdural akut merupakan perdarahan dengan gejala klinis yang timbul segera atau beberapa jam setelah terjadinya trauma. Pada
pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran hiperdens yang berbentuk konkaf atau bulan sabit (crescent sign). Perdarahan subdural subakut akan memberikan gejala klinis yang tampak setelah 4-10 hari setelah terjadinya trauma. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran perdarahan yang lebih tebal dari perdarahan akut dan memberi kesan campuran antara hiperdens, isodens dan hipodens. Perdarahan subdural kronik akan memberi gambaran klinis setelah lebih dari 10 hari pasca terjadinya trauma. Pada gambaran CT Scan akan tampak perdarahan yang hipodens. Ini terjadi karena zat besi dalam tumpukan darah itu sudah terfagositosis. Tatalaksana perdarahan subdural adalah operasi untuk mengevakuasi perdarahan secepatnya. Prognosis amat ditentukan dari segera atau tidaknya operasi dilakukan. Perdarahan subdural kronik memberi hasil prognosis yang baik dibandingkan yang akut. 90% penderita perdarahan subdural kronik akan sembuh setelah operasi. Pada kasus perdarahan yang kecil hanya diberikan terapi konservatif dan observasi yang ketat. Proses lisis dan penyerapan darah diharapkan terjadi setelah 10 hari.18,21
(a). (b).
(c).
Gambar 2.3. (a). Perdarahan subdural akut (b). perdarahan subdural subakut (c).
perdarahan subdural kronik
7. Perdarahan Subaraknoid
Pada ruang subaraknoid terdapat sebuah bridging vein. Apabila bridging vein ini ruptur maka akan terjadi perdarahan subaraknoid. Bridging vein ini terletak pada permukaan otak. Perdarahan subaraknoid terjadi di ruang antara lapisan araknoid dan piamater. Akibatnya perdarahan ini akan mengisi rongga subaraknoid dan ikut masuk ke sistem cairan serebrospinal. Perdarahan subaraknoid biasanya disertai dengan kontusio atau laserasi serebri. Darah dalam rongga subaraknoid akan mengakibatkan spasme pada pembuluh arteri. Akibatnya suplai darah menuju ke otak akan berkurang. Hal ini akan mengganggu mikrosirkulasi otak yang akan berakibat pada terjadinya edema otak. Selain itu
darah yang masuk ke sirkulasi cairan serebro spinal juga akan menyebabkan iritasi meningeal. Dampaknya, pasien akan mengeluhkan gejala-gejala meningeal seperti nyeri kepala, demam, kaku tengkuk, fotofobia dan iritabilitas. Untuk menegakkan diagnosa perdarahan subaraknoid dilakukan lumbal punksi. Apabila ditemukan darah pada cairan serebrospinal maka diagnosa perdarahan subaraknoid dapat ditegakkan. Selain itu pada pemeriksaan CT Scan akan ditemui gambaran lesi hiperdens yang mengikuti pola sulkus pada permukaan otak.
Perdarahan subaraknoid membutuhkan penanganan intensif. Namun pengobatan biasanya bersifat simtomatis. Selain itu perlu diingat bahwasannya vasospasme perlu dicegah sedini mungkin.18
Gambar 2.4. Anak panah menunjukkan perdarahan subaraknoid, yaitu area yang luas dengan densitas tinggi pada sulkus-sulkus sebelah kanan
8. Perdarahan Intraserebral dan Kontusio
Kontusio atau perdarah intraserebral adalah perdarahan yang terjadi di permukaan parenkim otak. Perdarahan ini terjadi akibat laserasi atau kontusio yang terjadi pada jaringan otak. Lokasi tersering pada perdarahan jenis ini adalah di lobus frontalis dan temporalis. Namun lesi perdarahan ini dapat juga terjadi di bagian otak yang lain selain kedua lobus tersebut. Lokasi lesi perdarahan ini dapat
timbul di permukaan yang terkena benturan (coup) ataupun di sisi yang berlawanan dari benturan (countercoup). Bentuk dari lesi perdarahan ini dapat berupa titik titik perdarahan kecil dan bisa pula berupa perdarahan yang luas.
Perdarahan kecil juga dapat berubah menjadi perdarahan yang luas dalam tempo tertentu. Perdarahan dapat terjadi segera setelah trauma terjadi ataupun beberapa hari hingga minggu kemudian. Perdarahan ini dapat memiliki periode lucid interval yang cukup panjang dan diikuti kemunculan gejala klinis yang progresif.
Gambaran klinis yang terjadi dapat berupa defisit neurologis, hemiplegia, koma, tanda babinsky yang positif bilateral, dilatasi pupil dan pernafasan yang ireguler.
Penegakan diagnosa perdarahan intraserebral adalah dengan pemeriksaan CT Scan. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak bayangan homogen berbatas tegas dengan kesan hiperdens. Selain itu tampak pula edema perifokal di sekitarnya.
Sebagai tatalaksana perdarahan yang kecil dilakukan tindakan suportif dan observatif, misalnya dengan menjaga tekanan darah. Pada pasien-pasien yang mengalami perdarahan yang besar dan disertai gangguan neurologis serta mengalami peningkatan tekanan intrakranial akibat perdarahan harus segera dilakukan kraniotomi serta aspirasi hematom. Apabila terjadi perdarahan besar sedangkan kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan operatif maka dapat diterapi dengan cara hiperventilasi, manitol dan steroid. Selain itu dilakukan pula pemantauan tekanan intrakranial secara ketat.18,22
Selain itu dapat pula terjadi perdarahan pada sistem ventrikel. Perdarahan ini disebut sebagai perdarahan intraventrikel dan dapat menyumbat aliran cairan serebrospinal, sehingga akan menimbulkan hidrosefalus obstruktif.23
(a). (b).
Gambar 2.5. (a). Anak panah menunjukkan lesi kontusio pada kedua lobus frontalis. (b). Perdarahan Intraventrikel
2.1.6. Pemeriksaan Radiologis Pada Trauma Kapitis a. CT Scan
CT Scan amat penting dalam menentukan prognosa pada pasien cedera kepala berat. Gambaran CT Scan yang normal pada pasien-pasien cedera kepala berat berhubungan dengan angka mortalitas yang lebih rendah. Selain itu hasil CT Scan yang baik berhubungan pula pada penyembuhan fungsional yang lebih baik apabila dibandinngkan dengan pasien-pasien yang memiliki hasil CT Scan yang abnormal. Namun demikian, hasil CT Scan tidak mutlak menyatakan bahwa semua pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal akan selalu berprognosis baik. Kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dan perkembangan lesi baru dilaporkan pada 40% pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal. Selain itu pemeriksaan CT Scan kurang sensitif untuk mendeteksi lesi di batang otak karena kecilnya struktur area cedera dan kedekatan area tersebut dengan tulang-tulang di sekitarnya. Lesi ini sering berhubungan dengan prognosis yang buruk.24
b. X-ray Tulang Kranium
X-ray digunakan sebagai peralatan diagnostik untuk mengetahui fraktur di dasar ataupun rongga kranium. X-ray kranium digunakan ketika CT Scan tidak tersedia. CT Scan lebih dipilih untuk mengidentifikasi fraktur dikarenakan dapat sekaligus mendeteksi kontusio ataupun perdarahan.25
c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Magnetic Resonance Imaging (MRI) berguna untuk menentukan prognosa pada pasien trauma kapitis. Keunggulan MRI adalah dapat mendeteksi lesi di substansia alba dan batang otak yang mana lesi di kedua lokasi ini sering luput dari pemeriksaan CT Scan.25
Keuntungan lain dari MRI adalah tidak menghasilkan radiasi yang terionisasi sehingga akan lebih aman bagi pasien. MRI juga lebih sensitif untuk mendeteksi perubahan pada jaringan, seperti proses demyelinisasi.26
2.1.7. Prognosis
Penentuan prognosis pada kasus trauma kapitis ditentukan dengan besarnya nilai Skala Koma Glasgow (SKG). 85% pasien dengan nilai SKG 3-4 meninggal dalam waktu 24 jam. Pasien yang berumur dibawah 20 tahun memiliki kemungkinan pulih yang lebih baik. 55% anak anak memiliki prognosis yang lebih baik setelah 1 tahun pemulihan dibanding 21% orang dewasa. Usia yang lebih tua meningkatkan kemungkinan hipoksia, hipotensi dan peningkatan TIK.
Selain itu, evakuasi yang terlambat dari perdarahan intraserebral berhubungan dengan prognosis yang buruk.27
2.2. CT Scan
2.2.1. Cara Kerja CT Scan
Hasil pencitraan CT Scan didapatkan melalui gambar yang diambil secara komputerisasi dengan menggunakan detektor dan sinar-x yang berotasi.
Gambaran CT Scan didapat melalui peredaman sinar-x terhadap struktur yang dikenainya. Semakin keras densitas struktur yang dikenainya maka akan semakin besar nilai redaman yang ditimbulkan. Nilai redaman ini dinyatakan dengan
satuan Hounsfield. Pada otak, nilai Hounsfield pada substansia alba(30-34 HU) lebih rendah daripada substansia grisea(37-41 HU). Akibatnya, pada hasil pencitraan CT Scan, subtansia alba akan tampak lebih gelap dibandingkan substansia grisea.28 Nilai HU beberapa struktur lain adalah sebagai berikut.29
Tulang : 400 HU Scan adalah gantry, meja pemeriksaan dan komputer untuk mengoperasikan scanner dan melihat hasil gambarnya. Gantry adalah komponen yang bertindak sebagai scanner. Bentuknya seperti donat raksasa dan objek yang hendak difoto akan diposisikan ditengahnya. Gantry terdiri atas generator, tabung sinar-x, collimator dan detektor. Posisi gantry dapat diatur untuk membentuk sudut dalam berbagai derajat untuk menghasilkan foto yang diperlukan. Tabung sinar-x akan berputar menyinari pasien, sehingga sinar akan berbentuk seperti baling-baling.
Panjang gelombang sinar yang ditembakkan pada pasien diatur oleh collimator.
Detektor berfungsi untuk menangkap sinar yang telah melewati pasien. Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor inilah yang akan direkam dan diubah menjadi gelombang listrik yang disalurkan ke komputer sehingga membentuk foto.
Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor bergantung pada densitas struktur yang dilewatinya. Sinar-x yang berputar akan menghasilkan gambaran tiap jaringan dari berbagai arah, sehingga hasil yang ditimbulkan akan lebih jelas.29
Dalam pemeriksaan CT Scan, terdapat 2 metode, yaitu dengan kontras dan tanpa kontras. Untuk mendiagnosa kasus kasus perdarahan, metode yang digunakan adalah metode tanpa kontras. Hal ini dikarenakan pada perdarahan
akan tampak gambaran khas kalsifikasi. Sementara penggunaan kontras akan membiaskan gambaran kalsifikasi tersebut.30
CT Scan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam mendiagnosa perdarahan jika dilakukan segera setelah trauma terjadi. Nilai sensitivitas dan spesifisitas ini akan menurun semakin lama perdarahan menetap pada pasien. Pada 6 jam pertama setelah terjadinya trauma, CT Scan memiliki nilai sensitivitas 92,9 % dan spesifisitas 100 %. Jika dilakukan kurang dari 6 jam setelah onset trauma, nilai sensitivitasnya dapat mencapai 100 %.31
BAB III
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1. Kerangka Teori
Gambar 3.1. Kerangka teori penelitian Trauma Kapitis
3.2. Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di Bab 1, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah :
Variabel Dependen Variabel Independen
Gambar 3.2. Kerangka konsep penelitian CT Scan Trauma
Kapitis Jenis Lesi Perdarahan
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif observasional dengan desain penelitian retrospective untuk mengetahui gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM .
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai dari September 2016 sampai November 2016.
4.2.2. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan.
4.3.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini diambil dengan metode consecutive sampling yang berarti setiap subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi akan dijadikan sebagai subjek penelitian.
Sampel atau subjek penelitian dalam penelitian ini memiliki karakteristik dalam populasi target yang dijelaskan dalam kriteria inklusi dan eksklusi.
Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus sampel :
n = NZ
21−α /2 PQ N−1 d2+Z21−α /2PQ
Pada penelitian ini, peneliti menginginkan tingkat kepercayaan 95%
sehingga diperoleh nilai Z1−α 1,96. Nilai p yang ditentukan adalah 0,5 karena
peneliti tidak mengetahui proporsi penelitian sebelumnya, selain itu dikarenakan nilai p 0,5 menghasilkan nilai p.(1-p) paling besar sehingga menghasilkan besar sampel yang maksimal. Kesalahan absolut yang diinginkan adalah sebesar 5%.
Hasil survey awal penelitian menunjukkan jumlah populasi adalah sebesar 645.
Dari hasil perhitungan besar sampel dengan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 148 orang, untuk memudahkan proses perhitungan, maka jumlah sampel dibulatkan menjadi 150
Dari hasil perhitungan besar sampel dengan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 148 orang, untuk memudahkan proses perhitungan, maka jumlah sampel dibulatkan menjadi 150