• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI GAMBARAN CT SCAN PADA PASIEN TRAUMA KAPITIS DENGAN PERDARAHAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE JANUARI 2015-DESEMBER 2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI GAMBARAN CT SCAN PADA PASIEN TRAUMA KAPITIS DENGAN PERDARAHAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE JANUARI 2015-DESEMBER 2015."

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

GAMBARAN CT SCAN PADA PASIEN TRAUMA KAPITIS DENGAN PERDARAHAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK

MEDAN PERIODE JANUARI 2015-DESEMBER 2015

Oleh :

ADITYA RACHMANSYAH PINEM 130100154

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(2)

GAMBARAN CT SCAN PADA PASIEN TRAUMA KAPITIS DENGAN PERDARAHAN DI RSUP HAJI ADAM MALIK

MEDAN PERIODE JANUARI 2015-DESEMBER 2015

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh :

ADITYA RACHMANSYAH PINEM 130100154

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(3)
(4)

ABSTRAK

Pendahuluan : Trauma kapitis adalah suatu trauma mekanik yang terjadi pada kepala. Kasus trauma kapitis merupakan kasus terbanyak yang dapat ditemukan di Unit Gawat Darurat. Diperkirakan terdapat 500.000 kasus di Indonesia tiap

tahunnya. Trauma kapitis menyumbang kejadian kematian terbesar dibandingkan dengan trauma jenis lain. Pemeriksaan computerized tomography (CT) adalah metode radiodiagnostik yang menjadi standar baku emas untuk menegakkan diagnosa trauma kapitis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran jenis perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis.

Metode : Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang dilakukan terhadap pasien trauma kapitis pada Januari 2015-Desember 2015. Data diperoleh dari rekam medik dan didapatkan 150 kasus yang masuk dalam kriteria penelitian.

Hasil : Keseluruhan hasil penelitian yang didapatkan adalah Perdarahan Epidural merupakan jenis perdarahan yang paling banyak terjadi sebanyak 67 kasus

(44,7%). Trauma kapitis lebih banyak pada penderita laki-laki yaitu sebanyak 106 orang (70,7%). Golongan usia terbanyak pada kelompok usia 12-25 tahun yaitu sebanyak 58 orang (38,7%).

Kesimpulan : Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa jenis perdarahan yang terbanyak pada pasien trauma kapitis adalah Perdarahan Epidural. Kejadian trauma kapitis lebih banyak diderita oleh kelompok laki-laki dan kelompok usia 12-25 tahun.

Kata kunci : CT Scan, jenis perdarahan, trauma kapitis

(5)

ABSTRACT

Introduction : Head injury is a mechanical trauma that occurs in the head. Head injury is the most clinical cases that can be found in the Emergency Unit. There are 500.000 cases of head injury estimated in Indonesia each year. Head injury contribute the most mortality events compared to the other types of trauma.

Computerized Tomography (CT) Scan is a radiogiagnostic method that became a gold standard for diagnosing head injury. The purpose of this study is to find the type of hemorrhage in CT Scan of head injury patients.

Method : This study was a retrospective study conducted on January 2015 to December 2015. The data were obtained through the medical records and found 150 cases included in the study criteria.

Results : Overall the results, Epidural Hemorrhage is the most common type of hemorrhage, occurs in 67 cases (44,7%). Head injury is more on male patients, namely as many as 106 patients (70,7%). The largest age group that prone to head injury is in the age group od 12-25 years, namely as many as 58 patients (38,7%).

Conclusions : From the finding of this study, it can be concluded that the most types of bleeding in head injury patients is the Epidural Hemorrhage. The incidence of head injury is suffered more in the group of men and age group of 12-25 years.

Keywords: CT Scan, head injury, hemorrhage

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Adapun laporan hasil penelitian dengan judul “Gambaran CT Scan Pada Pasien Trauma Kapitis Dengan Perdarahan Di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2015-Desember 2015” ini disusun sebagai tugas akhir serta sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Selama perencanaan dan pelaksanaan pembuatan laporan hasil karya tulis ilmiah ini, penulis mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Henny Maisara Sipahutar, Sp. Rad dan dr. Bugis Mardina, M.Ked (Ped) Sp. A(K). selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, dukungan, nasihat, ide, serta masukan sehingga laporan hasil karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. dr. Akhyar Hamonangan Nasution, Sp. An, KAKV dan dr. Muhammad Fauzi Siregar, Sp. Onk. Rad. selaku dosen penguji, yang telah memberikan berbagai kritik dan saran untuk tercapainya kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

4. dr.Mardianto, Sp. PD, KEMD selaku Direktur SDM dan Pendidikan RSUP Haji Adam Malik Medan tempat peneliti melakukan pengumpulan data.

5. Keluarga peneliti, yaitu Ayahanda Ridwan Pinem, Amd dan Ibunda Sri Suharni, Amd serta abang saya, Joko Syuhada Pinem, S. Ked dan adik saya Syafiq Naufal Pinem yang selalu memberikan dukungan, motivasi, semangat, doa, serta materil sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.

6. Kakanda Sari Meuthia Dewi Tarigan, S. Ked yang senantiasa mendukung, membantu dan bersedia menjadi tempat peneliti untuk bertukar pendapat terkait dengan penelitian ini.

(7)

7. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas segala bantuan yang diberikan dalam proses penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna.

Oleh karena itu penulis menerima masukan berupa kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat sebagai sumbangan ilmu pengetahuan kepada Fakultas Kedokteran USU dan pihak yang terkait dalam penelitian ini.

Medan, Januari 2017 Penulis,

Aditya Rachmansyah Pinem

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1.2. Rumusan Masalah... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 2

1.3.1. Tujuan Umum ... 2

1.3.2. Tujuan Khusus ... 2

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

1.4.1. Bagi Rumah Sakit ... 3

1.4.2. Bagi Penulis ... 3

1.4.3. Bagi Peneliti Selanjutnya ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Trauma Kapitis ... 4

2.1.1. Definisi... 4

2.1.2. Anatomi yang Terlibat ... 4

2.1.3. Fisiologi yang Terlibat ... 6

2.1.4. Patofisiologi ... 7

2.1.5. Klasifikasi ... 8

2.1.6. Pemeriksaan Radiologi pada Trauma Kapitis ... 16

2.1.7. Prognosis ... 17

2.2. CT Scan ... 17

(9)

2.2.1. Cara Kerja CT Scan ... 17

III. KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN 20 3.1. Kerangka Teori ... 20

3.2. Kerangka Konsep ... 21

IV. METODE PENELITIAN ... 22

4.1. Jenis Penelitian ... 22

4.2. Waktu dan tempat penelitian ... 22

4.2.1. Waktu Penelitian ... 22

4.2.2. Tempat Penelitian ... 22

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22

4.3.1. Populasi Penelitian ... 22

4.3.2. Sampel Penelitian ... 22

4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 23

4.4.1. Kriteria Inklusi ... 23

4.4.2. Kriteria Eksklusi ... 23

4.5. Teknik Pengumpulan Data ... 23

4.6. Pengolahan dan Analisis Data ... 23

4.7. Definisi Operasional ... 24

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 26

5.1. Hasil Penelitian ... 26

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 26

5.1.2. Gambaran Sampel Penelitian ... 26

5.1.2.1. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan .... 27

5.1.2.2. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 28

5.1.2.3. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia ... 29

5.2. Pembahasan ... 31

(10)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 33 6.1. Kesimpulan ... 33 6.2. Saran ... 33

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1 Anatomi yang terlibat pada kasus trauma kapitis ... 6

Gambar 2.2 Perdarahan Epidural Akut, Perdarahan Epidural Subakut dan Perdarahan Epidural Kronik ... 11

Gambar 2.3. Perdarahan Subdural akut,Perdarahan Subdural Subakut dan Perdarahan Subdural Kronik ... 13

Gambar 2.4. Perdarahan Subaraknoid ... 14

Gambar 2.5. Lesi Kontusio dan Perdarahan Intraventrikel ... 16

Gambar 3.1. Kerangka Teori Penelitian ... 20

Gambar 3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 21

Gambar 5.1. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan ... 27

Gambar 5.2. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 28

Gambar 5.3. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia ... 30

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan ... 27 Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Gambaran Jenis Kelamin Sampel

Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan ... 28 Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Gambaran Usia Sampel Penelitian

Berdasarkan Jenis Perdarahan ... 29

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Riwayat Hidup

Lampiran 2. Ethical Clearance Penelitian

Lampiran 3. Surat Izin Penelitian Kepada RSUP Haji Adam Malik Medan Lampiran 4. Surat Izin Penelitian Kepada Instalasi Rekam Medik RSUP Haji

Adam Malik Medan

Lampiran 5. Data Induk Hasil Penelitian

Lampiran 6. Output SPSS Hasil Analisis Data Penelitian

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trauma kapitis (Traumatic brain Injury) adalah suatu trauma mekanik yang terjadi pada kepala. Trauma ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan menyebabkan gangguan fungsi neurologis seperti gangguan fisik, kognitif, psikososial yang dapat terjadi secara temporer maupun permanen1. Jika dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh yang lain, trauma kapitis dapat menimbulkan gangguan yang lebih kompleks dikarenakan struktur anatomis dan fisiologis dari isi tengkorak lebih bervariasi. Cairan otak, selaput otak jaringan saraf dan tulang membentuk suatu struktur yang bentuknya merupakan kombinasi dari benda berkonsistensi cair, lunak dan padat2. Kulit kepala juga memiliki pembuluh darah yang banyak, sehingga apabila terjadi laserasi akan menyebabkan perdarahan yang masif1. Trauma kapitis juga dapat menyebabkan rusaknya saraf, infeksi pada otak bahkan penurunan ataupun kehilangan kemampuan kognitif.

Kasus trauma kapitis merupakan kasus terbanyak yang dapat ditemukan di unit gawat darurat (UGD). Di Indonesia diperkirakan terdapat 500.000 kasus trauma kapitis tiap tahunnya3. Di negara-negara maju kejadian trauma kapitis mencakup 26% dari jumlah seluruh kasus kecelakaan yang menyebabkan seseorang tidak bisa bekerja lebih dari satu hari selama jangka panjang4. Trauma kapitis juga merupakan penyumbang terbesar terhadap kejadian kematian pada kelompok usia produktif antara 15-44 tahun dan kejadian ini juga didominasi oleh kaum laki-laki dibanding dengan kaum perempuan dengan perbandingan 2 hingga 3 banding 15,6. Trauma kapitis juga menyumbang angka 70% pada seluruh kejadian kematian akibat trauma4.

Penyumbang utama kejadian trauma kapitis adalah kecelakaan lalu lintas, terutama yang melibatkan sepeda motor. 60% kematian pada kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh trauma kapitis7. Menurut direktorat lalu lintas polisi daerah Sumatera Utara, dari bulan Januari hingga Desember 2015, angka kecelakaan lalu

(15)

lintas mencapai 1589 kejadian, dimana 426 kejadian menyebabkan korban meninggal dunia8.

Computerized tomography scanning (CT Scan) adalah salah satu metode radiodiagnostik yang menjadi standar baku emas untuk menegakkan diagnosa trauma kapitis5. Dengan pemeriksaan CT Scan, suatu trauma kapitis dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan morfologi lesi pasca traumanya menjadi Komosio Serebri, Kontusio Serebri, Epidural hematom, Subdural hematom, Intraserebri hematom dan Subarachnoid hematom9. CT Scan adalah modalitas yang penting dalam praktik neuroradiologi dikarenakan prosedurnya yang tidak invasif, cepat, akurat dan hasil pemindaian gambarnya lebih bagus dan jelas dibanding foto Roentgen biasa dikarenakan tidak membutuhkan suntikan kontras terlebih dahulu. CT Scan juga dapat membedakan sifat dan keberadaan lesi, apakah terdapat di dalam atau luar parenkim otak10. Prosedur CT Scan juga dapat memindai kelainan intrakranial yang sebelumnya hanya dapat diketahui melalu proses autopsi11.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran CT Scan pada pasien trauma kapitis dengan perdarahan di RSHAM periode Januari-Desember 2015?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran CT Scan pada pasien trauma kapitis dengan perdarahan di RSHAM periode Januari-Desember 2015.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui jumlah kasus trauma kapitis di RSHAM pada periode Januari-Desember 2015.

2. Mengetahui morfologi perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM pada periode Januari-Desember 2015.

3. Mengetahui gambaran jenis kelamin pasien trauma kapitis di RSHAM pada periode Januari-Desember 2015.

(16)

4, Mengetahui gambaran usia pasien trauma kapitis di RSHAM pada periode Januari-Desember 2015.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data bagi RSUP Haji Adam Malik Medan tentang gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis pada periode Januari-Desember 2015.

1.4.2. Bagi Penulis

a. Pengetahuan bagi penulis tentang gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM pada periode Januari-Desember 2015.

b. Menambah wawasan serta pengalaman penulis dalam proses pembuatan karya tulis ilmiah.

1.4.3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Data dari hasil penelitian ini dapat digunakan menjadi bahan acuan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kasus trauma kapitis.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Trauma Kapitis 2.1.1. Definisi

Trauma kapitis diartikan sebagai suatu bentuk trauma mekanik terhadap kepala yang dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan menyebabkan gangguan fungsi neurologis seperti gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial yang dapat bersifat temporer maupun permanen12.

2.1.2. Anatomi yang Terlibat

Anatomi tubuh yang bersangkutan dengan kejadian trauma kapitis adalah :

1. Kulit Kepala (Scalp)

Kulit kepala terdiri atas 5 lapisan, yang biasa disingkat sebagai SCALP, yaitu1 :

a. Skin atau lapisan kulit

b. Connective Tissue atau lapisan jaringan ikat

c. Aponeurosis atau lapisan perlekatan antar otot (galea aponeurotika) d. Loose Areolar Tissue atau jaringan penyokong longgar

e. Perikranium 2. Tulang Tengkorak

Tulang tengkorak dapat kita bagi menjadi 2 bagian, yaitu kubah (kalvaria) dan basis kranii. Kalvaria, terutama pada bagian temporal merupakan lempengan tulang yang tipis, namun pada bagian ini dilapisi oleh otot temporal. Basis kranii dapat dibagi atas 3 bagian atau fossa, yaitu fossa anterior, fossa media dan fossa posterior.1

3. Meningen

Meningen adalah suatu struktur yang berebentuk selaput yang menutupi seluruh permukaan otak. Selaput meningen terdiri atas 3 lapisan, yaitu : duramater, araknoid dan piamater. Selaput duramater adalah selaput yang keras

(18)

dan terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan bagian dalam dari tulang kranium. Dibawah lapisan duramater adalah lapisan araknoid.

Lapisan araknoid adalah lapisan kedua dari meningen. Strukturnya tipis dan tembus pandang. Sedangkan pada lapisan ketiga terdapat lapisan piamater.

Piamater melekat erat pada korteks serebri. Didalam rongga sub araknoid terjadi sirkulasi cairan serebrospinal.1

4. Otak

Otak manusia dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum terdiri atas 2 hemisfer, hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Kedua hemisfer ini dipisahkan oleh falks serebri, yaitu suatu struktur yang merupakan lipatan dari lapisan duramater. Batang otak terdiri atas mesensefalon, pons dan medulla oblongata. Serebelum terletak pada fossa posterior. Fungsinya adalah mengatur sistem keseimbangan.1

5. Cairan Serebrospinal

Cairan serebrospinal (CSS) diproduksi oleh pleksus khoroideus. Kecepatan produksinya adalah 20ml/jam. Dalam sirkulasinya CSS mengalir dari ventrikel lateral menuju foramen monro hingga mencapai ventrikel III, lalu ke aquaductus sylvii dan sampai ke ventrikel IV. Selanjutnya CSS akan masuk ke ruang subaraknoid. Pada akhirnya CSS akan direabsorbsi oleh vili araknoid menuju sirkulasi vena.1

(19)

Gambar 2.1. Anatomi yang terlibat pada kasus trauma kapitis.

2.1.3. Fisiologi yang Terlibat 1. Tekanan Intra Kranial

Ruangan intrakranial diisi oleh jaringan otak, darah dan CSS. Tiap unsur ini akan menempati volume tertentu. Dalam keadaan normal penempatan volume ini akan menghasilkan tekanan yang berkisar antara 50-200 mmH2O atau 4-15 mmHg. Secara fisiologis tekanan intra kranial dipengaruhi oleh aktivitas sehari hari. Tekanan intrakranial dapat meningkat untuk sementara waktu melebihi batas normal. Peningkatan volume pada unsur-unsur pengisi ruangan intrakranial akan menimbulkan desakan ruang dan meningkatkan tekanan intrakranial.13

2. Hipotesa Monro-Kellie

Hipotesa Monro-Kellie menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak akan bisa mengalami perluasan. Jadi, bila salah satu unsur pengisi mengalami pertambahan volume, maka unsur lain akan berkompensasi dengan mengurangi volumenya. Mekanisme kompensasi ini terbatas. Mekanisme yang terjadi adalah peningkatan aliran cairan serebrospinal ataupun mekanisme yang fatal seperti penurunan aliran arah ke otak atau pergeseran otak ke arah bawah (herniasi).13

(20)

2.1.4. Patofisiologi

Pukulan atau benturan dapat menyebabkan trauma kapitis akibat dari akselerasi yang cepat, deselerasi, maupun dampak trauma itu secara langsung.

Trauma kapitis juga dapat diakibatkan oleh cedera yang bersifat penetrasi langsung ke otak. Akibat dari trauma kapitis adalah terganggunya fungsi otak yang dapat berlangsung sementara maupun permanen dan juga kerusakan struktur otak yang mungkin tidak dapat dideteksi secara langsung. Tingkat keparahan cedera amatlah luas, jadi tidak semua cedera, pukulan ataupun benturan dapat menyebabkan trauma kapitis.14

Trauma kapitis dapat menyebabkan cedera otak yang bersifat fokal ataupun difus. Cedera ini dapat disertai maupun tidak disertai fraktur tengkorak.

Cedera otak yang bersifat fokal dapat berbentuk kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural ataupun perdarahan intraserebral. Sementara untuk cedera yang bersifat difus hanya menyebabkan gangguan fungsional seperti komosioo atau gegar otak dan cedera struktural difus.15

Lesi kontusio adalah lesi perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik titik besar dan kecil, tanpa adanya kerusakan selaput duramater. Lesi kontusio yang timbul dibawah area benturan disebut dengan lesi kontusio “coup”.

Jika lesi kontusio timbul di area yang bersebrangan dengan lokasi benturan (yang tidak terkena kompresi) maka lesi ini disebut dengan lesi kontusio

“countercoup”. Jika lesi kontusio timbul diantara “coup” dan “countercoup”

maka lesi ini disebut dengan lesi kontusio intermediate. Ketiga jenis lesi kontusio ini timbul akibat akselerasi kepala saat benturan yang bersifat linear maupun rotatorik.16

Cedera otak yang terjadi akibat dari benturan ataupun trauma disebut dengan cedera otak primer. Beberapa menit hingga beberapa jam setelah terjadinya cedera primer ini sering terjadi gangguan aliran darah di otak. Artinya suplai oksigen dan glukosa untuk otak akan terganggu. Neuron dan sel-sel otak amat bergantung terhadap suplai glukosa dan oksigen yang dibawa oleh darah.

Cedera primer mengakibatkan hilangnya kemampuan otak untuk mengatur vaskularisasi dengan baik. Akibatnya akan terjadi edema yang akan berujung pada

(21)

herniasi melalui foramen tentorium, foramen magnum ataupun dibawah falks serebri. Akibat dari herniasi ini, jaringan otak akan mengalami iskemi hingga terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut dengan cedera otak sekunder. Oleh karena itu, pada pasien trauma kapitis amat diperlukan perhatian khusus jalan nafas dan gerak nafas yang adekuat, untuk mencegah cedera otak sekunder yang dapat berakibat kematian.13,14

2.1.5. Klasifikasi

Trauma kapitis dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 kelompok, yaitu : mekanisme terjadinya cedera kepala, berat cedera kepala dan morfologi cedera kepala.

1. Mekanisme Terjadinya Cedera Kepala

Berdasarkan mekanismenya, trauma kapitis dapat dikelompokkan menjadi trauma tumpul dan trauma tembus. Trauma tembus misalnya terjadi akibat benturan ataupun pukulan benda tumpul. Trauma tembus terjadi akibat tusukan ataupun tembakan.12

2. Beratnya Cedera Kepala

Untuk mengelompokkan berat atau ringannya suatu cedera kepala, digunakan skala koma glasgow (GCS). Penilaian GCS dilakukan dengan mengobservasi kemampuan pasien dalam membuka mata, respon verbal dan respon motoriknya. Nilai total GCS adalah 15. Suatu cedera kepala dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan apabila skor GCS-nya 13-15, sedang apabila skornya 9-12 dan berat apabila skornya 3-8.12

3. Morfologi

a. Fraktur Kranium

Fraktur kranium dapat terjadi pada kalvaria ataupun basis kranii.

Bentuknya dapat berupa garis (linear) ataupun seperti bintang (stellata). Fraktur ini dapat pula bersifat terbuka ataupun tertutup.

Untuk mengidentifikasi suatu fraktur kranium diperlukan pemeriksaan CT Scan dengan teknik “bone window” agar garis frakturnya tampak

(22)

jelas. Tanda tanda klinis fraktur dapat menjadi petunjuk untuk melakukan pemeriksaan yang lebih rinci. Fraktur kranium yang terbuka dapat mengakibatkan terhubungnya laserasi kulit kepala dengan permukaan otak. Hal ini terjadi karena robeknya selaput duramater. Suatu bentuk fraktur kranium tidak dapat diremehkan Fraktur kranium dapat diklasifikasikan sebagai berikut17 :

1. Gambaran Fraktur - Linier

- Diastase - Comminuted - Depressed 2. Lokasi Anatomis

- Kalvarium - Basis Cranii 3. Keadaan Luka

- Terbuka - Tertutup b. Lesi Intrakranial

4. Cedera Otak Difus

Dapat dimulai dari komosio serebri ringan. Pada cedera otak difus temuan CT Scan dapat memberi gambaran normal hingga gambaran yang amat buruk.

Saat komosio pasien biasanya kehilangan kesadaran dan kemungkinan mengalami amnesia, baik retrograd maupun anterograd. Cedera tipe difus biasanya terjadi akibat cedera kepala sekunder, yaitu di periode dimana pada otak terjadi hipoksia, iskemi akibat syok atau apnoe yang berkepanjangan. Gambaran CT Scan biasanya menunjukkan gambaran yang normal. Namun pada beberapa kasus didapati gambaran edema dengan batas area berwarna abu-abu atau putih yang kabur.

Istilah Cedera Aksonal Difus (CAD) digunakan untuk menggambarkan cedera otak yang berat dengan prognosis yang buruk. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan kerusakan akson dan tercerminkan pada manifestasi klinisnya.17

(23)

5. Perdarahan Epidural

Perdarahan epidural adalah penumpukan darah di ruang antara duramater dan tulang kranium. Perdarahan ini paling sering terjadi akibat robeknya arteri meningea media. Robeknya arteri ini lazimnya disebabkan oleh fraktur pada bagian temporal dari kranium. Lokasi yang paling sering dari perdarahan ini adalah di bagian temporal atau tempoparietal. Kedua lokasi ini ditemui pada 70%

kasus perdarahan epidural. Sisanya berlokasi di bagian frontal, oksipital dan fossa serebri posterior.18

Berdasarkan rentang waktu antara trauma dengan penanganannya, perdarahan epidural dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok akut adalah yang mendapat penanganan minimal 3 hari setelah kejadian. Kelompok subakut adalah yang mendapat penanganan 4-13 hari setelah kejadian dan kelompok kronik adalah yang mendapat penanganan setelah lewat 13 hari pasca kejadian trauma.19

Pada manifestasinya, pasien bisa saja tetap sadar maupun tidak sadar, ataupun dari sadar menjadi tidak sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar untuk beberapa waktu lalu kemudian tidak sadar kembali. Periode kesadaran pasien diantara ketidaksadarannya tadi disebut dengan lucid interval. Lamanya lucid interval ini dapat berlangsung dalam hitungan jam maupun hari. Semakin singkatnya periode ini menandakan perdarahan yang terjadisemakin cepat dan besar. Selain itu pasien dapat pula mengalami sakit kepala, defisit neurologis dan perubahan tanda vital.18,20

Untuk mendiagnosa perdarahan epidural diperlukan pemeriksaan CT Scan kepala. Pada CT Scan kepala akan tampak double convex sign atau menyerupai lensa cembung. Sebagai tatalaksana diperlukan kraniotomi segera untuk mengevakuasi perdarahan.18

(24)

(a). (b).

(c).

Gambar 2.2. (a). Perdarahan Epidural Akut (b). Perdarahan Epidural Subakut (c). Perdarahan Epidural Kronik

6. Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi di ruang antara duramater dan araknoid. Perdarahan ini umumnya disebabkan oleh robeknya vena di dalam ruang araknoid. Gejala umum dari perdarahan subdural adalah penurunan kesadaran, pupil anisokor dan defisit neurologis yang utamanya adalah gangguan motorik. Perdarahan subdural dapat diklasifikasikan menjadi akut, subakut dan kronik. Perdarahan subdural akut merupakan perdarahan dengan gejala klinis yang timbul segera atau beberapa jam setelah terjadinya trauma. Pada

(25)

pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran hiperdens yang berbentuk konkaf atau bulan sabit (crescent sign). Perdarahan subdural subakut akan memberikan gejala klinis yang tampak setelah 4-10 hari setelah terjadinya trauma. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran perdarahan yang lebih tebal dari perdarahan akut dan memberi kesan campuran antara hiperdens, isodens dan hipodens. Perdarahan subdural kronik akan memberi gambaran klinis setelah lebih dari 10 hari pasca terjadinya trauma. Pada gambaran CT Scan akan tampak perdarahan yang hipodens. Ini terjadi karena zat besi dalam tumpukan darah itu sudah terfagositosis. Tatalaksana perdarahan subdural adalah operasi untuk mengevakuasi perdarahan secepatnya. Prognosis amat ditentukan dari segera atau tidaknya operasi dilakukan. Perdarahan subdural kronik memberi hasil prognosis yang baik dibandingkan yang akut. 90% penderita perdarahan subdural kronik akan sembuh setelah operasi. Pada kasus perdarahan yang kecil hanya diberikan terapi konservatif dan observasi yang ketat. Proses lisis dan penyerapan darah diharapkan terjadi setelah 10 hari.18,21

(26)

(a). (b).

(c).

Gambar 2.3. (a). Perdarahan subdural akut (b). perdarahan subdural subakut (c).

perdarahan subdural kronik

7. Perdarahan Subaraknoid

Pada ruang subaraknoid terdapat sebuah bridging vein. Apabila bridging vein ini ruptur maka akan terjadi perdarahan subaraknoid. Bridging vein ini terletak pada permukaan otak. Perdarahan subaraknoid terjadi di ruang antara lapisan araknoid dan piamater. Akibatnya perdarahan ini akan mengisi rongga subaraknoid dan ikut masuk ke sistem cairan serebrospinal. Perdarahan subaraknoid biasanya disertai dengan kontusio atau laserasi serebri. Darah dalam rongga subaraknoid akan mengakibatkan spasme pada pembuluh arteri. Akibatnya suplai darah menuju ke otak akan berkurang. Hal ini akan mengganggu mikrosirkulasi otak yang akan berakibat pada terjadinya edema otak. Selain itu

(27)

darah yang masuk ke sirkulasi cairan serebro spinal juga akan menyebabkan iritasi meningeal. Dampaknya, pasien akan mengeluhkan gejala-gejala meningeal seperti nyeri kepala, demam, kaku tengkuk, fotofobia dan iritabilitas. Untuk menegakkan diagnosa perdarahan subaraknoid dilakukan lumbal punksi. Apabila ditemukan darah pada cairan serebrospinal maka diagnosa perdarahan subaraknoid dapat ditegakkan. Selain itu pada pemeriksaan CT Scan akan ditemui gambaran lesi hiperdens yang mengikuti pola sulkus pada permukaan otak.

Perdarahan subaraknoid membutuhkan penanganan intensif. Namun pengobatan biasanya bersifat simtomatis. Selain itu perlu diingat bahwasannya vasospasme perlu dicegah sedini mungkin.18

Gambar 2.4. Anak panah menunjukkan perdarahan subaraknoid, yaitu area yang luas dengan densitas tinggi pada sulkus-sulkus sebelah kanan

8. Perdarahan Intraserebral dan Kontusio

Kontusio atau perdarah intraserebral adalah perdarahan yang terjadi di permukaan parenkim otak. Perdarahan ini terjadi akibat laserasi atau kontusio yang terjadi pada jaringan otak. Lokasi tersering pada perdarahan jenis ini adalah di lobus frontalis dan temporalis. Namun lesi perdarahan ini dapat juga terjadi di bagian otak yang lain selain kedua lobus tersebut. Lokasi lesi perdarahan ini dapat

(28)

timbul di permukaan yang terkena benturan (coup) ataupun di sisi yang berlawanan dari benturan (countercoup). Bentuk dari lesi perdarahan ini dapat berupa titik titik perdarahan kecil dan bisa pula berupa perdarahan yang luas.

Perdarahan kecil juga dapat berubah menjadi perdarahan yang luas dalam tempo tertentu. Perdarahan dapat terjadi segera setelah trauma terjadi ataupun beberapa hari hingga minggu kemudian. Perdarahan ini dapat memiliki periode lucid interval yang cukup panjang dan diikuti kemunculan gejala klinis yang progresif.

Gambaran klinis yang terjadi dapat berupa defisit neurologis, hemiplegia, koma, tanda babinsky yang positif bilateral, dilatasi pupil dan pernafasan yang ireguler.

Penegakan diagnosa perdarahan intraserebral adalah dengan pemeriksaan CT Scan. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak bayangan homogen berbatas tegas dengan kesan hiperdens. Selain itu tampak pula edema perifokal di sekitarnya.

Sebagai tatalaksana perdarahan yang kecil dilakukan tindakan suportif dan observatif, misalnya dengan menjaga tekanan darah. Pada pasien-pasien yang mengalami perdarahan yang besar dan disertai gangguan neurologis serta mengalami peningkatan tekanan intrakranial akibat perdarahan harus segera dilakukan kraniotomi serta aspirasi hematom. Apabila terjadi perdarahan besar sedangkan kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan operatif maka dapat diterapi dengan cara hiperventilasi, manitol dan steroid. Selain itu dilakukan pula pemantauan tekanan intrakranial secara ketat.18,22

Selain itu dapat pula terjadi perdarahan pada sistem ventrikel. Perdarahan ini disebut sebagai perdarahan intraventrikel dan dapat menyumbat aliran cairan serebrospinal, sehingga akan menimbulkan hidrosefalus obstruktif.23

(29)

(a). (b).

Gambar 2.5. (a). Anak panah menunjukkan lesi kontusio pada kedua lobus frontalis. (b). Perdarahan Intraventrikel

2.1.6. Pemeriksaan Radiologis Pada Trauma Kapitis a. CT Scan

CT Scan amat penting dalam menentukan prognosa pada pasien cedera kepala berat. Gambaran CT Scan yang normal pada pasien-pasien cedera kepala berat berhubungan dengan angka mortalitas yang lebih rendah. Selain itu hasil CT Scan yang baik berhubungan pula pada penyembuhan fungsional yang lebih baik apabila dibandinngkan dengan pasien-pasien yang memiliki hasil CT Scan yang abnormal. Namun demikian, hasil CT Scan tidak mutlak menyatakan bahwa semua pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal akan selalu berprognosis baik. Kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dan perkembangan lesi baru dilaporkan pada 40% pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal. Selain itu pemeriksaan CT Scan kurang sensitif untuk mendeteksi lesi di batang otak karena kecilnya struktur area cedera dan kedekatan area tersebut dengan tulang-tulang di sekitarnya. Lesi ini sering berhubungan dengan prognosis yang buruk.24

(30)

b. X-ray Tulang Kranium

X-ray digunakan sebagai peralatan diagnostik untuk mengetahui fraktur di dasar ataupun rongga kranium. X-ray kranium digunakan ketika CT Scan tidak tersedia. CT Scan lebih dipilih untuk mengidentifikasi fraktur dikarenakan dapat sekaligus mendeteksi kontusio ataupun perdarahan.25

c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Magnetic Resonance Imaging (MRI) berguna untuk menentukan prognosa pada pasien trauma kapitis. Keunggulan MRI adalah dapat mendeteksi lesi di substansia alba dan batang otak yang mana lesi di kedua lokasi ini sering luput dari pemeriksaan CT Scan.25

Keuntungan lain dari MRI adalah tidak menghasilkan radiasi yang terionisasi sehingga akan lebih aman bagi pasien. MRI juga lebih sensitif untuk mendeteksi perubahan pada jaringan, seperti proses demyelinisasi.26

2.1.7. Prognosis

Penentuan prognosis pada kasus trauma kapitis ditentukan dengan besarnya nilai Skala Koma Glasgow (SKG). 85% pasien dengan nilai SKG 3-4 meninggal dalam waktu 24 jam. Pasien yang berumur dibawah 20 tahun memiliki kemungkinan pulih yang lebih baik. 55% anak anak memiliki prognosis yang lebih baik setelah 1 tahun pemulihan dibanding 21% orang dewasa. Usia yang lebih tua meningkatkan kemungkinan hipoksia, hipotensi dan peningkatan TIK.

Selain itu, evakuasi yang terlambat dari perdarahan intraserebral berhubungan dengan prognosis yang buruk.27

2.2. CT Scan

2.2.1. Cara Kerja CT Scan

Hasil pencitraan CT Scan didapatkan melalui gambar yang diambil secara komputerisasi dengan menggunakan detektor dan sinar-x yang berotasi.

Gambaran CT Scan didapat melalui peredaman sinar-x terhadap struktur yang dikenainya. Semakin keras densitas struktur yang dikenainya maka akan semakin besar nilai redaman yang ditimbulkan. Nilai redaman ini dinyatakan dengan

(31)

satuan Hounsfield. Pada otak, nilai Hounsfield pada substansia alba(30-34 HU) lebih rendah daripada substansia grisea(37-41 HU). Akibatnya, pada hasil pencitraan CT Scan, subtansia alba akan tampak lebih gelap dibandingkan substansia grisea.28 Nilai HU beberapa struktur lain adalah sebagai berikut.29

 Tulang : 400 HU

 Jaringan Lunak : 80 HU

 Air : 0 HU

 Lemak : -40 HU

 Darah (hematokrit 45%) : +/- 56 HU

 Substansia Alba : 30-34 HU

 Substansia Grisea : 37-41 HU

 CSF : 8 HU

Mesin CT Scan terdiri atas beberapa komponen. Komponen mesin CT Scan adalah gantry, meja pemeriksaan dan komputer untuk mengoperasikan scanner dan melihat hasil gambarnya. Gantry adalah komponen yang bertindak sebagai scanner. Bentuknya seperti donat raksasa dan objek yang hendak difoto akan diposisikan ditengahnya. Gantry terdiri atas generator, tabung sinar-x, collimator dan detektor. Posisi gantry dapat diatur untuk membentuk sudut dalam berbagai derajat untuk menghasilkan foto yang diperlukan. Tabung sinar-x akan berputar menyinari pasien, sehingga sinar akan berbentuk seperti baling-baling.

Panjang gelombang sinar yang ditembakkan pada pasien diatur oleh collimator.

Detektor berfungsi untuk menangkap sinar yang telah melewati pasien. Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor inilah yang akan direkam dan diubah menjadi gelombang listrik yang disalurkan ke komputer sehingga membentuk foto.

Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor bergantung pada densitas struktur yang dilewatinya. Sinar-x yang berputar akan menghasilkan gambaran tiap jaringan dari berbagai arah, sehingga hasil yang ditimbulkan akan lebih jelas.29

Dalam pemeriksaan CT Scan, terdapat 2 metode, yaitu dengan kontras dan tanpa kontras. Untuk mendiagnosa kasus kasus perdarahan, metode yang digunakan adalah metode tanpa kontras. Hal ini dikarenakan pada perdarahan

(32)

akan tampak gambaran khas kalsifikasi. Sementara penggunaan kontras akan membiaskan gambaran kalsifikasi tersebut.30

CT Scan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam mendiagnosa perdarahan jika dilakukan segera setelah trauma terjadi. Nilai sensitivitas dan spesifisitas ini akan menurun semakin lama perdarahan menetap pada pasien. Pada 6 jam pertama setelah terjadinya trauma, CT Scan memiliki nilai sensitivitas 92,9 % dan spesifisitas 100 %. Jika dilakukan kurang dari 6 jam setelah onset trauma, nilai sensitivitasnya dapat mencapai 100 %.31

(33)

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1. Kerangka Teori

Gambar 3.1. Kerangka teori penelitian Trauma Kapitis

CT Scan

Lesi Fokal

Perdarahan Epidural : hiperdens, double convex sign.

Perdarahan Subdural : crescent sign

Perdarahan Subaraknoid : hiperdens mengikuti sulkus

Kontusio/Intraserebral : hiperdens berbatas tegas dengan edema perifokal di sekitarnya

(+/-)Fraktur Kranium

Linier : Diastase, Comminuted, Depressed

Lokasi : Calvarium, Basis Cranii

Keadaan Luka : Terbuka, Tertutup Lesi Difus

Komosio : Normal, dapat pula tampak edema berbatas kabur.

(34)

3.2. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di Bab 1, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah :

Variabel Dependen Variabel Independen

Gambar 3.2. Kerangka konsep penelitian CT Scan Trauma

Kapitis Jenis Lesi Perdarahan

(35)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif observasional dengan desain penelitian retrospective untuk mengetahui gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM .

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dimulai dari September 2016 sampai November 2016.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini diambil dengan metode consecutive sampling yang berarti setiap subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi akan dijadikan sebagai subjek penelitian.

Sampel atau subjek penelitian dalam penelitian ini memiliki karakteristik dalam populasi target yang dijelaskan dalam kriteria inklusi dan eksklusi.

Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus sampel :

n = NZ

21−α /2 PQ N−1 d2+Z21−α /2PQ

Pada penelitian ini, peneliti menginginkan tingkat kepercayaan 95%

sehingga diperoleh nilai Z1−α 1,96. Nilai p yang ditentukan adalah 0,5 karena

(36)

peneliti tidak mengetahui proporsi penelitian sebelumnya, selain itu dikarenakan nilai p 0,5 menghasilkan nilai p.(1-p) paling besar sehingga menghasilkan besar sampel yang maksimal. Kesalahan absolut yang diinginkan adalah sebesar 5%.

Hasil survey awal penelitian menunjukkan jumlah populasi adalah sebesar 645.

Dari hasil perhitungan besar sampel dengan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 148 orang, untuk memudahkan proses perhitungan, maka jumlah sampel dibulatkan menjadi 150 orang.

4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 4.4.1. Kriteria Inklusi

1. Semua pasien yang didiagnosa dengan trauma kapitis yang disertai perdarahan berdasarkan hasil temuan CT Scan

4.4.2. Kriteria Eksklusi

1. Pasien dengan kelainan lain di kepala yang disebabkan selain trauma kapitis seperti tumor dan lain lain

4.5. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan cara mengumpulkan rekam medis pasien.

4.6. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu editing,coding,entry,cleaning data, dan saving.

a. Editing

Editing adalah langkah untuk meneliti kelengkapan isi rekam medik sehingga apabila ada kekurangan dapat segera dilengkapi.

b. Coding

(37)

Coding adalah suatu langkah memberikan kode/menandai variabel hasil pengukuran yang ditemukan pada rekam medik sehingga nantinya akan memudahkan proses pengolahannya di komputer.

c. Entrying data

Entrying data merupakan langkah memasukkan data melalui pengolahan komputer dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Science).

d. Cleaning

Cleaning adalah pembersihan data. Langkah ini dilakukan untuk meneliti kembali data yang sudah ada, dan melihat ada tidaknya kesalahan pada data.

e. Saving

Saving adalah usaha untuk menyimpanan data.

Data yang sudah diolah akan dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS (Statistic Package of Social Science) untuk mengetahui gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM periode Januari-Desember 2015. Hasil dari analisa data tersebut disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi atau proporsi.

4.7. Definisi Operasional 1. CT Scan

a. CT Scan adalah salah satu metode pemeriksaan yang menjadi modalitas utama dalam mendiagnosa jenis lesi perdarahan pada kasus trauma kapitis.

b. Cara Ukur : Melihat rekam medik c. Alat Ukur : Rekam medik

d. Skala Ukur : Nominal

(38)

2. Jenis Lesi Perdarahan

a. Jenis lesi perdarahan adalah suatu lesi yang terjadi pada pasien trauma kapitis. Lesi ini dikelompokkan berdasarkan lokasi dan morfologinya.

b. Cara Ukur : Melihat rekam medik.

c. Alat Ukur : Rekam medik, data didapatkan dari hasil pengukuran menggunakan mesin CT Scan Multi 128 slice dengan merek General Electric.

d. Kategori : Jenis lesi perdarahan dikelompokkan menjadi ; 1.) Perdarahan Epidural

2.) Perdarahan Subdural 3.) Perdarahan Subaraknoid

4.) Perdarahan Intraserebral/Kontusio 5.) Perdarahan Intraventrikel

e. Skala Ukur : Nominal

(39)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5. 1. 1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Instalasi Rekam Medis RSUP Haji Adam Malik Medan. Pada mulanya, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia Nomor 335/Menkes/SK/VII/1990 rumah sakit ini merupakan Rumah Sakit Umum Kelas A di Medan. Seiring perkembangan waktu, nama rumah sakit ini mengalami perubahan nama dari Rumah Sakit Umum Kelas A di Medan menjadi Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik. Yang menjadi dasar dari perubahan nama ini adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 775/Menkes/SK/IX/1992. Rumah sakit ini adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang artinya rumah sakit ini adalah milik Pemerintah Pusat. Segala urusan rumah sakit ini bergantung pada Departemen Kesehatan Republik Indonesia selaku Pemerintah Pusat. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan dan memiliki hubungan khusus dengan Fakultas Kedokteran.

RSUP Haji Adam Malik Medan beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17, Medan. Terletak di kelurahan Kemenangan, kecamatan Medan Tuntungan.

Rumah sakit ini berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan Jamin Ginting.

5. 1. 2. Gambaran Sampel Penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah rekam medis dari pasien trauma kapitis dalam masa 1 Januari 2015 hingga 31 Desember 2015 yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sampel penelitian dipilih dengan teknik consecutive sampling dimana peneliti mengambil data dari semua sampel yang memenuhi kriteria inklusi hingga mencapai jumlah sampel yang dibutuhkan, yaitu 150 sampel.

(40)

5. 1. 2. 1. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Jenis Perdarahan Jumlah Sampel

F %

Perdarahan Epidural (EDH) 67 44,7

Perdarahan Subdural (SDH) 24 16,0

Perdarahan Subarakhnoid (SAH) 24 16,0

Perdarahan Intrakranial (ICH) 18 12,0

Perdarahan Intraventrikel (IVH) 17 11,3

Jumlah 150 100,0

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambar 5. 1. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambaran perdarahan pada sampel dibagi atas 5 kelompok, yaitu Perdarahan Epidural (EDH), Perdarahan Subdural (SDH), Perdarahan Subarakhnoid (SAH), Perdarahan Intrakranial (ICH) dan Perdarahan Intraventrikel (IVH). Berdasarkan gambaran jenis perdarahan, diperoleh kelompok sampel paling banyak pada kelompok Perdarahan Epidural (EDH), yaitu sebanyak 67 sampel (44,7%). Sedangkan kelompok sampel paling sedikit adalah pada kelompok Perdarahan Intraventrikel yaitu sebanyak 17 sampel (11,3%). Sementara itu pada kelompok lain didapati 24 sampel (16%) pada

67

24 24

18

17

Jenis Perdarahan

EDH SDH SAH ICH IVH

(41)

kelompok Perdarahan Subdural (SDH), 24 sampel (16%) pada kelompok Perdarahan Subarakhnoid (SAH), dan 18 sampel (12%) pada kelompok Perdarahan Intrakranial (ICH).

5. 1. 2. 2. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis

Kelamin

Jenis Perdarahan Jumlah

EDH SDH SAH ICH IVH

N % N % N % N % N % N %

Laki-laki 53 35,3 21 14,0 16 10,7 10 6,7 6 4 106 70,7 Perempuan 14 9,4 3 2,0 8 5,3 8 5,3 11 7,3 44 29,3 Jumlah 67 44,7 24 16,0 24 16,0 18 12,0 17 11,3 150 100 Tabel 5. 2. Distribusi Frekuensi Gambaran Jenis Kelamin Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambar 5. 2. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.2. dan Gambar 5.2. menunjukkan distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelaminnya. Berdasarkan Gambar 5. 2. jumlah sampel laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan sampel perempuan, dimana jumlah sampel laki-laki adalah 106 sampel (70,7%) dan jumlah sampel perempuan adalah 44 sampel (29,3%).

106 44

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

(42)

Berdasarkan Tabel 5. 2. Dapat diketahui bahwa baik sampel laki-laki maupun perempuan terbanyak mengalami Perdarahan Epidural (EDH), yaitu laki laki sebanyak 53 sampel (35,3%) dan perempuan sebanyak 14 sampel (9,4%).

Sementara itu pada pada kelompok sampel laki laki paling sedikit mengalami Perdarahan Intraventrikel yaitu sebanyak 6 sampel (4%) dan pada kelompok sampel perempuan paling sedikit mengalami Perdarahan Subdural yaitu sebanyak 3 sampel (2%). Selebihnya pada kelompok laki laki ditemukan Perdarahan Subdural sebanyak 21 sampel (14%), Perdarahan Subarakhnoid sebanyak 16 sampel (10,7%) dan Perdarahan Intrakranial sebanyak 10 sampel (6,7%). Pada kelompok sampel perempuan ditemukan Perdarahan Subarakhnoid sebanyak 8 sampel (5,3%), Perdarahan Intrakranial sebanyak 8 sampel (5,3%) dan Perdarahan Intraventrikel sebanyak 11 sampel (7,3%)

5. 1. 2. 3. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jenis Perdarahan Jumlah

EDH SDH SAH ICH IVH

N % N % N % N % N % N %

<12 10 6,7 1 0,7 2 1,3 1 0,7 0 0 14 9,3 12-25 32 21,3 10 6,7 8 5,3 5 3,3 3 2,0 58 38,7 26-45 19 12,7 8 5,3 9 6,0 4 2,7 5 3,3 45 30,0 46-60 6 4,0 3 2,0 4 2,7 4 2,7 9 6,0 26 17,3

>60 0 0,0 2 1,3 1 0,7 4 2,7 0 0,0 7 4,7 Jumlah 67 44,7 24 16,0 24 16,0 18 12,0 17 11,3 150 100 Tabel 5. 3. Distribusi Frekuensi Gambaran Usia Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

(43)

Gambar 5. 3. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia

Tabel 5.3. dan Gambar 5.3. menunjukkan distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan usianya. Dalam penelitian ini kategori usia dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok usia <12 tahun, kelompok usia 12-25 tahun, kelompok usia 26-45 tahun, kelompok usia 46-60 tahun dan kelompok usia >60 tahun. Berdasarkan Gambar 5.3. diketahui bahwa jumlah sampel terbanyak berasal dari kelompok usia 12-25 tahun yaitu sebanyak 58 sampel (38,7%), kedua terbanyak dari kelompok usia 26-45 tahun yaitu sebanyak 45 sampel (30%), diikuti oleh kelompok usia 46-60 tahun dalam posisi ketiga terbanyak dengan jumlah 26 sampel (17,3%), kelompok usia <12 tahun dalam posisi keempat sebanyak 14 sampel (9,3%) dan kelompok usia >60 tahun sebagai penyumbang sampel yang paling sedikit dengan jumlah 7 sampel (4,7%).

Berdasarkan Tabel 5. 3. Dapat diketahui bahwa 58 sampel yang berasal dari kelompok berusia 12-25 tahun, sebanyak 32 sampel (21,3%) mengalami Perdarahan Epidural, 10 sampel (6,7%) mengalami Perdarahan Subdural, 8 sampel (5,3%) mengalami Perdarahan Subarachnoid, 5 sampel (3,3%) mengalami Perdarahan Intrakranial dan 3 sampel (2%) mengalami Perdarahan Intraventrikel.

Sementara itu pada kelompok yang berusia 26-45 tahun didapati 19 sampel

14

58 45

26 7

Usia

<12 12-25 26-45 46-60

>60

(44)

(12,7%) mengalami Perdarahan Epidural, 8 sampel (5,3%) mengalami Perdarahan Subdural, 9 sampel (6%) mengalami Perdarahan Subarachnoid, 4 sampel (2,7%) mengalami Perdarahan Intrakranial dan 5 sampel (3,3%) mengalami Perdarahan Intraventrikel. Pada kelompok yang berusia 46-60 tahun didapati 6 sampel (4%) mengalami Perdarahan Epidural, 3 sampel (2%) mengalami Perdarahan Subdural, 4 sampel (2,7%) mengalami Perdarahan Subarachnoid, 4 sampel (2,7%) mengalami Perdarahan Intrakranial dan 9 sampel (6%) mengalami Perdarahan Intraventrikel. Pada kelompok usia <12 tahun didapati 10 sampel (6,7%) mengalami Perdarahan Epidural, 1 sampel dengan Perdarahan Subdural, 2 sampel (1,3%) dengan Perdarahan Subarachnoid dan 1 sampel (0,7%) dengan Perdarahan Intrakranial. Pada kelompok usia ini tidak ditemukan sampel dengan Perdarahan Intraventrikel. Terakhir, pada kelompok usia >60 tahun, ditemukan 2 sampel (1,3%) dengan Perdarahan Subdural, 1 sampel (0,7%) dengan Perdarahan Subarachnoid dan 4 sampel (2,7%) dengan Perdarahan Intrakranial. Pada kelompok usia ini tidak ditemukan sampel dengan Perdarahan Epidural maupun dengan Perdarahan Intraventrikel.

5. 2. Pembahasan

Pada penelitian ini didapatkan jenis perdarahan terbanyak yang terjadi pada pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan adalah Perdarahan Epidural yaitu sebanyak 67 sampel (44,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian serupa yang dilakukan di UGD RSUP Haji Adam Malik Medan yang dilakukan pada tahun 2009 dimana jenis perdarahan yang terbanyak adalah Perdarahan Epidural.32

Peneliti juga menemukan penelitian serupa yang dilakukan di Bangsal Neurologi Haji Adam Malik Medan dimana hasil yang didapati berbeda.

Berdasarkan penelitian tersebut jenis perdarahan yang terbanyak adalah Perdarahan Intraserebral.6 Hal ini berbeda kemungkinan dikarenakan penelitian tersebut terbatas hanya dilakukan pada pasien trauma kapitis yang dirawat di bangsal neurologi saja.

(45)

Pada penelitian ini didapati bahwa kejadian trauma kapitis lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebanyak 106 sampel (70,7%) dibandingkan pada perempuan, yaitu sebanyak 44 sampel (29,3%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2013 dimana jumlah pasien laki laki adalah 72% dan perempuan 28%.33 Hal ini juga sesuai dengan kepustakaan bahwasannya kecenderungan trauma kapitis terhadap laki-laki 2 kali lebih sering dibandingkan terhadap perempuan.34

Berdasarkan hasil penelitian ini diadapati bahwa kelompok usia sampel yang terbanyak mengalami kejadian trauma kapitis adalah kelompok usia 12-25 tahun. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan di UGD RSUP Haji Adam Malik Medan, bahwasannya kebanyakan penderita trauma kapitis berada pada usia produktif 19-30 tahun.32 Hasil ini juga relatif sama dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa kelompok usia yang berisiko tinggi terhadap kejadian trauma kapitis adalah kelompok usia 15-19 tahun.34

Kasus trauma kapitis amat erat kaitannya dengan tingkat mobilitas seseorang. Kecelakaan merupakan penyebab terbanyak kasus trauma kapitis, baik iu yang melibatkan kendaraan bermotor, pesepeda maupun pejalan kaki.

Selanjutnya atlit juga berisiko besar mengalami kejadian trauma kapitis. Selain itu di negara negara yang mengalami peperangan tingkat kejadian trauma kapitis juga meningkat, baik warga sipil maupun tentara berisiko mengalami trauma akibat serangan ataupun ledakan.35

Tingkat mobilitas seseorang tentunya amat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin seseorang. Seseorang yang masih muda tentu memiliki tingkat mobilitas yang lebih jika dibandingkan dengan seorang lansia. Begitupun seorang laki-laki jika dibandingkan dengan seorang perempuan. Demikianlah mengapa kasus trauma kapitis lebih banyak dialami oleh kelompok usia muda dan kelompok jenis kelamin laki-laki.

(46)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6. 1. Kesimpulan

Dari analisa data hasil dari penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Jenis perdarahan akibat kejadian trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan yang paling banyak adalah Perdarahan Epidural, yaitu sebanyak 67 dari 150 sampel (44,7%).

2. Jenis perdarahan akibat kejadian trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan yang paling sedikit adalah Perdarahan Intraventrikel, yaitu sebanyak 17 dari 150 sampel (11,3%).

3. Pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan lebih banyak dijumpai dari jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 106 dari 150 sampel ( 70,7%) dibandingkan dari jenis kelamin perempuan yang berjumlah 44 dari 150 sampel (29,3%).

4. Pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan paling banyak dijumpai pada kelompok usia 12-25 tahun yaitu sebanyak 58 dari 150 sampel (38,7%)

6. 2. Saran

Berdasarkan hasil pada penelitian yang telah dilakukan, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :

1. Mengingat kejadian terbanyak trauma kapitis terjadi pada kelompok usia produktif, maka perlu diadakan edukasi tentang faktor-faktor resiko kejadian trauma kapitis oleh pihak-pihak terkait.

2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu penelitian selanjutnya dengan memperluas variabel-variabel penelitian lainnya.

(47)

3. Diharapkan adanya peningkatan terhadap pengelolaan dan penyimpanan data rekam medik di RSUP Haji Adam Malik Medan agar lebih baik lagi, sehingga akan mempermudah penelitian-penelitian selanjutnya dan menghasilkan data yang lebih akurat.

(48)

Daftar Pustaka

1. American College of Surgeon Committee on Trauma. 2008. Advance Trauma Life Support for Doctors. Edisi Kedelapan. Diterjemahkan oleh:

Ikatan Ahli Bedah Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Bedah Indonesia.

2. Dito A. Cedera Kepala Traumatik. Neurologi Update. 2008 3. Nasution SH. Mild Head Injury. 2014 Juni

4. Lonto AKU, Loho E, Mamesah YPM, Timban JFJ. Gambaran CT Scan pada Penderita Perdarahan Subdural di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2011-Oktober 2014. 2015 April. 3(1)

5. Manarisip MEI, Oley MC, Limpeleh H. Gambaran CT Scan Kepala pada Penderita Cedera Kepala Ringan di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2012-2013. 2014 Juli. 2(2)

6. Rambe AS, Zuraini. Profil Penderita Trauma Kapitis pada Bangsal Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan. Majalah Kedokteran Nusantara.

2008 Desember. 41(4)

7. Ginsberg L. Neurologi : Lecture Notes. Edisi kedelapan. Jakarta : Penerbit Erlangga. 2007

8. Korlantas Polri. Accident Count.[Internet]2015[cited 2016 May 23]

Available from : http://www.korlantas-

irsms.info/graph/accidentTypeTable

9. Samir HH, Yaseen MA. Critical Care Management of Severe Traumatic Brain Injury in Adults. Scandinavian Journal of Trauma Rescucitation and Emergency Medicine. 2012. 14

10. Kartoleksono S. Tomografi Komputer. dalam : Ekayuda I, editor.

Radiologi Diagnostik. edisi kedua, Jakarta : BP FKUI. 2011

11. Zimmerman RA, Bilaniuk LT, Genarelli T, Bruce D, Dolinskas C, Uzell B. Cranial Computed Tomography in Diagnosis and Management of Acute Head Trauma. American Journal of Roentgenology. 1978. 131(27- 34)

(49)

12. PERDOSSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal. Jakarta : CV Prikarsa Utama. 2006

13. Lombardo MC. Cedera Sistem Saraf Pusat. dalam : Price SA, Wilson LM, Patofisiologi :Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC. 2006 14. Dawodu ST. Traumatic Brain Injury (TBI) : Definition,

Epidemiology,Pathophysiology.[Internet]2015 [cited 2016 May 25].

available from : http://emedicine.medscape.com/article/326510- overview3showall

15. Whitfield P. Head Injury : A Multidisciplinary Approach. New York : Cambridge University Press. 2009

16. Mardjono M, Siddharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat.

2008

17. Japardi I. Cedera Kepala. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer. 2004

18. Wahjoepramono EJ. Cedera Kepala. Jakarta : PT Delcitra Grafindo. 2005 19. Allapat JP, Baiju, Praveen, et al. Delayed Extradural Hematoma : A Case

Report. 2002. (3) 50:313

20. Kaye AH. Essentials Neurosurgery. Massachusetts, USA : Blackwell Publishing Ltd. 2005

21. Fitriani NA. Karakteristik Kasus Perdarahan Intrakranial Pasien Trauma Kepala pada IRD Bedah RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2005. Makassar. 2006

22. Edlow J, Magdy S. Neurology Emergencies. New York : Oxford University Press Inc. 2011

23. Knipe H, Jones J. Intraventricular Haemorrhage.[Internet]2014[cited 2016 Jun 10]. Available from : radiopaedia.org/articles/intraventricular- haemorrhage

24. Sastrodiningrat AG. Pemahaman Indikator-indikator Dini Dalam Menentukan Prognosis Cedera Kepala Berat. [Internet]2008 Aug[cited

2016 May 25] available from :

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/753

(50)

25. Division of Workers Compensation. Traumatic Brain Injury Medical Treatment Guidelines State of Colorado Department of Labor and Employment. 2006

26. Lindsay KW, Bone I, Callander R. Neurology And Neurosurgery Illustrated. Edinburgh : Churcill Livingstone. 1997

27. Ropper AH. Concussion And Other Head Injuries. dalam : Hauser SL, editor. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. San Francisco, California : McGraw-Hill. 2006

28. Chen MYM, Pope TL, Ott DJ. Basic Radiology. Second Edition. San Francisco : McGraw Hill. 2011

29. Hopkins R, Peden C, Gandhi S. Radiology for Anesthesia and Intensive Care. San Francisco : Greenwich Medical Media. 2003

30. Mettler FA Jr, Thomadsen BR, Bhargavan M, et al. Medical Radiation Exposure In The U.S. In 2006 : Preliminary Result. 2008;95(5)

31. Perry JJ, Stiell IG, Sivilotti MLA, et al. Sensitivity of Computed Tomography Performed Within Six Hours of Onset of Headache for Diagnosis of Subarachnoid Hemorrhage : Prospective Cohort Study. BMJ 2011;343:d4277

32. Veni K. Gambaran Penderita Trauma Kepala di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Tahun 2009. 2011. Juni [28

November 2016]. Available from :

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/25734

33. Simanjuntak F, Ngantung DJ, Mahama CN. Gambaran Pasien Cedera Kepala Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2013- Desember 2013. 2015. April. (3)1

34. Brain and Spinal Cord. Brain Injury Statistic. 28 Juli 2009 [15 November 2016]. Available from : http://www.brainandspinalcord.org/brain- injury/statistics.html.

35. Olson DA. Head Injury Clinical Presentation.[Internet] 2016 [cited 2017 Jan 2]. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1163653- clinical#b5

(51)

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Aditya Rachmansyah Pinem

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat, tanggal lahir : Lhokseumawe, 03 Desember 1995 Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Jl. Jamin Ginting No. 147, P. Bulan, Medan Nomor Handphone : 081263490434

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan : 1. TK III Taman Siswa PT. Arun Lhokseumawe, NAD

1999-2000

2. TK Pembangunan Didikan Islam Medan, Sumut 2000-2001

3. SD Shafiyyatul Amaliyyah Medan, Sumut 2001- 2007

4. SMP Shafiyyatul Amaliyyah Medan, Sumut 2007-2010

5. SMAN 4 Medan, Sumut 2010-2013

Riwayat pelatihan : 1. Basic Training (Latihan Kader 1) HMI Cabang Medan 2013

(52)

2. Intermediate Training (Latihan Kader 2) HMI Cabang Medan 2016

Riwayat Organisasi : 1. Pengurus SCORA PEMA FK USU Periode 2013-2014

2. Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Kedokteran USU Periode

2014-2015

3. Wakil Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Kedokteran USU Periode 2014-2015

4. Ketua Divisi Hubungan Masyarakat SCORA PEMA FK USU Periode

Latihan USU 2015-2016

5. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Kedokteran USU Periode 2015-2016

(53)

LAMPIRAN 2

ETHICAL CLEARANCE

(54)

LAMPIRAN 3

Izin Penelitian Kepada RSUP Haji Adam Malik Medan

(55)

LAMPIRAN 4

Izin Penelitian Kepada Instalasi Rekam Medik RSUP HAM

Gambar

Gambar 2.1. Anatomi yang terlibat pada kasus trauma kapitis.
Gambar 2.2. (a). Perdarahan Epidural Akut (b). Perdarahan Epidural Subakut  (c). Perdarahan Epidural Kronik
Gambar 2.4. Anak panah menunjukkan perdarahan subaraknoid, yaitu area yang  luas dengan densitas tinggi pada sulkus-sulkus sebelah kanan
Gambar  2.5.  (a).  Anak  panah  menunjukkan  lesi  kontusio  pada  kedua  lobus  frontalis
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran CT scan nasofaring potong axial pada penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.. Penelitian ini

Perbedaan koagulopati pada cedera kepala berat dengan perdarahan dan tanpa perdarahan otak berdasarkan CT Scan kepala. Medan: Departemen ilmu

Kanker paru merupakan kanker yang menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi yaitu sekitar 1,59 juta jiwa yang terjadi karena tingginya kebiasan merokok yang merupakan faktor

Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr.. Sensitivity and specificity of lung cancer screening using chest low dow-dose

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (

Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi myometrium dinamakan atonia uteri dan keadaan ini menjadi penyebab utama perdarahan postpartum, Trauma dan laserasi yaitu perdarahan

Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Ahli Bahasa Monica Ester, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarata.. Karakteristik Penderita Perdarahan Antepartum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil pada pasien kanker usus besar di RSUP Haji Adam Malik Medan yang bersifat deskriptif retrospektif.. Kata