• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Trauma Kapitis

2.1.5. Klasifikasi

Trauma kapitis dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 kelompok, yaitu : mekanisme terjadinya cedera kepala, berat cedera kepala dan morfologi cedera kepala.

1. Mekanisme Terjadinya Cedera Kepala

Berdasarkan mekanismenya, trauma kapitis dapat dikelompokkan menjadi trauma tumpul dan trauma tembus. Trauma tembus misalnya terjadi akibat benturan ataupun pukulan benda tumpul. Trauma tembus terjadi akibat tusukan ataupun tembakan.12

2. Beratnya Cedera Kepala

Untuk mengelompokkan berat atau ringannya suatu cedera kepala, digunakan skala koma glasgow (GCS). Penilaian GCS dilakukan dengan mengobservasi kemampuan pasien dalam membuka mata, respon verbal dan respon motoriknya. Nilai total GCS adalah 15. Suatu cedera kepala dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan apabila skor GCS-nya 13-15, sedang apabila skornya 9-12 dan berat apabila skornya 3-8.12

3. Morfologi

a. Fraktur Kranium

Fraktur kranium dapat terjadi pada kalvaria ataupun basis kranii.

Bentuknya dapat berupa garis (linear) ataupun seperti bintang (stellata). Fraktur ini dapat pula bersifat terbuka ataupun tertutup.

Untuk mengidentifikasi suatu fraktur kranium diperlukan pemeriksaan CT Scan dengan teknik “bone window” agar garis frakturnya tampak

jelas. Tanda tanda klinis fraktur dapat menjadi petunjuk untuk melakukan pemeriksaan yang lebih rinci. Fraktur kranium yang terbuka dapat mengakibatkan terhubungnya laserasi kulit kepala dengan permukaan otak. Hal ini terjadi karena robeknya selaput duramater. Suatu bentuk fraktur kranium tidak dapat diremehkan Fraktur kranium dapat diklasifikasikan sebagai berikut17 :

1. Gambaran Fraktur

Dapat dimulai dari komosio serebri ringan. Pada cedera otak difus temuan CT Scan dapat memberi gambaran normal hingga gambaran yang amat buruk.

Saat komosio pasien biasanya kehilangan kesadaran dan kemungkinan mengalami amnesia, baik retrograd maupun anterograd. Cedera tipe difus biasanya terjadi akibat cedera kepala sekunder, yaitu di periode dimana pada otak terjadi hipoksia, iskemi akibat syok atau apnoe yang berkepanjangan. Gambaran CT Scan biasanya menunjukkan gambaran yang normal. Namun pada beberapa kasus didapati gambaran edema dengan batas area berwarna abu-abu atau putih yang kabur.

Istilah Cedera Aksonal Difus (CAD) digunakan untuk menggambarkan cedera otak yang berat dengan prognosis yang buruk. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan kerusakan akson dan tercerminkan pada manifestasi klinisnya.17

5. Perdarahan Epidural

Perdarahan epidural adalah penumpukan darah di ruang antara duramater dan tulang kranium. Perdarahan ini paling sering terjadi akibat robeknya arteri meningea media. Robeknya arteri ini lazimnya disebabkan oleh fraktur pada bagian temporal dari kranium. Lokasi yang paling sering dari perdarahan ini adalah di bagian temporal atau tempoparietal. Kedua lokasi ini ditemui pada 70%

kasus perdarahan epidural. Sisanya berlokasi di bagian frontal, oksipital dan fossa serebri posterior.18

Berdasarkan rentang waktu antara trauma dengan penanganannya, perdarahan epidural dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok akut adalah yang mendapat penanganan minimal 3 hari setelah kejadian. Kelompok subakut adalah yang mendapat penanganan 4-13 hari setelah kejadian dan kelompok kronik adalah yang mendapat penanganan setelah lewat 13 hari pasca kejadian trauma.19

Pada manifestasinya, pasien bisa saja tetap sadar maupun tidak sadar, ataupun dari sadar menjadi tidak sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar, atau dari tidak sadar menjadi sadar untuk beberapa waktu lalu kemudian tidak sadar kembali. Periode kesadaran pasien diantara ketidaksadarannya tadi disebut dengan lucid interval. Lamanya lucid interval ini dapat berlangsung dalam hitungan jam maupun hari. Semakin singkatnya periode ini menandakan perdarahan yang terjadisemakin cepat dan besar. Selain itu pasien dapat pula mengalami sakit kepala, defisit neurologis dan perubahan tanda vital.18,20

Untuk mendiagnosa perdarahan epidural diperlukan pemeriksaan CT Scan kepala. Pada CT Scan kepala akan tampak double convex sign atau menyerupai lensa cembung. Sebagai tatalaksana diperlukan kraniotomi segera untuk mengevakuasi perdarahan.18

(a). (b).

(c).

Gambar 2.2. (a). Perdarahan Epidural Akut (b). Perdarahan Epidural Subakut (c). Perdarahan Epidural Kronik

6. Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi di ruang antara duramater dan araknoid. Perdarahan ini umumnya disebabkan oleh robeknya vena di dalam ruang araknoid. Gejala umum dari perdarahan subdural adalah penurunan kesadaran, pupil anisokor dan defisit neurologis yang utamanya adalah gangguan motorik. Perdarahan subdural dapat diklasifikasikan menjadi akut, subakut dan kronik. Perdarahan subdural akut merupakan perdarahan dengan gejala klinis yang timbul segera atau beberapa jam setelah terjadinya trauma. Pada

pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran hiperdens yang berbentuk konkaf atau bulan sabit (crescent sign). Perdarahan subdural subakut akan memberikan gejala klinis yang tampak setelah 4-10 hari setelah terjadinya trauma. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak gambaran perdarahan yang lebih tebal dari perdarahan akut dan memberi kesan campuran antara hiperdens, isodens dan hipodens. Perdarahan subdural kronik akan memberi gambaran klinis setelah lebih dari 10 hari pasca terjadinya trauma. Pada gambaran CT Scan akan tampak perdarahan yang hipodens. Ini terjadi karena zat besi dalam tumpukan darah itu sudah terfagositosis. Tatalaksana perdarahan subdural adalah operasi untuk mengevakuasi perdarahan secepatnya. Prognosis amat ditentukan dari segera atau tidaknya operasi dilakukan. Perdarahan subdural kronik memberi hasil prognosis yang baik dibandingkan yang akut. 90% penderita perdarahan subdural kronik akan sembuh setelah operasi. Pada kasus perdarahan yang kecil hanya diberikan terapi konservatif dan observasi yang ketat. Proses lisis dan penyerapan darah diharapkan terjadi setelah 10 hari.18,21

(a). (b).

(c).

Gambar 2.3. (a). Perdarahan subdural akut (b). perdarahan subdural subakut (c).

perdarahan subdural kronik

7. Perdarahan Subaraknoid

Pada ruang subaraknoid terdapat sebuah bridging vein. Apabila bridging vein ini ruptur maka akan terjadi perdarahan subaraknoid. Bridging vein ini terletak pada permukaan otak. Perdarahan subaraknoid terjadi di ruang antara lapisan araknoid dan piamater. Akibatnya perdarahan ini akan mengisi rongga subaraknoid dan ikut masuk ke sistem cairan serebrospinal. Perdarahan subaraknoid biasanya disertai dengan kontusio atau laserasi serebri. Darah dalam rongga subaraknoid akan mengakibatkan spasme pada pembuluh arteri. Akibatnya suplai darah menuju ke otak akan berkurang. Hal ini akan mengganggu mikrosirkulasi otak yang akan berakibat pada terjadinya edema otak. Selain itu

darah yang masuk ke sirkulasi cairan serebro spinal juga akan menyebabkan iritasi meningeal. Dampaknya, pasien akan mengeluhkan gejala-gejala meningeal seperti nyeri kepala, demam, kaku tengkuk, fotofobia dan iritabilitas. Untuk menegakkan diagnosa perdarahan subaraknoid dilakukan lumbal punksi. Apabila ditemukan darah pada cairan serebrospinal maka diagnosa perdarahan subaraknoid dapat ditegakkan. Selain itu pada pemeriksaan CT Scan akan ditemui gambaran lesi hiperdens yang mengikuti pola sulkus pada permukaan otak.

Perdarahan subaraknoid membutuhkan penanganan intensif. Namun pengobatan biasanya bersifat simtomatis. Selain itu perlu diingat bahwasannya vasospasme perlu dicegah sedini mungkin.18

Gambar 2.4. Anak panah menunjukkan perdarahan subaraknoid, yaitu area yang luas dengan densitas tinggi pada sulkus-sulkus sebelah kanan

8. Perdarahan Intraserebral dan Kontusio

Kontusio atau perdarah intraserebral adalah perdarahan yang terjadi di permukaan parenkim otak. Perdarahan ini terjadi akibat laserasi atau kontusio yang terjadi pada jaringan otak. Lokasi tersering pada perdarahan jenis ini adalah di lobus frontalis dan temporalis. Namun lesi perdarahan ini dapat juga terjadi di bagian otak yang lain selain kedua lobus tersebut. Lokasi lesi perdarahan ini dapat

timbul di permukaan yang terkena benturan (coup) ataupun di sisi yang berlawanan dari benturan (countercoup). Bentuk dari lesi perdarahan ini dapat berupa titik titik perdarahan kecil dan bisa pula berupa perdarahan yang luas.

Perdarahan kecil juga dapat berubah menjadi perdarahan yang luas dalam tempo tertentu. Perdarahan dapat terjadi segera setelah trauma terjadi ataupun beberapa hari hingga minggu kemudian. Perdarahan ini dapat memiliki periode lucid interval yang cukup panjang dan diikuti kemunculan gejala klinis yang progresif.

Gambaran klinis yang terjadi dapat berupa defisit neurologis, hemiplegia, koma, tanda babinsky yang positif bilateral, dilatasi pupil dan pernafasan yang ireguler.

Penegakan diagnosa perdarahan intraserebral adalah dengan pemeriksaan CT Scan. Pada pemeriksaan CT Scan akan tampak bayangan homogen berbatas tegas dengan kesan hiperdens. Selain itu tampak pula edema perifokal di sekitarnya.

Sebagai tatalaksana perdarahan yang kecil dilakukan tindakan suportif dan observatif, misalnya dengan menjaga tekanan darah. Pada pasien-pasien yang mengalami perdarahan yang besar dan disertai gangguan neurologis serta mengalami peningkatan tekanan intrakranial akibat perdarahan harus segera dilakukan kraniotomi serta aspirasi hematom. Apabila terjadi perdarahan besar sedangkan kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan operatif maka dapat diterapi dengan cara hiperventilasi, manitol dan steroid. Selain itu dilakukan pula pemantauan tekanan intrakranial secara ketat.18,22

Selain itu dapat pula terjadi perdarahan pada sistem ventrikel. Perdarahan ini disebut sebagai perdarahan intraventrikel dan dapat menyumbat aliran cairan serebrospinal, sehingga akan menimbulkan hidrosefalus obstruktif.23

(a). (b).

Gambar 2.5. (a). Anak panah menunjukkan lesi kontusio pada kedua lobus frontalis. (b). Perdarahan Intraventrikel

2.1.6. Pemeriksaan Radiologis Pada Trauma Kapitis a. CT Scan

CT Scan amat penting dalam menentukan prognosa pada pasien cedera kepala berat. Gambaran CT Scan yang normal pada pasien-pasien cedera kepala berat berhubungan dengan angka mortalitas yang lebih rendah. Selain itu hasil CT Scan yang baik berhubungan pula pada penyembuhan fungsional yang lebih baik apabila dibandinngkan dengan pasien-pasien yang memiliki hasil CT Scan yang abnormal. Namun demikian, hasil CT Scan tidak mutlak menyatakan bahwa semua pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal akan selalu berprognosis baik. Kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dan perkembangan lesi baru dilaporkan pada 40% pasien dengan hasil CT Scan yang relatif normal. Selain itu pemeriksaan CT Scan kurang sensitif untuk mendeteksi lesi di batang otak karena kecilnya struktur area cedera dan kedekatan area tersebut dengan tulang-tulang di sekitarnya. Lesi ini sering berhubungan dengan prognosis yang buruk.24

b. X-ray Tulang Kranium

X-ray digunakan sebagai peralatan diagnostik untuk mengetahui fraktur di dasar ataupun rongga kranium. X-ray kranium digunakan ketika CT Scan tidak tersedia. CT Scan lebih dipilih untuk mengidentifikasi fraktur dikarenakan dapat sekaligus mendeteksi kontusio ataupun perdarahan.25

c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Magnetic Resonance Imaging (MRI) berguna untuk menentukan prognosa pada pasien trauma kapitis. Keunggulan MRI adalah dapat mendeteksi lesi di substansia alba dan batang otak yang mana lesi di kedua lokasi ini sering luput dari pemeriksaan CT Scan.25

Keuntungan lain dari MRI adalah tidak menghasilkan radiasi yang terionisasi sehingga akan lebih aman bagi pasien. MRI juga lebih sensitif untuk mendeteksi perubahan pada jaringan, seperti proses demyelinisasi.26

2.1.7. Prognosis

Penentuan prognosis pada kasus trauma kapitis ditentukan dengan besarnya nilai Skala Koma Glasgow (SKG). 85% pasien dengan nilai SKG 3-4 meninggal dalam waktu 24 jam. Pasien yang berumur dibawah 20 tahun memiliki kemungkinan pulih yang lebih baik. 55% anak anak memiliki prognosis yang lebih baik setelah 1 tahun pemulihan dibanding 21% orang dewasa. Usia yang lebih tua meningkatkan kemungkinan hipoksia, hipotensi dan peningkatan TIK.

Selain itu, evakuasi yang terlambat dari perdarahan intraserebral berhubungan dengan prognosis yang buruk.27

2.2. CT Scan

2.2.1. Cara Kerja CT Scan

Hasil pencitraan CT Scan didapatkan melalui gambar yang diambil secara komputerisasi dengan menggunakan detektor dan sinar-x yang berotasi.

Gambaran CT Scan didapat melalui peredaman sinar-x terhadap struktur yang dikenainya. Semakin keras densitas struktur yang dikenainya maka akan semakin besar nilai redaman yang ditimbulkan. Nilai redaman ini dinyatakan dengan

satuan Hounsfield. Pada otak, nilai Hounsfield pada substansia alba(30-34 HU) lebih rendah daripada substansia grisea(37-41 HU). Akibatnya, pada hasil pencitraan CT Scan, subtansia alba akan tampak lebih gelap dibandingkan substansia grisea.28 Nilai HU beberapa struktur lain adalah sebagai berikut.29

 Tulang : 400 HU Scan adalah gantry, meja pemeriksaan dan komputer untuk mengoperasikan scanner dan melihat hasil gambarnya. Gantry adalah komponen yang bertindak sebagai scanner. Bentuknya seperti donat raksasa dan objek yang hendak difoto akan diposisikan ditengahnya. Gantry terdiri atas generator, tabung sinar-x, collimator dan detektor. Posisi gantry dapat diatur untuk membentuk sudut dalam berbagai derajat untuk menghasilkan foto yang diperlukan. Tabung sinar-x akan berputar menyinari pasien, sehingga sinar akan berbentuk seperti baling-baling.

Panjang gelombang sinar yang ditembakkan pada pasien diatur oleh collimator.

Detektor berfungsi untuk menangkap sinar yang telah melewati pasien. Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor inilah yang akan direkam dan diubah menjadi gelombang listrik yang disalurkan ke komputer sehingga membentuk foto.

Intensitas sinar yang ditangkap oleh detektor bergantung pada densitas struktur yang dilewatinya. Sinar-x yang berputar akan menghasilkan gambaran tiap jaringan dari berbagai arah, sehingga hasil yang ditimbulkan akan lebih jelas.29

Dalam pemeriksaan CT Scan, terdapat 2 metode, yaitu dengan kontras dan tanpa kontras. Untuk mendiagnosa kasus kasus perdarahan, metode yang digunakan adalah metode tanpa kontras. Hal ini dikarenakan pada perdarahan

akan tampak gambaran khas kalsifikasi. Sementara penggunaan kontras akan membiaskan gambaran kalsifikasi tersebut.30

CT Scan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam mendiagnosa perdarahan jika dilakukan segera setelah trauma terjadi. Nilai sensitivitas dan spesifisitas ini akan menurun semakin lama perdarahan menetap pada pasien. Pada 6 jam pertama setelah terjadinya trauma, CT Scan memiliki nilai sensitivitas 92,9 % dan spesifisitas 100 %. Jika dilakukan kurang dari 6 jam setelah onset trauma, nilai sensitivitasnya dapat mencapai 100 %.31

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1. Kerangka Teori

Gambar 3.1. Kerangka teori penelitian Trauma Kapitis

3.2. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di Bab 1, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah :

Variabel Dependen Variabel Independen

Gambar 3.2. Kerangka konsep penelitian CT Scan Trauma

Kapitis Jenis Lesi Perdarahan

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif observasional dengan desain penelitian retrospective untuk mengetahui gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM .

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dimulai dari September 2016 sampai November 2016.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien trauma kapitis di RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini diambil dengan metode consecutive sampling yang berarti setiap subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi akan dijadikan sebagai subjek penelitian.

Sampel atau subjek penelitian dalam penelitian ini memiliki karakteristik dalam populasi target yang dijelaskan dalam kriteria inklusi dan eksklusi.

Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus sampel :

n = NZ

21−α /2 PQ N−1 d2+Z21−α /2PQ

Pada penelitian ini, peneliti menginginkan tingkat kepercayaan 95%

sehingga diperoleh nilai Z1−α 1,96. Nilai p yang ditentukan adalah 0,5 karena

peneliti tidak mengetahui proporsi penelitian sebelumnya, selain itu dikarenakan nilai p 0,5 menghasilkan nilai p.(1-p) paling besar sehingga menghasilkan besar sampel yang maksimal. Kesalahan absolut yang diinginkan adalah sebesar 5%.

Hasil survey awal penelitian menunjukkan jumlah populasi adalah sebesar 645.

Dari hasil perhitungan besar sampel dengan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 148 orang, untuk memudahkan proses perhitungan, maka jumlah sampel dibulatkan menjadi 150 orang.

4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 4.4.1. Kriteria Inklusi

1. Semua pasien yang didiagnosa dengan trauma kapitis yang disertai perdarahan berdasarkan hasil temuan CT Scan

4.4.2. Kriteria Eksklusi

1. Pasien dengan kelainan lain di kepala yang disebabkan selain trauma kapitis seperti tumor dan lain lain

4.5. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan cara mengumpulkan rekam medis pasien.

4.6. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu editing,coding,entry,cleaning data, dan saving.

a. Editing

Editing adalah langkah untuk meneliti kelengkapan isi rekam medik sehingga apabila ada kekurangan dapat segera dilengkapi.

b. Coding

Coding adalah suatu langkah memberikan kode/menandai variabel hasil pengukuran yang ditemukan pada rekam medik sehingga nantinya akan memudahkan proses pengolahannya di komputer.

c. Entrying data

Entrying data merupakan langkah memasukkan data melalui pengolahan komputer dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Science).

d. Cleaning

Cleaning adalah pembersihan data. Langkah ini dilakukan untuk meneliti kembali data yang sudah ada, dan melihat ada tidaknya kesalahan pada data.

e. Saving

Saving adalah usaha untuk menyimpanan data.

Data yang sudah diolah akan dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS (Statistic Package of Social Science) untuk mengetahui gambaran perdarahan pada CT Scan pasien trauma kapitis di RSHAM periode Januari-Desember 2015. Hasil dari analisa data tersebut disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi atau proporsi.

4.7. Definisi Operasional 1. CT Scan

a. CT Scan adalah salah satu metode pemeriksaan yang menjadi modalitas utama dalam mendiagnosa jenis lesi perdarahan pada kasus trauma kapitis.

b. Cara Ukur : Melihat rekam medik c. Alat Ukur : Rekam medik

d. Skala Ukur : Nominal

2. Jenis Lesi Perdarahan

a. Jenis lesi perdarahan adalah suatu lesi yang terjadi pada pasien trauma kapitis. Lesi ini dikelompokkan berdasarkan lokasi dan morfologinya.

b. Cara Ukur : Melihat rekam medik.

c. Alat Ukur : Rekam medik, data didapatkan dari hasil pengukuran menggunakan mesin CT Scan Multi 128 slice dengan merek General Electric.

d. Kategori : Jenis lesi perdarahan dikelompokkan menjadi ; 1.) Perdarahan Epidural

2.) Perdarahan Subdural 3.) Perdarahan Subaraknoid

4.) Perdarahan Intraserebral/Kontusio 5.) Perdarahan Intraventrikel

e. Skala Ukur : Nominal

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5. 1. 1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Instalasi Rekam Medis RSUP Haji Adam Malik Medan. Pada mulanya, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia Nomor 335/Menkes/SK/VII/1990 rumah sakit ini merupakan Rumah Sakit Umum Kelas A di Medan. Seiring perkembangan waktu, nama rumah sakit ini mengalami perubahan nama dari Rumah Sakit Umum Kelas A di Medan menjadi Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik. Yang menjadi dasar dari perubahan nama ini adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 775/Menkes/SK/IX/1992. Rumah sakit ini adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang artinya rumah sakit ini adalah milik Pemerintah Pusat. Segala urusan rumah sakit ini bergantung pada Departemen Kesehatan Republik Indonesia selaku Pemerintah Pusat. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan dan memiliki hubungan khusus dengan Fakultas Kedokteran.

RSUP Haji Adam Malik Medan beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17, Medan. Terletak di kelurahan Kemenangan, kecamatan Medan Tuntungan.

Rumah sakit ini berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan Jamin Ginting.

5. 1. 2. Gambaran Sampel Penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah rekam medis dari pasien trauma kapitis dalam masa 1 Januari 2015 hingga 31 Desember 2015 yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sampel penelitian dipilih dengan teknik consecutive sampling dimana peneliti mengambil data dari semua sampel yang memenuhi kriteria inklusi hingga mencapai jumlah sampel yang dibutuhkan, yaitu 150 sampel.

5. 1. 2. 1. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Jenis Perdarahan Jumlah Sampel

F %

Perdarahan Epidural (EDH) 67 44,7

Perdarahan Subdural (SDH) 24 16,0

Perdarahan Subarakhnoid (SAH) 24 16,0

Perdarahan Intrakranial (ICH) 18 12,0

Perdarahan Intraventrikel (IVH) 17 11,3

Jumlah 150 100,0

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambar 5. 1. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambaran perdarahan pada sampel dibagi atas 5 kelompok, yaitu Perdarahan Epidural (EDH), Perdarahan Subdural (SDH), Perdarahan Subarakhnoid (SAH), Perdarahan Intrakranial (ICH) dan Perdarahan Intraventrikel (IVH). Berdasarkan gambaran jenis perdarahan, diperoleh kelompok sampel paling banyak pada kelompok Perdarahan Epidural (EDH), yaitu sebanyak 67 sampel (44,7%). Sedangkan kelompok sampel paling sedikit adalah pada kelompok Perdarahan Intraventrikel yaitu sebanyak 17 sampel (11,3%). Sementara itu pada kelompok lain didapati 24 sampel (16%) pada

kelompok Perdarahan Subdural (SDH), 24 sampel (16%) pada kelompok Perdarahan Subarakhnoid (SAH), dan 18 sampel (12%) pada kelompok Perdarahan Intrakranial (ICH).

5. 1. 2. 2. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Tabel 5. 2. Distribusi Frekuensi Gambaran Jenis Kelamin Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambar 5. 2. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.2. dan Gambar 5.2. menunjukkan distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelaminnya. Berdasarkan Gambar 5. 2. jumlah sampel laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan sampel perempuan, dimana jumlah sampel laki-laki adalah 106 sampel (70,7%) dan jumlah sampel perempuan adalah 44 sampel (29,3%).

106 44

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

Berdasarkan Tabel 5. 2. Dapat diketahui bahwa baik sampel laki-laki maupun perempuan terbanyak mengalami Perdarahan Epidural (EDH), yaitu laki laki sebanyak 53 sampel (35,3%) dan perempuan sebanyak 14 sampel (9,4%).

Sementara itu pada pada kelompok sampel laki laki paling sedikit mengalami Perdarahan Intraventrikel yaitu sebanyak 6 sampel (4%) dan pada kelompok sampel perempuan paling sedikit mengalami Perdarahan Subdural yaitu sebanyak 3 sampel (2%). Selebihnya pada kelompok laki laki ditemukan Perdarahan Subdural sebanyak 21 sampel (14%), Perdarahan Subarakhnoid sebanyak 16 sampel (10,7%) dan Perdarahan Intrakranial sebanyak 10 sampel (6,7%). Pada kelompok sampel perempuan ditemukan Perdarahan Subarakhnoid sebanyak 8 sampel (5,3%), Perdarahan Intrakranial sebanyak 8 sampel (5,3%) dan Perdarahan Intraventrikel sebanyak 11 sampel (7,3%)

5. 1. 2. 3. Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jenis Perdarahan Jumlah

EDH SDH SAH ICH IVH

N % N % N % N % N % N %

<12 10 6,7 1 0,7 2 1,3 1 0,7 0 0 14 9,3 12-25 32 21,3 10 6,7 8 5,3 5 3,3 3 2,0 58 38,7 26-45 19 12,7 8 5,3 9 6,0 4 2,7 5 3,3 45 30,0 46-60 6 4,0 3 2,0 4 2,7 4 2,7 9 6,0 26 17,3

>60 0 0,0 2 1,3 1 0,7 4 2,7 0 0,0 7 4,7 Jumlah 67 44,7 24 16,0 24 16,0 18 12,0 17 11,3 150 100 Tabel 5. 3. Distribusi Frekuensi Gambaran Usia Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Perdarahan

Gambar 5. 3. Grafik Distribusi Frekuensi Gambaran Sampel Penelitian Berdasarkan Usia

Tabel 5.3. dan Gambar 5.3. menunjukkan distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan usianya. Dalam penelitian ini kategori usia dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok usia <12 tahun, kelompok usia 12-25 tahun, kelompok usia 26-45 tahun, kelompok usia 46-60 tahun dan kelompok usia >60 tahun. Berdasarkan Gambar 5.3. diketahui bahwa jumlah sampel terbanyak

Tabel 5.3. dan Gambar 5.3. menunjukkan distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan usianya. Dalam penelitian ini kategori usia dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok usia <12 tahun, kelompok usia 12-25 tahun, kelompok usia 26-45 tahun, kelompok usia 46-60 tahun dan kelompok usia >60 tahun. Berdasarkan Gambar 5.3. diketahui bahwa jumlah sampel terbanyak

Dokumen terkait