• Tidak ada hasil yang ditemukan

desa akan meletakkan sesajian di beberapa tempat yang dianggap keramat, membersihkan makam leluhur, mengadakan kerja bakti dan lomba-lomba, dilanjutkan malamnya pentas seni. Rasulan

akan diawali dengan upacara, di sini akan dikeluarkan semua hasil panen yang ada. Dalam upacara ini, salah satu acara yaitu mendoakan semua hasil panen warga desa. Beberapa yang sudah berbentuk makanan adalah nasi gurihnya sebagai persembahan kepada para leluhur. Ingkung ‘ayam utuh yang sudah dimasak’ sebagai lambang manusia ketika masih bayi dan kepasrahan pada Yang Mahaagung. Jajanan pasar sebagai lambang agar masya-rakat mendapat berkah. Pisang raja sebagai lambang harapan agar mendapat kemuliaan dalam masa kehidupan. Jenang (bubur) merah sebagai lambang bapak dan ibu serta jenang putih penolak marabahaya. Terakhir, tumpenglanang ‘nasi yang dibentuk

lan-Pemberian Sesajian Tumpeng

cip’ sebagai lambang Yang Mahaagung dan tumpengwedok ‘nasi yang dibentuk setengah bulat’ sebagai lambang penghormatan kepada leluhur. Kemudian dilanjutkan kirab budaya dan perebut-an hasil pperebut-anen yperebut-ang akperebut-an ditutup dengperebut-an pertunjukperebut-an wayperebut-ang.

Tradisi rasulan itu sangat kental dengan gotong royong dan kekeluargaannya. Sebagai contoh, ketika rasulan penghuni setiap rumah akan masak besar-besaran untuk menjamu para tamu. Selain itu sebagian dari masakan mereka akan di-punjung-kan ‘saling memberi makanan’ kepada kerabat dekat atau para

te-tangga. Namun, nilai-nilai itu sedikit bergeser. Sekarang mereka hanya memasak untuk menjamu para tamunya saja. Contoh lain-nya, ketika melakukan gotong royong membersihkan desa dan saat tirakatan. Dulu saat kerja bakti menjelang rasulan warga desa akan bergotong royong membersihkan lingkungan desa. Saat ini, setiap rumah hanya mewakilkan satu anggota keluarganya untuk melaksanakan kerja bakti. Selain itu saat diadakan acara

tirakatan atau genduri ‘kenduri’, semua rumah akan mengeluarkan

ingkung untuk dibawa ke balai desa. Sekarang hanya beberapa desa saja yang masih melakukannya. Di beberapa desa yang lain hanya mengeluarkan satu ingkung untuk tirakatan atau gen-duri.

Genduri

Tradisi Rasulan bagi Remaja

Nah, di sini penulis akan menjelaskan bagaimana pandangan para remaja di Gunungkidul tentang rasulan dan cara mereka menyikapi serta mengambil manfaatnya. Penulis mendapatkan informasi ini dari beberapa narasumber dan kejadian di sekitar lingkungannya.

Banyak yang menganggap tradisi rasulan saat ini hanya seba-gai sarana untuk bersenang-senang, khususnya bagi para remaja. Remaja yang menghadiri atau yang mengikuti rasulan, kebanyak-an berkebanyak-anggapkebanyak-an bahwa rasulan itu dilakukan karena kebiasan. Upacara rasulan hanya dilakukan oleh pemangku adat dan orang

tua saja. Remaja hanya mendapatkan bagian untuk bersenang-senang serta berkumpul dengan teman. Sebenarnya banyak peran-an remaja untuk ikut berpartisipasi dalam rasulan. Sebelum acara

rasulan dilaksanakan, remaja di suatu desa yang tergabung dalam organisai karang taruna akan mengadakan rapat. Mereka akan membahas beberapa kegiatan seperti pentas seni, lomba berbagai kegiatan, dan kirab budaya sekaligus akan membentuk panitia pelaksana. Awalnya memang mereka berperan aktif, namun dalam pelaksanaannya hanya beberapa remaja saja yang berpartisipasi. Mereka cenderung memiliki sikap kurang sportif dan membe-bankan semua pada anggota inti karang taruna. Saat menjadi panitia suatu kegiatan pun mereka tidak melaksanakannya de-ngan baik.

Kirab Budaya

Pentas seni Gunungan

Sudah menjadi kebiasaan, saat menjelang rasulan warga desa akan melakukan kerja bakti, memasang umbul-umbul, dan mem-buat gunungan. Nah, di sini karang taruna akan ikut berpartisi-pasi. Namun, seperti biasa hanya sebagian dari mereka yang ikut kerja bakti, itu pun cenderung memilih pekerjaaan yang ringan contohnya memasang umbul-ubul dan membuat lapangan untuk lomba dari pada membersihkan lingkungan desa. Saat membuat gunungan memang para remaja yang membuatnya. Mereka akan

membuat gunungan dengan berbagai bentuk, contohnya petani, penjual jamu, pos ronda, sapi, kambing dll., yang akan di arak saat kirab budaya. Namun kenyataanya saat kirab budaya yang membawa gunungan itu bukan mereka, melainkan para orang tua.

Rasulan akan diawali dengan upacara pembukaan di balai desa yang dipimpin pemangku adat atau kepala desa. Warga desa akan berpakaian adat dan membawa hasil panen mereka yang akan diarak saat kirab budaya. Mereka akan memperlihat-kan keseniaan yang ada. Namun, disayangmemperlihat-kan saat upacara pem-bukaan para remaja jarang mengikutinya. Ada yang memilih di rumah untuk menjamu tamu dan memang ada yang sibuk ber-dandan untuk kirab budaya. Namun, saat kirab budaya pun se-bagian remaja tidak berpakaian adat dan menampilkan kesenian yang ada di desanya, melainkan mereka berpakaian pemulung, preman, dan berjoget diiringi lagu dangdut.

Perebutan Hasil Panen

Jathilan

Setelah selesai kirab budaya, biasanya akan diadakan upa-cara penutup yang akan diakhiri dengan berebut hasil panen oleh warga desa. Setelah itu akan ada berbagai pertunjukan, seperti

jathilan, doger, tari-tari, dan kethoprak. Namun, di sini sebagian remaja yang ada tidak ikut berpartisipasi, karena kesenian ter-sebut dianggap kuno. Pertunjukan ini dimainkan oleh warga desa

yang umumnya para orang tua. Padahal dengan adanya pertun-jukan ini saat rasulan, merupakan kesempatan bagi para remaja untuk menggali dan mengembangkan bakatnya, di lain sisi mereka akan menjadi generasi penerus tradisi-tradisi yang ada di desa mereka.

Nilai yang Terkandung dalam Rasulan

1. Nilai kebersamaan: masyarakat secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan lingkungan desa sehingga kebersamaan mereka tetap terjalin. Rasulan juga dijadikan sarana bersilah-turahmi dengan teman atau sanak saudara yang jauh. 2. Nilai kepercayaan: hubungan manusia dengan Tuhan atau

leluhur yang dapat terjalin dengan baik jika mereka men-jalankan agama dan tradisi rasulan setiap tahunnya maka desanya dapat terhindar dari marabahaya.

3. Nilai eknonomi: dengan tetap menjalankan rasulan masya-rakat dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan hidupnya karena hasil panen akan meningkat setiap tahunnya. Adanya

rasulan ini juga akan mengundang para wisatawan yang akan menambah penghasilan di desa mereka.

Kesimpulan

Generasi muda sekarang mengalami krisis kebudayaan. Jati diri mereka telah hilang. Oleh karena itu, mereka mudah sekali terpengaruh oleh budaya luar dan meninggalkan atau melupakan budaya di Indonesia. Mereka tidak lagi mengenal tradisi rasulan

ini. Mereka tidak memahami maknanya, bahkan mereka sudah jarang ikut berpartisipasi. Remaja hanya mengerti bahwa rasulan

adalah tradisi turun-temurun yang harus dilakukan setiap tahun-nya. Mereka juga menganggap bahwa tradisi rasulan itu hanya untuk bersenang-senang serta berkumpul dengan teman. Mereka tidak pernah berpikir bagaimana kelanjutan rasulan ini ke depan. Padahal mereka merupakan salah satu aset untuk melestarikan,

menyelamatkan, dan memajukan tradisi-tradisi yang ada. Alang-kah baiknya bila para remaja lebih mencintai budaya sendiri dengan mulai mengenal dan mempelajarinya agar tidak punah atau di-klaim oleh negara lain.

Yassinta Isna Berliana. Lahir di Gunungkidul, 23 Oktober 1999, Alamat rumah di Nitikan Timur, Semanu, Gunungkidul. Yassinta Sekolah di SMA Negeri 1 Semanu. Alamat sekolah di Semanu Selatan, Semanu, Gunungkidul. Jika ingin berkorespondensi dengan Yassinta dapat menghubungi HP 081804270566. Hobi Menari dan Membaca. Judul esai “Tradisi Rasulan bagi Remaja Gunungkidul”.

Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya.

Bintang adalah sesuatu yang begitu indah untuk dilihat, namun tak mudah digapai. Sama halnya dengan sebuah prestasi. Prestasi merupakan hasil atau usaha yang dilakukan oleh seseorang. Tidak mudah mendapatkan dan mencapai sebuah prestasi. Dalam per-jalanan menggapai sebuah prestasi pasti kita akan menemukan jalan yang terjal, berkelok, dan mungkin menemukan jalan yang buntu di dalamnya.

Dalam memperoleh prestasi kita perlu berusaha dengan kuat dan gigih. Salah satunya denganpendidikan. Saat ini pemerintah Indonesia telah mengupayakan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia dengan mencanangkan wajib belajar dua belas tahun.

Namun, apakah waktu dua belas tahun tersebut cukup untuk para pelajar mengembangkan berbagai kemampuan dan bakat yang mereka miliki? Yah, mungkin tidaklah cukup.Bagi orang yang memiliki biaya melanjutkan pendidikan tidak menjadi masa-lah. Bagaimana dengan orang yang memiliki kemampuan dan bakat, tetapi tidak memiliki biaya?

Memang tidak hanya program wajib belajar dua belas tahun yang sudah pemerintah usahakan untuk masyarakat Indonesia.

Pemerintah juga telah menyokong masyarakat dengan adanya dana BOS yang meringankan biaya sekolah, bantuan untuk siswa

EPILEPSI

USAHA MENJADIKANNYA SUKSES