• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

22. Bagian Kedua Puluh Dua

Siswa diminta untuk membaca dan meringkas cerita kedua puluh dua “Kesetiaan yang Memanggil” dalam novel Pulang karya Tere Liye.

Dalam cerita kedua puluh dua “Kesetiaan yang Memanggil” menceritakan tentang Bujang yang memanggil orang-orang setia kepada Keluarga Tong untuk ikut berperang melawan Basyir dan Anggota Brigade Tong. White ,Yuki, Kiko,Togar, dan letnan lainnya, ikut membantu Bujang dan merebut kembali kekuasaan yang telah dikuasai oleh Basyir. Setelah semua tim terkumpul, Bujang menyusun rencana akan melakukan penyerangan secara terbuka di kantor Parwez. White dan anggota marinirnya, akan menyerang bagian gedung, Togar dan letnan lainnya akan menyerang dari lobi, dan Bujang, yuki dan Kiko, akan menyerang jatung pertahanan gedung Parwez, lantai dua puluh lima (Liye, 2015: 374-363). b. Merumuskan Masalah

1) Siswa menentukan siapa saja tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita kedua puluh dua “Kesetiaan yang Memanggil” dari novel Pulang karya Tere Liye. 2) Siswa menetukan tokoh dan penokohan dalam cerita kedua puluh dua

c. Merumuskan Hipotesis

Siswa diminta untuk memberikan jawaban sementara berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun.

Berdasarkan gambaran awal dalam cerita kedua puluh dua “Kesetiaan yang Memanggil” dari novel Pulang karya Tere Liye memiliki tujuh tokoh yang berperan dalam cerita tersebut, yaitu: Bujang sebagai tokoh utama bersifat pemberani, sedangkan yang berperan sebagai tokoh tambahan adalah Parwez bersifat penakut, Basyir memiliki karajter yang kuat, White, Togar, Frans, Yuki, dan Kiko, digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang setia.

d. Mengumpulkan Data

1) Siswa menentukan siapa saja tokoh yang berperan dalam cerita kedua puluh dua? a) Bujang b) Parwez c) Basyir d) White e) Togar

f) Yuki dan Kiko g) Frans

2) Siswa menetukan penokohan dalam cerita kedua puluh dua! a) Bujang

Bujang memiliki sifat yang pemberani. Saat bujang berniat ingin merebut kembali Keluarga Tong yang sudah dikuasai oleh Basyir, dia akan

melakukan penyerangan terbuka dan menyusun rencana dalam menghadapi Basyir. Sifat pemberani Bujang dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai berikut:

“Memang itu yang aku inginkan. Kita tidak akan menyerang dengan cara pengecut seperti yang Basyir lakukan. Kita akan menyerang secara terbuka. Aku justru akan mengirim pesan kapan serangan itu dilakukan. Aku punya rencana, Parwez, kau tidak perlu khawatir. Kita masih punya kesempatan menguasai kembail Keluarga Tong” (Liye, 2015: 352).

b) Parwez

Parwes memiliki sifat yang penakut. Sifat penakut Parwez dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebgai berikut:

“Kita akan berperang.”

Parwez menelan ludah, wajahnya memucat. “Kau serius?’

Aku mengangguk (Liye, 2016: 348).

c) Basyir

Basyir digambarkan sebagai tokoh yang berkarakter kuat. Dengan kekuatan yang Basyir miliki, dia mampu menghindar dan menangkis serangan dari Bujang, Yuki, dan Kiko. Kekuatan Basyir dibuktikan melalui teknik ekspositori, yaitu teknik pelukisan tokoh dengan memberikan penjelasan secara langsung. Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagi berikut:

Tubuh tinggi besar Basyir dikepung dari depan, samping, dan belakang. Dua katana dan sabit berantai mgincar tubuhnya. Yuki dan Kiko melenting lincah ke sana-kemari, sementara aku mengisi ruang antara serangan. Meski begitu, Basyir tetap tidak bis dikalahkan. Dia bergerak lebih cepat, lebih kuat, dan aku belum pernah melihat kemampuan seperti itu. Berapa pun serangan tyang kami kirim, dai mampu menangkis atau menghindar, dan setiap kali dia membalas menyerang, kami bertiga harus mati-matian melindungi satu sama lain. Wajah si kembar sadah terlihat serius sejak tadi, tidak ada lagi main-main, mereka memberikan usaha terbaik (Liye, 2015: 382).

d) White

White digambarkan memiliki sifat yang setia kepada Keluarga Tong. Sifat kesetiaan White ditunjukkan saat dia akan membantu Bujang menghadapi Basyir. Kesetiaan white dibuktikan melalui teknik dramatik dalam kutipan sebagai berikut:

“Eh, tentu saja aku akan membantu,Ayah.” White menggaruk kepala, sedikit kikuk, “Aku hanya sedang berbasa-basi bicara dengan Bujang. Eh, itu hanya gaya bahasa mariner, biar terdebgar keren” (Liye, 2015: 351).

e) Togar

Togar digambarkan sebagai letnan terbaik di Keluarga Tong yang setia. Sifat setia Togar dubuktikan melalui teknik dramatik dalam kutipan sebagai berikut:

Nama letnan itu adalah Togar, usianya tiga puluh lima. Dia satu generasi denganku, direkrut Kopong di Kota Provinsi dulu, hanya berjarak dua minggu setelahku. Togar juga salah satu letnan terbaik di Keluarga Tong. Dia sama seperti Joni, lebih dekat denganku dibandingi Basyir.

“Astaga, si babi hutan? Kau masih hidup?”

Aku mengangguk, “Sesehat yang kau lihat, Togar.”

“Basyir bilang kau telah tewas di kamar Tauke Besar. Juga Parwez.” Togar gemas melepas ikat kepala dengan symbol huruf Arab, meleparkannya ke tanah, “Maafkan aku, Si Babi Hutan. Kami tidak

tahu kau masih hidup. Kami tidak akan penah mendukung Basyir dan Brigade Tong jika kau masih hidup, lebih baik mati melawan mereka. Pelabuhan ini terpaksa tunduk kepadanya karena dia mengancam akan membunuh keluarga kami” (Liye, 2015: 352-353).

f) Yuki dan Ki8ko

Yuki dan Kiko digambarkan memiliki sifat yang setia kepada Bujang. Yuki dan Kiko akan ikut membantu Bujang membalaskan rasa sakit hatinya. Sifat setia Yuki dan Kiko buktikan melalui teknik dramatik dalam kutipan sebagai berikut:

Twinishinobi: KIKOOO!! Itu kiko, littleping. dia lagi kesal karena terhenti belanja online. dia menyela percakapan, tidak membaca bagian awalnya, lalu sembarang membalas. jangan dengar Kiko, dia hanya bergurau. kami akan segera berkemas. sebelum pukul tujuh malam kami telah tiba. kami akan membantu membalaskan sakit hati (Liye, 2015: 355).

g) Frans

Frans digambarkan memiliki sifat yang setia. Kesetiaan Frans dibuktikan melalui teknik dramatik dalam kutipan sebagai berikut:

“Kau harus pergi berperang, White!” Frans yang menjawabnya dengan suara masih bergetar dari atas kursi dorong, “Bujang memanggil kesetiaan keluarga kita. Kau bantu dia dengan nyawa sekali pun. Jika aku masih sehat, aku sendiri yang ikut pergi memanggul senapan” (Liye, 2015: 350).

e. Menguji Hipotesis

Siswa diminta untuk memberikan jawaban serta membuktikan jawaban berdasarkan data yang telah ditemukan dalam cerita kedua puluh dua “Kesetiaan yang Memanggil” dari novel Pulang karya Tere Liye.

f. Merumuskan Kesimpulan

Pada cerita kedua puluh dua, dismpulkan adanya tokoh dan penokohan. Bujang digambarkan memiliki sifat yang pemberani (teknik dramatik). Parwez digambarkan memiliki sifar yang penakut (teknik dramatik). Basyir dilukiskan sebagai tokoh yang kuat (teknik ekspositori). White, Togar, Frans, Yuki, dan Kiko, digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang setia kepada Keluarga Tong (teknik dramatik).

23. Bagian Kedua Puluh Tiga