BAB IV PEMBAHASAN
7. Bagian Ketujuh
Siswa diminta untuk membaca dan meringkas cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” dari novel Pulang karya Tere Liye
Dalam cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” diceritakan tentang Bujang yang pergi ke Hong Kong bukan hanya untuk menhadiri ulang tahun Master Dragon, dia juga ingin membahas pekerjaan kepada Master Dragon. Bujang ingin agar Master Dragon mengunci permasalahan Keluarga Tong dengan Keluarga Lin yang telah menncuri pemidai milik Keluarga Tong. Adanya perintah dari Master Dragon, masalah kedua keluarga tidak bisa melibatkan siapa pun.
Menceritakan kembali masa lalunya Bujang, saat dia gagal dalam ritual Amok, dia mempunyai kesempatan untuk belajar bela diri bersama Kopong. Selepas belajar dengan buku dan pulpen di siang hari, ia belajar tinju di malam hari. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia berlatih sangat keras. Pada akhirnya Bujang berhasil mengalahkan Kopong. Itu artinya latihan bujang selesai dan harus berganti guru (Liye, 2015: 87-105).
b. Merumuskan Masalah
a) Siapa menentukan siapa saja tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” dari novel Pulang karya Tere Liye
b) Siswa menentukan penokohan dalam cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” dari novel Pulang karya Tere Liye
c. Merumuskan Hipotesis
Siswa diminta untuk memberikan jawaban sementara berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun.
Berdasarkan gambaran awal dalam cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” dalam novel Pulang karya Tere Liye memiliki tujuh tokoh yang berperan dalam cerita tersebut, yaitu: Bujang sebagai tokoh utama bersifat pemberani, pekerja keras, dan pintar, sedangkan tokoh tambahan Master dragon besifat bijaksana, Kopong bersifat Patuh dan Keras, Putra Tertua Keluarga Lin bersifat pembohong, Tauke Besar bersifat tanggung jawab, Basyir bersifat penakut, dan Frans bersifat telaten.
d. Mengumpulkan Data
1) Siswa menentukan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita ketujuh? a) Bujang
b) Master Dragon c) Kopong
d) Putra Tertua Keluarga Lin e) Tauke Muda
f) Basyir g) Frans
1) Siswa menentukan penokohan dalam cerita ketujuh! a) Bujang
Bujang menyebut dirinya sebagai Si Babi Hutan yang memiliki sifat pemberani, pekerja keras, dan pintar. Sifat pemberani Bujang digambarkan ketika ia merusak jamuan makan dalam acara ulang tahun Master Dargon, untuk mengungkapkan pecuri yaitu Keluarga Lin, yang telah mengambil teknologi pemindai milik Kelurga Tong. Hal ini dibuktikan melalui teknik ekspositori, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara langsung.
Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai berikut: “Apa yang kau inginkan dengan merusak jamuan makan malamku, Si Babi Hutan?” Master Dragon bertanya, tatapannya tajam. Aku bisa merasakan aura mengerikan miliknya.
Tapi aku tidak takut.
Aku balas menatapnya tajam, “Pemindai itu milik kami, Master. Hingga kapan pun itu milik kami. Jika Keluarga Lin menolak mengembalikannya baik-baik, kami akan mengambilnya dengan paksa. Itu bisa pemicu perang antar keluarga di Asia Pasifik, aku tahu. Tapi kami tidak punya pilihan. Keluarga Lin sengaja mencuri pemindai itu saat Tauke sakit. Mereka pikir, kami akan mengalah, karena kami juga akan menghadapi masalah internal di negara kami, menghadapi keluarga-keluarga lain di sana yang berusaha merebut kekuasaan. Tapi kami tidak selemah itu. Merekalah yang pengecut. Mereka menolak pembicaraan, menolak bertemu secara hormat, bahkan malam ini, Lin tidak datang. Dia menyuruh anaknya untuk hadir. Dia mengira Tauke akan datang, dia takut bertemu dengan Tauke” (Liye, 2015: 90).
Sifat pekerja keras Bujang digambarkan pada kejadian dua puluh tahun lalu, saat dia kalah dalam ritual Amok. Bujang harus belajar dengan Frans dan membaca banyak buku agar mendapatkan nilai-nilai terbaik. Hal ini dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung.
Siangnya aku berangkat sekolah. Bukan di sekolah sungguhan, tapi belajar dengan Frans di bangunan utama. Usiaku lima belas tahun, tapi aku harus tertinggal sembilan tahun pendidikan formal. Setiap kali menemui Frans, aku membawa lebih banyak buku yang harus ku baca di kamar. Tapi ini berubah menyenangkan karena dengan bisa berlatih bersama Kopong, aku tidak keberatan menghabiskan waktu membacanya. Juga tidak keberatan mendengarkan Basyir dan pemuda lain mnegolok-ngolokku, memanggilku ‘Profesor’. Aku berjanji akan mendapat nilai-nilai terbaik. Frans si Amerika juga guru yang mengasyikkan. Dia mengajariku dengan cara menyenangkan (Liye, 2015: 96).
Bukti lain yang menggambarkan Bujang sebagai sosok pintar, yaitu saat ia berhasil mendapatkan nilai-nilai sempurna. Dalam satu tahun Bujang berhasil memperoleh ijazah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Hal ini dibuktikan melalui teknik dramatik yang terdapat dalam kutipan sebagai berikut:
Aku tidak pernah ikut satu pun pertempuran. Pertama, karena Tauke melarangku, dan itu tidak ada tawar menawar. Kedua, aku sibuk dengan sekolahku. Satu tahun tinggal di sana, aku telah mendapatkan ijazah persamaan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Nilai-nilaiku sempurna. Frans si Amerika mulai memasang target, saat usiaku menjelang tujuh belas, aku harus memiliki ijazah persamaan sekolah menengah atas (Liye, 2015:99).
b) Master Dragon
Master Dragon memiliki sifat yang bijaksana. Sifat bijaksana Master Dragon tergambar saat ia berhasil penjadi penengah dari pertikaian antara Bujang dengan putra sulung Keluarga Lin, tanpa memihak siapa pun. Sifat bijaksana Tuan Lin dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung.
“Jika demikian, apa yang disampaikan si babi hutan adalah kebenaran. Maka, masalah ini adalah antara Keluarga Tong dan Keluarga Lin. Aku memutuskan agar mereka berdua menyelesaikannya tanpa melibatkan siapa pun. Jika ada satu keluarga lain ikut mendukung pihak bertikai, itu berarti berhadapan denganku. Aku memerintahkan Lin bertemu dengan perwakilan Keluarga Tong, membicarakannya secara terhormat. Jika Lin, menolak menemuinya, maka itu berarti dia menolak mematuhi perintahku. Apa pun hasil pembicaraan keluarga, tidak ada satu pun yang boleh ikut campur. Keputusan itu final” (Liye, 2015: 91-92).
c) Kopong
Kopong digambarkan memiliki sifat patuh terhadap perintah dari Tauke Besar. Sifat patuh Kopong dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan sebagai berikut:
“Ini hanya usul sederhana, Tauke. Aku harap tauke memikirkannya. Apa pun keputusan tauke dalah perintah bagiku.” Kopong mengangguk, undur diri (liye, 2015: 94).
Selain itu Kopong juga digambarkan memiliki sifat yang keras dalam mendidik Bujang. Hal ini dibuktikan melalui teknik dramatik dalam kutipan sebagai berikut:
“Lebih cepat, Bujang! Kau lari macam ibu-ibu sedang mengandung” (Liye, 2015: 97).
d) Putra Tertua Keluarga Lin
Putra tertua Keluarga Lin memiliki sifat yang pembohong. Hal itu terlihat saat ia tidak mengakui bahwa keluagnya telah mencuri teknologi pemindai milik Keluarga Tong. Sifat pembohong putra tertua Keluarga Lin dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung.
Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai berikut: “Mereka mencuri teknologi pemindai yang telah kami kembangkan lima tahun terakhir di labolatorium Makau. Mereka mencuri pengecut.” Aku berkata dingin.
“Kami tidak mencurinya. Bajingan. Kami membelinya dari Profesor riset tersebut. Puluhan juta dolar,” Putra tertua Keluarga Lin berteriak demi mendengar kalimatku (Liye, 2015:88).
e) Tauke Besar
Tuake Besar memiliki sifat yang tepat janji kepada bapak Bujang agar tidak membiarkan Bujang terluka. Hal ini dibuktikan melalui teknik ekspositori, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjalasan secara tidak langsung.
Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai berikut: “Enak sekali kau bilang begitu. Aku sudah berjanji kepada bapaknya, anak itu tidak boleh terluka. Mamaknya akan marah.” Tauke melotot (Liye, 2016: 93).
f) Basyir
Basyir memiliki sifat yang penakut. Sifat penakut Basyir digambarkan ketika para tukang pukul sedang membahas penyerbuan yang dilakukan oleh Basyir di sentral perdagangan elektronik untuk mengambil alih teritorial itu dari kelompok lain, dia lari terbirit-birit saat enam orang bersenjata tajam menyerangnnya. Sifat penakut Basyir dibuktikan melalui teknik dramatik, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara tidak langsung.
Kutipan yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai berikut: “Kau lari, Basyir, kami semua melihatnya.” Seorang pemuda berseru, tertawa.
“Aku tidak lari. Aku hanya mencari posisi bertahan yang lebih baik sekaligus menunggu bantuan dari yang lain.” Basyir membela diri.
Mereka sedang membahas penyerbuan kesentral perdagangan elektronik mengambil alih teritoritorial itu dari kelompok lain. Pertempuran terjadi di lorong-lorong toko gang-gang sempit, dan rumah-rumah padat.
“Jangan membantah, Basyir. Seperti penunggang kuda suku Bendouin tidak sehebat yang dia ceritakan. Kau lari terbirit-birit dikejar enam orang yang membawa golok besar.”
Wajah Basyir memerah padam. Aku ikut tertawa melihatnya diolok pemuda lain. Menilik cerita mereka. Tentu saja Basyir akan lari. Tidak akan ada tukang pukul yang nekat menghadapi enam orang bersenjata tajam sendirian (liye, 2015: 96-97).
g) Frans
Frans adalah guru Bujang yang telaten dalam mengajarinya. Ketelatentan Frans dibuktikan melalui teknik ekspositori, yaitu teknik pelukisan tokoh cerita dengan memberikan penjelasan secara langsung. Hal ini terdapat dalam kutipan sebagai berikut:
Sama dengan Kopong, Frans si Amerika menjadi sahabat baikku. Dia telaten mengajari, mencarikan buku-buku yang harus ku baca, dan memastikan aku bisa menguasai buku itu dengan menceritaka ulang padanya. Frans juga mengajariku bnayak bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, dan Jepang. Saat aku bosan mengerjakan soal, dia akan mengajakku bercakap-cakap sambil membentangkan peta dunia__sebenarnya itu juga belajar, meski disampaikan dengan cara yang berbeda (liye, 2015: 100).
e. Menguji Hipotesis
Siswa diminta untuk memberikan jawaban serta membuktikan jawaban berdasarkan data yang telah ditemukan dalam cerita ketujuh “Pencuri yang Pengecut” novel Pulang karya Tere Liye.
f. Merumuskan Kesimpulan
Pada cerita ketujuh, disimpulkan adanya tokoh dan penokohan. Bujang dillukiskan mempunyai karakter yang pemberani (teknik ekspositori), pekerja keras, dan pintar (teknik dramatik). Master dragon dilukiskan mempunyai karter yang bijaksana (teknik dramatik). Putra Tertua Keluarga Lin dilukiskan sebagai sosok yang pembohong (teknik dramatik). Tuake Besar dgambarkan sebagai tokoh yang bertanggung jawab terhadap janjinya dengan bapak Bujang (teknik ekspositori). Basyir dilukiskan memiliki sifat yang penakut (teknik dramatik). Frans adalah guru Bujang yang telaten dalam mengajar Bujang (teknik ekspositori).
8. Bagian Kedelapan