• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIBERI EKSTRAK LERAK PADA RANSUM HIJAUAN TINGGI

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi Nutrisi, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB. Analisis hematologi darah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Farmakologi FKH IPB.

Ternak dan Perlakuan

Penelitian menggunakan 12 ekor sapi potong PO dengan bobot badan awal 187.5±13 kg yang siap digemukkan dan dipelihara dalam kandang individu. Hijauan yang digunakan adalah rumput lapang di sekitar lokasi kandang Fakultas Peternakan IPB, sedangkan konsentrat merupakan hasil formula dan produksi

68

sendiri (self mixing). Bahan pakan penyusun pakan konsentrat terdiri dari bungkil kedelai (6%), bungkil kelapa (30%), onggok (18.5%), pollard (35%), molases (5%), CaCO3 (3%), DCP (0.5%), NaCl (0.5%), premix (0.5%) dan urea (1%). Komposisi nutrien ransum perlakuan disajikan pada Tabel 17. Rasio hijauan dan konsentrat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 70:30 (BK).

Tabel 17. Komposisi nutrien ransum perlakuan in vivo

Nutrien Rumput (R) Konsentrat (K) Ransum total

(R:K=70:30) -% Bahan Kering ---Abu 11.11 13.09 11.70 Protein kasar (PK) 10.20 20.05 13.16 Serat kasar (SK) 40.12 21.42 34.51 Lemak kasar (LK) 0.45 3.14 1.26 BETN 38.12 42.50 39.43 Kalsium 0.38 1.88 0.83 Fosfor 0.14 0.84 0.35 TDN 46.64 65.38 51.96

Keterangan : Berdasarkan analisis yang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB (2009).

TDN=Total digestible nutrien = 92.64-3.338( SK)-0.945(LK) - 0.762(BETN) + 1.115(PK) + 0.031(SK)2-0.133(LK)2+0.036(SK)(BETN)+ 0.207(LK)(BETN) +

0.100(LK)(PK)-0.022(LK)2(PK) (Hartadi et al., 1980)

Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan adalah:

P1 = Ransum + ekstrak lerak 0 mg (kontrol negatif)

P2 = Ransum + ekstrak lerak 100 mg/kg bobot badan (setara 80 mg saponin) P3 = Ransum + ekstrak lerak 200 mg/kg bobot badan (setara 160 mg saponin)

Penggunaan ekstrak lerak sebesar 100 mg/kg bobot badan berdasarkan hasil uji terbaik in vitro sebelumnya yang berpengaruh positif terhadap produksi propionat dan populasi bakteri rumen. Hasil serangkaian uji in vitro (tahap 2) yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada level 0.8 mg/ml ekstrak lerak paling efektif memperbaiki fermentasi rumen pada rasio hijauan:konsentrat =70:30. Apabila diasumsikan volume rumen sebesar 10-15% (rataan 12.5%) dari bobot badan, maka level 0.8 mg/ml volume rumen setara dengan 100 mg/Kg bobot badan. Level 200 mg/kg merupakan taraf 2 kali lipatnya dengan pertimbangan laju alir pakan pada sistem metabolisme hidup.

Penyusunan formula ransum didasarkan pada standar kebutuhan ternak sapi lokal (Kearl 1984) dengan kebutuhan nutrien protein kasar (PK) = 13%. Total bahan kering ransum yang diberikan sebesar 2.8-2.9% bobot badan. Pemberian pakan dilakukan selama 90 hari. Parameter yang akan diukur adalah karakteristik fermentasi (profil VFA, NH3), kecernaan nutrien, profil hematologi dan kolesterol darah, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.

Pengambilan Sampel dan Analisis

Pengambilan sampel cairan rumen dilakukan melalui mulut menggunakan

stomach tube yang dihubungkan dengan pompa vakum. Cairan rumen diambil 4 jam setelah makan pada hari ke-30,60 dan 90 perlakuan. Sampel cairan rumen kemudian disaring menggunakan kain berlapis dan supernatan yang diperoleh digunakan untuk analisis protozoa, profil VFA dan konsentrasi NH3. Analisis profil VFA menggunakan Gas Chromatografi (GC) yang dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak, Bogor, sedangkan analisis konsentrasi NH3

menggunakan metode difusi conway. Analisis protozoa dihitung menggunakan

counting chamber dengan bantuan mikroskop dengan pembesaran 40 x.

Kecernaan nutrien pakan dilakukan mengunakan teknik koleksi total feses selama 5 hari berturut-turut di pertengahan penelitian. Sampel feses sebanyak 10% dari total feses diambil dari setiap perlakuan untuk dianalisis kadar nutriennya yang meliputi bahan kering, bahan organik, serat kasar, protein kasar, dan lemak kasar.

Analisis retensi nitrogen dilakukan dengan mengukur konsentrasi nitrogen feses dan urin. Koleksi urin dilakukan selama 5 hari berturut-turut bersamaan dengan koleksi feses menggunakan hernet. Urin hasil koleksi ditampung dalam jerigen yang sebelumnya diberi H2SO4 10% sebanyak 250 ml/10L urin. Selanjutnya, konsentrasi N sampel urin dianalis untuk pengukuran retensi N. Selain itu, juga dilakukan analisis alantoin untuk menduga nilai total derivative purin (DP) yang diekskresikan ternak. Nilai DP diestimasi dengan asumsi bahwa alantoin merupakan 82.5% dari total DP (IAEA 1997). Sehingga Nilai total DP =

70

100/82.5 x Alantoin. Nilai DP selanjutnya digunakan untuk menduga absorpsi purin untuk sapi Ongole (Makkar & Chen 2009) dengan rumus sebagai berikut :

Y = 0.85X + (0.132BB0.75)

0.085 = proporsi DP melalui plasma dan diekskresikan lewat urin

0.132 = derivat purin endogen yang diekskresikan dalam urin (mmol/kg BB0.75) Y = ekskresi DP (mmol/hari)

X = absorpsi purin (mmol/hari)

Sintesis N mikroba diestimasi berdasarkan absorpsi purin (X) dan dihitung dengan rumus berikut :

N mikroba (g/hari) = X x 70 = 0.727 X 0.116 x 0.83x1000

70 = kandungan N purin (mg/mmol) 0.83 = koefisien cerna untuk N mikroba

0.116 = rasio N purin:total N pada biomasa mikroba pada sapi Ongole

Performa produksi ternak percobaan dianalisis dengan mengukur konsumsi pakan harian, pertambahan bobot badan dengan menimbang pada hari ke-30, 60 dan 90 hari perlakuan. Efisiensi ransum diukur dengan menghitung rasio pertambahan bobot badan ternak dibagi dengan pakan yang dikonsumsi.

Analisis profil darah dilakukan dengan mengmabil darah pada hari ke-90 sebanyak 10 ml dengan syringe berukuran 10 ml dari bagian vena coccigen dan langsung dimasukkan ke dalam tabung berheparin untuk mendapatkan plasma darah. Kemudian tabung-tabung tersebut dimasukkan ke dalam termos yang berisi es untuk selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Analisis nutrien darah seperti trigliserida, kolesterol dan total protein dilakukan dengan menggunakan KIT dengan alat autoanalyzer.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA (analysis of variance). Apabila dari hasil pengamatan parameter yang di ukur terjadi perbedaan rataan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji Duncan (Mattjik & Sumertajaya 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Ekstrak Lerak Terhadap Populasi Protozoa Rumen

Pemberian ekstrak lerak sampai dengan level 200 mg/kg BB yang dicampur dalam pakan konsentrat tidak mempengaruhi populasi protozoa rumen (Tabel 18). Hasil ini berbeda dengan uji in vitro sebelumnya yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak lerak pada level tersebut menurunkan (P<0.01) populasi protozoa. Perbedaan hasil antara uji in vitro dengan uji in vivo diduga adanya flow

pada rumen dan adaptasi protozoa terhadap saponin pada sistem tubuh ternak sehingga tingkat penghambatan populasi protozoa menurun.

Tabel 18. Populasi protozoa rumen sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum

Lama pemberian Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan) 0 100 200 SEM Populasi Protozoa ( x 104/ml)

 30 hari 9.7 8.5 8.2 1.22

 60 hari 6.8 5.5 4.3 1.53

 90 hari 7.0 5.1 4.3 0.74

Pada 30 hari perlakuan ekstrak lerak, tidak terjadi penurunan populasi protozoa dibandingkan perlakuan kontrol. Namun pada 60 dan 90 hari perlakuan, populasi protozoa rumen semakin menurun sebesar 38% dengan pemberian ekstrak lerak dibanding perlakuan kontrol. Hasil penelitian ini berbeda dengan Abreu et al.

(2004) yang melaporkan adanya peningkatan populasi protozoa rumen domba dengan pemberian saponin dari S. saponaria. Variasi pengaruh saponin asal tanaman terhadap populasi protozoa juga telah banyak dilaporkan. Newbold et al.

(1997) melaporkan bahwa saponin dari S. sesban dapat menekan protozoa pada rumen domba. Sementara itu, Odenyo et al. (1997) menyatakan bahwa saponin S. sesban dapat menekan protozoa ketika diberikan langsung ke dalam rumen, namun tidak berpengaruh pada protozoa ketika diberikan secara oral pada domba. Wallace et al. (2002) juga menyatakan bahwa adaptasi mikroba rumen terhadap saponin merupakan salah satu faktor yang menyebabkan bervariasinya aktivitas antiprotozoa oleh saponin. Namun demikian, Makkar & Becker (1997)

72

menyatakan bahwa saponin Quilaja cukup stabil dalam rumen sampai 6 jam setelah pemberian dan dalam waktu tersebut saponin masih mempunyai aktivitas sebagai antiprotozoa.

Pengaruh Ekstrak Lerak Terhadap Aktivitas Fermentasi Rumen

Pemberian ekstrak lerak sampai dengan level 200 mg/kg BB pada sapi potong lokal yang mendapat ransum berbasis rumput tinggi secara keseluruhan tidak mempengaruhi kecernaan nutrien dibandingkan perlakuan kontrol (Tabel 19). Namun, produksi VFA total dan proporsi propionat meningkat (P<0.05) serta menurunkan (P<0.05) rasio asetat:propionat dengan pemberian ekstrak lerak 200 mg/kg BB.

Tabel 19. Kecernaan nutrien, konsentrasi NH3, serta profil VFA rumen sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan) 0 100 200 SEM

Kecernaan (%)

 Bahan Kering (BK) 58.2 53.5 54.9 1.88

 Bahan Organik (BO) 62.9 59.4 59.7 1.05

 Protein Kasar (PK) 73.4 71.4 71.1 0.84

 Serat Kasar (SK) 75.9 74.0 74.6 1.08

 Lemak Kasar (LK) 44.1 53.6 40.1 3.99

N-NH3 (mM) 7.47ab 8.09a 4.28b 0.80

Total VFA(mM) 84.87b 123.54a 111.57a 5.87

Proporsional VFA(% total VFA)

 Asetat 66.77 64.88 65.14 0.46  Propionat 16.83b 18.83a 19.07a 0.35  Isobutirat 2.29 2.38 2.58 0.13  Butirat 11.92 11.45 10.87 0.29  Isovalerat 1.53 1.48 1.38 0.06  Valerat 0.67 0.98 0.96 0.09

 Rasio Asetat:Propionat (A:P) 3.97b 3.45a 3.41a 0.09

Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan (P<0.05)

Perubahan kecernaan yang cenderung menurun setelah pemberian ekstrak lerak mungkin dikarenakan kandungan saponin. Pemberian bahan mengandung saponin pada ternak ruminansia dapat menurunkan jumlah maupun aktivitas beberapa bakteri selulolitik. Hal tersebut diduga dapat menyebabkan kecernaan serat pakan menurun, terutama pada ransum berbasis hijauan tinggi. Abreu et al.

(2004) melaporkan bahwa suplementasi buah Sapindus saponaria (12% saponin) sebesar 8 g/kg BB0.75 secara intraruminal meningkatkan konsumsi bahan organik sebsar 14%, tetapi tidak berpengaruh pada konsumsi protein kasar dan konsentrasi amonia rumen atau pada kecernaan bahan organik dan nitrogen. Kecernaan ADF menurun 10%, demikian juga rasio asetat:propionat juga menurun.

Konsentrasi NH3 menurun dengan ekstrak lerak pada level 200 mg/kg BB. Hal ini diduga terkait dengan aktivitas saponin buah lerak sebagai agen defaunasi. Protozoa merupakan proteolitik aktif, sehingga penghambatan populasi protozoa dapat menurunkan konsentrasi NH3. Laju degradasi protein pakan dan N bukan protein juga menentukan konsentrasi NH3 dalam rumen. Selain itu, dengan terhambatnya protozoa diduga penggunaan NH3 untuk oleh bakteri meningkat dan akibatnya konsentrasi dalam rumen akan turun. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Thalib (2004) yang menyatakan bahwa suplementasi ekstrak metanol lerak dalam bentuk serbuk (80 mg/ 100 ml dengan kadar saponin 15%) pada ransum domba menghasilkan konsentrasi NH3 yang tidak berbeda dengan kontrol. Namun, Wina et al. (2006) melaporkan bahwa suplementasi ekstrak metanol daging buah lerak dengan taraf 0.42 dan 0.72 g/kg BB dalam ransum domba yang tersusun dari rumput gajah dan pollard (65:35) nyata menurunkan konsentrasi NH3.

Peningkatan produksi VFA total dan proporsi propionat pada kondisi kecernaan yang menurun dengan pemberian ekstrak lerak, menunjukkan adanya peningkatan efisiensi fermentasi oleh mikroba rumen. Selain itu, ekstrak lerak juga dapat memodifikasi aktivitas mikroba rumen dengan mengarahkan pembentukan propionat dan mengurangi produksi butirat. Hal ini didukung oleh data in vitro

sebelumnya yang menunjukkan bahwa ektrak lerak dapat memodifikasi komposisi bakteri rumen dengan peningkatan bakteri P. ruminicola yang merupakan bakteri penghasil propionat dan suksinat dalam sistem rumen. Produksi propionat merupakan jalur metabolisme rumen yang menggunakan H2, sehingga peningkatan produksi propionat dapat mengurangi suplai H2 yang sering digunakan bakteri metanogen untuk membentuk metan. Dengan demikian penggunaan ekstrak lerak berpotensi mengurangi produksi metan dalam sistem rumen ternak sapi potong.

74

Penurunan rasio asetat:propionat dengan penambahan ekstrak lerak diduga tidak dipengaruhi oleh penekanan protozoa rumen. Perubahan profil VFA tersebut lebih dipengaruhi oleh adanya komponen gula pada saponin ekstrak lerak. Komponen gula pada saponin dapat menurunkan proporsi asetat serta meningkatkan proporsi propionat dan butirat (Abreu et al. 2004)

Pengaruh Ekstrak Lerak Terhadap Sintesis Protein Mikroba dan Retensi Nitrogen

Pemberian ekstrak lerak sampai dengan taraf 200 mg/kg BB tidak mempengaruhi (P>0.05) sintesis protein mikroba rumen (Tabel 20). Namun demikian, efisiensi sintesis protein mikroba pada penelitian ini masih dalam kisaran normal yaitu 6.44-11.81 g/100 g BOFR. Karsli & Russel (2001) menyatakan bahwa efisiensi sintesis protein mikroba dalam rumen berkisar antara 7.0-27.9 g/100 g BOFR tergantung pada konsumsi bahan kering, rasio hijauan dan konsentrat, laju degradasi karbohidrat dan N, sinkronisasi pelepasan N dan energi pakan, dan laju alir pakan. Semakin rendah kualitas hijauan yang digunakan, maka nilai sintesis protein mikroba juga akan semakin rendah karena rendahnya tingkat pencernaan karbohidrat dan ketersediaan nutrien lainnya.

Tabel 20. Pendugaan sintesis protein mikroba pada sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan)

0 100 200 SEM

Alantoin (mmol/h) 21.96 23.33 29.14 2.35

Derivat Purin/DP (mmol/h)* 26.61 28.27 35.33 2.85

Purin Absorpsi (mmol/h) 23.14 25.00 33.19 3.37

Suplai N Mikroba (g/h) 16.82 18.18 24.13 2.45

Sintesis Protein Mikroba/SPM (g/h) 105.15 113.61 150.81 15.30

Efisiensi SPM (g/kg BOFR) 64.36 86.81 96.71 9.94

Efisiensi SPM (g/100 g BOFR) 6.44 9.93 11.81

*alantoin urin merupakan 82.5% dari total DP (IAEA, 1997), SPM=6.25 x N mikroba, BOFR=bahan organik terfermentasi dalam rumen =0.65x bahan organik tercerna(IAEA, 1997).

Pemberian ekstrak sampai level 200 mg/kg BB belum dapat meningkatkan sintesis protein mikroba pada sapi potong yang mendapat rumput lapang dalam jumlah tinggi. Walaupun pemberian ekstrak lerak sudah dapat meningkatkan produksi VFA yang merupakan sumber energi dan kerangka karbon untuk sintesis bakteri, namun konsentrasi NH3 rumen rendah (4 mM). Hal ini dapat menyebabkan kurang seimbangnya rasio protein/energi (P/E) yang sangat menentukan dalam sintesis protien bakteri. Selain itu, proses sintesis protein bakteri juga dipengaruhi oleh konsentrasi trace minerals dan vitamin (Karsli et al. 2010). Mineral sulfur (S) telah diketahui mempengaruhi pertumbuhan bakteri terutama untuk sintesis metionin dan sistein yang berkisar antara 0.11%-0.2% dari total pakan dan tergantung pada status ternak. Selain itu, mineral sulfur juga mengakibatkan lignin pada pakan berserat akan terhidrolisis sehingga kecernaan bahan organik akan meningkat. Mineral fosfor juga sangat diperlukan untuk sintesis ATP dan protein oleh mikroba. Pada penelitian ini, hijauan yang digunakan adalah rumput lapang yang kandungan mineral sulfur dan fosfornya relatif rendah, sehingga defisiensi mineral tersebut juga berpengaruh terhadap sintesis protein bakteri.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh saponin terhadap sintesis protein mikroba sangat bervariasi tergantung pada sumber saponin dan level saponin yang digunakan. Santoso et al. (2007) menunjukkan bahwa saponin dari

Biophytum petersianum Klotzsch 26 mg/kg BB pada kambing yang mendapat ransum rumput gajah dan konsentrat (70:30) dapat meningkatkan efisiensi sintesis N mikroba 51%. Jouany (1996) juga melaporkan bahwa protozoa berperan penting pada siklus N mikroba pada rumen. Sehingga penurunan populasi protozoa dapat menyebabkan turunnya pemecahan protein bakteri dan mengakibatkan peningkatan aliran protein mikroba ke usus halus. Abreu et al. (2004) melaporkan bahwa aliran N pada bagian duodenum dipengaruhi oleh suplementasi S. saponaria, kecuali aliran N dari mikroba. Efisiensi mikroba meningkat 65% dengan penambahan S. saponaria. Hasil yang berbeda dilaporkan oleh Goetsch & Owen (1985) yang menyatakan bahwa penggunaan sarsaponin Y. schidigera 44 mg/kg pada sapi perah tidak berpengaruh pada N mikroba yang masuk ke duodenum. Hristov et al. (1999) juga melaporkan tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap N mikroba ketika tepung Y. schidigera diberikan pada sapi dara dengan level 20 dan 60 g/hari.

76

Pemberian ekstrak lerak sampai level 200 mg/kg BB juga tidak mempengaruhi nilai retensi nitrogen (Tabel 21). Persentase retensi N dari N konsumsi cukup tinggi untuk semua perlakuan (±50%) yang menunjukkan bahwa kualitas protein pakan perlakuan cukup baik dan efisien dimanfaatkan oleh ternak sapi potong. Nilai konsumsi N sama untuk semua perlakuan karena nutrien ransum yang diberikan selalu diusahakan iso protein. Hindratiningrum et al. (2009) melaporkan bahwa jumlah N yang diretensi pada sapi potong PO yang diberi pakan jerami padi amoniasi sekitar 65% dari N yang dikonsumsi.

Tabel 21. Neraca nitrogen sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan)

0 100 200 SEM Konsumsi N (g/e/h) 97.07 92.10 97.13 1.93 N Feses (g/e/h) 25.80 26.13 28.01 0.58 N Tercerna (g/e/h) 71.25 65.96 69.10 2.03 N Urin (g/e/h) 23.67 19.75 18.25 1.24 Retensi N (g/e/h) 47.57 46.20 50.85 2.19

% N Retensi dari N konsumsi 49.03 49.75 52.39 1.65

% N Netensi dari N tercerna 66.81 69.41 73.67 1.89

Suplai protein mikroba yang sama antar perlakuan pada penelitian ini juga menghasilkan retensi nitrogen yang sama untuk semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara sintesis protein bakteri dengan jumlah N yang diretensi dalam tubuh ternak. Semakin tinggi suplai protein asal mikroba, maka N yang diretensi juga meningkat yang menunjukkan bahwa kualitas protein asal mikroba lebih seimbang komposisi asam aminonya.

Pengaruh Ekstrak Lerak Terhadap Profil Hematologi dan Nutrien Plasma

Pemberian ekstrak lerak selama 90 hari perlakuan tidak mempengaruhi profil hematologi (Tabel 22). Jumlah BDM, % PCV, Hb maupun jumlah BDP sama antar perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa saponin yang terdapat pada ekstrak lerak sampai dengan level 200 mg/kg BB (setara dengan 160 mg saponin) tidak mengganggu kesehatan ternak yang digambarkan pada profil hematologi tersebut. Olbrich et al. (1971) melaporkan rataan nilai hematologi darah sapi Zebu untuk

BDM adalah 9.9 x 106/mm3, PCV adalah 37%, Hb adalah 12.3 g%, BDP adalah 10.3 x 103/mm3 dengan proporsi limfosit sebesar 63.3%.

Tabel 22. Hematologi darah sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum selama 90 hari

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan)

0 100 200 SEM Benda darah : BDM, juta/mm3 7.59 6.87 7.11 0.22 PCV, % 31.33 31.83 29.00 1.56 Hb, g% 12.16 11.74 10.67 0.49 BDP, ribu/mm3 12.85 10.01 9.05 1.18 Diferensiasi (% BDP) Netrofil 33.67 29.33 40.00 3.51 Limfosit 61.67 66.67 56.75 3.45 Monosit 3.67 2.67 2.50 0.62 Eusinofil 1.50 1.33 1.00 0.16

BDM=butir darah merah, PCV=packed cell volume, Hb=hemoglobin, BDP=butir darah putih

Hasil ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengevaluasi pengaruh penggunaan lerak dalam bentuk tepung terhadap profil butir darah putih sapi potong yang dipelihara selama 60 hari dan menunjukkan bahwa pemberian tepung lerak pada taraf 1000 mg/kg BB (40 mg saponin) dalam ransum dapat menurunkan proporsi limfosit. Nampaknya buah lerak yangdiberikan dalam bentuk tepung serta dosis yang tidak tepat mempunyai pengaruh yang negatif terhadap sistem kekebalan. Sebaliknya, buah lerak yang diberikan dalam bentuk ekstrak metanol relatif lebih aman pada status kesehatan ternak.

Hasil analisis profil lemak darah sapi potong menunjukkan bahwa pemberian ekstrak lerak pada level 200 mg/kg BB tidak mempengaruhi kadar trigliserida, kolesterol maupun LDL (Tabel 23). Kadar kolesterol pada penelitian ini dalam batas normal yaitu 140-146 mg/dl. Pond et al. (2005) menyatakan bahwa kisaran normal kadar kolesterol pada sapi adalah 50-230 mg/dl.

Pada penelitian ini, pemberian saponin dari ekstrak lerak belum dapat menurunkan level trigliserida dan kolesterol darah. Hal ini diduga karena di dalam rumen saponin cepat sekali dirombak oleh bakteri sehingga kehilangan gugus gulanya menjadi senyawa lain seperti sarsapogenin atau episarsapogenin (Flaoyen et

78

al. 2001). Hal ini yang mengakibatkan saponin ekstrak lerak tidak dapat berperan sebagai antikolesterol pada ternak ruminansia karena sudah kehilangan sifat ampifatiknya.

Tabel 23. Profil lemak serum darah sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum selama 90 hari

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan)

0 100 200 SEM

Trigliserida, mg/dl 44.67 32.75 34.50 2.77

Kolesterol total, mg/dl 146.67 143.50 140.00 7.56

LDL kolesterol, mg/dl 28.10 23.98 28.20 1.39

LDL=low density lipoprotein

Berbeda dengan percobaan pada ternak ternak monogastrik, pemberian saponin dapat menurunkan kolesterol plasma (Francis et al. 2002). Saponin asal tanaman berpotensi untuk mengganggu absorpsi kolesterol yang berasal dari pakan maupun kolesterol endogenus yang memasuki lumen usus halus melalui empedu atau dari sel-sel usus halus sehingga efektif menurunkan konsentrasi kolesterol dalam darah. Saponin diduga mengikat garam empedu sehingga tidak bisa mengemulsi lemak dan turunannya (Sidhu & Oakenfull, 1986). Akibatnya enzim lipase pankreas tidak bisa mencerna lemak menjadi senyawa yang lebih kecil dan akhirnya lemak dikeluarkan melalui feses.

Pengaruh Ekstrak Lerak Terhadap Performa Produksi

Pemberian ekstrak lerak sampai dengan level 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi nilai PBBH dan efisiensi ransum sapi potong lokal selama 90 hari perlakuan (Tabel 24). Nampaknya, walaupun fermentasi rumen sudah nyata meningkatkan produksi VFA total dan proporsi propionat, namun pada proporsi propionat sebesar 19% dari total VFA (sekitar 21 mM) masih belum dapat meningkatkan PBBH sapi potong secara signifikan. Hal ini diduga pada konsentrasi propionat tersebut, energi yang terbentuk asal propionat masih lebih banyak digunakan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya dibandingkan untuk deposisi pertambahan bobot badan. Produksi VFA memegang peranan penting sebagai penyedia glukosa pada ternak ruminansia karena glukosa asal pakan

hanya dapat menyediakan kurang dari 10% kebutuhan glukosa (Yost et al, 1977). Selanjutnya, sumber glukosa utama ternak ruminansia berasal dari proses glukoneogenesis yang menggunakan propionat sebagai substrat utama dan menyediakan sekitar 27%-59% sumber karbon dalam tubuh. Asam amino, gliserol dan laktat juga berkontribusi sebagai sumber karbon (Cerrilla & Martinez, 2003). Selain itu, rasio asetat:propionat pada penelitian ini masih relatif tinggi (3.4:1). Pertambahan bobot badan sapi akan optimal apabila rasio asetat:propionat yang diproduksi dalam rumen 3:1 (Yost et al. 1977).

Tabel 24. Performa produksi sapi potong yang mendapat berbagai level ekstrak lerak dalam ransum selama 90 hari

Parameter

Level ekstrak lerak (mg/kg bobot badan)

0 100 200 SEM

Konsumsi bahan kering (kg/e/h)

- Hijauan (kg/e/h) 2.95 2.92 3.10 0.07

- Konsentrat (kg/e/h) 1.52 1.55 1.52 0.02

- Total ransum,kg/e/h 4.47 4. 46 4.62 0.08

PBBH, g/e/h 480 500 540 16.56

Efisiensi ransum 0.11 0.12 0.13 0.005

PBB=pertambahan bobot badan, PBBH=pertambahan bobot badan harian

Namun demikian, terjadi perbaikan nilai PBBH dengan pemberian ekstrak lerak dengan semakin lamanya perlakuan (Gambar 9). Pada 30 hari pertama perlakuan, nilai PBBH untuk perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB lebih rendah dibanding kontrol. Sementara itu, perlakuan ekstrak lerak 200 mg/kg BB mempunyai nilai PBBH yang hampir sama dengan kontrol. Namun pada 30 hari kedua (hari ke 30-60) perlakuan dan selanjutnya, nilai PBBH semakin turun untuk perlakuan kontrol. Sebaliknya, pemberian ekstrak lerak 100 mg/kg BB dapat meningkatkan nilai PBBH dengan semakin lamanya perlakuan bahkan melampaui perlakuan kontrol. Peningkatan PBBH tertinggi diperoleh dengan pemberian ekstrak lerak 200 mg/kg BB dan semakin meningkat dengan pemeliharaan yang lebih lama.

80

Gambar 9. Pola peningkatan PBBH sapi perlakuan selama 90 hari pemeliharaan.985).

Berdasarkan data pola peningkatan PBBH selama 90 hari perlakuan tersebut menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak lerak mempunyai pengaruh yang positif dengan perlakuan yang semakin lama. Peningkatan PBBH semakin tinggi apabila perlakuan ekstrak lerak dievaluasi dalam waktu yang lebih lama dengan mengikuti pola grafik yang linier. Hal ini dapat menjelaskan bahwa walaupun produksi VFA total dan propionat meningkat dengan ekstrak lerak namun belum signifikan secara statistik dalam meningkatkan PBB. Apabila lama perlakuan diperpanjang sampai jangka waktu tertentu, ada kemungkinan penggunaan ekstrak lerak efektif dalam meningkatkan produktivitas ternak. Selain itu, keragaman genetik dan jumlah sapi yang digunakan juga mempengaruhi respon sapi terhadap ekstrak lerak. Sapi potong yang digunakan adalah sapi potong bakalan yang diperoleh dari peternakan rakyat yang sangat beragam.

Navas-camacho et al. (1993) melaporkan bahwa pemberian tepung daun

yang diberi pakan Pennisetum clandestinum dapat meningkatkan kecernaan bahan kering 17% serta memperbaiki bobot badan 53% dibanding kontrol. Namun pemberian E.cyclocarpum pada level yang lebih tinggi (300 g/h) menurunkan kecernaan bahan kering pakan. Thalib et al. (1996) mencekokkan ekstrak lerak setiap 3 hari sekali ke dalam rumen domba yang diberi pakan basal jerami padi

Dokumen terkait