TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
10) Bahasa cerita pendek lebih tajam, sugestif, dan padat
c. Unsur-unsur Cerpen
Menurut Badrun (1983: 39), unsur-unsur yang membangun cerpen meliputi tema, amanat, plot, latar, tokoh, penokohan, titik pengisahan, dan gaya bahasa.
1) Tema
Tema sering kita sebut juga dasar cerita, yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Ia terasa dan mewarnai karya sastra tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Hakikatnya, tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karya sastra itu.
Tema suatu karya sastra tersurat dan dapat juga tersirat. Disebut tersurat, apabila tema tersebut dengan jelas dinyatakan oleh pengarangnya.
Disebut tersirat, apabila tidak secara tegas dinyatakan tetapi terasa dalam keseluruhan cerita yang disebut pengarang.
Menurut jenisnya, tema dapat dibedakan atas dua macam, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema pokok, yakni permasalahan yang paling dominan menjiwai suatu karya sastra, sedangkan tema minor yang sering disebut tema bawahan adalah permasalahan yang merupakan cabang dari tema mayor. Wujudnya dapat berupa akibat lebih lanjut yang ditimbulkan oleh tema mayor, misalnya novel Siti Nurbaya. Tema mayor novel ini adalah pertentangan antara adat Timur dan adat Barat. Sementara tema minornya adalah kawin paksa.
2) Alur (Plot)
Alur (plot), yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab-akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.Plot suatu cerita biasanya terdiri atas lima bagian, yaitu:
a) Pemaparan/ pendahuluan, yakni bagian cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita.
b) Penggawatan, yakni bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita yang mulai bergerak. Mulai bagian ini secara bertahap terasakan adanya konflik dalam karya tersebut. Konflik itu
dapat terjadi antar tokoh, antara tokoh dengan masyarakat sekitarnya, atau tokoh dengan hati nuraninya sendiri.
c) Penanjakan, yakni bagian cerita yang melukiskan konflik-konflik seperti disebutkan di atas mulai memuncak.
d) Puncak atau klimaks, yakni bagian cerita yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya. Bagian ini dapat berupa bertemunya dua tokoh yang sebelumnya saling mencari, atau dapat pula berupa terjadinya perkelahian antara dua tokoh yang sebelumnya digambarkan saling mangancam.
e) Peleraian, yakni bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan semua yang terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.
Dilihat dari cara penyusunan bagian-bagian plot atau alur dapat dibedakan menjadi alur lurus dan alur sorot balik (flash back). Suatu cerita disebut beralur lurus, apabila cerita tersebut disusun mulai kejadian awal diteruskan dengan kejadian-kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan permasalahan. Apabila suatu cerita disusun secara sebaliknya, yakni dari bagian akhir dan bergerak kedepan menuju titik awal cerita, alur cerita demikian disebut alur sorot balik.
Adapula cerita yang menggunakan alur lurus dan sebagian menggunakan alur sorot balik. Akan tetapi, keduanya dijalin dalam kesatuan
yang dipadu sehingga tidak menimbulkan kesan adanya dua buah cerita atau peristiwa yang terpisah, baik waktu maupun kejadian.
Kalau dilihat dari padu atau tidaknya alur dalam sebuah cerita dibedakan menjadi dua, yaitu alur rapat dan alur renggang. Suatu cerita, baik itu cerpen atau novel dikatakan beralur rapat apabila dalam cerita tersebut hanya terdapat alur atau perkembangan cerita yang berkisar pada tokoh utama dan adapula perkembangan cerita yang berkisar pada tokoh-tokoh lain yang disebut alur longgar.
3) Penokohan (Karakter)
Penokohan/ perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidup, sikap, keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya.
Ada tiga macam cara yang sering digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh ceritanya, yaitu dengan cara langsung, cara tidak langsung, dan cara campuran. Cara langsung atau yang disebut juga cara analitik, artinya si pengarang secara terurai menggambarkan ceritanya, bagaimana perwatakan tokoh cerita itu. Jadi, diceritakan secara langsung watak yang dikehendaki pengarang, bilamana pengarang hendak menggambarkan orang yang lemah lembut dikatakan bahwa ia lemah lembut atau yang keras kepala digambarkan langsung dengan kata-kata pengarang sendiri dan seterusnya.
Apabila pengarang secara tersamar dalam memberitahukan wujud atau keadaan tokoh ceritanya, maka pelukisan tokohnya secara tidak
langsung atau cara dramatik. Yang termasuk kedalam cara tidak langsung ini adalah:
a) Gambaran tentang lingkungan atau tindakan dengan sifat-sifat lahir batinnya, untuk menggambarkan watak orang ceroboh digambarkan dengan pakaian yang tidak rapi, rambutnya yang tidak disisir, dan lain-lain.
b) Melukiskan sikap tokoh dalam menanggapi suatu kejadian atau peristiwa dan sebagainya, melalui cara ini pembaca dapat mengetahui apakah tokoh ceritatersebut berpendidikan, acuh tak acuh, yang besar rasa kemanusiaannya atau tidak, dan sebagainya.
c) Melukiskan bagaimana tanggapan tokoh-tokoh lain dalam cerita bersangkutan.
Dalam kenyataan, kedua cara tersebut biasanya dipakai pengarang secara berganti-gantian adalah dapat mencampurkan antara cara-cara A dan B bersama-sama yang biasanya disebut cara campuran. Jadi dengan kata lain, sebuah novel atau cerpen umumnya tidak akan dijumpai pelukisan tokoh secara langsung saja atau tidak langsung.
4) Sudut Pandang (Voint Of View)
Diantara elemen yang tidak dapat ditinggalkan dalam membangun cerpen adalah sudut pandang tokoh yang dibangun Sang pengarang. Sudut pandang tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan kedalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi, sudut pandang sangat erat dengan teknik bercerita.
Sudut pandang ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:
a) Sudut pandang orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau
“saya”. Disini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” atau “saya”nya.
b) Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya, misalnya; “Aisyah”, “Fahri”, dan “Nurul”.
c) Sudut pandang yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandang yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandang ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai, sudut pandang berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.
Sudut pandang pada dasarnya adalah visi pengarang bahwa ia merupakan pandangan yang diambil oleh pengarang untuk melihat peristiwa dan kejadian dalam cerita. Sudut pandang adalah tempat penceritaan dalam hubungan dengan cerita dari sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya.
Ada empat perwujudan pusat pengisahan, yaitu:
a) Tokoh utama menyampaikan kisah diri, jadi kisahan oleh tokoh utama dengan sorotan pada tokoh utama.
b) Tokoh bawahan menyampaikan kisah tentang tokoh utama, jadi kisahan oleh tokoh bawahan dengan sorotan pada tokoh utama.
c) Pengarang pengamat (observer Author) menyampaikan kisah sorotan terutama pada tokoh utama.
d) Pengarang serba tahu (omniscient auther) menyampaikan kisah dari segala sudut sorotan utama.
5) Latar atau Setting
Latar adalah situasi tempat, ruang, dan waktu terjadinya cerita.
Tercakup pula didalamnya lingkungan geografis, pekerjaan, dan alat-alat yang berkaitan dengan tempat terjadinya cerita, waktu, suasana, dan periode sejarah. Adanya penggunaan latar sangat mendukung terciptanya karya sastra dan menarik perhatian para pembaca atau penikmat sastra. Jadi, latar atau setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu cerita yang membangun latar cerita (Sudjiman dalam Juanda, 2005: 31).
Secara garis besar, deskripsi latar fiksi dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni (1) latar tempat, (2) latar waktu, dan (3) latar sosial. Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita terjadi. Latar waktu mengacu pada saat terjadinya peristiwa dalam plot secara historis.
Latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan hakikat seorang atau beberapa orang tokoh dalam masyarakat yang ada disekelilingnya (Suyuti, 2000: 126-128).
Latar suatu fiksi biasanya dibedakan menjadi dua tipe yaitu latar netral (neutral setting) dan latar spiritual (spiritual setting). Latar netral adalah latar yang tidak memiliki kaitan yang fungsional dengan elemen fiksi lainnya, sedangkan latar spiritual adalah latar yang memiliki kaitan fungsional dengan elemen fiksi lainnya (Suyuti, 2000: 128-130).
Ada beberapa fungsi yang dapat ditempati oleh latar fiksi, misalnya; (1) latar sebagai metafora yaitu dalam sebuah fiksi kadang-kadang pembaca jumpai detail-detail latar yang berfungsi sebagai suatu proyeksi/ objektifikasi keadaan internal tokoh-tokohnya atau kondisi spiritual tertentu, (2) latar sebagai atmosfer, yaitu suatu hal yang lebih banyak berhubungan dengan apa yang disarankan daripada apa yang dinyatakan, (3) latar sebagai pengedepanan, yaitu dapat berupa penonjolan tempat saja (Suyuti, 2000:
132).
6) Gaya Bahasa
Seorang pengarang bukan hanya sekedar bermaksud memberitahu pembaca mengenai apa yang dilakukan dan dialami tokoh ceritanya melainkan bermaksud pula mengajak pembacanya ikut serta merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh cerita. Itulah sebabnya, pengarang senantiasa akan memilih kata dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan kalimat yang mampu mewadahi apa yang dipikirkan dan dirasakan tokoh ceritanya tersebut.
Gaya bahasa dapat dibatasi dengan cara pengungkapan pikiran melalui bahasa secara khas yang memerhatikan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Tarigan (1990: 5) bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang khas yang memerhatikan jiwa dan kepribadian penulis. Itulah sebabnya, gaya bahasa harus mengandung tiga unsur, yakni; kejujuran, sopan, dan menarik.
Gaya bahasa digunakan pengarang untuk membangun jalinan cerita dengan pemilihan diksi, ungkapan, majas (kiasan) yang menimbulkan kesan estetik dalam karya sastra. Namun dalam aspek yang lebih luas, unsur yang terlibat dalam gaya bahasa ini bukan hanya diksi, juga sifat atau ciri imaji yang khas, sintaksis, irama, ungkapan, perbandingan, dalam teknik bercerita Si pengarang. Dengan demikian, gaya bahasa berarti cara membentuk atau menciptakan bahasa sastra dengan memiliki diksi, sintaksis,
ungkapan-ungkapan, majas, irama, dan imaji-imaji yang tepat untuk memperoleh kesan estetik.
Dalam karya sastra seperti novel, cerpen maupun puisi, gaya bahasa mempunyai fungsi: (1) memberi warna pada karangan, sehingga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual, (2) alat melukiskan suasana cerita dan mengintensitaskan penceritaan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapatlah disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara seseorang mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan bahasa yang khas, indah, dan menarik sehingga dapat memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.
7) Amanat
Amanat adalah ide, gagasan, dan ajaran yang disodorkan pengarang dalam karya sastra. Betapapun rumitnya atau sederhananya suatu karya sastra, ia senantiasa menulis dua hal, yaitu (1) keindahan dan kenikmatan, (2) ide, gagasan, dan ajar. Kalau ada seni, termasuk karya sastra yang diwujudkan dengan tidak menghiraukan apakah seni itu bermanfaat atau tidak bagi masyarakat, maka hal itu perlu dikaji lebih jauh. Pertama adalah kenikmatan dan keindahan itu. Akan tetapi, keindahan dan kenikmatan itu mengandung ajaran bahwa seni bermanfaat terhadap manusia.
Untuk memudahkan menemukan amanat sebuah cerita, ada beberapa yang harus dilakukan sebelumnya, yaitu (1) karya itu dibaca berulang-ulang dengan teliti, (2) dari bacaan itu diusahakan ditemukan
topiknya, (3) dari topik yang telah dirumuskan itu ditentukan temanya, (4) menginvestarisasi peristiwa atau benturan yang ada dalam cerita. Dari investarisasi ini dirumuskan amanat cerita. Amanat utama adalah amanat dari sebuah cerita.
Nurgiyantoro (2009: 23) mengemukakan bahwa selain unsur-unsur intrinsik di atas, terdapat pula unsur-unsur ekstrinsik yang secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.
Selanjutnya Abrams (dalam Herniyastuti, 2009: 28) mengungkapkan unsur-unsur ekstrinsik sebagai berikut:
a) Psikologi Penulis
Cerpen adalah karya rekaan. Sebagai karya rekaan, ide cerpen berawal dari pikiran, khayalan, mimpi, kemudian renungan dan direalisasikan pengarang kedalam sebuah tulisan berbentuk cerpen. Jika itu terjadi maka, yang bekerja adalah psikologi pengarang.
Keadaan psikologi penulis saat itu membuat sebuah karya sastra akan mempengaruhi alur cerita dari karya sastra yang dibuatnya. Seorang penulis yang sedang merasakan kesedihan yang mendalam tanpa ia sadari akan membuat sebuah karya sastra yang berisi tentang kesedihan, begitu pula sebaliknya jika seorang pengarang sedang merasakan indahnya jatuh cinta akan lebih mudah untuk menuangkan segala idenya dan pengimajinasiannya kedalam bentuk tulisan tentang percintaan.
Tokoh-tokoh yang diciptakan oleh pengarang, bisa saja mewakili psikologi pengarangnya, atau gejolak batinnya setelah mengalami, mendengar, merasakan, atau melihat fenomena yang ditemukan di sekitar kehidupannya. Tokoh-tokoh dalam cerita atau sudut pandang akan mewakili gejolak jiwanya karena pengarang menciptakan tokoh dengan segala karakter dan segala kebiasaannya. Hal itu merupakan wakil dari gejolak batin pengarang itu sendiri.
b) Daya Imajinasi
Abrams (dalam Herniyastuti, 2009: 29) mengungkapkan bahwa daya imajinasi adalah suatu yang berbentuk khayali atau tidak nyata yang terbentuk dari pemikiran manusia. Imajinasi ini adalah suatu daya yang dimiliki oleh manusia yang bisa berupa lamunan, angan-angan, pengandaian, keinginan, bahkan cita-citapun termasuk kedalam daya imajinasi. Modal utama seorang pengarang adalah kemampuan berimajinasi. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa fiksi adalah karya imajiner (khayalan) dan estetis yang menceritakan dinamika kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, dan Tuhan.
Ketika seorang penulis berimajinasi, maka ia akan terinspirasi oleh khayalannya sehingga secara sadar atau tidak sadar penulis telah memiliki tema sejak batin dan pikirannya telah dikuasai oleh daya imajinasi tersebut, maka langkah selanjutnya adalah pengarang mengaplikasikan imajinasi awal tadi kedalam bentuk tulisan sesuai dengan tema yang telah ada dipikirannya
tadi kemudian akan muncul dengan sendirinya ide-ide yang akan dikembangkan menjadi sebuah karya sastra.
c) Nilai Moral
Nilai moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan. Pandangannya tentang nilai-nilai kebenarannya dan hal itulah yang akan disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya. Moral dalam cerita dimaksudkan sebagai suatu yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis yang diambil dan ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai amanat, pesan, serta gagasan yang mendasari penulisan karya tersebut. Dengan demikian, jika dalam karya sastra yang ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh kurang terpuji,baik antagonis maupun protagonis tidaklah pengarang menganjurkan mereka bersifat demikian. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model yang sengaja ditampilkan sehingga pembaca dapat mengambil sendiri hikmah dari tokoh dalam karya sastra itu (Nurgiyantoro, 2009: 31).
d) Nilai Sosial
Cerpen merupakan gambaran kehidupan, tiruan kehidupan atau mimesis kehidupan. Sebab itu, cerpen bisa disebut juga sebagai agen sosial.
Sebagai agen social tentu saja cerpen merupakan penyebar nilai-nilai sosial yang diketahui oleh pengarangnya sebagai bahan baku imajinasinya.
Seorang pengarang ketika mengolah imajinasinya untuk bahan cerita akan mengacu pada keadaan sosial yang dilihat, dirasakan, dan diketahuinya. Mustahil seorang pengarang membuat sebuah cerpen dengan mengabaikan fenomena sosial. Sebab, pengarang menemukan ide ceritanya serta memupuk daya imajinasinya bermula karena melihat kenyataan gejolak sosial, keadaan sosial, elemen sosial, dan simbol-simbol yang ada.
e) Nilai Budaya
Nilai budaya dalam sebuah karya sastra adalah nilai yang berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya manusia dalam menulis atau menciptakan gagasan.
Nilai budaya merupakan nilai yang disepakati dan tertanam dalam masyarakat yang mengukur pada suatu kebiasaan, serta karakteristik tertentu yang dapat dijadikan satu acuan dengan yang lainnya sebagai acuan perilaku dan tanggapan dalam menciptakan sebuah karya sastra. Cerpen yang merupakan karya sastra tentu saja didalamnya terdapat gambaran budaya karena cerpen dibuat oleh manusia yang berbudaya. Seorang pengarang ketika menulis karyanya akan berpijak pada sebuah peradaban yang dibangun dari wujud kebudayaan. Begitupula dalamcerpen terdapat nilai-nilai kebudayaan sebagai pembangun tema, karakter tokoh, alur, latar, dan amanat.
f) Nilai Religius
Nilai religius adalah nilai yang menyangkut religi atau kadar keimanan dan ketakwaan seseorang yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.Nilai religius dalam karya sastra tidak bisa dipecahkan dari unsur moral dan unsursosial. Yang membentuk wujud kepercayaan pada Tuhan adalah adanya nyali sosial atau interaksi antara manusia dengan manusia yang akan membentuk suatu kesatuan. Dengan demikian, nilai religius yang terdapat dalam karya sastra akan mengatasi perbedaan pandangan dalam kehidupan beragama.
g) Nilai Didaktis
Nilai didaktis adalah nilai yang mengungkapkan bahwa dalam cerita biasanya terdapat nilai hitam dan putih. Nilai yang mengandung unsur kebaikan sebagai tuntunan disebut nilai putih, dan nilai yang mengandung unsur keburukan dalam cerita disebut dengan nilai hitam.
d. Jenis-jenis Cerpen
Menurut Badrun (1983: 40) cerpen terbagi dua, yaitu: (1) Short-short story (cerita pendek yang pendek) dan (2) Long short story (cerita pendek yang panjang) Nurgiyantoro (2009: 30) mengemukakan bahwa short-short story adalah cerpen yang jumlah kata-katanya dibawah 5.000 kata atau 16 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca seperempat jam, sedangkan long short story ialah cerpen yang jumlah kata-katanya 5.000-10.000 kata atau 33 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca dalam waktu
kira-kira setengah jam. Selanjutnya, Sumardjo (2005: 33) menggolongkan cerpen dan diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1) Cerpen watak. Cerita ini menggambarkan salah satu aspek watak manusia, misalnya kikir, alim, atau gabungan dari beberapa watak yang sulit dinyatakan seperti religius tetapi agak urakan.
2) Cerpen plot. Cerpen semacam ini menekankan terjadinya suatu peristiwa yang amat mengesankan. Biasanya cerita ini digemari oleh pembaca awam, karena jalan ceritanya manis dan diakhiri dengan kegiatan yang menambah minat pembacanya.
3) Cerpen tematis. Cerita ini menekankan pada tema atau permasalahan yang biasanya cukup berat untuk dipikirkan.
4) Cerpen suasana. Cerita instrumen menekankan pada suasana yang digambarkan oleh pengarangnya, dari suasana itu muncul masalah.
5) Cerpen setting. Cerita didalamnya, pengarang lebih banyak menguraikan latar belakang tempat terjadinya cerita, sehingga pembaca dapat mengetahui banyak keterangan.
Sehubungan dengan pembagian cerpen di atas, dapat dikatakan bahwa bilamana salah satu unsur yang membangun atau mendukung hadirnya sebuah cerpen sangat menonjol, maka inilah yang mewarnai sebagian isi cerita tersebut.