TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
10) Pengelola kelas
Guru sebagai pengelola kelas hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pembelajaran.
Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini akan berakibat mengganggu jalannya proses proses interaksi edukatif. Kelas yang terlalu padat dengan anak didik, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak tidak menguntungkan bagi terlaksananya interaksi edukatif yang optimal. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan umum dari pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik dan optimal.
11) Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif.
Keterampilan menggunakan semua media itu diharapkan dari guru yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan pengajaran.
12) Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat melkukan perbaikan terhadap situasi belajar mengaja menjadi lebih baik. Untuk itu, kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau kedudukan yang ditempatinya,
melainkan juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang disupervisinya.
13) Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan aspek intrinsic dan ekstrinsic. Penilaian terhadap aspek intrinsic lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai. Berdasarkan hal ini, guru harus bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Penilaian terhadap kepribadian anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes. Anak didik yang berprestasi baik, belum tentu memiliki kepribadian yang baik.
Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan guru telah meningkat dari sebagai pengajar menjadi sebagai direktur pengarah belajar. Sebagai direktur belajar, tugas dan tanggung jawab menjadi lebih meningkat yang ke dalamnya termasuk fungsi-fungsi guru sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator belajar, dan sebagai pembimbing.
3. Hakikat Belajar Bahasa Indonesia a. Pengertian Belajar
Pribadi (2011: 5) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh sesorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai proses elaborasi dalam upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu.
Proses belajar pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi personal.
Belajar menurut Sahabuddin (2007: 80) adalah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Secara tradisional, belajar biasa diartikan sebagai kegiatan menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pandangan ini dianggap sangat sempit karena terlalu mementingkan pendidikan intelektual dan hanya berpusat pada mata pelajaran. Pendapat yang lebih modern menganggap belajar sebagai “a change in behaviour” atau perubahan tingkah laku. Sejalan dengan itu, Hudoyo (2003:1) mengemukakan bahwa pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terhadap bentuk dimodifikasi dan berkembang disebabkan karena belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan yang dapat mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku.
Belajar menurut Jahja (2011: 386) adalah “sebuah aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk menambah pengetahuan yang ada dalam
duania dengan suatu pengalaman yang sangat berarti dan memiliki makna yang tinggi.”
Menurut L. E. Cronbach (dalam Abdullah, 1995: 69) bahwa “belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman”. Pandangan ini pada intinya bahwa belajar berarti perubahan, dan perubahan tingkah laku terjadi karena pengalaman dan latihan. Apabila dicermati lebih jauh pendapat tersebut, maka belajar yang sebaiknya adalah proses mengalami, dan melibatkan panca indera bagi orang yang belajar atau mengalami tersebut.
Manusia dalam interaksi dengan lingkungannya, sering mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya.
Selanjutnya, Witherington (dalam Abdullah,1995: 70) mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola baru dari respon-respon yang menjadi suatu keterampilan, sikap, kebiasaan, kemampuan atau pemahaman”.
Budiningsih (2005: 20) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Belajar merupakan proses terjadinya perubahan pada individu, baik lahir maupun batin dan bersifat positif yaitu perubahan yang menuju ke arah perbaikan. Namun tidak semua perubahan yang terjadi disebabkan proses belajar, misalnya pada bayi yang semula tidak bisa memegang benda kemudian dapat memegang. Hal ini terjadi karena proses kematangan
(maturity). Perubahan yang terjadi secara singkat kemudian menghilang bukan merupakan hasil dari proses belajar, misalnya seseorang secara kebetulan dapat memperbaiki radio, tetapi bila harus mengerjakan sekali lagi, orang tersebut sudah tidak bisa melakukannya. Pada dasarnya orang itu belum belajar hal-hal yang bersangkutan, dan kecakapan memperbaiki radio belum dikuasainya.
Lebih lanjut Masrun dan Martaniah (2003: 13) mengatakan bahwa:
“Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri manusia baik lahir maupun batin, dan perubahan tersebut menuju ke arah perbaikan.
Perubahan belajar ditandai oleh perubahan perilaku yang relatif permanen dan disebabkan oleh pengalaman dan latihan”.
Senada dengan itu, Ahmadi (2005: 17) menyatakan bahwa “belajar adalah proses perubahan perilaku berbakat pengalaman dan pelatihan.
Belajar yaitu suatu bentuk atau perubahan dalam diri seseorang yang menyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman atau latihan.” Slameto (2005: 36) merumuskan belajar sebagai berikut
“belajar adalah suatu proses usaha individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Pendapat lain Sahabuddin (dalam Haling,2004: 2) menyatakan
“belajar ialah sebagai suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu
memecahkan masalah dan menyesuaiakan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.”
Pendapat tersebut sejalan dengan rumusan belajar yang dikemukakan oleh The (2004: 6) yaitu belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan pada dirinya berupa menambah dalam pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya sedikitnya banyak permanen.
Sementara Hilgar dan Bower (dalam The,2004:17) mendefinisikan belajar yaitu “learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing”. Pengertian belajar menurut Hilgar dan Bower diartikan sebagai suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasa hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.
Pada prinsipnya, beberapa pengertian belajar di atas adalah sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya saja berbeda cara atau usaha mencapainya. Pengertian terakhir menitikberatkan pengertian pada interaksi antara individu dengan lingkungan, karena di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. Adapun pengertian yang diberikan oleh William Burton (dalam Hamalik, 2005:37) tentang belajar yaitu “A good learnig situation consist of a rich and varied series of learning experiences
unified around a vigorous purpose, and carried on interaction wiyh a rich, varried and provocative environment”.
Selanjutnya The (2004:8) mengemukakan hal-hal pokok mengenai belajar yaitu:
1) Belajar adalah proses perubahan (dalam arti perubahan perilaku aktual maupun potensial) yang disadari, kontinyu, fungsional, positif dan aktif, bersifat temporer serta bertujuan atau terarah;
2) Perubahan itu berarti sesuatu yang baru, artinya proses yang menuju ke arah yang lebih baik dari sebelumnya (progress);
3) Perubahan itu terjadi karena usaha, pengalaman ataupun latihan. Pengalaman itu terbentuk dari interaksi individu yang belajar dengan lingkungannya;
4) Perubahan itu bersifat individual, permanen dalam diri orang yang belajar. Sifat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kebutuhan, motivasi maupun faktor lainnya.
Teori belajar telah banyak dikemukakan oleh ahli psikologi dan pendidikan seperti dikemukakan oleh Hamalik (2005: 34) yaitu:
1) Teori conditioning yang menitik beratkan pada timbulnya respon yang disebabkan oleh suatu stimulus tertentu melalui proses persinggungan.
2) Teori connectionism yang menekankan bahwa belajar adalah pembentukan ikatan atau hubungan antara stimulus-respon melalui proses pengulangan.
3) Teori medan (field theory) yang mengatakan bahwa keseluruhan bagian yang satu dengan yang lainnya erat hubungannya dan saling bergantung, termasuk dalam hal ini adalah teori Gelstalt.
4) Psikologi fenomenologis dan humanistis yang menitik beratkan pada kondisi dalam diri individu.
5) Teori stimulus-respon-relativistikyang mengatakan bahwa tingkah laku manusia merupakan moral behaviour dan keseluruhan perilaku terhadap stimulus dan terhadap hubungan dua arah antara manusia dan lingkungan.
Suryabrata (1995:41) membedakan teori belajar dalam dua golongan besar yaitu: (1) teori behaviouristik-elementaristik; dan (2) teori kognitif holistik. Thorndike (dalam Suryabrata, 1995: 17) mengemukakan bahwa belajar berlangsung melalui tiga macam hukum belajar yaitu: (1) low of redness yang menunjukkan kesiapan seseorang untuk bertindak; (2) low of exercise yang mengatakan bahwa meningkatnya kemungkinan untuk merespon sesuatu bila situasi itu telah dihadapinya dan diulang lagi; (3) low of effect yaitu teori yang mengatakan bahwa apabila koneksi yang dibuat dan
disertai oleh keadaan yang memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan bertambah.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku aktual maupun potensial yang relatif bersifat permanen dan dilakukan dengan sengaja, serta tingkah laku tersebut terjadi karena hasil pengalaman dan latihan-latihan yang dapat berupa pengetahuan, kecakapan, keterampilan, pemahaman, sikap dan kebiasaan. Belajar merupakan suatu proses yang memerlukan waktu tertentu. Jika dari suatu titik waktu ke titik waktu yang lain suatu organisme mengalami perubahan tingkah laku maka dapat dianggap suatu prose belajar itu telah terjadi.
b. Hasil Belajar
Sudjana (2006: 33) menyatakan bahwa hasil belajar adalah “hasil yang diperoleh sebagai program dan sasaran yang menjadi penilaian. Hasil belajar sebagai penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan instruksional.” Sastrapraja (2003: 12) mengemukakan bahwa
“hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai” (dilakukan atau dikerjakan).
Selanjutnya dalam kamus ilmiah populer (Qahar, 1994: 22) menyatakan hasil belajar diartikan “sebagai apa yang diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan usaha dan keuletan bekerja.”
Dalam arti yang luas, konsep hasil belajar pada dasarnya merupakan hasil kerja seseorang dalam melakukan dan memecahkan suatu permasalahan. Hasil belajar juga sering diartikan sebagai kinerja dari suatu usaha, baik masalah yang berhubungan dengan akademik maupun masalah-masalah lainnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hasil belajar merupakan hasil dari usaha atau aktivitas yang bertujuan. Dalam lingkungan pendidikan khususnya sekolah, hasil belajar juga sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yaitu untuk bermacam-macam ukuran terhadap apa yang telah dicapai oleh seorang siswa, guru ataupun staf. Misalnya hasil belajar siswa dalam ulangan harian, tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir semester dan sebagainya.
Demikian pula oleh guru atau staf administrasi dikenal hasil belajar kerja dalam mengajar atau melakukan tugas-tugas administrasi dalam lingkup tugas yang diembannya.
Menurut Woodwort (dalam Slameto, 2005:193) bahwa “hasil belajar merupakan hasil yang dicapai seseorang berupa kecakapan nyata dan yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan suatu tes”. Sedangkan Webster dalam Slameto (2005:198) mengatakan bahwa hasil belajar adalah penampilan pencapaian seseorang siswa dalam suatu Mata Pelajaran, berupa kualitas dan kuantitas hasil kerja atau kinerja selama periode waktu yang telah ditentukan. Hasil belajar akademik seseorang pada hakikatnya
merupakan perubahan tingkah laku dalam arti luas yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Mengenai hakikat hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar, yakni terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak mengerti menjadi mengerti. Konsep ini menunjukkan bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi merupakan bentuk hasil hasil belajar yang diperoleh dari aktivitas belajar. Selanjutnya, Abdullah (1995:38) mengemukakan pengertian hasil belajar yaitu “Suatu indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai siswa. Tinggi rendahnya hasil belajar dapat menjadi indikator sedikit banyaknya pengetahuan yang dikuasai siswa dalam Mata Pelajaran atau kegiatan kurikulum tertentu”.
Suryabrata (1995: 28) menjelaskan bahwa “hasil belajar diwujudkan dalam bentuk nilai yang merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan seorang pengajar mengenai kemajuan belajar si pembelajar selama masa tertentu. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kemajuan belajar seseorang dalam periode tertentu dapat diukur atau dinilai yang diwujudkan dalam bentuk angka atau nilai-nilai tertentu.”
Hal senada juga dikemukakan oleh Dalyono (1997:83) bahwa hasil belajar merupakan hasil perubahan kemampuan yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan kemampuan seseorang terjadi setelah mengikuti proses belajar. Hasil belajar adalah hasil perubahan
kemampuan seseorang yang terjadi setelah mengikuti proses belajar, baik perubahan kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotornya.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pada hakikatnya adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan tertentu. Atau dengan kata lain hasil belajar adalah hasil dari suatu usaha yang bertujuan. Secara singkat juga dapat dikemukakan bahwa hasil belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha berupa kegiatan belajar. Sedangkan kegiatan belajar adalah bentuk dari tingkah laku belajar yang merupakan perwuju dan nyata dari kemampuan dalam belajar. Oleh karena itu, maka kesuksesan atau tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai seseorang amat tergantung dari kemampuan pribadi dan usaha atau aktivitas serta lingkungan belajarnya. Hal itu sejalan dengan pandangan teori-teori belajar yang dikemukakan sebelumnya.
c. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar
Terdapat cukup banyak hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa, namun beberapa kajian dalam ilmu psikologi pendidikan telah menyederhanakan faktor-faktor tersebut ke dalam klasifikasi yang praktis.
Para ahli psikologi dan pendidikan sepakat bahwa terdapat dua faktor dominan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Ahmadi (2005: 103) menyatakan bahwa faktor yang memengaruhi hasil belajar antara lain:
1) Kesungguhan dan Usaha Keras
Kesungguhan dan usaha keras sering menjadi kunci kesuksesan walaupun terdapat banyak rintangan tetapi dapat dilalui. Kesungguhan dan usaha keras sangat erat hubungannya dengan ketekunan. Ketekunan dan keteguhan hati dalam melaksanakan sesuatu secara kontinyu dan hal ini dapat dikembangkan.
2) Bakat dan Kecerdasan
Faktor lain yang dapat meningkatkan hasil belajar adalah bakat dan kecerdasan. Bakat dapat mendorong kemampuan belajar seseorang berkembang karena bagaimana pun baiknya rencana pembelajaran, hasil dan manfaatnya bagi masyarakat dan siswa sendiri tergantung pada kesanggupannya dan kesanggupan ini biasanya bersifat bawaan (bakat).
Kemampuan belajar dalam kaitannya dengan kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapi berkaitan dengan tingkat dan kekuatan syaraf yang dibawa semenjak lahir sebagai dasar kesiapan seseorang untuk menerima rangsangan baru dari luar.
3) Kedisiplinan
Faktor penunjang keberhasilan belajar adalah kedisiplinan.
Kedisiplinan sering dikaitkan dengan ketundukan pada peraturan atau
kebiasaan yang telah disepakati untuk dilaksanakan. Perbuatan disiplin membutuhkan upaya tertentu.
4) Metode dan Cara Belajar
Keberhasilan belajar juga ditentukan oleh cara atau metode belajar yang digunakan. Setiap siswa memiliki perbedaan dalam banyak aspek mulai dari perbedaan fisik, pola pikir, dan cara merespons atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelalaran yang diberikan.
Menurut Syah (2010: 146) bahwa faktor-faktor internal (yang bersumber dari dalam diri seseorang) mencakup antara lain: psikologi, intelegensi, bakat, minat, motivasi, minat belajar, cara atau gaya belajar.
Sedangkan faktor eksternal yang bersumber dari luar diri seseorang meliputi antara lain: keluarga, sekolah, masyarakat atau lingkungan sekitarnya.
Klasifikasi lain yang umum dijumpai dalam uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor-faktor intrinsik yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Selanjutnya mengenai faktor ekstrinsik meliputi faktor sosial dan non-sosial. Bahkan, ada ahli yang menggunakan istilah lain dalam klasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar itu dengan menyebut faktor pada diri organisme itu sendiri dan faktor di luar individu atau disebut sebagai faktor sosial. Yang termasuk ke dalam faktor individu menurut klasifikasi terakhir tersebut antara lain kematangan, kecerdasan, motivasi, latihan dan faktor pribadi lainnya.
Sedangkan faktor sosial antara lain keluarga, guru, alat-alat belajar, minat belajar, lingkungan, kesempatan, dan motivasi sosial. Namun, dalam uraian ini faktor- faktor yang disebutkan itu tidak seluruhnya dibahas lebih lanjut.
3. Menulis
a. Pengertian Menulis
Menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Selanjutnya, Nurudin (2007: 4) mengungkapkan bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Definisi di atas mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami oleh orang lain.
Menurut Tarigan (1990: 21), menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut. Menulis berarti melahirkan atau mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui suatu lambang (tulisan).
Tentu saja segala lambang (tulisan) yang dipakai haruslah merupakan hasil kesepakatan para pemakai bahasa yang satu dengan yang lain saling memahami. Apabila seseorang diminta untuk menulis, berarti ia akan
mengungkapkan perasaannya ke dalam bentuk tulisan. Jadi, menulis itu berarti mengungkapkan ide dengan tulisan.
Menurut Ambo Enre (1994: 2), menulis adalah kemampuan menggunakan pikiran dan juga perasaan dalam tulisan yang efektif. Menulis adalah melahirkan pikiran atau gagasan dalam tulisan (Alwi dkk, 2002: 121).
Menurut Ahmadi (2005: 20) bahwa menulis adalah upaya untuk mendorong siswa untuk berfikir jujur dan bertanggungjawab dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa secara integritas, sensitif, dan merangsang daya pikir intelektual siswa.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan sehingga menghasilkan suatu tulisan yang baik.
b. Kegunaan Menulis
Kegunaan yang diperoleh dari kegiatan menulis menurut Akhadiah dkk.
(2006: 2) sebagai berikut:
1) Seseorang dapat mengenal potensi dirinya. Sejauh mana pengetahuannya tentang suatu topik. Untuk itu, dia terpaksa berpikir, menggali pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan di bawah alam sadar.
2) Menulis dapat mengembangkan berbagai gagasan. Seseorang terpaksa bernalar, menghubungkan serta membandingkan fakta-fakta yang mungkin tidak dilakukan jika tidak menulis.
3) Seseorang lebih banyak menyerap, mencari, menguasai informasi sehubungan topik yang ditulis, serta memperluas wawasan baik teoretis maupun mengenai fakta yang berhubungan.
4) Mengorganisasikan gagasan secara sistematis dengan tersurat.
5) Dapat meninjau serta menilai gagasan secara objektif.
6) Lebih mudah memecahkan masalah dengan menganalisa secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret.
7) Mendorong seseorang untuk belajar secara aktif menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar penyadap informasi dari orang lain.
c. Asas-asas Menulis
Kegiatan menulis telah dikembangkan sejumlah asas mengarang berdasarkan pengalaman. Asas-asas yang efektif untuk menghasilkan tulisan yang baik perlu dipahami oleh setiap penulis dalam melakukan kegiatannya.
Ada tiga asas utama dalam menulis. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan 3C, yaitu clarity (kejelasan), conciseness (keringkasan), dan correctness (ketepatan) (The, 2002: 33).
1) Kejelasan
Asas yang pertama dalam menulis adalah kejelasan. Setiap bahasa tulis harus dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca. Asas kejelasan tidaklah semata-mata mudah dipahami, melainkan juga karangan itu tidak mungkin disalah tafsirkan oleh pembaca. Seorang ahli keterampilan mengarang Harry Shaw (dalam The, 2002: 34) menyatakan bahwa kejelasan merupakan ciri tunggal yang penting dari penulisan yang baik, karena itu lebih baik daripada ciri yang lain dari bahasa, membantu menyampaikan pikiran dari penulis kepada pembaca dan pembicara kepada pendengar.
Menurut Fowler (dalam The, 2002: 34-35), asas kejelasan dalam kegiatan menulis sepanjang menyangkut kata-kata dapat dilaksanakan dengan memilih:
a) Kata yang umum dikenal ketimbang kata yang harus dicari-cari artinya;
b) Kata yang kongkret ketimbang kata yang abstrak;
c) Kata tunggal ketimbang keterangan yang panjang lebar;
d) Kata yang pendek ketimbang kata yang panjang;
e) Kata dalam bahasa sendiri ketimbang bahasa asing;
2) Keringkasan
Asas keringkasan tidak mesti semua karangan harus pendek.
Keringkasan berarti bahwa suatu karangan tidak menghamburkan kata-kata secara semena-mena, tidak mengulang butir ide yang dikemukakan, dan
tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan dengan berbagai kalimat yang berkepanjangan (The, 2002: 35).
3) Ketepatan
Asas ketepatan adalah penggunaan kata dan kalimat yang tepat dalam karangan. Berdasarkan bentuk menurut Weaver dan Moris (dalam Wibowo, 2003: 58) karangan terbagi atas karangan eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi.
d. Langkah-Langkah Menulis
Menulis adalah suatu proses. Sebagai suatu proses, menulis mencakup serangkaian kegiatan mulai penemuan gagasan atau topik yang
Menulis adalah suatu proses. Sebagai suatu proses, menulis mencakup serangkaian kegiatan mulai penemuan gagasan atau topik yang