TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
1. Belajar Mandiri
a. Konsep Belajar Mandiri
Belajar mandiri menurut Rusman (2010: 353) adalah “mempunyai kebebasan untuk tanpa harus menghadiri proses pembelajaran yang diberikan guru di kelas.” Menurut Silberman (2009: 194) bahwa belajar mandiri merupakan “belajar dengan caranya sendiri dalam mengembangkan kemampuan, bekerja dengan cara mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab pribadi atas apa yang telah dipelajari.” Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Kesalahpengertian tersebut terjadi karena pada umumnya istilah ini dikaitkan dengan sistem belajar mahasiswa di Universitas Terbuka (UT) yang cenderung belajar sendiri tanpa tutor atau teman kuliah.
Belajar mandiri berarti belajar secara berinisiatif, dengan ataupun tanpa bantuan orang lain, dalam belajar. Sebagai siswa/mahasiswa yang mandiri, Anda tidak harus mengetahui semua hal. Anda juga tidak diharapkan menjadi siswa jenius yang tidak membutuhkan bantuan orang lain. Salah satu prinsip belajar mandiri adalah siswa mampu mengetahui kapan Anda
12
membutuhkan bantuan atau dukungan pihak lain. Pengertian tersebut termasuk mengetahui kapan Anda perlu bertemu dengan siswa lain, kelompok belajar, pengurus administrasi, guru/tutor, atau bahkan tetangga yang belajar di sekolah yang lain (Djamarah, 2002: 40).
Bantuan/dukungan dapat berupa kegiatan saling memotivasi untuk belajar, misalnya, mengobrol dengan tetangga yang belajar di sekolah yang lain, seringkali dapat memotivasi diri kita untuk giat belajar.
Bantuan/dukungan dapat juga berarti kamus, buku literatur pendukung, kasus dari surat kabar, berita dari radio atau televisi, perpustakaan, informasi tentang jadwal tutorial, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan orang.
Yang terpenting adalah Anda mampu mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Identifikasi sumber informasi ini dibutuhkan untuk memperlancar proses belajar pada saat dibutuhkannya bantuan atau dukungan.
Belajar mandiri memposisikan siswa sebagai subyek, pemegang kendali, pengambil keputusan atau pengambil inisiatif atas belajarnya sendiri.
Dengan demikian, kemampuan dalam mengendalikan atau mengarahkan belajarnya sendiri merupakan syarat utama bagi siswa. Kemampuan ini juga merupakan faktor penting untuk diperhatikan dan dibangun oleh penyelenggara program atau guru.
Kemampuan mengendalikan atau mengarahkan belajar sendiri seseorang pada dasarnya merupakan suatu kontinum. Grow (dalam Ahmad dan Prasetia,2005: 19) mengklasifikasikan kontinum tersebut ke dalam empat
tahap yaitu: “1) siswa yang tergantung (dependent learner), 2) siswa yang tertarik (interested learner), 3) siswa yang terlibat (involved learner), dan 4) siswa mandiri (independent learner).”
Siswa mandiri bukan berarti penyendiri, tapi ia telah mampu berkolaborasi dengan orang lain baik dalam klub ataupun kelompok belajar informal. Dalam hal ini, guru berperan sebagai konsultan untuk terus memberikan delegasi atau memberdayakan kemampuan belajarnya. Dengan demikian, dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri, kecakapan dan kesiapan dalam belajar secara mandiri merupakan syarat utama.
Berdasarkan tahapan belajar mandiri model Grow, siswa yang masih memungkinkan untuk dapat mengikuti sistem belajar mandiri adalah siswa pada tahap 3 (involved learners) dan 4 (self-directed learners). Karakteristik siswa ini hendaknya menjadi pertimbangan penting bagi penyelenggara pendidikan, terutama guru.
Kemandirian belajar adalah belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara. Kemandirian belajar merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya.
Kemandirian belajar dideskripsikan sebagai berikut:
1) Siswa berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan.
2) Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
3) Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.
4) Pembelajaran mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.
5) Siswa yang belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan kegiatan korespondensi.
6) Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan seperti berdialog dengan siswa, mencari sumber, mengevaluasi hasil dan mengembangkan berfikir kritis.
7) Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka.
Kemandirian belajar adalah kondisi aktifitas belajar yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, memiliki kemauan serta bertanggung jawab sendiri dalam menyelesaikan masalah belajarnya. Kemandirian belajar akan terwujud apabila siswa aktif mengontrol sendiri segala sesuatu yang dikerjakan, mengevaluasi dan selanjutnya merencanakan sesuatu yang lebih dalam pembelajaran yang dilalui dan siswa juga mau aktif dalam proses pembelajaran.
Anak yang mempunyai kemandirian belajar dapat dilihat dari kegiatan belajarnya, dia tidak perlu disuruh bila belajar dan kegiatan belajar dilaksanakan atas inisiatif dirinya sendiri. Untuk mengetahui apakah siswa itu mempunyai kemandirian belajar maka perlu diketahui ciri-ciri kemandirian belajar. Ciri-ciri kemandirian belajar sebagai berikut:
1) Siswa merencanakan dan memilih kegiatan belajar sendiri
2) Siswa berinisiatif dan memacu diri untuk belajar secara terus menerus
3) Siswa dituntut bertanggung jawab dalam belajar
4) Siswa belajar secara kritis, logis, dan penuh keterbukaan 5) Siswa belajar dengan penuh percaya diri
6) Adanya kecenderungan untuk berpendapat, berperilaku dan bertindak atas kehendaknya sendiri
7) Memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan
8) Membuat perencanaan dan berusaha dengan ulet dan tekun untuk mewujudkan harapan
9) Mampu untuk berpikir dan bertindak secara kreatif, penuh inisiatif dan tidak sekedar meniru
10) Memiliki kecenderungan untuk mencapai kemajuan, yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar
11) Mampu menemukan sendiri tentang sesuatu yang harus dilakukan tanpa mengharapkan bimbingan dan tanpa pengarahan orang lain.
Kesimpulan dari uraian diatas, bahwa belajar mandiri adalah sikap mengarah pada kesadaran belajar sendiri dan segala keputusan, pertimbangan yang berhubungan dengan kegiatan belajar diusahakan sendiri sehingga bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajar tersebut.
b. Perkembangan Sistem Belajar Mandiri Berbasis E-Learning
Pembelajaran dewasa ini menghadapi 2 tantangan. Tantangan yang pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua datang dari adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang luar biasa.
Konstruktivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses konstruktif dimana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi, korespondensi, representasi, dan elaborasi.
Sementara itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi self-guided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction. Lebih dari itu, teknologi ini ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbaharui konsepsi pembelajaran yang semula fokus pada pembelajaran sebagai semata-mata suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu
bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan. Pembaruan teori belajar melalui notion konstruktivisme dan pergeseran-pergeseran yang terjadi karena adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan dua hal yang sangat sejalan dan saling memperkuat. Konstruktivisme dan teknologi komputer, secara terpisah maupun bersama-sama telah menawarkan peluang-peluang baru dalam proses pembelajaran, baik di ruang kelas, belajar jarak jauh maupun belajar mandiri.
Menurut Prakoso (dalam Gordon dan Vos, 2003: 21), bahwa
“perangkat berbasis teknologi yang diharapkan dapat mengembangkan lingkungan belajar yang lebih produktif adalah video discs, multimedia/hypermedia, e-mail, dan internet, disamping perangkat lunak Computer Assisted Instruction/Intelligent Computer Assisted Instruction yang tersedia dalam bentuk CD ROM. E-learning merupakan suatu teknologi informasi yang realtif baru di Indonesia.”
E-learning terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘elektronic’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Dengan demikian maka e-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksananya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer.
Dalam perkembanganya, komputer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran, karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) atau computer assisted learning (CAL). Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya untuk pembelajaran, maka komputer menjadi popular di kalangan siswa. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai variasi teknik mengajar bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut. Maka setelah itu teknologi pembelajaran terus berkembang dan dikelompokan menjadi dua yaitu: 1) Technology-based learning, dan 2) Technology-based Web-learning. Technology based-learning ini pada prinsipnya terdiri dari dua, yaitu audio information technologies (audio tape, radio, voice mail, telepone) dan video information technologies (video tape, nideo text, video messaging).
Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah data information tecbnologies (bulletin board, internet, email, tele-collaboration).
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh, yang dimaksudkan agar komunikasi antara siswa dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini. Sedangkan interaksi antara guru dan siswa bisa dilaksanakan melalui cara langsung (synchronous) atau tidak langsung, misalnya pesan direkam dahulu sebelum digunakan. Cara ini dikenal dengan nama e-synchronous.
c. Kiat Belajar Mandiri
Kiat belajar mandiri yang baik adalah belajar secara otonomis berdasarkan tempat yang bebas, waktu yang tak terbatas, intensitas yang tidak mengikat aturan, memiliki sumber belajar yang bebas dan luas, tetapi sesuai dengan tujuan akademis, cara belajar yang fleksibel, serta fasilitas yang bebas. Hal ini sejalan pendapat Djamarah (2002: 40) menyebutkan kiat belajar mandiri sebagai berikut: