• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR MANDIRI SISWA DAN GAYA MENGAJAR GURU TERHADAP HASIL BELAJAR MENULIS CERPEN DI KELAS VIII SMP NEGERI 33 MAKASSAR TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR MANDIRI SISWA DAN GAYA MENGAJAR GURU TERHADAP HASIL BELAJAR MENULIS CERPEN DI KELAS VIII SMP NEGERI 33 MAKASSAR TESIS"

Copied!
181
0
0

Teks penuh

(1)

i

SMP NEGERI 33 MAKASSAR

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Derajat Magister

Program Studi

Pendidikan Bahasa Indonesia

Disusun dan Diajukan oleh:

RAHMATIAH

Nomor Induk Mahasiswa: 04.07.826.2012

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2014

(2)

ii

Pengaruh Kebiasaan Belajar Mandiri Siswa dan Gaya Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar Menulis Cerpen di

Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar

Disusun dan Diajukan oleh

Rahmatiah NIM: 04.07.826.2012

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Tesis pada tanggal 2 Oktober 2014

Menyetujui Komisi Pembimbing,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M. Pd. Dr. Abd, Rahman Rahim, M. Hum.

Mengetahui

Ketua Program Studi Direktur Program Pascasarjana

Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Sastra Indonesia,

Dr. Abd, Rahman Rahim, M. Hum. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M. Pd.

NBM. 866922 NBM. 988463

(3)

iii

Judul Tesis : Pengaruh Kebiasaan Belajar Mandiri Siswa dan Gaya Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar Menulis Cerpen di Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar

Nama : Rahmatiah

NIM : 04.07.826.2012

Program Studi : Pendidikan Bahasa

Kekhususan : Bahasa dan Sastra Indonesia

Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada tanggal 2 Oktober 2014 dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 7 Oktober 2014 TIM Penguji

1. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd ………

(Pembimbing I)

2. Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum ………

(Pembimbing II)

3. Prof. Dr. H. Tadjuddin Maknun, S.U ………

(Penguji)

4. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd ………

(Penguji)

(4)

iv

Nama : Rahmatiah

NIM : 04. 07. 826. 2012

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Tesis : Pengaruh Kebiasaan Belajar Mandiri siswa dan Gaya Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar Siswa Menulis Cerpen di Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar.

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang penulis buat adalah benar karya sendiri.

Jika dikemudian hari terbukti bahwa tesis ini merupakan duplikan, atau plagiat, maka saya bersedia dituntut secara hukum.

Demikan surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Makassar, 7 Oktober 2014 Yang berjanji,

Rahmatiah

(5)

v

Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan ridha-Nya sajalah

sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul” Kebiasaan Belajar Mandiri Siswa dan Gaya Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar Menulis Cerpen di Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar”. Tesis ini diajukan guna memenuhi salah satu pensyaratan akademik untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penyusunan tesis ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan, saran, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini, terutama kepada Prof. Dr.H. M.Ide Said D.M., M.Pd sebagai pembimbing I dan Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum. sebagai pembimbing II yang telah membimbing, mengarahkan dan memberi saran kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.

Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar beserta staf, yang telah memberikan bantuan dan kemudahan kepada penulis, baik pada waktu mengikuti perkuliahan, penelitian, maupun pada saat penulisan tesis. Ucapan terima kasih pula kepada seluruh dosen dan Ketua Prodi

(6)

vi

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada guru SMP Negeri 33 Makassar yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.

Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada suami saya M. Amin Umar S.Ag dan keluarga yang senantiasa setia membantu dan mendo’akan penulis agar dapat meraih kesuksesan.

Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat terhadap pengembangan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP.

Semoga bantuan yang penulis dapatkan dari berbagai pihak mendapat pahala dari Allah swt.

Makassar, Oktober 2014

Penulis,

(7)

vii

VIII SMP Negeri 33 Makassar. Tesis dibimbing oleh M. Ide Said D.M., sebagai Ketua dan Abd. Rahman Rahim sebagai Sekretaris.

Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui dan mendeskripsikan (1) Kebiasaan belajar mandiri siswa, gaya mengajar guru, dan keterampilan menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar; (2) Pengaruh kebiasaan belajar mandiri siswa dan gaya mengajar guru terhadap hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar.

Penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat ekspost facto.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa VIII SMP Negeri 33 Makassar.

Sampel penelitian ini berjumlah 34 orang yang diambil dari satu kelas secara random, yakni kelas VIII-IT1. Teknik pengumpulan data yang dilakukan guna memperoleh data yang sesuai dengan variabel penelitian adalah angket dan tes. Pengelolaan data pada penelitian ini didasarkan pada pendekatan deskriptif dan inferensial model regresi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kebiasaan belajar mandiri siswa dalam belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar dikategorikan tinggi. Artinya, siswa yang sering belajar mandiri sesuai dengan kondisi tanpa ada unsur instruktif dari guru dan orang tuanya. (2) Gaya mengajar guru dalam menulis cerpen dikategorikan baik. Artinya, guru menerapkan berbagai model dan variasi mengajar saat pembelajaran yang dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. (3) Hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar dikategorikan tinggi dengan nilai rata-rata 73,35.

Hal ini tergambar berdasarkan perolehan nilai setiap siswa yang rata-rata berkategori tinggi. Demikian halnya dengan ketuntasan yang rata-rata telah mencapai KKM yaitu 79,41 % atau 27 siswa mendapat nilai 70 ke atas. (4) Kebiasaan belajar mandiri dan gaya mengajar guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan siswa menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar. Pengaruh kebiasaan belajar mandiri (X1) dan gaya mengajar guru (X2) terhadap keterampilan menulis cerpen (Y) sebesar R2square = 0,137 atau 13,7%. Sisanya 86,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diuraikan dalam penelitian ini. Hal ini tergambar berdasarkan hasil penelitian bahwa semakin intens siswa dalam belajar mandiri, maka semakin tinggi keterampilannya dalam menulis cerpen. Demikian halnya dengan semakin baik dan bervariasinya gaya mengajar guru, maka semakin tinggi pula keterampilan siswa dalam menulis cerpen.

(8)

viii

Teachers Teaching Style to Learning Outcomes of Short Story Writing in Class VIII Junior High School 33 Makassar, (Guided by M. Ide Said D.M.

and Abd. Rahman Rahim.)

The purpose of this study is to know and describe (1) students’ self- learning habits, teachers teaching style, and the students’ skill to write short stories in class VIII at Junior High Scholl 33 Makassar. (2) The effect of students’ self-learning habits and teachers’ teaching styles to the learning outcomes on writing short stories in class VIII Junior High School 33 Makassar.

This study was a survey research using expost facto. The study population was the entire eighth grade students of SMP Negeri 33 Makassar. The study sample totaled 34 people taken at random from the population. Data collection techniques were performed in order to obtain data relevant to the research variables are test and questionnaire.

Management of data in this study are based on the approach of descriptive statistics and inferential regression models.

The research findings indicate that (1) self-learning habits of students in learning to write short stories in class VIII Junior High School 33 Makassar categorized as high. This means that students often intense or independent learning in school, at home, or elsewhere in accordance with the conditions without any instructive influence from teachers and from their parents. (2) the teacher’s teaching style in writing short stories in class VIII Junior High School 33 Makassar categorized as good. It meant that teachers used a variety of models and teaching variations in learning process to create learning fun for students. (3) the results of learning to write short stories in class VIII Junior High School 33 Makassar categorized as high with an average value of 73.35. This is illustrated by the acquisition value of each student on average higher category.

Likewise with the thoroughness, the averege completeness reach KKM is 79.41% or 27 students scored 70 and above. (4) the habit of self-learning and teacher’s teaching style had a significant positive effect on students’

writing skills on short stories in class VIII Junior High School 33 Makassar.

This is illustrated by the findings that the more intense the students in self-learning skills in writing short stories the higher the achievement they will get. So it is with the good and varied teaching styles of the teacher, the higher the student’s skills in writing short stories.

(9)

ix

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

A. Kajian Teoretis ... 12

1. Belajar Mandiri ... 12

2. Gaya Mengajar Guru ... 24

3. Hakikat Belajar Bahasa Indonesia ... 34

4. Cerita Pendek ... 51

B. Kerangka Pikir ... 69

C. Hipotesis Penelitian ... 72

(10)

x

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 75

C. Variabel dan Desain Penelitian ... 75

D. Definisi Operasional Variabel ... 76

E. Populasi dan Sampel ... 79

F. Teknik Pengumpulan Data ... 80

G. Teknik Analisis Data ... 84

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 86

A. Hasil Penelitian ... 86

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 109

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 117

DAFTAR PUSTAKA ... 119

LAMPIRAN ... 123

RIWAYAT HIDUP ... 166

(11)

xi

Gambar Teks Halaman

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir... 72 Gambar 2 Skema Pengaruh Variabel Bebas terhadap Variabel

Terikat ... 75

(12)

xii

Tabel Teks Halaman

Tabel 3.1 Populasi Penelitian... 80

Tabel 3.2 Aspek Penilaian dan Penskoran... 82

Tabel 3.3 Interpretasi Nilai r... 85

Tabel 4.1 Statistik Kebiasaan Belajar Mandiri... 87

Tabel 4.2 Klasifikasi Kebiasaan Belajar Mandiri... 88

Tabel 4.3 Statistik Gaya Mengajar Guru... 90

Tabel 4.4 Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Siswa dari Angket Model Mengajar dalam Menulis Cerpen di Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar... 91

Tabel 4.5 Aktivitas Siswa Pertemuan Pertama... 94

Tabel 4.6 Aktivitas Siswa Pertemuan Kedua... 95

Tabel 4.7 Perolehan Skor Aspek kesesuaian Tema dan Isi... 96

Tabel 4.8 Perolehan Skor Aspek Amanat... 97

Tabel 4.9 Perolehan Skor Aspek Latar atau Setting... 98

Tabel 4.10 Perolehan Skor Aspek Alur... 98

Tabel 4.11 Perolehan Skor Aspek Perwatakan... 99

Tabel 4.12 Perolehan Skor Aspek Gaya Bahasa... 100

Tabel 4.13 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang... 100

Tabel 4.14 Hasil tes Kemampuan Menulis Cerpen pada Semua Aspek ... 101

Tabel 4.15 Statistik Nilai Keterampilan Menulis Cerpen... 103

Tabel 4.16 Klasipikasi Ketuntasan Keterangan Menulis Cerpen.... 103

Tabel 4.17 Rata-rata Skor Variabel... 105

Tabel 4.18 Nilai Coefficients (a)... 105

Tabel 4.19 Model Summary (b)... 108

(13)

xiii

Lampiran Teks Halaman

1. Angket Penelitian ... 124

2. Instrumen Gaya Mengajar Guru ... 128

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 133

4. Skor Kebiasaan Belajar Mandiri ... 139

5. Data Model Mengajar Guru ... 141

6. Hasil Tes Menulis Cerpen (Y) ... 143

7. Analisis Statistik Kebiasaan Belajar Mandiri ... 144

8. Analisis Statistik Model Mengajar Guru ... 147

9. Analisis Statistik Keterampilan Menulis Cerpen ... 149

10. Analisis Correlations ... 151

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran sastra dianggap belum berhasil menumbuhkan minat siswa terhadap karya sastra. Pembelajaran sastra lebih mengutamakan pengetahuan tentang sastra dan kurang sekali memperkenalkan karya sastra itu sendiri. Pengajaran sastra selama ini lebih bersifat verbalistis dengan jalan menyodorkan sejarah kesusastraan, bentuk-bentuk sastra, dan unsur-unsur sastra secara terpisah. Jika karya sastra itu dibicarakan, maka hanya sebatas pada ringkasan cerita yang bersifat hafalan kering dan membosankan sehingga jauh dari harapan yang dapat menumbuhkan minat, apalagi daya imajinasi siswa. Pembelajaran sastra selama ini kurang memberikan peluang kepada siswa untuk memperkaya pengalaman batin mereka.

Berdasarkan berbagai permasalahan sastra yang dihadapi sekolah, pemerintah, dan para guru melakukan berbagai perbaikan dan pembenahan dalam pembelajaran sastra. Salah satu upaya untuk mencari solusi terhadap masalah pembelajaran sastra tersebut adalah dengan melakukan penelitian terhadap berbagai kompetensi yang berkaitan dengan pembelajaran sastra di Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu

1

(15)

kompetensi yang menjadi permasalahan dalam pembelajaran sastra yaitu kompetensi keterampilan menulis.

Adapun target pencapaian kompetensi keterampilan menulis tertuang dalam standar kompetensi menulis siswa kelas VIII SMP pada KTSP. Dalam hal ini, pencapaian yang dimaksud adalah siswa diharapkan mampu mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain dalam cerpen.

Kegiatan menulis sastra merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan bersastra paling akhir dikuasai siswa setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Dibandingkan denganketiga kemampuan bersastra yang lain, kemampuan menulis sastra lebih sulit dikuasai. Hal ini disebabkan oleh kemampuan menulis menggunakan berbagai unsur kebahasaan yang akan menjadikan isi tulisan itu baik, baik unsur bahasa maupun unsur isi haruslah terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan yang runtut dan padu.

Kegiatan menulis merupakan beban berat. Anggapan ini timbul karena menulis membutuhkan banyak tenaga, waktu, serta perhatian sungguh- sungguh yang menuntut keterampilan dan daya imajinasi (Akhadiah dkk., 2006: 2). Demikian halnya dengan kondisi pengajaran menulis di sekolah yang diakibatkan lemahnya tradisi menulis dikalangan siswa.

Berdasarkan pendapat di atas, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis belum mencapai tujuan yang diinginkan.

Observasi awal yang dilakukan pada SMP terteliti, pembelajaran menulis

(16)

pada umumnya dan menulis cerpen khususnya lebih menekankan pada pembelajaran secara individual, tanpa menggunakan teknik tertentu.

Pembelajaran menulis khususnya menulis pengalaman dalam bentuk cerpen yang dimaksud adalah suatu karangan yang bersifat naratif yang melukiskan suatu peristiwa yang menyangkut persoalan jiwa dan kehidupan penulis ataupun orang lain.

Menulis pengalaman dalam bentuk cerpen identik menulis narasi pribadi. Menulis pengalaman ialah menulis peristiwa yang pernah dialami dan narasi pribadi yaitu, menulis peristiwa dan kehidupan penulis itu sendiri.

Kesamaan antara menulis pengalaman dengan menulis pribadi, yaitu menulis peristiwa yang pernah dialami dalam hidupnya.

Untuk menuangkan pengalaman ke dalam tulisan yang berbentuk cerpen diperlukan kegiatan berpikir. Menulis merupakan kegiatan untuk mengungkapkan pikiran berbagai pengalaman dengan orang lain juga memerlukan penalaran, sebagaimana halnya dengan kegiatan menulis.

Namun, berbeda dengan jenis menulis lainnya, menulis pengalaman isinya langsung mengungkapkan sesuatu yang telah dialami siswa, tidak seperti menulis karangan bebas.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis selalu diawali oleh guru dengan memberikan ceramah dan siswa mendengarkannya. Kemudian, guru memberikan tugas kepada siswa membuat tulisan yang dikehendaki. Hasil tulisan siswa digunakan sebagai

(17)

satu-satunya bahan yang dijadikan dasar dalam pemberian nilai. Penilaian berfokus pada penilaian produk. Kegiatan siswa dengan menggunakan teknik sebelum melakukan kegiatan menulis kurang mendapat perhatian.

Selain itu, berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada SMP yang terteliti, pembelajaran yang dilakukan kurang variatif. Siswa hanya diberikan tema karangan atau tulisan dan diminta untuk menyusun karangan berdasarkan tema tersebut. Hal ini akan menyebabkan siswa kesulitan bahkan tidak mampu untuk memulai tulisan. Selain itu, tentu akan membuat siswa tidak begitu memahami cara menulis yang baik. Akibatnya, kemampuan menulis siswa tidak dapat mencapai sasaran seperti yang diharapkan sehingga kemampuan menulis siswa masih rendah.

Dalam kaitannya dengan peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia aspek menulis cerpen, perlu dipahami bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yaitu minat siswa untuk belajar mandiri dan faktor eksternal yaitu gaya mengajar guru.

Pada aspek belajar mandiri diperlukan kesadaran yang tinggi bagi siswa untuk belajar mandiri sebagai bentuk pengaruh terhadap hasil belajarnya. Belajar mandiri adalah belajar secara otonomis yang dilakukan atas inisiatif sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Panen dan Sekarwinahyu (1997: 356) bahwa belajar mandiri merupakan sebuah usaha individu siswa yang bersifat otonomis untuk mencapai kompetensi akademis.

(18)

Jika hal ini dilakukan, maka akan berdampak positif terhadap hasil belajar dan pencapaian kompetensi akademis siswa. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa belajar mandiri dengan baik yang dilakukan oleh siswa kapan dan di mana saja, akan menghasilkan tujuan belajar yang maksimal.

Kebiasaan belajar mandiri siswa dalam menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar dinilai masih rendah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jarang siswa yang memiliki inisiatif sendiri untuk belajar menulis cerpen. Siswa lebih cenderung atau bergantung pada guru untuk selalu dianjurkan, dibimbing, dan diarahkan untuk belajar menulis cerpen.

Pada kondisi lain, siswa justru memilih untuk bermain, bersantai, dan melakukan aktivitas lain di dalam dan di luar kelas jika guru tidak masuk mengajar.

Pada aspek gaya mengajar guru, dapat dimulai dari: (1) membuat perencanaan pembelajaran, (2) membangun kerjasama dalam pembelajaran, (3) pemberian motivasi belajar siswa, (4) menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, (5) meningkatkan disiplin siswa, memotivasi siswa agar terbiasa belajar mandiri, dan (6) evaluasi proses belajar mengajar. Strategi dimaksud tentunya dibangun setelah terlebih dahulu mengetahui karakteristik dan kebiasaan siswa itu sendiri dalam belajar. Di samping upaya yang dilakukan oleh guru secara langsung, faktor internal maupun faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa juga perlu dipahami oleh siswa.

(19)

Pada aspek gaya mengajar, guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran harus mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif, sehingga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Sebagai pembimbing proses belajar mengajar, guru harus mampu memantau proses belajar siswa agar terjadi proses belajar (proses intern) setiap individu. Guru sebagai evaluator keberhasilan belajar siswa di sekolah, harus mampu mengevaluasi proses dan hasil belajar guna mengambil keputusan yang objektif, akurat dan kredibel serta mampu memperbaiki proses dan hasil belajar mengajarnya.

Usman (2002: 22) mengemukakan bahwa “Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah penguasaan perumusan perencanaan pembelajaran, penguasaan pelaksanaan program pembelajaran, meliputi: penguasaan materi pembelajaran, penguasaan strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, penguasaan kurikulum, penguasaan bimbingan dan penyuluhan serta penguasaan evaluasi pembelajaran.

Aspek gaya mengajar guru menjadi salah satu masalah dalam pembelajaran menulis cerpen. Gaya dan variasi mengajar guru belum menarik minat dan motivasi belajar siswa. Siswa cenderung acuh dan malas menulis cerpen. Model dan strategi mengajar yang diterapkan oleh guru untuk meningkatkan aktivitas belajar menulis cerpen belum inovatif dan kurang kreatif. Oleh karena itu, perlu optimalisasi gaya mengajar guru yang

(20)

variatif dan berbasis PAIKEM untuk menciptakan kelas yang menyenangkan bagi siswa. Kompetensi mengajar guru tersebut dapat bermanfaat bagi diri guru dalam melaksanakan tugasnya. Jadi, guru harus berupaya semaksimal mungkin dengan bekal kompetensi yang dimilikinya, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar sekaligus prestasi siswa.

Kedua aspek yang dikemukakan tersebut yakni kebiasaan belajar mandiri dan gaya mengajar guru diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen bagi siswa. Sebab, perolehan nilai rata-rata pada mata pelajaran bahasa Indonesia aspek menulis cerpen tahun pelajaran 2012/2013, yaitu 68,5. Adapun standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 75. Namun, masih ada siswa yang selalu mendapat nilai di bawah KKM sehingga harus melalui program remedial untuk mencapai taraf ketuntasan belajar bahasa Indonesia. Deskripsi hasil belajar ini tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang berpengaruh adalah motivasi diri dan faktor guru. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung dengan guru sebelum judul ini ditetapkan bahwa hasil belajar bahasa Indonesia aspek menulis cerpen siswa yang tinggi itu rata-rata dipengaruhi oleh inteligensi dan motivasinya, sedangkan siswa yang hasil belajarnya rendah dipengaruhi oleh minat dan motivasi belajarnya yang memang masih kurang. Adapun gaya mengajar guru dalam hubungannya dengan hasil belajar menulis cerpen siswa, khususnya di kelas VIII masih banyak yang sering remedial atau belum mencapai KKM sehingga perlu dikaji dan diteliti.

(21)

Beberapa penelitian sebelumnya yang relevan di antaranya, Mustika (2012) dengan judul “Pengaruh Pelatihan dan Manajemen/ Gaya Pembelajaran Guru terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Peserta Didik di SMA Negeri 5 Makassar”; Karmila (2013) dengan judul

“Pengaruh Model Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Libureng Kabupaten Bone”. Herawati (2013) dengan judul “Hubungan Kebiasaan Belajar Mandiri dengan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS Siswa SMP Negeri 1 Libureng Kabupaten Bone”. Selanjutnya, Fitryana (2011) dengan judul penelitian “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Media Berita dengan Metode Latihan Terbimbing pada Siswa Kelas X.3 SMA Negeri 1 Rembang Purbalingga”.

Terakhir, Nadhirah (2013) dengan judul “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Penggunaan Media Berita Human Interest Siswa Kelas X.A MAN 1 Makassar”. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan menulis cerpen meningkat jika didukung oleh gaya mengajar guru dengan berbagai model dan media yang diterapkan yang dapat menarik minat belajar siswa. Demikian halnya dengan kebiasaan belajar mandiri yang sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar.

Uraian tersebut melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian untuk mengkaji dan membuktikan lebih empiris dan ilmiah tentang pengaruh kebiasaan belajar mandiri dan gaya mengajar guru terhadap hasil belajar menulis cerpen. Hal ini dilakukan sebab belum ada data hasil penelitian

(22)

sebelumnya yang mengkaji tentang pengaruh kebiasaan belajar mandiri dan gaya mengajar guru terhadap hasil belajar menulis cerpen. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Pengaruh Kebiasaan Belajar Mandiri Siswa dan Gaya Mengajar Guru terhadap Hasil Belajar Menulis Cerpen di Kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar”.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu

1. Bagaimanakah gambaran kebiasaan belajar mandiri siswa dalam belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar?

2. Bagaimanakah gambaran gaya mengajar guru dalam pembelajaran menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar?

3. Bagaimanakah gambaran hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar?

4. Adakah pengaruh kebiasaan belajar mandiri siswa dan gaya mengajar guru terhadap hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan:

(23)

1. gambaran kebiasaan belajar mandiri siswa dalam belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar;

2. gambaran gaya mengajar guru dalam menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar;

3. gambaran hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar

4. pengaruh kebiasaan belajar mandiri siswa dan gaya mengajar guru terhadap hasil belajar menulis cerpen di kelas VIII SMP Negeri 33 Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa:

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan teori bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan menulis cerpen dalam pembelajaran menulis dan dapat dijadikan acuan pada penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Selain itu, menambah referensi dan teori tentang kebiasaan belajar mandiri dan gaya mengajar guru dalam hubungannya dengan minat belajar bahasa Indonesia.

(24)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat memotivasi siswa tentang belajar mandiri dalam belajar menulis cerpen, sehingga belajar terasa lebih menyenangkan dalam bingkai peningkatan keaktifan dan kreativitas belajar bahasa Indonesia.

b. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru tentang gaya dan model pembelajaran yang bervariasi sehingga pembelajaran menulis cerpen di kelas dapat ditingkatkan.

c. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peningkatan mutu dan efektifitas pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

d. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan sebagai acuan/

pedoman dalam melakukan penelitian, khususnya yang terkait dengan pengembangan kemampuan menulis cerpen.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis

1. Belajar Mandiri

a. Konsep Belajar Mandiri

Belajar mandiri menurut Rusman (2010: 353) adalah “mempunyai kebebasan untuk tanpa harus menghadiri proses pembelajaran yang diberikan guru di kelas.” Menurut Silberman (2009: 194) bahwa belajar mandiri merupakan “belajar dengan caranya sendiri dalam mengembangkan kemampuan, bekerja dengan cara mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab pribadi atas apa yang telah dipelajari.” Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Kesalahpengertian tersebut terjadi karena pada umumnya istilah ini dikaitkan dengan sistem belajar mahasiswa di Universitas Terbuka (UT) yang cenderung belajar sendiri tanpa tutor atau teman kuliah.

Belajar mandiri berarti belajar secara berinisiatif, dengan ataupun tanpa bantuan orang lain, dalam belajar. Sebagai siswa/mahasiswa yang mandiri, Anda tidak harus mengetahui semua hal. Anda juga tidak diharapkan menjadi siswa jenius yang tidak membutuhkan bantuan orang lain. Salah satu prinsip belajar mandiri adalah siswa mampu mengetahui kapan Anda

12

(26)

membutuhkan bantuan atau dukungan pihak lain. Pengertian tersebut termasuk mengetahui kapan Anda perlu bertemu dengan siswa lain, kelompok belajar, pengurus administrasi, guru/tutor, atau bahkan tetangga yang belajar di sekolah yang lain (Djamarah, 2002: 40).

Bantuan/dukungan dapat berupa kegiatan saling memotivasi untuk belajar, misalnya, mengobrol dengan tetangga yang belajar di sekolah yang lain, seringkali dapat memotivasi diri kita untuk giat belajar.

Bantuan/dukungan dapat juga berarti kamus, buku literatur pendukung, kasus dari surat kabar, berita dari radio atau televisi, perpustakaan, informasi tentang jadwal tutorial, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan orang.

Yang terpenting adalah Anda mampu mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Identifikasi sumber informasi ini dibutuhkan untuk memperlancar proses belajar pada saat dibutuhkannya bantuan atau dukungan.

Belajar mandiri memposisikan siswa sebagai subyek, pemegang kendali, pengambil keputusan atau pengambil inisiatif atas belajarnya sendiri.

Dengan demikian, kemampuan dalam mengendalikan atau mengarahkan belajarnya sendiri merupakan syarat utama bagi siswa. Kemampuan ini juga merupakan faktor penting untuk diperhatikan dan dibangun oleh penyelenggara program atau guru.

Kemampuan mengendalikan atau mengarahkan belajar sendiri seseorang pada dasarnya merupakan suatu kontinum. Grow (dalam Ahmad dan Prasetia,2005: 19) mengklasifikasikan kontinum tersebut ke dalam empat

(27)

tahap yaitu: “1) siswa yang tergantung (dependent learner), 2) siswa yang tertarik (interested learner), 3) siswa yang terlibat (involved learner), dan 4) siswa mandiri (independent learner).”

Siswa mandiri bukan berarti penyendiri, tapi ia telah mampu berkolaborasi dengan orang lain baik dalam klub ataupun kelompok belajar informal. Dalam hal ini, guru berperan sebagai konsultan untuk terus memberikan delegasi atau memberdayakan kemampuan belajarnya. Dengan demikian, dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri, kecakapan dan kesiapan dalam belajar secara mandiri merupakan syarat utama.

Berdasarkan tahapan belajar mandiri model Grow, siswa yang masih memungkinkan untuk dapat mengikuti sistem belajar mandiri adalah siswa pada tahap 3 (involved learners) dan 4 (self-directed learners). Karakteristik siswa ini hendaknya menjadi pertimbangan penting bagi penyelenggara pendidikan, terutama guru.

Kemandirian belajar adalah belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara. Kemandirian belajar merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya.

Kemandirian belajar dideskripsikan sebagai berikut:

1) Siswa berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan.

(28)

2) Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.

3) Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.

4) Pembelajaran mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.

5) Siswa yang belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan kegiatan korespondensi.

6) Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan seperti berdialog dengan siswa, mencari sumber, mengevaluasi hasil dan mengembangkan berfikir kritis.

7) Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka.

Kemandirian belajar adalah kondisi aktifitas belajar yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, memiliki kemauan serta bertanggung jawab sendiri dalam menyelesaikan masalah belajarnya. Kemandirian belajar akan terwujud apabila siswa aktif mengontrol sendiri segala sesuatu yang dikerjakan, mengevaluasi dan selanjutnya merencanakan sesuatu yang lebih dalam pembelajaran yang dilalui dan siswa juga mau aktif dalam proses pembelajaran.

(29)

Anak yang mempunyai kemandirian belajar dapat dilihat dari kegiatan belajarnya, dia tidak perlu disuruh bila belajar dan kegiatan belajar dilaksanakan atas inisiatif dirinya sendiri. Untuk mengetahui apakah siswa itu mempunyai kemandirian belajar maka perlu diketahui ciri-ciri kemandirian belajar. Ciri-ciri kemandirian belajar sebagai berikut:

1) Siswa merencanakan dan memilih kegiatan belajar sendiri

2) Siswa berinisiatif dan memacu diri untuk belajar secara terus menerus

3) Siswa dituntut bertanggung jawab dalam belajar

4) Siswa belajar secara kritis, logis, dan penuh keterbukaan 5) Siswa belajar dengan penuh percaya diri

6) Adanya kecenderungan untuk berpendapat, berperilaku dan bertindak atas kehendaknya sendiri

7) Memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan

8) Membuat perencanaan dan berusaha dengan ulet dan tekun untuk mewujudkan harapan

9) Mampu untuk berpikir dan bertindak secara kreatif, penuh inisiatif dan tidak sekedar meniru

10) Memiliki kecenderungan untuk mencapai kemajuan, yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar

11) Mampu menemukan sendiri tentang sesuatu yang harus dilakukan tanpa mengharapkan bimbingan dan tanpa pengarahan orang lain.

(30)

Kesimpulan dari uraian diatas, bahwa belajar mandiri adalah sikap mengarah pada kesadaran belajar sendiri dan segala keputusan, pertimbangan yang berhubungan dengan kegiatan belajar diusahakan sendiri sehingga bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajar tersebut.

b. Perkembangan Sistem Belajar Mandiri Berbasis E-Learning

Pembelajaran dewasa ini menghadapi 2 tantangan. Tantangan yang pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua datang dari adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang luar biasa.

Konstruktivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses konstruktif dimana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi, korespondensi, representasi, dan elaborasi.

Sementara itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi self-guided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction. Lebih dari itu, teknologi ini ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbaharui konsepsi pembelajaran yang semula fokus pada pembelajaran sebagai semata-mata suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu

(31)

bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan. Pembaruan teori belajar melalui notion konstruktivisme dan pergeseran-pergeseran yang terjadi karena adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan dua hal yang sangat sejalan dan saling memperkuat. Konstruktivisme dan teknologi komputer, secara terpisah maupun bersama-sama telah menawarkan peluang-peluang baru dalam proses pembelajaran, baik di ruang kelas, belajar jarak jauh maupun belajar mandiri.

Menurut Prakoso (dalam Gordon dan Vos, 2003: 21), bahwa

“perangkat berbasis teknologi yang diharapkan dapat mengembangkan lingkungan belajar yang lebih produktif adalah video discs, multimedia/hypermedia, e-mail, dan internet, disamping perangkat lunak Computer Assisted Instruction/Intelligent Computer Assisted Instruction yang tersedia dalam bentuk CD ROM. E-learning merupakan suatu teknologi informasi yang realtif baru di Indonesia.”

E-learning terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘elektronic’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Dengan demikian maka e- learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksananya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer.

(32)

Dalam perkembanganya, komputer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran, karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) atau computer assisted learning (CAL). Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya untuk pembelajaran, maka komputer menjadi popular di kalangan siswa. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai variasi teknik mengajar bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut. Maka setelah itu teknologi pembelajaran terus berkembang dan dikelompokan menjadi dua yaitu: 1) Technology-based learning, dan 2) Technology-based Web-learning. Technology based-learning ini pada prinsipnya terdiri dari dua, yaitu audio information technologies (audio tape, radio, voice mail, telepone) dan video information technologies (video tape, nideo text, video messaging).

Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah data information tecbnologies (bulletin board, internet, email, tele-collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh, yang dimaksudkan agar komunikasi antara siswa dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini. Sedangkan interaksi antara guru dan siswa bisa dilaksanakan melalui cara langsung (synchronous) atau tidak langsung, misalnya pesan direkam dahulu sebelum digunakan. Cara ini dikenal dengan nama e-synchronous.

(33)

c. Kiat Belajar Mandiri

Kiat belajar mandiri yang baik adalah belajar secara otonomis berdasarkan tempat yang bebas, waktu yang tak terbatas, intensitas yang tidak mengikat aturan, memiliki sumber belajar yang bebas dan luas, tetapi sesuai dengan tujuan akademis, cara belajar yang fleksibel, serta fasilitas yang bebas. Hal ini sejalan pendapat Djamarah (2002: 40) menyebutkan kiat belajar mandiri sebagai berikut:

1) Mempunyai Fasilitas dan Perabot Belajar

Fasilitas dan perabot belajar yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan masalah materil berupa kertas, pensil, buku catatan, meja dan kursi belajar, mesin ketik (untuk mahasiswa), kertas karbon, dan sebagainya.

Semua fasilitas dan perabot belajar di atas sangat membantu pelajar atau mahasiswa dalam belajar. Paling tidak akan memperkecil kesulitan belajar.

Cukup banyak pelajar atau mahasiswa yang bingung memilih tempat untuk belajar, disebabkan tidak ada meja dan kursi untuk belajar.

2) Mengatur Waktu Belajar

a) Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan-keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olahraga, dan lain- lain.

b) Menyelidiki dan menentukan waktu yang tersedia setiap hari.

c) Merencanakan penggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis- jenis mata pelajarannya dan urutanyang seharusnya dipelajari.

(34)

d) Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar dengan hasil terbaik. Sesudah waktu itu diketahui, kemudian dipergunakan untuk mempelajari pelajaran yang dianggap sulit.

Pelajaran yang dianggap mudah dipelajari pada jam pelajaran yang lain.

e) Berhematlah dengan waktu, setiap siswa/mahasiswa janganlah ragu- ragu untuk memulai pekerjaan, termasuk belajar.

3) Mengulangi Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran yang baru saja diterima dan guru biasanva tidak hanya satu cara, tetapi bermacam-macam. Ketika mengulanginya hanya tertuju pada satu cara adalah suatu sikap yang kurang bijaksana. Yang baik adalah mengulangi semua bahan, sehingga semuanya dapat dikuasai dengan baik. Dengan begitu, maka ketika akan menerirna bahan/pokok bahasan baru, dapat dijadikan sebagai bahan apersepsi (bahan penolong untuk memahami bahan yang baru).

Belajar dengan cara mengulangi bahan yang baru diserap bisa dibantu dengan membandingkannya dengan buku paket bagi pelajar dan literatur wajib atau penunjang bagi mahasiswa. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan tingkat pemahaman. Biasanya penjelasan guru yang belum jelas akan menjadi jelas dengan bantuan buku/literatur yang berhubungan dengan pokok masalah yang diulangi dalam belajar sendiri.

(35)

Mengulangi bahan pelajaran bisa dilakukan pada malam hari, pagi hari, atau sore hari. Pada malam hari, waktu yang baik adalah selesai shalat magrib atau sekitar pukul 19.10 hingga pukul 22.00. Pada pagi hari, waktu yang disarankan adalah sekitar 04.30 hingga 06.00. Pada sore hari, waktu yang baik adalah sekitar pukul 16.10 sampai 18.00.

4) Memahami dan Mengkaji Ulang Bahan Pelajaran

Dalam belajar, memahami dan mengkaji ulang bahan pelajaran merupakan salah satu kegiatan dalam rangka penguasaan bahan. Bahan pelajaran yang harus dikuasai tidak hanya dengan cara mengambil intisarinya (pokok pikirannya), tetapi ada juga bahan pelajaran yang harus dikuasai dengan cara memahami dan mengkaji ulang. Semua rumus, dalil, konsep, dan kaidah tertentu tidak bisa diambil intisarinya, tetapi harus dikuasai apa adanya (secara harfiah).

Dalam memahami dan mengkaji ulang, proses mengingat memegang peranan penting. Orang akan sukar memahami dan mengkaji ulang bahan pelajaran bila daya ingatnya sangat rendah. Oleh karena itu, daya ingat yang kuat sangat mendukung ketahanan pemahaman dan pengkajian seseorang.

Kemampuan mengingat tak mungkin ditingkatkan dengan latihan memahami dan mengkaji ulang sebanyak-banyaknya. Tetapi dengan mempelajari cara mengingat yang lebih baik, orang akan lebih mudah

(36)

mengingat bahari yang lebih luas. Beberapa cara yang sangat berguna adalah sebagai berikut.

a) Menguji diri secara aktif atau mengulang dengan kata-kata sendiri.

b) Mengadakan penggolongan dan menggunakan irama (di sekolah dasar, pelajaran sering diajarkan dengan semacam lagu).

c) Memperhatikan arti dan mengadakan asosiasi (menghubung- hubungkan bahan pelajaran yang dihafal dengan bahan lainnya yang berhubungan sebanyak mungkin).

d) Memusatkan perhatian dan jangan terlelap (niat sungguh untuk belajar).

5) Membaca Buku

Masalah membaca merupakan keharusan bagi pelajar memang tidak diragukan lagi, tetapi persoalan bagaimana cara membaca yang baik dan efisien merupakan masalah bagi pelajar atau mahasiswa. Cukup banyak pelajar atau mahasiswa yang mengeluh akibat cara membacanya kurang menghasilkan hasil belajar yang memuaskan, sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan kegiatan membaca. Banyak pelajar yang resah menghadapi ulangan atau tentamen, akibat bahan yang dikuasai sangat sedikit.

(37)

2. Gaya Mengajar Guru a. Pengertian Gaya Mengajar

Gaya atau model secara harfiah diartikan sebagai bentuk, strategi, taktik untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, baik melalui lembaga formal, nonformal, maupun informal agar terjadi perubahan tingkah laku pada siswa tersebut. Dengan demikian secara operasional, model pembelajaran diartikan sebagai bentuk, cara-cara, metode-metode atau taktik yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran menurut Uno (2008:1) model pembelajaran berkonotasi sebagai suatu patron atau pola yang dapat digunakan dalam pembelajaran, isinya tentu tidak lepas dari berbagai teori yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran, khususnya berbagai teori yang berkenaan dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, tekhnik pembelajaran.

Model mengajar guru yang dimaksud adalah strategi, metode, dan teknik serta cara guru dalam mengajarkan materi pembelajaran bahasa Indonesia. Menurut Rusman (2010: 1) bahwa ”model-model mengajar guru disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori sebagai pijakan dalam pengembangannya.”

Menurut (Uno, 2008: 2) bahwa model pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran, tekhnik pembelajaran seringkali disamakan

(38)

artinya dengan metode pembelajaran, teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang ingin dicapai, sedangkan strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan dan dipilih oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan siswa menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Ketiga hal ini tidak dapat terpisahkan dalam proses pembelajaran.

Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Model sering digunakan dalam pengertian yang sangat umum, yaitu suatu teori.

Dalam pembelajaran, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman bagi siswa dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.

b. Jenis-jenis Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal bermacam-macam model mengajar, mulai dari yang tradisional sampai model mengajar modern yang digunakan akhir-akhir ini sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(39)

Dari model-model tersebut ada yang menekankan peranan utama guru dalam pelaksanaan penyajiannya, tetapi ada pula yang menekankan peranan media hasil teknologi modern seperti televisi, radio kaset, radio tape, head projector, film dan sebagainya, bahkan telah pula digunakan bantuan satelit. Ada model yang digunakan untuk jumlah siswa yang terbatas, tetapi ada pula yang cocok digunakan untuk sejumlah siswa yang tidak terbatas.

Ada model yang hanya digunakan di dalam kelas, dan ada pula yang digunakan di luar kelas, seperti di perpustakaan, laboratorium, museum, di alam terbuka, dan lain-lain.

Semua model pembelajaran yang ada adalah baik. Tinggal disesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana model tersebut dipergunakan.

Oleh sebab itu, para pengajar (guru) dituntut untuk dapat mempergunakan model pembelajaran yang tepat dan baik sesuai dengan situasi dan kondisi.

Satu hal yang harus diingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang disebut efektif atau kurang efektif atau model baik dan tidak baik jika berdiri sendiri. Itulah sebabnya dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal dalam suatu proses pembelajaran sangat dibutuhkan penerapan model pembelajaran bervariasi.

Menurut Suprijono (2011: 1) bahwa “model mengajar guru di kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan model pembelajaran kontekstual, model kooperatif, model berbasis masalah, model PAIKEM, dan lesson study”. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh

(40)

Trianto (2011: 15) bahwa “model mengajar guru antara lain menggunakan model langsung, model kooperatif, model berbasis masalah, model kontekstual, model diskusi, dan sebagainya”.

Model mengajar yang lebih modern dan terbaru pun dikemukakan oleh Pribadi (2011: 97), antara lain “model Dick dan Carey, modelAssure,model Jerold dan Kemp, model Addie, dan sebagainya”.

c. Peran Guru sebagai Model dan Gaya dalam Mengajar

Guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari secara otomatis memiliki peran yang sangat penting demi kelancaran proses belajar mengajar. Menurut Slameto (2005: 42) bahwa ”peran guru dalam proses belajar mengajar adalah (1) guru sebagai demonstrator, (2) guru sebagai pengelola kelas, (3) guru sebagai mediator dan fasilitator, dan (4) guru sebagai evaluator”. Menurut Djamarah (2002: 43) bahwa peranan guru adalah (1) korektor, (2) inspirator, (3) informatory, (4) organisator, (5) motivator, (6) inisiator, (7) fasilitator, (8) pembimbing, (9) demonstrator, (10) pengelola kelas, (11) mediator, (12) supervisor, dan (13) evaluator.

1) Korektor

Sebagai korektor harus membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan masyarakat. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik

(41)

masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural masyarakat di mana anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus guru singkirkan dari jiwa dan watak anak didik.

2) Inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, melainkan bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh anak didik.

3) Informator

Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan pada kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada anak didik. Informator yang

(42)

baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.

4) Organisator

Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru.Dalam bidang guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efesiensi dalam belajar pada anak didik.

5) Motivator

Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agarbergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif, tidak mustahil ada di antara anak didik yang malas belajar dan sebagainya. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik.

Penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.

(43)

6) Inisiator

Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide- ide kemajuan pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.

Kompetensi guru harus diperbaiki, keterampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia pendidikan, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu.

Bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.

7) Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan,suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia menyebabkan anak didik malas belajar.

8) Pembimbing

Peranan guru yang tidak kala pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik

(44)

menjadi manusia dewasa, susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.

Kekurangmampuan anak didik menyebabkan lebih banyak bergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan anak didik semakin berkurang. Jadi, bagaimana pun juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).

9) Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Apalagi anak didik yang memiliki itelegensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha membantu anak didik terhadap pelajaran yang sukar dipahami dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dengan anak didik. Tujuan pembelajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

10) Pengelola kelas

Guru sebagai pengelola kelas hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pembelajaran.

(45)

Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini akan berakibat mengganggu jalannya proses proses interaksi edukatif. Kelas yang terlalu padat dengan anak didik, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak tidak menguntungkan bagi terlaksananya interaksi edukatif yang optimal. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan umum dari pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik dan optimal.

11) Mediator

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif.

Keterampilan menggunakan semua media itu diharapkan dari guru yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan pengajaran.

12) Supervisor

Sebagai supervisor, guru hendaknya membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat melkukan perbaikan terhadap situasi belajar mengaja menjadi lebih baik. Untuk itu, kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau kedudukan yang ditempatinya,

(46)

melainkan juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang disupervisinya.

13) Evaluator

Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan aspek intrinsic dan ekstrinsic. Penilaian terhadap aspek intrinsic lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai. Berdasarkan hal ini, guru harus bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Penilaian terhadap kepribadian anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes. Anak didik yang berprestasi baik, belum tentu memiliki kepribadian yang baik.

Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan guru telah meningkat dari sebagai pengajar menjadi sebagai direktur pengarah belajar. Sebagai direktur belajar, tugas dan tanggung jawab menjadi lebih meningkat yang ke dalamnya termasuk fungsi-fungsi guru sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator belajar, dan sebagai pembimbing.

(47)

3. Hakikat Belajar Bahasa Indonesia a. Pengertian Belajar

Pribadi (2011: 5) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh sesorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai proses elaborasi dalam upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu.

Proses belajar pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi personal.

Belajar menurut Sahabuddin (2007: 80) adalah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Secara tradisional, belajar biasa diartikan sebagai kegiatan menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pandangan ini dianggap sangat sempit karena terlalu mementingkan pendidikan intelektual dan hanya berpusat pada mata pelajaran. Pendapat yang lebih modern menganggap belajar sebagai “a change in behaviour” atau perubahan tingkah laku. Sejalan dengan itu, Hudoyo (2003:1) mengemukakan bahwa pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terhadap bentuk dimodifikasi dan berkembang disebabkan karena belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan yang dapat mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku.

Belajar menurut Jahja (2011: 386) adalah “sebuah aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk menambah pengetahuan yang ada dalam

(48)

duania dengan suatu pengalaman yang sangat berarti dan memiliki makna yang tinggi.”

Menurut L. E. Cronbach (dalam Abdullah, 1995: 69) bahwa “belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman”. Pandangan ini pada intinya bahwa belajar berarti perubahan, dan perubahan tingkah laku terjadi karena pengalaman dan latihan. Apabila dicermati lebih jauh pendapat tersebut, maka belajar yang sebaiknya adalah proses mengalami, dan melibatkan panca indera bagi orang yang belajar atau mengalami tersebut.

Manusia dalam interaksi dengan lingkungannya, sering mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya.

Selanjutnya, Witherington (dalam Abdullah,1995: 70) mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola baru dari respon-respon yang menjadi suatu keterampilan, sikap, kebiasaan, kemampuan atau pemahaman”.

Budiningsih (2005: 20) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Belajar merupakan proses terjadinya perubahan pada individu, baik lahir maupun batin dan bersifat positif yaitu perubahan yang menuju ke arah perbaikan. Namun tidak semua perubahan yang terjadi disebabkan proses belajar, misalnya pada bayi yang semula tidak bisa memegang benda kemudian dapat memegang. Hal ini terjadi karena proses kematangan

(49)

(maturity). Perubahan yang terjadi secara singkat kemudian menghilang bukan merupakan hasil dari proses belajar, misalnya seseorang secara kebetulan dapat memperbaiki radio, tetapi bila harus mengerjakan sekali lagi, orang tersebut sudah tidak bisa melakukannya. Pada dasarnya orang itu belum belajar hal-hal yang bersangkutan, dan kecakapan memperbaiki radio belum dikuasainya.

Lebih lanjut Masrun dan Martaniah (2003: 13) mengatakan bahwa:

“Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri manusia baik lahir maupun batin, dan perubahan tersebut menuju ke arah perbaikan.

Perubahan belajar ditandai oleh perubahan perilaku yang relatif permanen dan disebabkan oleh pengalaman dan latihan”.

Senada dengan itu, Ahmadi (2005: 17) menyatakan bahwa “belajar adalah proses perubahan perilaku berbakat pengalaman dan pelatihan.

Belajar yaitu suatu bentuk atau perubahan dalam diri seseorang yang menyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman atau latihan.” Slameto (2005: 36) merumuskan belajar sebagai berikut

“belajar adalah suatu proses usaha individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Pendapat lain Sahabuddin (dalam Haling,2004: 2) menyatakan

“belajar ialah sebagai suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu

(50)

memecahkan masalah dan menyesuaiakan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.”

Pendapat tersebut sejalan dengan rumusan belajar yang dikemukakan oleh The (2004: 6) yaitu belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan pada dirinya berupa menambah dalam pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya sedikitnya banyak permanen.

Sementara Hilgar dan Bower (dalam The,2004:17) mendefinisikan belajar yaitu “learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing”. Pengertian belajar menurut Hilgar dan Bower diartikan sebagai suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasa hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.

Pada prinsipnya, beberapa pengertian belajar di atas adalah sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya saja berbeda cara atau usaha mencapainya. Pengertian terakhir menitikberatkan pengertian pada interaksi antara individu dengan lingkungan, karena di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. Adapun pengertian yang diberikan oleh William Burton (dalam Hamalik, 2005:37) tentang belajar yaitu “A good learnig situation consist of a rich and varied series of learning experiences

(51)

unified around a vigorous purpose, and carried on interaction wiyh a rich, varried and provocative environment”.

Selanjutnya The (2004:8) mengemukakan hal-hal pokok mengenai belajar yaitu:

1) Belajar adalah proses perubahan (dalam arti perubahan perilaku aktual maupun potensial) yang disadari, kontinyu, fungsional, positif dan aktif, bersifat temporer serta bertujuan atau terarah;

2) Perubahan itu berarti sesuatu yang baru, artinya proses yang menuju ke arah yang lebih baik dari sebelumnya (progress);

3) Perubahan itu terjadi karena usaha, pengalaman ataupun latihan. Pengalaman itu terbentuk dari interaksi individu yang belajar dengan lingkungannya;

4) Perubahan itu bersifat individual, permanen dalam diri orang yang belajar. Sifat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kebutuhan, motivasi maupun faktor lainnya.

Teori belajar telah banyak dikemukakan oleh ahli psikologi dan pendidikan seperti dikemukakan oleh Hamalik (2005: 34) yaitu:

1) Teori conditioning yang menitik beratkan pada timbulnya respon yang disebabkan oleh suatu stimulus tertentu melalui proses persinggungan.

(52)

2) Teori connectionism yang menekankan bahwa belajar adalah pembentukan ikatan atau hubungan antara stimulus- respon melalui proses pengulangan.

3) Teori medan (field theory) yang mengatakan bahwa keseluruhan bagian yang satu dengan yang lainnya erat hubungannya dan saling bergantung, termasuk dalam hal ini adalah teori Gelstalt.

4) Psikologi fenomenologis dan humanistis yang menitik beratkan pada kondisi dalam diri individu.

5) Teori stimulus-respon-relativistikyang mengatakan bahwa tingkah laku manusia merupakan moral behaviour dan keseluruhan perilaku terhadap stimulus dan terhadap hubungan dua arah antara manusia dan lingkungan.

Suryabrata (1995:41) membedakan teori belajar dalam dua golongan besar yaitu: (1) teori behaviouristik-elementaristik; dan (2) teori kognitif holistik. Thorndike (dalam Suryabrata, 1995: 17) mengemukakan bahwa belajar berlangsung melalui tiga macam hukum belajar yaitu: (1) low of redness yang menunjukkan kesiapan seseorang untuk bertindak; (2) low of exercise yang mengatakan bahwa meningkatnya kemungkinan untuk merespon sesuatu bila situasi itu telah dihadapinya dan diulang lagi; (3) low of effect yaitu teori yang mengatakan bahwa apabila koneksi yang dibuat dan

(53)

disertai oleh keadaan yang memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan bertambah.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku aktual maupun potensial yang relatif bersifat permanen dan dilakukan dengan sengaja, serta tingkah laku tersebut terjadi karena hasil pengalaman dan latihan-latihan yang dapat berupa pengetahuan, kecakapan, keterampilan, pemahaman, sikap dan kebiasaan. Belajar merupakan suatu proses yang memerlukan waktu tertentu. Jika dari suatu titik waktu ke titik waktu yang lain suatu organisme mengalami perubahan tingkah laku maka dapat dianggap suatu prose belajar itu telah terjadi.

b. Hasil Belajar

Sudjana (2006: 33) menyatakan bahwa hasil belajar adalah “hasil yang diperoleh sebagai program dan sasaran yang menjadi penilaian. Hasil belajar sebagai penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan instruksional.” Sastrapraja (2003: 12) mengemukakan bahwa

“hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai” (dilakukan atau dikerjakan).

Selanjutnya dalam kamus ilmiah populer (Qahar, 1994: 22) menyatakan hasil belajar diartikan “sebagai apa yang diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan usaha dan keuletan bekerja.”

Gambar

Gambar 1. Bagan  Kerangka Pikir
Gambar 2. Skema pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat   Keterangan:
Tabel 3.1 Populasi Penelitian  No.  Subjek Penelitian  Jumlah
Tabel  3.2  Aspek Penilaian dan Penskoran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata gain yang dinormalisasi <g> kemampuan memahami pada kelas eksperimen sebesar 0,70 dengan kategori tinggi sedangkan

Mari bersama sama kita belajar tentang, daya , arus, kw pada motor listrik yang sering kita jumpain dan kita sudah cukup familiar dengan dengan motor listrik tersebut antara lain

Learning and teaching issues Infrastructure, hardware and software Physical layout and navigation Content development and maintenance Academic, administrative &

Adapun alasan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang mengetahui bahwa perbuatan mengunduh melalui jaringan intranet dan internet terhadap karya cipta lagu dan

Saya bersedia untuk menanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak Unir.ersitas Sebelas \'Iaret, scgala bentuk tuntutan hukum yang timbrrl atas pelanggaran

Dari hasil penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa ada hubungan antara asupan zat gizi dengan kejadian PMS wanita usia ubur pada mahasiswi UNS, dimana variabel yang

[r]

dan perpustakaan, selagi menunggu pembangunan ini pihak sekolah berkreatif dengan membuat kliping bersama siswa.Ruang instalasi praktik terdapat 3 ruangan berada sebelah