• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PERTIMBANGAN BI MELAKUKAN PENANGANAN BANK

D. Pertimbangan Bank Indonesia Melakukan Penanganan

3. Bank Cantury Berdampak Sistemik

Sistemik diambil dari kata sistem. Kerusakan sistemik berarti kerusakan menyeluruh pada sistem yang ada. Diacu pada definisi Pasal 1 angka 4 Perppu JPSK, yang dimaksud berdampak sistemik adalah: “ Suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu bank, LKBB, dan/atau gejolak pasar keuangan yang apabila tidak diatasi dapat menyebabkan kegagalan sejumlah bank dan/atau LKBB lain sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional”. Lembaga Internasional seperti Bank for International Settlements (BIS) dan European Central Bank menekankan berdampak sistemik pada kekacauan yang menyeluruh, bersifat tiba-tiba, menghasilkan efek domino kekacauan finansial yang lebih besar.180

a. Karakteristik kejadian:

180

Indonesiarecovery.com, “Respon Pemerintah Indonesia dan KSSK terhadap Dampak Sistemik Bank Century”, http://indonesiarecovery.org/respon-pemerintah-indonesia-dan-kssk/dampak- sistemik.html, diakses terakhir 3 Maret 2011.

1. Bank mengalami kesulitan likuiditas sejak pertengahan bula Juli 2008 ditandai dengan telah terjadinya pelanggaran Giro Wajib Minimum (GWM) beberapa kali.

2. Bank Century gagal kliring pada tanggal 13 November 2008 karena faktor

teknis berupa keterlambatan penyetoran prefund.

3. Kondisi Bank Century telah memicu rumor yang menurunkan

kepercayaan masyarakat serta mengganggu kinerja bank-bank lainnya.

4. Walaupun gangguan/shock disektor keuangan /perbankan masih bersifat

sporadis, pada saar bersamaan terjadi 23 bank dan beberapa BPR yang kondisi likuiditasnya sangat rentan terhadap adanya isu-isu tersebut. Dikhawatirkan eskala si permasalahan menjadi lebih cepat dan berpotensi menjalar ke bank-bank lainnya.

b. Kondisi sistem keuangan dan sektor riil:

1. Dengan kondisi ekonomi dan keuangan global yang terus memburuk,

kondisi sistem keuangan domestik terus tertekan, ditandai oleh melemahnya JHSG dan cenderung menurunya harga SUN, terdapat potensi terjadinya capital flight ke luar negeri karena tidak adannya sistem penjaminan penuh (full guarantee) di Indonesia.

2. Kondisi neraca pembayaran terus tertekan, cadangan devisa menurun,

diikuti oleh meningkatnya country risk Indonesia dan terus melemahnya nilai tukar rupiah. Permintaan domestik masih relatif kuat, meskipun telah terdapat tanda-tanda mulai melemah dalam Q-III/2008 yang diharapkan dapat mengurangi impor. Namun peningkatan pembayaran utang luar negeri dalam Q-IV/2008 perlu diwasapadai, khususnya terhadap ketersediaan USD dan kestabilan nilai tukar. Selain itu pelemahan kegiatan ekonomi berpotensi meningkatkan kredit bermasalah.

3. Kondisi sektor swasta memburuk. Berbagai informasi menunjukkan

bahwa sektor swasta sedang mempertimbangkan berbagai penyesuaian dalam bentuk kenaikan upah buruh, peningkatan biaya produksi dan pemutusan hubungan kerja.

4. Respon dari pemerintah dan BI untuk menenangkan pasar telah dilakukan

antara lain dengan pelonggaran likuiditas, kenaikan batas atas penjaminan simpanan menjadi Rp.2 milyar, pemberian jaminan ketersediaan valas bagi perusahaan-perusahaan domestik, dan lain-lain. Namun langkah- langkah ini masih membutuhkan waktu sebelum diketahui efektivitasnya.

5. Seentara itu untuk menghadapi gejolak dan potensi krisis yang mungkin

timbul di sektor keuangan pemerintah telah mengeluarkan 3 (tiga) Perppu, yaitu tentang JPSK, revisi UU LPS, dana revisi terhadap UU BI.

c. Analisis peran Bank Century dalam perekonomian:

1. Peran Bank Century dalam perekonomian dapat dilihat dari sisi fungsnya

yaitu intermediasi/pemberian kredit, ukuran bank, dan keterkaitan dengan bank/lembaga keuangan lainnya. Penilaian BI pada bulan November 2008 menyatakan bahwa peran Bank Century dalam hal ini tidak signifikan;

2. Namun, dari sisi jumlah nasabah dan jaringan kantor cabang Bank Century memiliki jumlah nasabah yang cukup besar (65.000 nasabah) dan jaringan cukup luas di Indonesia (30 KC dan 35 KCP);

3. Dalam kondisi bukan krisis, jika Bank Century ditutup tidak akan

meningkatkan dampak sistemik bagi bank lain;

4. Namun, dalam kondisi krisis, yang saat itu cenderung rentan terhadap

berita-berita negatif, penutupan sebuah bank berpotensi meninmbulkan

contagion effect yakni potensi timbulnya ketakutan dari nasabah

penyimpanan dari bank-bank lainnya, terutama peer banks atau bank yang lebih kecil, sehingga nasabah tersebut segera memindahkan dananya ke bank yang lebih aman (flight to quality); dan

5. Dengan demikian, apabila Bank Century diputuskan ditutup, maka

penutupan dikhawatirkan akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap bank-bank, dan dampaknya bisa berpengaruh kepada stabilitas sistim perbankan dan sistim keuangan secara keseluruhan.

d. Analisis dampak penutupan Bank Century terhadap pasar keuangan:

1. Situasi pasar keuangan di paruh kedua terutama mendekati kahir 2008

sangat rentan dan mudah dipengaruhi oleh berita-berita negatif. Pasar modal mengalami penurunan harga saham terus-menerus, dan ini termasuk saham perbankan dan sektor industri keuangan lainnya, dan bahkan pasar modal sempat dua kali dihentikan sementara;

2. Kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia sangat

menurun;

3. Sementara itu Pasar Uang Antar Bank (PUAB) mengalami segmentasi

dimana bank yang biasa meminjamkan dana di PUAB mengurangi pasokannya ke pasar;

4. Pasang SUN mengalami penurunan harga terus-menerus yang berdampak

terhadap obligasi korporasi;

5. Credit Default Swap (CDS) Indonesia (yakni premi risiko Indonesia)

meningkat praktis sebagai cerminan peningkatan country risk. CDS Indonesia melonjak dari kisaran 350 bps menjadi lebih dari 1200 bps hanya dalam kurun waktu dalam satu bulan yakni pada bulan Oktober 2008. (sebagai perbandingan di bulan November 2009, CDS Indonesia yakni berada pada angka di bawah 200 bps); dan

6. Secara keseluruhan penanganan kegagalan bank yang tidak dilakukan

secara komprehensif akan memperburuk kinerja pasar keuangan yang dapat berakibat turunnya kepercayaan internasional.

e. Analisis sistim pembayaran:

1. Gejala segmentasi PUAB semakin meluas pada bulan November 2008.

Data selama seminggu terakhir sebelum tanggal 20 November 2008 menunjukkan bahwa transaksi PUAB dilakukan hanya antara sesama bank di kelompok masing-masing (kelompok bank besar, kelompok bank menengah, dan kecil). Apabila terjadi flight to quality atau capital outflow

yang mengakibatkan bank-bank menengah dan kecil mengalami kesulitan likuiditas yang tidak dapat diatasi dari PUAB, karena bank-bank yang besar yang biasa memasok dana di pasar uang sangat membatasi pasokannya;

2. Pemantauan menunjukkan terdapat 18 peer Bank Century yang berpotensi

mengalami kesulitan likuiditas apbila terjadi flight to quality:

3. Sementara apabila Bank Century ditutup, terdapat lima bank lainnya

berkarakteristik seperti Bank Century yang diduga juga akan mengalami kesulitan likuiditas, antara lain karena kelima bank tersebut juga menempatkan dana antar bank di Bank Century:

4. Jika kemudian muncul rumor atau berita negatif mengenai likuiditas 23

bank sebagaimana disebutkan di atas, hal ini akan dengan cepat memicu terjadinya kepanikan di kalangan masyarakat dan berpotensi untuk menimbulkan bank run. Dalam kondisi PUAB yang tersegmentasi, pembayaran antar bank melalui sistim pembayaran khususnya settlement kliring/RTGS bisa tidak terselesaikan (gridlock) dan hal ini sangat membahayakan stabilitas sistim perbankan; dan

5. Segmentasi PUAB sebenarnya dapat diatasi apabila terdapat penjaminan

penuh untuk transaksi antar bank (full blanket guarantee) sebagaimana diharapkan oleh pelaku industri perbankan pada tahun 2008.

Kesimpulan analisis dampak sistemik atas dasar kelima aspek di atas mulai dari huruf a sampai huruf e adalah keputusan Bank Century sebagai bank gagal yang ditengarai sistemik dilakukan dan dilandaskan hasil analisis dan pertimbangan (professional judgment) yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini mengingat analisis tersebut mempertimbangkan aspek-aspek makro ekonomi dan keuangan yang cermat, itikad baik, asas kemanfaatan publik, dan asas transparansi dalam proses pengambilan keputusannya.

Mengenai tudingan bahwa analisis dampak sistemik pada Bank Century yang dibuat secara tergesah-gesah adalah tidak benar, karena: Pertama, data kuantitatif maupun kualitatif serta hasil uji ketahanan sistim perbankan sebagaimana hasil analisis di atas, selalu dilaporkan dan disajikan dalam RDG BI secara reguler (baik

mingguan maupun bulanan) sehingga Dewan Gubernur memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup ketika mengambil kebijakan di bidang moneter dan perbankan. bahkan sejak tanggal 29 Oktober 2008 ketika Dewan Gubernur mengaktifkan Crisis Management Protocol sebagai tanda semakin berbahayanya situasi moneter dan perbankan, laporan, penyajian data, informasi mengenai kondisi moneter. Termasuk dalam hal ini informasi mengenai berita-berita negatif dan rumor mempengaruhi psikologi pasar atau kepercayaan masyarakat. Data dan informasi ini disajikan baik dalam rapat konsultasi dan rapat KSSK. Kedua, Dewan Gubernur memiliki data dan informasi yang cukup mengenai kondisi dan kerentanan sistim keuangan dan perbankan guna mengambil keputusan yang bertujuan untuk mencegah krisis dan memelihara stabilitas sistim keuangan.

E. Implikasi Penggunaan UU No.6 Tahun 2009 tentang BI dalam Kasus Bank