BAB IV : PERTIMBANGAN BI MELAKUKAN PENANGANAN BANK
D. Pertimbangan Bank Indonesia Melakukan Penanganan
1. Metode Analisis Bank Indonesia Terhadap Rasio-Rasio
Menurut mantan Gubernur BI, Budiono, ketika harus diambil keputusan terhadap kasus Bank Century, krisis ekonomi dunia sedang terjadi. Kondisi seperti itu
169
Ibid., hal. 21.
Tanggal 11 Februari 2009:
Membayar bunga FPJP periode 14 Nov 08–11 Feb 09 sebesar Rp 16,817 miliar. Membayar pokok FPJP sebesar Rp 689,394 miliar. Pembayaran menggunakan dana Repo SUN milik BC dari PMS - LPS
dapat mengakibatkan rumor apa pun sangat berpengaruh. Dengan demikian apabila diputuskan untuk membangkrutkan Bank Century akan menjadi sumber rumor negatif yang bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada otoritas moneter dan pemerintah. Pada gilirannya kondisi seperti itu, menyebabkan masuknya krisis keuangan ke Indonesia.170
Untuk lebih memahami mengapa rumor pada akhirnya dijadikan sebagai faktor-faktor dan argumentasi untuk menyelamatkan Bank Century, ada baiknya ditelaah analisis yang dilakukan BI. Prinsip BI menggunakan 5 (lima) aspek dalam menilai apakah suatu bank akan menjadi bank gagal berdampak sistematik. Kelima aspek tersebut adalah: Institusi Keuangan; Pasar Keuangan; Sistem Pembayaran; Sektor Riil; dan Psikologi Pasar.171
Berdasarkan kelima aspek tersebut, tiga memiliki dampak menengah dan tinggi (medium to high impact), yaitu pasar keuangan, sistem pembayaran dan psikologi pasar. Dua aspek lainnya (institusi keuangan dan sektor riil) memiliki dampak rendah sampai menengah (low to medium impact). Kemudian, dari ketiga aspek yang memiliki dampak sedang sampai tinggi tersebut semuanya mengarah pada berpotensinya rumor (istilah yang digunakan BI berita sentimen negatif) menyebar dan akan mengakibatkan krisis keuangan melalui bank run (bank di rush masyarakat). Dari aspek pasar keuangan, misalnya, disimpulkan penutupan Bank Century akan menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan, terutama dalam
170
Sawidji Widoatmodjo, Op. cit., hal. 9. 171
Sawidji Widoatmodjo., Mencari Kebenaran Objektif Dampak Sistemik Bank Century, Op.
kondisi pasar yang sangat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak kepercayaan terhadap pasar keuangan. Kemudian dari aspek sistem pembayaran disimpulkan bahwa apabila Bank Century ditutup, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya rush pada peer banks dan bank-bank yang lebih kecil, sehingga akan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. Terakhir dari aspek psikologi pasar disimpulkan, penutupan bank ini akan menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan terutama dalam kondisi pasar yang sangat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak kepercayaan terhadap pasar keuangan.172
Metode analisis BI dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik adalah sebagai berikut:
173
1. Bank Century diselamatkan pada tanggal 20 November 2008, karena faktor-faktor
sebagai berikut:
a. Kegagalan Bank Century terjadi ditengah-tengah situasi dan kondisi ekonomi dan sistem perbankan domestik yang genting karena terkena dampak krisis keuangan global. Kondisi ini mencapai puncaknya pada bulan November 2008 ketika tekanan pada pasar modal dan valas serta stabilitas nilai tukar semakin meningkat. Arus modal keluar Indonesia meningkat seperti tercermin pada menurun tajamnya kepemilikan asing di SBI, SUN, dan saham di pasar modal sehingga nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika mencapai lebih dari Rp.12.000,00 per USD. Selain itu sistem perbankan mengalami keketatan likuiditas yang diikuti dengan segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Situasi dan kondisi yang sangat genting ini menyebabkan risiko-risiko yang dihadapi perbankan meningkat drastis. Indeks Kestabilan Finansial naik tajam yang mencerminkan tingginya kemungkinan terjadi krisis keuangan di Indonesia.
b. Mencermati kegentingan situasi yang ada, maka jika Bank Century tidak
diselamatkan akan memberikan dampak berantai (contagion effect) yang 172
Bank Indonesia, www.bi.go.id, diakses tanggal 3 Maret 2011. Hasil analisis BI atas lima aspek yang digunakan sebagai metodologi menentukan suatu bank akan menjadi bank gagal berdampak sistemik, yang pada intinya rumor (istilah yang dipakai Boediono pada sidang PKABC) akan mampu melahirkan bank run, yang pada akhirnya digunakan sebagai argumentasi untuk menyelamatkan Bank Century.
173
dapat menciptakan instabilitas pada sistem keuangan dan perekonomian nasional mengingat kondisi perekonomian global saat itu.
c. Rapat KSSK pada tanggal 20 November 2008 akhhirnya memutuskan bahwa
Bank Century harus diselamatkan karena ditengarai sebagai bank gagal yang berpotensi sistemik.
2. Metode/alat ukur BI dalam menilai suatu bank ditengarai berdampak sistemik,
sebagai berikut:
a. Terdapat lima aspek yang digunakan BI untuk melakukan analisis terhadap
bank gagal yang ditengarai sistemik yaitu: Institusi keuangan; Pasar keuangan; Sistem pembayaran; Sektor riil; dan Psikologi pasar
b. Kerangka analisis dengan menggunakan lima aspek tersebut di atas telah
dapat diterima oleh Panitia Kerja RUU JPSK Komisi XI DPR RI periode 2004 s/d 2009 seperti tercantum dalam Pasal 7 dan Penjelasan Pasal 7 Draft RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK);
c. BI menggunakan data kuantitatif dan kualitatif dalam merumuskan assesment
dari kelima aspek di atas. Data kuantitatif yang menjadi dasar analisis bank Century sebagai bank yang ditengarai berdampak sistemik memperhatikan data kuantitatif sebagai berikut:
1) Kondisi makro ekonomi, termasuk data mengenai pertumbuhan ekonomi,
kondisi neraca pembayaran, nilai tukar rupiah, kondisi pasar modal, dan kondisi pasar keuangan internasional. Sumber data-data ini berasal baik dari Bank Indonesia maupun BPS, Bapepam-I.K, dan publikasi keuangan luar negeri.
2) Penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebagai indikator penurunan
kepercayaan yang bersumber dari Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) maupun hasil pengamatan langsung oleh pengawas Bank Indonesia.
3) Interbank stress-testing (dampak contagion), yang bersumber dari hasil
kajian Bank Indonesia dengan menggunakan data-data dari LBU;
4) Simulasi ketahanan likuiditas perbankan (terhadap 18 bank peer dan 5
bank dengan Total Aset yang hampir sama dengan Bank Century) yang bersumber dari hasil kajian Bank Indonesia dengan menggunakan data LBU dan informasi pengawas.
5) Dampak terhadap sistem pembayaran, yang bersumber dari data Real
Time Gross Settlement (RTGS) dan kliring yang diselenggarakan BI.
BI Menggunakan data kuantitatif dengan variabel yang digunakan BI adalah perhitungan dengan menggunakan metode Altman Z-Score dan perhitungan kesehatan bank, seperti LDR, CAR, NIM, NPL, ROA, ROE, dan BOPO dari tahun 2000-2008. Rasio-rasio yang digunakan sebagai alat analisis adalah rasio seperti
likuiditas dalam hal ini terdiri atas working capital/total assets, rasio profitabilitas terdiri dari retained earning/total assets dan earning before interest and tax/total
assets, serta rasio rentabilitas yaitu terdiri dari market value of equity/book value of debt dan sales/total assets.174
Analisis Z-Score dengan metode Altman adalah penerapan analisis rasio keuangan masih terbatas karena dilakukan secarah terpisah, artinya setiap rasio diuji secara terpisah. Ketepatan predisi masa depan berlaku selama emiten mempunyai
kondisi keuangan yang sama dengan pada saat prediksi dilakukan.175
1. Working Capital/ Total Assets (X1);
Rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kebangkrutan bank ada lima jenis rasio, yaitu:
2. Retained Earnings / Total Assets (X2);
3. Earning Before Interest and Tax / Total Assets (X3);
4. Market Value Equity / Book Value of Debt (X4);
5. Sales / Total Assets (X5).
Data atau hasil perhitungan kemudian akan dianalisis lebih jauh dengan menggunakan sebuah formula yang ditemukan Altman yaitu:
174
Munawir, Analisis Laporan Keuangan, (Yogyakarta: Liberty, 2005), hal. 96. Penggunaan metode Altman dapat digunakan oleh bank untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan (early
warning) apabila terindikasi sudah berada pada kondisi menuju kebangkrutan. Penelitian kebangkrutan
perusahaan perbankan menurut Altman dalam Setyorini dengan menggunakan lima rasio keuangan. Kelemahan dari model ini adalah tidak ada rentang waktu yang pasti kapan kebangkrutan akan terjadi setelah hasil Z-Score diketahui lebih rendah dari standar yang ditetapkan.
175
Fifi Swandi, “Pengaruh Perilaku Resiko Struktur Kepemilikan Terhadap Kebangkrutan Bank di Indonesia: Kasus Krisis Ekonomi Tahun 1997”, Makalah disampaikan dalam Simposium Nasional Akuntansi VI, 2003, hal. 45.
Dimana:
1. X1 = Net Working Capital to Total Assets; 2. X2 = Retained Earnings to Total Assets;
3. X3 = Earnings Before Interest and Tax to Total Assets; 4. X4 = Market value of Equity to Book Value of Debt; 5. X5 = Sales to Total Assets.
Kondisi ini dapat dilihat dari nilai Z-Score-nya, sebagai berikut:
1. Apabila nilai Z-Score di atas 2,99 (Z-Score > 2,99) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.
2. Apabila nilai Z-Score antara 1,81 sampai 2,99 (1,81 < Z-Score < 2,99) diklasifikasikan sebagai perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area). 3. Apabila nilai Z-Score di bawah 1,81 (Z-Score < 1,81) diklasifikasikan sebagai
perusahaan yang berpotensi bangkrut.
Rasio-rasio keuangan Bank Century yang dianalisis oleh Bank Indonesia terdiri dari:
1. Aspek permodalan atau capital (Capital Adequacy Ratio disingkat CAR); 2. Aspek rentabilitas atau earning. Rasio ini digunakan untuk menganalisis atau
mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan terdiri dari: Return On Assets (ROA); Return On Earning
(ROE); Rasio Biaya atau Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO); Net Interest Margin (NIM).
3. Aspek likuiditas atau liquidity, terdiri dari Loan to Deposit Ratio (LDR) dan
Non Performing Loans (NPL).
Berdasarkan hasil perhitungan oleh BI diperoleh X1=0,717, X2=0,847, X3=3,107, X4=0,420, dan X5=0,998 dimasukkan ke dalam rumus Altman sebagai berikut: Z – Score = 0,717X1 + 0,847X2 +3,107X3 + 0,420X4 +0,998X5. Hasil perhitungan Z-Score Bank Century dari Tahun 2000-2008 berada di bawah 1,81 yang menyatakan bahwa bank tersebut berada pada kondisi bangkrut. Hasil perhitungan kesehatan pada Bank Century, BI menyatakan bahwa nilai rasio pada CAR, NIM, BOPO, ROA, dan ROE mengalami kondisi yang kurang sehat. Sedangkan pada rasio LDR bank tersebut dinyatakan cukup sehat.176
Hasil perhitungan dengan menggunakan metode Altman Z-Score terhadap rasio-rasio keuangan Bank Century dari periode 2000-2008, BI menyimpulkan bahwa Bank Century tersebut mengalami kondisi bangkrut dibuktikan dengan nilai Z-Score- nya ≤ 1,81. Hasil perhitungan kesehatannya menurut BI dengan menggunakan rasio- rasio keuangan Bank Century seperti LDR, CAR, NPL, NIM, BOPO,ROA, dan ROE dari periode 2000-2008. Menurut BI hal itu sangat sinkron atau dapat di katakan sama-sama memprediksikan bahwa Bank Century tersebut tidak sehat.
176
Agustin Andria Rosa dan Iman Murtono Soenhadji, “Analysis of Altman Z (Zeta)-Score Method to Predict Bancruptcy of Century Bank”, Undergraduate Program, Faculty of Economics, Gunadarma University, 2010, hal. 5. Lihat juga: Bank Indonesia, www.bi.go.id, diakses tanggal 8 Mei 2011.